cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 115 Documents
Fungsi dan Keutamaan Aksareng Usadha dalam Struktur Kebudayaan Masyarakat Bali Geria, Anak Agung Gde Alit
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.2

Abstract

The Modre, revered as Balinese sacred scripts, holds significance within the Balinese community for the virtues (kottaman) attributed to its characters in the context of traditional Balinese medicine (usadha). Modre scripts excellence is a vital component in therapeutic practices, believed to possess mystical and supernatural powers. Various palm-leaf manuscripts, including Aji Saraswati, Usadha Tantri, and Tutur Swara Wyanjana, are associated with the virtues of Balinese characters, serving as instrumental tools in Balinese medicine. These characters, believed to be soul-saving (pangraksaning jiwa), harness energy potential within usadhi pranawa, transforming bijaksara or modre characters into yantras. Through medication initiation, facilitated by mantras and the healer's yoga, this process is detailed in manuscripts like Ruměksa ing Wěngi, Punggung Tiwas, and Wisik Warah. The alignment of the healer's pure mind with the supreme Balinese characters, mahottama, is integral in applying usadhi pranawa during treatment, akin to the essential alignment in the Sabda tan Mětu ceremony with sacred scripture. === Aksara Modre (suci) telah diyakini oleh masyarakat Bali karena keutamaan (kottaman) aksaranya yang bertalian dengan bidang usadha (pengobatan tradisional Bali). Keutamaan aksara Modre menjadi sarana penting dalam prosesi pengobatan atau penyembuhan penyakit karena diyakini memiliki kekuatan gaib atau mistik. Ada sejumlah lontar yang berkaitan dengan kottaman aksara Bali, seperti Aji Saraswati, Usadha Tantri, Tutur Swara Wyanjana, dan yang lainnya. Kottaman aksara Bali sebagai sarana usadha Bali dapat digunakan sebagai penyelamat jiwa (pangraksaning jiwa). Hal ini didukung oleh sejumlah lontar yang diyakinioleh masyarakat Bali seperti Ruměksa ing Wěngi, Punggung Tiwas, Wisik Warah. Konsep penyatuan antara pikiran suci sang balian dengan aksara Bali mahottama itu, sangat penting dilakukan ketika mengobati dengan usadhi pranawa. Hal ini identik dengan prosesi sabda tan mětu ketika menyatukan pikiran dengan sastra aji (aksara suci).
Tinjauan Awal Naskah Sujarah Penatah: Narasi, Kreativitas, dan Legitimasi Rahardja, Bima Slamet
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.3

Abstract

The Javanese puppet makers, or penatah, in Yogyakarta, are celebrated for their artistic brilliance, yet their personal biographies remain largely obscure, overshadowed by the grandeur of their craft. Renowned names like Resapenatas, Maraguna, Kertiwanda, Prawirasucitra, and Prayitnawiguna are synonymous with exceptional wayang artistry, each possessing distinctive aesthetic styles. Despite their prominence, scant information exists about their lives. The primary written source on penatah, Sujarah Panatah (the History of Wayang Carvers), dates back to the early 20th century in Yogyakarta. This manuscript weaves tales of Javanese puppet carvers into performances, connecting factual anecdotes and divine myths, portraying these artists not as ordinary individuals but as chosen ones capable of communicating with gods. Examining the Sujarah Panatah, this paper explores the factual underpinnings of its stories, delves into the text's perception of creative origins, and analyzes its strategy for legitimizing Javanese puppet makers while tracing the continuity of their artistic legacy. === Para pembuat wayang, atau penatah di Yogyakarta dihargai karena kecemerlangan seni mereka, namun biografi pribadi mereka sebagian besar tetap gelap, terlupakan oleh kemegahan karya seni mereka. Nama-nama terkenal seperti Resapenatas, Maraguna, Kertiwanda, Prawirasucitra, dan Prayitnawiguna bersinonim dengan keahlian seni wayang yang luar biasa, masing-masing memiliki gaya estetika yang khas. Meskipun terkenal, informasi tentang kehidupan mereka sangat sedikit. Sumber tertulis utama tentang penatah, Sujarah Panatah (Sejarah Pencipta Wayang), berasal dari awal abad ke-20 di Yogyakarta. Naskah ini menganyam kisah-kisah para pembuat wayang ke dalam pertunjukan, menghubungkan anekdot fakta dan mitos ilahi, menggambarkan para seniman ini bukan sebagai individu biasa tetapi sebagai yang terpilih mampu berkomunikasi dengan para dewa. Dengan memeriksa Sujarah Panatah, makalah ini mengeksplorasi dasar faktual dari kisah-kisahnya, menyelami persepsi teks terhadap asal-usul kreatif, dan menganalisis strateginya dalam melegitimasi para pembuat wayang sambil melacak kelanjutan warisan seni mereka.
Perbandingan Mode Naratif Apokaliptik dalam Teks Mosalaparwa dan Cariyos Dajal Habibah, Nurmalia
Manuskripta Vol 13 No 1 (2023): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v13i1.4

Abstract

This article aims to demonstrate how cultural heritage can surprisingly bridge differences that often trigger religion-based conflicts, showcasing the underlying essence of unity in diversity by delving into the interpretation of literary works. At a more specific level, this paper endeavors to uncover the universality of the Javanese perspective on the eschatological crisis culminating in the Judgment Day event. This exploration is conducted through a meticulous analysis of the apocalyptic narrative style found in two Javanese texts; the Old Javanese Mosalaparwa and the New Javanese Cariyos Dajal. When considering the conclusion of each narrative, in accordance with Collins' classification (2014) of the apocalyptic genre, Mosalaparwa falls into the historical apocalypses sub- type, while Cariyos Dajal aligns with the apocalypses involving heavenly journeys sub-type. === Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap universalitas pandangan masyarakat Jawa terhadap krisis eskatologis yang berujung pada peristiwa kiamat melalui close reading terhadap perbandingan mode naratif apokaliptik dalam teks Mosalaparwa Jawa Kuna dan Cariyos Dajal. Setelah kedua teks kisah hari akhir dalam ranah sastra Jawa tersebut dicermati, terdapat bagian-bagian naratif yang membentuk struktur teks dan mencerminkan karakteristik apokaliptik sehingga teks-teks religius lokal itu dapat ditempatkan dalam kategori teks sastra bermode naratif apokaliptik. Apabila melihat akhir ceritanya, maka merujuk pada klasifikasi genre apokaliptik menurut Collins (2014), teks Mosalaparwa termasuk ke dalam sub-tipe historical apocalypses dan teks Cariyos Dajal ke dalam apocalypses with heavenly journeys.
Seni Pertunjukan Jalanan Yogyakarta Awal Abad XX Rahmawati, Salfia
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.145

Abstract

Street performance art is a cultural product that is simple, spontaneous, and integrated with people's lives. In contrast to classical art, which tends to be structured and adhere to standards, this type of folk art is very dynamic. Cultural diversity recorded in ethnographic records and manuscripts is a marker for every element of change that exists. This study reveals the Yogyakarta street performing arts in the early 20th century recorded in the manuscripts Tanggapan Taledek (PNRI/ KBG 940) and Straatvertoningen (FSUI/LL.7a). When compared to today, several types of street performing arts that are displayed still survive and can be adapted. However, some other shows have changed shape and seem foreign because the next generation has not heard them. The changes show a creative synthesis between cultural traditions and life situations that remain dynamic. Socio-cultural changes indirectly affect changes in the role and function of art in society. === Seni pertunjukan jalanan merupakan produk budaya yang berkarakter sederhana, spontan, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Berbeda dengan seni klasik yang cenderung terstruktur dan patuh pada kebakuan, jenis seni rakyat ini begitudinamis. Keragaman budaya yang terekam dalam catatan etnografi dan manuskrip menjadi penanda setiap elemen perubahan yangada. Penelitian ini mengungkap seni pertunjukan jalanan Yogyakarta awal abad ke 20 yang tercatat dalam naskah Tanggapan Taledek (PNRI/KBG 940) dan Straatvertoningen (FSUI/LL.7a). Jika dibandingkan dengan masa kini, beberapa jenis seni pertunjukan jalanan yang ditampilkan masih bertahan dan dapat diadaptasi ulang. Namun, beberapa pertunjukan lain ada yang berubah bentuk dan tampak asing karena sudah tidak pernah terdengar sama sekali oleh generasi selanjutnya. Perubahan yang terjadi menunjukkan sintetis kreatif antara tradisi kebudayaan dengan situasi kehidupan yang terus dinamis. Perubahan sosial budaya secara tidak langsung telah berimplikasi pada perubahan peranan dan fungsi kesenian dalam masyarakat.
Dinamika Hubungan Pemerintah Kolonial Belanda dengan Raja- raja Badung-Bali Berdasarkan Naskah Surat Perjanjian ML. 487 Lestari, Khopipah Indah; Kramadibrata, Dewaki
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.146

Abstract

This article discusses one of the agreements between the rulers of Badung Kingdom, Bali and Dutch Government, one that is included in the bundle manuscript named Surat Perjanjian ML. 487. The letter was written in Kuta on 22 Sya'ban 1265 Hijriyah (13 July 1849) or in 1745 the date of Bali and was issued by the Governor General of the Dutch East Indies on 22 August 1849. The purpose of this study is to explain the relationship between the Kingdom of Badung and the Dutch colonial government and its efforts to abolish hak tawan karang (Klip Recht) in the Badung Kingdom. To achieve these goals, the research was carried out using philological research methods, started from manuscript selection, transliteration, and tracing the historical background to discuss the contents of the text of the manuscript. The results showed that there were several regulations imposed by the Dutch colonial government on the Badung Kingdom. The effort to abolish hak tawan karang later became the main weapon of the Dutch colonial government in completely conquering the Badung Kingdom. === Artikel ini membahas salah satu perjanjian antara penguasa Kerajaan Badung, Bali dengan pemerintah kolonial Belanda, yaitu perjanjian yang tercantum dalam bundel naskah Surat Perjanjian ML. 487. Surat tersebut ditulis di Kuta pada 22 Sya’ban 1265 Hijriyah (13 Juli 1849) atau pada tahun 1745 tarikh Bali dan ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 22 Agustus 1849. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan Kerajaan Badung dengan pemerintah kolonial Belanda dan upaya penghapusan hak tawan karang di Kerajaan Badung oleh pemerintah kolonial Belanda. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi, yaitu pemilihan naskah, transliterasi, kemudian penelusuran latar belakang sejarah untuk membahas isi teks naskah. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial Belanda terhadap Kerajaan Badung. Upaya penghapusan hak tawan karang kemudian menjadi senjata utama pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukkan Kerajaan Badung seutuhnya.
Lingkungan Hidup dalam Naskah Wawacan Ogin Amar Sakti Ruhaliah, Ruhaliah
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.147

Abstract

This article is written as a result of the study of meaning of Sundanese manuscript of a folklore titled Wawacan Ogin Amar Sakti. The study was conducted based on story’s settings and structural approach. The purpose of this study was to reveal the contribution of story’s meanings towards humanity’s environmental quality. This study utilized descriptive comparative methods, while the data collection used documentation study. The findings are in the form of interpretations concluded based on the results of data analysis results found in the text as well as its comparison with data found in other relevant sources. Based on the data analysis results, it can be concluded that the story setting elements found in Ogin Amar Sakti script is environmental/ecosystem transmission or inheritance vehicles; those are (1) to not to cut down, pollute, or turn dense forests as covert for evil deeds, (2) to look after and maintenance mountains and forests as they embody various resources, (3) to not turn forests into hunting ground for animals, and (4) to arrange settlements as delightful and pleasing place. These messages are in line with other texts and symbols such as folklore and gunungan, as well as become concrete foundation for environmental preservation and food security strategy. === Tulisan ini merupakan hasil kajian makna atas cerita naskah berbahasa Sunda Ogin Amar Sakti. Kajian dilakukan atas unsur latar cerita (setting), menggunakan pendekatan struktural. Pengkajian dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap kontribusi makna cerita bagi kualitas lingkungan hidup manusia. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif komparatif. Teknik pengumpulan datanya ialah teknik studi dokumentasi. Temuan-temuan berupa tafsiran disimpulkan berdasarkan hasil analisis data yang terdapat dalam teks serta melalui perbandingannya dengan data yang terdapat dalam sumber lain yang relevan. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa unsur latar cerita naskah Ogin Amar Sakti merupakan wahana transmisi atau pewarisan lingkungan hidup (ekosistem), yaitu (1) hutan lebat jangan ditebang, dikotori, dijadikan tempat menyembunyikan perbuatan jahat, (2) awasi dan pelihara gunung-gunung dan hutan karena mengandung aneka kekayaan, (3) hutan jangan dijadikan lahan perburuan satwa, dan (4) lakukan penataan pemukiman menjadi tempat yang menyenangkan dan membahagiakan. Amanat mengenai pelestarian hutan tersebut sejalan dengan teks dan simbol lain, di antaranya cerita rakyat dan gunungan, serta menjadi landasan konkret bagi peletarian lingkungan hidup dan strategi ketahanan pangan.
Karakteristik Iluminasi dalam Naskah Betawi Koleksi Cohen Stuart di Perpustakaan Nasional RI Firdausa, Fiona; Limbong, Priscila Fitriasih
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.148

Abstract

The article explains the characteristics of illumination in Betawi manuscripts and reveals every culture that shows in it. The data used in this research is Betawi manuscript in Cohen Stuart’s collection (CS). This study uses documentation and literature review method to collect the data. Beside that, this research uses codicology method to analyze the characteristics of illumination in six Betawi manuscripts. The result of data analysis showed that there are three characteristics in Betawi manuscript’s illumination, which are (1) simplicity, (2) the illuminations are formed from a combination of floral and geometric patterns, and (3) the illuminations are made with certain colors, namely red, blue, yellow, and black. Those characteristics show several cultures that are stored in it, that are Betawi, Chinese, Arabic, and Indian cultures. It shows that, at that time, Chinese, Arabs, and Indians had contact with Betawinese. In addition, it also explains Betawinese’s egalitarian nature so that they can accept acculturation that happened in their culture. === Artikel ini menjelaskan karakteristik iluminasi naskah Betawi koleksi Cohen Stuart (CS) dan khazanah budaya yang terdapat di dalamnya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dan studi pustaka. Penelitian dilakukan dengan metode kodikologi untuk membahas karakteristik iluminasi di dalam enam naskah Betawi koleksi CS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga karakteristik yang terlihat dalam iluminasi-iluminasi tersebut, yaitu (1) bentuk iluminasi yang sederhana, (2) iluminasi dibentuk dari perpaduan motif floral dan motif geometris, dan (3) iluminasi dibuat dengan warna-warna tertentu, yakni merah, biru, kuning, dan hitam. Karakteristik-karakteristik tersebut mengungkap adanya beberapa khazanah budaya yang tersimpan di dalam iluminasi naskahnaskah Betawi koleksi CS, yaitu budaya Betawi, Cina, Arab, dan India. Hal tersebut menunjukkan bahwa bangsa Cina, Arab, dan India memiliki kontak dengan masyarakat Betawi pada masa itu. Selain itu, hal tersebut juga menjelaskan sifat egaliter yang dimiliki masyarakat Betawi sehingga dapat menerima terjadinya akulturasi di dalam budayanya.
Membakar Dupa di Masjid: Pandangan Keagamaan Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Naskah Arab Pegon Pesantren Karyadi, Fathurrochman
Manuskripta Vol 12 No 1 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i1.149

Abstract

Burning dupa (incense) is a Javanese tradition that has existed for a long time. When Islam came, it turned out that this tradition was still carried out by some people, including santri in Pesantren (the students in Islamic boarding schools). This is evidenced by the discovery of a Javanese manuscript in the Pegon script written by Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy'ari (1871-1947), founder of Nahdlatul Ulama (NU) and Pesantren Tebuireng. He did not even forbid the tradition of burning dupa. In fact, the traditional ulama leader of his time condemned it as sunnah. As is known, the sunnah is the perpetrator will be rewarded and the one who does not be punished. This paper will discuss of burning dupa in the perspective of philology, history, and also Islamic law or fiqh which is based on a text written in 1353 H (1934). === Membakar dupa merupakan tradisi masyarakat Jawa yang ada sejak lama. Ketika Islam datang, ternyata tradisi ini masih dijalankan oleh sebagian orang, termasuk para santri di pondok pesantren. Hal ini terbukti dengan ditemukannya naskah berbahasa Jawa aksara pegon yang ditulis oleh Ḥaḍrat al-Shaykh Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren Tebuireng. Bahkan ia tidak mengharamkan tradisi membakar dupa itu. Justru, pemimpin ulama tradisional pada zamannya itu menghukuminya sunnah. Sebagaimana diketahui, sunnah adalah jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak apa-apa. Makalah ini akan membahas membakar dupa dalam perspektif filologi, sejarah, dan juga hukum Islam atau fiqh yang bersumber pada naskah yang ditulis pada 1353 H (1934).
Melacak Pola Interteks Kawruh Islam Jawa melalui Naskah Serat Wirid Riwayat Jati terhadap Teks Mistik Yogyakarta-Surakarta Hidayat, Mohamad Wahyu
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.150

Abstract

Sĕrat Wirid Riwayat Jati manuscript is now preserved in the Reksa Pustaka library, Pura Mangkunegaran Palace, Surakarta. It is a didactical prose genre written in Javanese script. This text describes the mystical teachings of Javanese Islam. From the contents of this manuscript, it opens a gap to trace the intertextual relationship with the texts that are thought to be the references or hypograms. The texts that are suspected to be hypograms from Sĕrat Wirid Riwayat Jati are Sĕrat Wirid Hidayat Jati from Surakarta and three texts from Yogyakarta such as Wirid Para Wali, Sĕrat Panatagama, and Suluk Malang Sumirang. This study uses an intertextuality approach to examine the interrelationships pattern between texts in the manuscripts. The intertextual study in this research uses the transformation patterns analysis of the hypogram in Sĕrat Wirid Riwayat Jati such as the form of expansion, modification, excerption, and conversion. In addition, the purpose of using intertextual theory is also to reveal The Sĕrat Wirid Riwayat Jati’s position in the mystical literature which is based on the author’s ideology. === Abstrak: Naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati tersimpan di perpustakaan Reksa Pustaka, Pura Mangkunegaran, Surakarta yang berjenis piwulang, beraksara Jawa dan berbentuk gancaran atau prosa. Teks ini memaparkan ajaran mistik Islam kejawen. Naskah ini membuka celah untuk melacak hubungan interteks dengan teks-teks yang diperkirakan menjadi acuannya atau hipogram. Teks-teks yang diduga menjadi hipogram dari naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati, antara lain Sĕrat Wirid Hidayat Jati dari Surakarta dan tiga teks dari Yogyakarta, yakni Wirid Para Wali, Sĕrat Panatagama, dan Suluk Malang Sumirang. Kajian dalam naskah ini menggunakan pendekatan intertekstualitas untuk menelaah pola keterkaitan antarteks dalam naskah. Studi interteks pada penelitian ini memakai analisis pola transformasi teks-teks hipogram pada naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati seperti bentuk ekspansi, modifikasi, ekserp, dan konversi. Selain itu, tujuan penggunaan teori intertekstual juga untuk mengungkap posisi naskah Sĕrat Wirid Riwayat Jati dalam kepustakaan naskah mistik yang didasarkan pada ideologi penulis naskah.
Misengi Élo’na Lopié: Menelaah Pesan Kutika dalam Budaya Bahari Bugis Widyaningrum, Rahmatia Ayu
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.151

Abstract

The Kutika Manuscripts in the Bugis language found in the Kalimantan Islands are a track record of the knowledge and existence of the Buginese in the area. This text can be associated with the culture of massompe' or migrating among the people of South Sulawesi. This study opens a space for discussion about the concept of maritime culture of the Bugis tribe based on the Kutika script. This article uses philological studies for textual analysis on the manuscript of Kutika Ugi 'Sakke Rupa (KUSR) which comes from the collection of the Mulawarman Museum in East Kalimantan. This study analyzes how the environmental awareness of the Bugis community is based on a small aspect in the process before sailing which is called misengi élo'na lopié as the etiquette of communicating with boats. The results of this study reveal that the boat is associated with a soul and will. This finding is related to the Merleau-Ponty concept of body ontology regarding body intentionality. Overall, this research contributes to the scientific realm by not only introducing local knowledge found in ancient texts, but also elaborating philosophical values related to the way Bugis people read nature and the sea. === Naskah Kutika berbahasa Bugis yang terdapat di Kepulauan Kalimantan merupakan rekam jejak pengetahuan dan keberadaan orang Bugis di daerah tersebut. Naskah ini dapat dikaitkan dengan budaya massompe’ atau merantau di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kajian ini membuka ruang diskusi tentang konsep budaya bahari suku Bugis berdasarkan naskah Kutika. Artikel ini menggunakan kajian filologi untuk analisis tekstual pada naskah Kutika Ugi 'Sakke Rupa (KUSR) yang berasal dari koleksi Museum Mulawarman di Kalimantan Timur. Penelitian ini menganalisis bagaimana kesadaran lingkungan masyarakat Bugis berdasarkan satu aspek kecil dalam proses sebelum berlayar yang disebut misengi élo'na lopié sebagai etika berkomunikasi dengan perahu. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa perahu diasosiasikan memiliki jiwa dan kehendak. Temuan ini dikaitkan dengan konsep ontologi tubuh Merleau-Ponty mengenai intensionalitas tubuh. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi dalam ranah ilmiah yang tidak sekadar memperkenalkan pengetahuan lokal yang terdapat di dalam naskah kuno, melainkan juga menguraikan nilai-nilai filosofis yang berhubungan dengan cara manusia Bugis membaca alam dan laut.

Page 10 of 12 | Total Record : 115