cover
Contact Name
Desti Verani
Contact Email
mail@iphorr.com
Phone
+62895356428751
Journal Mail Official
jurnalpti207@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues
ISSN : 28074319     EISSN : 28074122     DOI : https://doi.org/10.56922/pti.v4i2
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi ilmu keparmasian. Penelitain sesuai tren pengobatan sesuai sumber alam di negara tropis. Pengembangan obat dan pendistribusian kepada pelanggan, dan sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Republik Indonesia
Articles 46 Documents
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien DM tipe-2 Perdana, Dwi Agung Jaka; Nofita, Nofita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i1.166

Abstract

Evaluation of the use of antihypertension drug in DM type-2 patients Background : Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia.  Diabetes mellitus can lead to a variety of problems, including hypertension. Pharmacological therapy for diabetes mellitus with hypertension complications is very complex, such as the use of more than one drug. This allows the treatment results we don't expect (Unrational). Purpose : This study aims to determine the pattern of prescribing and the rationale for the use of antihypertensive drugs in type-2 Diabetes Mellitus patients at the Kedaton Hospital in Bandar Lampung in 2019 with the right parameters for diagnosis, right medication, right patient, right indication, right dose, right method and duration. giving. Method : This type of research is descriptive observational, the data is done retrospectively by using the patient's medical record. Results : The results showed the highest prevalence, namely: at the age of 56-65 years (36%), female gender (70%), 21 patients with antidiabetic drugs Glibenclamide (63%), 18 patients for other drugs namely paracetamol (26%), In the antihypertensive drug, 15 patients were Captopril (45%), with monotherapy as much as 94%.  Results : From the rationality analysis of the use of antihypertensive drugs in Type-2 DM patients, it was obtained: 100% correct diagnosis, 100% correct drug, 100% accurate indication, 100% correct patient, 81% correct dose, and 66% correct duration of administration. Keywords : Evaluation, Type 2 diabetes mellitus patient, Antihypertensive drugs, Rationality. Pendahuluan : Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. DM dapat menyebabkan berbagai komplikasi salah satunya hipertensi. Pemberian terapi farmakologi untuk diabetes melitus dengan komplikasi hipertensi sangat kompleks, seperti penggunaan obat yang lebih dari satu. Hal ini memungkinkan terjadinya hasil pengobatan tidak kita harapkan (Tidak Rasional). Tujuan : Untuk mengetahui pola Peresepan dan Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien Diabetes Mellitus tipe-2 di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Bandar Lampung pada tahun 2019 dengan parameter tepat diagnosis, tepat obat, tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian. Metode : Observasional deskriptif, data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis pasien. Hasil : Menunjukkan prevalensi terbanyak yaitu: pada usia 56-65 tahun (36%), jenis kelamin Perempuan (70%), Pada obat Antidiabetik  21 pasien yaitu Glibenklamid (63%), pada obat lain 18 pasien yaitu parasetamol (26%), Pada obat Antihipertensi 15 pasien yaitu Captopril (45%), dengan monoterapi sebanyak 94%. Simpulan : Dari analisis rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe-2 diperoleh tepat diagnosa 100%, tepat obat 100%, tepat indikasi 100%,  tepat pasien 100%, tepat dosis 81%, dan tepat lama pemberian 66%.
Pola penggunaan antibiotik infeksi saluran pernapasan atas akut pada anak Angin, Martianus Perangin; Saputri, Gusti Ayu Rai; Pangestu, Dimas Aji
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i1.167

Abstract

Patterns of antibiotic use of acute upper respiratory treatment in children Background : Acute upper respiratory tract infections cause inflammation and infection of the nose and throat. The selection of antibiotics should be based on information about the cause of infection, results of microbiological examinations, pharmacokinetic and pharmacodynamic profiles of antibiotics. Purpose : To determine the pattern of use of antibiotics for acute upper respiratory tract infections in children at the Sukadana Regional General Hospital, East Lampung Regency with the right parameters for diagnosis, right indication, right patient, right drug, right dose. Method : Descriptive observational, the data is done retrospectively using the patient's medical record. Results : Showed the highest prevalence, namely: at the age of children (6-12 years) as many as 11 patients (52%), female sex as many as 11 patients (52%), on the antibiotic Amoxicillin as many as 13 cases (62%). Conclusion : From the rationale analysis of the use of antibiotics in children with acute upper respiratory tract infections, it was obtained: Correct Diagnosis 100%, Correct Indication 100%, Correct Patient 100%, Correct Drug 100%, Correct Dose 100%  Keywords : Acute Upper Respiratory Tract Infection; Antibiotics; Rationality. Pendahuluan : Infeksi saluran pernapasan atas akut menyebabkan peradangan serta infeksi pada hidung dan tenggorokan. Pemilihan antibiotik harus berdasarkan informasi tentang  penyebab infeksi, hasil pemeriksaan mikrobiologi, profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik. Tujuan : Untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik Infeksi Saluran Pernapasan atas Akut pada anak di Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana Kabupaten Lampung Timur dengan parameter tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis. Metode : Observasional deskriptif, data dilakukan secara retrospektif dengan menggunaakan rekam medik pasien. Hasil : Menunjukan prevalensi terbanyak yaitu: pada usia anak (6-12 tahun) sebanyak 11 pasien (52%), jenis kelamin perempuan sebanyak 11 pasien (52%), pada obat antibiotik Amoksisilin sebanyak 13 kasus (62%). Simpulan : Dari analisis rasionalitas penggunaan antibiotik pada anak dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atas akut di peroleh: Tepat Diagnosa 100%, Tepat Indikasi 100%, Tepat Pasien 100%, Tepat Obat 100%, Tepat Dosis 100%
Rasionalitas penggunaan obat pada pasien penyakit jantung koroner dengan komplikasi dislipidemia Dewi, Anita Citra; Anggreani, Hesti
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i1.168

Abstract

Rationality of drug use in patients with coronary heart disease with complications of dyslipidemia                                                                                                                        Background : Coronary heart disease (CHD) is a condition caused by the constriction and obstruction of blood vessels that drain blood to the heart muscle, so that the heart muscle will lack of blood and do not get oxygen for it’s function. Dyslipidemia is the main  cause of artherosclerosis, the main cause of CHD, causing the complexity of the therapy given. Purpose : This study aims to determine the treatment profile and evaluate the rasionality of drug use  in CHD patients with dyslipidemia complications in the outpatient Installation of Urip Hospital for the period October-December 2020. Method : This type of research is descriptive with retroprospective data collection of 41 medical records of outpatient CHD patients who met the inclusion criteria. Results : The result of the study based on the chacarteristic of CHD patients showed that the number of male patients was more was in the age group. 56-65 years by 16 patients (39,02%), hypertension is the most common comorbidity with 25 patients ( 60,97%), and the treatment profile, namely the type of drug that is most widely used in the treatment was nitrat (87.80%), antiplatelet (78,04), betablocker (65,85%), and the most widely used statin group was simvastatin (70,73%), the percentage of accuracy of rationality of drug use consists of the the right diagnosis (100%), right indication (95,12%), the right drug (95,12%), the right dose ( 100%), the right route of administration (100%), alert for side effects (100%) and right patient (100%) Conclusion : CHD patients with complications of dyslipidemia in men are more than women and the most commonly used dyslipidemia drugs are statins such as simvastatin.  Keywords : Coronary heart disease; Dyslipidemia; Drug; Rationality.  Pendahuluan : Penyakit jantung koroner (PJK) adalah suatu kedaan yang diakibatkan  oleh adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot jantung, sehingga otot jantung akan kekurangan darah dan tidak mendapatkan oksigen untuk pekerjaannya. Dislipidemia merupakan penyebab terjadinya ateriosklerosis penyebab utama terjadinya PJK sehingga menyebabkan kompleksnya terapi yang diberikan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat pada pasien PJK dengan komplikasi dislipidemia. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retroprospektif terhadap 41 data rekam medik pasien PJK rawat jalan yang memenuhi krikteria inklusi. Hasil : Berdasarkan karateristik pasien PJK menunjukkan jumlah pasien laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu sebesar 25 pasien (61%),  jumlah pasien terbanyak yaitu pada kelompok usia 56-65 tahun sebesar 16 pasien (39,02%), penyakit hipertensi  merupakan penyakit penyerta terbanyak dengan jumlah 25 pasien (60,97%.) dan profil pengobatan yaitu jenis obat yang paling banyak digunakan pada pengobatan adalah obat golongan nitrat sebesar (87,80%), antiplatelet (78,04%), betablocker sebesar (65,85%) dan golongan statin ynag paling banyak digunakan yaitu simvastatin sebesar (70,73%) persentase ketepatan rasionalitas penggunaan obat  terdiri dari tepat diagnosis (100%), tepat indikasi (95,12%), tepat obat  (95,12%), tepat dosis (100%), tepat cara pemberian (100%), waspada efek samping(100%) dan tepat pasien (100%). Simpulan : Pasien PJK dengan komplikasi dyslipidemia pada laki – laki lebih banyak dibandingkan perempuan dan obat dislipidemia yang banyak digunakan yaitu golongan statin seperti simvastatin.
Evaluasi tingkat pengetahuan, persepsi, dan pengalaman terhadap penggunaan obat generik pada mahasiswa medis di universitas malahayati. Ulfa, Ade Maria; Nuryanto, Bayu
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 1 (2025): June Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i1.176

Abstract

Background: Public knowledge about generic drugs is still low and many consider generic drugs to be low-end drugs because they are cheap. The factors that influence this thinking are the level of knowledge, perception, and experience. The purpose of this study was to evaluate the level of knowledge, perception, and experience of the use of generic drugs in medical students at Malahayati University including General Medicine, Nursing and Educating Midwives. This research was conducted with a questionnaire via online (google form). The results of this study indicate that the General Medicine Study Program has the best level of knowledge, which is 87.9%. The best level of perception in Nursing Study Program is 93.3%. Experience level> 76% of respondents have experience using generic drugs, 57.9% of respondents have used generic drugs and recovered,> 58% have experience receiving education about the use of generic drugs. Then it can be concluded that the level of knowledge about the use of generic drugs in medical students at Malahayati University was obtained at 81.9%, meaning that the level of knowledge was good. The level of perception obtained is 83.3%, meaning that the level of perception of the use of generic drugs is good. More than half of the respondents had experience using generic drugs, received education and felt cured after use. Purpose: This study aims to determine the level of knowledge, perception, and experience of the use of generic drugs among medical students at the Malahayati University. Method:  Statistical test using Chi Squere method, showed that obtained p value of 0.000 which means p <0.05. Thus, Ho is rejected and Ha is accepted or it can be stated that there is a significant difference in the level of knowledge on the use of generic drugs in students majoring in medical at Malahayati University. Results: Knowing the level of knowledge of the use of generic drugs is less 50 (27.0%) respondents, enough 77 (42.6%) respondents, good 53 (29.4%) respondents and the p-value is 0.000, the level of perception of the use of generic drugs is less 26 (14.4%) respondents , Enough 93(51.6%) respondents, Good 61(33.0%) respondents and the p-value is 0.000, Experience Level of Using Generic Drugs Less 37(20.5%) respondents, Enough 28(15.5%) respondents, Good 115(63.0%) respondents and their p-value is 0.000, Don't know Knowledge Level of Use of Generic Drugs Less 27(22.3%) respondents, Enough 71(55.36%) respondents, Good 21(17.4%) respondents and p-value is 0.000, Perception level of Generic Drug Use Less 48(40.4%) respondents, Enough 29(24.4%) respondents, Good 42(35.2%) respondents and the p-value is 0.000, Experience Level of Using Generic Drugs Less 63(52.9%) respondents, Enough 34(25.1%) respondents , Both 22(18.0%) respondents and the p-value is 0.000. Conclusion: More than half of respondents have experience using generic drugs, receive education and feel healed after use. Keywords : Generic drug use, Knowledge level, Perception level, Experience level Pendahuluan: Pengetahuan masyarakat mengenai obat generik masih tergolong rendah dan banyak yang menganggap obat generik adalah obat kelas bawah karena harganya murah. Faktor yang mempengaruhi pemikiran tersebut adalah tingkat pengetahuan, persepsi, dan pengalaman. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan,persepsi,dan pengalaman terhadap penggunaan obat generik pada mahasiswa jurusan medis di Universitas Malahayati meliputi prodi Kedokteran Umum, Ilmu Keperawatan dan Bidan Pendidik. Penelitian ini dilakuan dengan quisioner via onlne (google form). Hasil dari penelitian ini menunjukan Program studi Kedokteran Umum memiliki tingkat pengetahuan paling baik yakni sebesar 87,9%. Tingkat persepsi paling baik pada prodi Ilmu Keperawatan yakni sebesar 93,3%. Tingkat pengalaman >76% responden memiliki pengalaman menggunakan obat generik, 57,9% responden pernah menggunakan obat generik dan sembuh, >58% memiliki pengalaman pernah menerima edukasi tentang penggunaan obat generik. Kemudian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan terhadap penggunaan obat generik pada mahasiswa jurusan medis di Universitas Malahayati diperoleh sebesar 81,9% artinya tingkat pengetahuannya sudah baik. Tingkat persepsi diperoleh sebesar 83,3% artinya tingkat persepsi terhadap penggunaan obat generik sudah baik. Lebih dari setengah jumlah responden memiliki pengalaman menggunakan obat generik, menerima edukasi dan merasa sembuh setelah penggunaan. Tujuan: Bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, persepsi, dan pengalaman terhadap penggunaan obat generik pada mahasiswa medis di universitas malahayati. Metode: Uji statistik menggunakan metode Chi Squere, menunjukan bahwa diperoleh p value sebesar 0,000 yang artinya p< 0,05. Dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima atau dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan bermakna tingkat pengetahuan terhadap penggunaan obat generik pada mahasiswa jurusan medis di Universitas Malahayati Hasil: Mengetahui Tingkat Pengetahuan Penggunaan Obat Generik Kurang 50(27.0%) responden, Cukup 77(42.6%) responden, Baik 53(29.4%) responden dan p-value nya 0.000, Tingkat persepsi Penggunaan Obat Generik Kurang 26(14.4%) responden, Cukup 93(51.6%) responden, Baik 61(33.0%) responden dan p-value nya 0.000, Tingkat Pengalaman Penggunaan Obat Generik Kurang 37(20.5%)responden, Cukup 28(15.5%) responden, Baik 115(63.0%) responden dan p-value nya 0.000, Tidak mengetahui Tingkat Pengetahuan Penggunaan Obat Generik Kurang 27(22.3%) responden, Cukup 71(55.36%) responden, Baik 21(17.4%) responden dan p-value nya 0.000, Tingkat persepsi Penggunaan Obat Generik Kurang  48(40.4%) responden, Cukup 29(24.4%) responden, Baik 42(35.2%) responden dan p-value nya 0.000, Tingkat Pengalaman Penggunaan Obat Generik Kurang 63(52.9%)responden, Cukup 34(25.1%) responden, Baik 22(18.0%) responden dan p-value nya 0.000. Simpulan: Lebih dari setengah jumlah responden memiliki pengalaman menggunakan obat generik, menerima edukasi dan merasa sembuh setelah penggunaan
Formulasi sediaan masker gel antioksidan ekstrak kulit buah kopi (Coffea canephora) Sukardi, Sukardi; Marcellia, Selvi; Chusniasih, Dewi
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 1 No. 2 (2021): December Edition 2021
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v1i2.177

Abstract

Pendahuluan:Kulit buah kopi robusta mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan fenolik yang diduga memiliki aktivitas antioksidan. Flavonoid dan tanin merupakan senyawa yang memiliki gugus hidroksil sebagai pereduksi yang dapat menghambat banyak reaksi oksidasikarena mampu mendonor sebuah elektron kepada senyawa radikal bebas yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai aktivitas antioksidan ekstrak kulit buahkopi robusta dan untuk mengetahui nilai aktivitas antioksidan dalam sediaan masker gel ekstrak kulit buah kopi robusta. Metode yang digunakan dalam ekstraksi adalah maserasi menggunakan etanol 96% dengan hasil ekstrak total pelarutnya ialah 0,0655%. Hasil uji skrining fitokimia didapat senyawa flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin dan saponin. Uji aktivitas antioksidan ekstrak kopi robusta 0,00131%, 0,00262% dan 0,00393% dilakukan dengan menggunakan metode DPPH diperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 146,2 ppm, 136,7 ppm dan 129,3 ppm. Masker gel dibuat pada konsentrasi terbaik aktivitas antioksidan yaitu pada konsentrasi 6%. Masker gel ekstrak kulit buah kopi robusta 6% telah memenuhi syarat uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, tipe krim, daya lekat dan iritasi. Uji aktivitas antioksidan gel ekstrak kulit buah kopi robusta 6% dengan menggunakan metode DPPH diperoleh nilai IC50sebesar 170,40 ppm. Pada Kontrol positif masker gel mustika ratu diperoleh nilai IC50 sebesar 73,15 ppm, dan pada kontrol negatif diperoleh nilai IC50 sebesar 386,6 ppm. Parameter nilai IC50 dilihat dari semakin kecil nilai IC50 maka semakin tinggi nilai aktivitas antioksidan tersebut. Tujuan: Agar dapat mengetahui formulasi sediaan masker gel antioksidan pada kulit buah kopi robusta (Coffea canephora). Metode: Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian menggunakan metode simple random sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara sederhana dan acak. Dengan alat spektrofotometri UV-Vis, mortir dan stamper, beaker glass, cawan uap, waterbath, wadah masker gel, corong pisah, kassa asbes, kertas perkamen, batang pengaduk, maserator, penangas air, timbangan analit, kertas pH, blender, tabung reaksi,rotary evaporator, gelas ukur 10 dan 50 mL, labu ukur, timbangan analitik, pipet volume, erlenmayer 250 mL, erlenmayer 1000 mL, kuvet, pipet tetes, beaker glass 250 mL, dan oven. Hasil: sortasi dihaluskan dan diperoleh bobot kering sebanyak 315 gram. Persen susut pengeringan ekstrak diperoleh sebesar 60,62 %. Simpulan: Uji masker gel kulit buah kopi robusta (Coffea canephora) 6% memiliki antioksidan kategori sedang dengan nilai IC50 sebesar 170,4 ppm. Kata Kunci : Kulit buah kopi robusta; Antioksidan;  DPPH; Masker gel;  Spektrofotometri UV-Vis.
Uji aktivitas antioksidan gel kombinasi ekstrak etanol daun lidah buaya (Aloevera) dan ekstrak daun kemangi (Ocimum Basillicum l) Berbasis sodium alginat dengan metode DPPH Robiyun, Robiyun; Yasir, Angga Saputra; Martinus, Martinus
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 1 (2022): June Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i1.180

Abstract

Pendahuluan: Kerusakan pada kulit yang menimbulkan efek berbahaya dari lingukangan, seperti sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kerusakan kulit adalah radikal bebas yang berupa sinar ultraviolet Daun lidah buaya dan Daun kemangi mengandung saponin, flavonoid, fenol dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dengan mengetahui nilai IC50 menggunakan metode DPPH.  kombinasi gel ekstrak etanol  lidah buaya (Aloe vera) dan ekstrak etanol daun kemanangi (Ocimum basilicum L) dengan menggunakan basis alginat. Metode yang digunakan dalam ekstraksi adalah maserasi menggunakan etanol 96% dengan nilai rendemen pada lidah buaya sebesar 19,63% dan pada daun kemangi sebesar 19,25%. Pada pembuatan kombinasi gel ekstrak  daun lidah buaya dan daun kemangi menggunakan basis yaitu Sodium Alginat. Dilakukan pengaplikasian ekstrak lidah buaya dan daun kemangi terhadap aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH dengan variasi perbandingan ekstrak kombinasi lidah buaya dan daun yang perbandingan 1:1, 1:2 dan 2:1. Nilai IC50 yang didapatkan perbandingan 1:1 sebesar 52,25 ppm, 1:2 sebesar 41,97 ppm dan 2:1 sebesar 58,22 ppm. Pada kontrol positif gel UV shield essential sunscreen wardah didapat nilai IC50 sebesar 60,35 ppm, dan nilai IC50 kontrol negatif sebesar 437,67 ppm. Nilai IC50 Gel 1:1 dan 2:1 termasuk dalam kategori antioksidan yang kuat karena nilai IC50 dalam range 100-150 ppm. Sedangkan gel 1:2 termasuk dalam kategori sangat kuat karena nilai IC50 < 50 ppm. Gel ekstrak kombinasi aktivitas antioksidan tertinggi dilakukan uji evaluasi gel Hasil uji evaluasi gel menunjukan bahwa sediaan gel ekstrak lidah buaya (Aloe vera) dan daun kemangi (Ocimum basilicum L) masing-masing evaluasi memenuhi persyaratan. Tujuan: Supaya dapat mengetahui aktivitas antioksidan gel kombinasi ekstrak etanol daun lidah buaya (aloevera)dan ekstrak daun kemangi (ocimum basillicum l) berbasis sodium alginat dengan metode dpph. Metode: Alat uji yang di gunakan spektofotometri uv-vis, kuvet,  timbangan, corong, mortir dan stampel, sudip, pipet tetes, tabung reaksi, oven, batang pengaduk, gelas ukur, botol gelap, kaca arloji, pH meter, spatula, aluminium foil, labu Erlenmeyer, dan alat gelas. Hasil: Dari uji menunjukan hasil sediaan gel ekstrak daun lidah buaya (Aloe vera) dan daun kemangi (Ocimum basilicum L) masing-masing kontrol uji memenuhi persyaratan Simpulan: Gel ekstrak kombinasi  daun lidah buaya dan daun kemangi 1:1, 1:2, dan 2:1 memiliki antioksidan berturut-turut 41,97 ppm, 52,25 ppm, dan 58,22 ppm. Gel 1:1 dan 2:1 termasuk dalam kategori antioksidan yang kuat karena nilai IC50 dalam range 100-150 ppm. Sedangkan gel 1:2 termasuk dalam kategori sangat kuat karena nilai IC50 < 50 ppm. Nilai IC50 vitamin C sebagai pembanding memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 4,75 ppm, termasuk dalam range <50 ppm.
Hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku penggunaan antibiotik pada mahasiswa medis di universitas malahayati Kirana, Dhea Ananda; Nofita, Nofita; Feladita, Niken
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 1 (2022): June Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i01.185

Abstract

Pendahuluan: Antibiotik merupakan obat utama yang digunakan sebagai anti bakteri atau  infeksi. Penggunaan antibotik yang tidak benar akan berakibat munculnya resistensi antibiotik yang merugikan. Salah satu faktor tingginya resiko resistensi adalah rendahnya ilmu pengetahuan mengenai obat antibiotik. Rendahnya ilmu pengetahuan menhasilkan perilaku penggunaan antibiotic yang tidak benar. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat hubungan pengetahuan terhadap perilaku penggunaan antibiotik dikalangan mahasiswa Medis di Universitas Malahayati, yaitu pada Mahasiswa Kedokteran, Kebidanan dan Keperawatan. Penelitian ini dilakukan dengan quisioner online dan dianalisis statistika dengan Uji Spearman. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa  tingkat pengetahuan Mahasiswa medis di Universitas Malahayati mayoritas termasuk dalam kategori pengetahuan baik dengan persentase sebesar 85,50% dan Perilaku penggunaan antibiotik mayoritas termasuk dalam kategori perilaku cukup dengan persentase sebesar 55,90%. Analisis Spearman menunjukkan pengetahuan dan perilaku responden memiliki hubungan yang bermakna dengan signifikansi sebesar  0,003 koefisien korelasi sebesar 0,452 yang menandakan hubungan kekuatan korelasi dalam kategori moderat atau tidak kuat dan tidak lemah, arah korelasi positif (+) yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan Mahasiswa Medis di Universitas Malahayati terhadap perilaku pengguaan  antibiotik. Tujuan: Meningkatkan mutu pengetahuan pengunaan penggunaan antibiotik pada mahasiswa medis di Universitas Malahayati Metode: Penelitian menggunakan lembar kuisioner dan purposive sampling Hasil: Pengetahuan memiliki nilai alpha sebesar 0,599 dan kuesioner tentang perilaku penggunaan antibiotik memiliki nilai alpha sebesar 0,527 dimana keduanya berada pada rentang      nilai 0,50-0,70. Simpulan: Tingkat pengetahuan Mahasiswa Medis tentang antibiotik, mayoritas termasuk dalam kategori pengetahuan baik.
Evaluasi penggunaan antibiotik pada kasus demam tifoid ditinjau dari berbagai literatur Adi Ismaya, Nurwulan; Yuliandanur, Eka
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 1 (2022): June Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i1.190

Abstract

Pendahuluan: Pengobatan utama untuk demam tifoid adalah dengan pemberian antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tepat dibutuhkan untuk mengatasi masalah resistensi antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan suatu kegiatan untuk menjamin mutu penggunaan obat yang tepat dan rasional, salah satunya adalah Evaluasi Penggunaan Obat (EPO). Penelitian yang dilakukan Hasyul tahun 2019 dari hasil evaluasi penggunaan obat di Puskesmas Cibatu, Tarogong, dan Cisarupan di Kabupaten Garut pada Januari-Desember 2017, didapatkan 96,68% pasien tepat indikasi pemberian antibiotik, sebanyak 58,27% tepat antibiotik, sebanyak 63,32% tepat dosis, dan 49,75% tepat lama pemberian. Tujuan: Mengetahui evaluasi penggunaan antibiotik pada kasus demam tifoid ditinjau dari berbagai literatur. Metode: Kualitatif dengan metode studi literatur. Hasil dan Simpulan: Berdasarkan jenis kelamin persentase paling banyak yaitu perempuan sebesar 51,496%. Berdasarkan usia persentase paling banyak berusia 5-24 tahun sebesar 56,894%. Dari lima penelitian, terdapat 3 penelitian dengan persentase antibiotik tunggal terbanyak yang digunakan untuk terapi demam tifoid yaitu seftriakson. Sedangkan 2 penelitian lainnya persentase antibiotik terbanyak yaitu sefotaksim. Berdasarkan tepat indikasi persentase tertinggi yaitu pada penelitian Hekmawati & Mutmainah, Athaya et al., Widodo, dan Hapsari sebanyak 100%. Berdasarkan tepat pasien persentase tertinggi yaitu pada penelitian Hekmawati & Mutmainah, Athaya et al., dan Hapsari sebanyak 100%. Berdasarkan tepat obat persentase teringgi yaitu pada penelitian Hapsari sebanyak 97,62%. Berdasarkan tepat dosis persentase tertinggi yaitu pada penelitian Athaya et al. sebanyak 80%. Tujuan: Mengetahui evaluasi penggunaan antibiotik pada kasus demam tifoid ditinjau dari berbagai literatur. Metode: Studi literatur. Hasil: Berdasarkan jenis kelamin persentase paling banyak yaitu perempuan sebesar 51,496%. Berdasarkan usia persentase paling banyak berusia 5-24 tahun sebesar 56,894%. Dari lima penelitian, terdapat 3 penelitian dengan persentase antibiotik tunggal terbanyak yang digunakan untuk terapi demam tifoid yaitu seftriakson. Sedangkan 2 penelitian lainnya persentase antibiotik terbanyak yaitu sefotaksim. Berdasarkan tepat indikasi persentase tertinggi yaitu pada penelitian Hekmawati & Mutmainah, Athaya et al., Widodo, dan Hapsari sebanyak 100%. Berdasarkan tepat pasien persentase tertinggi yaitu pada penelitian Hekmawati & Mutmainah, Athaya et al., dan Hapsari sebanyak 100%. Berdasarkan tepat obat persentase teringgi yaitu pada penelitian Hapsari sebanyak 97,62%. Berdasarkan tepat dosis persentase tertinggi yaitu pada penelitian Athaya et al. sebanyak 80%.
Evaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit X Tangerang Selatan Rahmah Fahriati, Andriyani; Andani, Deawuri; Sucipto
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 1 (2022): June Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i01.191

Abstract

Pendahuluan: Peningkatan mutu layanan dan sistem layanan kesehatan yang diberikan kepada pasien akan menjadi pilihan utama bagi pasien untuk datang berkunjung di Rumah Sakit, salah satu yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan di Rumah Sakit adalah Pelayanan kefarmasian. Pengukuran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan dapat diukur dengan metode SERVQUAL (Service Quality), metode ini digunakan dengan cara membuat survei penilaian kepuasan pelanggan secara komprehensif bagi pelayanan dibidang barang dan jasa, dalam hal ini adalah pelayanan kefarmasian. Rumusan permasalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit X Tangerang Selatan periode Januari – Maret 2020. Tujuan: Untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit X Tangerang Selatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non ekperimental deskriptif dan diolah secara analitik kuantitatif dengan pendekatan survei. Uji validitas dan reabilitas kuesioner dilakukan terhadap 30 responden dan analisis data menggunakan perhitungan indeks total kualitas pelayanan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang berkunjung ke instlasi farmasi di Rumah Sakit X Tangerang Selatan pada periode Januari – Maret 2020. Terdapat 100 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi antara lain bersedia menjadi responden, bisa baca dan tulis, berusia diatas 15 tahun, dan pernah mendapatkan pelayanan di instalasi farmasi RS X Tangerang Selatan. Hasil: Diperoleh presentase tiap variable didapat rata-rata 82,06% yang dikategorikan hasil evaluasi kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kefarmasian yang diberikan sudah sangat puas, dengan perincian masing-masing dimensi yakni pada dimensi kehandalan yakni sebesar 78,23% pasien menyatakan puas, pada dimensi daya tanggap 79,95% pasien menyatakan puas, pada dimensi jaminan 82,5% pasien menyatakan sangat puas, pada dimensi empati 86,1% pasien menyatakan sangat puas, dan pada dimensi bukti langsung 83,52% pasien menyatakan sangat puas. Simpulan: Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian rawat jalan Rumah Sakit X, yang dilihat pada lima dimensi servqual, diperoleh hasil bahwa sudah sangat puas, walaupun ada dimensi yang perlu tetap ditingkatkan terutama pada kategori informasi cara penyimpanan obat dan efek samping obat serta penyerahan obat secara tepat waktu, hal ini yang harus di evaluasi lagi agar dapat lebih ditingkatkan dalam pelayanannya.
Kajian administratif resep pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit x Di kota Tangerang Selatan Fadhilah, Humaira; Sari Anggraini, Monika; Andriati, Riris
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 1 (2022): June Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i01.192

Abstract

Pendahuluan: Dalam pelayanan resep didahului dengan proses skrining resep yang dapat dilihat dari 3 aspek kelengkapan resep yang mencakup persyaratan administratif, persyaratan klinis, persyaratan farmasetik. Aspek administratif dipilih karena merupakan tahap awal dalam proses skrining resep pada saat resep dilayani diapotek karena mencakup seluruh informasi didalam resep yang berkaitan dengan kejelasan tulisan obat, keabsahan resep, dan kejelasan informasi didalam resep. Tujuan: Untuk melihat persentase kelengkapan administratif resep pada pasien rawat jalan di IFRS X pada periode oktober-desember 2018. Metode: Menggunakan rancangan deskriptif dan metode pengambilan sampel menggunakan metode random sampling, sehingga didapatkan sampel sebanyak 390 lembar resep. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengamati seluruh resep pasien rawat jalan yang masuk selama periode oktober-desember 2018. Dilakukan skrining administratif terhadap 390 lembar resep pasien rawat jalan dengan mengisi tabel pengambilan data (Check list) sesuai dengan aspek kelengkapan resep yang ditinjau. Hasil: Kelengkapan administrasi resep berdasarkan data pasien, meliputi: nama pasien 100%, usia pasien 89,2%, jenis kelamin 100%, berat badan 13,1%, dan alamat pasien 93,3% dan kelengkapan resep berdasarkan legalitas dokter, meliputi: nama dokter 100%, No. SIP dokter 100%, alamat dokter 100%, no telp dokter 100%, paraf dokter 100%, dan tanggal penulisan resep 100%, sedangkan ketidaklengkapan berdasarkan data pasien meliputi; nama pasien 0%, usia pasien 10,8%, jenis kelamin 0%, berat badan 86,9%, dan alamat pasien 6,7%, dan ketidaklengakapan berdasarkan legalitas dokter meliputi; nama dokter 0%, No SIP 0%, alamat dokter 0%, no telpon dokter 0%, paraf dokter 0%, dan tanggal penulisan resep 0%. Simpulan: Dalam hal ini kelengkapan resep secara administratif pada resep pasien rawat jalan di RSU X dinyatakan belum memenuhi aspek administratif resep berdasarkan Permenkes RI No. 58 tahun 2014.