cover
Contact Name
Desti Verani
Contact Email
mail@iphorr.com
Phone
+62895356428751
Journal Mail Official
jurnalpti207@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues
ISSN : 28074319     EISSN : 28074122     DOI : https://doi.org/10.56922/pti.v4i2
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi ilmu keparmasian. Penelitain sesuai tren pengobatan sesuai sumber alam di negara tropis. Pengembangan obat dan pendistribusian kepada pelanggan, dan sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Republik Indonesia
Articles 46 Documents
Penilaian dan harapan pasien terhadap pelayanan swamedikasi di tiga apotek kimia farma Kota Bandung Senja Maelaningsih, Firdha; Susanti; Vien Hapsari, Maretha; Ovia Airin, Ivo
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i02.193

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan obat-obatan dengan pengobatan sendiri (swamedikasi) dipraktekkan secara luas di seluruh dunia. Swamedikasi merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Dalam prakteknya, pengobatan sendiri dapat menjadi sumber masalah terkait obat karena kurangnya pengetahuan tentang obat dan penggunaannya. Oleh karena itu dibutuhkan peran apoteker dalam merekomendasikan obat bebas untuk membantu pasien mengatasi masalah kesehatannya. Tujuan: Untuk mengetahui penilaian dan harapan dari pasien terhadap pelayanan apoteker terkait swamedikasi di apotek. Jenis penelitian ini menggunakan. Metode: Non eksperimental dengan pendekatan cross sectional melalui teknik pengambilan data consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepada pasien yang mendapatkan pelayanan swamedikasi di tiga apotek di kota Bandung selama Maret-April 2018. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata kepuasan pasien terhadap pelayanan swamedikasi di apotek sebesar 77,5%. Dan harapan pasien terhadap apoteker dalam pelayanan swamedikasi yaitu dapat memberikan solusi pilihan obat yang tepat, memastikan bahwa produk obat berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan berkualitas baik, serta harus bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan. Simpulan: Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Apoteker mendapatkan nilai persepsi yang baik terkait perannya dalam pelayanan swamedikasi di apotek.
Pola peresepan obat pada pasien gagal ginjal kronis rawat inap rumah sakit x Tangerang Selatan Aulia, Gina; Holidah; Dwi Pratiwi, Rita; Sulistyo Rini, Wahyu
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i02.194

Abstract

Pendahuluan: Gagal ginjal merupakan suatu kondisi dimana fungsi ginjal telah menurun atau bahkan menghilang dalam beberapa tahap. Gagal ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dan atau penurunan Laju Filtrasi Glomerulus kurang dari 60ml / menit / 1,73 m2 selama setidaknya tiga bulan. Peresepan pengobatan penyakit yang tepat merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan, terutama gagal ginjal kronis. Tujuan: Untuk mengetahui pola peresepan obat rawat inap ginjal kronik di Rumah Sakit X Tangerang Selatan pada tahun 2019. Metode: Deskriptif dengan teknik sekunder data random sampling, dari rekam medis dan resep dokter. Bentuk karakteristik pasien termasuk usia dan jenis kelamin, indikator pola resep termasuk golongan obat, bentuk obat, jumlah dan dosis. Populasi yang diperoleh adalah 264 pasien dengan 159 pasien telah digunakan sebagai sampel. Hasil: Usia pasien di atas 65 tahun (41,51%), laki-laki (57,23%), kelas obat antasid (31,63%), bentuk tablet (65,06%), yang paling banyak digunakan adalah Bicnatric ( 16,87) dosis 500 mg (22,40%). Simpulan: Pasien yang didiagnosis dengan gagal ginjal kronis rawat inap di rumah sakit X Tangerang Selatan pada tahun 2019 sebagian besar terjadi pada pria berusia di atas 65 tahun dan obat yang paling banyak digunakan adalah tablet Bicnatric 500 mg (Antasida).
Uji efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (swietenia mahagoni L.) sebagai larvasida aedes aegypti dengan metode sokletasi Bella, Bella Tasya Salsabila; Marcellia, Selvi; Nofita, Nofita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i02.282

Abstract

Background: Swietenia mahagoni (L.) known as mahogany is an example of a plant that has larvicidal effectiveness. Mahogany rind contains flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, phenols, steroids and terpenoids. Secondary metabolite compounds that can be used as larvicides, namely, flavonoids which work by causing wilting of the nerves and damage to the respiratory system and causing the larvae to be unable to breathe and eventually die Purpose: To find out whether mahogany rind (Swietenia mahagoni (L.) is effective as a larvicide on Aedes aegypti mosquitoes and to find out what the LC50 value is in the effectiveness test on mahogany rind (Swietenia mahagoni (L.) as a larvicide on Aedes aegypti mosquitoes). Methods: Mosquitoes were divided into 6 groups, namely, positive control group, concentration of 0.5%, 1%, 2%, 4% and negative control. Results: The yield of mahogany peel extract was 6.7%. The results of the ethanol extract of mahogany fruit has activity as a larvicidal from a concentration of 2% and 4% already has an effectiveness almost equivalent to the positive control. The LC50 value indicates the ability of the ethanol extract of mahogany fruit to be 0.244%. Then the data obtained was then tested using the One Way ANOVA test and the LSD (Least Significance Different) Post Hoc test to determine whether there were differences in each concentration. Conclusion: The ethanol extract of mahogany (Swietenia mahagoni L.) peel has highly toxic properties in killing Aedes aegypti larvae.   Pendahuluan: Swietenia mahagoni (L.) yang dikenal sebagai mahoni merupakan salah satu contoh tanaman yang memiliki efektivitas larvasida. Kulit buah mahoni mengandung flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, fenol, steroid dan terpenoid. Senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai larvasida yaitu, flavonoid yang bekerja dengan cara menimbulkan kelayuan pada syaraf serta kerusakan pada sistem pernapasan dan mengakibatkan larva tidak bisa bernapas dan akhirnya mati Tujuan: Untuk mengetahui apakah kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni (L.) efektif sebagai larvasida pada nyamuk Aedes aegypti dan untuk mengetahui berapakah nilai LC50 pada uji efektivitas pada kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni (L.) sebagai larvasida pada nyamuk Aedes aegypti. Metode: Nyamuk dibagi menjadi 6 kelompok yaitu, kelompok kontrol positif, konsentrasi 0,5%, 1%, 2%, 4% dan kontrol negatif. Hasil: Rendemen ekstrak kulit buah mahoni didaptakan sebesar 6,7%. Hasil ekstrak etanol buah mahoni memiliki aktivitas sebagai larvasida dari konsentrasi 2% dan 4% sudah memiliki efektivitas hampir setara dengan kontrol positif. Nilai LC50 menunjukkan kemampuan ekstrak etanol buah mahoni sebesar 0,244%. Kemudian data yang didapatkan lalu diuji menggunakan uji One Way ANOVA dan uji Post Hoc LSD (Least Significance Different) untuk mengetahui adanya perbedaan pada tiap konsentrasi. Simpulan: Ekstrak etanol kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L.) memiliki sifat sangat beracun dalam membunuh larva Aedes aegypti.
Uji efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (swietenia mahagoni l.) terhadap bakteri salmonella thyphi Safitri, Mariska Mulya; Marcellia, Selvi; Tutik, Tutik
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i02.322

Abstract

Background:Typhoid fever is a disease that arises due to infection with pathogenic bacteria such as Salmonella typhi. The plant commonly used by the community to cure typhoid fever is by using mahogany fruit skin. Purpose: To identify the effectiveness of mahogany rind extract as an antibacterial against Salmonella typhi bacteria and determine the concentration of mahogany rind extract against Salmonella typhi bacteria. Methods: This study used the soxhlet extraction method with 96 percent ethanol as solvent. Results:  The effectiveness obtained from the mahogany rind extract test (Swietenia mahagoni L) was 29.6 percent, the extraction result was 6.7 percent, the phytochemical screening results of the mahogany rind extract obtained flavonoid compounds, saponins, phenolics, tannins and alkaloids. The results of the effectiveness of mahogany skin extract (Switenia mahagoni L) was effective at a concentration of 10 percent with an inhibition zone of 8.5 mm which had a moderate inhibitory response. Conclusion: Ethanol extract of mahogany peel (Switenia mahagoni L) has properties that can inhibit the geowth of Salmonella typhi bacteria. Keywords: Effectiveness; Mahogany Fruit Peel Extract (Swietenia Mahagoni L.); Salmonella Typii. Pendahuluan: Demam tifoid adalah salah satu penyakit yang timbul akibat infeksi bakteri patogen seperti bakteri Salmonella typhi.tanaman yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menyembuhkan demam tifoid yaitu dengan menggunakan kulit buah mahoni. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektivitas ekstrak kulit buah mahoni sebagai antibakteri pada bakteri Salmonella typhi dan menentukan konsentrasi ekstrak kulit buah mahoni terhadap bakteri Salmonella typhi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi sokletasi dengan pelarut etanol 96 persen. Hasil: Efektivitas yang diperoleh dari uji ekstrak kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L) yaitu 29,6 persen,Hasil ekstraksi diperoleh 6,7 persen, pada hasil skrining fitokimia ekstrak kulit buah mahoni diperoleh senyawa flavonoid, saponin, fenolik, tanin dan alkaloid. Hasil efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (Switenia mahagoni L) sudah efektiv pada konsentrasi 10 persen dengan zona hambat 8,5 mm yang memiliki respon hambat sedang. Simpulan: Ekstrak etanol kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L) memiliki sifat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi.
Uji anti kolesterol secara in-vitro ekstrak metanol kulit bawang merah (Allium cepa l.) dengan metode ekstraksi refluks dan sokletasi Mutiara, Mutiara Oktarima; Tutik, Tutik; Primadiamanti, Annisa
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 2 No. 2 (2022): December Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v2i02.332

Abstract

Background: Cholesterol is an important molecule in humans, with excess and deficiency of its levels in the body can cause various diseases. One alternative treatment is to use shallot skin extract. Purpose: To determine whether there is cholesterol lowering activity from the methanol extract of shallot skin (Allium cepa l.). Method: The extraction used is by heating, namely extraction by soxhletation and reflux. Results: The phytochemical test for the content of methanol extract showed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins and saponins. The yield results from the soxhletation and reflux extraction methods that have been carried out are 12.5% and 14%. UV-Vis spectrophotometer test with the Lieberman-Burchad method was used to determine the ability to reduce cholesterol levels. Conclusion: Methanol extract of shallot skin in this study can reduce cholesterol levels in vitro based on the UV-Vis spectrophotometer results of methanol extract of shallot skin (Allium cepa L.) for cholesterol reduction which was shown to be 24.4% in the soxhletation method and 37.5 % on the reflux method. In this study there were obstacles, namely the wrong use of cholesterol standard solution which resulted in the formation of a brown solution instead of a green complex reaction. Keywords: Shallot Skin; Soxhletation; Reflux; UV-Vis Spectrophotometry; Anticholesterol. Pendahuluan: Kolesterol merupakan suatu molekul penting pada manusia, dengan kelebihan dan kekurangan kadarnya dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit. Salah satu pengobatan alternative yaitu dengan menggunakan ekstrak kulit bawang merah. Tujuan: Untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas penurunan kadar kolesterol dari ekstrak methanol kulit bawang merah (AlliumcepaL.). Metode: Ekstraksi yang digunakan dengan cara pemanasan yaitu ekstraksi secara sokletasi dan refluks. Hasil: Uji fitokimia kandungan ekstrak metanol menunjukan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Hasil rendemen dari metode ekstraksi sokletasi dan refluks yang telah dilakukan diperoleh 12,5% dan 14%. Uji spektrofotometer UV-Vis dengan metode Lieberman-burchad digunakan untuk menentukan kemampuan penurunan kadar kolesterol. Simpulan: Ekstrak metanol kulit bawang merah pada penelitian ini dapat menurunkan kadar kolesterol secara in vitro berdasarkan hasil spektrofometer UV-Vis ekstrak metanol kulit bawang merah (Allium cepa L.) terhadap penurunan kolesterol ditunjukan sebesar 24,4% pada metode sokletasi dan 37,5% pada metode refluks. Pada penelitian ini terdapat kendala yaitu kesalahan penggunaan larutan baku kolesterol yang mengakibatkan tidak terbentuk reaksi kompleks hijau melainkan terbentuk larutan coklat.
Formulasi dan evaluasi fisik masker wajah gel peel off buah naga merah (hylocereus polyrhizus) Tsabitah, Huriyah
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.463

Abstract

Background: Peel-off gel facial mask is a cosmetic skin treatment that is applied in gel form. Antioxidants can help stabilize free radicals by contributing to the lack of electrons and inhibiting the chain reactions that free radicals produce. Purpose: To find out the results of the evaluation of the red dragon fruit (hylocereus polyrhizus) peel off gel facial mask preparation. Method: This research uses an experimental method with a descriptive approach which includes organoleptic physical evaluation tests, pH tests, viscosity tests, spreadability tests, adhesion tests, dry time tests, and hedonic tests. Results: The results of the research with variations in the concentration of red dragon fruit juice of 0.5%, 0.5%, and 0.75% produced a homogeneous red dragon fruit peel off gel mask preparation, good color, pH of the preparation 5. The viscosity produced by formula 1 was 2105 , formula 2 is 300 cps, and formula 3 is 4050 cps. The drying time for the peel off gel mask preparation in formula 1 is 18 minutes, formula 2 is 17 minutes, and formula 3 is 15 minutes. The spreadability of the preparation in formula 1 is 7 cm, formula 2 is 6.5 cm, formula 3 is 6 cm. The adhesive strength of the preparation in formula 1 is 2 minutes, formula 2 is 5 minutes, and formula 3 is 6 minutes. The panelists' preference test showed that formula 2 was superior with a color score of 36%, aroma 35% and texture 38%. Conclusion: The formulation of this peel off gel facial mask means that each concentration variation has different characteristics and influences the evaluation of the preparation. Red dragon fruit can be used as an active ingredient in peel-off gel facial masks.   Keywords: Formulations; Masks; Peel Off; Red Dragon Fruit   Pendahuluan: Masker wajah gel peel-off merupakan perawatan kosmetik kulit yang diaplikasikan dalam bentuk gel. Antioksidan dapat membantu menstabilkan radikal bebas dengan berkontribusi terhadap kekurangan elektron dan menghambat reaksi berantai yang dihasilkan radikal bebas. Tujuan: Untuk mengetahui hasil evaluasi sediaan masker wajah gel peel off buah naga merah (hylocereus polyrhizus) Metode: Penelitian ini menggunakan metode ekspierimental dengan pendekatan deskriptif yang meliputi uji evaluasi fisik organoleptik, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, uji daya lekat, uji waktu kering, dan uji hedonik. Hasil: Hasil penelitian dengan variasi konsentrasi sari buah naga merah 0..5%, 0.5%, dan 0.75% menghasilkan sediaan masker gel peel off buah naga merah yang homogen, warna yang baik, pH sediaan 5. Viskositas yang dihasilkan formula 1 yaitu 2105, formula 2 yaitu 300 cps, dan formula 3 yaitu 4050 cps. Waktu mengering sediaan masker gel peel off pada formula 1 yaitu 18 menit, formula 2 yaitu 17 menit, dan formula 3 yaitu 15 menit. Daya sebar sediaan pada formula 1 yaitu 7 cm, formula 2 yaitu 6.5 cm, formula 3 yaitu 6 cm. Daya lekat sediaan pada formula 1 yaitu 2 menit, formula 2 yaitu 5 menit, dan formula 3 yaitu 6 menit. Uji kesukaan pada panelis menunjukan bahwa formula 2 lebih unggul dengan skor warna 36%, aroma 35%, dan tekstur 38%. Simpulan: Formulasi masker wajah gel peel off ini yaitu setiap variasi konsentrasi memiliki karakteristik dan mempengaruhi evaluasi sediaan yang berbeda. Buah naga merah dapat dijadikan sebagai zat aktif dalam sediaan masker wajah gel peel off.   Kata Kunci: Formulasi; Masker; Peel Off; Buah Naga Merah.
Evaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid anak dengan metode Gyssens Yasir, Angga Saputra; Merliyanti, Yustika
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i1.516

Abstract

Typhoid fever is an infectious disease caused by gram-negative bacteria, namely salmonella typii. The occurrence of typhoid fever because of an unhealthy lifestyle. The management of typhoid fever therapy with antibiotics and the success of typhoid fever therapy depends on the accuracy of using antibiotics. The purpose of this study was to evaluate the rationality of the use of antibiotic drug therapy in children diagnosed with typhoid fever with the Gyssens method in the Inpatient Installation of Pertamina Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2019. The method in this study was descriptive non-experimental with retrospective data collection from medical records. A child with typhoid fever. The data taken is in the form of medical record data including the name of the patient, diagnosis, age, gender, laboratory examination, drug use, dosage and duration of drug administration. The data was adjusted to the DIH (Drug Information Handbook), Clinical Pathways and Pharmaceutical Care parameters, which showed that of the 54 patients who used cefixime, ceftriaxone and cefotaxime antibiotics rationally in pediatric patients diagnosed with typhoid fever in the Inpatient Installation of Pertamina Bintang Amin Hospital, the amount was 100%.   Keywords: Typhoid fever;  Antibiotics; Pediatric; Patients   Demam tifoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu salmonella typii. Terjadinya demam tifoid karena pola hidup yang kurang sehat. Penatalaksanaan terapi demam tifoid dengan diberikan antibiotik dan keberhasilan terapi demam tifoid tergantung pada ketepatan penggunaan antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan terapi obat antibiotik pada pasien anak diagnosis demam tifoid dengan metode gyssens di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2019. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif non eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dari rekam medik pasien anak demam tifoid. Data yang diambil berupa data rekam medis diantaranya adalah nama pasien, diagnosis, usia, jenis kelamin,pemeriksaan laboratorium, penggunaan obat, dosis dan lama pemberian obat. Data disesuaikan dengan parameter DIH (Drug Information Handbook Ed24), Clinical Pathways dan Pharmaceutical Care, yang menunjukkan bahwa dari 54 pasien yang menggunakan antibiotik cefiksim,seftriakson dan sefotaksim terdapat 33 pemberian antibiotik yang tidak tepat dosis yang termasuk kedalam katagiri IIA dan 21 penggunaan antibiotik tepat atau yang termasuk dalam kategori 0. secara rasional pada pasien anak yang terdiagnosis demam tifoid di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin sebesar  100%.
Pola penggunaan antibiotik infeksi saluran pernapasan atas akut pada anak Angin, Martianus Perangin; Saputri, Gusti Ayu Rai; Pangestu, Dimas Aji
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i1.517

Abstract

Background : Acute upper respiratory tract infections cause inflammation and infection of the nose and throat. The selection of antibiotics should be based on information about the cause of infection, results of microbiological examinations, pharmacokinetic and pharmacodynamic profiles of antibiotics. Purpose : To determine the pattern of use of antibiotics for acute upper respiratory tract infections in children at the Sukadana Regional General Hospital, East Lampung Regency with the right parameters for diagnosis, right indication, right patient, right drug, right dose. Method : Descriptive observational, the data is done retrospectively using the patient's medical record. Results : Showed the highest prevalence, namely: at the age of children (6-12 years) as many as 11 patients (52%), female sex as many as 11 patients (52%), on the antibiotic Amoxicillin as many as 13 cases (62%). Conclusion : From the rationale analysis of the use of antibiotics in children with acute upper respiratory tract infections, it was obtained: Correct Diagnosis 100%, Correct Indication 100%, Correct Patient 100%, Correct Drug 100%, Correct Dose 100% Keywords : Acute Upper Respiratory Tract Infection; Antibiotics; Rationality. Pendahuluan : Infeksi saluran pernapasan atas akut menyebabkan peradangan serta infeksi pada hidung dan tenggorokan. Pemilihan antibiotik harus berdasarkan informasi tentang penyebab infeksi, hasil pemeriksaan mikrobiologi, profil farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik. Tujuan : Untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik Infeksi Saluran Pernapasan atas Akut pada anak di Rumah Sakit Umum Daerah Sukadana Kabupaten Lampung Timur dengan parameter tepat diagnosis, tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis. Metode : Observasional deskriptif, data dilakukan secara retrospektif dengan menggunaakan rekam medik pasien. Hasil : Menunjukan prevalensi terbanyak yaitu: pada usia anak (6-12 tahun) sebanyak 11 pasien (52%), jenis kelamin perempuan sebanyak 11 pasien (52%), pada obat antibiotik Amoksisilin sebanyak 13 kasus (62%). Simpulan : Dari analisis rasionalitas penggunaan antibiotik pada anak dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atas akut di peroleh: Tepat Diagnosa 100%, Tepat Indikasi 100%, Tepat Pasien 100%, Tepat Obat 100%, Tepat Dosis 100% Kata Kunci : Infeksi; Saluran Pernapasan Atas Akut; Antibiotic; Rasionalitas
Evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien DM tipe-2 Perdana, Dwi Agung Jaka; Nofita, Nofita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i1.518

Abstract

Background : Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia. Diabetes mellitus can lead to a variety of problems, including hypertension. Pharmacological therapy for diabetes mellitus with hypertension complications is very complex, such as the use of more than one drug. This allows the treatment results we don't expect (Unrational). Purpose : This study aims to determine the pattern of prescribing and the rationale for the use of antihypertensive drugs in type-2 Diabetes Mellitus patients at the Kedaton Hospital in Bandar Lampung in 2019 with the right parameters for diagnosis, right medication, right patient, right indication, right dose, right method and duration. giving. Method : This type of research is descriptive observational, the data is done retrospectively by using the patient's medical record. Results : The results showed the highest prevalence, namely: at the age of 56-65 years (36%), female gender (70%), 21 patients with antidiabetic drugs Glibenclamide (63%), 18 patients for other drugs namely paracetamol (26%), In the antihypertensive drug, 15 patients were Captopril (45%), with monotherapy as much as 94%. Conclusion : From the rationality analysis of the use of antihypertensive drugs in Type-2 DM patients, it was obtained: 100% correct diagnosis, 100% correct drug, 100% accurate indication, 100% correct patient, 81% correct dose, and 66% correct duration of administration. Keywords : Evaluation, Type 2 Diabetes Mellitus Patient, Antihypertensive Drugs, Rationality. Pendahuluan : Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. DM dapat menyebabkan berbagai komplikasi salah satunya hipertensi. Pemberian terapi farmakologi untuk diabetes melitus dengan komplikasi hipertensi sangat kompleks, seperti penggunaan obat yang lebih dari satu. Hal ini memungkinkan terjadinya hasil pengobatan tidak kita harapkan (Tidak Rasional). Tujuan : Untuk mengetahui pola Peresepan dan Rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien Diabetes Mellitus tipe-2 di Puskesmas Rawat Inap Kedaton Bandar Lampung pada tahun 2019 dengan parameter tepat diagnosis, tepat obat, tepat pasien, tepat indikasi, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian. Metode : Observasional deskriptif, data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis pasien. Hasil : Menunjukkan prevalensi terbanyak yaitu: pada usia 56-65 tahun (36%), jenis kelamin Perempuan (70%), Pada obat Antidiabetik 21 pasien yaitu Glibenklamid (63%), pada obat lain 18 pasien yaitu parasetamol (26%), Pada obat Antihipertensi 15 pasien yaitu Captopril (45%), dengan monoterapi sebanyak 94%. Simpulan : Dari analisis rasionalitas penggunaan obat antihipertensi pada pasien diabetes melitus tipe-2 diperoleh tepat diagnosa 100%, tepat obat 100%, tepat indikasi 100%, tepat pasien 100%, tepat dosis 81%, dan tepat lama pemberian 66%. Kata Kunci : Evaluasi; Pasien; Diabetes Melitus Tipe 2; Obat Antihipertensi; Rasionalitas.
Rasionalitas penggunaan obat pada pasien penyakit jantung koroner dengan komplikasi dislipidemia Dewi, Anita Citra; Anggreani, Hesti
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 3 No. 1 (2023): June Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v3i1.519

Abstract

Background : Coronary heart disease (CHD) is a condition caused by the constriction and obstruction of blood vessels that drain blood to the heart muscle, so that the heart muscle will lack of blood and do not get oxygen for it’s function. Dyslipidemia is the main cause of artherosclerosis, the main cause of CHD, causing the complexity of the therapy given. Purpose : This study aims to determine the treatment profile and evaluate the rasionality of drug use in CHD patients with dyslipidemia complications in the outpatient Installation of Urip Hospital for the period October-December 2020. Method : This type of research is descriptive with retroprospective data collection of 41 medical records of outpatient CHD patients who met the inclusion criteria. Results : The result of the study based on the chacarteristic of CHD patients showed that the number of male patients was more was in the age group. 56-65 years by 16 patients (39,02%), hypertension is the most common comorbidity with 25 patients ( 60,97%), and the treatment profile, namely the type of drug that is most widely used in the treatment was nitrat (87.80%), antiplatelet (78,04), betablocker (65,85%), and the most widely used statin group was simvastatin (70,73%), the percentage of accuracy of rationality of drug use consists of the the right diagnosis (100%), right indication (95,12%), the right drug (95,12%), the right dose ( 100%), the right route of administration (100%), alert for side effects (100%) and right patient (100%) Conclusion : CHD patients with complications of dyslipidemia in men are more than women and the most commonly used dyslipidemia drugs are statins such as simvastatin. Keywords : Coronary heart disease; Dyslipidemia; Drug; Rationality. Pendahuluan : Penyakit jantung koroner (PJK) adalah suatu kedaan yang diakibatkan oleh adanya penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang mengalirkan darah ke otot jantung, sehingga otot jantung akan kekurangan darah dan tidak mendapatkan oksigen untuk pekerjaannya. Dislipidemia merupakan penyebab terjadinya ateriosklerosis penyebab utama terjadinya PJK sehingga menyebabkan kompleksnya terapi yang diberikan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pengobatan dan mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat pada pasien PJK dengan komplikasi dislipidemia. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retroprospektif terhadap 41 data rekam medik pasien PJK rawat jalan yang memenuhi krikteria inklusi. Hasil : Berdasarkan karateristik pasien PJK menunjukkan jumlah pasien laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan yaitu sebesar 25 pasien (61%), jumlah pasien terbanyak yaitu pada kelompok usia 56-65 tahun sebesar 16 pasien (39,02%), penyakit hipertensi merupakan penyakit penyerta terbanyak dengan jumlah 25 pasien (60,97%.) dan profil pengobatan yaitu jenis obat yang paling banyak digunakan pada pengobatan adalah obat golongan nitrat sebesar (87,80%), antiplatelet (78,04%), betablocker sebesar (65,85%) dan golongan statin ynag paling banyak digunakan yaitu simvastatin sebesar (70,73%) persentase ketepatan rasionalitas penggunaan obat terdiri dari tepat diagnosis (100%), tepat indikasi (95,12%), tepat obat (95,12%), tepat dosis (100%), tepat cara pemberian (100%), waspada efek samping(100%) dan tepat pasien (100%). Simpulan : Pasien PJK dengan komplikasi dyslipidemia pada laki – laki lebih banyak dibandingkan perempuan dan obat dislipidemia yang banyak digunakan yaitu golongan statin seperti simvastatin. Kata Kunci : PJK; Dislipidemia; Rasionalitas; Obat.