cover
Contact Name
Desti Verani
Contact Email
mail@iphorr.com
Phone
+62895356428751
Journal Mail Official
jurnalpti207@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, 3 Kota Bandar Lampung 5247
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues
ISSN : 28074319     EISSN : 28074122     DOI : https://doi.org/10.56922/pti.v4i2
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi ilmu keparmasian. Penelitain sesuai tren pengobatan sesuai sumber alam di negara tropis. Pengembangan obat dan pendistribusian kepada pelanggan, dan sesuai aturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) - Republik Indonesia
Articles 53 Documents
Kajian administratif resep pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit x Di kota Tangerang Selatan Fadhilah, Humaira; Anggraini, Monika Sari; Andriati, Riris
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 1 (2024): June Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i1.531

Abstract

Background:Prescription service begins with a prescription screening process that can be seen from 3 aspects of prescription completeness which include administrative requirements, clinical requirements, and pharmaceutical requirements. The administrative aspect was chosen because it is the initial stage in the prescription screening process when the prescription is presented at the pharmacy because it includes all the information in the prescription related to the clarity of drug writing, prescription validity, and clarity. from the information in the recipe. Purpose: To see the percentage of prescription administration completeness in outpatients at IFRS X for the period October-December 2018. Methods: Using a descriptive design and sampling method using random sampling method, in order to obtain a sample of 390 prescription sheets. Sampling was carried out by observing all incoming outpatient prescriptions during the October-December 2018 period. Administrative screening was carried out on 390 outpatient prescription sheets by filling out a data collection table (check list) in accordance with the aspects of prescription completeness being reviewed. Results: Completeness of prescribing based on patient data, including: patient's name 100%, patient age 89.2%, gender 100%, weight 13.1%, and patient address 93.3% and completeness of prescription based on doctor's legality, including : 100% doctor's letter name, No.100% doctor's SIP, 100% doctor's address, 100% doctor's telephone number, 100% doctor's initials, and 100% date of prescription, while incompleteness based on patient data includes; 0% patient name, patient age 10.8%, gender 0%, weight 86.9%, and patient address 6.7%, and incompleteness based on doctor's legality include; 0% doctor's name, 0% SIP No, 0% doctor's address, 0% doctor's phone number, 0% doctor's initials, and 0% prescription date. Conclusion: In this case, the completeness of prescription administration on outpatient prescriptions at RSU X is declared to have not fulfilled the prescription administration aspect based on the Regulation of the Minister of Health Number 58 of 2014. Keywords: Administrative Sciences; Recipe; Patient; outpatient Pendahuluan: Dalam pelayanan resep didahului dengan proses skrining resep yang dapat dilihat dari 3 aspek kelengkapan resep yang mencakup persyaratan administratif, persyaratan klinis, persyaratan farmasetik. Aspek administratif dipilih karena merupakan tahap awal dalam proses skrining resep pada saat resep dilayani diapotek karena mencakup seluruh informasi didalam resep yang berkaitan dengan kejelasan tulisan obat, keabsahan resep, dan kejelasan informasi didalam resep. Tujuan: Untuk melihat persentase kelengkapan administratif resep pada pasien rawat jalan di IFRS X pada periode oktober-desember 2018. Metode: Menggunakan rancangan deskriptif dan metode pengambilan sampel menggunakan metode random sampling, sehingga didapatkan sampel sebanyak 390 lembar resep. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengamati seluruh resep pasien rawat jalan yang masuk selama periode oktober-desember 2018. Dilakukan skrining administratif terhadap 390 lembar resep pasien rawat jalan dengan mengisi tabel pengambilan data (Check list) sesuai dengan aspek kelengkapan resep yang ditinjau. Hasil: Kelengkapan administrasi resep berdasarkan data pasien, meliputi: nama pasien 100%, usia pasien 89,2%, jenis kelamin 100%, berat badan 13,1%, dan alamat pasien 93,3% dan kelengkapan resep berdasarkan legalitas dokter, meliputi: nama dokter 100%, No. SIP dokter 100%, alamat dokter 100%, no telp dokter 100%, paraf dokter 100%, dan tanggal penulisan resep 100%, sedangkan ketidaklengkapan berdasarkan data pasien meliputi; nama pasien 0%, usia pasien 10,8%, jenis kelamin 0%, berat badan 86,9%, dan alamat pasien 6,7%, dan ketidaklengakapan berdasarkan legalitas dokter meliputi; nama dokter 0%, No SIP 0%, alamat dokter 0%, no telpon dokter 0%, paraf dokter 0%, dan tanggal penulisan resep 0%. Simpulan: Dalam hal ini kelengkapan resep secara administratif pada resep pasien rawat jalan di RSU X dinyatakan belum memenuhi aspek administratif resep berdasarkan Permenkes RI No. 58 tahun 2014. Kata Kunci: Kajian Administratif; Resep; Pasien; Rawat Jalan
Pola peresepan obat pada pasien gagal ginjal kronis rawat inap rumah sakit x Tangerang Selatan Aulia, Gina; Holidah, Holidah; Pratiwi, Rita Dwi; Rini, Wahyu Sulistyo
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.533

Abstract

Background: Kidney failure is a condition in which kidney function decreases or even disappears in several stages. Chronic renal failure was defined as kidney damage and/or decreased Glomerular Filtration Rate of less than 60ml/min/1.73 m2 for at least three months. Prescribing the right disease treatment is an important factor in the healing process, especially chronic kidney failure. Purpose: To determine the pattern of prescribing chronic kidney drugs inpatients at RS X Tangerang Selatan in 2019. Methods: Descriptive with secondary data random sampling technique, from medical records and doctor's prescriptions. Patient characteristics include age and gender, indicators of prescription patterns including drug class, drug form, amount and dose. The population obtained was 264 patients with 159 patients used as samples. Results: Patients aged over 65 years (41.51%), male (57.23%), antacid drug group (31.63%), tablet form (65.06%), the most widely used was Bicnatric (16.87) dose of 500 mg (22.40%). ). Conclusion: Patients diagnosed with chronic kidney failure who were hospitalized at RS X Tangerang Selatan in 2019 were mostly men aged over 65 years and the most widely used drug was Bicnatric tablet 500 mg (Antasida). Keywords: Recipe Pattern; Patient; Kidney Failure; Chronic; Inpatient Pendahuluan: Gagal ginjal merupakan suatu kondisi dimana fungsi ginjal telah menurun atau bahkan menghilang dalam beberapa tahap. Gagal ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan ginjal dan atau penurunan Laju Filtrasi Glomerulus kurang dari 60ml / menit / 1,73 m2 selama setidaknya tiga bulan. Peresepan pengobatan penyakit yang tepat merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan, terutama gagal ginjal kronis. Tujuan: Untuk mengetahui pola peresepan obat rawat inap ginjal kronik di Rumah Sakit X Tangerang Selatan pada tahun 2019. Metode: Deskriptif dengan teknik sekunder data random sampling, dari rekam medis dan resep dokter. Bentuk karakteristik pasien termasuk usia dan jenis kelamin, indikator pola resep termasuk golongan obat, bentuk obat, jumlah dan dosis. Populasi yang diperoleh adalah 264 pasien dengan 159 pasien telah digunakan sebagai sampel. Hasil: Usia pasien di atas 65 tahun (41,51%), laki-laki (57,23%), kelas obat antasid (31,63%), bentuk tablet (65,06%), yang paling banyak digunakan adalah Bicnatric ( 16,87) dosis 500 mg (22,40%). Simpulan: Pasien yang didiagnosis dengan gagal ginjal kronis rawat inap di rumah sakit X Tangerang Selatan pada tahun 2019 sebagian besar terjadi pada pria berusia di atas 65 tahun dan obat yang paling banyak digunakan adalah tablet Bicnatric 500 mg (Antasida). Kata Kunci: Pola Resep; Pasien; Gagal Ginjal Kronis; Rawat Inap
Penilaian dan harapan pasien terhadap pelayanan swamedikasi di tiga apotek kimia farma Kota Bandung Maelaningsih, Firdha Senja; Susanti, Susanti; Hapsari, Maretha Vien; Airin, Ivo Ovia
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.534

Abstract

Background:: The use of self-medication (self-medication) is widely practiced throughout the world. Self-medication is part of the community's efforts to maintain their health. In practice, self-medication can be a source of drug-related problems due to lack of knowledge about drugs and their use. Therefore, the role of pharmacists is needed in recommending over-the-counter drugs to help patients overcome their health problems. Purpose: To determine the patient's assessment and expectations of pharmacist services related to self-medication in pharmacies. This type of research uses. Methods: Non-experimental with a cross sectional approach through consecutive sampling data collection techniques. Data were collected using a questionnaire to patients who received self-medication services at three pharmacies in the city of Bandung during March-April 2018. Results: Shows that the average patient satisfaction with self-medication services in pharmacies is 77.5%. And patient expectations for pharmacists in self-medication services are to be able to provide the right drug choice solutions, ensure that medicinal products come from reliable and good quality sources, and must cooperate with other health workers in identifying and solving health problems. Conclusion: From the research, it can be concluded that pharmacists get a good perception value regarding their role in self-medication services in pharmacies. Keywords: Assessment; Hope; Patient; Service; self-medication; Pharmacy Pendahuluan: Penggunaan obat-obatan dengan pengobatan sendiri (swamedikasi) dipraktekkan secara luas di seluruh dunia. Swamedikasi merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Dalam prakteknya, pengobatan sendiri dapat menjadi sumber masalah terkait obat karena kurangnya pengetahuan tentang obat dan penggunaannya. Oleh karena itu dibutuhkan peran apoteker dalam merekomendasikan obat bebas untuk membantu pasien mengatasi masalah kesehatannya. Tujuan: Untuk mengetahui penilaian dan harapan dari pasien terhadap pelayanan apoteker terkait swamedikasi di apotek. Jenis penelitian ini menggunakan. Metode: Non eksperimental dengan pendekatan cross sectional melalui teknik pengambilan data consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner kepada pasien yang mendapatkan pelayanan swamedikasi di tiga apotek di kota Bandung selama Maret-April 2018. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata kepuasan pasien terhadap pelayanan swamedikasi di apotek sebesar 77,5%. Dan harapan pasien terhadap apoteker dalam pelayanan swamedikasi yaitu dapat memberikan solusi pilihan obat yang tepat, memastikan bahwa produk obat berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan berkualitas baik, serta harus bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan. Simpulan: Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Apoteker mendapatkan nilai persepsi yang baik terkait perannya dalam pelayanan swamedikasi di apotek. Kata Kunci: Penilaian; Harapan; Pasien; Pelayanan; Swamedikasi; Apotek
Uji efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (Swietenia Mahagoni L.) sebagai larvasida aedes aegypti dengan metode sokletasi Salsabila, Bella Tasya; Marcellia, Selvi; Nofita, Nofita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.535

Abstract

Background: Swietenia mahagoni (L.) known as mahogany is an example of a plant that has larvicidal effectiveness. Mahogany rind contains flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, phenols, steroids and terpenoids. Secondary metabolite compounds that can be used as larvicides, namely, flavonoids which work by causing wilting of the nerves and damage to the respiratory system and causing the larvae to be unable to breathe and eventually die Purpose: To find out whether mahogany rind (Swietenia mahagoni (L.) is effective as a larvicide on Aedes aegypti mosquitoes and to find out what the LC50 value is in the effectiveness test on mahogany rind (Swietenia mahagoni (L.) as a larvicide on Aedes aegypti mosquitoes). Methods: Mosquitoes were divided into 6 groups, namely, positive control group, concentration of 0.5%, 1%, 2%, 4% and negative control. Results: The yield of mahogany peel extract was 6.7%. The results of the ethanol extract of mahogany fruit has activity as a larvicidal from a concentration of 2% and 4% already has an effectiveness almost equivalent to the positive control. The LC50 value indicates the ability of the ethanol extract of mahogany fruit to be 0.244%. Then the data obtained was then tested using the One Way ANOVA test and the LSD (Least Significance Different) Post Hoc test to determine whether there were differences in each concentration. Conclusion: The ethanol extract of mahogany (Swietenia mahagoni L.) peel has highly toxic properties in killing Aedes aegypti larvae. Keywords: Mahogany Fruit Peel; larvicides; Aedes aegypti; Soxhletation Method. Pendahuluan: Swietenia mahagoni (L.) yang dikenal sebagai mahoni merupakan salah satu contoh tanaman yang memiliki efektivitas larvasida. Kulit buah mahoni mengandung flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, fenol, steroid dan terpenoid. Senyawa metabolit sekunder yang dapat digunakan sebagai larvasida yaitu, flavonoid yang bekerja dengan cara menimbulkan kelayuan pada syaraf serta kerusakan pada sistem pernapasan dan mengakibatkan larva tidak bisa bernapas dan akhirnya mati Tujuan: Untuk mengetahui apakah kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni (L.) efektif sebagai larvasida pada nyamuk Aedes aegypti dan untuk mengetahui berapakah nilai LC50 pada uji efektivitas pada kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni (L.) sebagai larvasida pada nyamuk Aedes aegypti. Metode: Nyamuk dibagi menjadi 6 kelompok yaitu, kelompok kontrol positif, konsentrasi 0,5%, 1%, 2%, 4% dan kontrol negatif. Hasil: Rendemen ekstrak kulit buah mahoni didaptakan sebesar 6,7%. Hasil ekstrak etanol buah mahoni memiliki aktivitas sebagai larvasida dari konsentrasi 2% dan 4% sudah memiliki efektivitas hampir setara dengan kontrol positif. Nilai LC50 menunjukkan kemampuan ekstrak etanol buah mahoni sebesar 0,244%. Kemudian data yang didapatkan lalu diuji menggunakan uji One Way ANOVA dan uji Post Hoc LSD (Least Significance Different) untuk mengetahui adanya perbedaan pada tiap konsentrasi. Simpulan: Ekstrak etanol kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L.) memiliki sifat sangat beracun dalam membunuh larva Aedes aegypti. Kata Kunci: Kulit Buah Mahoni; Larvasida; Aedes Aegypti; Metode Sokletasi.
Uji efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (swietenia mahagoni l.) terhadap bakteri salmonella thyphi Safitri, Mariska Mulya; Marcellia, Selvi; Tutik, Tutik
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.536

Abstract

Background:Typhoid fever is a disease that arises due to infection with pathogenic bacteria such as Salmonella typhi. The plant commonly used by the community to cure typhoid fever is by using mahogany fruit skin. Purpose: To identify the effectiveness of mahogany rind extract as an antibacterial against Salmonella typhi bacteria and determine the concentration of mahogany rind extract against Salmonella typhi bacteria. Methods: This study used the soxhlet extraction method with 96 percent ethanol as solvent. Results: The effectiveness obtained from the mahogany rind extract test (Swietenia mahagoni L) was 29.6 percent, the extraction result was 6.7 percent, the phytochemical screening results of the mahogany rind extract obtained flavonoid compounds, saponins, phenolics, tannins and alkaloids. The results of the effectiveness of mahogany skin extract (Switenia mahagoni L) was effective at a concentration of 10 percent with an inhibition zone of 8.5 mm which had a moderate inhibitory response. Conclusion: Ethanol extract of mahogany peel (Switenia mahagoni L) has properties that can inhibit the geowth of Salmonella typhi bacteria. Keywords: Effectiveness; Mahogany Fruit Peel Extract (Swietenia Mahagoni L.); Salmonella Typii. Pendahuluan: Demam tifoid adalah salah satu penyakit yang timbul akibat infeksi bakteri patogen seperti bakteri Salmonella typhi.tanaman yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk menyembuhkan demam tifoid yaitu dengan menggunakan kulit buah mahoni. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektivitas ekstrak kulit buah mahoni sebagai antibakteri pada bakteri Salmonella typhi dan menentukan konsentrasi ekstrak kulit buah mahoni terhadap bakteri Salmonella typhi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi sokletasi dengan pelarut etanol 96 persen. Hasil: Efektivitas yang diperoleh dari uji ekstrak kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L) yaitu 29,6 persen,Hasil ekstraksi diperoleh 6,7 persen, pada hasil skrining fitokimia ekstrak kulit buah mahoni diperoleh senyawa flavonoid, saponin, fenolik, tanin dan alkaloid. Hasil efektivitas ekstrak kulit buah mahoni (Switenia mahagoni L) sudah efektiv pada konsentrasi 10 persen dengan zona hambat 8,5 mm yang memiliki respon hambat sedang. Simpulan: Ekstrak etanol kulit buah mahoni (Swietenia mahagoni L) memiliki sifat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Kata Kunci: Efektivitas; Ekstrak Kulit Buah Mahoni (Swietenia Mahagoni L.); Salmonella Thypi.
Uji antkolesterol secara in-vito ekstrak metanol kulit bawang merah (Alium Cepa L.) dengan metode ekstraksi refluks dan sokletasi Oktarima, Mutiara; Tutik, Tutik; Primadiamanti, Annisa
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 4 No. 2 (2024): December Edition 2024
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v4i2.537

Abstract

Background: Cholesterol is an important molecule in humans, with excess and deficiency levels in the body can cause various diseases. One alternative treatment is to use shallot skin extract. Purpose: To determine whether there is activity to reduce cholesterol levels from the methanol extract of shallot skin (Allium cepa L.). Method: Research on the extraction method used by heating, namely soxhletation and reflux extraction. Phytochemical tests for the content of the methanol extract showed the presence of alkaloids, flavonoids, tannins and saponins. Result : The yield results from the soxhletation and reflux extraction methods that were carried out were 12.5% ​​and 14%. The UV-Vis spectrophotometer test using the Lieberman-Burchad method was used to determine the ability to reduce cholesterol levels. Conclusion: The methanol extract of shallot peel in this study can reduce cholesterol levels in vitro based on the results of the UV-Vis spectrophotometer of the methanol extract of shallot peel (Allium cepa L.) on cholesterol reduction which was shown to be 24.4% in the soxhletation method and 37.5%. % on reflux method. In this research, there was an obstacle, namely the error in using a standard cholesterol solution which resulted in a green complex reaction not being formed but instead a brown solution being formed. Keywords : Shallot Peel, Soxhletation, Reflux, UV-Vis Spectrophotometry, Anticholesterol Pendahuluan: Kolesterol merupakan suatu molekul penting pada manusia, dengan kelebihan dan kekurangan kadarnya dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit. Salah satu pengobatan alternatif yaitu dengan menggunakan ekstrak kulit bawang merah. Tujuan: Untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas penurunan kadar kolesterol dari ekstrak metanol kulit bawang merah (Allium cepa L.). Metode: Penelitian metode ekstraksi yang digunakan dengan cara pemanasan yaitu ekstraksi secara sokletasi dan refluks. Uji fitokimia kandungan ekstrak metanol menunjukan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan saponin. Hasil: Hasil rendemen dari metode ekstraksi sokletasi dan refluks yang telah dilakukan diperoleh 12,5% dan 14%. Uji spektrofotometer UV-Vis dengan metode Lieberman-burchad digunakan untuk menentukan kemampuan penurunan kadar kolesterol. Simpulan: Ekstrak metanol kulit bawang merah pada penelitian ini dapat menurunkan kadar kolesterol secara in vitro berdasarkan hasil spektrofometer UV-Vis ekstrak metanol kulit bawang merah (Allium cepa L.) terhadap penurunan kolesterol ditunjukan sebesar 24,4% pada metode sokletasi dan 37,5% pada metode refluks. Pada penelitian ini terdapat kendala yaitu kesalahan penggunaan larutan baku kolesterol yang mengakibatkan tidak terbentuk reaksi kompleks hijau melainkan terbentuk larutan coklat. Kata Kunci : Kulit Bawang Merah, Sokletasi, Refluks, Spektrofotometri UV-Vis, Antikolesterol
Analisis kandungan zat pewarna rhodamin b pada perona pipi Febriani, Anggun; Rahmallah, Huriyah Tsabitah
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2952

Abstract

Background: One of the essential needs of women is cosmetics. One of the most frequently used cosmetic products is blush. Blush comes in a variety of colors, with common colors ranging from pink to dark red. Therefore, it is suspected that there is still widespread misuse of dangerous red dyes such as Rhodamine B, especially in blushes not registered with the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM). Purpose: To determine the presence of Rhodamine B in blush samples not registered with BPOM. Method: This observational study used the Rhodamine B Rapid Test Kit and UV-Vis Spectrophotometry. The samples used in this study were four different brand names of blushes sold in Pringsewu Regency, not registered with BPOM. Results: Of the four blush samples (B1, B2, B3, and B4), one unregistered blush sample (B2) tested positive for Rhodamine B at a concentration of 0.023%. Conclusion: Rhodamin B is still found in unregistered BPOM blushes circulating in the Pringsewu Regency area.   Keywords: Blush; Rapid Test Kit; Rhodamine B; UV-Vis Spectrophotometry.   Pendahuluan: Salah satu kebutuhan penting bagi seorang wanita adalah kosmetik. Sediaan kosmetik yang sering digunakan oleh wanita yaitu salah satunya perona pipi. Kosmetik perona pipi umumnya memiliki warna yang beraneka ragam, salah satu warna yang umum dipasaran yaitu warna merah muda sampai merah tua, sehingga diduga masih banyak penyalahgunan zat pewarna merah berbahaya seperti Rhodamin B terutama pada perona pipi yang tidak terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Tujuan: untuk mengetahui apakah terdapat kandungan zat pewarna Rhodamin B pada sampel perona pipi yang tidak terdaftar BPOM. Metode: Penelitian ini dilakukan secara observasional dengan menggunakan metode pengujian dengan Rapid Test Kit Rhodamin B dan Spektrofotometri UV-Vis. Sampel dalam penelitian ini adalah perona pipi yang beredar di daerah Kabupaten Pringsewu yang berjumlah empat sampel perona pipi yang tidak terdaftar BPOM dengan merek berbeda. Hasil: Menunjukkan dari empat sampel perona pipi dengan kode (B1, B2, B3, B4) didapatkan satu sampel perona pipi tidak terdaftar BPOM dengan kode (B2) positif mengandung Rhodamin B dengan kadar sebesar 0.023%. Simpulan: terdapat Rhodamin B yang masih ditemukan pada perona pipi tidak terdaftar BPOM yang beredar di daerah Kabupaten Pringsewu.   Kata kunci:  Perona Pipi; Rapid Test Kit; Rhodamin B; Spektrofotometri UV-Vis.
Efektivitas konsumsi "iron-rich cookies" berbasis tepung biji kecipir dan modifikasi fermentasi serealia sebagai upaya penurunan prevalensi anemia defisiensi besi Nurvitasari, Rifzi Devi; Cahyaningrum, Descha Giatri; Dinata, Gallyndra Fatkhu
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2962

Abstract

Background: Iron deficiency anemia among adolescent girls is a reproductive health challenge that requires functional food interventions based on local wisdom. Purpose: To evaluate the effectiveness of a functional food intervention through the provision of "Iron-Rich Cookies" based on winged bean seeds (Psophocarpus tetragonolobus) on the hemoglobin (Hb) levels of female college students. Method: This study employed a quasi-experimental method with a pre-post test control group design involving 30 respondents randomly divided into intervention and control groups. The intervention product was processed using modified cereal fermentation to enhance mineral bioavailability. Results: The product contained 18.2 mg/100g of Iron (Fe), 16.5% protein, and 485.0 kcal of total energy. Modification through the fermentation process was proven effective in reducing phytic acid levels by 65%, reaching 145.2 mg, which optimized mineral bioavailability. Clinically, the intervention group showed a significant increase in Hb levels of 2.1 g/dL (p<0.001), compared to the control group which only increased by 0.2 g/dL. The product demonstrated high acceptability (score of 4.2) and a compliance rate of 96.7% with no reported gastrointestinal side effects. Conclusion: "Iron-Rich Cookies" are effective in significantly increasing hemoglobin levels. Utilizing the agricultural potential of winged bean seeds through the synergy of midwifery and food technology is highly recommended as an independent and sustainable preventive solution for anemia in adolescent girls.   Keyword: Anemia; Functional Food; Hemoglobin; Iron; Winged Bean.   Pendahuluan: Anemia defisiensi besi pada remaja putri merupakan tantangan kesehatan reproduksi yang memerlukan intervensi pangan fungsional berbasis kearifan lokal. Tujuan: Untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pangan fungsional melalui pemberian "Iron-Rich Cookies" berbasis biji kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) terhadap kadar hemoglobin (Hb) mahasiswi. Metode: Quasi-eksperimen dengan rancangan pre-post test control group design pada 30 responden yang dibagi secara acak ke dalam kelompok intervensi dan kontrol. Produk intervensi diolah dengan modifikasi fermentasi serealia untuk meningkatkan bioavailabilitas mineral. Hasil: Produk mengandung Fe sebesar 18,2 mg/100 g, protein 16,5%, dan energi total 485,0 kkal. Modifikasi melalui proses fermentasi terbukti efektif mereduksi kadar asam fitat sebesar 65% hingga mencapai 145,2 mg, yang mengoptimalkan bioavailabilitas mineral. Secara klinis, kelompok intervensi menunjukkan peningkatan kadar Hb yang signifikan sebesar 2,1 g/dL (p<0,001), dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya mengalami kenaikan 0,2 g/dL. Produk ini memiliki akseptabilitas tinggi (skor 4,2) dan tingkat kepatuhan 96,7% tanpa adanya laporan efek samping gastrointestinal. Simpulan: "Iron-Rich Cookies" efektif meningkatkan kadar hemoglobin secara signifikan. Pemanfaatan potensi agraris biji kecipir melalui sinergi kebidanan dan teknologi pangan ini layak direkomendasikan sebagai solusi preventif anemia yang mandiri dan berkelanjutan bagi remaja putri.   Kata Kunci; Anemia; Biji Kecipir; Hemoglobin; Pangan Fungsional; Zat Besi.
Hubungan pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2 Tyas, Iga Putris Ayuning; Rahmallah, Huriyah Tsabitah
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.2969

Abstract

Background: Drug information services have the benefit of improving patient compliance in rational medication use. Providing drug information services is crucial for improving patients' quality of life and providing quality healthcare. Quality of life and quality of healthcare can be reduced as a result of non-adherence to treatment programs. Purpose: To determine the relationship between drug information services and compliance in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: This analytical study used a quantitative approach. The population in this study were outpatients with type 2 diabetes mellitus at Az-Zahra Kalirejo General Hospital. The sampling technique used was purposive sampling, with a sample size of 81 patients. Data collection used a questionnaire. Analysis used parametric tests (Pearson correlation) to determine the relationship between variables. Results: 40 patients (49.4%) received adequate drug information services, 34 patients (42.0%) received moderate compliance, and a Pearson correlation value of 0.024 (p <0.05) was obtained. Conclusion: There is a relationship between drug information services and the level of compliance of type 2 diabetes mellitus patients.   Keywords: Compliance; Correlation; Diabetes Mellitus Type-2; Drug Information Services.   Pendahuluan: Pelayanan informasi obat memiliki salah satu manfaat yaitu meningkatkan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat yang rasional oleh pasien.  Pemberian pelayanan informasi obat sangat penting untuk meningkatkan standar kualitas hidup pada pasien dan memberikan layanan kesehatan berkualitas kepada pasien. Kualitas hidup dan layanan kesehatan berkualitas dapat mengalami penurun sebagai akibat dari ketidakpatuhan terhadap program pengobatan Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pelayanan informasi obat dengan kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2. Metode: Penelitian analitik dengan metode pendekatan kuantitatif. Populasi pada penelitian ini pasien diabetes melitus tipe-2 di rawat jalan Rumah Sakit Umum Az-Zahra Kalirejo. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 81 pasien. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis menggunakan uji parametrik (pearson corelation) untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil: Menunjukan bahwa pelayanan informasi obat yang diberikan dengan kategori cukup sebanyak 40 pasien (49.4%), tingkat kepatuhan tergolong sedang sebanyak 34 pasien (42.0%) dan didapatkan nilai korelasi pearson signifikansi sebesar 0.024 (p <0.05). Simpulan: Terdapat hubungan pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien diabetes melitus tipe-2.   Kata Kunci: Diabetes Melitus Tipe-2; Hubungan; Kepatuhan; Pelayanan Informasi Obat.
Pengetahuan perawatan hipertensi dan perilaku cerdik pada pasien hipertensi Kohir, Dedek Saiful; Izumi, Calvina Chyntia; Sulastri, Sulastri; Saraswati, Ni Putu Ayu Melianita
JOURNAL OF Pharmacy and Tropical Issues Vol. 5 No. 2 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/pti.v5i2.3097

Abstract

Background: Hypertension is a condition where systolic blood pressure exceeds 140 mmHg and/or diastolic blood pressure exceeds 90 mmHg, or if a person is undergoing treatment with antihypertensive medication to control their blood pressure. In 2024, at the Hajimena Community Health Center, hypertension was the second most common disease after influenza, with 4,845 cases of hypertension in the productive age group (15-59 years). Purpose: To determine the characteristics and their relationship with knowledge of hypertension treatment and intelligent behavior in hypertensive patients in Simbaringin Hamlet, within the Hajimena Community Health Center's working area, South Lampung Regency. Method: This was a descriptive study with a cross-sectional design. The study population, consisting of 56 hypertensive patients in Simbaringin Hamlet, was selected using a purposive sampling technique. Data collection was conducted on May 26-29, 2025. The research instruments used were the Hypertension Knowledge Level Scale (HK-LS) questionnaire and the CERDIK behavior questionnaire. Results: The analysis showed a significant relationship between age and knowledge and CERDIK behavior (p < 0.05), education and CERDIK behavior. Education and knowledge, gender, and occupation were not significantly related to knowledge and CERDIK behavior (p > 0.05). Conclusion: This study shows that the majority of hypertension patients in Simbaringin Hamlet, Hajimena Community Health Center, have a good level of knowledge about hypertension and demonstrate good CERDIK behavior. These results indicate that the health education provided has sufficiently reached a large portion of the community, and that hypertension patients are taking concrete action to prevent complications.   Keywords: CERDIK Behavior; Hypertension; Knowledge.   Pendahuluan : Hipertensi merupakan suatu kondisi ketika tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan/atau tekanan diastolic melebihi 90 mmHg, atau apabila seseorang sedang menjalani pengobatan dengan obat antihipertensi untuk mengontrol tekanan darahnya. Pada tahun 2024 di Puskesmas Hajimena penyakit hipertensi menjadi penyakit nomor 2 setelah influenza dengan kasus hipertensi sebanyak 4.845 jiwa dengan usia produktif (15-59 tahun) Tujuan:  Mengetahui karakteristik dan hubungannya dengan pengetahuan perawatan hipertensi dan perilaku cerdik pada pasien hipertensi di Dusun Simbaringin, wilayah kerja Puskesmas Hajimena, Kabupaten Lampung Selatan.. Metode: Penelitian deskriptif  dengan desain penelitian pendekatan cross-sectional. Populasi pada penelitian penderita hipertensi di Dusun Simbaringin  sebanyak 56 responden yang dipilih dengan menggunakan  teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada 26-29 Mei 2025. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Hypertension Knowledge Level Scale (HK-LS) dan kuesioner perilaku Cerdik Hasil:  Hasil analisis menunjukkan  ada hubungan yang bermakna antara umur dengan penegetahuan dan perilaku cerdik (p < 0,05), Pendidikan dengan perilaku cerdik, semantara Pendidikan dengan pengetahuan, Jenis kelamin dan pekerjaan tidak berhubungan secara signifikan  dengan  dengan penegetahuan dan perilaku cerdik (p > 0,05. Simpulan: Penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar pasien hipertensi di Dusun Simbaringin, Puskesmas Hajimena memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai hipertensi dan memiliki  perilaku CERDIK yang baik. Hasil ini menggambarkan bahwa edukasi kesehatan yang diberikan telah cukup menjangkau sebagian besar masyarakat dan terdapat tindakan nyata dari pasien hipertensi untuk mencegah terjadinya komplikasi.   Kata Kunci: Hipertensi; Pengetahuan; Perilaku CERDI.