cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Analisis indeks entomologi dan ovitrap yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD) Mujiarto, Eko; Nurjazuli, Nurjazuli; Martini, Martini
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.734

Abstract

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the Dengue virus which is transmitted from one person to another through the bite of the Aedes aegypti mosquito. Data from the Gunungkidul Regency Health Office in 2024, the working area of ​​the Health Center with the highest DHF cases was in the Paliyan area with 385 cases and the highest cases were in Karangasem Village with 223 cases, while Mengger Hamlet was the hamlet with the highest cases from January-July with 55 DHF cases. Purpose: To analyze the relationship between entomological and ovitrap indices with the incidence of dengue fever. Method: A quantitative observational study with a case-control design to analyze entomological factors and ovitrap indices on the incidence of dengue fever in the Mangger area, Karangasem Village, Paliyan District, Gunungkidul Regency, Special Region of Yogyakarta in January-August 2024. The sampling technique used random sampling with a total of 100 participants divided into 2 groups, namely the case group with sample criteria diagnosed with dengue fever and the control group with inclusion criteria of never having suffered from dengue fever. Results: HI 20.2% of the case group had the criteria for a medium-risk area for dengue fever transmission, while the control area HI 9.5% had a medium risk. CI 10% of the case group had the criteria for a medium-risk area for dengue fever transmission, while CI 7.8% of the control group had a medium risk. BI 57.4% of the case group had the criteria for a high-risk area for dengue fever transmission, while BI 42.6% of the control group had a medium risk. ABJ 79.8% of the case group and ABJ 90.5% of the control area, both below the national ABJ target set at <95%. The ovitrap index in the case group was higher, namely 96.0% outside the home and 96.0% inside the home, while the control group was lower, namely 18.0% inside the home and 12.0% outside the home. Conclusion: Analysis of entomological indicators, namely HI, CI, AJB in the case group area in the moderate category and BI in the high category, while in the control group area HI, CI, AJB in the low category and BI in the moderate category. There is a relationship between the installation of ovitrap and the incidence of DHF. Suggestion: Further research can be conducted on other entomological factors. In addition, it is necessary to periodically monitor and evaluate the presence of larvae, increase health promotion about DHF prevention and community participation in implementing PSN efforts for prevention as early as possible.   Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF); Entomology Index; Ovitrap Index.   Pendahuluan: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari seorang kepada orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2024, wilayah kerja Puskesmas dengan kasus tertinggi DBD berada di daerah Paliyan sebanyak 385 kasus dan ditemukan kasus tertinggi di Kelurahan Karangasem sebanyak 223, sedangkan Padukuhan Mengger merupakan padukuhan dengan kasus tertinggi dari bulan januari-Juli sebanyak 55 kasus DBD. Tujuan: Untuk menganalisis indeks entomologi dan ovitrap yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue. Metode: Penelitian kuantitatif metode observasional menggunakan desain case-control untuk menganalisis factor entomologi dan ovitrap indeks terhadap kejadian DBD di Padukuhan Mangger Kelurahan Karangasem Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul D.I Yogyakarta pada Januari-Agustus 2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dengan jumlah sebanyak 100 partisipan yang terbagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok kasus dengan kriteria sampel terdiagnosa DBD dan kelompok kontrol dengan kriteria inklusi tidak pernah menderita DBD. Hasil:  HI 20.2% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko sedang terhadap penularan DBD, sedangkan daerah kontrol HI 9.5% mempunyai risiko sedang. CI 10% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko sedang terhadap penularan DBD, sedangkan CI 7.8% kelompok kontrol mempunyai risiko sedang. BI 57.4% kelompok kasus memiliki kriteria daerah risiko tinggi terhadap penularan DBD, sedangkan BI 42.6% kelompok kontrol mempunyai risiko sedang. ABJ 79.8% kelompok kasus dan ABJ 90.5% daerah control, keduanya dibawah target ABJ nasional yang ditetapkan yaitu <95%. Ovitrap indeks pada kelompok kasus lebih tinggi 96.0% di luar rumah dan 96.0% di dalam rumah, sedangkan kelompok kontrol lebih rendah 18.0% di dalam rumah dan 12.0% di luar rumah. Simpulan:  Analisis indikator entomologi yaitu HI, CI, AJB daerah kelompok kasus dalam kategori sedang dan BI kategori tinggi, sedangkan pada daerah kelompok kontrol HI, CI, AJB kategori rendah dan BI kategori sedang. Terdapat hubungan antara pemasangan ovitrap dengan kejadian DBD. Saran: Penelitian lanjutan dapat dilakukan mengenai faktor entomologi lainnya. Selain itu, perlu dilakukan monitoring dan evaluasi keberadaan larva secara berkala, meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan DBD dan peran masyarakat dalam melakukan upaya PSN untuk pencegahan sedini mungkin.   Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue (DBD); Indeks Entomologi; Ovitrap Indeks.
Determinan job insecurity sumber daya manusia unit rekam medis di RSUD Masohi Latumapina, Stella Florence Imanuela; Hosizah, Hosizah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.735

Abstract

Background: Job Insecurity is a condition when employees feel threatened by their jobs and are powerless to do anything about the situation. Related to job insecurity, companies need to create a safe and comfortable work environment for their employees. Therefore, job insecurity must be immediately fixed by every company by reducing unsafe conditions. Purpose: To determine the determinants of job insecurity of human resources in the medical records unit. Method: Quantitative research with cross-sectional design. The population of the study was 29 employees of the medical record unit of Masohi Regional Hospital and data collection used multinomial logistic regression. Results: Most respondents experienced moderate job insecurity as much as 79.3%. The partial effect between age and job insecurity obtained a p value of 0.578, length of service with a p value of 0.333, education level with a p value of 0.010, and employment status with a p value of 0.00. Conclusion: The variables of education and employment status have a significant influence on job insecurity with a p value for the education variable of 0.010 and employment status of 0.007 (<0.05). Suggestion: Further research can consider additional variables such as working conditions, relationships between employees, and organizational culture in research on job insecurity.    Keywords: Job Insecurity; Human Resources; Medical Records Unit   Pendahuluan: Job Insecurity merupakan suatu keadaan ketika para karyawan merasa terancam oleh pekerjaannya dan tidak berdaya untuk melakukan apapun pada keadaan tersebut. Dalam hal job insecurity, perusahaan perlu untuk membuat sebuah lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi karyawannya. Oleh karena itu, job insecurity harus dapat ditingkatkan oleh setiap perusahaan dengan cara mengurangi kondisi yang tidak aman. Tujuan: Untuk mengetahui determinan job insecurity sumber daya manusia unit rekam medis. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah 29 pegawai unit rekam medis di RSUD Masohi dan pengumpulan data menggunakan regresi logistik multinomial. Hasil: Sebagian besar responden mengalami job insecurity sedang sebanyak 79.3%. Pengaruh secara parsial antara usia terhadap job insecurity diperoleh p-value 0.578, masa kerja terhadap job insecurity p-value 0.333, pendidikan terhadap job insecurity p-value 0.010, dan status kepegawaian terhadap job insecurity p-value 0.00. Simpulan: Variabel pendidikan dan status kepegawaian memiliki pengaruh signifikan terhadap job insecurity dengan p-value pendidikan sebesar 0.010 dan status kepegawaian sebesar 0.007 (<0.05). Saran: Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan variabel tambahan, seperti kondisi kerja, hubungan antar pegawai, dan budaya organisasi dalam studi job insecurity.   Kata Kunci: Job Insecurity; Sumber Daya Manusia; Unit Rekam Medis.
Kearifan lokal dalam upaya pencegahan kejadian stunting: Telaah sistematis Wildia, Wildia; Rahmadiyah, Dwi Cahya; Wiarsih, Wiwin; Permatasari, Henny
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.763

Abstract

Background: Improving nutrition in communities with diverse cultures can be done in various ways, namely understanding the community's cultural beliefs regarding food and health, recognizing food consumption practices that contribute to cultural identity, recognizing the nutritional types of certain ethnic foods and strengthening positive ethnic nutrition. Purpose: To determine the influence of the application of local wisdom in efforts to prevent stunting. Method: This study is a systematic review with a literature search using 4 databases, namely Pubmed, Proquest, ScienceDirect and Scopus. Based on systematic identification and review, 8 research articles were obtained, including 3 Randomized Controlled Trials (RCT) articles, 2 Quasi-experimental articles, 1 case control article, 1 cohort prospective study article and 1 cross sectional article. The studies were reviewed and assessed for risk of bias using the Joanna Briggs Institute (JBI) form. Results: Interventions based on local wisdom can improve nutrition in children and prevent stunting. The approach used using local wisdom increases access to protein sources for families, empowering women in making decisions regarding child nutrition. In many cultures, women are the main decision makers regarding family food and health, so empowering women can change food consumption patterns in the household. Providing nutrition promotions and providing interventions through short messages using local languages ​​can also provide positive results in the problem of stunting. Conclusion: Local wisdom has great potential in handling stunting through nutritional knowledge, sustainable agricultural practices, women's empowerment and providing health promotion based on local languages. Suggestion: Stunting prevention through local wisdom approach can be done by empowering women, both through training and decision making. Prevention of stunting problems should be done with culture-based interventions to change the stigma of society.   Keywords: Local Wisdom; Nutrition; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Peningkatan gizi pada komunitas dengan budaya yang beragam dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu memahami keyakinan budaya komunitas tersebut terkait makanan dan kesehatan, mengenali praktik konsumsi makanan yang berkontribusi terhadap identitas budaya, mengenali jenis gizi makanan etnis tertentu serta memperkuat nutrisi etnis yang positif. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh penerapan kearifan lokal dalam upaya pencegahan kejadian stunting. Metode: Penelitian telaah sistematis dengan pencarian literatur menggunakan 4 database, yaitu Pubmed, Proquest, ScienceDirect, dan Scopus. Berdasarkan identifikasi dan penelaahan sistematis didapatkan 8 artikel yang meliputi: 3 artikel Randomized Controlled Trials (RCT), 2 artikel Quasi-eksperimental, 1 artikel case control, 1 artikel cohort prospektif study, dan 1 artikel cross sectional. Studi ditelaah dan dinilai risiko biasnya menggunakan formulir Joanna Briggs Institute (JBI). Hasil: Intervensi berbasis kearifan lokal dapat meningkatkan nutrisi pada anak dan mencegah kejadian stunting. Selain itu, meningkatkan akses terhadap sumber protein bagi keluarga dan memberdayakan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait gizi anak. Dalam banyak budaya, perempuan adalah pengambilan keputusan utama terkait makanan dan kesehatan keluarga, maka dengan pemberdayaan perempuan dapat mengubah pola konsumsi makanan di rumah tangga. Pemberian promosi nutrisi dan pemberian intervensi melalui pesan singkat dengan menggunakan bahasa lokal juga dapat memberikan hasil yang positif dalam menurunkan permasalahan stunting. Simpulan: Kearifan lokal memiliki potensi besar dalam penanganan stunting melalui pengetahuan gizi, praktik pertanian berkelanjutan, pemberdayaan perempuan serta pemberian promosi kesehatan berdasarkan bahasa lokal. Saran: Pencegahan stunting melalui pendekatan kearifan lokal dapat dilakukan dengan pemberdayaan perempuan, baik melalui pelatihan maupun pengambilan keputusan. Sebaiknya pencegahan masalah stunting dilakukan dengan intervensi yang berbasis budaya untuk mengubah stigma masyarakat.   Kata Kunci: Balita; Kearifan Lokal; Nutrisi; Stunting.
Efektivitas virtual reality (VR) terhadap kecemasan, depresi, dan nyeri pada pasien yang menjalankan hemodialisa: A systematic review Wahyuni, Azriwi; Yetti, Krisna; Yulia, Yulia; Waluyo, Agung
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.764

Abstract

Background: Chronic kidney disease is one of the leading causes of mortality in the 21st century. Hemodialysis is a life-saving treatment for patients with end-stage renal disease; however, the procedure can cause pain, discomfort, anxiety, and depression, ultimately leading to a lower quality of life. Purpose: To examine the effects of virtual reality on anxiety, depression, and pain in patients undergoing hemodialysis. Method: Systematic review with randomized controlled trial (RCT) design. Articles were searched using 5 databases, namely Pubmed, Sage Journal, Springerlink, Proquest, and ScienceDirect published from January 2014 to December 2024. Results: Shows that there are 6 articles that meet the criteria and most of the studies reported that virtual reality interventions are effective in reducing levels of anxiety, depression, and pain in patients undergoing hemodialysis. Conclusion: Virtual reality interventions can be considered as adjunctive or alternative therapy to reduce anxiety, depression, and pain in patients undergoing hemodialysis.   Keywords: Anxiety; Depression; Hemodialysis; Pain; Virtual Reality.   Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis merupakan salah satu penyebab kematian paling banyak di abad ke-21 ini. Hemodialisis adalah pengobatan yang dapat menyelamatkan jiwa bagi penderita penyakit ginjal stadium akhir, meskipun begitu, proses ini dapat menyebabkan rasa nyeri dan ketidaknyamanan,cemas dan depresi, sehingga mengakibatkan kualitas hidup menjadi lebih rendah. Tujuan: Untuk mengetahui efek virtual reality (VR) terhadap kecemasan, depresi dan nyeri pada pasien yang menjalankan hemodialisa. Metode: Systematic review dengan desain randomized controlled trial (RCT). Pencarian artikel menggunakan 5 database yaitu Pubmed, Sage Journal, Springerlink, Proquest, dan ScienceDirect yang terbit dari Januari 2014 hingga Desember 2024. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat 6 artikel yang memenuhi kriteria dan sebagian besar studi melaporkan bahwa, intervensi virtual reality efektif dalam menurunkan tingkat cemas, depresi, dan nyeri pada pasien yang menjalankan hemodialisa. Simpulan: Intervensi VR dapat dijadikan terapi pendamping atau pengganti untuk menurunkan tingkat kecemasan, depresi, dan nyeri pada pasien yang menjalankan hemodialisis.   Kata Kunci: Depresi; Hemodialisis; Kecemasan; Nyeri; Virtual Reality.
Management oral care mengatasi mucositis pada pasien kanker yang menjalani terapi kemo dan radiasi: A systematic review Siregar, Ngolu; Putri, Yosie Susanti Eka; Nuraini, Tuti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.765

Abstract

Background: Oral mucositis (OM) is a common and highly symptomatic complication of cancer therapy that affects the quality of life function. Chemotherapy and radiation are the most widely used interventions in cancer treatment. The prevalence of oral mucositis side effects among 294 head and neck cancer patients was 93.9%. Purpose: To analyze oral care management to overcome mucositis in cancer patients undergoing chemotherapy and radiation therapy. Method: Literature review study using Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines and PICOS approach, P: cancer patients undergoing chemotherapy and radiation, I: oral care management, C: no specific treatment or other standard care, O: reducing severity and accelerating healing, S: randomized controlled trial (RCT). Literature search using keywords “management” AND "oral mucositis" OR “stomatitis” OR “oromucositis” OR “oromucositides” AND "cancer", “management” AND “mucositis” OR “oral mucositis” OR “mucosa inflammation” OR “stomatitis” AND “cancer treatment”. Results: Various methods have been used to treat oral mucositis in cancer patients undergoing chemotherapy and radiation. Although there are differences in the timing, method, and frequency of mouthwash use, most of the literature shows that mouthwash is effective in reducing oral mucositis in patients. Conclusion: Management of oral mucositis can be done to treat and prevent oral mucositis in cancer patients currently receiving chemo and radiation therapy.   Keywords: Cancer; Chemotherapy; Mucositis Oral; Radiotherapy.   Pendahuluan: Oral mucositis (OM) merupakan komplikasi umum dan sangat simtomatik dari terapi kanker yang memengaruhi fungsi kualitas hidup. Kemoterapi dan radiasi adalah intervensi paling banyak digunakan dalam pengobatan kanker. Prevalensi efek samping mukositis oral diantara 294 pasien kanker kepala dan leher adalah 93.9%. Tujuan: Untuk menganalisis management oral care mengatasi mucositis pada pasien kanker yang menjalani terapi kemo dan radiasi. Metode: Penelitian literature review menggunakan panduan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) dan pendekatan PICOS, P: pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan radiasi, I: manajemen perawatan oral, C: tidak ada perawatan khusus atau perawatan standar lainnya, O: mengurangi keparahan dan mempercepat penyembuhan, S: randomized control trial (RCT). Pencarian literatur menggunakan kata kunci “management” AND "oral mucositis" OR “stomatitis” OR “oromucositis” OR “oromucositides” AND "cancer", “management” AND “mucositis” OR “oral mucositis” OR “mucosa inflammation” OR “stomatitis” AND “cancer treatment”. Hasil: Berbagai metode telah digunakan untuk mengatasi mukositis oral pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan radiasi. Meskipun terdapat perbedaan dalam waktu, cara, dan frekuensi penggunaan obat kumur, sebagian besar literatur menunjukkan bahwa obat kumur efektif dalam mengurangi mukositis oral pada pasien. Simpulan: Manajemen penanganan mukositis oral dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah mukositis oral pada pasien kanker yang menjalani terapi kemo dan radiasi.   Kata Kunci: Kanker; Mukosisitis Oral; Radiasi; Terapi Kemo.
Effectiveness of discharge planning in reducing readmissions in children with chronic diseases: A systematic review Wati, Alfah Ratna; Huda, Mega Hasanul; Waluyanti, Fajar Tri; Nurhaeni, Nani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.767

Abstract

Background: Discharge planning is an important process to ensure continuity of care after discharge from the hospital. This process helps reduce readmission rates, especially in children with chronic illnesses. Discharge planning can be a strategic approach to preventing readmissions by ensuring a smooth transition of care from the hospital to home. Purpose: To determine the effect of discharge planning in reducing readmissions in children with chronic diseases. Method: This study uses a systematic review approach with reference to the PRISMA guidelines. The articles analyzed came from the PubMed, SAGE, and ScienceDirect databases with a Randomized Controlled Trial (RCT) research design. A total of 4 (four) articles were selected based on inclusion criteria, discharge planning topics, focus on children with chronic diseases, and publications in the last 5 (five) years (2020-2024). Results: Comprehensive discharge planning significantly reduces readmission rates in children with chronic illness. Findings include that structured family education improves parental readiness to care for children and that social factors, such as parental literacy and household resource availability, influence discharge planning success. Case management provides superior outcomes in reducing readmission rates and improving patient quality of life. An as-needed follow-up approach is highly efficacious without compromising intervention effectiveness. Conclusion: Discharge planning is an effective intervention in reducing readmission rates and improving the quality of home care for children with chronic illness. Successful implementation requires integrated family education, social support, and case management. Adapting the intervention to account for social and cultural factors is also important to improve success across contexts.   Keyword: Children With Chronic Illness; Discharge Planning; Readmission.   Pendahuluan: Discharge planning adalah proses penting untuk memastikan kelanjutan perawatan pasien setelah keluar dari rumah sakit. Proses ini membantu mengurangi angka readmisi, terutama pada anak dengan penyakit kronis. Discharge planning dapat menjadi pendekatan strategis untuk mencegah readmisi dengan memastikan transisi perawatan yang lancar dari rumah sakit ke rumah. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas discharge planning dalam mengurangi readmisi pada anak dengan penyakit kronis. Metode: Penelitian systematic review mengacu pada panduan PRISMA. Artikel yang dianalisis berasal dari database PubMed, SAGE, dan ScienceDirect dengan desain penelitian Randomized Controlled Trial (RCT). Sebanyak 4 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi, topik discharge planning, fokus pada anak dengan penyakit kronis, dan publikasi dalam 5 tahun terakhir (2020-2024). Hasil: Discharge planning yang komprehensif secara signifikan menurunkan angka readmisi pada anak dengan penyakit kronis. Temuan mencakup edukasi keluarga terstruktur meningkatkan kesiapan orang tua dalam merawat anak dan faktor sosial, seperti literasi orang tua dan ketersediaan sumber daya rumah tangga memengaruhi keberhasilan discharge planning. Manajemen kasus memberikan hasil superior dalam menurunkan angka rawat inap ulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pendekatan follow-up berbasis kebutuhan (as-needed) memiliki efisiensi tinggi tanpa mengurangi efektivitas intervensi. Simpulan: Discharge planning efektif dalam mengurangi angka readmisi dan meningkatkan kualitas perawatan di rumah bagi anak dengan penyakit kronis. Keberhasilan intervensi ini membutuhkan edukasi keluarga, dukungan sosial, dan manajemen kasus yang terintegrasi. Penyesuaian intervensi dengan mempertimbangkan faktor sosial dan kultural juga penting untuk meningkatkan keberhasilan di berbagai konteks.   Kata Kunci: Anak-Anak dengan Penyakit Kronis; Readmisi; Rencana Pemulangan Pasien.
Penerapan terapi okupasi ecoprint terhadap penurunan frekuensi halusinasi pendengaran Mahendra, Mesha; Oktaviana, Wita; Sriyanto, Heru
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.770

Abstract

Background: Schizophrenia is one of the cases often found in Indonesia, one of the symptoms is hallucinations. Hallucinations are sensory perception disorders experienced by sufferers such as feeling unreal sensations. One therapy that can be done on individuals who experience hallucinations is occupational therapy with ecoprint batik media. Purpose: To determine the impact of the application of ecoprint therapy on reducing the frequency of auditory hallucinations. Method: A pre-experimental design with a before-after study approach. This study involved 6 respondents who met the inclusion criteria, namely patients who were hospitalized for at least 3 days in the sub-acute room, experienced auditory hallucinations and were cooperative. The intervention given was in the form of eco-print batik-making activities. Results: Based on demographic data, it is known that the patients are aged between 28-67 years and all are male. All patients are Muslim and most of them have elementary and high school education. From the total sample, 3 patients are married and 3 patients are single. The patients' occupations vary, including farmers, laborers, students, and some are unemployed. Paired sample test analysis obtained an average frequency of pre-test hallucinations of 33.33, while in the post-test 24.00, the average difference is 9.3 and the confidence level ranges from 7,496-11,171. The p-value obtained shows a significance value of 0.00 (<0.05). Conclusion: Ecoprint therapy is effective in reducing the signs and symptoms of hallucinations in patients with auditory hallucinations.   Keywords: Auditory Hallucinations; Cognitive; Ecoprint; Occupational Therapy; Schizophrenia.   Pendahuluan: Skizofrenia merupakan kasus yang banyak ditemukan di Indonesia, salah satu gejalanya yaitu halusinasi. Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori, dimana penderitanya merasakan sensasi yang tidak nyata. Salah satu terapi yang dapat dilakukan pada individu yang mengalami halusinasi adalah terapi okupasi dengan media batik ecoprint. Tujuan: Untuk mengetahui dampak dari penerapan terapi ecoprint terhadap penurunan frekuensi halusinasi pendengaran. Metode: Desain pre-eksperimental dengan pendekatan before-after study. Penelitian ini melibatkan 6 responden yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang dirawat inap minimal 3 hari di ruang subacute, mengalami halusinasi pendengaran, dan bersikap kooperatif. Intervensi yang diberikan berupa kegiatan membuat batik ecoprint. Hasil: Berdasarkan data demografi, diketahui bahwa pasien berusia antara 28-67 tahun dan seluruhnya adalah laki-laki. Semua pasien memeluk agama Islam dan sebagian besar memiliki pendidikan terakhir di tingkat SD dan SMA. Dari total sampel, 3 pasien berstatus menikah dan 3 pasien lajang. Pekerjaannya bervariasi, termasuk sebagai petani, buruh, pelajar, dan ada yang tidak bekerja. Analisis paired sample test didapatkan rata-rata frekuensi halusinasi pre-test adalah 33.33, sedangkan pada post-test 24.00, selisih rata-rata sebesar 9.3 dan tingkat kepercayaan berkisar antara 7.496-11.171. Perolehan p-value menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.00 (<0.05). Simpulan: Terapi ecoprint efektif dalam mengurangi tanda dan gejala halusinasi pada pasien halusinasi pendengaran.   Kata Kunci: Ecoprint; Halusinasi Pendengaran; Skizofrenia; Terapi Okupasi.
Dampak terapi handicraft ‘meronce’ terhadap penurunan frekuensi halusinasi pendengaran Alfianti, Ade Leta; Pratiwi, Arum
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.771

Abstract

Background: Hallucinations are a typical symptom of schizophrenia characterized by impaired sensory perception, so that sufferers will feel unreal sensations. One therapy to reduce the frequency of hallucinations is distraction by doing handicraft stringing activities, namely handicraft activities carried out by stringing or arranging materials, such as beads, seeds, or other materials using rope or thread. Purpose: To determine the effect of handicraft stringing therapy on reducing the frequency of auditory hallucinations. Method: Pre-experimental research with a before-after study design, the number of samples used was 5 patients selected through observation and interviews. The sample inclusion criteria were aged 20-59 years, hospitalized for at least 3 days in the sub-acute room, and experiencing auditory hallucinations and being cooperative. Patients were given therapy in the form of making meronce handicrafts for 3 days in 1 week with a duration of 30 minutes. Results: All patients were male, Muslim, the patient's education was elementary school to high school graduates, 3 patients were married, and 2 patients were single and worked as farmers, laborers, students, and unemployed. Paired sample test analysis, the average frequency of pre-test hallucinations was 31.60 and post-test was 23.00 with an average difference of 8.6 and a confidence level between 6.717-10.483. Conclusion: Handicraft bead therapy applied to patients with auditory hallucinations effectively helps reduce the frequency and control the recurrence of hallucinations.   Keywords: Craft Therapy; Hallucination; Hearing; Stringing; Schizophrenia.   Pendahuluan: Halusinasi adalah gejala khas skizofrenia yang ditandai dengan gangguan persepsi sensori, sehingga penderita akan merasakan sensasi yang tidak nyata. Salah satu terapi untuk menurunkan frekuensi halusinasi adalah distraksi dengan cara melakukan kegiatan handicraft meronce, yaitu kegiatan kerajinan tangan yang dilakukan dengan menyusun atau merangkai bahan-bahan, seperti manik-manik, biji-bijian, atau bahan lainnya menggunakan seutas tali atau benang. Tujuan: Untuk mengetahui dampak terapi handicraf meronce terhadap penurunan frekuensi halusinasi pendengaran. Metode: Penelitian pre-experimental dengan desain before-after study, jumlah sampel yang digunakan sebanyak 5 pasien dipilih melalui observasi dan wawancara. Kriteria inklusi sampel yaitu berusia 20-59 tahun, menjalani rawat inap minimal 3 hari di ruang subacute, dan mengalami halusinasi pendengaran dan kooperatif. Pasien diberikan terapi berupa membuat kerajinan tangan meronce selama 3 hari dalam 1 minggu dengan durasi 30 menit. Hasil: Seluruh pasien berjenis kelamin laki-laki, beragama islam, pendidikan pasien tamatan SD hingga SMA,  3 pasien berstatus menikah, dan 2 pasien lajang serta bekerja sebagai petani, buruh, pelajar dan tidak bekerja. Analisis paired sample test, rata-rata frekuensi halusinasi pre-test adalah 31.60 dan post-test adalah 23.00 dengan selisih rata-rata sebesar 8.6 dan tingkat kepercayaan antara 6.717-10.483. Simpulan: Terapi handicraft meronce yang diterapkan pada pasien dengan halusinasi pendengaran secara efektif membantu menurunkan frekuensi dan mengendalikan kekambuhan halusinasi.   Kata Kunci: Halusinasi; Meronce; Pendengaran; Skizofrenia; Terapi Handicraft.
Occupational health (job dissatisfaction and work life balanced) impacted to poor sleep quality in nurse Prasetyono, Juli Dwi; Permatasari, Henny; Setiawan, Agus; Mulyono, Sigit; Susanto, Tantut; Mansyur, Muchtaruddin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.659

Abstract

Background: Nurses constitute the largest proportion of healthcare human resources globally, accounting for 59% of all healthcare professionals worldwide. Poor sleep quality among nurses can lead to decreased performance, lack of concentration, physical and mental health issues, and a reduced quality of life. Purpose: To determine the impact of occupational health (job dissatisfaction and work-life balance) on poor sleep quality in nurses. Method: This study employed a quantitative cross-sectional design with purposive sampling. A total of 38 respondents participated in the study. The research instruments included Microsoft Forms, utilizing the Work-Life Balance (WLB) questionnaire and the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality. Results: A total of 92.1% of nurses experienced poor sleep quality, 57.9% WLB was unbalanced, and 76.3% were dissatisfied with their jobs. The results of the bivariate analysis using the chi-square test showed that the p value of WLB was 0.651 and job satisfaction was 0.015*. This indicates that WLB is not related to sleep quality in nurses, while job satisfaction is related to sleep quality in nurses. Conclusion: There is a significant relationship between nurses' sleep quality and job satisfaction, but no association with WLB. Suggestion: Strengthening job satisfaction among nurses should be carried out extensively through strategies such as mindfulness-based stress reduction interventions. These efforts aim to enhance job satisfaction and workplace resilience, enabling nurses to provide optimal patient care in healthcare settings.   Keywords: Job Satisfaction; Nurses; Occupational Health; Sleep Quality; Work-Life Balance.   Pendahuluan: Perawat merupakan sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan yang paling banyak secara global sebesar 59% dari seluruh profesi kesehatan di dunia. Kualitas tidur yang buruk pada perawat dapat menyebabkan kinerja berkurang, tidak konsentrasi, gangguan kesehatan baik fisik, dan mental serta menurunkan kualitas hidup. Tujuan: Untuk mengetahui dampak kesehatan kerja (ketidakpuasan kerja dan keseimbangan kehidupan kerja) terhadap kualitas tidur yang buruk pada perawat. Metode: Penelitian kuantitatif desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Sampel pada penelitian sebanyak 38 responden. Instrumen penelitian menggunakan Microsoft form dengan kuesioner Work-Life Balance (WLB) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk mengukur kualitas tidur. Hasil: Sebanyak 92.1% perawat mengalami kualitas tidur yang buruk, WLB tidak seimbang 57.9%, dan tidak puas terhadap pekerjaannya sebanyak 76.3%. Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi-square, menunjukkan bahwa p-value WLB sebesar 0.651 dan kepuasan kerja 0.015*. Hal ini menunjukkan bahwa WLB tidak berhubungan dengan kualitas tidur pada perawat, sedangkan kepuasan kerja berhubungan dengan kualitas tidur pada perawat. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur perawat dengan kepuasan kerja, tetapi tidak ada hubungan dengan WLB. Saran: Penguatan kepuasan kerja yang diberikan kepada perawat perlu dilakukan secara massif melalui strategi, seperti intervensi mindfulness-based stress reduction program. Hal ini sebagai upaya meningkatkan kepuasan kerja pada perawat dan penguatan resiliensi di tempat kerja agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal pasien di pelayanan kesehatan.    Kata Kunci: Kepuasan Kerja; Kesehatan Kerja; Kualitas Tidur; Perawat; Work-Life Balance.
Hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan Listina, Febria; Maritasari, Dwi Yulia; Aziza, Nurul; Rukmana, Nova Mega; Agata, Annisa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 1 (2025): Volume 19 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i1.736

Abstract

Background: Stunting is a condition in which toddlers have a length or height that is less when compared to age. The factor of bad parenting in the family is one of the causes of nutritional problems. A preliminary study conducted by researchers at the Sumber Arum village obtained data have a stunting toddler with a total of 41 children under five from the target number of 0-5 years as many as 267 and designated as 10 areas with locus stunting. Purpose: To relationship of parenting with the incidence of stunting in children aged 24-59 months. Method: Analytical research with a cross-sectional approach. The population in this study were toddlers aged 24-59 months totaling 108 people with a sampling technique using the Slovin formula. The sample in this study amounted to 85 respondents. Data analysis used univariate and bivariate chi square tests. Results: The relationship analysis using the chi square test, obtained a p-value of 0.000 (p<0.05), which means that there is a significant relationship between maternal parenting patterns and the incidence of stunting in Sumber Arum Village, Kotabumi I Health Center Working Area in 2023 and obtained OR amounting to 0.066 (95% CI 0.023-0.192) indicating that toddlers who receive parenting are 0.066 times the determining factor in the occurrence of stunting. Conclusion: There is a relationship between maternal parenting patterns and the incidence of stunting in children aged 24-59 months, indicated by the results of p-value = 0.000 and OR = 0.066. Suggestion: Further research can add to the experience and insight of science about stunting. In addition, it can use the same variables, but the respondent groups and characteristics are different.   Keywords: Parenting; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting adalah kondisi ketika balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan balita seumurannya. Faktor pola asuh yang tidak baik dalam keluarga merupakan salah satu penyebab timbulnya permasalahan gizi. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Desa Sumber Arum diperoleh data memiliki balita stunting dengan jumlah 41 balita dari jumlah sasaran anak usia 0-5 tahun sebanyak 267 dan ditetapkan sebagai 10 daerah dengan locus stunting. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan. Metode: Penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 108 balita berusia 24-59 bulan dengan teknik sampel menggunakan rumus slovin. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 85 responden. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat uji chi square. Hasil: Analisis menggunakan uji chi square diperoleh p-value sebesar 0.000 (p<0.05), berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting dan diperoleh OR sebesar 0.066 (95% CI 0.023-0.192) menunjukkan balita yang mendapat pengasuhan, 0.066 kali lipat dari faktor penentu terjadinya stunting. Simpulan: Ada hubungan pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan, ditunjukkan dengan hasil p-value =0.000 dan OR =0.066. Saran: Penelitian selanjutnya dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan tentang stunting. Selain itu, dapat menggunakan variabel yang sama, tetapi kelompok responden dan karakteristik yang berbeda.   Kata Kunci: Balita; Pola Asuh; Stunting.

Page 6 of 33 | Total Record : 329