cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No.27 Kemiling Bandar Lampung -Indonesia.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : https://doi.org/10.33024/hjk.v18i10
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal terbit setiap bulan dan artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 329 Documents
Penerapan evidence-based practice aktivitas jalan kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada diabetisi Nurhayani, Yani; Sofiani, Yani; Yunitri, Ninik
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1708

Abstract

Background: The prevalence of diabetes mellitus (DM) increases annually. Uncontrolled blood sugar levels can lead to various complications. DM management is known to be based on five pillars: diet, pharmacological treatment, physical activity, education, and blood sugar monitoring. One of the pillars of effective type 2 DM management is physical activity. Recommended physical activities include gymnastics, leisurely cycling, jogging, swimming, and walking. Physical activities such as walking are beneficial for improving insulin sensitivity, maintaining physical fitness, and can help lower blood sugar. Purpose: To determine the effect of evidence-based walking training (EBNP) on reducing blood sugar levels in people with diabetes. Method: The implementation of evidence-based walking training (EBNP) was experimental with a pre-posttest design, involving 12 participants. The physical activity, which consisted of walking, was performed by people with diabetes for 3 minutes every 30 minutes for 7 hours. Blood sugar levels were measured before and after the physical activity. Results: The mean difference between fasting and post-EBP blood glucose levels was 6.08 with a standard deviation of 57.429 g% and a p-value of 0.721, indicating no significant difference between fasting and post-EBP blood glucose levels. Meanwhile, the mean difference between fasting and post-EBP blood glucose levels was 24.75 mg/dl with a standard deviation of 38.558 g%. The statistical test yielded a p-value of 0.048, indicating a significant difference between 2-hour postprandial blood glucose levels and those after EBP implementation. Conclusion: There was no significant difference between fasting blood glucose levels before and after EBNP implementation (p = 0.721). However, there was a significant difference in 2-hour postprandial blood glucose levels (p = 0.048), indicating that walking can reduce postprandial blood glucose levels.   Keywords: Blood Sugar Levels; Evidence-Based Practice; People with Diabetes; Walking Activity.   Pendahuluan: Prevalensi penyakit diabetes melitus (DM) semakin meningkat setiap tahunnya. DM yang tidak terkontrol kadar gula darahnya dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Pengelolaan penyakit DM disebut dengan lima pilar meliputi diet, pengobatan farmakologi, aktivitas fisik, edukasi, dan monitor kadar gula darah. Salah satu pilar dalam pengelolaan DM tipe 2 yang efektif yaitu aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang telah direkomendasikan meliputi senam, bersepeda santai, jogging, berenang, dan jalan kaki. Aktivitas fisik seperti jalan kaki bermanfaat untuk memperbaiki sensitivitas insulin, menjaga kebugaran tubuh, dan dapat membantu dalam menurunkan gula darah. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh evidence-based practice aktivitas jalan kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada diabetisi. Metode: Penerapan evidence-based practice (EBNP) ini bersifat eksperimen menggunakan design pre-post test dengan jumlah sampel sebanyak 12 partisipan. Aktivitas fisik berupa jalan kaki dilakukan oleh diabetisi selama 3 menit setiap 30 menit dalam waktu 7 jam. Diabetisi dilakukan pengukuran kadar gula darah sebelum dan sesudah aktivitas fisik. Hasil: Nilai mean perbedaan antara pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan kadar glukosa darah setelah penerapan EBP adalah 6.08 dengan standar deviasi 57.429 gr% dan p value sebesar 0.721, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan kadar glukosa darah setelah penerapan EBP. Sementara itu, nilai mean perbedaan antara pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan kadar glukosa darah setelah penerapan EBP adalah 24.75 mg/dl dengan standar deviasi 38.558 gr%. Hasil uji statistik didapatkan p value 0.048, menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan kadar glukosa darah 2 jam post prandial dan kadar glukosa darah setelah penerapan EBP. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara kadar glukosa darah puasa sebelum dan sesudah penerapan EBNP (p = 0.721). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada kadar glukosa darah 2 jam post prandial (p = 0.048), sehingga aktivitas fisik jalan kaki terbukti berpengaruh terhadap penurunan kadar glukosa darah setelah makan.   Kata Kunci: Aktivitas Jalan Kaki; Diabetisi; Evidence-Based Practice; Kadar Gula Darah.
Pengaruh program cuci tangan dan personal hygiene terhadap pengetahuan dan kemampuan anak untuk menurunkan kejadian diare Ginanjar, Marwan Riki; Yuniza, Yuniza; Fadillah, Fadillah; Arlita, Despania
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1713

Abstract

Background: Elementary school children are among the age group vulnerable to health problems. Diarrhea is a health problem related to personal hygiene and the environment. One factor contributing to diarrhea is handwashing habits. Handwashing is a crucial component of personal hygiene, as failure to wash hands can lead to health problems related to the digestive system. Purpose: To identify the effect of handwashing and personal hygiene programs on children's knowledge and skills in reducing diarrhea. Method: The study was quantitative, using a pre-experimental method using a one-group pretest-posttest design with statistical testing using the Wilcoxon test. Data were collected using questionnaires and observation sheets. Results: There was a significant increase in handwashing and personal hygiene practices before and after handwashing and personal hygiene education (p-value = 0.000 < 0.05). Conclusion: Handwashing and personal hygiene programs have an impact on children's knowledge and ability to reduce the incidence of diarrhea. Suggestion: Schools are expected to routinely integrate clean and healthy living behavior education and implement healthy lifestyle habits.   Keywords: Diarrhea; Handwashing; Personal Hygiene.   Pendahuluan: Usia anak sekolah dasar termasuk ke dalam kelompok usia yang rentan terhadap masalah kesehatan. Masalah kesehatan diare berkaitan dengan kebersihan perorangan atau personal hygiene dan lingkungan. Salah satu faktor yang berperan dalam kejadian diare adalah kebiasaan mencuci tangan. Cuci tangan merupakan salah satu komponen personal hygiene atau kebersihan perorangan yang sangat penting, karena dampak tidak mencuci tangan diantaranya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berkaitan dengan masalah sistem pencernaan. Tujuan: Untuk mengidentifikasi adanya pengaruh program cuci tangan dan personal hygiene terhadap pengetahuan dan kemampuan anak untuk menurunkan kejadian diare. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan metode pre-eksperimental menggunakan desain one group pretest-posttest dengan uji statistik menggunakan uji wilcoxon. Data penelitian diambil dengan menggunakan kuesioner dan lembar observasi. Hasil: Terdapat peningkatan signifikan praktek cuci tangan dan personal hygiene sebelum dan setelah diberikan edukasi cuci tangan dan personal hygiene diperoleh p-value=0.000 < 0.05. Simpulan: Adanya pengaruh program cuci tangan dan personal hygiene terhadap pengetahuan dan kemampuan anak untuk menurunkan kejadian diare. Saran: Sekolah diharapkan dapat mengintegrasikan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara rutin dan menerapkan sikap hidup sehat.   Kata Kunci: Cuci Tangan; Diare; Personal Hygiene.
Hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi pada pelajar Kewo, Dhea Virjinia; Musa, Ester Candrawati; Sanggelorang, Yulianty
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1719

Abstract

Background: Nutritional problems arise from an imbalance between nutrient intake and the body's physiological needs. Adolescent nutritional status is an important indicator of health influenced by various factors, one of which is sleep quality. Poor sleep quality can affect the regulation of the hormones leptin and ghrelin, thus impacting appetite and the body's energy balance. Purpose: To analyze the relationship between sleep quality and nutritional status. Method: The study used a quantitative approach with a cross-sectional design, conducted from March to September 2025 at Tondano 2 State Senior High School. The entire student population, totaling 88 respondents, was included through a total sampling method. Data were collected using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire and Body Mass Index for Age (BMI/Age) measurements, then analyzed using the chi-square test. Results: The majority of students (51 respondents) had poor sleep quality, and 61 (69.3%) had poor nutritional status. The bivariate analysis yielded a p-value of 0.023 (p<0.05). This indicates a relationship between sleep quality and nutritional status. Conclusion: There is a relationship between sleep quality and nutritional status in respondents, as shown by the p-value of 0.023. Suggestion: Further research with a different design and the addition of other variables is needed to obtain a more comprehensive picture of the relationship between sleep quality and nutritional status.   Keywords: Nutritional Status; Sleep Quality; Students.   Pendahuluan: Masalah gizi timbul akibat ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan fisiologis tubuh. Status gizi remaja merupakan indikator penting kesehatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kualitas tidur. Kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi regulasi hormon leptin dan ghrelin, sehingga berdampak pada nafsu makan dan keseimbangan energi tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara kualitas tidur dengan status gizi. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilaksanakan pada Maret–September 2025 di SMA Negeri 2 Tondano. Seluruh populasi pelajar yang berjumlah 88 responden diikutsertakan melalui metode total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengukuran Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U), kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square.  Hasil: Sebagian besar pelajar memiliki kualitas tidur yang buruk, yaitu sebanyak 51 responden (58.0%), dan responden memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 61 responden (69.3%). Hasil analisis bivariat diperoleh p-value sebesar 0.023 (p<0.05). Hal ini menunjukkan terdapat hubungan kualitas tidur dengan status gizi. Simpulan: Terdapat hubungan antara kualitas tidur dan status gizi pada responden, ditunjukkan dengan hasil p-value 0.023. Saran: Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan desain berbeda dan penambahan variabel lain diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai hubungan kualitas tidur dengan status gizi.   Kata Kunci: Kualitas Tidur; Status Gizi; Pelajar.
Hubungan tekanan darah dengan depresi Widiyawati, Wiwik; Musfara, Deah Dwi; Kholifah, Anik Nur; Indarto, Tomi; Setyoningrum, Nilam Enggarsasi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1747

Abstract

Background: Blood pressure is the heart's ability to pump blood throughout the body, which is divided into systolic and diastolic pressures. Elevated blood pressure can also be caused by psychological disorders such as stress, anxiety, and even depression. Depression is an emotional disorder or low mood characterized by prolonged or persistent sadness, hopelessness, guilt, and feelings of worthlessness. These factors disrupt all mental processes (thinking, feeling, and behaving) and decrease motivation for daily activities and interpersonal relationships. A common characteristic of depressed patients is when patients express doubts about self-worth or coping abilities. Purpose: To determine the relationship between blood pressure and depression. Method: Quantitative research using a cross-sectional approach. Data collection used the DASS-42 questionnaire to assess levels of depression. The population in this study was 1,580 people from the industrial area of ​​Driyorejo District, Gresik Regency. The sampling technique used was total sampling. Results: Three (37.5%) respondents with high blood pressure experienced severe depression, 97 (78.2%) respondents with normal blood pressure experienced moderate depression, and five (40%) respondents with low blood pressure experienced mild depression. The test showed a p-value of 0.07 (>0.05), indicating a very weak relationship. Conclusion: There is a very weak relationship between blood pressure and the incidence of depression, with a p-value of 0.07>0.05.   Keywords: Blood Pressure; Depression; Hypertension.   Pendahuluan: Tekanan darah memiliki kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh, yang dimana jantung memompa atas dinding arteri dan dibagi menjadi sistolik serta diastolik. Naiknya tekanan darah juga bisa  karena gangguan psikis seperti stress, anxietas, bahkan depresi. Depresi adalah suatu gangguan emosional atau suasana hati yang buruk dengan ditandai timbulnya kesedihan yang berkepanjangan atau terus menerus, putus harapan, perasaan bersalah serta keadaan merasa tidak berarti. Faktor tersebut menyebabkan seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan berperilaku) terganggu dan membuat menurunnya motivasi untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari serta pada hubungan interpersonal. Karakteristik umum pada pasien depresi ialah disaat pasien menyatakan atas keraguan tentang harga diri atau kemampuan koping. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tekanan darah dengan depresi. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner DASS-42 untuk melihat tingkat depresi. Populasi pada penelitian ini adalah Masyarakat wilayah industri Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik sebanyak 1,580 orang. Teknik sampling pada penelitian ini adalah total sampling. Hasil: Sebanyak 3 (37.5%) responden dengan tekanan darah tinggi mengalami depresi sangat parah, sebanyak 97 (78.2%) responden dengan tekanan darah normal mengalami depresi sedang, dan sebanyak 5 (40.0%) masyarakat dengan tekanan darah rendah mengalami depresi ringan. Berdasarkan uji analisis didapatkan p value =0.07 (>0.05), yang menunjukkan hubungan sangat lemah.  Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat lemah antara tekanan darah dan kejadian depresi dengan p value (0.07>0.05).   Kata Kunci: Depresi; Hipertensi; Tekanan Darah.
Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kecenderungan depresi pada anak remaja Wahyuni, Fitri; Astuti, Yuni; Agustina, Wahyuni
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1822

Abstract

Background: Depression has become a growing trend and a critical issue among adolescents in Indonesia, with the highest prevalence found in Generation Z. Adolescents experiencing depression often show decreased productivity, which can negatively impact society, the nation, and the country, and may even lead to suicide. Depressed adolescents have a five-times higher risk of suicidal ideation compared to those without depression. Purpose: To identify the factors associated with the tendency toward depression among adolescents.. Method: This analytical study with a cross-sectional design was conducted from July to August 2025. The sample was selected using multistage cluster random sampling based on inclusion and exclusion criteria. A total of 152 adolescents participated. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, as well as multivariate testing to determine the factors influencing the tendency toward depression among adolescents. Results: The findings showed significant relationships between the tendency toward depression and the number of siblings (p = 0.003), parental marital status (p = 0.006), causes of sadness (p = 0.009), parenting style (p = 0.009), and body image (p = 0.008). The most influential factor affecting the tendency toward depression was peer social support (p = 0.000). A collaborative effort is recommended through school-based interventions involving both schools and parents to address or prevent depression among adolescents. Conclusion: The number of siblings, number of family members, causes of sadness, parenting style, and body image are significantly associated with the tendency toward depression in adolescents. The strongest influencing factor is peer social support (p = 0.000).   Keyword: Adolescence; Depression; Peer Support.   Pendahuluan: Depresi saat ini menjadi trend dan issue pada remaja di Indonesia. Penderita depresi tertinggi terjadi pada gen Z. Anak remaja dengan depresi produktivitasnya menurun yang berakibat buruk bagi masyarakat, bangsa dan negara bahkan beresiko melakukan bunuh diri. Anak dengan depresi memiliki keinginan bunuh diri 5 kali lebih besar dibandingkan anak tanpa depresi. Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kecenderungan depresi pada anak remaja. Metode: Jenis penelitian analitik dengan desain cross sectional ini dilakukan pada Juli-Agustus 2025. Pemilihan sample menggunakan multistage cluster random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel sebanyak 152 anak. Analisis data menggunakan univariat, bivariat serta uji multivariat untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan depresi pada anak remaja. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan terhadap kecenderungan depresi dengan jumlah saudara (p = 0.003), status pernikahan orang tua (p = 0.006), penyebab rasa sedih (p = 0,009), pola asuh orang tua (p = 0.009), dan citra tubuh (p = 0.008). Faktor yang paling berpengaruh terhadap kecenderungan depresi adalah dukungan teman sebaya (p = 0.000). Rekomendasi diperlukan upaya kolaboratif untuk melakukan school intervention dengan melibatkan sekolah dan orangtua dalam mengatasi atau mencegah terjadinya depresi remaja di sekolah. Simpulan: Jumlah saudara, jumlah anggota keluarga, penyebab rasa sedih, pola asuh orang tua, dan citra tubuh berhubungan signifikan dengan kecenderungan depresi pada remaja. Faktor yang paling kuat memengaruhi depresi adalah dukungan sosial teman sebaya (p = 0.000).   Kata Kunci: Depresi; Dukungan Teman Sebaya; Remaja.
Efektivitas kombinasi buerger allen and resistance exercise terhadap gula darah puasa dan adekuasi hemodialisis pasien diabetic kidney disease Afriza, Wicke; Astika, Tria; Rayasari, Fitrian; Natashia, Dea
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1841

Abstract

Background: Diabetic nephropathy is another term for diabetic kidney disease. patients with diabetes and diabetic kidney disease constitute a distinct population group diagnosed with increased urinary albumin excretion or decreased glomerular filtration rate (GFR). This impacts kidney function and alters the way waste and excess fluid are removed from the body. Purpose: To determine the effectiveness of a combination of buerger allen and resistance training on fasting blood sugar and hemodialysis adequacy in patients with diabetic kidney disease. Method: This study used a quasi-experimental design with a pre- and post-test and control group. The study was conducted at Pondok Kopi Islamic Hospital in Jakarta, with 59 participants divided into two groups: 32 in the intervention group and 27 in the control group. Both groups underwent fasting blood sugar and hemodialysis adequacy (Kt/V) measurements before and after the combination of Buerger Allen and resistance training. The intervention group performed a combination of Buerger Allen and resistance training for 8 weeks (16 sessions), while the control group received only standard intervention during hemodialysis. Results: The combination of buerger allen exercises and weight training proved effective in lowering fasting blood sugar levels and improving hemodialysis adequacy in patients with diabetic kidney disease. In the intervention group, fasting blood sugar decreased with a mean score difference of 1.75, while the control group experienced an increase of 2.06. Furthermore, there was a significant change in the hemodialysis adequacy score (Kt/V) in the intervention group with a p-value of 0.02. Paired sample results also supported these findings, with the fasting blood sugar (t = 2.11) and Kt/V (t = 2.81) scores showing significant improvements, while the control group showed no significant changes. Overall, the combination of buerger allen exercises and weight training was effective in improving blood sugar control and improving hemodialysis quality in patients with diabetic kidney disease. Conclusion: The combination of buerger allen exercises and weight training was effective in improving blood sugar control and improving hemodialysis quality in patients with diabetic kidney disease.   Keywords: Buerger Allen; Diabetic Kidney Disease Patients; Fasting Blood Sugar; Hemodialysis Adequacy; Weight Training.   Pendahuluan: Nefropati diabetik adalah istilah lain dari Diabetic Kidney Disease (DKD). Pasien dengan diabetes dan DKD adalah kelompok yang berbeda dari populasi yang didiagnosis dengan salah satu dari dua karakteristik peningkatan ekskresi albumin urin atau penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR). Hal ini berdampak pada fungsi ginjal dan mengubah cara pembuangan limbah dan kelebihan cairan dari tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas kombinasi buerger allen and resistance exercise terhadap gula darah puasa dan adekuasi hemodialisis pasien diabetic kidney disease. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan rancangan pre and post test group design with control group. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi dengan jumlah sampel sebanyak 59 partisipan yang dibagi menjadi 2 kelompok, yakni 32 partisipan pada kelompok intervensi dan 27 partisipan pada kelompok kontrol. Kedua kelompok sampel dilakukan pemeriksaan gula darah puasa dan adekuasi hemodialisis (Kt/V) sebelum dan sesudah kombinasi buerger allen dan resistance exercise. Kelompok intervensi melakukan kombinasi Buerger Allen dan latihan resistensi selama 8 minggu (16 kali pertemuan), sedangkan kelompok kontrol hanya menerima intervensi standar selama hemodialisis. Hasil: Kombinasi buerger allen dan resistance exercise terbukti efektif dalam menurunkan kadar gula darah puasa serta meningkatkan adekuasi hemodialisis pada pasien dengan DKD. Pada kelompok intervensi, terjadi penurunan gula darah puasa dengan selisih mean rank 1.75, sedangkan kelompok kontrol justru mengalami peningkatan sebesar 2.06. Selain itu, terdapat perubahan signifikan pada nilai adekuasi hemodialisis (Kt/V) kelompok intervensi dengan p-value 0.02. Hasil paired sample juga memperkuat temuan ini, nilai t gula darah puasa (t = 2.11) dan Kt/V (t = 2.81), menunjukkan perbaikan bermakna, sementara kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan. Secara keseluruhan, kombinasi buerger allen dan resistance exercise efektif dalam memperbaiki kontrol gula darah dan meningkatkan kualitas hemodialisis pada pasien DKD. Simpulan: Kombinasi buerger allen dan resistance exercise efektif dalam memperbaiki kontrol gula darah dan meningkatkan kualitas hemodialisis pada pasien DKD.   Kata Kunci: Adekuasi Hemodialisis; Buerger Allen; Gula Darah Puasa; Pasien Diabetic Kidney Disease; Resistance Exercise.  
Rekomendasi kebutuhan gizi pada ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) berbasis website Sustamy, Raffiky Pinandia; Indriani, Ririn; Utami, Wiwik; Azizah, Nur
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1848

Abstract

Background: Nutrition counseling/education provided to pregnant women with Chronic Energy Deficiency (CED) by nutritionists and midwives is not optimal due to the continued use of conventional methods. A technology-based information system is recommended by the World Health Organization (WHO) for service delivery. Purpose: To analyze the effect of personalized nutritional recommendations for pregnant women with Chronic Energy Deficiency (CED) based on a website. Method: The study design used a quasi-experimental nonequivalent pretest-posttest with a control group. A sample size of 30 participants was divided into two groups: 15 participants in the intervention group and 15 pregnant women in the control group. The intervention group received nutrition education through a website application, while the control group received education through flyers. The study instruments included a knowledge questionnaire and a 24-hour food recall to measure energy intake. Data were analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests with a significance level of p < 0.05. Results: Personalized nutritional recommendations through a website application significantly influenced the knowledge level of pregnant women with CED, with an α value of 0.0001 (< 0.05). The use of website applications has been proven to be more effective in improving nutritional understanding and energy consumption patterns of pregnant women with chronic energy deficiency (CED) compared to conventional print media. Conclusion: Website-based digital educational media can be a strategic alternative in promoting nutritional health for pregnant women to reduce the risk of CED and prevent stunting during pregnancy.   Keywords: Chronic Energy Deficiency (CED); Nutritional Needs; Pregnant Women; Website Media.   Pendahuluan: Pemberian konseling/edukasi gizi pada ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) oleh tenaga gizi maupun bidan belum optimal karena masih menggunakan metode konvensional, sistem informasi berbasis teknologi merupakan rekomendasi World Health Organization (WHO) dalam memberikan pelayanan. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh personalisasi rekomendasi kebutuhan gizi pada ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) berbasis website. Metode: Desain penelitian menggunakan quasi experimental nonequivalent pretest-posttest with control group dengan jumlah sampel 30 partisipan yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 15 partisipan pada kelompok intervensi dan 15 partisipan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan edukasi gizi melalui aplikasi website, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi dengan media flyer. Instrumen penelitian meliputi kuesioner pengetahuan dan food recall 24 jam untuk mengukur asupan energi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney dengan tingkat signifikansi p < 0.05. Hasil: Adanya personalisasi kebutuhan gizi dengan aplikasi website memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil KEK dengan nilai α yaitu 0.0001 (< 0.05). Penggunaan aplikasi website terbukti lebih efektif meningkatkan pemahaman gizi dan pola konsumsi energi ibu hamil KEK dibandingkan media cetak konvensional. Simpulan: Media edukasi digital berbasis website dapat menjadi alternatif strategis dalam promosi kesehatan gizi ibu hamil untuk menurunkan risiko KEK dan mencegah stunting sejak masa kehamilan.   Kata Kunci: Ibu Hamil; Kebutuhan Gizi; Kekurangan Energi Kronis (KEK); Media Website.
Dinamika faktor iklim terhadap kejadian demam berdarah dengue Saputri, Firdaus Wulan; Mars, Siwi Pramatama; Sri, Dwi Sarwani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1866

Abstract

Background: Dengue fever remains a recurring public health issue in many tropical regions, including Indonesia. Over recent years, fluctuations in dengue cases have been linked to changes in environmental conditions, particularly temperature, humidity, and rainfall. These climatic factors may affect mosquito survival, breeding, and virus transmission. Purpose: To describe the dynamics of climate factors on the incidence of dengue fever. Method: A quantitative ecological approach based on secondary data. Dengue case reports were obtained from the Banyumas District Health Office, while climate data were sourced from NASA POWER and the Central Statistics Agency. The variables analyzed included temperature, humidity, rainfall, and population density. Multiple linear regression was used to determine the factors most strongly associated with dengue incidence. Results: Temperature (p = 0.022), humidity (p = 0.024), and population density (p = 0.039) showed significant associations with dengue incidence. Rainfall, however, was not statistically significant (p = 0.545). The overall regression model was significant (p < 0.001) with an R² value of 28.6%. These findings are consistent with prior evidence indicating that climate variables typically explain 20–40% of dengue fluctuations. Warmer temperatures and high humidity provide favorable conditions for Aedes aegypti survival and viral transmission, contributing to elevated case numbers in Banyumas. Conclusion: Temperature, humidity, and population density are key contributors to dengue incidence, while rainfall plays a lesser role. These variables should be integrated into climate-based early warning systems to strengthen dengue prevention efforts.   Keywords: Climate Factors; Dengue Hemorrhagic Fever; Humidity; Temperature.   Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue masih menjadi persoalan kesehatan yang berulang di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, perubahan jumlah kasus dengue sering dikaitkan dengan dinamika kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan curah hujan. Faktor-faktor iklim tersebut memengaruhi perkembangbiakan nyamuk, tingkat kelangsungan hidup vektornya, serta proses penularan virus. Tujuan: Untuk menggambarkan dinamika faktor iklim terhadap kejadian demam berdarah dengue. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain ekologi berbasis data sekunder. Data kasus dengue diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, sementara data iklim bersumber dari NASA POWER dan Badan Pusat Statistik. Variabel yang dianalisis meliputi suhu, kelembapan, curah hujan, dan kepadatan penduduk. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menentukan faktor yang memiliki kontribusi signifikan terhadap peningkatan kasus. Hasil: Suhu (p = 0.022), kelembapan (p = 0.024), dan kepadatan penduduk (p = 0.039), menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap kejadian dengue. Curah hujan tidak menunjukkan signifikansi statistik (p = 0.545). Model regresi secara keseluruhan signifikan (p < 0.001) dengan nilai R² sebesar 28.6%. Temuan ini selaras dengan literatur yang menyatakan bahwa faktor iklim umumnya berkontribusi sekitar 20-40% terhadap variasi kasus dengue. Suhu hangat dan kelembapan tinggi menciptakan kondisi yang mendukung kelangsungan hidup Aedes aegypti, sehingga kasus dengue meningkat. Simpulan: Suhu, kelembapan, dan kepadatan penduduk merupakan faktor penting yang memengaruhi kejadian dengue, sedangkan curah hujan memiliki peran lebih kecil. Parameter-parameter ini perlu dipertimbangkan dalam pengembangan sistem peringatan dini berbasis iklim untuk memperkuat upaya pencegahan dengue.   Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue; Faktor Iklim; Kelembapan; Suhu.
Hubungan beban kerja terhadap stres kerja di PT X Siregar, Nurul Syahputri; Salianto, Salianto; Indriani, Fatma
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 9 (2025): Volume 19 Nomor 9
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i9.1876

Abstract

Background:  Work stress is a psychological and physiological response that occurs when job demands exceed a person's coping capacity. This condition can negatively impact employee mental and physical health and productivity. Purpose: To analyze the relationship between workload and job stress among employees at PT X. Method: This study used a quantitative correlational approach with a total sampling technique involving 37 respondents. Data were collected through a questionnaire and analyzed using the Spearman Rank test. Results: Based on the study results, 30 (81.1%) employees had a high level of workload, and 21 (56.8%) respondents had a high level of workload. The results of the bivariate analysis using the Spearman Rank test showed a probability or significance value of 0.00 (<0.05), indicating a significant relationship. Furthermore, a correlation value of (+) 0.756 indicates a strong correlation between the two variables, and a positive value indicates a unidirectional correlation. Thus, there is a significant and unidirectional relationship between workload and job stress in this study. Conclusion: There is a significant and strong relationship between workload and job stress. The higher the workload, the higher the level of work stress experienced by employees.   Keywords: Employees; Workload; Work Stress.   Pendahuluan: Stres kerja merupakan respons psikologis dan fisiologis yang muncul ketika tuntutan pekerjaan melebihi kapasitas individu untuk mengatasinya. Kondisi ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, fisik, serta produktivitas karyawan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara beban kerja terhadap stres kerja pada karyawan PT X. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling terhadap 37 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasi: Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 30 (81.1%) karyawan memiliki tingkat beban kerja dengan dan stress kerja  tinggi 21 (56.8%) responden. Hasil analisis bivariat dengan metode Spearmanrho menunjukkan nilai probabilitas atau signifikansi 0.00 (< 0.05) yang artinya terdapat hubungan signifikan. Selain itu, nilai korelasinya adalah (+) 0.756 yang mempunyai arti bahwa korelasi/hubungan kedua variabel bernilai kuat dan nilai yang positif menunjukkan korelasi yang searah. Jadi, terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada penelitian ini dengan nilai yang signifikan dan searah. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan dan kuat antara beban kerja dengan stres kerja. Semakin tinggi beban kerja yang diterima, semakin tinggi pula tingkat stres kerja yang dirasakan oleh karyawan.   Kata Kunci: Beban Kerja; Karyawan; Stres Kerja.