cover
Contact Name
Sutriyono
Contact Email
sutriyono0775@gmail.com
Phone
+6285785692168
Journal Mail Official
bilhikmah@stidalhadid.ac.id
Editorial Address
Jl. Kejawan Putih Tambak No.80, Kejawaan Putih Tamba, Kec. Mulyorejo, Kota SBY, Jawa Timur 60112
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Bil Hikmah
ISSN : 29878853     EISSN : 29873266     DOI : 10.55372
Bil Hikmah : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam (JKPI) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh STID Al-Hadid dengan fokus kajian pengembangan komunikasi dan penyiaran Islam berbasis Islam Rasional Kebangsaan (IRK), meliputi bidang: Dakwah bil lisan, Dakwah bil qalam, Dakwah new media, Komunikasi Islam, Penyiaran Islam, Jurnalistik Islam, Komunikasi Politik Islam, dan studi dakwah. Bil Hikmah terbit dalam format cetak dan online Focus & Scope Bil Hikmah JKPI fokus pada Dakwah dan Komunikasi , sedangkan Scopenya meliputi bidang: Dakwah bil lisan, Dakwah bil qalam, Dakwah new media, Komunikasi Islam, Penyiaran Islam, Jurnalistik Islam, Komunikasi Politik Islam, dan studi dakwah
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2026)" : 11 Documents clear
Struktur Narasi Dakwah pada Film Sunan Ampel: Kisah Mbah Soleh di Trans TV Septi Fadillah; Mahdaniar, Fenny
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.105

Abstract

Struktur narasi pada film dakwah memiliki peranan penting dalam mengefektifkan penyampaian pesan dakwah dan memberikan kesan makna yang melekat kuat pada penontonnya. Namun menyusun film dakwah dengan struktur narasi yang kuat tidaklah mudah. Penyusunan struktur narasi yang kurang baik dapat membuat pesan dakwah menjadi bias dan kurang jelas. Film Sunan Ampel: Kisah mbah Soleh memiliki struktur narasi yang kuat dalam penyampaian pesan akidah dan akhlak kepada khalayak melalui penggambaran tokoh dan alur ceritanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur narasi yang digunakan pada film Sunan Ampel: Kisah Mbah Soleh di Trans TV dalam menyampaikan pesan akidah dan akhlak. Teori yang digunakan adalah struktur narasi Tzvetan Todorov, dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menemukan bahwa struktur narasi pesan dakwah akidah akhlak kuat tergambarkan melalui karakter masing-masing tokoh. Terdapat tokoh utama yakni Mbah Soleh yang memiliki keunikan karena digambarkan dengan dua karakter yang bertolak belakang dalam hal akidah dan akhlaknya. Pesan dakwah dijelaskan melalui kondisi keseimbangan awal dimana tokoh utama tidak menyadari dirinya mengingkari akidah dengan berbuat kerusakan di masyarakat, lalu terjadi gangguan dengan adanya tokoh dan kelompok lain yang menentang aksi jahatnya sampai pada alur puncak konflik, yakni tokoh utama kehilangan orang terdekat akibat perbuatan buruk tokoh utama. Kemudian diakhiri dengan alur penyelesaian tokoh utama yang bertobat dan mengabdikan diri untuk syiar Islam.
Kredibilitas Komunikator Dakwah Ustaz Fadlan Garamatan di Pedalaman Papua Alya Putri, Carmenita; Al Farisi, Achmad
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.110

Abstract

Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan pesan, namun juga dapat dipengaruhi kredibiltas dai yang menyampaikan. Selain fokus membangun pesan dakwah yang sesuai, dai juga harus mampu menumbuhkan kepercayaan dalam diri mad‘ū kepada dai. Kajian ini, bertujuan untuk mendeskripsikan kredibilitas seorang komunikator melalui pengalaman Ustaz Fadlan Garamatan ketika berdakwah di daerah pedalaman Papua seperti Wamena, suatu wilayah kampung dengan panah beracun dan suku Asmat. Dalam dakwahnya, Ustaz Fadlan menghadapi banyak dinamika terkait kepercayaan mad‘ū terhadapnya. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, dengan metode analisis data model Miles and Huberman. Hasil kajian menunjukkan bahwa mad‘ū dari daerah pedalaman memandang Ustaz Fadlan memiliki kredibilitas berupa keahlian atau otoritas dalam mengajarkan taharah, menguasai ilmu agama, dan mampu menghadirkan perbaikan bagi mad‘ū. Ia juga memiliki kredibiltas kepercayaan dan character karena mampu menampilkan ketulusan dan kebaikan hati dalam dakwahnya di pedalaman Papua.
Strategi Merespons Pertanyaan dalam Seminar Dakwah oleh Ustaz Zakir Naik Yulianto, Hendra Bagus
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.111

Abstract

Komunikasi dakwah memungkinkan ditampilkan dalam model seminar agama yang di dalamnya menggunakan metode diskusi. Komunikasi diskusi secara garis besar meliputi sesi presentasi dan sesi tanya-jawab (questions-answer). Seorang pembicara tidak hanya dituntut memiliki kemampuan dalam merancang argumentasi yang tepat dalam memberikan jawaban tapi juga kemampuan menegosiasikan jawaban, meyakinkan kepada penanya dan audiens serta mampu membangun hubungan interpersonal khususnya dengan penanya. Salah seorang pendakwah yang dikenal memiliki kemampuan menjawab pertanyaan dalam forum-forum seminar dakwah adalah Zakir Naik. Rumusan masalah yang diajukan dalam kajian ini adalah bagaimana pola strategi merespons pertanyaan dalam sesi question and answer (QnA) seminar agama oleh Zakir Naik? Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan pola strategi komunikasi dalam merespons pertanyaan dalam sesi QnA seminar agama oleh Zakir Naik diantaranya: mengetahui pola komunikasi nonverbal saat mendengarkan pertanyaan, pola komunikasi nonverbal saat menjawab pertanyaan, pola delivery pesan saat menjawab pertanyaan, khususnya tahapan menjawab pertanyaan, serta pola cara merespons saat ada penanya yang menyela ketika kita memberikan jawaban. Metode yang digunakan dalam mengkaji adalah metode kualitatif dengan model analisis isi (content analysis). Pola komunikasi yang dikembangkan Zakir Naik dalam merespons pertanyaan dalam sesi QnA konteks seminar agama menunjukkan pola komunikasi pembicaraan formal dan serius. Penguasaan materi yang disampaikan secara sopan (polite) dan friendly dengan penanya.
Faktor-Faktor Pemengaruh Karakter Remaja Indonesia sebagai Komunikan Dakwah Prihartanto, Lucky
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.115

Abstract

Dai harus memahami karakteristik mad‘ū agar dakwahnya sukses. Salah satu mad‘ū yang potensial adalah remaja. Remaja memiliki tugas perkembangan untuk menemukan identitas dirinya agar tidak sampai mengalami krisis identitas. Oleh karena itu, remaja melakukan eksplorasi hingga membuat komitmen terhadap identitas dirinya. Keluarga, teman sebaya, media sosial, agama, dan lingkungan sekolah merupakan faktor kunci dalam memengaruhi remaja dalam membentuk identitasnya. Sintesis terhadap pengaruh dari berbagai faktor tersebut membentuk karakteristik yang khas dari remaja. Rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana faktor keluarga, teman sebaya, media sosial, agama, dan lingkungan sekolah memengaruhi karakteristik remaja Indonesia sebagai komunikan dakwah? Tujuan kajian ini hendak mendeskripsikan karakteristik remaja yang dipengaruhi kelima faktor dalam hubungannya dengan pembentukan identitas diri yang merupakan karakteristik khas remaja. Literature review sebagai jalan untuk menjawab rumusan masalah tersebut. Studi menunjukkan bahwa remaja memiliki karakteristik khas yakni mencari identitas diri. Keluarga, teman sebaya, guru, dan kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu atau mengaburkan identitas remaja. Media sosial membuat remaja kurang kritis, mudah cemas, dan impulsif. Namun sosial media juga dapat menjadi sarana dalam menemukan identitasnya. Agama Islam dapat membantu remaja dalam menemukan identitas dan menjadi alternatif identitas bagi remaja.
Pemetaan Pemangku Kepentingan dalam Komunikasi Organisasi Nabi Muhammad pada Peristiwa Sebab Turunnya QS. ‘Abasa: 1-17 Azizi, Muhammad Hildan
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.116

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan standar prioritas pemangku kepentingan organisasi dakwah berdasarkan studi kasus peristiwa yang melatarbelakangi turunnya QS. ‘Abasa 1–17. Kajian terhadap ayat tersebut selama ini cenderung berfokus pada aspek pendidikan dan inklusivitas bagi kaum difabel, sedangkan studi ini menegaskan adanya pelajaran mengenai praktik komunikasi organisasi. Penelitian berangkat dari asumsi bahwa kegiatan dakwah Nabi Muhammad berlangsung secara terorganisir. Teori stakeholder mapping digunakan sebagai pisau analisis dengan penekanan pada kuadran power–interest, attitude, dan relasi kuasa antarpemangku kepentingan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh dari kajian Asbabun Nuzul, tafsir, dan sumber sejarah yang memuat profil pemangku kepentingan terkait peristiwa tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa subject yang memiliki interest tinggi, power rendah, dan sikap positif jauh lebih menjadi prioritas dibandingkan context setter yang memiliki power tinggi tetapi tidak memiliki interest serta bersikap negatif terhadap organisasi. Prioritas ini juga lebih tinggi dibandingkan key player dengan sikap ambivalen. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa organisasi dakwah skala kecil bergantung pada penguatan subject positif internal, sambil menunda komunikasi intens yang lebih kompleks dengan key player ambivalen atau koalisi context setter negatif yang berpotensi menimbulkan tekanan politik yang berbahaya bagi organisasi dakwah kecil.
Bahasa Tubuh Percaya Diri dalam Ceramah Ustaz Deban Nirsa, Nirsa
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v4i1.119

Abstract

Komunikasi dakwah melekat pada pesan verbal maupun bahasa tubuh. Seorang dai dalam menyampaikan ajaran Islam perlu menunjukkan bahasa tubuh percaya diri supaya mad’uw meyakini dan menerima dengan baik pesan dakwahnya. Konsep nonverbal terdiri dari bahasa tubuh atau kinesik, proksemik, artifaktual dan paralinguistik. Konsep percaya diri dalam bahasa tubuh masih terbatas, apalagi dalam komunikasi dakwah. Ustaz Deban dalam ceramahnya terindikasi menampilkan bahasa tubuh percaya diri berdasarkan pada ekspresi wajah, gerakan tangan, gerakan kaki dan gerakan tubuhnya. Artikel ini mengambil rumusan masalah bagaimana bahasa tubuh percaya diri dalam ceramah Ustaz Deban pada video berjudul Jawab Tantangan Mamah Dedeh! Deban-Lebak Sampaikan Tausiyah ‘’Hindari Ghibah, Pilihlah Hidup Rahmah?’’ tujuannya hendak mendeskripsikan bahasa tubuh percaya diri Ustaz Deban dalam ceramah tersebut. Konsep percaya diri dan teori bahasa tubuh percaya diri digunakan sebagai landasan analisisnya. Metode kualitatif deskriptif sebagai alat untuk menjawab rumusan masalah yang diajukan. Ditemukan kesesuaian dengan indikasi bahasa tubuh percaya diri seperti ekspresi tersenyum, berani menatap mad’uw, gerakan tangan steepling halus, gerakan tangan terbuka, gerakan tangan piramida, dagu diangkat ke atas, kepala sedikit mendongak ke atas, gerakan kaki terbuka dan berjalan leluasa, serta postur tubuh tegak dan bergerak bebas tanpa ragu
Penulisan Deskripsi dalam Novel Dakwah Di Bawah Lindungan Ka’bah Karya HAMKA Harianto, Yudi Asmara
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v4i1.120

Abstract

Literatur penulisan deskripsi masih terbilang sedikit. Seandainyapun ada, kebanyakan ditujukan untuk pelajaran sekolah dasar. Pada pelatihan penulisan deskripsi, seringkali dihadirkan sebuah objek yang bisa diamati, kemudian siswa diminta untuk membuat tulisan deskripsi sesuai pemahamannya masing-masing. Siswa seringkali kesulitan dikarenakan masih miskin kosa kata deskripsi. Padahal di Indonesia ada banyak penulis deskripsi yang terselip dalam penulisan kisah atau narasi. Salah satu penulis deskripsi tersebut adalah HAMKA. Beliau dikenal sebagai mubaligh yang terkenal sekaligus penulis novel dakwah yang produktif. Artikel ini melakukan kajian penulisan deskripsi pada novel dakwah HAMKA yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah dengan tujuan mendapatkan uraian bagaimana bentuk tulisan deskripsi yang dilakukan HAMKA. Kajian menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif yang tidak semata mengkaji arti teks secara eksplisit tetapi juga makna di balik teks. Hasil penelitian menunjukan bahwa HAMKA menggunakan deskripsi peristiwa, tokoh, percakapan, perilaku, tempat, benda dan perasaan dalam novelnya tersebut.
Makna Istitha’ah berhaji Ditinjau dari Pendekatan Semiotika dalam Web Series Sari, Asri Ramah; Masruuroh, Lina
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v4i1.124

Abstract

Ibadah haji merupakan ibadah personal yang diwajibkan bagi orang Islam, minimal sekali selama hidupnya, dengan catatan memiliki istitha’ah atau kemampuan. Menurut Shibab, istitha’ah meliputi aspek finansial, kesehatan fisik, dan mental, serta kemampuan meninggalkan keluarga dalam keadaan aman ketika berhaji. Namun, saat ini, makna “mampu” dalam berhaji telah mengalami pergeseran. Banyak orang yang sebenarnya tidak mampu secara finansial, namun mengusahakan dengan keras untuk bisa berhaji. Pergeseran makna ini salah satunya direpresentaikan secara menarik dalam web series yang berjudul "Naik-Naik ke Tanah Suci" yang ditayangkan di channel BPKH RI. Salah satu simbol di film tersebut menyiratkan pesan bahwa berhaji bukanlah hak istimewa orang kaya, tetapi merupakan impian spiritual yang dapat diraih siapa saja yang berusaha. Representasi tersebut dibentuk secara sadar melalui konstruksi tanda, baik verbal, visual, maupun narasi yang memiliki makna mendalam. Sehingga, tujuan studi ini adalah mengetahui makna istitha’ah berhaji ditinjau dari simbol-simbol visual, verbal, dan naratif dalam web series Naik-Naik ke Tanah Suci. Studi ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hasil studi menunjukkan, web series ini membentuk narasi istitha’ah berhaji, tidaklah selalu berkaitan dengan materi. Tetapi juga berkaitan dengan mengusahakan dan memampukan diri secara sungguh-sungguh. Istitha’ah yang selainnya meliputi fisik, administratif, dan pengetahuan atau pemahaman haji.
Interpretasi Pesan Dakwah Film American Eid Perspektif Hermeneutik Schleiermacher Azzahro , Siti Fatimah; Hendriyono
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bilhikmahjkpi.v4i1.125

Abstract

Film menjadi media dakwah audiovisual yang dapat digunakan untuk mengantarkan pesan dakwah kepada komunikan. Film memiliki komponen dari segi naratif dan sinematik beserta jangkauan yang luas membuat penonton sebagai mad’u memiliki multi-interpretasi terhadap pesan dakwah film. Salah satunya film pendek berjudul American Eid karya Aqsa Altaf di platform Disney+ Hotstar. Film yang mengisahkan tentang keluarga imigran Pakistan yang berpindah ke Amerika, sehingga mengharuskan kedua anaknya yakni Ameena dan Zainab beradaptasi di sekolah yang baru karena tidak ada libur Idul Fitri. Pendekatan hermeneutik Schleiermacher digunakan untuk menemukan makna sesungguhnya yang berusaha disampaikan oleh Aqsa Altaf sebagai subjek pembuat filmnya yang menjadi pijakan dalam menguraikan pesan dakwah dalam film American Eid. Tujuan penelitian untuk analisis interpretasi makna berupa pesan dakwah dari film berjudul American Eid dengan menggunakan metode penelitian deskriptif untuk mendeskripsikan pesan dakwah dalam film American Eid. Hasil penelitian menunjukkan pesan akhlak seorang muslim dalam menghadapi kondisi ketidakadilan dan hidup sebagai minoritas, dengan menunjukkan pada masyarakat luas identitas seorang muslim yang membawa ajaran kebenaran dengan ketangguhan, cara yang etis, dan ketajaman berpikir dalam menghadapi situasi.
Problematika Makna dalam Komunikasi Wahyu: Mendudukkan Otoritas Ilahi, Teks, dan Horizon Pembaca Aida, Nur
Bil Hikmah: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : STID Al Hadid Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55372/bhmh.v4i1.131

Abstract

Perdebatan mengenai siapa yang menentukan makna teks masih terus berlangsung hingga kini. Schleiermacher menekankan otoritas pengarang, Dilthey dan Betti mengedepankan objektivitas teks, Barthes menggagas “kematian pengarang,” sedangkan Gadamer menawarkan konsep fusi horizon. Permasalahan ini menjadi semakin kompleks ketika objek kajiannya adalah Al-Qur’an: di manakah letak maknanya—pada maksud Allah, pada teks, atau pada pembaca? Beberapa ulama berpandangan makna terletak pada teks. Beberapa lainnya berpandangan makna terletak pada maksud Allah yang perlu ditemukan dengan hermenutika. Selain itu beberapa berpandangan bahwa makna Al-Qur’an dapat berkembang seiring perubahan horizon pembaca. Artikel ini bertujuan mendudukkan posisi pengarang, teks, dan pembaca dalam memahami Al-Quran. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna Al-Qur’an berakar pada otoritas pengarang (Allah), bukan pada teks atau pembaca. Perbedaan horizon mufasir dipandang sebagai refleksi keterbatasan manusia dalam memahami ilmu Allah yang tidak terbatas. Meski begitu bukan berarti tidak ada kepastian makna. Variasi horizon tersebut tidak menimbulkan relativitas, melainkan memperkaya kedalaman pemahaman seiring perkembangan ilmu pengetahuan. Temuan ini menegaskan Al-Qur’an sebagai petunjuk ilahi yang senantiasa relevan melintasi zaman.

Page 1 of 2 | Total Record : 11