cover
Contact Name
Dedi Sufriadi
Contact Email
dedisufriadi@gmail.com
Phone
+6285260082672
Journal Mail Official
ojsjuragan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Syiah Kuala, Kp. Mulia, Kuta Alam, Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ragam Pengabdian
Published by CV. Teewan Solutions
ISSN : 30638011     EISSN : 3063802X     DOI : doi.org/10.62710/juragan
Core Subject : Education, Social,
Berisi hasil-hasil kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat berupa penerapan berbagai bidang ilmu diantaranya pendidikan, ekonomi, agama, teknik, pertanian, sosial humaniora, komputer dan kesehatan yang ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,255 Documents
Strategic Planning for Quality Improvement in Islamic Education: Qur'anic Sciences, Kitab Kuning, and Extracurricular Talent Development Husnia Ulfa; Hartono Hartono; Moh. Khusnuridlo
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember Integrating Multidisciplinary Knowledge for Sustainable Comm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/116m9m29

Abstract

Educational quality does not occur by chance; it results from strategic planning that is systematically designed, implemented, and evaluated. This article examines a strategic planning framework for educational quality consisting of three stages, namely strategic planning, implementing plans, and quality implications, and reflects on it in the development of Islamic education. The framework is applied to flagship religious programs, namely Qur'anic sciences and kitab kuning education, as well as interest- and talent-based extracurricular programs covering calligraphy, rhetoric, albanjari, computer/IT, scientific writing, qiraah, martial arts, and science olympiad. The study uses library research, reviewing the literature on strategic educational management and Islamic education management. The findings show that strategic planning covers formulating plans, stakeholder participation, and resource mobilization; implementation covers resource allocation, translating plans into actions, and monitoring and revision; and quality implications appear in effective use of resources, improved learning and facilities, and increased stakeholder trust. Extracurricular programs complement the flagship religious programs by opening pathways for developing students' potential. These three stages need to be integrated with the values of tauhid, deliberation (musyawarah), and trustworthiness (amanah) to produce holistic Islamic education quality.
Paradoks Penerapan Pidana Mati dalam Hukum Positif Indonesia: Tinjauan Filsafat Hukum Utilitarianisme Jeremy Bentham Shifa Rachmadani; Roro Juliana Rahmawati; Aliya Metta Wijaya; Cathabell Virginia Fernanda Widjaja; Yuwono Prianto
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember Integrating Multidisciplinary Knowledge for Sustainable Comm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/8h1vee51

Abstract

The death penalty is an extreme form of punishment that remains part of Indonesia’s positive law and continues to generate debate from legal, moral, and human rights perspectives. The enactment of Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code (New Criminal Code) reconstructs the death penalty as a special and alternative punishment with a 10-year probationary period. This study aims to analyze the dynamics and reconstruction of the death penalty following the enactment of the New Criminal Code and examine the 10-year probationary period from the perspective of Jeremy Bentham’s utilitarianism. This normative juridical study employs a statutory and conceptual approach. The analysis focuses on Articles 98 to 101 of Law Number 1 of 2023 and the concepts of the principle of utility and felicific calculus. The findings show that the reconstruction of the death penalty provides opportunities for rehabilitation, prevents immediate execution, and considers the interests of society. However, the 10-year probationary period may also cause psychological suffering, legal uncertainty, and concerns regarding the objectivity of assessing prisoners’ behavior. Based on the felicific calculus, this policy reflects a paradox between protecting society and reducing the suffering of prisoners. Its effectiveness and legitimacy depend on legal certainty, objective assessment, and a balance between social benefits and the suffering imposed.
Etika Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan Agama Islam terhadap Perspektif Filsafat Ilmu Indah Mutia
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember Integrating Multidisciplinary Knowledge for Sustainable Comm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/kqh2dj60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran literasi digital orang tua dalam membentuk karakter anak usia dini di tengah paparan media berbasis algoritma di KB Islam Al-Izzah Purwokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh gambaran secara Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan kecerdasan buatan dalam Pendidikan Agama Islam serta mengkaji prinsip etika penggunaannya melalui perspektif filsafat ilmu. Penelitian menggunakan metode kajian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dari buku, artikel jurnal ilmiah, hasil penelitian terdahulu, dan sumber akademik yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi dalam mendukung pembelajaran PAI, baik dalam membantu guru menyiapkan materi, evaluasi, dan aktivitas pembelajaran maupun dalam membantu peserta didik memperoleh informasi, memahami materi, dan mengembangkan literasi digital. Namun, penggunaannya menghadirkan persoalan etika berupa kejujuran akademik, plagiarisme, ketergantungan teknologi, validitas informasi keagamaan, dan tanggung jawab terhadap hasil yang diperoleh. Dalam perspektif filsafat ilmu, kecerdasan buatan perlu dipahami sebagai sarana pengolahan dan pengembangan pengetahuan, bukan sebagai pengganti manusia sebagai subjek pengetahuan. Pemanfaatannya dalam PAI perlu berlandaskan kemampuan berpikir kritis, verifikasi sumber, nilai moral Islam, dan kemaslahatan agar teknologi mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara utuh.
Memperkuat Perencanaan Tata Ruang Laut dan Tata Kelola Lintas Batas di Kawasan Laut Lesser Sunda: Studi Kasus dari Belu Utara hingga Bobonaro Debora Victoria Liubana; Sri Rahayu Nuban; Mateus Salvador; Alexander Tanody; Elio de Araujo; Sebastiao Viana Pinto
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember Integrating Multidisciplinary Knowledge for Sustainable Comm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/tqr6f567

Abstract

Ekosistem mangrove dan lamun memiliki peran penting dalam menjaga produktivitas, keanekaragaman hayati, dan konektivitas ekologis wilayah pesisir. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi komposisi jenis mangrove dan lamun serta kondisi kualitas perairan pada kawasan pesisir lintas batas Indonesia–Timor-Leste. Penelitian dilaksanakan di Silawan dan Kenebibi, Kabupaten Belu, Indonesia, serta Saniri dan Beacao, Bobonaro, Timor-Leste. Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan menggunakan metode transek dan kuadrat untuk mengamati komposisi jenis dan kondisi habitat mangrove serta lamun. Rancangan penelitian menggunakan kuadrat 1 × 1 m untuk lamun dan 5 × 5 m untuk mangrove dengan pengulangan pada setiap stasiun. Parameter kualitas perairan yang diamati meliputi suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut (DO). Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif untuk menggambarkan perbedaan karakteristik ekosistem antar lokasi. Hasil penelitian diharapkan menghasilkan informasi dasar mengenai keanekaragaman mangrove dan lamun serta kondisi lingkungan perairan yang mendukung keberlangsungan habitat pesisir. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami konektivitas ekologis Belu–Bobonaro serta mendukung perencanaan tata ruang laut dan pengelolaan ekosistem pesisir secara terpadu dan berkelanjutan di Lesser Sunda Seascape.
Jaringan Tarekat di Priangan: Perbandingan TQN, Tijaniyah, Idrisiyah, dan Syattariyah dalam Kuasa Mursyid, Transmisi Keilmuan, dan Sosial Keagamaan Fajriudin Fajriudin; Mochammad Bagja Agung Nugraha Zainaldy
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 3 (2026): September-Desember Integrating Multidisciplinary Knowledge for Sustainable Comm
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/w7bdzc78

Abstract

This article discusses the comparison of the network of tariqat in Priangan by placing the Qadiriyah Tarekat wa Naqsyabandiyah Suryalaya, the Tijaniyah Al-Falah Biru Garut Tarekat, the Idrisiyah Tasikmalaya Tasikmalaya Tarekat, and the Pamijahan Syattariyah Tarekat as the four main cases. The main problem of this article lies in the tendency of the study of the tariqat that often discusses history, teachings, or figures separately, while the network pattern between the tariqat in the Priangan social space still requires comparative reading. Using a qualitative approach based on literature studies, this article analyzes four main indicators, namely spiritual authority, scientific transmission, institutional basis, and social relations with the community. Data are examined from journal articles, theses, and related academic sources that discuss the tariqat as a Sufism organization, TQN Suryalaya, Tijaniyah Garut, Idrisiyah Tasikmalaya, and Syattariyah Pamijahhan. This article finds that TQN Suryalaya shows a strong network of pesantren through mursyid, talqin representatives, educational institutions, media, and social programs. Tijaniyah Al-Falah Biru shows a network based on pesantren, amaliah wirid, and social piety. Idrisiyah shows a modern network pattern through the integration of da'wah, education, economy, media, and congregational empowerment. Syattariyah shows a strong historical network through sanad, the figure of Sheikh Abdul Muhyi, manuscripts, pilgrimages, and local Islamic relationships. The contribution of the article lies in the reading of the network of tarekat as a dynamic social and religious system, not just as an individual spiritual practice.