cover
Contact Name
Hoirul Anam
Contact Email
hoirulanama96@gmail.com
Phone
+6287848003826
Journal Mail Official
hoirulanama96@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dusun Kamal, RT.65/RW.29, Kamal, Karangsari, Kec. Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55674
Location
Kab. kulon progo,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
ISSN : -     EISSN : 30891841     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Al-Istinbath: Journal of Islamic Law and Family Law is a publication of articles resulting from original empirical research and theoretical studies of the Journal of Islamic Communication and Broadcasting covering various issues of the Journal of Islamic Communication and Broadcasting in a number of fields such as 1. Journal of Family Law 2. Islamic Courtscovers textual 3. fieldwork with various perspectives of Islamic Family Law 4. Islam and gender discourse 5. legal drafting of Islamic civil law 6. Islah (mediation and alternative dispute resolution).
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 49 Documents
Hikmah Siyasah Dan Rekontruksi Islamic Governance Di Indonesia Nurul Hikmah; Fadillah Eka Putri; Moh Alamsyah Noor; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/xfhxby23

Abstract

The development of modern governance demands the reconstruction of siyasa thinking to make it relevant to the context of a democratic and pluralistic nation-state. This study analyzes the understanding of siyasa wisdom in classical and modern literature, its application in Indonesian public policy, and its effectiveness in addressing contemporary governance challenges. The research method uses a qualitative descriptive-analytical approach through a literature review of Islamic political thought, contemporary scientific studies, and national policy documents. The results show that the principles of siyasa wisdom justice (‘adl), trustworthiness, deliberation (shura), and maslahah have universal relevance and can be integrated into modern governance through the digitalization of public services, apparatus integrity mechanisms, community participation, and social protection programs. However, its effectiveness is still hampered by digital infrastructure gaps, administrative formalization, limited public influence, and inaccurate targeting of social assistance. This study concludes that the reconstruction of siyasa wisdom has the potential to become the basis for an Islamic ethical governance paradigm that can strengthen transparency, accountability, and public welfare in Indonesian governance.  Abstrak Perkembangan tata kelola modern menuntut rekonstruksi pemikiran siyasah agar relevan dengan konteks negara bangsa yang demokratis dan plural. Penelitian ini menganalisis pemahaman hikmah siyasah dalam literatur klasik dan modern, penerapannya dalam kebijakan publik Indonesia, serta efektivitasnya dalam menghadapi tantangan pemerintahan kontemporer. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui studi literatur terhadap pemikiran politik Islam, kajian ilmiah kontemporer, dan dokumen kebijakan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip hikmah siyasah keadilan (‘adl), amanah, musyawarah (syura), dan maslahah memiliki relevansi universal dan dapat diintegrasikan ke dalam tata kelola modern melalui digitalisasi layanan publik, mekanisme integritas aparatur, partisipasi masyarakat, dan program perlindungan sosial. Namun, efektivitasnya masih terhambat oleh kesenjangan infrastruktur digital, formalisasi administratif, keterbatasan pengaruh publik, serta ketidaktepatan sasaran bantuan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi hikmah siyasah berpotensi menjadi dasar paradigma Islamic ethical governance yang mampu memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kemaslahatan publik dalam tata kelola pemerintahan Indonesia.
Tasarruf al-Imam Manutun bi al-Maslahah: Analisis Kebijakan Makan Bergizi Gratis Pada Era Pemerintahan Prabowo Subianto Alifah, Nur
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/0ydmew54

Abstract

This article analyzes the Free Nutritious Meals (MBG) policy introduced during the administration of Prabowo Subianto through the lens of Islamic political jurisprudence (fiqh siyasah), particularly the principle of tasarruf al-imām ‘ala al-ra‘iyyah manūṭun bi al-maṣlaḥah (a ruler’s actions must be based on public welfare). The MBG program is a strategic initiative to address Indonesia's persistent issues of stunting and malnutrition, especially among students and impoverished communities. However, its implementation faces several challenges, particularly in the uneven distribution and focus on urban areas. This study employs a descriptive qualitative approach through literature review and normative-theological analysis. The findings indicate that MBG embodies the essence of maṣlaḥah and can be classified as a legitimate policy in Islamic governance, provided it is implemented justly, proportionally, and prioritizes marginalized groups. The study recommends comprehensive needs mapping, participatory policy evaluation, and integration of maqāṣid al-sharī‘ah values to ensure that MBG truly serves as an instrument of social justice and public welfare.  
Adaptasi Hukum Pidana Islam Terhadap Fenomena Bullying Dalam Perspektif Maqasid Syariah Muh Farhan Bausat; Ainil Wahdaniyah; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/7zy05819

Abstract

The phenomenon of bullying in the modern era has become increasingly alarming because it has serious implications for mental, physical, and social health, especially among children and adolescents. Although bullying is not explicitly mentioned in religious texts, from an Islamic criminal law perspective, this act falls under the category of jarīmah ta‘zīr, due to the element of injustice that undermines maqāṣid al-syarī‘ah, with an emphasis on the protection of life (ḥifẓ al-nafs), reason (ḥifẓ al-‘aql), and dignity (ḥifẓ al-‘ird). This study aims to analyze the philosophy and wisdom behind the establishment of jinayah law and its relevance in handling bullying cases by applying the maqāṣid syariah approach. The research methods used are normative legal research and a philosophical-juridical approach, which examine primary and secondary sources of law in fiqh jinayah as well as modern literature related to bullying. The results of the study show that Islamic criminal law has the adaptive capacity to respond to contemporary crimes through the flexible and contextual ta‘zīr mechanism. The sanctions that can be imposed include qisas for severe physical violence, diyat as compensation for losses, and ta'zir in the form of reprimands, fines, moral guidance, counseling, and restrictions on social or digital activities. The ta'zir approach is not only repressive but also preventive and restorative, providing opportunities for the Islamic process. rehabilitation of perpetrators, and recovery of victims. The findings of this study confirm that Islamic criminal law offers a comprehensive solution to the problem of bullying, covering legal, moral, and social dimensions, and is highly relevant in efforts to create a safe, fair, and substantively just society.  Abstrak Fenomena bullying pada era modern menjadi semakin memprihatinkan karena berimplikasi serius terhadap kesehatan mental, fisik, dan sosial, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Meskipun tindakan bullying tidak diungkapkan secara eksplisit dalam teks-teks keagamaan, dalam perspektif hukum pidana Islam, perbuatan ini termasuk dalam kategori jarīmah ta‘zīr, dikarenakan adanya elemen kezaliman yang merusak maqāṣid al-syarī‘ah, dengan penekanan pada perlindungan terhadap jiwa (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), dan martabat (ḥifẓ al-‘ird). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis filosofi dan hikmah penetapan hukum jinayah serta relevansinya dalam penanganan kasus bullying dengan menerapkan pendekatan maqāṣid syariah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dan pendekatan filosofis-yuridis, yang mengkaji sumber hukum primer dan sekunder dalam fiqh jinayah serta literatur modern terkait perundungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum pidana Islam memiliki kapasitas adaptif untuk merespons kejahatan kontemporer melalui mekanisme ta‘zīr yang bersifat fleksibel dan kontekstual. Sanksi yang dapat dijatuhkan meliputi qisas untuk tindak kekerasan fisik yang berat, diyat sebagai kompensasi atas kerugian, serta ta‘zīr yang berupa teguran, denda, pembinaan moral, konseling, hingga pembatasan aktivitas sosial atau digital. Pendekatan ta‘zīr bukan hanya berfungsi represif, tetapi juga preventif dan restoratif, yang memberikan kesempatan bagi proses islah, rehabilitasi pelaku, serta pemulihan korban. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa hukum pidana Islam menawarkan solusi yang komprehensif terhadap masalah bullying, mencakup dimensi hukum, moral, dan sosial, serta memiliki relevansi yang signifikan dalam upaya menciptakan lingkungan masyarakat yang aman, adil, dan berkeadilan substantif.
Rekonstruksi Konsep Takafuul dalam konsep syari'ah perspektif maqashid syariah Zulkifli; Muh.Adzan; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/b9w8hq69

Abstract

This study aims to rebuild the concept of takaful in Islamic insurance using the maqashid syariah approach, which is a framework of Islamic law objectives that emphasizes public interest. In the development of the Islamic financial system in Indonesia, Islamic insurance still faces philosophical issues related to the application of the values of justice, solidarity, and sustainability. Many people argue that Islamic insurance has not fully demonstrated the values of ta'awun or mutual assistance, and takaful or shared responsibility, as expected by Sharia. Through a literature review and normative qualitative analysis, this study examines the essence, mechanisms, and evaluation of maqashid syariah on the application of the takaful system. The results show that takaful is a concept of social protection based on moral values, not merely an economic transaction. Its implementation mechanisms need to be improved so that it is not only formally Sharia-compliant, but also provides real social benefits. Thus, rebuilding takaful from the perspective of maqashid sharia is an important step to strengthen the legitimacy and sustainability of Islamic insurance in Indonesia.  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membangun kembali konsep takaful dalam asuransi syariah dengan menggunakan pendekatan maqashid syariah, yang merupakan kerangka tujuan syariat Islam yang menekankan kemaslahatan. Dalam perkembangan sistem keuangan syariah di Indonesia, asuransi syariah masih dihadapkan pada masalah filosofis terkait penerapan nilai keadilan, solidaritas, dan kelangsungan. Banyak orang berpendapat bahwa asuransi syariah belum sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai ta'awun atau tolong-menolong, serta takaful atau tanggung jawab bersama, sesuai dengan yang diharapkan syariah. Melalui metode studi pustaka dan analisis kualitatif normatif, penelitian ini menelaah hakikat, mekanisme, serta evaluasi maqashid syariah terhadap penerapan sistem takaful. Hasilnya menunjukkan bahwa takaful adalah konsep perlindungan sosial yang didasarkan pada nilai moral, bukan sekadar transaksi ekonomi. Mekanisme pelaksanaannya perlu diperbaiki agar tidak hanya patuh syariah secara formal, tetapi juga memberikan kemaslahatan sosial yang nyata. Dengan demikian, pembangunan kembali takaful melalui sudut pandang maqashid syariah menjadi langkah penting untuk memperkuat legitimasi dan kelangsungan asuransi syariah di Indonesia
Cryptocurrency Dalam Perspektif Hukum Islam : Antara Praktik Riba Dan Pemenuhan Tujuan Syariat Muh Aswar; Sulastri Nurul Qalbi; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/mrq25515

Abstract

Perkembangan teknologi informasi pada era digital telah mendorong lahirnya cryptocurrency sebagai bentuk baru aset digital berbasis blockchain yang menawarkan efisiensi dan kemudahan transaksi lintas negara. Meskipun demikian, keberadaannya menimbulkan perdebatan dalam perspektif hukum Islam, terutama terkait potensi praktik riba, gharar, dan maysir dalam mekanisme transaksi yang bersifat spekulatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hakikat cryptocurrency menurut hukum Islam, menilai keabsahan praktik transaksi aset digital berdasarkan prinsip fiqh muamalah, serta mengidentifikasi bentuk-bentuk riba digital yang muncul dalam aktivitas perdagangan kripto kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan normatif, melalui kajian terhadap fatwa, regulasi negara, literatur fiqh klasik dan kontemporer, serta karya ilmiah yang relevan dengan keuangan digital syariah. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka fiqh muamalah dan pendekatan maqasid al-shariah untuk menilai kemaslahatan dan potensi mafsadat dalam setiap bentuk transaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cryptocurrency tidak dapat digeneralisasi sebagai instrumen yang sepenuhnya bertentangan dengan hukum Islam. Penggunaannya sebagai alat tukar dinilai tidak memenuhi kriteria syariah karena volatilitas ekstrem dan ketidakpastian nilai. Namun demikian, dalam konteks tertentu, cryptocurrency berpotensi diterima sebagai komoditas digital apabila memiliki kejelasan akad, underlying asset yang dapat diverifikasi, serta terbebas dari unsur riba dan spekulasi berlebihan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menawarkan pendekatan kontekstual yang membedakan antara teknologi kripto dan mekanisme transaksinya dalam penilaian hukum Islam.
Membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah Dan Rahmah Dalam Pernikahan Berdasarkan Falsafah Islam Syahriadi; Muhammad Fuad Zhaky; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/t0syqb32

Abstract

This research focuses on the analysis of the concept of forming a harmonious, loving, and compassionate (SAMARA) family in marriage according to Islamic philosophy and its relevance in the context of modern household life. The SAMARA concept is understood as the ideal foundation for building a family that is not only oriented towards formal bonds, but also towards peace of mind, love, and ongoing affection. From an Islamic perspective, marriage is positioned as a sacred institution that integrates spiritual, social, and legal values ​​to create a balanced and meaningful family life. This research uses a qualitative descriptive method by examining various Islamic literature sources and the social phenomena of contemporary Muslim families. The study focuses on the spiritual dimension that emphasizes faith and piety, the social dimension related to the interaction patterns of husband and wife and the environment, and the legal dimension that regulates rights and obligations in marriage. The results of the study indicate that mutual respect, open and effective communication, fair distribution of responsibilities, and a balance between material and spiritual aspects are key elements in creating a harmonious and resilient family. In the context of the modern era, family challenges are increasingly complex, including economic pressures, changing gender roles, and rapid social dynamics. Therefore, this study also examines the importance of prospective husbands and wives' readiness to understand the meaning, purpose, and values ​​of marriage before starting a household. In conclusion, the SAMARA concept remains relevant and relevant as a moral and ethical framework that can serve as a guideline for building strong, adaptive family relationships based on Islamic values ​​amidst changing times Abstrak. Penelitian ini berfokus pada analisis konsep pembentukan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (SAMARA) dalam pernikahan menurut falsafah Islam serta relevansinya dalam konteks kehidupan rumah tangga modern. Konsep SAMARA dipahami sebagai fondasi ideal dalam membangun keluarga yang tidak hanya berorientasi pada ikatan formal, tetapi juga pada ketenangan jiwa, cinta kasih, dan kasih sayang yang berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, pernikahan diposisikan sebagai institusi sakral yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan hukum guna menciptakan kehidupan keluarga yang seimbang dan bermakna. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menelaah berbagai sumber literatur keislaman serta fenomena sosial keluarga Muslim kontemporer. Kajian difokuskan pada dimensi spiritual yang menekankan keimanan dan ketakwaan, dimensi sosial yang berkaitan dengan pola interaksi suami istri dan lingkungan, serta dimensi hukum yang mengatur hak dan kewajiban dalam pernikahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sikap saling menghormati, komunikasi yang terbuka dan efektif, pembagian tanggung jawab yang adil, serta keseimbangan antara aspek material dan spiritual merupakan elemen utama dalam mewujudkan keluarga yang harmonis dan tangguh. Dalam konteks era modern, tantangan keluarga semakin kompleks, meliputi tekanan ekonomi, perubahan peran gender, serta dinamika sosial yang cepat. Oleh karena itu, penelitian ini juga mengkaji pentingnya kesiapan calon suami dan istri dalam memahami makna, tujuan, serta nilai-nilai pernikahan sebelum membangun rumah tangga. Kesimpulannya, konsep SAMARA tetap relevan dan aktual sebagai kerangka moral dan etika yang mampu menjadi pedoman dalam membentuk hubungan keluarga yang kokoh, adaptif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.
Falsafah Dan Hikmah Larangn Riba: Problematika Mekanisme Dan Solusi Implementasi Di Era Modern Aswidia Agustin; Fera Zabira Zahra; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/jh660t47

Abstract

Usury is an economic practice expressly prohibited in Islamic teachings because it contradicts the principles of justice and social welfare. This prohibition is not merely normative-dogmatic, but also has a strong philosophical basis, particularly in maintaining the balance of economic relations between individuals and preventing the exploitation of the vulnerable. Essentially, usury is viewed as the taking of profit without risk and fair effort, thus potentially creating structural inequality in the distribution of wealth. The mechanism of usury, particularly in an interest-based system, tends to benefit capital owners and oppress borrowers, ultimately widening social disparities and weakening economic solidarity. This study uses a descriptive qualitative research method with a literature study approach, examining various sources such as interpretations of the Qur'an, the Prophet's hadith, classical and contemporary fiqh literature, scientific journal articles, and modern economic regulations. The results show that the prohibition of usury contains fundamental values ​​such as justice, balance, social responsibility, and protection of vulnerable groups. These values ​​emphasize that Islam does not reject economic activity but directs its practice towards the common good. However, implementing the prohibition on usury in the modern era faces significant challenges, particularly the dominance of the interest-based financial system and low levels of Islamic financial literacy in society. Therefore, solutions offered include strengthening Islamic financial education and literacy, optimizing Islamic financial instruments such as mudharabah, musyarakah, and murabahah, and actively engaging the government, academics, and religious scholars in outreach. With the support of innovative and adaptive Islamic financial systems, the prohibition on usury remains relevant and applicable in addressing the economic needs of modern society. Abstrak Riba merupakan praktik ekonomi yang secara tegas dilarang dalam ajaran Islam karena bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemaslahatan sosial. Larangan ini tidak hanya bersifat normatif-dogmatis, tetapi memiliki landasan filosofis yang kuat, terutama dalam menjaga keseimbangan hubungan ekonomi antarindividu dan mencegah eksploitasi pihak yang lemah. Secara hakikat, riba dipandang sebagai pengambilan keuntungan tanpa risiko dan usaha yang adil, sehingga berpotensi menimbulkan ketimpangan struktural dalam distribusi kekayaan. Mekanisme riba, khususnya dalam sistem berbasis bunga, cenderung menguntungkan pemilik modal dan menekan pihak peminjam, yang pada akhirnya memperlebar kesenjangan sosial dan melemahkan solidaritas ekonomi. Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka, menelaah berbagai sumber seperti tafsir Al-Qur’an, hadis Nabi, literatur fiqh klasik dan kontemporer, artikel jurnal ilmiah, serta regulasi ekonomi modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa larangan riba mengandung nilai-nilai fundamental berupa keadilan, keseimbangan, tanggung jawab sosial, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Nilai-nilai ini menegaskan bahwa Islam tidak menolak aktivitas ekonomi, tetapi mengarahkan praktiknya agar berorientasi pada kemanfaatan bersama. Meski demikian, implementasi larangan riba di era modern menghadapi tantangan besar, terutama dominasi sistem keuangan berbasis bunga dan rendahnya literasi keuangan syariah di masyarakat. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan meliputi penguatan edukasi dan literasi keuangan syariah, optimalisasi instrumen keuangan Islam seperti mudharabah, musyarakah, dan murabahah, serta peran aktif pemerintah, akademisi, dan ulama dalam sosialisasi. Dengan dukungan inovasi sistem keuangan syariah yang adaptif, larangan riba tetap relevan dan aplikatif dalam menjawab kebutuhan ekonomi masyarakat modern
Filosofi Keadilan dalam Pembagian Warisan Ditinjau dari Perspektif Hukum Islam dan Implikasinya terhadap Keharmonisan Keluarga Edelia Triasty; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/8sfvjf82

Abstract

The division of inheritance in Islamic law often becomes a source of family conflict in Indonesia, particularly concerning perceptions of justice in the 2:1 ratio between male and female heirs. This study aims to analyze the philosophy of justice in Islamic inheritance law, evaluate its impact on family harmony, and identify factors influencing the realization of justice. The research employs a normative juridical method with philosophical and sociological approaches. From 250 literatures identified via Google Scholar, DOAJ, and university repositories (2020-2025), 78 articles met the criteria and were analyzed using content analysis based on maqasid sharia theory. Additionally, 8 Religious Court rulings from 2020-2024 were analyzed. Results indicate that the philosophy of Islamic justice is substantive-proportional, considering socio-economic responsibilities rather than formal-mathematical calculations. Implementing justice through deliberation, wajibah wills, and mediation significantly improves family harmony (positive correlation in 85% of cases analyzed). Determinant factors include legal literacy, mediator roles, socio-economic conditions, ijtihad flexibility, and integration of local values. This research contributes to harmonizing legal pluralism in Indonesia and offers a practical framework for judges, mediators, and policymakers. Abstrak Pembagian warisan dalam hukum Islam seringkali menjadi sumber konflik keluarga di Indonesia, khususnya terkait persepsi keadilan dalam rasio 2:1 antara ahli waris laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis filosofi keadilan dalam hukum waris Islam, mengevaluasi dampaknya terhadap keharmonisan keluarga, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terwujudnya keadilan. Metode penelitian menggunakan yuridis normatif dengan pendekatan filosofis dan sosiologis. Dari 250 literatur yang teridentifikasi melalui Google Scholar, DOAJ, dan repositori universitas (periode 2020-2025), 78 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan content analysis berbasis teori maqasid syariah. Analisis juga dilakukan terhadap 8 putusan Pengadilan Agama periode 2020-2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filosofi keadilan Islam bersifat substantif-proporsional dengan mempertimbangkan tanggung jawab sosial-ekonomi, bukan formal-matematis. Penerapan keadilan melalui musyawarah, wasiat wajibah, dan mediasi terbukti meningkatkan keharmonisan keluarga (korelasi positif pada 85% kasus yang dianalisis). Faktor determinan meliputi literasi hukum, peran mediator, kondisi sosio-ekonomi, fleksibilitas ijtihad, dan integrasi nilai lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada harmonisasi pluralisme hukum di Indonesia dan menawarkan framework praktis bagi hakim, mediator, dan pembuat kebijakan.  
Perluasan Peran TNI Terhadap Penguatan Ketahanan Pangan Perspektif Siyasyah Syariyyah Saprian Taga Leo; Kurniati
Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam
Publisher : Al-Istinbath : Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/rsgyhg33

Abstract

Food security is a fundamental pillar in maintaining national stability and public welfare. In the context of increasingly complex non-military threats, the involvement of the Indonesian National Armed Forces (TNI) in strengthening food security has become part of the state’s strategy to ensure sustainable food availability. This study aims to analyze the expansion of the TNI’s role in strengthening national food security from the perspective of siyasah syariyyah, particularly through the principles of maslahah mursalah and Islamic governance. This research employs a qualitative method with a library research approach by examining Islamic normative sources, statutory regulations, and relevant scholarly literature. The findings indicate that the involvement of the TNI in food security strengthening is religiously justifiable as long as it is oriented toward public welfare, does not contradict the objectives of Islamic law (maqashid al-shariah), and is implemented proportionally under civilian authority. Therefore, the expanded role of the TNI has strategic relevance in supporting national food security while remaining within its authority and the principles of justice in siyasah syariyyah. Abstrak Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas nasional dan kesejahteraan masyarakat. Dalam perkembangan ancaman nonmiliter yang semakin kompleks, keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam mendukung penguatan ketahanan pangan menjadi bagian dari strategi negara untuk menjamin ketersediaan pangan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perluasan peran TNI dalam penguatan ketahanan pangan nasional ditinjau dari perspektif siyasah syariyyah, khususnya melalui prinsip maslahah mursalah dan tata kelola kekuasaan dalam Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), melalui analisis terhadap sumber- sumber normatif Islam, peraturan perundang-undangan, serta literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan TNI dalam penguatan ketahanan pangan dapat dibenarkan secara syar’i apabila berorientasi pada kemaslahatan umum, tidak bertentangan dengan maqashid al-syariah, serta dijalankan secara proporsional dan berada di bawah otoritas sipil. Dengan demikian, perluasan peran TNI memiliki relevansi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional selama tetap berada dalam batas kewenangan dan prinsip keadilan dalam siyasah syariyyah.