cover
Contact Name
LAILATUL BADRIYAH
Contact Email
lailatulbadriyah0409@gmail.com
Phone
+6281215411992
Journal Mail Official
istisyfa@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Editorial Address
Jl. Raden Fatah Selebar Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Journal of Islamic Guidance and Counseling
ISSN : -     EISSN : 30472717     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/istisyfa
Jurnal Istisyfa spesialisasi dalam Bimbingan dan Konseling Islam, dimaksudkan untuk memberikan sarana diskusi dan mengkomunikasikan penelitian orisinal dan isu-isu relevan. Jurnal ini menerbitkan artikel penelitian yang mencakup seluruh aspek konseling, Psikologi, Bimbingan, Kesehatan Mental, Psikoterapi yang masuk dalam konteks Islam.
Articles 103 Documents
Penjelasan tentang Hubb an-Nafs dengan Bentuk Dakwah Bil Lisan pada Mahasiswa yang Merasa Kurang Percaya Diri di Bengkulu Ersa Nur Khasanah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9920

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpercayaan diri pada mahasiswa melalui pendekatan kualitatif berbasis wawancara mendalam. Ketidakpercayaan diri menjadi salah satu isu psikologis yang banyak dialami mahasiswa, terutama ketika mereka berada dalam fase perkembangan yang menuntut penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial, budaya, dan akademik. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga informan yang pernah mengalami ketidakpercayaan diri secara signifikan. Data dianalisis menggunakan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan pemetaan tema-tema utama yang lebih sistematis dan komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan diri pada mahasiswa dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu faktor fisik, sosial, dan psikologis. Faktor fisik, seperti persepsi negatif terhadap warna kulit dan bentuk tubuh, menjadi pemicu awal terbentuknya rasa minder. Faktor sosial berupa bullying, komentar merendahkan, dan perbandingan sosial memperburuk kondisi psikologis mahasiswa dengan menciptakan tekanan interpersonal yang berulang. Sementara itu, faktor psikologis terkait internalisasi komentar negatif dan kecenderungan memikirkan pandangan orang lain menyebabkan munculnya kecemasan sosial dan perilaku menghindar. Dampak dari ketidakpercayaan diri terlihat pada menurunnya partisipasi dalam aktivitas akademik, terbatasnya kemampuan tampil, serta perasaan stagnan dalam perkembangan diri. Penelitian ini juga menyoroti bahwa pendekatan psiko-spiritual melalui integrasi nilai Hubb an-Nafs dan dakwah bil lisan berpotensi membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri yang lebih sehat melalui proses penerimaan diri, penguatan nilai diri, dan komunikasi empatik. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi yang holistik, mencakup aspek fisik, sosial, dan spiritual, untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Mengurangi Judi Online Pada Remaja Melalui Pemahaman QS-Al Baqarah 219 Wafis Marsella
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.9921

Abstract

ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan remaja dalamjudi online serta peran agama dan niat internal dalam proses penghentian perilakutersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan Penelitian kualitatif dengan teknikwawancara mendalam, kemudian dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh teman merupakan pemicu utama inisiasi judi online, sebagaimana informan mengungkapkan bahwa mereka tergoda bermain setelah melihat teman mengalami kemenangan. Kemenangan awal kemudian menciptakan penguatan perilaku (reward loop) yang mendorong remaja untuk terus berjudi meskipun mengalami kerugian. Kemudahan akses teknologi, seperti smartphone dan dompet digital, mempercepat siklus perjudian dan meningkatkan impulsivitas. Dampak yang muncul tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga keretakan hubungan keluarga, hilangnya kepercayaan, serta tekanan psikologis yang memperburuk kecanduan. Penelitian juga menemukan bahwa aktivitas keagamaan dapat mengurangi intensitas berjudi melalui pembatasan waktu dan perilaku, namun agama tidak berfungsi efektif tanpa dukungan niat internal yang kuat. Informan menegaskan bahwa kemampuan berhenti sepenuhnya bergantung pada kesadaran dan tekad pribadi. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku judi online pada remaja merupakan hasil interaksi faktor sosial, psikologis, dan spiritual, serta memerlukan intervensi yang holistik untuk pencegahan maupun penanganannya. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pendidik, keluarga, dan lembaga terkait dalam merancang program pendampingan remaja yang berfokus pada regulasi diri, literasi digital, dan spiritualitas. 
Pola Interaksi Sosial, Strategi Pembelajaran dan Pola Makan Anak Tunarungu: Analisis Kualitatif pada Siswa di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Duta Berlian; Nur Fitri Ananda; Meisheya Bella; Mardiana Mardiana
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola interaksi sosial, strategi pembelajaran, danpola makan anak tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu. Pendekatan kualitatifdeskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadapwali kelas serta observasi ringan terhadap perilaku peserta didik. Hasil penelitian menunjukkanbahwa program Makanan Bergizi (MBG) memberikan dampak positif terhadap perubahan polakonsumsi anak tunarungu, ditandai dengan menurunnya kebiasaan membeli jajanan tidaksehat di sekolah. Dalam aspek sosial-emosional, anak tunarungu memperlihatkan karakteristikkompetitif, kecenderungan mengalami kesalahpahaman komunikasi, dan keterikatan sosial yangkuat dengan teman sesama tunarungu. Keterbatasan dalam memahami bahasa verbal seringmemicu konflik, namun pada situasi nonkompetitif mereka menunjukkan empati dan kemauanmembantu teman sejawat. Pada aspek strategi pembelajaran, anak tunarungu memerlukanpendekatan multisensori, penggunaan media visual, objek konkret, bahasa isyarat, sertagerakan mulut agar mampu memahami materi secara optimal. Selain itu, sebagian anak masihmemiliki hambatan dalam kemampuan menulis dan memahami konsep abstrak. Faktorpenyebab ketunarunguan baik prenatal maupun postnatal turut memengaruhi dinamika sosial,komunikasi, dan emosi anak. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan metodepembelajaran visual, peningkatan kompetensi guru dalam bahasa isyarat, dukungan emosionaldi sekolah, serta kolaborasi intensif dengan orang tua untuk membangun pola pembelajarandan kebiasaan makan yang konsisten bagi anak tunarungu.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Pada Anak Melalui Permainan Tebak-Tebakan Surah Pendek Anggi Yulita Handayani
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9918

Abstract

Kepercayaan Diri, Kecemasan Kinerja, Motivasi Intrinsik, Muraja'ah, Dukungan Sebaya. Penelitian kualitatif ini bertujuan menganalisis dinamika psikologis, mekanisme koping, dan pergeseran motivasi pada anak-anak (usia 10–12 tahun) yang berpartisipasi dalam kegiatan kinerja publik keagamaan (tebak-tebakan surah pendek acak). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan kerangka teori psikologi kinerja dan motivasi, termasuk Self-Efficacy Theory dan Performance Anxiety. Hasil menunjukkan bahwa partisipasi siswa didorong oleh motivasi ekstrinsik (hadiah), meskipun disertai dengan kecemasan antisipatif yang signifikan (gugup dan takut salah). Kecemasan ini berhasil dimediasi oleh dua strategi koping utama: 1) Ritual Kognitif, yaitu praktik muraja'ah (pengulangan hafalan) mental yang berfungsi meregulasi emosi dan meningkatkan kontrol diri; dan 2) Dukungan Sosial Sebaya, yang bertindak sebagai penyangga terhadap ketakutan akan penilaian sosial negatif. Keberhasilan dalam kinerja memicu internalisasi nilai dan rasa kompetensi yang kuat (self-competence), menggeser orientasi tujuan siswa dari sekadar imbalan menuju komitmen jangka panjang terhadap penguasaan materi (mastery goal orientation). Disimpulkan bahwa kegiatan tebak-tebakan surah pendek berfungsi sebagai katalisator self-efficacy yang efektif, berhasil mengubah kecemasan menjadi pendorong aksi, dan meningkatkan kepercayaan diri serta komitmen belajar yang berkelanjutan.
Pengaruh Intensitas Membaca Al-Quran Terhadap Kecerdasan Spiritual Santri Pondok Pesantren Al-Huda Kota Bengkulu Devitamahardilla Devita mahardilla
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.8476

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar pengaruh intensitasmembaca AL-Quran terhadap kecerdasan spiritual santri pondok pesantren Al-Huda Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatifdengan jenis penelitian Korelasi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 116santri. Jenis pengumpulan data dalam penelitian ini mengunakan angket skalalikert dengan media gogke from sebanyak 37 pernyataan dari variabel kecerdasanspiritual dan 14 pernyataan dari variabel intensitas membaca Al-Quran. Adapunteknik analisis yang digunakan yaitu uji deskriptif, uji kualitas data, uji aumsiklasik dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkanintensitas membaca Al-Quran berpengaruh signifikan terhadap kecerdasanspiritual santri pondok pesantren Al-Huda Kota Bengkulu. Besar pengaruhintensitas membaca Al-Quran berpengaruh signifikan terhadap kecerdasanspiritual mencapai 83,1 %, dengan demikian terdapat 16,9 % variabel lain selainIntensitas Membaca Al-Quran yang tidak terukur dalam penelitian yangmemberikan perubahan terhadap variabel Kecerdasan Spiritual.
Motivasi dalam Al-Qur’an dan Hadis dalam Mengatasi Ketidakpercayaan Diri Pada Remaja Septin Padilah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.9909

Abstract

Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana motivasi dari Al-Qur’an dan hadis berperan dalam mengatasi ketidakpercayaan diri pada remaja. Fenomena ketidakpercayaan diri muncul dari tekanan sosial, perbandingan kemampuan, serta persepsi negatif terhadap penampilan dan performa akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, melibatkan tiga informan yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan pengalaman langsung dan kesediaan memberikan data secara mendalam. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi sebagai bentuk triangulasi teknik untuk memastikan keabsahan informasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa coping religius menjadi mekanisme utama yang digunakan remaja untuk mengurangi rasa cemas, membangun makna positif, serta meningkatkan keberanian menghadapi situasi yang menimbulkan rasa tidak percaya diri. Informan memanfaatkan ayat-ayat seperti Surah Al-Insyirah ayat 5–6 dan hadis tentang kesempurnaan ciptaan Tuhan sebagai sumber kekuatan spiritual yang menenangkan sekaligus memotivasi tindakan adaptif. Selain itu, dukungan sosial dari keluarga dan teman turut memperkuat proses coping religius dengan memberikan keyakinan, validasi, dan dorongan emosional yang membantu remaja bangkit dari perasaan insecure. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi antara pemaknaan religius, dukungan sosial, dan usaha peningkatan keterampilan merupakan fondasi komprehensif dalam mengatasi ketidakpercayaan diri pada remaja. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis mengenai peran spiritualitas dalam perkembangan psikologis remaja serta implikasi praktis bagi pengembangan program bimbingan dan pendampingan berperspektif nilai-nilai Islam.
Analisis Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Pendampingan Keluarga di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Selly Dwi Mayang Sari; Vera Chintia Bela; Ridia Desnika; Tara Utami
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9823

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan anak berkebutuhan khusus (ABK) melaluipola pendampingan keluarga di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Bengkulu. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian melibatkan dua subjek anak (OC dan MR) yang dipilih melalui teknik purposive, dengan data diperoleh melalui wawancara mendalam bersama orang tua dan observasi ringan di lingkungan keluarga. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga menjadi pusat pendampingan utama bagi kedua anak, terutama dalam pengawasan, pengaturan rutinitas harian, serta pemenuhan kebutuhan dasar yang belum dapat dilakukan secara mandiri. Riwayat medis dan jenis intervensi yang diterima kedua anak berbeda dan dipengaruhi oleh faktor budaya, akses kesehatan, serta kepercayaan keluarga, sehingga menghasilkan variasi perkembangan motorik, bahasa, dan kemandirian. Selain itu, lingkungan sosial memberikan peran signifikan melalui dukungan tetangga dan partisipasi anak dalam kegiatan masyarakat yang mampu meningkatkan kemampuan sosial dan rasa percaya diri. Namun persepsi sekolah, terutama terkait kemampuan kognitif, turut memengaruhi harapan dan keputusan keluarga dalam memberikan stimulasi lanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendampingan keluarga merupakan elemen kunci dalam perkembangan ABK, sehingga diperlukan pendekatan kolaboratif antara keluarga, sekolah, dan komunitas untuk menciptakan intervensi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan.
Peran Sholat dan Dzikir dalam Menumbuhkan Rasa Tenang pada Anak Yatim Lili Sartika Putri
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna subjektif remaja Muslim terhadap peran sholat dan zikir dalam kehidupan emosional mereka. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya praktik religius sebagai mekanisme koping dalam menghadapi tekanan psikologis pada masa remaja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara mendalam kepada tiga informan, kemudian dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sholat dan zikir dipahami sebagai kewajiban spiritual sekaligus sarana pengatur emosi yang efektif. Informan menyatakan bahwa mereka merasa gelisah ketika belum melaksanakan sholat, sebagaimana tercermin dalam ungkapan . Selain itu, waktu tertentu seperti subuh dan maghrib memberikan pengalaman ketenangan lebih mendalam karena dipengaruhi suasana lingkungan. Proses internalisasi nilai religius dimulai sejak masa kanak-kanak melalui peran orang tua atau pengasuh, sehingga membentuk kebiasaan ibadah yang stabil hingga remaja. Penelitian juga menemukan bahwa emosi moral seperti rasa bersalah dan takut hukuman menjadi pendorong penting bagi konsistensi praktik keagamaan. Secara keseluruhan, sholat dan zikir berfungsi sebagai mekanisme koping religius, regulator moral, dan penopang kesejahteraan emosional remaja. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap literatur mengenai religiusitas dan kesehatan mental, serta membuka ruang untuk pengembangan intervensi berbasis spiritualbagi remaja
Manfaat dari Berdoa dan Bersyukur dalam Kesehatan Mental Naisyla Rahmadiah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.9912

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna, pengalaman, serta dampak praktik berdoa dan bersyukur terhadap kesehatan mental mahasiswa dalam konteks akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menemukan pola makna dan kategori tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memaknai doa sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan yang memberikan rasa aman, pengharapan, serta menjadi sarana coping ketika menghadapi tekanan akademik; sebagaimana diungkapkan partisipan “berdoa membuat hati lebih tenang dan menurunkan rasa cemas.” Sementara itu, rasa syukur dipahami sebagai bentuk refleksi diri dan apresiasi atas apa yang dimiliki, seperti pernyataan informan bahwa bersyukur berarti “menghargai apa yang sudah dimiliki.” Praktik berdoa dan bersyukur dilakukan terutama sebelum ujian, ketika menghadapi tugas sulit, dan saat mengalami tekanan emosional. Penelitian menyimpulkan bahwa doa dan rasa syukur berperan sebagai mekanisme spiritual coping dan self-regulation yang berdampak positif terhadap ketenangan emosional, optimisme, dan kesejahteraan mental mahasiswa. Dengan demikian, praktik ini memiliki potensi dikembangkan sebagai pendekatan pendukung kesehatan mental berbasis spiritual yang bersifat sukarela dan inklusif dalam lingkungan pendidikan tinggi.
Potret Kehidupan Sosial dan Aktivitas Sehari-hari Remaja Tunagrahita: Studi Kasus pada DM di Lingkar Barat Bengkulu Nessa Ramadhani; Fixel Khairunaisa; Hedi Olivia Puspita; Hanif Abdur Rasyid
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9790

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran komprehensif mengenai kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari seorang remaja tunagrahita berinisial DM yang tinggal di Lingkar Barat Bengkulu. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana kondisi kesehatan, pengalaman pendidikan, pola interaksi sosial, serta aktivitas ekonomi DM saling berhubungan dalam membentuk proses adaptasi dan kemandiriannya. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan DM dan keluarganya, observasi terhadap rutinitas harian, serta dokumentasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kesehatan DM yakni riwayat kejang sejak lahir dan adanya bekas operasi di bagian kepala memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan dan fungsi sosialnya. DM sempat menghentikan pendidikan pada kelas lima sekolah dasar akibat meningkatnya frekuensi kejang, dan kondisi tersebut turut mempengaruhi ruang gerak serta aktivitas sosialnya hingga masa remaja. Di sisi lain, aktivitas ekonomi berupa berjualan gorengan keliling menunjukkan adanya kemampuan adaptasi dan kemandirian fungsional DM. Aktivitas ini tidak hanya menjadi bentuk kontribusi ekonomi bagi keluarga, tetapi juga menjadi sarana bagi DM dalam melatih tanggung jawab, keterampilan komunikasi dasar, dan penyesuaian diri dalam lingkungan sosial. Dukungan keluarga, terutama dari ayah dan ibunya, menjadi faktor yang paling menentukan dalam proses adaptasi DM. Dukungan tersebut mencakup penyediaan fasilitas seperti kendaraan untuk berjualan, pengawasan kesehatan secara ketat, hingga dorongan emosional yang membantu DM tetap stabil secara psikologis. Namun demikian, penelitian juga menemukan bahwa DM menghadapi berbagai tantangan sosial, seperti keterbatasan interaksi dengan teman sebaya dan pengalaman menjadi sasaran ejekan. Kondisi ini membuat ruang sosial DM cenderung sempit dan kurang mendukung pembentukan identitas sosial yang positif. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur dan aktivitas berjualan hingga larut malam menimbulkan risiko bagi kesejahteraan fisiknya. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kehidupan seorang remaja tunagrahita tidak terlepas dari pengaruh kuat aspek kesehatan, dukungan keluarga, dan lingkungan sosial. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya intervensi, pendampingan, serta program pemberdayaan remaja tunagrahita di tingkat komunitas. 

Page 9 of 11 | Total Record : 103