cover
Contact Name
LAILATUL BADRIYAH
Contact Email
lailatulbadriyah0409@gmail.com
Phone
+6281215411992
Journal Mail Official
istisyfa@mail.uinfasbengkulu.ac.id
Editorial Address
Jl. Raden Fatah Selebar Kota Bengkulu
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Journal of Islamic Guidance and Counseling
ISSN : -     EISSN : 30472717     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/istisyfa
Jurnal Istisyfa spesialisasi dalam Bimbingan dan Konseling Islam, dimaksudkan untuk memberikan sarana diskusi dan mengkomunikasikan penelitian orisinal dan isu-isu relevan. Jurnal ini menerbitkan artikel penelitian yang mencakup seluruh aspek konseling, Psikologi, Bimbingan, Kesehatan Mental, Psikoterapi yang masuk dalam konteks Islam.
Articles 103 Documents
Upaya Mencegah Perilaku Kecanduan Minuman Keras Pada Remaja di Kota Bengkulu Ozi Rahmadani
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9925

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pencegahan perilaku kecanduan minuman keras pada remaja di Kota Bengkulu dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan yang dipilih secara purposif, kemudian dianalisis menggunakan teknik open coding, axial coding, dan selective coding untuk menemukan pola, kategori, dan tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencegahan kecanduan minuman keras pada remaja ditentukan oleh lima komponen utama, yaitu peran keluarga, religiusitas, lingkungan pergaulan, edukasi, dan dukungan kebijakan. Keluarga terbukti menjadi faktor protektif paling signifikan melalui pengawasan, pembatasan jam keluar, dan pengarahan dalam memilih teman. Religiusitas berperan sebagai kontrol internal yang membantu remaja menahan diri dari perilaku menyimpang, meskipun efektivitasnya dipengaruhi oleh tingkat pemahaman agama yang masih beragam. Faktor risiko terbesar ditemukan pada tekanan teman sebaya yang dapat mendorong remaja untuk mencoba minuman keras, sehingga memerlukan intervensi berbasis kelompok. Selain itu, edukasi yang disampaikan secara kontekstual pada momen yang tepat dan menggunakan narasi kesehatan dinilai lebih efektif dibandingkan metode ceramah konvensional. Pembinaan yang bersifat merangkul remaja yang telah terlibat perilaku berisiko juga menjadi strategi penting untuk mencegah keterlibatan lebih lanjut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya pencegahan kecanduan minuman keras pada remaja harus dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, serta kebijakan pemerintah yang mendukung, sehingga tercipta lingkungan sosial yang sehat, aman, dan berkelanjutan bagi perkembangan remaja.
Penjelasan Dakwah Ustadzah Oki “Remaja Membangun Peradaban Islam” Sebagai Dasar Strategi Psikologi Emosional Dakwah Bagi Generasi Z Lidia Yati Sofiana
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9915

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi Generasi Z dalam menjaga akhlak di era digital yang sarat tantangan moral akibat derasnya arus informasi dan paparan media sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dengan tiga informan perempuan Generasi Z, data dianalisis menggunakan open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan akhlak pada Generasi Z merupakan proses multidimensional yang melibatkan integrasi faktor emosional, spiritual, sosial, dan digital. Regulasi emosi muncul sebagai fondasi utama, ditunjukkan oleh kemampuan informan mengelola emosi, mengenali pemicu emosional, serta melakukan refleksi diri. Spiritualitas dan praktik keagamaan—terutama konsumsi konten dakwah, ibadah, doa, dan perbaikan niat—berfungsi sebagai mekanisme religious coping dalam menjaga stabilitas moral ketika menghadapi tekanan digital maupun sosial. Selain itu, literasi digital terbukti menjadi benteng protektif, di mana para informan secara selektif memilah konten positif dan menolak konten yang berpotensi merusak akhlak. Lingkungan sosial juga memainkan peran penting melalui pemilihan pertemanan yang mendukung, penerapan batasan sosial, serta upaya memperbaiki relasi interpersonal ketika terjadi kesalahan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z menjaga akhlak melalui kombinasi kesadaran emosional, penguatan spiritual, kecerdasan digital, dan manajemen relasi sosial. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan pembinaan akhlak yang komprehensif, adaptif, serta responsif terhadap dinamika kehidupan remaja modern di tengah perkembangan teknologi digital yang cepat.
Pemahaman Religiusitas Shalat Jamak Dan Qasar Pada Mahasiswa Perantau Viona Medwianti
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.10357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman dan praktik mahasiswa terkait rukhsah shalat, khususnya pelaksanaan shalat jamak dan qasar dalam konteks kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory, yang meliputi tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap empat informan, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi pemahaman konseptual serta dasar praktik rukhsah yang mereka lakukan. Temuan menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa memiliki pemahaman yang baik mengenai definisi dan ketentuan rukhsah. Namun demikian, sebagian mahasiswa lainnya memiliki pemahaman yang lebih terbatas dan hanya menggambarkan rukhsah sebagai memperpendek shalat tanpa memahami ketentuan fiqh yang mendasarinya. Selain pemahaman teoritis, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa praktik rukhsah mahasiswa lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman situasional. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa rukhsah digunakan mahasiswa sebagai strategi adaptif dalam menghadapi tantangan mobilitas dan aktivitas yang dinamis, meskipun penerapannya belum sepenuhnya selaras dengan ketentuan syariat. Penelitian merekomendasikan perlunya pembinaan fiqh praktis yang lebih aplikatif serta edukasi keagamaan yang kontekstual agar pemahaman dan praktik rukhsah dapat dilaksanakan secara tepat.
Perkembangan dan Dukungan Lingkungan terhadap Anak Autis di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Nabila Zahira; Fredela Nesyah; Dhea Aulia; Ramadhan Saputra
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9799

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan anak denganspektrum autisme serta bentuk dukungan lingkungan keluarga dan sekolah dalam konteks pembelajaran di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan seorang anak dengan diagnosis autisme sebagai subjek utama serta orang tua dan guru pendamping sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi perilaku, serta dokumen sekolah yang berkaitan dengan perkembangan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riwayat medis berupa demam tinggi dan kejang berulang sejak masa balita memberikan dampak signifikan terhadap keterlambatan perkembangan, terutama dalam kemampuan bicara dan motorik. Rutinitas harian yang terstruktur, mulai dari aktivitas pagi, olahraga, makan, istirahat, hingga kegiatan religius seperti mengaji dan sholat, terbukti membantu regulasi perilaku dan kestabilan emosi anak. Pada aspek kemandirian, anak menunjukkan perkembangan positif melalui kemampuan bina diri seperti menjaga kebersihan, membuang sampah, bermain sepeda, hingga mengelola preferensi makan dengan baik. Namun demikian, kemampuan interaksi sosial masih terbatas, ditandai dengan kecenderungan bermain sendiri dan menggunakan komunikasi berbasis isyarat di kelas tunawicara. Dukungan keluarga berperan penting melalui pendampingan belajar, pemberian motivasi, dan penguatan emosional, sementara sekolah memberikan stimulus perkembangan melalui strategi pembelajaran adaptif, pemberian reward, serta penciptaan lingkungan belajar yang ramah anak autis. Temuan ini menegaskan bahwa perkembangan anak autis sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, pola asuh keluarga, dan intervensi sekolah. Oleh karena itu, sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan sekitar menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas perkembangan anak autis di SLB, baik dalam aspek akademik, sosial, maupun kemandirian.
Akhak Dan Kejujuran Mahasiswa Perantau Valentina Ramadhany
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9936

Abstract

Mahasiswa perantau menghadapi perubahan lingkungan sosial, ekonomi,       dan psikologis yang signifikan ketika tinggal jauh dari keluarga. Salah satu aspek moral yang paling diuji dalam kondisi tersebut adalah kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kejujuran mahasiswa perantau, faktor yang memengaruhinya, serta strategi yang digunakan untuk mempertahankan kejujuran dalam berbagai situasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga informan perempuan berusia 19–21 tahun yang tinggal di kos dan berstatus sebagai mahasiswa perantau. Data dianalisis melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk menghasilkan tema-tema utama yang merepresentasikan pengalaman informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau muncul dalam tindakan konkret sehari-hari, seperti membayar sesuai jumlah belanja, mengembalikan barang pinjaman, serta transparansi dalam penggunaan uang kepada orang tua. Namun, kondisi perantauan juga menghadirkan tantangan moral, seperti rasa lebih bebas untuk berbohong karena ketiadaan pengawasan, tekanan finansial, dan pengaruh teman sebaya. Dalam menghadapi tantangan tersebut, mahasiswa menerapkan strategi pengaturan diri, misalnya menjatah pengeluaran harian, berdiskusi dengan teman dekat, dan meningkatkan kesadaran terhadap konsekuensi perilaku. Kejujuran juga diperkuat oleh pengalaman emosional, seperti rasa senang setelah bersikap jujur dan rasa kapok akibat dihukum saat ketahuan berbohong. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejujuran mahasiswa perantau merupakan hasil interaksi antara nilai moral, self-regulation, pengaruh sosial, dan pengalaman emosional. Kejujuran berfungsi sebagai kemampuan adaptif yang membantu mahasiswa mempertahankan hubungan sosial, mengelola keuangan, dan membangun kepercayaan dalam kehidupan perantauan. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan program pendidikan karakter, literasi finansial, serta dukungan lingkungan sosial di perguruan tinggi. Temuan ini juga membuka ruang untuk penelitian lanjutan dengan cakupan informan yang lebih beragam dan pendekatan metodologis yang lebih luas 
Dinamika Hardiness pada Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus di Kecamatan Air Periukan Kabupaten Seluma Jelly Furnama Sari
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.8889

Abstract

Hardiness merupakan aspek penting dalam menghadapi tekanan dan tantangan hidup, terutama bagi ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika ketahanan psikologis pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para ibu menghadapi berbagai tantangan, baik secara emosional, psikologis, sosial, maupun ekonomi. Mereka mengalami tekanan batin, kecemasan, stigma sosial, dan keterbatasan finansial dalam pengasuhan anak. Meskipun demikian, para ibu menunjukkan ketahanan psikologis yang tinggi yang mencerminkan karakteristik hardiness, yaitu komitmen, kontrol, dan tantangan. Komitmen terlihat dalam sikap tanggung jawab dan keteguhan hati dalam merawat anak. Kontrol tercermin dalam kemampuan mengelola stres dan mengambil keputusan secara bijak. Sementara itu, aspek tantangan terlihat dari cara mereka memaknai kesulitan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan. Ketahanan psikologis ini dipengaruhi oleh strategi coping yang adaptif, tingkat religiusitas yang tinggi, serta dukungan sosial yang memadai. Ibu yang mampu mengakses dan memanfaatkan ketiga faktor ini cenderung lebih tangguh dalam menghadapi kondisi anak berkebutuhan khusus. Temuan ini menunjukkan bahwa hardiness berperan penting dalam memperkuat peran ibu dan meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menjalani tanggung jawab pengasuhan.
Integrasi pola perilaku, kemandirian, dan Dukungan keluarga dalam pendampingan Anak Autis di sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Tiara Tiara Amelia; Ridho Aji Pangestu
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9793

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam integrasi pola perilaku, tingkat kemandirian, dan bentuk dukungan keluarga dalam pendampingan anak autis, khususnya melalui perspektif konseling Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain deskriptif, penelitian ini melibatkan ibu dari seorang anak autis berusia tujuh tahun bernama Seyna sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, yang diperkuat dengan proses open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seyna memiliki pola perilaku hiperaktif yang muncul sejak usia satu tahun serta menunjukkan kesulitan dalam regulasi perilaku baik di rumah maupun sekolah. Tingkat kemandirian Seyna masih rendah, terutama pada aktivitas perawatan diri seperti bangun pagi, mandi, dan menjalankan rutinitas harian yang masih memerlukan bantuan intensif dari ibu. Selain itu, ditemukan pola makan selektif yang berkaitan erat dengan sensitivitas sensorik, ditandai dengan preferensi kuat terhadap makanan pedas serta penolakan terhadap sayur dan beberapa jenis makanan tertentu. Temuan juga menunjukkan bahwa dukungan keluarga, khususnya ibu, memainkan peran sentral dalam proses pendampingan melalui sikap penerimaan, keikhlasan, dan strategi coping positif yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap seperti “menikmati dan menjalaninya” menjadi bentuk ketabahan emosional yang berpengaruh besar terhadap stabilitas pengasuhan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan perlunya model pendampingan holistik yang mengintegrasikan pemahaman perilaku, pengembangan kemandirian, dan dukungan emosional keluarga. Pendekatan konseling Islam berpotensi menjadi landasan yang memperkuat proses pendampingan melalui nilai sabar, syukur, keteladanan, dan penerimaan, sehingga dapat meningkatkan resiliensi keluarga Muslim dalam menghadapi dinamika pengasuhan anak autis. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan model intervensi yang tidak hanya efektif secara perilaku, tetapi juga bermakna secara spiritual dan psikososial.
Perilaku Sosial Siswa Tunagrahita dan Pengaruh Lingkungan Keluarga di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bengkulu Asti Ananda; Rama Riansyah; Selvi Wulandari; Delia Agustin Fatihatun Nisa
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i3.9808

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku sosial siswa tunagrahita serta pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan sosialnya di SLB Negeri 5 Bengkulu. Anak tunagrahita secara umum memiliki keterbatasan kognitif yang berdampak pada kemampuan bersosialisasi, regulasi emosi, dan pengambilan keputusan, sehingga memerlukan dukungan intensif dari sekolah dan keluarga. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada seorang siswa tunagrahita berusia 13 tahun. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi sekolah, kemudian dianalisis menggunakan teknik grounded theory yang meliputi open coding, axial coding, dan selective coding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sosial siswa dipengaruhi secara signifikan oleh pola asuh, kualitas interaksi keluarga, dukungan emosional orang tua, serta kondisi psikologis orang tua, seperti stres dan depresi. Ketidakkonsistenan dalam pengasuhan dan minimnya pengawasan keluarga berkontribusi pada munculnya perilaku maladaptif seperti merokok dan membolos, meskipun siswa tetap menunjukkan potensi positif seperti kesopanan dan aspirasi akademik. Studi ini menegaskan bahwa kolaborasi antara keluarga dan sekolah, termasuk bimbingan konseling Islam, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku sosial positif pada anak tunagrahita. Pendampingan keluarga, edukasi pola asuh, dan penguatan dukungan sosial menjadi strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan sosial anak secara lebih optimal. AbstractThis study aims to understand the social behavior of students with intellectual disabilities and the influence of the family environment on their social development at SLB Negeri 5 Bengkulu. Students with intellectual disabilities generally have cognitive limitations that affect their ability to socialize, regulate emotions, and make social decisions, thus requiring intensive support from both school and family. This study employed a descriptive qualitative method with a case study approach involving a 13-year-old student with intellectual disabilities. Data were collected through observations, in-depth interviews, and school documentation, then analyzed using grounded theory techniques, including open coding, axial coding, and selective coding. The findings indicate that the student’s social behavior is significantly influenced by parenting patterns, the quality of family interactions, parental emotional support, as well as the psychological condition of parents, such as stress and depression. Inconsistent parenting and limited supervision contribute to the emergence of maladaptive behaviors such as smoking and skipping classes, although the student still shows positive potential, including politeness and academic aspirations. This study highlights that collaboration between family and school, including Islamic counseling guidance, plays an essential role in fostering positive social behavior in students with intellectual disabilities. Family empowerment, parenting education, and strengthening social support are recommended strategies to enhance children’s social abilities more optimally.
Mengembangkan Husnuzon Pada Remaja Agar Terhindar Dari Overthinking Lela Nur Alifah
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i2.9930

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk overthinking yangdialami mahasiswa serta menganalisis strategi coping yang digunakan dalammengatasinya melalui perspektif husnuzon, dukungan sosial, dan praktikreligius. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptifdengan teknik wawancara mendalam terhadap tiga mahasiswa semester tiga.Proses analisis data meliputi tahapan open coding, axial coding, dan selectivecoding untuk menemukan pola, kategori, dan tema utama. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa overthinking mahasiswa umumnya dipicu oleh tekananakademik, seperti tugas yang menumpuk dan batas waktu yang berdekatan, sertafaktor relasional yang berkaitan dengan ketidakpastian komunikasi dandinamika hubungan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, mahasiswa menerapkantiga kelompok strategi coping, yaitu coping sosial, coping pragmatis, dan copingreligius. Coping sosial dilakukan dengan berbagi cerita, meminta dukunganteman, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas sehingga dapat mengurangibeban emosional. Coping pragmatis mencakup upaya mengelola tugas secarabertahap, memprioritaskan pekerjaan, serta meningkatkan kemampuanmanajemen waktu. Sementara itu, coping religius meliputi praktik ibadah sepertisalat, doa, dan zikir yang berfungsi memberikan ketenangan emosional dankeyakinan spiritual. Ketiga bentuk coping tersebut bekerja secara sinergis dalammenurunkan tingkat overthinking dan meningkatkan ketahanan psikologismahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi emosi, dukungansosial, dan manajemen tugas yang efektif merupakan elemen penting dalammembantu mahasiswa menghadapi tekanan akademik dan relasional. Temuanini memberikan implikasi bagi institusi pendidikan untuk mengembangkanprogram pendampingan psikologis, pelatihan manajemen waktu, sertapembinaan religius guna memperkuat kesejahteraan mental mahasiswa.
Perilaku Positif Mahasiswa Melalui Konten Kejujuran Dikalangan Teman Sebaya di UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Nafizah Putri
ISTISYFA: Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 4, No 1 (2025): April
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/istisyfa.v4i1.9938

Abstract

This study aims to examine the meaning of honesty in peer relationships and its impact on interpersonal dynamics. Using a qualitative approach, the research employed in-depth interviews with three informants aged 22–24 years. The findings indicate that honesty is understood as a core moral value that forms the foundation of trust, personal integrity, and a positive social environment. Honesty plays a crucial role in maintaining relationship stability and preventing interpersonal conflict. When dishonesty occurs, individuals’ responses depend on the severity and consequences of the behavior; repeated or harmful dishonesty tends to diminish trust and influence decisions regarding whether to maintain or distance oneself from the relationship. The study also reveals that open communication, consistency between words and actions, and the ability to keep promises serve as primary ways individuals implement and model honesty in daily interactions. Overall, the findings highlight that honesty is an essential element in building and sustaining the quality of peer relationships

Page 10 of 11 | Total Record : 103