cover
Contact Name
Bagaskara Nur Rochmansyah
Contact Email
bagaskaranurrochmansyah@gmail.com
Phone
082119213169
Journal Mail Official
bagaskaranurrochmansyah@gmail.com
Editorial Address
https://jurnal.ppjb-sip.org/index.php/dlrj/about/editorialTeam
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Literature Research Journal (LRJ)
ISSN : -     EISSN : 30217121     DOI : https://doi.org/10.51817/lrj
Core Subject : Education,
Literature Research Journal (3021-7121) is an invaluable international peer-reviewed journal that covers the latest research in stylistics, defined as the study of style in literary and non-literary language, published by Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya with Perkumpulan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKAPROBSI). We publish theoretical, empirical, and experimental research that aims to contribute to our understanding of style and its effects on readers. Topics covered by the journal include (but are not limited to) the following: the stylistic analysis of literary and non-literary texts, cognitive approaches to text comprehension, corpus and computational stylistics, the stylistic investigation of multimodal texts, pedagogical stylistics, the reading process, software development for stylistics, and real-world applications for stylistic analysis. We also encourage interdisciplinary submissions that explore the connections between stylistics and such cognate subjects and disciplines as psychology, literary studies, narratology, computer science and neuroscience. Literature Research Journal is essential reading for academics, teachers and students working in stylistics and related areas of language and literary studies.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2025)" : 9 Documents clear
Representasi Perempuan dan Peran Gender pada Film “Miracle in Cell No. 7” Versi Indonesia Zakiyyatussholiha, Zakiyyatussholiha; Widyaningtyas, Faizah; Zahroh, Anita
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1368

Abstract

Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran gender dan representasi perempuan dalam film “Miracle in Cell No. 7” dalam versi Indonesia dengan menggunakan pendekatan feminisme kultural. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif yang melibatkan analisis isi terhadap narasi emosional dan visual dalam film. Data diperoleh melalui teknik baca dan catat. Data dianalisis menggunakan Miles, Huberman & Saldana dengan kerangka etika kepedulian dari Carol Gilligan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film ini menampilkan karakter perempuan dengan nilai-nilai khas seperti kasih sayang, empati, dan pengorbanan yang menjadi kekuatan moral dalam alur cerita. Tokoh perempuan tidak hanya digambarkan sebagai objek pasif, tetapi sebagai agen moral yang mampu memengaruhi jalannya narasi secara signifikan. Representasi ini memberikan alternatif terhadap pandangan patriarkis yang dominan dalam perfilman Indonesia. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian gender di bidang kajian film, serta memperluas pemahaman tentang pentingnya nilai-nilai feminin dalam membentuk narasi budaya yang berkeadilan. Representation of Women and Gender Roles in the Indonesian Version of the Film ““Miracle in Cell No. 7””The purpose of this study is to describe the role of gender and representation of women in the Indonesian version of the film “Miracle in Cell No. 7” using a cultural feminist approach. This study applies a qualitative descriptive approach involving content analysis. of the emotional and visual narratives in the film. Data were obtained through listening and note-taking techniques, and analyzed using Carol Gilligan's ethics of care framework. The results of the study show that this film presents female characters with distinctive values such as compassion, empathy, and sacrifice which become moral strengths in the storyline. Female characters are not only depicted as passive objects, but as moral agents who are able to significantly influence the course of the narrative. This representation provides an alternative to the dominant patriarchal view in Indonesian films. This study is expected to contribute to the development of gender studies in the field of film studies, as well as broaden understanding of the importance of feminine values in shaping a just cultural narrative.
Konflik Sosial pada Cerita Pendek “Guru” Karya Putu Wijaya: Kajian Sosiologi Sastra Hermawan, Dicki; Fauziah, Widya; Masnu`ah, Siti
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.886

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi konflik sosial yang termanifestasi dalam cerpen "Guru" karya Putu Wijaya menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik analisis data deskriptif. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan sosiologi sastra. Selain itu, dalam menganalisis konflik sosial penelitian ini menggunakan teori Max Weber. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik simak dan catat. Data penelitian berupa kutipan-kutipan teks dari cerpen yang mengandung konflik sosial. Analisis sosiologi sastra cerpen "Guru" menunjukkan adanya empat tema utama yang menggambarkan konflik sosial, yaitu: 1) disorganisasi keluarga, 2) kemiskinan, 3) masalah generasi muda, 4) masalah lingkungan hidup. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa konflik sosial yang meliputi disorganisasi keluarga, kemiskinan, permasalahan generasi muda dalam masyarakat modern, dan masalah lingkungan hidup. Hasil penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, penelitian ini menguatkan validitas pendekatan sosiologi sastra, khususnya dengan teori konflik sosial Max Weber, sebagai lensa analitis untuk mengungkap dimensi sosial dalam karya sastra Indonesia kontemporer. Secara praktis, penelitian ini menawarkan bahan ajar yang kritis bagi pendidikan sastra dan sosial di sekolah, dimana cerpen “Guru” dapat digunakan untuk mendorong diskusi reflektif tentang realitas sosial peserta didik. Dengan demikian, karya sastra tidak hanya menjadi cermin masyarakat, tetapi juga dapat berfungsi sebagai alat edukasi dan advokasi untuk perubahan sosial yang lebih baik. Social Conflict in the Short Story "Guru" by Putu Wijaya: A Study of Literary SociologyThe purpose of this study is to explore the social conflict manifested in the short story "Guru" by Putu Wijaya using a sociology of literature approach. This study uses a descriptive qualitative approach, using descriptive data analysis techniques. In this study, a sociology of literature approach is used. In addition, in analyzing social conflict, this study uses Max Weber's theory. The data collection technique in this study was carried out using the listening and note-taking technique. The research data are in the form of text excerpts from short stories containing social conflict. The sociology of literature analysis of the short story "Guru" shows the existence of four main themes that describe social conflict, namely: 1) family disorganization, 2) poverty, 3) problems of the younger generation, 4) environmental problems. The results of the study reveal that social conflicts include family disorganization, poverty, problems of the younger generation in modern society, and environmental problems. The results of this study have significant implications both theoretically and practically. Theoretically, this study strengthens the validity of the sociology of literature approach, especially with Max Weber's theory of social conflict, as an analytical lens to reveal the social dimensions in contemporary Indonesian literary works. Practically, this research offers critical teaching materials for literary and social studies education in schools, where the short story "Guru" can be used to encourage reflective discussions about students' social realities. Thus, literary works not only reflect society but can also serve as educational and advocacy tools for better social change.
Mitos dalam “Petaka Gunung Gede”: Analisis Semiotika Roland Barthes Atas Jejak Mistis di Balik Cerita Abror, Ali; Lestari, Widia Sri; Octavia, Sisca; Rahmatulloh, Faisal Akbar
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1386

Abstract

Film “Petaka Gunung Gede” menyajikan narasi yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga menyimpan lapisan-lapisan makna yang dapat dikaji secara semiotis. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos dalam film tersebut dengan menggunakan kerangka analisis semiotika Roland Barthes. Pendekatan ini dipilih karena kemampuannya membedah sistem pemaknaan bertingkat, mulai dari penanda nyata hingga ideologi yang tersembunyi di balik representasi visual dan naratif. Data diperoleh melalui metode simak dan catat, kemudian dianalisis secara interpretatif berdasarkan tahapan pemaknaan Barthes. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh tanda signifikan yang tersebar dalam berbagai adegan film. Analisis terhadap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa “Petaka Gunung Gede” tidak sekadar berkisah tentang bencana alam, melainkan juga merefleksikan persoalan sosial, hubungan manusia dengan alam, serta sistem kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Temuan ini memperkaya pemahaman bahwa film dapat menjadi medium penyampaian pesan ideologis secara halus melalui sistem tanda yang bekerja dalam berbagai lapisan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika terapan, khususnya dalam menganalisis film Indonesia kontemporer, sekaligus membuka peluang bagi kajian serupa terhadap karya-karya sinematik lainnya. The Myth in “The Catastrophe of Mount Gede”: Roland Barthes' Semiotic Analysis of the Mystical Traces Behind the StoryThe film "Petaka Gunung Gede" presents a narrative that is not only entertaining, but also contains layers of meaning that can be studied semiotically. This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings in the film using Roland Barthes's semiotic analysis framework. This approach was chosen because of its ability to dissect the multi-level system of meaning, from tangible signifiers to the ideology hidden behind visual and narrative representations. Data were obtained through the method of observing and noting, then analyzed interpretively based on Barthes's stages of meaning. The results of the study identified seven significant signs scattered throughout various scenes in the film. Analysis of these signs shows that "Petaka Gunung Gede" is not only about a natural disaster, but also reflects social issues, the relationship between humans and nature, and belief systems that exist in society. These findings enrich the understanding that film can be a medium for conveying ideological messages subtly through a system of signs that operate at various levels. Thus, this study contributes to the development of applied semiotic studies, particularly in analyzing contemporary Indonesian films, while also opening opportunities for similar studies on other cinematic works.
Kritik Sosial pada Cerita Pendek “Kontrak Imajinasi” Karya Sriyana: Kajian Sosiologi Sastra Alima, Alima; Nurhasanah, Maulita; Baeti, Ayun Nurul
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.895

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kritik sosial dalam cerpen “Kontrak Imajinasi” karya Sriyana dengan pendekatan sosiologi sastra. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mengungkap makna dan konteks sosial yang terkandung dalam teks cerpen. Data dikumpulkan melalui teknik simak dengan pembacaan teks secara cermat dan berulang untuk memahami struktur dan pesan cerita, serta teknik catat untuk mendokumentasikan kutipan dialog dan narasi yang relevan dengan fokus penelitian. Analisis data dilakukan dengan pendekatan sosiologi sastra Swingewood, yang menekankan hubungan dialektis antara karya sastra dengan realitas sosial tempat karya itu lahir. Melalui teori ini, teks tidak hanya dipandang sebagai cerminan pasif masyarakat, tetapi juga sebagai respons kritis pengarang terhadap struktur dan konflik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen tersebut memuat empat bentuk kritik sosial, yaitu kemiskinan, kesenjangan sosial, politik, dan spiritualitas. Temuan penelitian yang mengidentifikasi empat bentuk kritik sosial—kemiskinan, kesenjangan sosial, politik, dan spiritualitas—dalam cerpen “Kontrak Imajinasi” memiliki beberapa implikasi. Secara akademis, penelitian ini memperkuat peran sastra sebagai medium kritik sosial dan menunjukkan relevansi pendekatan sosiologi sastra dalam mengungkap dimensi sosial karya sastra kontemporer. Secara praktis, hasil penelitian dapat dijadikan bahan referensi dalam pembelajaran sastra di pendidikan formal, terutama untuk meningkatkan kesadaran kritis siswa terhadap isu-isu sosial. Selain itu, penelitian ini juga memberikan perspektif bahwa sastra dapat berfungsi sebagai ruang refleksi dan resistensi terhadap ketimpangan, sekaligus mengajak pembaca untuk merefleksikan tanggung jawab spiritual dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Social Criticism in the Short Story "Kontrak Imajinasi" by Sriyana: A Study of Literary SociologyThis study aims to describe the form of social criticism in Sriyana's short story "Kontrak Imajinasi" using a sociology of literature approach. This study uses a qualitative descriptive method to uncover the meaning and social context contained in the short story text. Data were collected through listening techniques by carefully and repeatedly reading the text to understand the structure and message of the story, and note-taking techniques to document dialogue and narrative excerpts relevant to the research focus. Data analysis was conducted using Swingewood's sociology of literature approach, which emphasizes the dialectical relationship between literary works and the social reality in which they arise. Through this theory, texts are not only seen as passive reflections of society, but also as the author's critical response to social structures and conflicts. The results of the study indicate that the short story contains four forms of social criticism, namely poverty, social inequality, politics, and spirituality. The research findings that identify four forms of social criticism—poverty, social inequality, politics, and spirituality—in the short story "Kontrak Imajinasi" have several implications. Academically, this study strengthens the role of literature as a medium for social criticism and demonstrates the relevance of the sociology of literature approach in uncovering the social dimensions of contemporary literary works. Practically, the research findings can be used as reference material in literature instruction in formal education, particularly to increase students' critical awareness of social issues. Furthermore, this research provides the perspective that literature can function as a space for reflection and resistance to inequality, while also inviting readers to reflect on spiritual and moral responsibilities in social life.
Batasan Interaksi Lawan Jenis dalam Perspektif Islam pada Film ”Cinta dalam Ikhlas”: Kajian Sosiologi Sastra Irwan, Khairil; Auliya, Alfiyah Nasywaa; Nurmala, Nung; Arsefa, Pinka
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1401

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan perubahan sosial yang pesat turut membentuk ulang pola pergaulan masa kini, terutama dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Fenomena pergaulan bebas yang kerap mengabaikan batasan norma agama menjadi persoalan yang mendesak untuk dikaji ulang, termasuk melalui representasi dalam karya sastra dan film. Penelitian ini bertujuan menganalisis batas-batas interaksi lawan jenis dalam perspektif Islam sebagaimana direpresentasikan dalam film “Cinta dalam Ikhlas”. Dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra Ian Watt, film diposisikan sebagai cermin sosial sekaligus respons terhadap realitas masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan data diperoleh melalui pengamatan mendalam terhadap narasi dan adegan film. Hasil analisis menunjukkan bahwa film “Cinta dalam Ikhlas” merepresentasikan secara eksplisit maupun implisit berbagai batasan interaksi lawan jenis dalam kerangka nilai Islam, seperti menjaga pandangan, menghindari khalwat, serta mengedepankan niat dan tujuan yang jelas dalam pergaulan. Lebih dari sekadar mencerminkan realitas, film ini juga berperan sebagai alat kritik sosial dan pendidikan moral bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Dengan demikian, film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium dakwah kultural yang memperkuat nilai-nilai religius di tengah arus modernitas. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian sosiologi sastra berbasis media visual sekaligus menjadi rujukan dalam memahami representasi nilai keislaman dalam film Indonesia kontemporer. The Limits of Interaction Between the Opposite Sexes from an Islamic Perspective in the Film "Cinta dalam Ikhlas": A Sociological Study of LiteratureAdvances in information technology and rapid social change have reshaped contemporary social patterns, particularly interactions between men and women. The phenomenon of promiscuity, which often ignores religious norms, is an urgent issue that requires reexamination, including through its representation in literature and film. This study aims to analyze the boundaries of opposite-sex interaction from an Islamic perspective, as depicted in the film "Cinta dalam Ikhlas." Using Ian Watt's sociological approach to literature, the film is positioned as both a social mirror and a response to societal realities. This study employed a descriptive qualitative method, with data obtained through in-depth observation of the film's narrative and scenes. The analysis shows that the film "Cinta dalam Ikhlas" explicitly and implicitly represents various boundaries of opposite-sex interaction within the framework of Islamic values, such as maintaining a restrained gaze, avoiding seclusion, and prioritizing clear intentions and goals in social interactions. Beyond simply reflecting reality, the film also serves as a tool for social criticism and moral education for society, especially the younger generation. Thus, the film serves not only as entertainment but also as a medium for cultural da'wah that strengthens religious values amidst the currents of modernity. This research is expected to enrich the study of visual media-based literary sociology and at the same time serve as a reference in understanding the representation of Islamic values in contemporary Indonesian films.
Refleksi Zaman pada Cerita Pendek “Doa Sebelum Tsunami” Karya Fazil Abdullah Warnisa, Ifutya; Aliyah, Himatun
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1044

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan refleksi zaman yang terdapat dalam cerpen “Doa Sebelum Tsunami” karya Fazil Abdullah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data berupa kalimat, dialog, dan fakta sosial dikumpulkan dari teks cerpen melalui metode pembacaan semiotik dengan teknik catat. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori sosiologi sastra Alan Swingewood, khususnya konsep sastra sebagai refleksi atau cerminan zaman, untuk menyingkap hubungan antara teks sastra dengan realitas sosial-historis yang melatarbelakanginya. Hasil analisis menunjukkan bahwa cerpen “Doa Sebelum Tsunami” secara efektif merefleksikan realitas masyarakat Aceh pada empat periode krusial, yakni: 1) masa pra-DOM, 2) masa pasca-DOM; 3) masa pratsunami, dan 4) masa pascatsunami. Penelitian ini memiliki beberapa implikasi: 1) menguatkan peran sastra, khususnya cerpen, sebagai sumber kajian sejarah dan sosial yang kaya, sekaligus mendemonstrasikan relevansi teori sosiologi sastra Swingewood untuk menganalisis konteks Indonesia, 2) menegaskan pentingnya sastra dalam mengarsipkan memori kolektif, terutama untuk peristiwa traumatis yang mungkin kurang terdokumentasi dalam narasi resmi. Cerpen ini menjadi medium pelestarian sejarah dari perspektif korban dan masyarakat biasa, 3) temuan penelitian dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih empatik tentang kompleksitas konflik Aceh dan proses panjang pemulihan pascabencana, yang penting untuk pendidikan perdamaian dan rekonsiliasi nasional. Reflections of the Times in the Short Story "Doa Sebelum Tsunami" by Fazil AbdullahThis study aims to describe the reflection of the times contained in the short story "Doa Sebelum Tsunami" by Fazil Abdullah. This research is a descriptive qualitative study. Data in the form of sentences, dialogues, and social facts were collected from the short story text through a semiotic reading method with note-taking techniques. Data analysis was carried out by applying Alan Swingewood's sociology of literature theory, especially the concept of literature as a reflection or mirror of the times, to reveal the relationship between literary texts and the socio-historical realities that underlie them. The results of the analysis show that the short story "Doa Sebelum Tsunami" effectively reflects the reality of Acehnese society in four crucial periods, namely: 1) the pre-DOM period, 2) the post-DOM period; 3) the pre-tsunami period, and 4) the post-tsunami period. This research has several implications: 1) it strengthens the role of literature, especially short stories, as a rich source of historical and social studies, while demonstrating the relevance of Swingewood's sociological theory of literature to analyze the Indonesian context, 2) it emphasizes the importance of literature in archiving collective memory, especially for traumatic events that may be less documented in official narratives. This short story becomes a medium for preserving history from the perspective of victims and ordinary people, 3) the research findings can contribute to a more empathetic understanding of the complexity of the Aceh conflict and the long process of post-disaster recovery, which is important for peace education and national reconciliation.
Mekanisme Pertahanan Diri Tokoh Utama Perempuan Dalam Film “Sehidup Semati” Maharani, Intan Suci; Farist, Zakarial; Mulyaningsih, Indrya
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1402

Abstract

Penelitian ini mengkaji mekanisme pertahanan diri yang dialami oleh tokoh utama perempuan, Renata, dalam film “Sehidup Semati” melalui pendekatan psikologi sastra Sigmund Freud. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif serta teknik observasi dan dokumentasi, penelitian ini menganalisis adegan dan dialog dalam film yang merepresentasikan bentuk-bentuk pertahanan diri bawah sadar seperti represi, proyeksi, pengingkaran, rasionalisasi, dan identifikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Renata secara tidak sadar menggunakan mekanisme-mekanisme tersebut sebagai respons terhadap tekanan batin yang muncul akibat pengalaman traumatis dan relasi kuasa yang timpang. Selain berkontribusi pada pengembangan kajian psikologi sastra, penelitian ini juga memperluas wawasan mengenai dampak psikologis kekerasan dan budaya patriarki terhadap perempuan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi sosial serta media edukatif dalam memahami kompleksitas psikis perempuan penyintas kekerasan. Defense Mechanisms Of Female Main Characters in The Film "Sehidup Semati"This study examines the self-defense mechanisms experienced by the main female character, Renata, in the film "Sehidup Semati" through the approach of Sigmund Freud's literary psychology. Using descriptive qualitative methods along with observation and documentation techniques, this study analyzes scenes and dialogues in the film that represent forms of subconscious self-defense such as repression, projection, denial, rationalization, and identification. The results of the analysis show that Renata unconsciously uses these mechanisms in response to the mental pressure that arises from traumatic experiences and unequal power relations. In addition to contributing to the development of literary psychology studies, this study also broadens insight into the psychological impact of violence and patriarchal culture on women. These findings are expected to become material for social reflection and educational media in understanding the psychological complexity of women who are survivors of violence.
Eksistensi Perempuan dalam Cerita Pendek Melinda Karya Nurlaeli Rohmah Fitriani, Nurhayati; Sopiya, Siti; Fadhliyah, Rif'atul
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1374

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana tokoh Melinda dalam cerpen Melinda karya Nurlaeli Rohmah memperjuangkan kebebasan dan menemukan jati dirinya sebagai bentuk eksistensi perempuan di tengah tekanan budaya patriarki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme eksistensial Simone de Beauvoir, yang mencakup konsep the others (liyan), kebebasan, dan transendensi. Data dikumpulkan melalui teknik simak bebas libat cakap dan catat, serta dianalisis menggunakan metode padan referensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Melinda, sebagai tokoh utama awalnya diposisikan sebagai objek dalam relasi rumah tangga dan masyarakat. Namun, ia berhasil menyadari kebebasannya dan melakukan transendensi melalui tindakan ekonomi, intelektual, dan psikologis. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa karya sastra, khususnya cerpen, dapat menjadi ruang refleksi dan kritik sosial atas ketimpangan gender, serta memberi inspirasi bagi perempuan dalam memperjuangkan eksistensinya. The Existence of Women in the Short Story "Melinda" by Nurlaeli RohmahThis study aims to examine how the character Melinda in the short story Melinda by Nurlaeli Rohmah fights for freedom and finds her identity as a form of female existence amidst the pressures of patriarchal culture. This study uses a qualitative descriptive method with an existential feminist approach by Simone de Beauvoir, which includes the concepts of the others, freedom, and transcendence. Data were collected through free listening and note-taking techniques, and analyzed using the referential matching method. The results of the study show that Melinda, as the main character, was initially positioned as an object in household and societal relations. However, she managed to realize her freedom and achieve transcendence through economic, intellectual, and psychological actions. The implication of this study is that literary works, especially short stories, can be a space for reflection and social criticism of gender inequality, as well as provide inspiration for women in fighting for their existence.
Representasi Perundungan dalam Naskah Drama “HAH” Karya Putu Wijaya Fitri, Asti Nur; Afwa, Hawa Nabila Zakiyatul; Haryanti, Alya Dwi; Risa, Diana
Literature Research Journal Vol 3, No 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pengajarannya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51817/lrj.v3i2.1416

Abstract

Drama “HAH” karya Putu Wijaya dikenal sebagai salah satu karya teater modern Indonesia yang sarat dengan kritik sosial melalui pendekatan absurd. Penelitian ini bertujuan mengungkap representasi perundungan dalam naskah drama tersebut dengan menggunakan teori segitiga kekerasan yang digagas oleh Johan Galtung. Melalui pendekatan sosiologi sastra dan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui pembacaan mendalam terhadap naskah dan dianalisis berdasarkan tiga bentuk kekerasan: langsung, struktural, dan kultural. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 20 data yang teridentifikasi, kekerasan langsung muncul sebanyak 8 kali. Sementara kekerasan struktural dan kultural masing-masing ditemukan sebanyak 6 data. Temuan ini memperlihatkan bahwa di balik gaya tuturan yang tampak kacau dan tidak masuk akal, drama “HAH” sesungguhnya merekam secara tajam realitas masyarakat marginal yang hidup dalam tekanan sistem dan budaya. Karya ini tidak hanya menggambarkan kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan yang mengakar dalam struktur sosial dan nilai-nilai yang dilembagakan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa “HAH” dapat dibaca sebagai kritik terhadap kondisi masyarakat yang timpang, sekaligus membuka ruang refleksi bagi dunia pendidikan. Naskah ini berpotensi dijadikan bahan ajar sastra yang tidak hanya mengasah kemampuan apresiasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis siswa terhadap persoalan kemanusiaan seperti perundungan dan ketidakadilan sosial. Representation of Bullying in the Drama Script "HAH" by Putu WijayaThe drama "HAH" by Putu Wijaya is known as one of Indonesia's modern theatrical works full of social criticism through an absurdist approach. This study aims to reveal the representation of bullying in the play script using Johan Galtung's triangle of violence theory. Using a sociology of literature approach and descriptive qualitative methods, data were collected through an in-depth reading of the script and analyzed based on three forms of violence: direct, structural, and cultural. The analysis results show that of the 20 identified data, direct violence appears 8 times. Meanwhile, structural and cultural violence were each found 6 times. These findings show that behind the seemingly chaotic and unreasonable narrative style, the drama "HAH" actually captures the sharp reality of marginalized communities living under systemic and cultural pressures. This work not only depicts physical violence, but also violence rooted in social structures and institutionalized values. Thus, this study confirms that "HAH" can be read as a critique of unequal social conditions, while also opening up a space for reflection in the world of education. This manuscript has the potential to be used as a literary teaching material that not only hones appreciation skills, but also fosters students' critical awareness of humanitarian issues such as bullying and social injustice.

Page 1 of 1 | Total Record : 9