cover
Contact Name
Miftakhul Jannah
Contact Email
cjpp@unesa.ac.id
Phone
+6282231445454
Journal Mail Official
miftakhuljannah@unesa.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Surabaya Lidah Wetan Surabaya 60213 Jawa Timur - Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CJPP
ISSN : 22526129     EISSN : 30634806     DOI : https://doi.org/10.26740/cjpp
Character Jurnal Penelitian Psikologi is a peer-reviewed journal that covers all topics in theoretical and applied psychology that is managed by Department of Psychology, Faculty of Psychology, Universitas Negeri Surabaya. This journal is published in January, May, and September by Universitas Negeri Surabaya.
Articles 1,121 Documents
Dinamika Psikologis Remaja dengan Autism Spectrum Disorder: SebuahStudi Kasus di Sekolah Inklusi Rania Sabhita Ikbar; Muhammad Nuril Mukminin
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p620-628

Abstract

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan hambatan komunikasi sosial, interaksi timbal balik, serta pola perilaku yang terbatas dan berulang. Pada masa remaja, individu dengan ASD menghadapi tantangan yang lebih kompleks, terutama dalam fungsi eksekutif, perilaku adaptif, dan regulasi emosi di lingkungan sekolah inklusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika psikologis remaja dengan ASD, khususnya terkait splinter skills, hambatan fungsi eksekutif, serta peran positive reinforcement dalam regulasi emosi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus tunggal pada seorang remaja berusia 15 tahun yang telah terdiagnosis ASD dan bersekolah di sekolah menengah inklusi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara semi terstruktur dengan guru pendamping khusus dan orang tua, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kemampuan numerik yang menonjol (splinter skills) dengan hambatan fungsi eksekutif, perilaku adaptif, pola komunikasi ekolalia, serta kerentanan terhadap tantrum akibat perubahan rutinitas. Penerapan positive reinforcement terbukti membantu menurunkan perilaku tantrum, meningkatkan kepatuhan terhadap instruksi, serta mendukung kestabilan emosi dan fokus belajar subjek. Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi yang personal, kontekstual, dan berorientasi pada potensi individu dalam mendukung keberfungsian remaja dengan ASD di sekolah inklusi. Abstract Autism Spectrum Disorder (ASD) is a neurodevelopmental disorder characterized by difficulties in social communication, reciprocal interaction, and restricted, repetitive patterns of behavior. During adolescence, individuals with ASD face more complex challenges, particularly in executive functioning, adaptive behavior, and emotional regulation within inclusive school settings. This study aims to explore the psychological dynamics of adolescents with ASD, particularly related to splinter skills, executive function deficits, and the role of positive reinforcement in emotional regulation. This study employed a qualitative method with a single case study approach involving a 15-year-old adolescent diagnosed with ASD and enrolled in an inclusive secondary school. Data were collected through participant observation, semi-structured interviews with a special education teacher and parents, as well as documentation studies. The results showed an imbalance between outstanding numerical abilities (splinter skills) and difficulties in executive functioning, adaptive behavior, echolalic communication patterns, and vulnerability to tantrums triggered by changes in routine. The application of positive reinforcement was found to help reduce tantrum behavior, improve compliance with instructions, and support emotional stability and learning focus. These findings highlight the importance of personalized, contextual, and strength-based interventions in supporting adolescents with ASD in inclusive school environments.
Gambaran Persepsi Pernikahan pada Perempuan Dewasa Awal yang Kehilangan Peran Ayah Noer Erika; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p629-646

Abstract

Kehadiran ayah berperan bagi perkembangan emosional, sosial, dan pandangan anak perempuan terhadap hubungan interpersonal. Kehilangan peran ayah berkaitan dengan cara individu membentuk hubungan pada masa dewasa awal. Kondisi tersebut menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi pernikahan pada perempuan dewasa awal yang kehilangan peran ayah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian terdiri dari tiga perempuan dewasa awal yang kehilangan peran ayah. Kriteria subjek pada penelitian ini adalah perempuan dewasa awal berusia 20-25 tahun, belum menikah, kehilangan ayah karena kematian, dan kepergian ayah sejak masa kanak-kanak. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi terstruktur dan dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kehilangan ayah membentuk persepsi pernikahan berbeda pada tiap partisipan. Persepsi pernikahan pada partisipan terbentuk berdasarkan pengalaman kehilangan ayah, cara mengelola duka, dan keberadaan figur pengganti. Penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa kehilangan ayah berperan dalam membentuk cara individu memaknai hubungan, kepercayaan, dan komitmen dalam kehidupan dewasa. Abstract The presence of a father plays a role in the emotional and social development of daughters and their views on interpersonal relationships. The loss of a father's role is related to how individuals form relationships in young adulthood. This situation highlights the importance of father’s involvement in raising their daughters. This study aims to determine the perception of marriage among young adult women who have experienced the lost of the father's role. This study uses a qualitative phenomenological approach. The criteria for participants in this study are young adult women aged 20–25, who are unmarried, have lost their fathers to death, and whose fathers left when they were children. The research subjects consisted of three young adult women who had experienced the loss of the father's role. This study employed semi-structured interviews as a data collection method and analyzed the data using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The results showed that the participants perceptions of marriage were shaped by their experiences of the loss the father’s role, how they managed their grief, and the presence of a substitute figure. This study shows that the experience of loss the father’s role plays a role in shaping how individuals perceive relationships, trust, and commitment in adulthood.
PEMAKNAAN REMAJA TERHADAP POLA ASUH ORANG TUA DALAM PENGALAMAN MENIKAH DINI : STUDI FENOMENOLOGI DI KABUPATEN TUBAN Amanda Dwi Selvi Tahlilia; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p647-662

Abstract

Fenomena pernikahan dini di Kabupaten Tuban masih marak terjadi dan sering dikaitkan dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja. Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi remaja memiliki peran penting dalam membentuk perilaku serta pengambilan keputusan anak melalui pola asuh. Penelitian ini bertujuan memahami makna pengalaman pola asuh orang tua sebagaimana dimaknai oleh remaja yang menikah dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk mengeksplorasi pengalaman partisipan secara mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang remaja yang menikah di usia dini akibat perilaku seksual pra nikah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini berkaitan dengan pola asuh orang tua yang tidak seimbang antara dimensi demandingness dan responsiveness. Ketidakseimbangan pola asuh tersebut menghambat perkembangan otonomi psikologis, regulasi diri, serta kemampuan remaja dalam  mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Sehingga penting untuk menerapkan pola asuh yang seimbang antara tuntutan dan dukungan emosional sebagai upaya preventif dalam menekan resiko pernikahan dini pada remaja. Abstract The phenomenon of early marriage in Tuban Regency remains prevalent and is often associated with premarital sexual behavior among adolescents. As the closest environment for teenagers, the family plays a vital role in shaping their behavior and decision-making. This study aims to understand the meaning of parenting experiences as perceived by adolescents who marry early.This study employed a qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to explore the participants’ lived experiences in depth. The participants consisted of three adolescents who entered early marriage due to a premarital pregnancy. Data were collected through semi-structured in-depth interviews. The findings indicate that the experience of early marriage among adolescents is associated with parenting styles characterized by an imbalance in the dimensions of demandingness and responsiveness. This imbalance hinders the development of psychological autonomy, self-regulation, and adolescents’ ability to consider long-term consequences. Therefore, it is important to implement a balanced parenting style between demands and emotional support as a preventive effort to reduce the risk of early marriage among adolescents.
Studi Fenomenologis Tentang Pengalaman Resiliensi Pada Perempuan Penyintas PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) Andika Hafiz Prasetyawan; Fitrania Maghfiroh
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p663-672

Abstract

Post-Traumatic Stres Disorder (PTSD) adalah gangguan psikologis yang muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis yang mengancam kondisi psikologis. Perempuan yang rentan mengalami peristiwa kejahatan di lingkungan sekitarnya, membuat perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami PTSD. Penelitian ini bertujuan memahami proses resiliensi perempuan penyintas PTSD. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi fenomenologis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam semi-terstruktur. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan analisis data yang menggunakan teknik analisis tematik. Partisipan dalam penelitian ini terdapat 3 perempuan yang pernah mengalami PTSD. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengalaman para penyintas PTSD membentuk proses menuju resiliensi termasuk berawal dari gejala dan gangguan PTSD, Dukungan Sosial, Kesadaran Diri dan Regulasi Emosi, dan proses resiliensi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa proses menuju resiliensi pada penyintas PTSD sangat kompleks untuk mencapai pemulihan psikologis dan resiliensi. Penelitian ini menyarankan pentingnya resiliensi dalam proses pemulihan pasca trauma, serta mendorong penelitian selanjutnya untuk lebih mengantisipasi dampak akibat membuka kembali luka lama. Abstract Post-Traumatic Stres Disorder (PTSD) is a psychological disorder that develops after a person experiences a traumatic event that threatens their psychological well-being. Women are vulnerable to experiencing criminal incidents in their surroundings, placing them at a higher risk of developing PTSD. This study aims to understand the resilience process of women who are PTSD survivors. The study employs a qualitative approach with a phenomenological study design. Data collection was conducted through semi-structured in-depth interviews. The research instruments consisted of interview guidelines and data analysis using thematic analysis. The participants in this study consisted of 3 women who had experienced PTSD. The results revealed that the experiences of PTSD survivors shaped the process toward resilience, beginning with PTSD symptoms and disturbances, Social Support, Self-Awareness and Emotional Regulation, and the resilience process. The study’s conclusion emphasizes that the process toward resilience in PTSD survivors is highly complex in achieving psychological recovery and resilience. This study highlights the importance of resilience in the post-traumatic recovery process and encourages future research to better anticipate the impact of reopening old wounds.
Sebuah Eksplorasi Faktor Internal dan Eksternal Prokrastinasi Akademik: Sebuah Studi Kasus Mistaq Marlina Khusna; Satiningsih
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p673-680

Abstract

Academic procrastination is a common issue among students and often arises from a complex interplay of personal and environmental factors. Its impact extends beyond delayed assignments, influencing motivation, concentration, and overall academic performance. This study aims to explore the case of a high school student, AD, and describe the internal and external factors contributing to his procrastination. The research employed a qualitative case study method, with data collected through observation and semi‑structured interviews, then analyzed descriptively to identify recurring patterns. The findings reveal that AD’s procrastination is shaped by internal factors such as low learning motivation, weak concentration, poor self‑regulation, and a preference for practical activities over theoretical subjects. External influences include strained family dynamics, limited parental autonomy, the undisciplined habits of his twin brother, peer conformity, and insufficient school control. Together, these factors create a multidimensional pattern of delay in academic tasks. This study highlights the importance of understanding procrastination not as a single‑cause behavior but as a phenomenon emerging from the interaction between personal tendencies and social environments. Abstrak Prokrastinasi akademik merupakan fenomena multidimensional yang sering muncul akibat interaksi antara kecenderungan pribadi dan lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kasus seorang siswa SMA, AD, serta menggambarkan faktor internal dan eksternal yang memengaruhi perilaku prokrastinasinya. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara semi‑terstruktur, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menemukan pola yang berulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prokrastinasi AD dipengaruhi oleh faktor internal seperti motivasi belajar yang rendah, kesulitan konsentrasi, regulasi diri yang lemah, serta preferensi terhadap aktivitas praktis dibandingkan mata pelajaran teoritis. Faktor eksternal meliputi dinamika keluarga yang kurang harmonis, keterbatasan kebebasan dari orang tua, kebiasaan saudara kembar yang tidak disiplin, konformitas teman sebaya, serta kontrol sekolah yang belum efektif. Kombinasi faktor‑faktor tersebut membentuk siklus penundaan dalam tugas akademik, menegaskan bahwa prokrastinasi bukanlah akibat dari satu faktor tunggal, melainkan hasil interaksi berbagai dimensi.
Faktor yang Mempengaruhi Flourishing Mahasiswa yang Sedang Mengerjakan Tugas Akhir Diandra Kayana Syakirah; Riza Noviana Khoirunnisa
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p681-691

Abstract

Psikologi positif menjelaskan bahwa mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir tetap dapat berfungsi secara optimal meskipun berada dalam tekanan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi flourishing mahasiswa tingkat akhir selama mengerjakan tugas akhir. Konsep flourishing mengacu pada model PERMA dari Martin Seligman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan analisis Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan penelitian terdiri dari lima mahasiswa tingkat akhir dari berbagai fakultas di Surabaya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima faktor utama yang mendukung flourishing mahasiswa, yaitu kemampuan regulasi emosi dan resiliensi, pengaturan ritme dan cara bekerja, strategi coping, dukungan sosial, serta motivasi dan orientasi masa depan. Mahasiswa mampu menjaga kesejahteraan psikologis melalui pemaknaan positif terhadap tekanan, pengelolaan emosi yang adaptif, dukungan dari lingkungan sosial, serta kemampuan mempertahankan motivasi selama proses pengerjaan tugas akhir. Temuan penelitian menunjukkan bahwa flourishing mahasiswa merupakan hasil interaksi dinamis antara faktor internal dan eksternal yang membantu mahasiswa bertahan dan berkembang di tengah tekanan akademik. Abstract Positive psychology explains that students working on their final projects can still function optimally despite experiencing academic pressure. This study aimed to explore the factors influencing flourishing among final-year students while completing their final projects. The concept of flourishing referred to Seligman’s PERMA model. This research employed a qualitative phenomenological approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The participants consisted of five final-year students from various faculties in Surabaya selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured in-depth interviews. The findings revealed five main factors supporting students’ flourishing, namely emotion regulation and resilience, work rhythm management, coping strategies, social support, and motivation and future orientation. Students were able to maintain psychological well-being through positive meaning-making toward academic pressure, adaptive emotional regulation, supportive social relationships, and the ability to sustain motivation throughout the process of completing their final projects. Overall, the findings indicate that flourishing among final-year students emerges from dynamic interactions between internal and external factors that enable students to survive and grow amid academic demands.
Pengaruh Adaptabilitas Karier dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan Karier pada Mahasiswa Tingkat Akhir Hifi Angellia Salma Andinie; Diana Rahmasari
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p692-701

Abstract

Fase transisi dari perguruan tinggi menuju dunia kerja sering kali menimbulkan ketidakpastian yang berujung pada kecemasan karier bagi mahasiswa tingkat akhir. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh adaptabilitas karier dan dukungan sosial secara parsial maupun simultan terhadap kecemasan karier pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi linear berganda. Sampel terdiri dari 502 mahasiswa tingkat akhir yang diambil melalui teknik convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan instrumen yang peneliti adopsi meliputi Career Adapt-Abilities Scale Short Form (CAAS-SF), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan Career Anxiety Scale (CAS). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptabilitas karier dan dukungan sosial secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kecemasan karier (F = 43,871; p < 0,001) dengan kontribusi sebesar 15% (R² = 0,150). Secara parsial, adaptabilitas karier memberikan kontribusi efektif yang lebih besar (7,02%) dibandingkan dengan dukungan sosial (2,43%) dalam menurunkan tingkat kecemasan karier. Simpulan: Kesimpulannya, peningkatan adaptabilitas karier yang didampingi dengan sistem dukungan sosial yang memadai dapat secara efektif mengurangi tingkat kecemasan karier mahasiswa. Abstract The transition phase from university to the workplace often creates uncertainty that leads to career anxiety among final-year students. Objective: This study aimed to examine the partial and simultaneous effects of career adaptability and social support on career anxiety among final-year students at Universitas Negeri Surabaya. Methods: This study employed a quantitative approach using multiple linear regression analysis. The sample consisted of 502 final-year students selected through convenience sampling. Data were collected online using adapted instruments, including the Career Adapt-Abilities Scale Short Form (CAAS-SF), Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and Career Anxiety Scale (CAS). Results: The findings showed that career adaptability and social support simultaneously had a significant effect on career anxiety (F = 43.871; p < 0.001) with a contribution of 15% (R² = 0.150). Partially, career adaptability contributed more effectively (7.02%) than social support (2.43%) in reducing career anxiety levels. Conclusion: In conclusion, improving career adaptability accompanied by adequate social support systems can effectively reduce career anxiety among university students.
Inggris Nur Ikhsan; Ellyana Ilsan Eka Putri
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p702-711

Abstract

The rapid advances in information technology have made the internet a primary tool in academia, which has also led to the emergence of cyberloafing as a way for students to escape academic pressure. This study aims to examine the influence of academic stress on cyberloafing behavior among college students at University X. The study used a non-experimental quantitative method with an associative-predictive approach, involving 200 respondents selected via accidental sampling. The instruments used were the modified Student Cyberloafing Scale and the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA). The results indicate a positive and significant effect of academic stress on cyberloafing behavior, with a significance level of p < 0.001 and a regression coefficient of 0.811. Analysis of the coefficient of determination shows that academic stress accounts for 36.5% of the variance in cyberloafing behavior, while the remainder is influenced by other factors outside the scope of this study. These findings emphasize the importance of interactive learning methods and counseling services to develop better coping strategies to reduce non-academic internet use during learning activities. Abstrak Pesatnya kemajuan teknologi informasi menjadikan internet sarana utama dalam bidang akademik. Namun, kondisi ini juga memicu munculnya fenomena cyberloafing sebagai bentuk pengalihan mahasiswa dari tekanan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres akademik terhadap perilaku cyberloafing pada mahasiswa Universitas X. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimen dengan pendekatan asosiatif prediktif, melibatkan 200 responden yang diperoleh melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Student Cyberloafing Scale dan Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan stres akademik terhadap perilaku cyberloafing dengan nilai signifikansi p < 0,001 dan koefisien regresi sebesar 0,811. Analisis koefisien determinasi menunjukkan stres akademik mampu menjelaskan 36,5% varian perilaku cyberloafing, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Temuan ini menekankan pentingnya metode pembelajaran interaktif dan layanan konseling untuk mengembangkan strategi coping yang lebih baik guna mengurangi penggunaan internet non-akademik selama kegiatan belajar.
Gratitude pada Ibu Rumah Tangga dengan Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) Ma'rifatu Syafa'atin Cita; Diana Rahmasari
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p735-755

Abstract

Seorang ibu rumah tangga yang memiliki anak ASD diketahui memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dari biasanya karena adanya tuntutan pengasuhan yang intens disertai pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satu faktor yang dapat membantu menurunkan stres tersebut adalah gratitude. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terbentuknya gratitude pada ibu rumah tangga yang memiliki anak ASD. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif partisipan secara lebih mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang ibu rumah tangga yang memiliki anak ASD, partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terbentuknya gratitude dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu emosi dan kesejahteraan, karakter prososial, serta spiritualitas dan religiusitas. Penelitian ini menunjukkan bahwa gratitude terbentuk melalui proses adaptasi yang melibatkan berbagai faktor yang juga berperan penting dalam membantu ibu menghadapi stres pengasuhan. Abstract A housewife who has a child with ASD is known to experience higher levels of stress than usual due to the intensive caregiving demands accompanied by household responsibilities that must also be completed. One factor that can help reduce this stress is gratitude. Therefore, this study aims to explore the process of gratitude development in housewives who have children with ASD. This study employed a qualitative method with a phenomenological approach to gain a deeper understanding of the participants’ subjective experiences. The participants in this study consisted of five housewives who have children with ASD, selected using a purposive sampling technique. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The results showed that the development of gratitude was influenced by three main factors, namely emotions and well-being, prosocial character, and spirituality and religiosity. This study indicates that gratitude is formed through an adaptive process involving various factors that also play an important role in helping mothers cope with parenting stress.
The Relationship Between Emotional Regulation and Psychological Well-Being In College Sudents Aisyah Fadella Trilifazar; Riza Noviana Khoirunnisa
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n02.p722-734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara regulasi emosi dan psychological well-being pada mahasiswa Program Studi S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya. Regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara adaptif, sedangkan psychological well-being berkaitan dengan kemampuan individu untuk mencapai keberfungsian psikologis yang optimal, seperti penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, tujuan hidup, dan pengembangan diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 173 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan Skala Regulasi Emosi dan Skala Psychological Well-Being yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment setelah data dinyatakan berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara regulasi emosi dan psychological well-being (r = 0,750; p < 0,001) yang menunjukkan bahwa semakin baik kemampuan regulasi emosi mahasiswa, maka semakin tinggi pula tingkat psychological well-being yang dimiliki. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan program intervensi psikologis untuk mendukung peningkatan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Abstract This study aimed to analyze the relationship between emotion regulation and psychological well-being among undergraduate psychology students at Surabaya State University. Emotion regulation refers to an individual’s ability to recognize, understand, and manage emotions adaptively, while psychological well-being is related to an individual’s ability to achieve optimal psychological functioning, including self-acceptance, positive relationships with others, purpose in life, and personal growth. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 173 students selected using a purposive sampling technique. Data were collected through online questionnaires using the Emotion Regulation Scale and the Psychological Well-Being Scale, both of which had met validity and reliability criteria. Data analysis was conducted using the Pearson Product Moment correlation test after the data were confirmed to be normally distributed. The results showed a strong and significant positive relationship between emotion regulation and psychological well-being (r = 0.750; p < 0.001), indicating that students with better emotion regulation abilities tended to have higher levels of psychological well-being. This study is expected to contribute to the development of psychological intervention programs aimed at improving students’ psychological well-being.

Filter by Year

2013 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 02 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 02 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 01 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 3 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 2 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 3 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 2 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 1 (2023): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 8 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 7 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 6 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 9 No. 5 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 4 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 3 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 2 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 9 No. 1 (2022): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 9 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 8 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 7 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 6 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 5 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 4 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 3 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 2 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 8 No. 1 (2021): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 04 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 03 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 3 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 7 No. 1 (2020): Character: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 5 (2019) Vol. 6 No. 4 (2019) Vol. 6 No. 3 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019) Vol. 5 No. 3 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 5 No. 1 (2018): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 3 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 2 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 1 (2017): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 4 No. 01 (2016): Character Vol. 3 No. 3 (2015): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 3 No. 2 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 2 No. 3 (2014): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 3 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 1 No. 2 (2013): Character : Jurnal Penelitian Psikologi More Issue