cover
Contact Name
Muhamad Rudi Wijaya
Contact Email
rudiwijaya68@gmail.com
Phone
+6282175218558
Journal Mail Official
rudiwijaya68@gmail.com
Editorial Address
Dusun Rejo Agung Desa Rejo Agung Kecamatan Batanghari, Kab. Lampung Timur, Provinsi Lampung, 34181
Location
Kab. lampung timur,
Lampung
INDONESIA
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan)
Published by CV Najah Bestari
ISSN : 29649633     EISSN : 2964965X     DOI : -
Jurnal An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) khusus membahas masalah pendidikan Islam. Ruang lingkup jurnal meliputi penelitian, pemikiran pendidikan Islam, dan kerja lapangan tentang pendidikan Islam. Pendekatannya bersifat interdisipliner, melingkupi, dan menggabungkan perspektif dari filsafat pendidikan Islam, studi banding pendidikan Islam, kurikulum, proses belajar mengajar dalam pendidikan Islam, evaluasi, pendidikan Islam, dan pendidikan khusus yang relevan dengan isu-isu pendidikan Islam.
Articles 552 Documents
KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF GADAMER DAN RELEVANSINYA TERHADAP TANTANGAN DIGITALISASI PENDIDIKAN Zulfa Khairiah Ali; Iefone Shiflana Habiba; Maragustam Siregar
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalisasi pendidikan kerap diperlakukan sebagai persoalan teknis-instrumental, padahal di baliknya tersimpan pergeseran epistemologis tentang apa artinya memahami dan menjadi terdidik. Artikel ini bertujuan menelaah konsep pendidikan dalam perspektif hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer serta merumuskan relevansinya bagi pembacaan kritis terhadap tantangan digitalisasi pendidikan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis, menelaah karya utama Gadamer Truth and Method beserta literatur akademik pendukung yang terindeks dalam basis data ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep pendidikan Gadamerian berpijak pada tiga pilar: Bildung sebagai proses pembentukan diri yang berkelanjutan, lingkaran hermeneutis (hermeneutic circle) yang menempatkan pemahaman sebagai dialog timbal balik antara prapemahaman (Vorverständnis) dan teks atau realitas yang dihadapi, serta fusi horizon (Horizontverschmelzung) yang menuntut keterbukaan terhadap keberlainan (otherness) dalam proses belajar. Ketiga pilar tersebut berimplikasi kritis terhadap praktik digitalisasi pendidikan kontemporer yang berisiko mereduksi pembelajaran menjadi transmisi informasi terukur, melemahkan dialog intersubjektif guru-murid, dan mempersempit horizon pemahaman peserta didik akibat algoritma personalisasi. Kajian ini menyimpulkan bahwa kerangka hermeneutika Gadamer menuntut perancangan ulang arsitektur pedagogis digital agar tetap memberi ruang bagi dialog, prapemahaman reflektif, dan keterbukaan horizon sehingga makna pendidikan tidak tereduksi
MAHKUM ‘ALAIH (SUBJEK HUKUM) DAN AL-AHLIYAH (KECAKAPAN HUKUM) Muhammad Alif Munawwar; Rifqiansyah Putra Ramadhan; Intan Nuraini; Besse Ruhaya
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahkum 'alaih (subjek hukum) dan al-ahliyah (kecakapan hukum) merupakan dua konsep fundamental dalam ilmu ushul fikih yang menjadi dasar penentuan seseorang sebagai pihak yang dibebani hukum syariat Islam. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pengertian mahkum 'alaih, konsep pembebanan hukum (taklif), syarat-syarat seseorang dikenai taklif, pengertian dan macam-macam al-ahliyah, serta pandangan ulama mengenai taklif terhadap orang kafir. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian terhadap berbagai literatur ushul fikih klasik dan kontemporer yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa mahkum 'alaih adalah setiap mukallaf yang telah memenuhi syarat-syarat pembebanan hukum, yaitu berakal, baligh, mampu melaksanakan hukum, telah menerima dakwah syariat, dan memiliki kebebasan dalam bertindak. Pembebanan hukum dalam Islam meliputi lima kategori hukum taklifi, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah, yang bertujuan mewujudkan kemaslahatan hidup manusia sesuai dengan prinsip maqashid syariah. Sementara itu, al-ahliyah terbagi menjadi ahliyah al-wujub (kecakapan menerima hak dan kewajiban) serta ahliyah al-ada' (kecakapan melaksanakan perbuatan hukum), yang masing-masing memiliki tingkatan sesuai kondisi dan kemampuan seseorang. Kajian mengenai taklif terhadap orang kafir menunjukkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai pembebanan hukum cabang syariat, meskipun seluruh ulama sepakat bahwa keimanan merupakan dasar utama diterimanya seluruh amal ibadah. Dengan demikian, konsep mahkum 'alaih dan al-ahliyah menunjukkan bahwa hukum Islam dibangun di atas prinsip keadilan, tanggung jawab, serta kesesuaian antara beban hukum dan kemampuan manusia sehingga penerapan syariat dapat berlangsung secara proporsional dan membawa kemaslahatan
Penerapan Metode Al-Insyirah Dalam Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Pada Santri TPQ Al-Barokah Desa Pagentan Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara Solihun Wildan; Shobrun Jamil
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Metode Al-Insyirah dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an di TPQ Al-Barokah Desa Pagentan, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Subjek penelitian terdiri atas ketua TPQ, ustadz/ustadzah, dan santri. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Metode Al-Insyirah dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan, pengajar mempersiapkan materi dengan mempelajari ayat dan hukum tajwid yang akan diajarkan tanpa menggunakan perangkat pembelajaran tertulis. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui kegiatan pembukaan, inti, dan penutup dengan menerapkan sistem membaca bergiliran, menyimak, serta membaca bersama. Tahap evaluasi dilakukan secara formatif melalui koreksi langsung terhadap bacaan santri dan tanya jawab mengenai hukum tajwid. Metode Al-Insyirah terbukti membantu meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an santri melalui pembelajaran yang aktif, interaktif, dan berorientasi pada praktik langsung. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi kendala berupa rendahnya konsistensi kehadiran santri yang memengaruhi efektivitas pembelajaran.
REORIENTASI PERAN DAN FUNGSI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM Irfan Awalludin; Nur Hikmatusuriah
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan sosial yang semakin pesat, kemajuan teknologi digital, serta pergeseran kebijakan di bidang pendidikan memaksa guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mengubah peran dan fungsi mereka. Guru PAI tidak hanya memberi materi pelajaran, tapi juga membantu siswa, menginspirasi mereka, menjadi perubahan positif dalam masyarakat, serta menjadi contoh baik dalam membentuk sikap dan karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan peran dan fungsi guru PAI dari sudut pandang sosiologi pendidikan Islam, serta mengupas dampaknya terhadap jalannya proses pendidikan di masa kini. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan mempelajari berbagai literatur yang berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan cara mengajar guru PAI berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, meningkatkan profesionalisme guru, memperkuat karakter siswa, mempromosikan moderasi beragama, mendorong berkembangnya budaya sekolah yang berlandaskan agama, meningkatkan kemampuan literasi digital, serta meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam beradaptasi dengan perubahan sosial di abad ke-21. Oleh karena itu, perubahan peran guru PAI sangat diperlukan agar dapat menciptakan pendidikan Islam yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan bisa terus berkembang
PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL DI ERA MODERN Ainun shofiy mahfudhah; Nayla zalsabila
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu instrumen penting dalam pembentukan karakter dan perilaku sosial peserta didik. Di tengah perkembangan masyarakat yang terus mengalami perubahan sosial akibat kemajuan teknologi, globalisasi, dan transformasi budaya, PAI memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, PAI tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan agama, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai, norma, dan etika sosial yang mendukung terciptanya keteraturan masyarakat. Melalui pembelajaran nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian sosial, PAI berkontribusi dalam membentuk individu yang mampu menjalankan peran sosialnya secara baik. Namun, perkembangan zaman juga menghadirkan berbagai tantangan seperti individualisme, penyalahgunaan teknologi, dan menurunnya kepedulian sosial. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pendidikan agama yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Artikel ini bertujuan mengkaji hubungan antara Pendidikan Agama Islam dan perubahan sosial serta peran PAI dalam membentuk masyarakat yang berakhlak, harmonis, dan berkeadaban.
PAI BERBASIS MULTIKULTURAL UNTUK MENANGGULANGI RADIKALISME DAN KONFLIK SOSIAL Afiyah Zahroh Nugeroho; Khajah Indri Saputri
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan sikap sosial peserta didik di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Namun, perkembangan sikap intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, penerapan PAI berbasis multikultural menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menanamkan nilai toleransi, moderasi beragama, serta sikap saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat. Artikel ini membahas pengertian pendidikan multikultural, nilai-nilai PAI berbasis multikultural, faktor penyebab radikalisme dan konflik sosial, peran guru PAI, strategi pembelajaran multikultural, implementasi di sekolah, tantangan penerapan, serta dampaknya terhadap peserta didik. Melalui pendekatan multikultural, peserta didik diharapkan mampu memahami keberagaman sebagai bagian dari kehidupan sosial serta memiliki sikap terbuka, toleran, dan mampu hidup berdampingan secara damai. Dengan demikian, PAI berbasis multikultural dapat menjadi salah satu upaya strategis dalam mencegah berkembangnya paham radikal dan meminimalisasi konflik sosial di lingkungan pendidikan maupun masyarakat.
TINJAUAN SOSIOLOGI TENTANG POLA PENDIDIKAN dan KEPEMIPINAN PESANTREN Hilwah Azizah; Ahmad Akbar Maulana
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren adalah institusi pendidikan Islam yang paling tua di Indonesia dan memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter, moral, serta interaksi sosial masyarakat. Dari sudut pandang sosiologis, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar agama, tetapi juga sebagai lembaga sosial yang terlibat dalam proses sosialisasi, penginternalisasian nilai, serta pembentukan budaya dan norma dalam masyarakat. Metode pendidikan pesantren berfokus pada pengembangan akhlak, disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab melalui pembelajaran yang berlangsung baik secara formal maupun dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kepemimpinan kiai menjadi elemen utama dalam menjaga kelangsungan sistem pendidikan, melalui teladan, otoritas moral, serta kemampuan membimbing para santri. Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini, pesantren menghadapi berbagai tantangan, seperti digitalisasi pendidikan, peningkatan mutu manajemen, persaingan dengan institusi pendidikan modern, serta kebutuhan untuk mengembangkan kepemimpinan yang adaptif sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
EKSISTENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI Annisa Khayla Zahra; Maulana Azmi Haryadi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi telah membawa perubahan pesat dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, tetapi juga memunculkan tantangan berupa menurunnya nilai moral, lemahnya kesadaran beragama, serta meningkatnya pengaruh budaya asing terhadap peserta didik. Kondisi ini menuntut Pendidikan Agama Islam untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa mengabaikan perannya dalam membentuk akhlak, karakter, dan spiritual peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan Pendidikan Agama Islam pada era globalisasi dalam perspektif Sosiologi Pendidikan Islam serta mengkaji strategi yang dapat diterapkan untuk memperkuat peran Pendidikan Agama Islam dalam menghadapi perubahan sosial. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan menganalisis berbagai buku, artikel, dan jurnal ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang adaptif, optimalisasi peran guru, pemanfaatan teknologi digital secara bijak, penguatan pendidikan karakter, peningkatan literasi dan moderasi beragama, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sehingga peserta didik mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai nilai keislaman dan identitasnya.
UNSUR-UNSUR HUKUM DALAM USHUL FIQH: AL-HAKIM, AL-HUKM, MAHKUM FIH, DAN MAHKUM ‘ALAIH Rifal Rifal; Muh. Raihan Rahmansyah; Amira Huhajirah
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dan keterkaitan antara al-hakim, al-hukm, al-mahkum fih, dan almahkum ‘alaih , yang menjadi dasar dalam memahami hukum Islam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, sedangkan analisis data menggunakan analisis kualitatifdeskriptif dengan cara mengkaji berbagai literatur kitab AlGhazali dan pendapat para ulama tentang hubungan antara kekuasaan Allah swt sebagai pembuat hukum, aturan yang ditetapkan, serta peran manusia sebagai pelaksana hukum atau mukallaf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-hakim adalah Allah swt sebagai penentu hukum, al-hukm merupakan ketentuan yang mengatur perbuatan manusia, al-mahkum fih adalah perbuatan yang menjadi objek hukum, sedangkan almahkum ‘alaih adalah orang yang dibebani hukum, yaitu manusia yang telah berakal dan mencapai usia balig. Penelitian ini menegaskan bahwa seseorang baru dapat dibebani hukum apabila ia memiliki kemampuan berpikir dan memahami perintah serta larangan Allah swt. Oleh karena itu, anak kecil dan orang yang tidak berakal belum termasuk dalam golongan mukallaf. Kajian ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami struktur dasar hukum Islam serta tanggung jawab manusia sebagai subjek hukum dalam perspektif ushul fiqih.
SUMBER HUKUM ISLAM (DALIL SYAR’I): DALIL YANG DISEPAKATI Nur Afni Nabila; Wasfi Awaliah; Jinan Filsa; Besse Ruhaya
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai dasar utama dalam pembentukan hukum Islam, dalil syar'i memiliki peranan penting dalam memberikan arahan bagi umat Islam untuk menjalani kehidupan yang selaras dengan ketentuan syariat. Penelitian ini difokuskan pada pembahasan konsep dalil syar'i, penelusuran sumber-sumber hukum Islam yang memperoleh kesepakatan para ulama, serta kajian mengenai posisi dan kontribusi Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', dan Qiyas dalam proses istinbath hukum. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif yang didasarkan pada analisis berbagai sumber literatur terkait ushul fiqh. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa Al-Qur'an dan As-Sunnah menempati posisi sebagai sumber hukum utama yang menjadi pijakan seluruh aturan syariat, sedangkan Ijma' dan Qiyas berfungsi sebagai sarana pengembangan hukum untuk menjawab persoalan-persoalan yang tidak diatur secara eksplisit dalam sumber hukum primer. Kombinasi keempat sumber hukum tersebut menghasilkan sistem hukum Islam yang tidak hanya kokoh secara normatif, tetapi juga adaptif terhadap dinamika sosial dan perkembangan zaman. Melalui penerapan yang terintegrasi antara Al-Qur'an, As-Sunnah, Ijma', dan Qiyas, hukum Islam mampu menawarkan solusi atas berbagai isu kontemporer dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip dasarnya. Dengan demikian, penguasaan yang mendalam terhadap dalil syar'i menjadi kebutuhan penting dalam upaya mengembangkan hukum Islam yang responsif, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat