cover
Contact Name
Muhamad Rudi Wijaya
Contact Email
rudiwijaya68@gmail.com
Phone
+6282175218558
Journal Mail Official
rudiwijaya68@gmail.com
Editorial Address
Dusun Rejo Agung Desa Rejo Agung Kecamatan Batanghari, Kab. Lampung Timur, Provinsi Lampung, 34181
Location
Kab. lampung timur,
Lampung
INDONESIA
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan)
Published by CV Najah Bestari
ISSN : 29649633     EISSN : 2964965X     DOI : -
Jurnal An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) khusus membahas masalah pendidikan Islam. Ruang lingkup jurnal meliputi penelitian, pemikiran pendidikan Islam, dan kerja lapangan tentang pendidikan Islam. Pendekatannya bersifat interdisipliner, melingkupi, dan menggabungkan perspektif dari filsafat pendidikan Islam, studi banding pendidikan Islam, kurikulum, proses belajar mengajar dalam pendidikan Islam, evaluasi, pendidikan Islam, dan pendidikan khusus yang relevan dengan isu-isu pendidikan Islam.
Articles 552 Documents
Maqasidus Syari’ah Sebagai Metodologi Penetapan Hukum Islam Nurul Asti Rais; Nur Alika Widia; Duratun Nashihah; Besse Ruhaya
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maqasid al-Syari’ah merupakan konsep fundamental dalam hukum Islam yang berfungsi sebagai landasan dalam memahami tujuan dan hikmah di balik setiap ketentuan syariat. Konsep ini menekankan bahwa seluruh hukum Islam ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kemudaratan bagi umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengertian Maqasid al-Syari’ah, dasar-dasar yang melandasinya, tujuan utamanya dalam mewujudkan kemaslahatan umat, serta pembagiannya berdasarkan tingkat kebutuhan dan kepentingan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelaahan berbagai literatur yang berkaitan dengan kajian ushul fikih dan Maqasid al-Syari’ah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Maqasid al-Syari’ah memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an, hadis, dan praktik ijtihad para ulama. Tujuan utama Maqasid al-Syari’ah adalah menjaga lima unsur pokok kehidupan manusia (al-daruriyyat al-khams), yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Selain itu, Maqasid al-Syari’ah dibagi menjadi tiga tingkatan kebutuhan, yaitu daruriyyat (primer), hajiyyat (sekunder), dan tahsiniyyat (tersier), yang menjadi pedoman dalam menentukan prioritas kemaslahatan dalam penetapan hukum Islam. Dengan demikian, Maqasid al-Syari’ah berperan penting sebagai metodologi penetapan hukum Islam yang mampu menjawab berbagai persoalan kontemporer secara relevan, adil, dan sesuai dengan tujuan syariat
RUANG LINGKUP SOSIOLOGI PENDIDIKAN ISLAM Muhamad Fadil Sahil Sahak
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sosiologi Islam merupakan bidang kajian yang membahas kehidupan sosial manusia dengan memadukan pendekatan sosiologi dan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Kajian ini tidak hanya menyoroti fenomena sosial secara nyata, tetapi juga memperhatikan aspek moral dan spiritual dalam setiap interaksi sosial. Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji pengertian, ruang lingkup, serta relevansi sosiologi Islam dalam kehidupan masyarakat modern dengan menggunakan metode studi kepustakaan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ruang lingkup sosiologi Islam mencakup interaksi sosial, struktur sosial, perubahan sosial, masalah sosial, serta nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. Selain itu, sosiologi Islam juga berperan dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan sosial seperti krisis moral dan ketimpangan sosial. Oleh karena itu, sosiologi Islam tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan modern guna mewujudkan masyarakat yang harmonis, adil, dan seimbang antara kebutuhan material dan spiritual
Literasi Artificial Intelligence Berbasis Nilai-Nilai Al-Qur'an dan Hadist Imam Anas Hadi; Rizka Dewi Khoirunnisa; Ilham Azmi; Dul Muhyi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) has brought significant changes in various aspects of life, including education, economics, communication, and decision-making. In addition to the various benefits offered, the use of AI also presents ethical challenges such as the dissemination of invalid information, violation of privacy, misuse of technology, and decreased moral responsibility of users. This study aims to examine the concept of Artificial Intelligence literacy based on the values ​​of the Qur'an and Hadith as an ethical basis for utilizing technology responsibly. The study uses a library research method with a normative-philosophical approach and a study of maudhu'i interpretation of the verses of the Qur'an and Hadith related to knowledge, trustworthiness, honesty, tabayyun, responsibility, and benefits. Data are analyzed descriptively and analytically through interpretation of relevant primary and secondary sources. The results show that AI literacy from an Islamic perspective includes not only the ability to understand and use technology, but also the ability to assess, criticize, and utilize AI based on the values ​​of monotheism, trustworthiness, honesty (ṣidq), information verification (tabayyun), justice, and responsibility. These values ​​serve as the foundation for building an ethical, humanistic, and welfare-oriented digital culture. Therefore, integrating AI literacy with the values ​​of the Quran and Hadith can become a relevant Islamic educational paradigm in addressing technological developments while simultaneously developing intelligent, integrated, and morally upright AI users.
PERAN PAI DALAM MENGHASILKAN INSAN AKADEMIS BERINTEGRITAS Ali Reza Faisal; Khalid Rahman Hakim; Muhammad Abdullah Darraz
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Integritas akademik merupakan fondasi utama dalam menjaga keluhuran ilmu pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi. Namun, era modern menghadirkan tantangan moral yang serius, ditandai dengan maraknya praktik kecurangan akademik seperti plagiarisme, joki karya ilmiah, dan manipulasi data. Artikel ini bertujuan mengkaji secara mendalam bagaimana Pendidikan Agama Islam (PAI) berperan strategis dalam membentuk insan akademis yang berintegritas. Metode penulisan menggunakan pendekatan studi literatur dari jurnal-jurnal terakreditasi nasional rentang tahun 2016–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa PAI tidak sekadar berfungsi sebagai transfer pengetahuan normatif, melainkan sebagai instrumen internalisasi nilai spiritualitas (iman), keilmuan (ilmu), dan pengamalan nyata (amal). Melalui penanaman sifat jujur (as-sidq) dan amanah, PAI membangun sistem pengawasan internal dalam jiwa mahasiswa. Kesimpulannya, sinergi antara restrukturisasi kurikulum PAI yang kontekstual, keteladanan dosen, dan penciptaan ekosistem kampus yang religius menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi akademisi yang cerdas secara intelektual sekaligus mulia secara akhlak demi kemaslahatan umat
Pengaruh Perangkat Digital terhadap Kedisiplinan Akademik Santri: Studi Kasus pada TPQ Ar¬-Ridho Ampelgading Izzal Fauzi; Sita Acetylena
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penetrasi teknologi digital yang masif telah merambah entitas pendidikan non-formal akar rumput seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Penggunaan perangkat digital yang nir-pengawasan oleh anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah membawa tantangan multidimensional terhadap pembentukan karakter, stabilitas emosional, dan kedisiplinan akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam dan komprehensif implikasi penggunaan perangkat digital terhadap kedisiplinan akademik santri di TPQ Arridho Ampelgading, melalui lensa psikologi kognitif dan teori perilaku, serta mengidentifikasi strategi mitigasinya. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus digunakan untuk mengeksplorasi 30 santri heterogen, tenaga pendidik, dan wali santri. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif di ruang belajar terbatas (5 m²), wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Temuan lapangan yang disandingkan dengan pandangan para ahli (2023-2026) menunjukkan bahwa tingginya intensitas penggunaan gawai berkorelasi signifikan dengan prokrastinasi akut, keterlambatan kronis, perubahan adab ekstrem yang mengarah pada gejala putus zat (withdrawal syndrome), dan penurunan kapasitas retensi hafalan akibat beban kognitif berlebih. Kesimpulannya, degradasi kedisiplinan santri sangat dipengaruhi oleh kegagalan regulasi diri akibat absennya digital parenting dari wali santri, yang diperparah oleh keterbatasan infrastruktur. Hal ini menuntut adanya rekayasa sosial dan intervensi pedagogis yang holistik dari berbagai pemangku kepentingan
HUKUM SYAR'I (HUKUM TAKLIFI) Nur Inayah Ralli; Isratul Ayni; Abdul Basir; Besse Ruhaya
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum taklifi merupakan komponen penting dalam hukum syariat Islam yang mengatur tindakan mukallaf melalui tiga bentuk utama, yakni perintah, larangan, dan kebolehan. Pemahaman yang mendalam tentang hukum taklifi menjadi urgensi tersendiri, sebab ia berperan sebagai rambu-rambu bagi umat Islam dalam menyikapi dan menjalankan berbagai aktivitas keseharian. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk menguraikan secara konseptual tentang hukum taklifi, dasar-dasar penetapannya, klasifikasinya, serta relevansinya dalam kehidupan praktis. Pendekatan yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan menelaah beragam sumber primer dan sekunder, seperti kitab-kitab ushul fikih, jurnal ilmiah, serta dalil Al-Qur'an dan hadis. Berdasarkan hasil kajian, hukum taklifi terbagi ke dalam lima kategori, yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah. Kelima tingkatan ini berfungsi sebagai panduan komprehensif dalam mengarahkan perilaku manusia agar selaras dengan nilai-nilai syariat. Lebih dari sekadar mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, hukum taklifi juga memberikan kerangka dalam menjalin hubungan sosial (hablum minannas), membina akhlak mulia, serta menjadi landasan dalam merespons isu-isu kekinian. Dengan demikian, pemahaman terhadap hukum taklifi tidak hanya bersifat teoretis-akademis, melainkan memiliki kontribusi nyata dalam membentuk tatanan masyarakat yang religius, bertanggung jawab, dan senantiasa berpijak pada prinsip kemaslahatan bersama
Tinjauan Sosiologis tentang Masuknya PAI ke dalam Kurikulum Sekolah Umum Muhammad Fathihudin; Diki Ramdani; Muhammad Abdullah Darraz
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menyajikan tinjauan sosiologis mengenai integrasi Pendidikan Agama Islam (PAI) ke dalam kurikulum sekolah umum di Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berdesain studi kepustakaan, penelitian ini menjadikan kebijakan pemerintah, catatan sejarah, dan literatur akademik sebagai sumber data utama, yang dianalisis melalui teknik analisis isi meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masuknya PAI ke dalam pendidikan umum merupakan upaya yang disengaja untuk menjembatani dualisme sistem pendidikan sekuler dan agama warisan era kolonial. Secara sosiologis, integrasi ini mencerminkan aspirasi kolektif masyarakat yang religius, berfungsi sebagai instrumen sosialisasi yang menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan dan identitas nasional, sekaligus mendorong harmoni sosial di tengah keberagaman Indonesia. Namun, masih terdapat kesenjangan yang persisten antara desain kurikulum yang ideal dan implementasinya di lapangan, yang dibatasi oleh metode pengajaran konvensional dan kapasitas guru yang terbatas. Kebijakan ke depan perlu memperkuat kompetensi guru dan otonomi sekolah agar pendidikan agama menjadi lebih relevan dan inklusif
ETIKA KOMUNIKASI ISLAMI: MENANGKAL HOAKS DAN UJARAN KEBENCIAN DENGAN BELAJAR DARI ADAB ILMUWAN MASA KEJAYAAN ISLAM Nur Halimah; Esa Amanda; Fithrina Qotrunnada; Brian Adam; Abdul Fadhil
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas etika komunikasi Islami sebagai pendekatan untuk menangkal hoaks dan ujaran kebencian dengan mengambil pelajaran dari adab ilmuwan pada masa kejayaan peradaban Islam. Kajian bersifat kualitatif-historis dan konseptual, berbasis telaah pustaka terhadap sumber klasik (kitab adab dan karya ulama) serta literatur kontemporer tentang media dan komunikasi. Fokus pembahasan meliputi nilai-nilai etis komunikasi tradisional, cara-cara mengadaptasi adab tersebut ke ranah digital, dan implikasinya dalam upaya pencegahan disinformasi serta intoleransi. Temuan kajian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip adab ilmuwan kehatian-hatian dalam penyampaian, verifikasi informasi, tawadhu (kerendahan hati), kesantunan dalam berdebat, dan tanggung jawab moral atas ucapan memiliki relevansi kuat dan potensi efektif bila diintegrasikan ke praktik komunikasi modern. Rekomendasi meliputi pengembangan literasi media berbasis nilai Islami, pedoman etika untuk komunitas daring, serta peran aktif tokoh agama dan lembaga pendidikan sebagai teladan. Kajian lanjutan diusulkan untuk mengeksplorasi penerimaan dan efektivitas intervensi dalam konteks keluarga, sekolah, dan platform digital.
PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA MELALUI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DI MAN 2 WONOSOBO Septiani Muslim; Listiana Zumrotun; Muhammad Fadly Anam
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya optimalisasi peran pendidik di tengah melimpahnya sarana prasarana sekolah, secara khusus pada Perpustakaan Baitul Hikmah MAN 2 Wonosobo yang telah sangat memadai dan berhasil meraih prestasi Juara 2 Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat Nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Guru PAI sebagai motivator dan fasilitator literasi, bentuk pemanfaatan fasilitas perpustakaan nasional tersebut dalam pembelajaran PAI, serta faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh guru di lapangan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada Guru PAI dan pengelola perpustakaan/pustakawan, serta didukung oleh teknik dokumentasi berupa arsip prestasi perpustakaan, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dokumen statistik kunjungan, dan foto kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Guru PAI menjalankan peran motivator melalui pendekatan nilai spiritual membaca (iqra’) serta metode rewarding, serta peran fasilitator melalui penugasan riset pustaka ringan terstruktur; (2) Pemanfaatan perpustakaan nasional dioptimalkan melalui program Jam Wajib Kunjung Perpustakaan dan pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan kenyamanan ruang diskusi, kelengkapan literatur Islam, hingga akses komputer e-library; (3) Faktor pendukung utama meliputi komitmen pembaruan koleksi buku oleh madrasah, sinergi guru-pustakawan, dan kultur agamis masyarakat lokal, sedangkan faktor penghambat terbesar adalah disrupsi gawai (smartphone) yang menurunkan daya tahan baca siswa serta keterbatasan alokasi jam pelajaran di kelas. Hambatan tersebut disiasati guru melalui inovasi pengalihan tugas resume ke aplikasi digital e-library resmi milik madrasah
Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Athiyah al-Abrasyi dan Relevansinya terhadap Pendidikan Islam di Indonesia Nurdhiya Laila Syita; Fina Sofiana; Mukhtar Sofwan Hidayat
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 5 No. 4: Juli 2026
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memadukan nilai-nilai keislaman dengan tuntutan modernitas. Kajian terhadap pemikiran tokoh pendidikan Islam menjadi salah satu upaya strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemikiran Muhammad Athiyah al-Abrasyi tentang pendidikan Islam, meliputi biografi intelektualnya, prinsip-prinsip dasar pendidikan, tujuan pendidikan Islam, serta komponen-komponen pendidikan yang mencakup pendidik, peserta didik, dan kurikulum, sekaligus mengkaji relevansinya bagi pendidikan Islam kontemporer di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Abrasyi membangun sistem pendidikan Islam yang holistik dengan tiga prinsip dasar: kesetaraan dan kebebasan belajar, kesesuaian materi dengan kemampuan peserta didik, serta perhatian terhadap bakat dan potensi individual. Tujuan pendidikannya berpusat pada pembentukan akhlak mulia sebagai ruh pendidikan Islam, yang diimbangi dengan pengembangan intelektual, keterampilan praktis, dan orientasi keilmuan yang tulus. Pemikirannya tentang guru sebagai bapak rohani dan kurikulum integratif yang menolak dikotomi ilmu agama dan ilmu umum terbukti selaras dengan kebijakan pendidikan nasional Indonesia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran al-Abrasyi tetap relevan dan dapat menjadi rujukan strategis bagi pengembangan pendidikan Islam yang berkarakter dan holistik di Indonesia.