Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat
We focus on publishing ethically and methodologically rigorous scientific research, including original research, literature reviews, and case reports in the medicine and public health field.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 1 (2026)"
:
15 Documents
clear
Perbedaan Ketebalan Jaringan Lunak Wajah (Facial Soft Tissue Thickness) Antara Laki-Laki dan Perempuan pada Populasi Deuteromalayid Menggunakan MRI Kepala
Ula, Ma’rifatul;
Fitrianti, Mia Yulia Fitrianti;
Syarifah, Mustika Chasanatussy;
Artaria, Myrtati Dyah
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Indonesia merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia dengan potensi korban jiwa massal. Sering kali, kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan lanjut membuat metode identifikasi primer (sidik jari, gigi, DNA) sulit diterapkan. Dalam kondisi tersebut, rekonstruksi wajah menjadi metode alternatif vital, namun akurasinya sangat bergantung pada data referensi ketebalan jaringan lunak wajah (Facial Soft Tissue Thickness/FSTT) yang spesifik untuk populasi tertentu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis perbedaan FSTT antara laki-laki dan perempuan pada populasi Deuteromalayid guna menyediakan data referensi dasar bagi rekonstruksi wajah forensik. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional). Penelitian dilaksanakan di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Agustus hingga September 2020. Sampel terdiri dari 30 pasien (15 laki-laki dan 15 perempuan) ras Deuteromalayid yang menjalani pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala untuk keperluan diagnostik. Data FSTT diukur secara digital menggunakan perangkat lunak Dicom Viewer. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan adanya variasi rerata ketebalan jaringan lunak wajah antara kedua kelompok jenis kelamin. Analisis statistik mengungkapkan perbedaan yang signifikan secara spesifik pada area hidung dan bibir. Sementara itu, pada titik-titik pengukuran area wajah lainnya, meskipun terdapat perbedaan nilai rerata, perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Simpulan: Terdapat dimorfisme seksual pada ketebalan jaringan lunak wajah populasi Deuteromalayid, terutama pada regio mid-face (hidung dan bibir). Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan data spesifik jenis kelamin dalam proses rekonstruksi wajah untuk meningkatkan akurasi identifikasi. Kata kunci: Facial Soft Tissue Thickness (FSTT); Deuteromalayid; rekonstruksi wajah; identifikasi forensik; MRI kepala.
Hubungan Gangguan Psikiatri dengan Kasus Bunuh Diri dan Implikasi dalam Investigasi Kedokteran Forensik: Sebuah Tinjauan Pustaka
Fitrianti, Mia Yulia;
Ula, Ma’rifatul;
Sarifah, Mustika Chasanatussy;
Fachir, Said Nur Ikhsan
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang disengaja untuk mengakhiri hidup dan menjadi masalah kesehatan global serius dengan estimasi mortalitas mencapai 800.000 kasus per tahun menurut WHO. Lebih dari 90% kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri dilaporkan memiliki kaitan erat dengan gangguan psikiatri sebagai faktor etiologi utama. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gangguan psikiatri dengan insidensi bunuh diri serta implikasinya terhadap pemeriksaan medis. Penulisan dilakukan melalui penelusuran literatur pada basis data PubMed, Mendeley, Science Direct, dan Google Scholar dengan rentang publikasi tahun 2020 hingga 2023. Dari hasil seleksi, diperoleh 9 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Hasil tinjauan mengonfirmasi adanya korelasi yang signifikan dimana gangguan psikiatri merupakan faktor risiko dominan dalam kasus bunuh diri. Oleh karena itu, dalam konteks investigasi forensik, autopsi psikologis dan pendalaman riwayat gejala psikiatri ante-mortem pada korban menjadi prosedur krusial untuk menegakkan diagnosis medikolegal. Kata kunci: bunuh diri; gangguan psikiatri; kedokteran forensik; faktor risiko; autopsi psikologis.
Dimorfisme Tulang Panggul dan Perkiraan Jenis Kelamin pada Kerangka: Arah Masa Depan dalam Literatur Antropologi Forensik: Sebuah Tinjauan Pustaka
Heristyorini, Ayodya
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulang panggul memiliki fungsi fisiologis yang menghasilkan perbedaan morfologi signifikan antara laki-laki dan perempuan, suatu fenomena yang dikenal sebagai dimorfisme seksual. Dalam lingkup antropologi forensik, karakteristik dimorfisme ini menjadi aspek fundamental dalam diagnosis penentuan jenis kelamin biologis. Secara konvensional, evaluasi fitur dimorfis dilakukan menggunakan metode non-metris melalui pengamatan makroskopis langsung, namun saat ini telah terjadi pergeseran paradigma penelitian menuju metode metris yang lebih objektif. Selain itu, integrasi algoritma machine learning pada metode non-metri Kata kunci: ds kini semakin lazim diterapkan guna mencapai tingkat akurasi estimasi yang lebih presisi. Artikel ini mengulas fitur-fitur anatomis panggul yang menunjukkan dimorfisme, transformasi metodologi dari pendekatan kualitatif ke kuantitatif, serta arah perkembangan penelitian yang berimplikasi pada praktik antropologi forensik modern.imorfisme seksual; tulang panggul; perkiraan jenis kelamin; antropologi forensik; machine learning; metode metris.
Analisis Temuan Autopsi pada Kasus Kematian Akibat Cedera Otak Traumatik karena Kekerasan Tumpul: Sebuah Laporan Kasus
Priyatna, Setya Aji;
Purnamaningsih, Sari Nur Indahty;
Yudianto, Ahmad
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Cedera Otak Traumatik (COT) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, khususnya di negara berkembang dengan angka mortalitas yang tinggi pada populasi dewasa muda. Trauma tumpul pada kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya dan sering kali berujung pada kematian akibat kerusakan organ vital, perdarahan intrakranial, serta komplikasi sistemik. Identifikasi patologi forensik yang presisi sangat diperlukan untuk menentukan mekanisme kematian pada kasus kekerasan tumpul (blunt force trauma). Deskripsi Kasus: Kami melaporkan kasus kematian seorang laki-laki yang diduga akibat penganiayaan massa. Jenazah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk pemeriksaan berdasarkan surat permintaan visum et repertum. Pemeriksaan luar menunjukkan tanda kekerasan tumpul berupa luka lecet pada regio frontal, labial, dan ekstremitas atas, serta luka memar pada area periorbital dan mukosa bibir. Pemeriksaan dalam (autopsi) mengungkapkan adanya resapan darah pada kulit kepala bagian dalam, perdarahan subaraknoid, perdarahan intraventrikular, serta petekie pada parenkim otak. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi adanya kongesti pembuluh darah yang signifikan pada serebrum dan batang otak. Simpulan: Berdasarkan temuan autopsi dan pemeriksaan penunjang, penyebab kematian disimpulkan sebagai akibat kekerasan tumpul pada kepala yang menyebabkan perdarahan intrakranial masif dan memicu mekanisme asfiksia (mati lemas). Kasus ini menegaskan krusialnya pemeriksaan forensik menyeluruh dalam pembuktian kausalitas kematian pada kasus trauma tumpul. Kata kunci: cedera otak traumatik; kekerasan tumpul; autopsi forensik; perdarahan intrakranial; penganiayaan; asfiksia.
Peran Kedokteran Forensik dalam Menentukan Derajat Luka Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Sebuah Laporan Kasus
Wijaya, Yudi Siswanto;
Bhima, Sigid Kirana Lintang `;
Dhanardhono, Tuntas
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Abstrak Latar Belakang: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menunjukkan tren peningkatan prevalensi namun sering kali merepresentasikan fenomena gunung es, di mana kasus yang terlaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian nyata akibat minimnya data valid. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran strategis kedokteran forensik menjadi krusial, baik bagi praktisi medis maupun masyarakat, khususnya dalam aspek pembuktian hukum melalui penentuan derajat luka. Deskripsi Kasus: Kami melaporkan kasus seorang perempuan berusia 33 tahun yang menjadi korban kekerasan fisik oleh suaminya. Pasien datang dengan riwayat trauma tumpul berupa tamparan keras pada regio pipi kiri. Pemeriksaan klinis mengungkapkan adanya keluhan subjektif berupa sensasi berdenging (tinnitus) dan penurunan fungsi pendengaran pada telinga kiri pasca-trauma, yang mengindikasikan adanya dampak fungsional akibat kekerasan tersebut. Simpulan: Dokter spesialis forensik memegang peranan vital dalam manajemen komprehensif kasus KDRT, yang mencakup pemeriksaan fisik, tata laksana medis, hingga penyusunan visum et repertum. Penentuan kualifikasi atau derajat luka yang akurat berdasarkan temuan klinis dan dampak fungsional korban merupakan elemen fundamental dalam proses peradilan untuk menjamin keadilan hukum. Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga; kedokteran forensik; derajat luka; visum et repertum; trauma tumpul.
Analisis Gangguan Makan pada Remaja dengan Diabetes Mellitus Tipe 1 (Patofisiologi, Instrumen Skrining, dan Strategi Penatalaksanaan Multidisiplin Berbasis Bukti): Sebuah Tinjauan Pustaka
Susanti, Eska Agustin Putri
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gangguan makan pada remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 (DMT1) merupakan masalah klinis kompleks dengan prevalensi mencapai 22,6%, yang didominasi oleh other specified feeding or eating disorders (OSFED). Kondisi ini meningkatkan risiko mortalitas hingga tiga kali lipat akibat mekanisme patofisiologi yang melibatkan disfungsi regulasi glukosa dan perilaku maladaptif, seperti manipulasi dosis insulin demi penurunan berat badan. Dampak klinisnya sangat signifikan, mencakup peningkatan risiko ketoasidosis diabetikum (OR 3,2) dan komplikasi mikrovaskular yang berat. Oleh karena itu, parameter klinis seperti HbA1c >9% dan frekuensi rawat inap menjadi indikator krusial dalam pemantauan pasien. Skrining dini menggunakan instrumen Diabetes Eating Problem Survey-Revised (DEPS-R) terbukti memiliki konsistensi internal yang tinggi dan sangat efektif dalam mendeteksi gangguan secara dini. Penatalaksanaan yang bersifat multidisiplin, melibatkan kolaborasi antara dokter spesialis endokrin, psikiater, dan ahli gizi, terbukti mampu menurunkan angka hospitalisasi hingga 45% serta memperbaiki kontrol glikemik secara substansial. Strategi pencegahan melalui psikoedukasi keluarga dan penerapan protokol standar tidak hanya memperbaiki luaran klinis tetapi juga meningkatkan skor kualitas hidup pasien secara signifikan. Tinjauan ini menegaskan pentingnya integrasi aspek medis dan psikososial dalam tata laksana komprehensif populasi remaja dengan DMT1. Kata kunci: diabetes mellitus tipe 1; gangguan makan; remaja; manajemen multidisiplin; penyalahgunaan insulin; intervensi berbasis bukti.
Efek Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap Fungsi Hati Tikus Wistar yang Diinduksi Parasetamol
Rizkawati, Muflihah;
Rizky Wijayanti, Arini;
Djunet, Nur Aini;
Astuti, Ernadita Budi;
Anggraeni, Marlina
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Parasetamol merupakan obat analgesik-antipiretik yang paling umum digunakan karena memiliki profil efek samping yang relatif minim dibandingkan golongan analgesik lain. Namun, penggunaan jangka panjang atau dosis berlebih dapat memicu kerusakan hati (hepatotoksisitas). Mekanisme kerusakan ini terutama disebabkan oleh akumulasi metabolit toksik N-acetyl-p-benzoquinone imine (NAPQI) akibat saturasi jalur glukuronidasi, yang memicu stres oksidatif pada sel hepar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas hepatoprotektor ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dalam mencegah kerusakan fungsi hati yang diakibatkan oleh induksi parasetamol. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratoris menggunakan 25 ekor tikus putih galur Wistar yang dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif hanya diberikan akuades; kontrol positif diinduksi parasetamol dosis 2 g/kgBB selama tiga hari terakhir; dan tiga kelompok perlakuan diberikan ekstrak C. xanthorrhiza dengan variasi dosis bertingkat (800 mg/kgBB, 1600 mg/kgBB, dan 3200 mg/kgBB) sebelum induksi. Parameter kerusakan hati dinilai melalui pengukuran kadar enzim Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dari sampel darah sinus orbital. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh kelompok yang menerima perlakuan ekstrak memiliki kadar enzim transaminase yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol positif. Penurunan kadar SGOT dan SGPT yang paling signifikan dan optimal terlihat pada kelompok perlakuan dengan dosis 800 mg/kgBB, yang mendekati nilai normal. Simpulan: Pemberian ekstrak Curcuma xanthorrhiza terbukti memiliki efek hepatoprotektif yang efektif terhadap kerusakan hati akibat induksi parasetamol, dengan dosis 800 mg/kgBB sebagai dosis yang memberikan proteksi paling optimal. Kata kunci: hepatoprotektor; Curcuma xanthorrhiza; parasetamol; fungsi hati; SGOT; SGPT.
Penggunaan Digital Subtraction Angiography (DSA) Plus Metode Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) Sebagai Terapi Gangguan Vaskular : Sebuah Tinjauan Pustaka
Akhmad, Syaefudin Ali;
Miladiyah, Isnatin
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penyakit kardiovaskular terus mengalami peningkatan prevalensi secara global dengan estimasi angka mortalitas mencapai 25 juta jiwa pada tahun 2030. Kondisi ini menuntut inovasi dalam intervensi medis, salah satunya melalui integrasi pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) dengan metode Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) untuk mengatasi gangguan aliran darah akibat obstruksi maupun iskemik. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode IAHF terhadap perbaikan sirkulasi darah pada pasien dengan gangguan vaskular tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review (SR) dengan bantuan aplikasi Covidence untuk mengoptimalkan efisiensi dan kolaborasi dalam proses seleksi studi. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan berhasil mengidentifikasi dua publikasi yang memenuhi kriteria relevansi. Hasil sintesis data menunjukkan bahwa metode IAHF memberikan kontribusi klinis yang signifikan dalam memperlancar aliran darah, khususnya pada kasus sensory hearing loss dan stenosis pembuluh darah renalis. Implementasi kombinasi DSA dan IAHF berpotensi menjadi modalitas terapi yang efektif dalam manajemen gangguan vaskular kompleks. Kata kunci: IAHF; DSA; gangguan vaskular; sirkulasi darah; Covidence; stenosis pembuluh darah renalis.
Translokasi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ke Kandung Kemih: Sebuah Laporan Kasus
Samudra, Bagus Gilang;
Yudatama, Proginova Dian;
Hendri, Ahmad Zulfan;
Estiko, Reza Ishak
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi reversibel yang paling banyak digunakan secara global. Meskipun efektif, metode ini memiliki risiko komplikasi serius seperti perforasi uterus dan migrasi alat ke organ di rongga panggul. Perforasi yang berujung pada migrasi AKDR ke dalam kandung kemih (intravesikal) merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi dan dokumentasi kasus serupa dalam literatur medis masih sangat terbatas. Deskripsi Kasus: Kami melaporkan kasus translokasi AKDR ke vesika urinaria pada seorang perempuan berusia 40-an tahun dengan keluhan Infeksi Saluran Kemih (ISK) berulang selama satu tahun. Pasien memiliki riwayat pemasangan AKDR empat tahun pasca persalinan anak ketiga, namun mengalami kehamilan anak keempat satu tahun kemudian dengan posisi AKDR yang tetap terpasang (in situ). Pemeriksaan ultrasonografi urologi awal mengidentifikasi adanya batu kandung kemih. Konfirmasi diagnosis dilakukan melalui foto polos abdomen yang memvisualisasikan keberadaan AKDR ektopik. Tata laksana dilakukan melalui prosedur minimal invasif berupa sistoskopi dan vesikolitotripsi untuk ekstraksi alat serta fragmentasi batu. Simpulan: Kasus ini menekankan pentingnya kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan translokasi AKDR pada pasien dengan riwayat kehamilan saat penggunaan kontrasepsi yang disertai gejala ISK berulang. Pemeriksaan radiografi polos merupakan modalitas penunjang yang efektif untuk lokalisasi benda asing, dan intervensi endoskopi seperti sistoskopi dan vesikolitotripsi terbukti efektif sebagai metode manajemen terapeutik. Kata kunci: translokasi AKDR; kandung kemih; infeksi saluran kemih berulang; sistoskopi; vesikolitotripsi; benda asing intravesikal.
Analisis Komparatif Metode Difusi Sumuran dan Difusi Cakram dalam Evaluasi Aktivitas Antibakteri Ciprofloxacin terhadap Escherichia coli ATCC 35218
Muhammad, Afivudien;
Andriyanto, Eko
Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Latar Belakang: Uji aktivitas antibakteri merupakan prosedur fundamental dalam farmakologi untuk menentukan potensi suatu agen antimikroba. Terdapat dua teknik utama dalam metode difusi agar yang umum digunakan, yaitu metode difusi cakram (disc diffusion) dan difusi sumuran (well diffusion). Pemilihan metode yang tepat sangat krusial karena variasi teknik dapat memengaruhi akurasi pengukuran zona hambat, terutama pada bakteri patogen seperti Escherichia coli. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan sensitivitas antara metode Kirby-Bauer (cakram) dan metode sumuran dalam mengukur diameter zona hambat antibiotik Ciprofloxacin terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 35218. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratoris. Pengujian dilakukan dengan memaparkan biakan Escherichia coli ATCC 35218 terhadap antibiotik Ciprofloxacin menggunakan dua metode difusi yang berbeda. Analisis data dilakukan untuk membandingkan diameter zona hambat yang terbentuk menggunakan uji statistik T berpasangan (Paired T-test) untuk menentukan signifikansi perbedaan antar kelompok. Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa metode difusi sumuran menghasilkan diameter zona hambat yang lebih besar dan konsisten dibandingkan metode difusi cakram. Analisis statistik mengonfirmasi bahwa metode sumuran memiliki sensitivitas yang lebih optimal dalam mendeteksi aktivitas antibakteri Ciprofloxacin pada kondisi eksperimental ini. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara metode difusi sumuran dan difusi cakram. Metode difusi sumuran terbukti lebih efektif dibandingkan metode cakram dalam pengujian aktivitas antibakteri Ciprofloxacin terhadap Escherichia coli, sehingga pemilihan teknik difusi harus disesuaikan dengan kebutuhan sensitivitas pengujian. Kata kunci: uji aktivitas antibakteri; Ciprofloxacin; Escherichia coli; difusi sumuran; difusi cakram; zona hambat.