cover
Contact Name
Herin Setianingsih
Contact Email
herin.setianingsih@hangtuah.ac.id
Phone
+6282257037541
Journal Mail Official
putra.abdullah@hangtuah.ac.id
Editorial Address
Jl. Gadung No. 1, Komplek Barat RSPAL dr. Ramelan, Surabaya, Provinsi Jawa Timur, 60111
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Surabaya Biomedical Journal
Published by Universitas Hang Tuah
ISSN : -     EISSN : 2808649X     DOI : 10.30649/sbj
Core Subject : Health,
Surabaya Biomedical Journal is a peer-reviewed, open access journal published three times a year (January, May, and September) by the Faculty of Medicine, Universitas Hang Tuah, Surabaya. The journal is dedicated to publishing high-quality original research articles, review papers, and general scientific contributions across all areas of medical and health sciences. The journal seeks to foster intellectual exchange and interdisciplinary dialogue among researchers, clinicians, and practitioners by integrating diverse perspectives, methodologies, and topics within the biomedical field. It aims to serve as a platform that bridges academic scholarship and clinical practice. The scope of the journal includes, but is not limited to: 1.Marine medicine 2.Hyperbaric medicine 3.General medicine 4.Dentistry 5.Nursing 6.Pharmacy Surabaya Biomedical Journal welcomes submissions from researchers and professionals who are engaged in advancing knowledge and innovation in these fields.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2026): Januari" : 7 Documents clear
KARAKTERISTIK PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN TUBERKULOSIS PARU PERIODE JANUARI 2021 HINGGA JANUARI 2025 DI RSPAL DR. RAMELAN SURABAYA Santoso, Eilien Levina; Ridho, Muhammad Rasyid; Iskandar, Maulana; Firstania, Verin; Sebastian, Putu Gede Agus Aryana
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.169

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit komorbid utama pada pasien Tuberkulosis (TB) paru yang dapat mempersulit penatalaksanaan dan memperburuk prognosis. Pasien dengan DMT2 dapat meningkatkan risiko 2 hingga 3 kali lipat terkena penyakit TB aktif daripada pasien tanpa DMT2. Sehingga, penting untuk mengetahui karakteristik pasien DMT2 dengan TB paru untuk memahami mekanisme interaksi kedua penyakit tersebut dengan lebih lanjut. Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien DMT2 dengan TB paru pada periode Januari 2021 hingga Januari 2025 di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya. Metode: Penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis pasien rawat inap DMT2 dengan diagnosis TB paru di RSPAL Dr. Ramelan Surabaya periode Januari 2021 – Januari 2025. Total 187 pasien yang memenuhi kriteria inklusi berdasarkan usia, diagnosis dan hasil pemeriksaan penunjang (HbA1c, GDP, TCM, BTA dan Rontgen Thoraks). Hasil: Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (59,8%) dan berusia lebih dari 60 tahun (42,3%). Sebanyak 56% pasien menunjukkan kadar HbA1c ≥7% dan 100% memiliki kadar gula darah puasa ≥126 mg/dL. Pada pemeriksaan TCM sebanyak 52% pasien memliki hasil positif dan 41,7% pasien memiliki hasil BTA positif. Pada pemeriksaan radiologis, 88,7% pasien menunjukkan gambaran radiologis khas TB aktif. Kesimpulan: Pasien DMT2 dengan TB paru di RSPAL Dr. Ramelan umumnya adalah laki-laki dengan usia lebih dari 60 tahun serta memiliki kontrol glikemik buruk. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2, Tuberkulosis Paru
HUBUNGAN ANTARA STRESS KERJA DENGAN BURNOUT PADA TENAGA MEDIS Abelia, Anisa Dwi
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.171

Abstract

Background: Burnout is a common psychosocial issue experienced by healthcare workers due to chronic occupational stress. Unmanaged work stress can negatively impact healthcare quality and the well-being of medical personnel. Objective: To examine the relationship between occupational stress and burnout among healthcare workers based on recent literature. Methods: This study employed a descriptive literature review design. Articles were selected from Scimago and SINTA databases, limited to publications from 2020–2025. A total of 16 relevant articles were analyzed. Results: Most articles indicated a significant relationship between occupational stress and burnout. Contributing factors include excessive workload, role conflict, lack of organizational support, and night shifts. Conclusion: Occupational stress is significantly associated with burnout among healthcare workers. Effective stress management is essential to prevent burnout and enhance the quality of healthcare services.
PENGELOLAAN GIZI PADA ANAK DENGAN ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD) SECUNDUM YANG MENUTUP SECARA SPONTAN : LAPORAN KASUS DI PUSKESMAS KEDURUS SURABAYA Pramita, Andhina Rachma; Mudiarta, Komang Tiara Novi; Satwitri, Ni Kadek Ghargita Surya; Widati, Widya; Annisa, Cut
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.172

Abstract

Pendahuluan: Penyakit jantung bawaan (PJB) terjadi pada sekitar 0,8% kelahiran hidup secara global. Atrial septal defect (ASD) secundum merupakan salah satu PJB umum yang dapat menyebabkan gangguan hemodinamik ringan hingga sedang, dengan potensi peningkatan risiko malnutrisi pada anak akibat penurunan intake dan peningkatan kebutuhan metabolik. Ilustrasi Kasus: Seorang anak perempuan usia 6 bulan datang ke Puskesmas Kedurus Surabaya dengan keluhan tersedak saat pemberian makanan pendamping ASI, lemas, bibir membiru, dan suhu tubuh terasa dingin. Pemeriksaan fisik menunjukkan murmur jantung, dan echocardiography mengonfirmasi ASD secundum berukuran 3 mm. Selama periode hingga usia 14 bulan, pasien menunjukkan penurunan nafsu makan dan tidak terjadi peningkatan status gizi selama 5 bulan. Intervensi dan Hasil: Dilakukan intervensi nutrisi komprehensif yang meliputi evaluasi status gizi, pemberian makanan padat dengan densitas energi dan protein ditingkatkan, edukasi kepada pengasuh tentang teknik pemberian makan, dan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Secara bersamaan, defek ASD dilaporkan menutup secara spontan pada follow-up. Setelah 2 bulan intervensi, pasien menunjukkan peningkatan berat badan menjadi 8,6kg, perbaikan nafsu makan, dan hilangnya keluhan awal. Kualitas hidup anak membaik berdasarkan pemantauan klinis. Kesimpulan: Pada anak dengan ASD kecil yang berisiko mengalami gangguan status gizi, pendekatan pengelolaan yang komprehensif—menggabungkan pemantauan kardiak dan intervensi nutrisi yang adekuat—dapat menghasilkan perbaikan klinis dan nutrisi, bahkan ketika defek menutup secara spontan.
Penggunaan Klorin 10% sebagai Bahan Pengawetan terhadap Perubahan Makroskopis Rattus norvegicus Jantan 48 jam Kematian Artha Wijaya, Kelvin
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.173

Abstract

Latar Belakang: Embalming adalah seni dan sains untuk mengawetkan jenazah manusia dengan cara merawatnya menggunakan bahan kimia untuk mencegah pembusukan. Bahan secara umum yang digunakan untuk embalming berupa formaldehyde atau yang biasa disebut dengan formalin. Akan tetapi, diperlukan   sebuah alternatif untuk menggantikan formalin tanpa mengurangi efektivitas dari kerja formalin. Sebuah alternatif yang memungkinkan adalah klorin, suatu zat yang efektif dalam membunuh bakteri dan virus memastikan air bersih dan mengurangi penyebaran penyakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan klorin sebagai alternatif formalin dalam pengawetan jenazah selama 48 jam kematian. Metode: 32 tikus jantan dibagi menjadi dua kelompok dalam keadaan mati: kelompok yang diinjeksi larutan formalin 10% dan kelompok yang diinjeksi larutan klorin 10%. Skor dekomposisi dianalisis secara makroskopis dalam jangka waktu 48 jam dan dinilai efektivitasnya. Hasil: Skor dekomposisi rata-rata untuk kedua kelompok tikus yang disuntik dengan larutan formalin 10% dan larutan klorin 10% adalah 6. Uji Mann-Whitney U tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p = 0,550). Kesimpulan: Kedua larutan, formalin 10% dan klorin 10%, ditemukan sama efektifnya.   Kata kunci : Embalming, derajat perubahan makroskopis, formalin, klorin Background: Embalming is the art and science of preserving the human body by treating it with chemicals to prevent decomposition. The commonly used substance for embalming is formaldehyde, or commonly known as formalin. However, there is a need for an alternative to replace formalin without reducing its effectiveness. One possible alternative is chlorine, a substance effective in killing bacteria and viruses, ensuring clean water, and reducing the spread of diseases. The working mechanism of formalin is similar to that of chlorine, as formalin, being antimicrobial, inactivates bacteria, thereby inhibiting bacterial growth and preventing decomposition. Objective: This research aims to determine the effectiveness of using chlorine as an alternative to formalin in the preservation of corpses for 48 hours post-mortem. Methods: Thirty-two male rats, post-mortem, were divided into two groups: one injected with 10% formalin solution and the other with 10% chlorine solution. Decomposition scores were analyzed macroscopically over a 48-hour period to assess their effectiveness. Results: The average decomposition score for both groups of rats injected with 10% formalin and 10% chlorine solution was 6. The Mann-Whitney U test revealed no significant difference between the two groups (p = 0.550). Conclusion: Both 10% formalin and 10% chlorine solutions were found to be equally effective.   Keyword: Embalming, postmortem changes, formalin, chlorine
GAMBARAN PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) SERTA UPAYA BERHENTI MEROKOK PADA PASIEN KLASTER 3 DI PUSKESMAS TENGGILIS SURABAYA Rahmalia, Karina
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.176

Abstract

Latar Belakang: Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tingkat rumah tangga menjadi salah satu upaya penting dalam menurunkan risiko penyakit akibat rokok, terutama bagi kelompok masyarakat dengan risiko tinggi seperti pasien Klaster 3. Merokok merupakan kebiasaan yang berdampak negatif terhadap kesehatan individu dan lingkungan sekitarnya. Tujuan: Mengetahui gambaran Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta upaya berhenti merokok pada pasien Klaster 3 di wilayah kerja Puskesmas Tenggilis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Pengambilan data dilakukan terhadap 50 pasien Klaster 3 di Puskesmas Tenggilis pada Februari 2025. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terstruktur yang mencakup aspek pengetahuan tentang penerapan indikator PHBS, bahaya merokok, dan sikap terhadap berhenti merokok. Hasil: Sebanyak 50% responden menunjukkan penerapan PHBS yang baik, terutama pada indikator penggunaan air bersih, kebiasaan mencuci tangan, dan olahraga. Sementara itu, 66% responden masih aktif merokok, 42% merokok di dalam rumah, dan 86% terpapar asap rokok dalam satu bulan terakhir. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik mengenai bahaya merokok, namun hanya 68% yang memiliki keinginan untuk berhenti. Kesimpulan: Penerapan PHBS belum optimal, sementara kebiasaan merokok masih tinggi meskipun tingkat pengetahuan responden mengenai bahaya merokok cukup baik. Diperlukan edukasi berkelanjutan dan pendekatan yang lebih personal untuk meningkatkan kesadaran serta komitmen dalam menjalankan PHBS dan berhenti merokok. Kata Kunci: PHBS, Merokok, Pengetahuan
PREVALENSI PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 6-24 BULAN YANG BERKUNJUNG KE POLI ANAK RSU BALI JIMBARAN Putu Ayunda Trisnia; Ni Putu Indah Kusumadewi Riandra; Ni Wayan Sri Ekayanti
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.177

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi ideal untuk bayi. ASI banyak memberikan manfaat bagi bayi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2021 adalah sebesar 52,5%. Ini menunjukkan masih terdapat sekitar dua juta bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif sehingga tidak memperoleh manfaat ASI dengan maksimal. Rumah Sakit Bali Jimbaran adalah salah satu rumah sakit yang berada di Kabupaten Badung, melayani persalinan ibu hamil dengan kisaran 300 persalinan per tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi serta faktor determinan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di bawah 6 bulan. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian potong lintang yang dilakukan pada 50 balita usia 6 sampai 24 bulan yang berkunjung ke poli anak RSU Bali Jimbaran pada periode bulan September 2023-Maret 2024. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling berdasarkan urutan kedatangan, menggunakan pedoman wawancara terstruktur. Prevalensi pemberian ASI eksklusif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan jumlah subjek 50 orang, subjek yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berjumlah 22 orang (44%). Riwayat penghentian pemberian ASI eksklusif di bawah usia satu bulan adalah sebanyak 16 subjek (72,7%). Jumlah subjek sejak lahir tidak mendapatkan ASI adalah 4 orang (18,2%). Alasan penghentian ASI eksklusif diantaranya produksi ASI sedikit, sulit perlekatan, bayi sakit, ibu sakit, dan ibu bekerja. Kesimpulan prevalensi pemberian ASI eksklusif pada penelitian ini sebesar 56%. Alasan menghentikan ASI eksklusif terbanyak adalah produksi ASI sedikit. Penghentian ASI terbanyak didapatkan pada usia di bawah 1 bulan.
KARAKTERISTIK PENYAKIT KOMORBID PADA PASIEN INFEKSI COVID-19 Laksmi Dewi, Saraswati; Kartika Dewi, Ratna; Surya Atmaja, Kadek
Surabaya Biomedical Journal Vol. 5 No. 2 (2026): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/v5i2.178

Abstract

COVID-19 is an emerging global infection with a significant impact on people's lives.  This study aims to describe the characteristics of comorbidities in COVID-19-infected patients at Sanjiwani Teaching Hospital and Kasih Ibu Hospital in Denpasar. The research method used was a descriptive, cross-sectional observational study involving 115 adult patients diagnosed with COVID-19 based on RT-PCR test results. Demographic data, symptoms, laboratory results, and comorbidities were recorded. The results showed that the majority of patients were over 60 years old, with fever (78.3%) as the most common complaint. Laboratory results indicated moderate COVID-19 severity (52%) and severe-critical (47.8%). The most common comorbidities found were hypertension and diabetes mellitus. This study highlights the importance of monitoring and managing comorbidities to improve clinical outcomes for COVID-19 patients.

Page 1 of 1 | Total Record : 7