cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
IDEOLOGI PENGASINGAN PADA KOSAKATA BUDAYA DALAM TERJEMAHAN NOVEL BREAKING DAWN Yusup Irawan
Aksara Vol 28, No 2 (2016): Aksara, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i2.132.213-226

Abstract

Penelitian penerjemahan ini mengangkat masalah pengaruh ideologi pengasingan pada sebuah karya terjemahan sastra modern. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya pengaruh ideologi pengasingan pada kosakata budaya dalam terjemahan novel populer Breaking Dawn karya Stephenie Meyer. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan   metode pengumpulan data pembacaan teks dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan analisis kontens dengan teknik perbandingan karya terjemahan dengan karya asli. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori ideologi penerjemahan Venuti dan Judickaitė, sedangkan teori yang digunakan untuk menganalisis kosakata budaya adalah teori kategori budaya Newmark. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh ideologi pengasingan dalam karya terjemahan novel tersebut pada kosakata budaya. Hal tersebut terlihat dari strategi-strategi penerjemahan yang diaplikasikan oleh penerjemah, yaitu strategi penerjemahan (1) preservasi, (2) penambahan, (3) naturalisasi, dan (4) literal. Strategi-strategi itu digunakan oleh penerjemah pada berbagai kategori kosakata budaya, yaitu kategori  (1) ekologi, (2) budaya material atau artefak, (3) budaya sosial yang mencakup pekerjaan dan aktivitas pada waktu luang, (4) organisasi atau kelompok, dan (5) gestur/bahasa tubuh dan  kebiasaan. Implikasi dari penggunaan pendekatan pengasingan dalam karya terjemahan novel Breaking Dawn adalah pembaca karya terjemahan tersebut dapat menikmati “foreigness”, yaitu rasa bahasa sumber novel tersebut sekaligus juga rasa budaya sumbernya. 
Alternasi Bunyi Bahasa Indonesia dalam Kognat Melayu Ulu Kapuas Fauzi Syamsuar
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.4185.190--210

Abstract

Indonesian is derived from Standard Malay; while Ulu Kapuas is a dialect of Malay. Sameness between the two language codes is shown by their identical cognates. There are other cognates showing sound alternations. This article describes the sameness and the sound alternations undergone by the cognates. The alternations involve segments (consonants, vowels, diphthongs, and soundclusters) and show morphophonemic alternations involving replacement, addition, deletion, and syllabic position replacement of segments; the alternations also involve one of the suprasegmental features, i.e., length. The data corpora are in forms of the phonological forms of the cognates. The phonological forms of Ulu Kapuas cognates are obtained from and/or based on previous studies on phonological aspects of Ulu Kapuas lexical items conducted by Yusriadi (2007). Meanwhile, Indonesian cognates are Indonesian lexical items available in Kamus Besar Bahasa Indonesia becoming the equivalents for Ulu Kapuas lexical items afore-mentioned; and their phonological forms are determined by referring to the rules of graphemephoneme correspondences in Indonesian proposed by Fauzi (2015). Consonant weakening, consonant strengthening, lenition, fortition, vowel laxing, vowel tensing, diphthongization, monophthongization, tongueposition change in vowel production, metatheses, sound deletion, haplology, sound addition, assimilation, dissimilation, glottalization, nasalization, sound lengthening, word shortening, word lengthening, and dereduplication become findings. Phonotactics and the distributions of segments in the cognates shared by the two language codes also become findings.AbstrakBahasa Indonesia terderivasi dari bahasa Melayu Baku; dan Ulu Kapuas merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Kesamaan di antara dua kode bahasa itu ditunjukkan oleh kognat identik yang dimiliki bersama. Terdapat kognat lain yang menunjukkan alternasi bunyi. Artikel ini mendeskripsikan kesamaan dan alternasi bunyi yang dialami oleh kognat tersebut. Alternasi bunyi melibatkan segmen (konsonan, vokal, diftong, dan untaian bunyi) serta menunjukkan sejumlah alternasi morfofonemik yang melibatkan penggantian, penambahan, penghilangan, dan perubahan posisi silabis segmen; alternasi morfofonemik itu juga melibatkan perpanjangan bunyi sebagai salah satu aspek prosodi. Korpus data berupa bentuk fonologis kognat. Bentuk fonologis kognat Ulu Kapuas diperoleh dari dan/atau didasarkan pada kajian terdahulu atas aspek fonologis satuan leksikal Ulu Kapuas yang dilakukan oleh Yusriadi (2007). Sementara itu, kognat Indonesia merupakan satuan leksikal Indonesia yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan merupakan padanan bagi satuan leksikal Ulu Kapuas tersebut di atas; dan bentuk fonologisnya ditentukan dengan merujuk ke kaidah grafem-fonem dalam bahasa Indonesia yang dianjurkan oleh Fauzi (2015). Pelemahan konsonan, penguatan konsonan, lenisi, fortisi, pengenduran vokal, penegangan vokal, diftongisasi, monoftongisasi, perubahan posisi-lidah dalam produksi vokal, penggabungan bunyi, metatesis, penghilangan bunyi, haplologi, penambahan bunyi, asimilasi, disimilasi, glotalisasi, nasalisasi, perpanjangan bunyi, pemendekan kata, pemanjangan kata, dan de-reduplikasi kata menjadi temuan. Kaidah fonotaktis serta persebaran segmen dalam kognat yang dimiliki oleh dua kode bahasa itu pun menjadi temuan.
SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM HAIR JEWELLERY KARYA MARGARET ATWOOD DAN THE BLUSH KARYA ELIZABETH TAYLOR/FEMALE SUBJECTIVITY IN TWO SHORT STORIES BY MARGARET ATWOOD AND ELIZABETH TAYLOR Aquarini Priyatna; Rasus Budhyono
Aksara Vol 32, No 2 (2020): AKSARA, Edisi Desember 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i2.421.191-208

Abstract

Abstrak Artikel ini membahas dua cerita pendek, yakni Hair Jewellery karya Margaret Atwood dan The Blush karya Elizabeth Taylor. Kedua cerpen menunjukkan bagaimana tokoh perempuan menegosiasi dan mengupayakan subjektivitasnya dalam suatu konteks kultural dan sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana subjektivitas perempuan ditampilkan melalui deskripsi fisik tokoh utama, perilaku serta pandangan tokoh tersebut terhadap dirinya, serta bagaimana tokoh mempersepsi tubuh dalam membentuk subjektivitasnya di dalam konteks budaya yang berkelindan. Dengan berfokus pada isu tubuh dan penubuhan para tokoh perempuan, isu kelas, relasi personal para tokoh perempuan, serta bagaimana mereka melakukan perlintasan yang terus-menerus antara ranah domestik dan publik, artikel ini berargumentasi bahwa kedua cerpen menampilkan tokoh perempuan yang berusaha merangkul dan membangun subjektivitas perempuan yang feminin dan feminis. Kedua cerpen menampilkan berbagai bentuk subjektivitas yang tidak ajek dan senantiasa berproses. Subjektivitas juga digambarkan berimplikasi kepatuhan, penolakan, dan transgresi terhadap norma gender. Kata kunci: cerpen, perempuan, subjektivitas, Elizabeth Taylor, Margaret Atwood Abstract This article examines two short stories, namely Hair Jewellery by Margaret Atwood and The Blush by Elizabeth Taylor. The two stories show how the female characters negotiate and develop their subjectivities within a certain cultural and social context. The article aims to elaborate on how woman’s subjectivity is presented through the physical descriptions of the main characters, their attitude and behavior toward themselves, and how their perception of how their body contributes to the formation of their subjectivity within a cultural and social context. By focusing on the issues of woman’s body and embodiment, the female characters’ personal relations, and the continuous traversion between domestic and public spheres, the article argues that both stories present women who strive to embrace and develop feminine and feminist woman’s subjectivity. Both stories present a varied forms of subjectivity, all of which is not fixed and is always in-process. Subjectivity is also portrayed to imply different degrees of acceptance, rejection, and transgression of gender norms. Keywords: short stories, women, subjectivity, Elizabeth Taylor, Margaret Atwood 
Penerapan Artificial Intelegence Supersense Berbasis Smartphone Android terhadap Kemampuan Membaca Mahasiswa Tunanetra Mustika, Raden Ika; Yudamahardika, Reka; Mascita, Dede Endang; Purwanigsih, Lestari
Aksara Vol 36, No 1 (2024): AKSARA, EDISI JUNI 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i1.4253.163--177

Abstract

This research is motivated by the fundamental problem of the limitations of visually impaired students in accessing written information, especially in the process of reading which is a key skill in learning. Artificial intelligence supersense (AIS) technology based on android smartphones (SA) through a constructivism approach is present to accommodate the gap experienced by visually impaired students. This study aims to determine the development of the application of SA-based AIS technology through a constructivism approach to the reading ability of visually impaired students and describe the perception of visually impaired students towards the use of SA-based AIS technology through a constructivism approach. The research method used is single subject research. The research subject was chosen purposively based on the character of the research subject who had difficulty reading the exposition text. This research instrument uses tests, questionnaires, videos, and photos. The data analysis technique used with the A-B research design. The results of the study show that the development of the application of SA-based AIS through the constructivism approach can improve the ability to read exposition texts of visually impaired students and students' perception of the use of exposition texts. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mendasar keterbatasan mahasiswa tunanetra dalam mengakses informasi tertulis, terutama dalam proses membaca yang menjadi keterampilan kunci dalam pembelajaran. Teknologi artificial intelegence supersense (AIS) berbasis smartphone android (SA) melalui pendekatan konstruktivisme hadir untuk mengakomodasi kesenjangan yang dialami mahasiswa tunanetra. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan penerapan teknologi AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme terhadap kemampuan membaca mahasiswa tunanetra dan mendeskripsikan persepsi mahasiswa tunanetra terhadap penggunaan teknologi AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme. Metode penelitian yang digunakan adalah single subject research. Subjek penelitian dipilih secara purposif    berdasarkan karakter subjek penelitian yang mengalami kesulitan dalam membaca teks eksposisi. Instrumen penelitian ini menggunakan tes, angket, video, dan foto. Teknik analisis data yang digunakan dengan desain penelitian A-B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan penerapan AIS berbasis SA melalui pendekatan konstruktivisme dapat meningkatkan kemampuan membaca teks eksposisi mahasiswa tunanetra dan persepsi mahasiswa terhadap penggunaan terknologi AIS berbasis SA sangat positif yakni mengatasi hambatan aksesibilitas     bagi penyandang disabilitas netra.
TRANSMISI MEMORI PERISTIWA 1965 DALAM NOVEL PULANG DAN AMBA/THE 1965 MEMORY TRANSMISSION IN PULANG AND AMBA NOVEL Metia Setianing Mulyadi; Candra Rahma Wijaya Putra
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.565.71-82

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan transmisi memori peristiwa 65 dari generasi pertama ke post-generasi dalam karya sastra. Metode penelitian yang digunakan, yakni deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan kajian postmemory Marianne Hirch. Sumber data penelitian adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori dan Amba karya Laksmi Pamuntjak. Data penelitiannya adalah frasa, kalimat, atau paragraf yang merepresentasikan gambaran generasi pertama dan post-generasi, proses transmisi memori, dan rekonstruksi memori. Teknik analisis data menggunakan teknik interaktif, yaitu dengan cara reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat tiga generasi dalam proses transmisi memori, yaitu generasi pertama sebagai tokoh yang mengalami peristiwa 65 secara langsung, generasi 1.5 dan kedua sebagai penerima transmisi memori; (2) familial postmemory dilakukan melalui garis keturunan keluarga dan afiliative postmemory melalui buku, museum, foto, surat pribadi, dokumen sejarah, dan narasi yang berkembang di masyarakat; (3) konstruksi memori oleh tokoh post-generasi yang diwujudkan dengan penerimaan maupun penolakan. Penerimaan memunculkan rasa trauma, was-was, atau perubahan identitas yang mirip dengan generasi pertama. Sementara itu, sikap penolakan menempatkan cerita sebagai mitos yang sudah kedaluwarsa. Kata kunci: post-memori, generasi pertama, post-generasi, peristiwa 65 AbstractThis study aims to explain the memory transmission of events from the first generation to the post-generation in literary works. The research method used is descriptive qualitative. This research is a postmemory study of Marianne Hirch. The source of the research data is the novel Pulang by Leila S. Schudori and Amba by Laksmi Pamuntjak. The research data are phrases, sentences, or paragraphs that represent first-generation and post-generation descriptions, memory transmission processes, and memory reconstruction. The data analysis technique used interactive techniques, namely by way of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are (1) there are three generations in the memory transmission process, namely the first generation as a character who experiences events directly, the 1.5 generation and the second as a memory transmission receiver; (2) familial postmemory is carried out through family lineages and affiliative postmemory through books, museums, photos, personal letters, historical documents, and narratives that develop in society; (3) memory construction by postgeneration figures which is realized by acceptance or rejection. Acceptance creates a sense of trauma, anxiety, or a change of identity similar to that of the first generation. Meanwhile, the attitude of rejection places the story as an outdated myth. Keywords: postmemory, first generation, post-generation, event 65
MAKNA VERBA MAJEMUK ~KIRU DALAM BAHASA JEPANG: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIS Taqdir Taqdir; Nani Sunarni; Agus Suryadimulya
Aksara Vol 26, No 1 (2014): Aksara, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i1.143.47-56

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur verba majemuk (V + V) dalam bahasa Jepang. Struktur tersebut meliputi pembentukan zenkoudoushi (verba awal) dengan koukoudoushi (verba akhir). Verba akhir (koukoudoushi) yang menjadi objek dalam makalah ini adalah verba ~kiru. Sementara itu, zenkoudoushi (verba awal) dalam pembahasan ini meliputi joutai doushi ‘verba statis’, keizoku doushi ‘verba kontuinitas’, shunkan doushi ‘verba fungtual’ dan daiyonshu doushi ‘verba bagian ke empat’. Pengklasifikasi ini mengacu pada pengklasifikasian verba Kindaichi. Kiru sebagai verba tunggal bermakna memotong, mengirisi, memutuskan, dan mematikan. Kiru pada saat digabungkan dengan verba lain akan membentuk sebuah verba majemuk yang mempunyai beberapa arti. Secara garis besar verba gabung kiru memiliki dua makna, yakni makna dari segi leksikal dan makna dari segi sintaksis.Secara leksikal verba gabung ~kiru bermakna setsudan ‘pemotongan’ dan shuketsu ‘selesai/berkahir’, sedangkan dari segi sintaksis memiliki makna kyokudo ‘luar biasa / tak terhingga’ dan makna kansui ‘perfektif’. Verba gabung ~kiru yang melekat pada verba kontuinitas (keizokudoushi) akan bermakna setsudan setsudan ‘pemotongan’, shuketsu ‘selesai/berkahir’, dan kansui ‘perfektif’, sedangkan apabila melekat pada verba fungtual (shunkandoushi) akan bermakna kyokudo ‘luar biasa/tak terhingga’. 
OPRESI PEREMPUAN AMERIKA DALAM NOVEL RIDING FREEDOM DAN PAINT THE WIND KARYA PAM MUNOZ RYAN Winta Hari Arsintowati
Aksara Vol 31, No 1 (2019): AKSARA, Edisi Juni 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i1.244.17-36

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap diskriminasi yang terjadi pada anak perempuan Amerika dalam novel Riding Freedom dan Paint the Wind. Dua novel karya Pam Munoz Ryan tersebut sama-sama berkisah mengenai anak perempuan Amerika yatim piatu yang dikungkung oleh orang-orang terdekat, seperti keluarga dan masyarakat sekitar, untuk meraih mimpi. Peneliti menggunakan metode kualitatif, terutama kajian pustaka dengan data primer berupa kedua novel karangan Ryan, sedangkan data sekunder berupa data-data mengenai opresi terhadap perempuan Amerika di era 1800-an dan di masa modern yang sesuai dan dapat dijadikan acuan untuk penelitian ini. Kedua novel ini dianalisis dengan teori feminisme eksistensialis yang dicetuskan Simone de Beauvoir untuk mengetahui bagaimana usaha kedua tokoh tersebut untuk mencapai kebebasan. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa meski mendapat opresi dari lingkungan sekitar, tokoh anak perempuan Amerika dalam kedua novel itu tetap melakukan perlawanan dengan cara berbeda untuk mencapai impiannya. Hal itu menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang pengarang hadirkan  mengenai hak dan kebebasan kaum perempuan Amerika seiring dengan perkembangan zaman. Penelitian ini juga menemukan bahwa meski perempuan Amerika masa kini dapat lebih bebas berpendapat bahwa opresi terhadap perempuan masih tetap terjadi.
Kebiasaan Berbahasa di Media Sosial: Kajian Psikolinguistik Indrya Mulyaningsih
Aksara Vol 35, No 1 (2023): AKSARA, EDISI JUNI 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i1.1237.106--115

Abstract

This study aims to explain the use of language in social media using a psycholinguistic approach. This descriptive qualitative research data is taken from the comment`s column of Ria Ricis's TikTok account. The time for data collection is throughout 2021. Data was collected through listening to various texts and then recorded on data cards. The validity of the data through triangulation of theory, data sources, and methods. Data were analyzed using the distribution method with advanced techniques for direct elements. The results showed that the habit of turning over, abbreviating, removing syllables and acronyms was done in informal situations. The reasons for doing these four things are because they are group characteristics, have closeness, and so that they are fast. As a result, language on social media tends to be disobedient. In fact, in addition to the non-formal variety, one must also master the formal variety.  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplanasikan penggunaan bahasa di media sosial dengan menggunakan pendekatan Psikolinguistik. Data penelitian kualitatif deskriptif ini diambil dari kolom komentar akun TikTok Ria Ricis. Pengumpulan data dilaksanakan sepanjang tahun 2021. Data dikumpulkan dengan menyimak berbagai teks lalu dicatat di kartu data. Keabsahan data diuji melalui triangulasi teori, sumber data, dan metode. Data dianalisis menggunakan metode agih dengan teknik lanjutan bagi unsur langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan membalik, menyingkat, menghilangkan suku kata, dan pengakroniman dilakukan dalam situasi tidak resmi. Dilakukannya keempat hal tersebut untuk mencirikan kelompok, menandakan kedekatan, dan mengefisienkan waktu dan ruang. Dengan demikian, bahasa di media sosial cenderung tidak taat kaidah. Padahal, selain ragam nonformal, seseorang juga harus menguasai ragam formal.
TAWARAN SINGULARITAS DALAM SELAMAT PAGI BAGI SANG PENGANGGUR KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Yuniardi Fadilah; Aprinus Salam
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.534.1-13

Abstract

Seno Gumira Ajidarma, melalui cerpen “Selamat Pagi bagi Sang Penganggur”, menggunakan posisi tokoh utama untuk menilai kondisi individu-individu lain yang dianggap kehilangan kebebasannya sebagai pribadi. Sebagai pengangguran, tokoh utama—Aku—juga mengalami kesulitan karena dianggap identik dengan identitasnya, namun lebih memiliki kebebasan dibandingkan pekerja lain yang berada dalam sistem struktural tertentu. Melalui cerpen tersebut, tulisan ini mempersoalkan kecenderungan pengarang menggiring diskursus pada  konsep singularitas. Sudut pandang tulisan ini menggunakan teori yang dikembangkan oleh Antonio Negri dan Jean Luc-Nancy terkait konsep singularitas dan identitas. Kajian ini menemukan bahwa pengarang memiliki kecenderungan untuk mengkritik bentuk konsep identitas yang menyeragamkan individu-individu sebagai komoditas yang hanya dilihat berdasarkan nilainya semata. Bentuk identitas ini terjadi karena adanya kuasa tatanan global dalam biopower yang berbentuk kapitalisme. Sebagai bentuk alternatif, pengarang menawarkan singularitas yang tergambar dalam bangunan komunitas di dalam cerpen. Komunitas yang terbentuk di dalam cerpen adalah keluarga, sebagai komunitas terkecil yang mampu dibentuk, dan komunitas imajiner dalam dunia tokoh Aku. Dalam komunitas ini, singularitas memberdayakan individu-individu sebagai subjek yang berbeda dan bebas.Kata kunci: cerpen, singularitas, identitas, komunitas, multitude Seno Gumira Ajidarma, through short story “Selamat Pagi Bagi Sang Penganggur,” uses the position of the main character to assess the condition of other individuals who are considered to lose their freedom as a person. As unemployed, the main character - Aku - also has difficulty unlike what is considered identical to his identity but has more freedom than other workers who are in certain structural systems. Through this short story, this paper questions the author's tendency to lead to discourse about the concept of singularity. The point of view of this paper uses the theory developed by Antonio Negri and Jean Luc-Nancy regarding the concept of singularity and identity. This paper found that the author tends to criticize the concept of identity that classifies individuals as commodities that are only seen based on their value. This form of identity occurs because of the power of the global order in the form of capitalism as biopower. Singularity which portrayed on the community that built in the story is offered by author as an alternate. Family as the smallest formable community and imaginary community which formed on “Aku’ universe as the main character is the formed community. In this community, singularity empowers individuals as a distinct and independent subjects.Keywords: short story, singularity, identity, community, multitude
REALISASI FONETIS KONSONAN GETAR ALVEOLAR BAHASA INDONESIA PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DEWASA Sang Ayu Putu Eny Parwati
Aksara Vol 27, No 1 (2015): Aksara, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v27i1.169.37-47

Abstract

Penelitian ini membahas tentang konsonan getar alveolar [r] menggunakan kajian fonetis yang direalisasikan dengan program spektogram. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran bunyi konsonan getar alveolar [r] yang diucapkan oleh orang orang dewasa.  Metode padan dan teknik simak digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan uji spektogram diperoleh gambaran bunyi konsonan getar alveolar  [r] oleh responden dewasa pada posisi awal [rusak] oleh laki-laki memiliki durasi lebih pendek daripada perempuan, frekuensi untuk laki-laki diperoleh lebih rendah daripada perempuan. Sementara itu, bunyi getar pada posisi tengah [surat] oleh laki-laki berdurasi lebih pendek daripada bunyi perempuan, sedangkan frekuensi bunyi laki-laki lebih rendah daripada perempuan. Bunyi getar pada posisi akhir [getar] oleh informan laki-laki lebih panjang daripada bunyi perempuan dengan frekuensi bunyi getar laki-laki lebih rendah daripada bunyi perempuan.  

Page 7 of 21 | Total Record : 201