cover
Contact Name
winci firdaus
Contact Email
wincifirdaus1@gmail.com
Phone
+6285220720191
Journal Mail Official
wincifirdaus1@gmail.com
Editorial Address
Jalan Baranangsiang No.259/34B Bandung
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
Published by Balai Bahasa Bali
Aksara aims at providing a media or forum for researchers, faculties, and graduate students to publish their research papers in the field of linguistic and literary studies. The scope of Aksara includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. Aksara is published by Balai Bahasa Bali, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Aksara accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 201 Documents
KOSMOLOGI LAUT DALAM TRADISI LISAN ORANG MANDAR DI SULAWESI BARAT Sastri Sunarti
Aksara Vol 29, No 1 (2017): Aksara, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i1.99.33-48

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kosmologi laut dalam tradisi lisan nelayan Mandar di Sulawesi Barat. Data penelitian ini meliputi ekspresi budaya dalam tradisi lisan seperti ritual laut dan sastra lisan yang terdapat di wilayah pesisir Mandar. Masalah yang hendak disoroti dalam penelitian adalah bagaimana kosmologi laut yang direpresentasikan dalam tradisi lisan orang Mandar sebagaimana terdapat dalam ritual laut dan cerita lisan yang berkaitan dengan laut. Untuk menunjang penelitian ini, digunakan metode etnografis dan kualitatif. Etnografis membantu memahami karakteristik orang Mandar dan kualitatif merupakan prasyarat dalam kajian lapangan sebagaimana yang sering dilakukan dalam penelitian tradisi lisan. Adapun data primer seperti cerita lisan Mandar akan dianalisis dengan pendekatan komposisi skematik lisan yang dikemukakan oleh Ong dan Sweeney. Hasil dan pembahasaan ini menunjukkan bahwa kosmologi laut orang Mandar sangat penting memeperlakukan laut sebagai tradisi dan arti penting laut dalam tradisi lisan nelayan Mandar ketika akan, dan, sedang melaut. Selain itu, pembahasaan ini menjelaskan proses asimilasi agama (Islam) dengan tradisi (agama lokal) di Mandar tanpa saling menafikan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, tradisi lisan ini sudah wajar dilaksanakan oleh masyarakat Mandar, Sulawesi Selatan sebagai sebuah budaya yang adiluhung.  
Interjeksi Emotif dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Simeulue Restria Mulyani; Mulyadi Mulyadi
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.520.264--271

Abstract

Emotional Interjection expresses inner feelings, shock, emotion, anger or sadness. This type of interjection is different from cognitive and volitive interjection. This study aims to reveal the form and meaning of emotive interjection in Indonesian and Simeulue. This research is a qualitative descriptive study and at the data collection stage the method used is the listening method which are classified according to their form and meaning of emotional interjections.  Forms of emotive interjection in Indonesian, namely: amboi, aduh, bah, sialan, cis, idih, buset, lho, wah, yaa, and oh. In Simeulue, the form of interjection is: atangma'a, bere, mantarafak, silaki, sanando, lohek, ilayeng, tereben, injee, bahaindo, and owe. This study found a group of meanings for emotive interjection, which was further divided into shocked or astonished, painful or sad interconnections, disliked and disgusted interactions, disillusioned or frustrated interjections, disliked and disgusted interactions, and shocked injections. These are found 2 interjections surprised or amazed, 3 interjections disappointment or resentment. AbstrakInterjeksi emotif mengungkapkan perasaan batin, kaget, terharu, marah, atau sedih.Tipe interjeksi ini berbeda dengan interjeksi kognitif dan volitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk dan makna interjeksi emotif di dalam bahasa Indonesia dan bahasa Simeulue. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif  kualitatif dan pada tahap pengumpulan data metode yang dilakukan adalah metode simak yang disertai dengan teknik catat yang  kemudian diklasifikan sesuai dengan bentuk dan maknanya.  Bentuk interjeksi emotif di dalam bahasa Indonesia,yaitu amboi, aduh, bah, sialan, cis, idih, buset, lho, wah, yaa, dan oh. Dalam bahasa Simeulue bentuk interjeksi, yaitu atangma’a, bere, mantarafak, silaki, sanando, lohek, ilayeng, tereben, injee, bahaindo, dan owe. Penelitian ini menemukan kelompok makna untuk interjeksi emotif, yang terbagi lagi menjadi interjeksi terkejut atau takjub, interjeksi sakit atau sedih, interjeksi tidak suka dan muak, interjeksi kekecewaan atau kekesalan, interjeksi tidak suka dan jijik, interjeksi kaget dan terpukul, interjeksi keheranan. Dalam penelitian ini ditemukan dua interjeksi terkejut atau takjub dan tiga interjeksi kekecewaan atau kekesalan.
IDEOLOGI BAHASA POLITIK SOEKARNO: SARANA KETAHANAN, KEAMANAN, DAN PERDAMAIAN INDONESIA David Samuel Latupeirissa; Zummy Anselmus Dami
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.364.251-268

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk (1) menggali ideologi yang terkandung dalam bahasa politik Soekarno selaku salah satu tokoh pendiri bangsa dan proklamator kemerdekaan NKRI, (2) menggali motivasi yang ada di balik lahirnya ideologi dalam bahasa tersebut, dan (3) melihat perubahan sosial budaya sebagai dampak dari ideologi bahasa politik Soekarno. Untuk mencapai ketiga tujuan penelitian di atas, peneliti menggunakan Teori Analisis Wacana Kritis (AWK) model Fairclough (1989, 1995, 2005, 2006) sebagai teori utama, dan teori Ideologi sebagai teori pendukung. Metode yang diterapkan dalam pengumpulan data adalah metode dokumentasi, sedangkan metode yang diterapkan dalam analisis data adalah metode deskripstif kualitatif yang diterapkan berdasarkan tiga level analisis AWK Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ideologi yang terkandung dalam bahasa Soekarno adalah ideologi ‘persatuan dan kesatuan sebagai hal yang penting’, ideologi ‘revolusi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari jiwa bangsa Indonesia’, dan ideologi ‘imperialisme sebagai musuh utama bangsa Indonesia’. Ideologi tersebut perlu dihidupi sebagai salah satu strategi demi menjaga ketahanan, keamanan, dan perdamaian Indonesia. Selanjutnya, ideologi tersebut dilatari oleh keadaan bangsa yang plural dan kesadaran bahwa sifat statis adalah penghalang kemajuan bangsa. Kandungan ideologi dimaksud membawa perubahan dalam cara berkomunikasi dan cara hidup bangsa Indonesia.Kata kunci: ideologi, bahasa politik, analisis wacana kritis AbstractThe current study aims at: (1) to explore the ideology conceived in Soekarno’s political language as one of the nation founding fathers and the proclaimer of Indonesia independence, (2) to explore the motivations behind the birth of ideology in the language, and (3) to see the socio-cultural changes as the result of Soekarno’s political ideology. To achieve the research objectives, researcher used Critical Discourse Analysis Theory (CDA) of Fairclough (1989, 1995, 2005, 2006) as the main theory, and the theory of Ideology as a supporting theory. The method applied in data collection was documentation method, while the method applied in data analysis was descriptive qualitative method that applied based on three analysis levels of Fairclough CDA theory. The results show that the ideology contained in Soekarno’s political language is the ideology of ‘unity as an important thing’, the ideology of ‘revolution as an integral part of the Indonesian nation soul’, and the ideology of ‘imperialism as the main enemy of the Indonesia’. The ideology needs to be lived for the sake of Indonesia’s endurance, security and peace. Furthermore, the ideology is based on a plural nation state and the realization that static nature is a barrier to the progress of a nation. The ideology contents have brought changes in the way of communication and the way of Indonesian nation life.Keywords: ideology, political language, critical discourse analysis
NOUN PHRASES (NPs)-MOVEMENT IN SASAK Lalu Erwan Husnan
Aksara Vol 26, No 2 (2014): Aksara, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v26i2.154.121-132

Abstract

Sasak is spoken language used by Sasak speakers in Lombok, West Nusa Tenggara. This language is included into Bali-Sasak-Samawa subgroup. Most of the linguists and researchers constructed this language using SVO, but they do not explore the possible movement of the Noun Phrases (NPs) as the basis of constructing its structure. So, it is a need to have the possibility of the NPs movement whether the predicates in Sasak require one or two argument. Data used in this writing are taken through documentary method. They are analyzed using case theory proposed by Chomsky. The analysis shows that both raising verbs and raising adjective involve phrases case. They do not allow structural case movement. In addition, both induce raising. However, they are different in selecting source of NP movement; raising verbs finite or non finite clause, and raising adjective finite clause. Passivization also induces NP-movement in Sasak.Moreover, passive verbs in Sasak can be followed by preposition of locative or not depend on the notion of the verbs used. It has the same analogy with unaccusativity verbs. They lack of internal argument and cannot assign accusative case.
Adjectival Collocations of The Word Bali in The Western Movies: Evidence from Three Corpora Gusti Ayu Praminatih; Dika Pranadwipa Koeswiryono
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.4137.307--318

Abstract

Adjectival collocation could depict the representation of things, such as place and individuals, i.e., a particular group, ethnicity, or community. While extensive studies on adjectival collocation and representation have been conducted in the Western context, only a few studies exist to explore a specific place in Southeast Asia. Consequently, this study aims to explore the adjectival collocation and representation of the word Bali from the Western perspective through its movies. To achieve the study’s objectives, a corpus linguistics approach was applied by utilizing three English corpora: The TV Corpus (TV), The Movie Corpus (Movies), and the Corpus of American Soap Opera (Soap), where the highest adjectival collocations from each corpus were collected to scrutinize context and representation. The findings of this study revealed that the adjectival collocations of the three corpora demonstrated five critical representations of the word Bali in Western movies: tourism, religion, history, terrorism, and crime. Further, the adjectival collocation of the word Bali represented the island as an exotic tourist destination with unique local beliefs and a long history. The word Bali was also represented to experience terrorist attacks and drug smuggling cases that made headlines nationally and internationally. The representations of the word Bali in Western movies adhered to events that significantly affected the island.  AbstrakKolokasi adjektiva dapat menggambarkan representasi suatu hal, seperti tempat dan orang, yang terdiri atas kelompok, etnis, atau komunitas tertentu. Meskipun studi ekstensif mengenai kolokasi adjektiva dan representasi telah dilakukan dalam konteks Barat, hanya sedikit studi yang mengeksplorasi suatu tempat tertentu di Asia Tenggara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kolokasi adjektiva dan representasi kata Bali dari sudut pandang Barat melalui film. Untuk mencapai tujuan penelitian, pendekatan linguistik korpus diterapkan dengan menggunakan tiga korpora bahasa Inggris: TV Corpus (TV), The Movie Corpus (Movies), dan Corpus of American Soap Opera (Soap). Kolokasi adjektiva tertinggi dari tiap-tiap korpus dikumpulkan untuk meneliti konteks dan representasi. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa kolokasi adjektiva dari ketiga korpora tersebut menunjukkan lima representasi kritis dari kata Bali dalam film Barat: pariwisata, agama, sejarah, terorisme, dan kriminalitas. Kolokasi adjektiva dari kata Bali merepresentasikan pulau ini sebagai tujuan wisata eksotis dengan kepercayaan lokal yang unik dan sejarah yang panjang. Selanjutnya, kata Bali juga direpresentasikan mengalami serangan teroris dan kasus penyelundupan narkoba yang menjadi berita utama secara nasional dan internasional. Representasi kata Bali dalam film Barat sejalan dengan peristiwa yang secara signifikan mempengaruhi pulau ini. 
MEDANESE NOVEL: HISTORY OF LITERATURES IN MEDAN CITY (1930—1965)/ROMAN MEDAN: SEJARAH KARYA SASTRA DI KOTA MEDAN (1930—1965) Syahri Ramadhan; Saefur Rochmat
Aksara Vol 33, No 1 (2021): AKSARA, EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i1.545.39-56

Abstract

AbstractThis study aims to explain the history of the Medanese novels chronologically, starting from the development of the Medanese novels in the Dutch colonialism period to the old order, and the impact of Medanese novels to people in Medan. The sources of data are Medanese novels published from 1930 to 1965. Method used in this study was historic method studied through four stages as follows: (1) heuristic (to collect sources); (2) verification of data (to test validity of data); (3) interpretation; (4) historiography (writing). The data were analyzed by diachronic approach as a method in the length of time, but limited in space. The results of this study indicated that development of Medanese novels in Dutch colony time (from 1912 to 1942) experienced speedily progressing. Medanese novels were on its peak in 1930, until the term flood of romance emerged which was marked by the number of romances published. Medanese novels could compete against novels published by Balai Pustaka, a publisher previously established by the government of the Dutch colonialism. However, at time of the Japanese occupation (from 1942 to 1945), the Medanese novels experienced decreasing, even lost from distribution, and from early independence (from 1945 to 1950) to old order (from 1950 to 1966), the Medanese novels raised again, but the existence was unlike the previous. Moreover, the Medanese novels writing had impacts on social life in Medan, such as politic, education, social, and culture. Keywords: Medanese novels, history, literature, Medan AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah perkembangan roman Medan secara kronologis, yang dimulai dari perkembangan roman Medan pada masa kolonial Belanda hingga orde lama, serta dampak penulisan roman Medan bagi masyarakat kota Medan. Sumber data penelitian ini adalah roman Medan terbitan tahun 1930—1965. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode sejarah yang dikaji melalui empat tahapan, meliputi (1) heuristik (pengumpulan sumber); (2) verifikasi data (menguji keabsahan sumber); (3) interpretasi (penafsiran); (4) historiografi (penulisan). Adapun analisis data menggunakan pendekatan diakronis yang merupakan suatu pendekatan yang memanjang dalam waktu, tetapi secara ruang terbatas. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan roman Medan pada masa kolonial Belanda (1912—1942) mengalami kemajuan yang begitu pesat. Roman Medan berada di puncak kejayaannya pada tahun 1930 hingga muncul istilah banjir roman yang ditandai dengan banyaknya roman yang terbit. Secara kuantitas roman Medan mampu bersaing dengan roman terbitan Balai Pustaka yang merupakan penerbit buku yang telah didirikan terlebih dahulu oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi, pada masa pendudukan Jepang (1942—1945) roman Medan mengalami kemunduran bahkan hilang dari peredaran, dan pada masa awal kemerdekaan (1945—1950) hingga masa Orde Lama (1950—1966), roman Medan bangkit kembali, tetapi eksistensinya tidak seperti dahulu. Selain itu, penulisan roman Medan ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat Medan di antaranya dalam bidang politik, pendidikan, sosial, dan budaya.  Kata kunci: roman Medan, sejarah, karya sastra, Medan
The Philosophy of Balinese Text I Sugih Teken I Tiwas: Systemic Functional Linguistics Suardana, I Ketut; Fitri, Nidya
Aksara Vol 36, No 2 (2024): AKSARA, EDISI DESEMBER 2024
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v36i2.1096.203-214

Abstract

This research investigated the philosophy of Text I Sugih Tekẻn I Tiwas ‘the rich and the poor’ from Systemic Functional Linguistics. The data source was taken from Pupulan Satwa Bali ‘Ba-linese narrative text collection’ realized with Balinese text. This research used qualitative with grounded theory. The result of the research indicated that; elaboration verbs were used to state advantages for I Tiwas, extension verbs were used to elaborate on I Tiwas’s disadvantages, and enhancement verbs were used to elaborate I Sugih’s ambition. The philosophy of the text is re-lated to Hindu philosophy called Karma Pala ‘cause and effect law’ involving; how to humanize others, how to be a creative person, and how to use language properly. This research has signif-icance for linguistics research, namely semantics, semiotics, language philosophy, and dis-course.  
TUTURAN DIREKTIF BAHASA PENGASUHAN ANAK PRA-SEKOLAH DI INDONESIA: SEBUAH STUDI KASUS/DIRECTIVE PRE-SCHOOL PARENTING LANGUAGE IN INDONESIA: A CASE STUDY Hadi Machmud; Fahmi Gunawan
Aksara Vol 33, No 2 (2021): AKSARA, EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v33i2.960.269-282

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tuturan direktif bahasa pengasuhan anak pra-sekolah di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Data penelitian berupa tuturan direktif guru terhadap siswa dan tuturan siswa terhadap guru yang mengandung kesantunan.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi. Analisis data dilakukan secara tematik dan menggunakan paramater kesantunan linguistik tuturan direktif Kunjana (2005). Hasil penelitian ini melaporkan bahwa penanda kesantunan tuturan direktif bahasa pengasuhan guru terhadap anak-anak pra-sekolah itu berupa penggunaan penanda partikel, seperti ki, ta, ji, iyye, yadalam bahasa Bugis dan penggunaan penanda kesantunan berbentuk kata, seperti kata kekerabatan dan kata julukan. Demikian pula, tuturan direktif guru kepada anak-anak pra-sekolah direalisasikan dalam bentuk kalimat sederhana baik yang berbentuk kalimat pendek maupun panjang. Penelitian ini mengimplikasikan dua hal, yaitu implikasi konseptual dan implikasi  praktis. Secara konseptual, penelitian mengembangkan konsep ‘menjaga muka’ Brown dan Levinson (1987), sementara secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh para guru sekolah untuk senantiasa menerapkan bahasa santun kepada anak didiknya. Penggunaan bahasa santun itu tentu dapat memengaruhi kejiwaan anak dan di masa mendatang mereka dapat meniru perkataan santun yang disampaikan ke mereka. Kata kunci:anak-anak prasekolah, bahasa pengasuhan, Indonesia, kesantunan linguistik, tindak tutur direktifAbstractThis researchaims to elucidate directive pre-school parenting language in Indonesia. This research adopted a case study research design. The utterances of teacher to student containing politeness and vise versa used as the main data. To collect data, observational partisipant was utilized.  Data analysis was carried out thematically and using the linguistic politeness parameter of Kunjana's directive speech (2005). This study reported that politeness markers of directive speech acts incorporate the using of politeness markers particle, such as ki, ta, ji, iyye, ya, sini in Buginesse language and politenesswords, like kinships and nicknames. Likewise, the teacher's directive speech to pre-school children is realized in the form of simple sentences, both in the form of short and long sentences. This research implied conceptual and practical implications. Conceptually, this research extends the concept 'face threatening act' of Brown and Levinson (1987), while practically, this evidence is expected to be used by school teachers to always apply polite language to their students. The use of polite language can certainly affect children's psyche and in the future they can imitate polite words conveyed to them.Keywords:directive speech act, linguistics politeness, parenting language, pre-school children, Indonesia 
PENERJEMAHAN REPETISI LEKSIKAL DALAM THE OLD MAN AND THE SEA DAN DUA VERSI TERJEMAHANNYA Arif Bagus Prasetyo; Ida Bagus Putra Yadnya; Ni Luh Nyoman Seri Malini
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.225.89-106

Abstract

Penelitian ini membahas penerjemahan repetisi leksikal dengan mengacu pada novel The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dan dua versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pengkajian dilakukan terhadap cara yang digunakan oleh masing-masing penerjemah novel tersebut, Sapardi Djoko Damono dan Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat, untuk menangani repetisi leksikal dalam teks sumber, serta pergeseran terjemahan yang ditimbulkannya. Dalam kajian ini terungkap bahwa kedua penerjemah telah mereduksi gaya bahasa repetisi Hemingway. Reduksi menyebabkan kedua teks terjemahan mengalami pergeseran yang substansial dari teks orisinal, baik secara sintaktis maupun semantis.  
ANALISIS PERCAKAPAN BAHASA SASAK DALAM PERSPEKTIF GENDER: SEBUAH KAJIAN WACANA KRITIS Bakri Bakri
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.20.91-102

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi peran laki-laki atau perempuanSasak dalam pilihan kosakata, dalam melakukan kendali interaksional, dalam struktursintaksis, dan dalam pemakaian metafora dengan percakapan bahasa Sasak. Teori yangdipergunakan adalah teori wacana kritis model Norman Fairclough dan dilengkapi denganteori Teun A. Van Dijk. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan cakap(wawancara) serta teknik dasar dan turunannya, metode observasi, dan metode dokumentasi.Sumber data diperoleh dari para pemuda dan pemudi Sasak yang sedang berkomunikasi.Data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untukmembuat deskripsi secara sistematis, kategorisasi, dan pemolaan. Data disajikan secaraformal dan informal. Pada akhirnya, penelitian ini menghasilkan realita motif atau ideologisikap komunikator yang memihak peran laki-laki atau perempuan Sasak dalam perspektifgender, yang kerap menimbulkan persinggungan fisik-psikis, seperti; pelecehan seksual,KDRT, dan bahkan dalam budaya kawin cerai.

Page 6 of 21 | Total Record : 201