cover
Contact Name
Achluddin Ibnu Rochim
Contact Email
didin@untag-sby.ac.id
Phone
+6281359384011
Journal Mail Official
jurnalradix@gmail.com
Editorial Address
TAMAN INTAN Jl. Nginden Intan Timur XV No. 11 Nginden Jangkungan-Sukolilo-Surabaya-Jawa Timur-Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama
ISSN : -     EISSN : 29887240     DOI : https://doi.org/10.69957/radix.v3i01.2032
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama is a double -blind peer-reviewed open access journal established by Community of Research Laboratory. RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama e-ISSN: 2988-7240, mempublikasikan hasil studi mengenai berbagai mainstream filsafat dan berbagai kajian agama adalah jurnal peer-review enam kali setahun, jurnal akses terbuka yang diterbitkan oleh bidang Aksiologi, KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY). Jurnal ini mendorong artikel asli tentang berbagai isu dalam Studi Filsafat dan Agama,. RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama menerima karya ilmiah untuk diterbitkan berupa artikel penelitian teoritis atau empiris berkualitas tinggi, studi komparatif, studi kasus, makalah review, makalah eksplorasi, dan resensi buku. Semua manuskrip yang diterima akan dipublikasikan secara online journal. RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama e-ISSN: 2988-7240, mempublikasikan hasil studi dengan focus dan scope sebagai berikut: Filsafat dengan berbagai mainstreamnya. Agama dengan berbagai pendekatannya Peradaban dengan berbagai perkembangannya
Articles 18 Documents
ALAM FILSAFAT ARISTOTELES DALAM PERSPEKTIF QISSHAT AL-ÎMÂN BAYNA AL-FALSAFAH WA AL-‘ILM WA AL-QUR’ÂN KARYA SYAIKH NADIM AL-JISR Ibnu Rochim, Achluddin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 02 (2023): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i02.2113

Abstract

Artikel ini mengkaji pandangan filsafat Aristoteles sebagaimana dikritisi dan dikontekstualisasikan dalam Kitab karya monumental Syaikh Nadim al-Jisr yang berjudul Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis hermeneutik, studi ini menelaah posisi Aristoteles dalam diskursus hubungan antara akal, wahyu, dan ilmu pengetahuan. Kitab tersebut disusun dalam bentuk dialog yang mempertemukan rasionalisme Yunani dengan spiritualitas Islam, sehingga menawarkan sintesis unik dalam menjawab persoalan metafisika dan teologi. Studi ini menunjukkan bahwa meskipun Syaikh Nadim mengapresiasi kontribusi logika dan metafisika Aristoteles, Syaikh Nadim juga menunjukkan keterbatasan nalar filosofis ketika berhadapan dengan wahyu ilahi. Dengan demikian, Kitab ini menjadi jembatan penting antara filsafat klasik dan pemikiran Islam kontemporer.
KRITIK QISSHAT AL-ÎMÂN BAYNA AL-FALSAFAH WA AL-‘ILM WA AL-QUR’ÂN KARYA SYAIKH NADIM AL-JISR TERHADAP FILSAFAT SOCRATES Dey Prayogo, Moh.; Ibnu Rochim, Achluddin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 02 (2023): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i02.2114

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian filosofis yang menelaah kritik Syaikh Nadim al-Jisr terhadap pemikiran filsafat Yunani, khususnya filsafat Socrates, sebagaimana dituangkan dalam karya monumentalnya Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân. Al-Jisr, sebagai seorang intelektual Muslim modern, memandang bahwa pencarian kebenaran melalui metode dialektika Socrates hanya menghasilkan skeptisisme tanpa solusi spiritual yang tuntas. Dalam pandangannya, filsafat Socrates terlalu berorientasi pada akal semata, tanpa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang iman, akhirat, dan eksistensi Tuhan sebagaimana dipaparkan dalam Al-Qur’an. Artikel ini berusaha menelusuri bagaimana kritik tersebut dibangun dalam bingkai naratif dan epistemologis yang khas, serta merekonstruksi posisi al-Jisr dalam lanskap filsafat Islam modern yang mencoba mengintegrasikan rasionalitas, wahyu, dan ilmu pengetahuan.
PERSPEKTIF QISSHAT AL-ÎMÂN BAYNA AL-FALSAFAH WA AL-‘ILM WA AL-QUR’ÂN KARYA SYAIKH NADIM AL-JISR TERHADAP FILSAFAT PLATO Hermawan Sutisna, Mey
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 02 (2023): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i02.2115

Abstract

Artikel ini membahas perspektif Syaikh Nadim al-Jisr dalam karyanya Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân terhadap filsafat Plato, terutama dalam hal teori ide, konsep jiwa, dan hubungan antara akal dan iman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa Nadim al-Jisr menilai filsafat Plato memiliki nilai kontribusi dalam hal pengakuan terhadap realitas non-material dan kedekatannya dengan nilai-nilai spiritual. Namun, al-Jisr juga mengkritik keterbatasan Plato yang terlalu mengandalkan rasio tanpa didasarkan pada wahyu, sehingga memunculkan celah dalam menjawab kebutuhan batiniah manusia. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi antara filsafat, ilmu, dan wahyu sebagaimana ditawarkan oleh al-Jisr merupakan solusi epistemologis atas keterbatasan sistem filsafat klasik.
FENOMENOLOGI BARAT DALAM PANDANGAN QISSHAT AL-ÎMÂN BAYNA AL-FALSAFAH WA AL-‘ILM WA AL-QUR’ÂN KARYA SYAIKH NADIM AL-JISR Teguh Prasetyo, Moh.
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 02 (2023): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i02.2116

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Syaikh Nadim al-Jisr dalam karyanya Qisshat al-Îmân bayna al-Falsafah wa al-‘Ilm wa al-Qur’ân terhadap fenomenologi Barat, terutama yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Maurice Merleau-Ponty. Dengan pendekatan kualitatif dan analisis tekstual filosofis, kajian ini membandingkan cara pandang fenomenologi Barat terhadap pengalaman kesadaran, subjektivitas, dan makna dengan pendekatan integratif yang diajukan al-Jisr melalui sinergi akal (filsafat), indera (ilmu), dan wahyu (Al-Qur’an). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun fenomenologi berupaya mendekonstruksi cara berpikir positivistik yang dominan di Barat, ia tetap terperangkap dalam lingkup subjektivitas manusia dan tidak mampu menembus wilayah transendensi yang mutlak. Di sinilah posisi kritik al-Jisr menjadi relevan, yakni perlunya wahyu sebagai pelengkap dan penuntun dalam memahami realitas hakiki. Artikel ini memberikan kontribusi pada dialog antara filsafat Islam dan filsafat Barat kontemporer, khususnya dalam ranah epistemologi dan spiritualitas.
PERBANDINGAN ANTARA MARTIN HEIDEGGER DAN NADIM AL-JISR DALAM EPISTEMOLOGI: SEBUAH STUDI FILSAFAT ILMU Prasetyo, Banu
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 02 (2023): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i02.2117

Abstract

Studi ini mengkaji secara komparatif pandangan epistemologis Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialisme Barat, dan Nadim Al-Jisr, seorang pemikir Islam modern dari Lebanon, melalui pendekatan filsafat ilmu. Heidegger, dengan konsep “ada” (Sein) dan “Dasein”-nya, memperkenalkan pendekatan ontologis dalam epistemologi yang bersifat fenomenologis dan eksistensial. Di sisi lain, Al-Jisr menghadirkan epistemologi yang berakar dari nilai-nilai Islam, yang menempatkan wahyu, akal, dan intuisi spiritual (dzauq) sebagai sumber pengetahuan. Studi ini bertujuan menelusuri titik temu maupun perbedaan mendasar antara keduanya dalam memahami realitas, subjek-objek pengetahuan, serta metode epistemik. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun berasal dari konteks tradisi yang berbeda, keduanya menawarkan kritik terhadap positivisme dan rasionalisme modern serta membuka jalan bagi pendekatan epistemologi yang lebih ontologis dan transendental.
SKIZOANALISIS: SEBUAH UPAYA KOMUNIKASI REFLEKTIF MENGURAI KONSEP KEBOHONGAN Hakim, Lukman; Danadharta, Irmasanthi; Ibnu Rochim, Achluddin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 1 No. 01 (2023): FILSAFAT DAN AGAMA
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v1i01.2315

Abstract

Skizoanalisis sebagai pendekatan reflektif untuk memahami kebohongan dalam lanskap komunikasi kontemporer. Berbeda dengan kerangka moralistik atau rasional-objektif, skizoanalisis yang dikembangkan Gilles Deleuze dan Félix Guattari memandang kebohongan sebagai bagian dari produksi hasrat (desiring production) yang beroperasi dalam medan simbolik dan sosial yang kompleks. Kebohongan bukan semata tindakan etis individual, melainkan gejala dari dialog ilusif yang diproduksi oleh bahasa, kekuasaan, dan struktur afeksi. Dengan mengacu pada konsep tipologis kebohongan Joseph Bryant, white lies, black lies, red lies, dan grey lies menyatakan kebohongan memiliki dimensi politis, kultural, dan psikososial yang tidak bisa direduksi pada oposisi biner benar–salah. Skizoanalisis membuka kemungkinan untuk keluar dari batas-batas sempit seperti dalam pemahaman postmodern. Hasrat akan kebebasan, dalam kerangka ini, seringkali justru terjebak dalam repetisi wacana dan struktur institusional yang mengekang. Skizoanalisis menantang formasi ini dengan menawarkan kebebasan, memilih secara etis, di mana kebohongan dapat dibaca sebagai bentuk hasrat untuk bebas atau melalui dialog ilusif, atas maya dan nyata. Melalui komunikasi reflektif, penelitian teoritis ini mengusulkan cara pandang baru terhadap kebohongan bukan sebagai penyimpangan moral, melainkan sebagai pintu masuk untuk memahami relasi kuasa, bahasa, dan subjektivitas dalam masyarakat kontemporer. Kata kunci: skizoanalisis, kebohongan, komunikasi reflektif, postmodernisme
PEMIKIRAN THOMAS KUHN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA PENDIDIKAN Wea, Vinsensius; Manek, Jefrianus Ulu; Manuk, Andreas Geleda
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 01 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i01.2410

Abstract

Tulisan ini menampilkan bagaimana perkembangan dan penerapan teknologi dalam dunia pendidikan dan bagaimana latar belakang terciptanya teknologi serta bagaimana teknologi yang diciptakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan ini membantu dunia pendidikan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Seperti yang telah di jelaskan oleh Thomas Kuhn bermaksud bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bersifat revolusioner dan bukan kumulatif, penulis juga menjelaskan bahwa terciptanya teknologi bukanlah sebuah bahan baru yang ditambahkan ke dalam ilmu pengetahuan namun teknologi itu sendiri merupakan sebuah bahan baru yang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan tentunya penulis sangat setuju dengan apa yang telah dipaparkan oleh Filsuf Thomas Kuhn mengenai perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat revolusioner atau mengubah dari suatu bentuk formal menjadi sebuah materi dengan tujuan kembali membantu mempermudah setiap langkah dalam penyebaran ilmu pengetahuan itu sendiri.
TUHAN DI BAWAH BAYANG KAPITAL: TAFSIR KRITIS ATAS PANDANGAN KARL MARX TENTANG AGAMA Manuk, Andreas Geleda; Liwu, Dominggus Bara; Koli, Arnoldus Nofrianus; Lewuk, Hubertus Ropon Efrem; Fukuruas, Elioardus Lusin
RADIX: Jurnal Filsafat dan Agama Vol. 3 No. 02 (2025): AGAMA DAN FILSAFAT
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/radix.v3i02.2504

Abstract

Tulisan ini mengkaji secara kritis pandangan Karl Marx mengenai agama dalam kerangka materialisme historis serta relevansinya terhadap realitas keberagamaan dalam konteks kapitalisme modern. Karl Marx memandang agama sebagai produk kesadaran yang teralienasi, yakni manifestasi psikologis dan sosial yang lahir dari kondisi material yang menindas. Dalam karya-karyanya, Marx menegaskan bahwa agama merupakan “keluh kesah makhluk tertindas” sekaligus “candu bagi rakyat,” karena memberikan penghiburan semu yang menutupi akar struktural penderitaan manusia. Penelitian ini berupaya menafsirkan ulang kritik tersebut dengan menempatkannya dalam dinamika kapitalisme global abad ke-21, terutama fenomena komodifikasi iman, teologi kemakmuran, dan subordinasi nilai-nilai religius di bawah logika pasar neoliberal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui penelaahan sistematis terhadap karya-karya Marx, literatur kritis para pemikir kontemporer, serta dokumen Gereja yang berkaitan dengan fungsi sosial-profetis agama. Peulisan ini menunjukkan bahwa kritik Marx tetap memiliki daya relevan yang kuat, khususnya dalam melihat bagaimana agama dapat direduksi menjadi instrumen ideologis bagi kepentingan ekonomi dan politik. Marx secara tepat mengidentifikasi peran agama sebagai legitimasi moral bagi ketimpangan sosial, sekaligus sebagai mekanisme pembentuk kesadaran palsu yang memelihara struktur kapitalistik. Namun demikian, penelitian ini juga menilai bahwa pendekatan Marx cenderung reduksionistik karena menafsirkan agama semata sebagai refleksi dari kondisi material, sehingga meniadakan otonomi spiritual dan potensi profetis agama untuk membebaskan manusia dari penindasan struktural. Hasil kajian menunjukkan bahwa agama, apabila direfleksikan secara kritis, dapat bergerak melampaui fungsi ideologisnya dalam kapitalisme dan tampil sebagai kekuatan etis-transformasional. Dengan demikian, tafsir kritis atas pemikiran Marx tidak dimaksudkan untuk menolak agama, melainkan untuk membangun kesadaran baru agar agama kembali pada mandat profetisnya: membela martabat manusia, menyingkap ketidakadilan, dan mendorong transformasi sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa “Tuhan di bawah bayang kapital” bukan sekadar metafora, tetapi suatu realitas historis-sosiologis yang menuntut respon teologis yang lebih radikal, reflektif, dan emansipatoris.

Page 2 of 2 | Total Record : 18