cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Estimasi Kesalahan Aktuator pada Kapal Tanpa Awak dengan Adaptive Extended Kalman Filter Damayanti, Erlyana Trie; Asfihani, Tahiyatul
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.156092

Abstract

Unmanned Surface Vessel (USV) telah menjadi inovasi penting dalam teknologi maritim karena kemampuannya untuk meningkatkan eksplorasi, pengawasan, dan pengelolaan sumber daya laut. Namun, sebagai bagian dari sistem kontrol otomatis, USV rentan terhadap kesalahan aktuator, yang dapat mengganggu kinerja dan mengancam keselamatan dan efisiensi operasional. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pengamat yang mampu memperkirakan variabel keadaan dan kesalahan aktuator pada USV. Metode yang digunakan adalah Adaptive Extended Kalman Filter (AEKF), yang dapat mengatasi karakteristik nonlinier dari sistem USV. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode AEKF efektif dalam mengestimasi kesalahan aktuator dan variabel keadaan pada USV, dengan tingkat konvergensi yang dapat diatur melalui parameter forgetting factor.
Desain Pabrik Sodium Carbonate dari Gas CO2 dan NaOH Pamungkas, Raditya Yudhi; Putri, Rheyna Casca Hanafi; Altway, Ali; Taufany, Fadlilatul
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.148137

Abstract

Karbon dioksida (CO2) merupakan senyawa yang umum dihasilkan dari proses pembakaran di industri. Dengan semakin meningkatnya industri yang selaras dengan perkembangan zaman, semakin banyak pula emisi karbon dioksida yang terlepas ke udara lepas. Karbon diksida termasuk salah satu gas rumah kaca dimana ketika dilepas ke udara dapat menyebabkan pemanasan global. Hal ini perlu ditanggulangi dengan pengurangan kadar CO2 yang dilepas ke udara. Pengurangan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya yakni dengan pemanfaatan karbon dioksida dari flue gas yang dihasilkan oleh poweplant menggunakan metode absorpsi. Absorpsi sendiri dapat diartikan sebagai proses pemisahan suatu bahan dari campuran gas dengan mengikat bahan pada permukaan absorben cair yang disertai pelarutan. Pelarut yang digunakan yaitu larutan NaOH sehingga CO2 dapat terikat dalam NaOH dengan metode karbonasi untuk kemudian membentuk Na2CO3. Natrium karbonat (Na2CO3) atau biasa dikenal sebagai soda ash merupakan senyawa yang banyak digunakan dalam berbagai bidang industri. Senyawa ini memiliki peranan penting dalam perkembangan industri di Indonesia. Sayangnya, kebutuhan ini tidak selaras dengan adanya produksi dalam negeri, dimana seluruh kebutuhan soda ash masih bergantung pada sektor impor. Mempertimbangkan hal tersebut, perencanaan pabrik soda ash akan menangani kedua permasalahan sekaligus, yaitu emisi CO2 yang mengkhawatirkan dan ketergantungan soda ash pada sektor impor.
Desain Pabrik Minyak Nilam dari Daun Nilam Menggunakan Metode Steam Distillation Fuadillah, Faisal Akbar; Vinaya, Nafisa Tahar; Wiguno, Annas; Kuswandi, Kuswandi
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.148202

Abstract

Minyak nilam merupakan salah satu minyak atsiri di Indonesia yang mampu menguasai pangsa pasar dunia dengan nilai ekspor memenuhi 40,99% ekspor dunia. Minyak nilam sering dimanfaatkan sebagai komponen utama produk pewangi dan kosmetik karena sifat fiksatifnya. Sifat fiksatif tersebut disebabkan oleh komponen utamanya yakni patchouli alcohol yang merupakan seskuiterpen alkohol tersier trisiklik. Produk minyak nilam yang akan dipasarkan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), dengan parameter utamanya adalah kandungan patchouli alcohol minimal 30%. Dalam perancangan yang dilakukan tim penulis, digunakan bahan baku Nilam Aceh (Pogestemon Cablin Benth) dengan metode ekstraksi menggunakan steam distillation yang telah melewati tahap pre-treatment lalu dilengkapi dengan pemurnian menggunakan vacuum redistillation sehingga dihasilkan produk minyak nilam highgrade dengan kandungan patchouli alcohol sebesar 70%. Pabrik ini direncanakan beroperasi pada 2026 di Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat dengan kapasitas 132 ton/tahun dan basis operasi selama 24 jam dalam 240 hari/tahun. Pabrik ini didirikan dengan total investasi sebesar Rp 271.871.922.936 yang terdiri dari 40% modal sendiri (equity) dan 60% modal pinjaman bank (loan). Analisa ekonomi didapatkan bahwa biaya penaksiran modal (CAPEX) sebesar Rp 255.119.515.623 dan biaya operasional (OPEX) sebesar Rp 369.689.432.116. Total pemasukan dengan harga penjualan produk didapatkan sebesar Rp 452.925.120.000 per tahunnya. Dengan estimasi pabrik berumur 20 tahun dan pengembalian modal selama 10 tahun dihasilkan nilai NPV positif sebesar Rp 286.424.345.907; IRR senilai 20,2%; dan POT selama 5 tahun 3 bulan. Hasil analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa pabrik layak didirikan dan dilanjutkan perencanaan. Aspek sosial dalam pendirian pabrik ini akan mampu menunjang penyerapan ketenagakerjaan dalam mengurangi pengangguran. Limbah yang dihasilkan dari pabrik ini berupa limbah padatan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan produk samping berupa pupuk kompos dan limbah cair yang perlu dilakukan analisa sesuai standar baku mutu air limbah dan peraturan perizinan pemerintah setempat. Selain itu, senyawa terpen hasil distilat akan dijual sebagai bahan baku insektisida.
Desain Pabrik Magnesium Hidroksida Pharmaceutical Grade dan Magnesium Oksida dari Bittern Pakarti, Sundari Tri; Rosadi, Rodea Romadonah; Widjaja, Tri
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.148180

Abstract

Bittern adalah produk sampingan dari proses pembuatan garam yang berupa larutan pekat dengan tingkat kepekatan >29ยบ Be (Baume). Larutan ini mengandung sejumlah besar ion mineral, terutama Na+, Mg2+, dan Cl-. Pabrik magnesium hidroksida (Mg(OH)2) dengan kapasitas 5.300 ton/tahun dan magnesium oksida (MgO) dengan kapasitas 35.600 ton/tahun. Magnesium hidroksida (Mg(OH)2) bermanfaat besar dalam dunia medis, sebagai antidiare dan antasida untuk membantu meredakan asam lambung dan mengatasi sembelit. Serta magnesium oksida (MgO) dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk pencampuran pembuatan pupuk. Maka, disusunlah Desain Pabrik Magnesium Hidroksida Pharmaceutical Grade dan Magnesium Oksida Fertilizer Grade dari Bittern dalam upaya menjadikan bahan baku bittern dapat dimanfaatkan secara optimal yang beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari pertahun. Pabrik direncanakan akan berlokasi di Sampang, Jawa Timur. Dalam mencapai target tersebut digunakan dua rangkaian proses utama, pertama yakni pembuatan Mg(OH)2 yang diawali dari pretreatment, pencucian dan purifikasi Mg(OH)2 slurry, pengeringan, penggilingan dan penyesuaian ukuran spesifikasi. Kedua, hasil Mg(OH)2 slurry akhir yang terbentuk setelah proses pengeringan direaksikan lebih lanjut dengan proses kalsinasi untuk membentuk MgO. Dalam perancangan pabrik ini diperlukan operating expenditures (OPEX) sebesar Rp 1.087.710.660.768 dengan capital expenditures (CAPEX) sebesar Rp 2.098.391.274.509. Sumber dana investasi berasal dari modal sendiri sebesar 40% dan modal pinjaman 60%. Berdasarkan Analisa ekonomi, IRR pabrik ini sebesar 18,56% dengan bunga sebesar 8,05% per tahun dan laju inflasi 2,84%. Sedangkan POT selama 4,87 tahun, dan NPV bernilai Rp 1.565.259.095.142. Dengan melihat aspek penilaian analisa ekonomi tersebut maka dapat dikatakan bahwa pabrik magnesium hidroksida dan magnesium oksida dari bittern ini layak didirikan.
Implementasi Lean Manufacturing Menggunakan Value Stream Mapping (Studi Kasus: Perusahaan Manufaktur Komponen Otomotif) Gibran, Daffa Abyan; Arvitrida, Niniet Indah; Arvitrida, Niniet Indah
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.137929

Abstract

Rantai pasok pada Industri Otomotif terdiri dari supplier tier 2 sebagai industri pendukung sekunder, supplier tier 1 sebagai Original Equipment Manufacturer (OEM), manufaktur perakit otomotif sebagai produsen produk otomotif, dan customer. PT XYZ merupakan perusahaan manufaktur komponen otomotif yang mengambil peran sebagai supplier tier 1. Eratnya persaingan global terhadap produk otomotif membuat produsen otomotif memberikan tekanan kepada suppliernya agar dapat memenuhi permintaan komponen otomotifnya. Berlaku pula kepada PT XYZ yang terkena dampak tekanan dari manufaktur perakit otomotif. Namun, permasalahan muncul saat PT XYZ mengalami masalah pemborosan yang menyebabkan seringnya ketidakcapaian target produksi. Hal ini menyebabkan PT XYZ rutin melakukan overtime yang mengakibatkan biaya produksi meningkat. Sehingga PT XYZ memerlukan suatu metode untuk dapat mengidentifikasi waste dan mereduksi lead time produksi untuk dapat mengurangi waktu overtime dan memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu. Metode tersebut adalah Lean Manufacturing yang berfokus pada eliminasi pemborosan dan melakukan continous improvement. Dalam implementasinya, metode Value Stream Mapping (VSM) adalah metode paling cocok karena dapat memetakan keseluruhan proses dan dapat meninjau interaksi antar proses. Dengan bantuan metode process acitivity mapping, kondisi Current State map dapat diidentifikasi aktivitas yang menimbulkan waste-nya. Waste ini kemudian diidentifikasi akar permasalahannya menggunakan metode 5 whys analysis dan root cause analysis. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi landasan untuk dilakukan perbaikan dan mengimplementasikannya ke dalam Future State map. Dalam proses perbaikannya, kondisi masa depan dapat mereduksi lead time produksi dari 5,05 hari menjadi 4,66 hari. Nilai reduksi tersebut diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan target produksi yang tidak tercapai sehingga tidak dilakukan overtime.
Penentuan Alternatif Pedoman Standar Process Safety Management (PSM) dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Studi kasus Perusahaan di Industri Geothermal Prajnadi, Raynathan; Sudiarno, Adithya
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.142405

Abstract

Pentingnya pengelolaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) menjadi fokus dari industri saat ini, dikarenakan banyaknya historis kecelakaan kerja akibat kurangnya pengimplementasian safety management. Process Safety Management (PSM) merupakan suatu pendekatan sistematis terkait K3 untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan potensi bahaya pada sebuah proses industri yang sekiranya dapat menyebabkan kecelakaan yang merugikan manusia, lingkungan, ataupun properti. PSM sangat penting bagi industri, khususnya industri kimia, karena kecelakaan di industri kimia dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar baik dari segi finansial maupun kemanusiaan. Dalam sebuah industri, PSM harus diterapkan dengan benar agar dapat memberikan manfaat yang maksimal. PSM memiliki banyak versi publikasi yang digunakan di sebagian besar industri, seperti OSHA, DuPont, CCPS, dan versi lainnya. PSM tersebut memiliki elemen yang berbeda-beda tiap versinya, dari segi jumlah elemen dan konten di dalamnya, kebijakan, dan juga prosedur operasional process safety. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus kepada Departemen Health, Safety, Security, and Environmental (HSSE) perusahaan di industri geothermal yang dalam kondisi eksistingnya masih dalam perancangan pedoman standar PSM. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan alternatif standar PSM terbaik yang dapat disesuaikan terhadap kebutuhan dan keinginan perusahaan dalam menunjang pengelolaan manajemen keselamatan. Dalam penentuan versi PSM ini, akan dilakukan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai penilaian prioritas dari kriteria dan sub-kriteria dari tiap alternatif PSM.
Study of Failure Risk on the Utilities Unit of Oil Production PT Kilang Pertamina International RU IV Cilacap by Using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) Method Sugiarto, Rachmat; Mardyanto, Mas Agus
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.145054

Abstract

The Utilities Unit at Pertamina RU IV Cilacap is all materials/media/facilities needed to support refinery processing operations such as electricity, steam, cooling water, clean water, compressed air, fuel, and raw water. The Utilities Unit is one of the units that has an important role in oil production at PT Pertamina International Refinery RU IV Cilacap, so it is necessary to maintain the quality and quantity of production so that there is no sudden shutdown in the Utilities Unit. Failures that may occur can be detrimental in terms of very expensive equipment repairs and can hinder the process of existing facilities such as the cessation of water treatment. Using the Fishbone Analysis and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) method, this research determines the risk of failure in the petroleum processing process at the Utilities unit of PT Pertamina International RU IV Cilacap Refinery. The greatest risk of failure that arises based on the calculation of the Risk Priority Number (RPN) value will be used to determine alternative recommendations for improvements. The source of failure is obtained from 2 factors, namely from the machine and material factors. The Material factor is characterized as an aspect of product quality determined by the parameter indicators of each product, while the machinery factor can be classified as an aspect of the operating conditions of each unit. The biggest risk of failure based on the Risk Priority Number (RPN) results in the Sea Water Desalination unit with a value of 60 (low category). The suggested mitigation is by checking and monitoring chemical injections and cleaning evaporators.
Fitotreatment Limbah Cair Tahu Rumahan Menggunakan Tumbuhan Genjer (Limnocharis Flava L.) secara Vertikal Subsurface Flow Suci, Bamara Untsa Cita; Purwanti, Ipung Fitri
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.147047

Abstract

Saat ini, produksi tahu masih berkembang pada industri skala rumahan. Akibatnya, sebagian besar produsen belum memiliki Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) sehingga air limbah tahu langsung dibuang ke badan air. Padahal limbah cair tahu mengandung konsentrasi COD yang tinggi dan melebihi baku mutu sehingga menyebabkan pencemaran tanah dan air. Oleh karena itu, diperlukan alternatif untuk menangani permasalahan pencemaran limbah cair tahu yang murah, cepat, dan ramah lingkungan dengan fitotreatment subsurface flow constructed wetland menggunakan tumbuhan Limnocharis flava L.Penelitian pendahuluan dilakukan untuk menguji karakteristik awal air limbah dengan parameter utama COD dan parameter pendukung pH dan temperatur. Penelitian dilanjutkan dengan propagasi, aklimatisasi, dan Range finding test (RFT). Setelah itu, dilakukan penelitian utama selama 21 hari subsurface flow constructed wetland (SSF CW) aliran vertikal dan pemberian pupuk NPK. Nilai konsentrasi limbah cair tahu yang dapat diterima Limnocharis flava L. saat Range Finding Test (RFT) adalah 20%. Konsentrasi akhir dan efisiensi removal COD dengan dan tanpa pupuk NPK aliran vertikal SSF adalah 152 mg/L dan 136 mg/L; 80% dan 83,4%. Nilai pH dengan dan tanpa pupuk NPK aliran vertikal SSF adalah 7 dan 7,1.
Integrasi Genba Shikumi dan Fuzzy FMEA sebagai Upaya Mereduksi Waste Pada Proses Pembuatan Produk Strandkorb Ariyanto, Renaldi Jafras; Kusumawardani, Rindi
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.147380

Abstract

Pemanfaatan hasil hutan merupakan salah satu aktivitas yang penting bagi industri khususnya industri furnitur/mebel. Salah satu produsen utama furnitur di Indonesia yang memproduksi berbagai produk furnitur kayu adalah PT Berdikari Meubel Nusantara. Berdasarkan wawancara dengan stakeholder perusahaan pencapaian target Key Performance Indicator (KPI) perusahaan dalam mencapai tingkat zero waste juga menjadi aspek penting untuk meingkatkan kinerja perusahaan. Pada pengamatan di lantai proses produksi Strandkorb, ditemukan beberapa waste antara lain: adanya defect produk yang memiliki nilai rata-rata rasio sebesar 6,07% pada tahun 2023, adanya kegiatan yang tidak memberikan nilai tambah, serta adanya waktu tunggu yang diakibatkan mesin rusak atau keterlambatan bahan baku. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi critical waste pada proses pembuatan Strandkorb sebagai upaya dalam mereduksi waste sehingga dapat memberikan usulan perbaikan dalam mencapai target perusahan yaitu menuju zero waste. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep Lean Six Sigma yang mampu untuk mengeliminasi waste pada setiap proses produksi dengan menggunakan Lean tools serta memberikan peningkatan nilai implementasi nilai Six Sigma melalui identifikasi Non-Value Added pada tahapan proses produksi Strandkorb dengan terdapat integrasi metode Genba Shikumi dan Fuzzy FMEA dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi critical waste yang ditemukan. Pada tahapan Define, berdasarkan hasil identifikasi diperoleh 54 kegiatan yang dikategorikan tidak bernilai tambah sebagai inputan pada tahapan berikutnya. Selanjutnya pada tahapan Measurement, berdasarkan penentuan waste kritis dengan menggunakan Genba Shikumi diperoleh terdapat 11 aktivitas yang menjadi prioritas untuk dilakukan analisis akar permasalahannya. Pada tahapan Analyze, berdasarkan penilaian FMEA dan hasil evaluasi menggunakan pendekatan Fuzzy diperoleh ada 4 akar permasalahan yang perlu diprioritaskan untuk diberikan solusi perbaikan. Pada tahapan Improve, terdapat beberapa usulan perbaikan antara lain: perancangan pelatihan kepada operator, pembuatan instruksi kerja, perancangan penjadwalan pemeliharaan mesin, usulan material handling dan penerapan teknologi infrared dalam membantu proses inspeksi kayu.
Desain Pabrik Alginat dari Rumput Laut Cokelat Jenis Sargassum Crassifolium dengan Jalur Asam Kapasitas 2205 Ton Per Tahun Pradiptaningtyas, Anggoro Admojo; Leegstra, Handly Michael Backer; Kurniawansyah, Firman
Jurnal Teknik ITS Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v14i1.147796

Abstract

Rumput laut cokelat atau sargassum sp merupakan salah satu jenis dari 3 jenis rumput laut. Pada rumput laut cokelat terdapat senyawa alginat yang sering digunakan sebagai pengental dalam industry makanan, kosmetik, obat, hingga industry kertas dan cat. Kebutuhan alginat di Indonesia sendiri diestimasikan naik 2,9 % tiap tahunnya. Alginat ini sendiri belum diproduksi di Indonesia dan seluruh kebutuhan dalam negeri bergantung pada impor alginat dari luar negeri. Tentunya hal ini kurang berdampak baik karena Indonesia mengekspor rumput laut (bahan mentah) yang harganya murah dan mengimpor produk jadi alginat yang harganya lebih mahal. Padahal Indonesia sendiri diyakini mampu untuk memproduksi sendiri alginat untuk kebutuhan dalam negeri. Untuk memproduksi alginat ini diperlukan beberapa tahapan, diantaraya adalah size reduction, acid treatment, formaldehyde treatment, alkaline extraction, separation, bleaching, precipitation, dan dewatering. Dalam pendirian pabrik ini akan direncanakan untuk menghasilkan 2.205 ton alginat per tahun. Pabrik ini akan dibangun di Kota Bitung, Sulawesi Utara dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti ketersediaan bahan baku, utilitas, iklim, cuaca, dan ketersediaan lahan. Proses dari produksi ini meliputi 3 tahap utama, yakni pre-treatment, ekstraksi, dan proses pengeringan. Pada aspek ekonomi pabrik ini memiliki Internal Rate of Return IRR = 22,12% yang sudah diatas bunga bank yang sebesar 9,95%. Selanjutnya Pay Out Time (POT) selama 3,77 tahun. Nilai BEP 77,07%. Nilai BEP dibawah dari 100% ini berarti bahwa nilai jual produk alginat per taunnya melebihi dari nilai ongkos produksi alginat sehingga hal ini sangat baik dan terakhir nilai NPV sebesar Rp. 232.018.644.824,6.