Articles
2,279 Documents
Konsep Ekshibisi Dinamika Lalu Lintas di Bangunan Prasarana Transportasi Umum
Cindy Oktavia;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (451.813 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18111
Visual adalah salah satu hal yang penting di dalam sebuah bangunan fasilitas publik. Visualisasi yang baik akan memudahkan pengguna bangunan untuk dapat membaca situasi atau sistem di dalam bangunan sehingga tingkat keberhasilan bangunan dapat tercapai dengan baik, terutama dalam bangunan prasarana transportasi umum. Bangunan fasilitas transportasi umum sangat mengutamakan perpindahan (movement) dari penumpang dan kendaraan yang ada di dalamnya. Sejalan dengan itu, konsep ekshibisi yang mengedepankan visualisasi diintegrasikan dengan pergerakan (movement) di dalam bangunan untuk mencapai efisiensi baik dari aspek pergerakan penggunanya maupun visualisasi di dalamnya.
Sintesis Logika Spasial Kota dan Skala Manusia dalam Merancang Komponen Urban Fabric
Kadek Ary Wicaksana;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1167.163 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18130
Semenjak era Moderenisme, mesin mulai perlahan mengganti peran manusia dalam berbagai aspek kehidupan, yang kemudian secara keseluruhan menggelembungkan skala urban fabric yang mereka bangun. Akibatnya, aktivitas sosial tertentu hanya dapat terjadi dalam sebuah lingkungan tertutup dengan kondisi yang dibuat nyaman. Jakarta merupakan salah satu metropolitan yang mengalami fenomena tersebut, terindikasi dengan adanya pencabangan supergrid. Akibatnya, seluruh urban fabric yang seharusnya dapat saling menyokong satu sama lain ini terfragmen dan tidak terstruktur dengan baik, sehingga sebuah intervensi dibutuhkan untuk menyatukannya. Tingginya diversitas kebutuhan dari fragmen yang ada memiliki faktor interaksi sosial sebagai penyatu dan merupakan hal utama yang patut diselesaikan. Pendekatan perilaku sosial kemudian diimplementasikan, dengan memperhatikan berbagai spektrum aktivitas eksisting maupun laten di area studi, serta faktor kemampuan jangkau indera manusia terhadap ruang urban. Hasil rancangan menggambarkan bahwa sebuah komponen urban fabric, seminim apapun, selayaknya memiliki sifat sugestif dan kelenturan sehingga pengguna memiliki berbagai kemungkinan pengalaman dalam menggunakannya.
Pusat Pelatihan Manajerial Dengan Pendekatan Arsitektur Organik
Ersa Malindawati;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (389.146 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18136
Trend perusahaan untuk melakukan pelatihan atau training terhadap karyawannya merupakan sebuah kebutuhan utama perusahaan untuk memperbaiki kinerja karyawan. Keberadaan bangunan pusat pelatihan merupakan bangunan yang mempunyai tingkat permintaan yang tinggi di wilayah Trawas, namun diperlukan konsep desain yang tepat agar bangunan mempunyai fungsi maksimal dan meminimalisir perusakan lingkungan di sekitar area tapak. Konsep Resort adalah konsep yang dinilai mampu memaksimalkan fungsi bangunan sebagai tempat pelatihan manajerial, karena memiliki susasana rekreatif yang mudah diterima oleh peserta sehingga materi dapat tersampaikan dengan maksimal. Sedangkan pendekatan Arsitektur organik akan membantu dalam mewujudkan konsep utama dari segi bentukan, massa, suasana yang jauh dari kesan formal dan dekat dengan alam dan mewujudkan bangunan yang bersifat Ekologis.
Pariwisata Heritage sebagai Hasil Reinkarnasi Kawasan Pecinan Surabaya
Anggriani Christy;
Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (703.843 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18152
Surabaya sebagai kota besar dan tertua di Indonesia memiliki kawasan Pecinan yang khas. Daya tarik Surabaya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan wilayah Timur menarik para imigran, khususnya etnis Tiongkok untuk mendiami kawasan kota tua Surabaya. Aktivitas masyarakat Tiongkok sebagai zona permukiman-perdagangan sampai saat ini masih utuh. Namun, terdapat aspek yang mulai hilang seiring proses perbaikan dan pengembangan, yaitu arsitektur Cina yang sangat kental sebagai ciri khas kawasan Pecinan. Bertahannya elemen arsitektur yang ada seharusnya mampu menjadi potensi untuk lebih mengembangkan kawasan Pecinan Surabaya. Namun, munculnya moderninsasi di sisi lain kota menjadi ancaman bagi kelestarian kawasan ini. Kondisi ini membuat kawasan Pecinan Surabaya perlahan mati dan kehilangan eksistensinya sebagai kota lama Surabaya. Langkah pembangunan kembali eksistensi kota lama Surabaya merupakan strategi budaya dimana karakter Tiongkok yang merupakan jiwa dan perwujudan identitas kota Pecinan dapat diolah menjadi kawasan pariwisata heritage. Metoda architectural programming milik Donna P Duerk merupakan metoda yang tepat untuk menjabarkan alur penyelesaian hingga menghasilkan sebuah konsep rancangan yang jelas. Metoda ini berangkat dari permasalahan yang ada di lokasi yang kemudian dikategorikan untuk diproses menjadi sebuah penyelesaian.
Meningkatkan Eksistensi Kampung melalui Arsitektur sebagai Tantangan Modernisasi Kota Surabaya
Aji Kurnia Sudarmawan;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi;
Kirami Bararatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (743.494 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18160
Surabaya, banyak aspek yang dapat menggambarkan seperti apa Surabaya itu. Tidak hanya sebagai kota Pahlawan yang digambarkan dengan monumen Tugu Pahlawan (Gambar 1). Surabaya sejak dulu selalu berkembang dengan budaya dan masyarakatnya. Kota Metropolitan, mungkin julukan tersebut yang dipandang masyarakat luas sekarang. Maka ada sebuah pertanyaan besar apabila kita semata-mata menyatakan kota metropolitan sebagai identitas Surabaya di luar lingkup besaran skala kota. Identitas kota pada hakekatnya adalah citra mental yang terbentuk dari ritme natural tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu serta ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya, serta mengacu pada makna individualitas yang mencerminkan perbedaan dengan objek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiri. Citra mental Surabaya itu sendiri terdapat pada sebuah tempat yaitu “kampung” (Gambar 2). Kampung adalah bagian dari kota yang sekilas memberikan makna ruang yang menggambarkan identitas melalui berbagai entitas yang berbeda-beda. Perlu penyelesaian secara mikro untuk menggambarkan entitas yang berbeda-beda tersebut. Sebuah ruang yang menggambarkan sejarah dan interaksi sosial secara luas dan semestinya. Konsep kampung yang dikemas sebagai galeri sebagai objek wisata merupakan solusi untuk meningkatkan eksistensi kampung.
Arsitektur Perilaku : Desain DPRD Bojonegoro
Arcadius Mahatma Nuragadikara;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.617 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18391
Kinerja aparat pemerintah negara sebagai wakil rakyat masih dirasa tidak optimal. Banyaknya kasus yang menimpa para wakil rakyat semakin membuat masyarakat ragu dan kehilangan kepercayaan akan aparatur negara. Tidak hanya pada skala pemerintahan pusat saja yang menjadi sorotan masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah (Pemkab / Pemkot). Kurangnya tingkat produktivitas kerja serta transparansi para wakil rakyat daerah ini kerapkali menjadi pertanyaan besar. Kelakuan buruk oknum wakil rakyat ditambah dengan kinerja yang terkesan asal–asalan menjadi lubang hitam bagi citra wakil rakyat. Dengan metode desain yang tepat, sebuah arsitektur mampu menjadi jalan keluar atas permasalahan ini. Pendekatan berdasarkan pola dan kebiasaan kerja, yang dimainkan sedemikian rupa, dapat meningkatkan produktivitas dan transparansi para wakil rakyat. Suasana kantor dan bentuk arsitektural yang baik mampu menunjang terciptanya kondisi kondusif kerja. Objek rancang bertujuan untuk menghasilkan desain bagi kantor pemerintahan daerah yang berdampak langsung pada kinerja para wakil rakyat. Menonjolkan aspek transparansi serta produktivitas kerja sehingga terbangun kembali kepercayaan pada para wakil rakyat.
Kampung Ekologis Bantaran Sungai Semampir
Putu Krisna Yudani;
Sri Nastiti N. E;
Kirami Bararati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (557.671 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18392
Studi perancangan ini bertujuan sebagai penataan kampung bantaran sungai kawasan Semampir yang menjadi bagian komunitas Paguyuban Warga Strenkali Surabaya (PWSS) untuk mengubah anggapan negatif pemukiman stren kali yang kumuh dan mencemari lingkungan. Solusi berupa penggusuran dan relokasi justru menimbulkan pemasalahan baru bagi kota. Penataan kampung pada bantaran sungai berupa resettlement diperlukan agar kawasan dapat menyediakan pemukiman yang layak dan ekologis. Potensi yang terdapat pada bantaran sungai sebagai ruang publik serta adanya karakteristik pemukim menjadi aspek perancangan dalam proses penataan kampung bantaran sungai. Diperlukan pula keterlibatan komunitas pemukim sebagai partisipator untuk perbaikan fungsi dan ekosistem bantaran sungai sehingga tercipta hubungan yang mutualisme antar elemen pemukim, bantaran sungai dan juga kota. Dengan adanya penataan ini, kualitas hidup pemukim meningkat serta selaras dengan alam.
Wisata Agrikultur Modern Kota Gresik
Anugerah Widya Hutama;
Hari Purnomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (391.308 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18426
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati nomor tiga terbesar di dunia. Demikian pula dengan kondisi tanah dan iklim yang beragam, peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas pertanian pun semakin besar dengan menerapkan sistem pengelolaan lahan yang sesuai. Hal ini tercemin pada berbagai teknologi pertanian lokal yang berkembang di masyarakat dengan menyesuaikannya dengan tipologi lahan. Keunikan - keunikan tersebut merupakan aset yang dapat menarik bangsa lain untuk berkunjung/berwisata ke Indonesia. Wisata agrikultur merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata. Tujuannya adalah untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian. Melalui pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya. Di Indonesia, agroturisme didefinisikan sebagai sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang memanfaatkan usaha agro (agribisnis) sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian.
Ruang Aktif Sebagai Solusi terhadap Pengaruh Negatif Teknologi pada Anak
Larasasri Ratnaningtyas;
Collinthia Erwindi
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.673 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18478
Pada zaman sekarang, anak-anak yang tinggal pada lingkungan perkotaan yang padat terlihat cenderung lebih malas, cepat lelah, cepat sakit dan terlihat seperti tertekan. Sedangkan pada anak-anak yang tinggal didaerah pedesaan mereka terlihat sangat lincah, sehat, tidak mudah lelah dan sangat ceria. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya sebuah sarana bermain yang menarik perhatian anak-anak pada perkotaan baik dilihat dari aspek udara maupun keselamatan yang terdapat pada kota surabaya sangat susah untuk anak-anak dapat bermain pada siang hari. Hal ini menyababkan orang tua menjadi pasrah dengan memberikan gadget kepada anak-anak dan mengakibatkan ketergantungan pada anak-anak. Oleh karena itu di perlukan sebuah wadah arsitektur berupa ruang aktif untuk mencegah ketergantungan terhadap gadget tersebut terjadi. Oleh karena itu metode merancang, dalam menciptakan sebuah obyek ini diperlukan sebuah pemahaman terhadap psikologi yaitu sebuah pemahaman yang terkait dengan kebutuhan anak. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah menciptakan sebuah obyek untuk mewadahi aktivitas anak-anak agar anak- anak dapat menjadi produktif dalam masa perkembangannya serta memberikan pencegahan agar anak-anak tidak menjadi ketergantungan pada gadget.
Ruang Publik untuk Kesehatan Mental Masyarakat Perkotaan
Ula Izdihar Azizah;
Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (445.412 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18513
WHO menyatakan bahwa “tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental”. Kondisi gangguan kesehatan mental ringan merupakan salah satu tantangan kesehatan yang paling utama di abad ke-21. Penduduk kota lebih beresiko terkena gangguan kesehatan mental yang dikarenakan berbagai macam faktor. Baik gaya hidup maupun kondisi perkotaan memberikan dampak yang kurang baik pada kondisi mental masyarakat urban sehingga dibutuhkan wadah yang mampu mencegah dan mengurangi gangguan kesehatan mental pada penduduk perkotaan. Pendekatan dan metode yang digunakan adalah Biophilic Architecture, yang menjelaskan bahwa biologis manusia memiliki kecenderungan terhadap alam yang berperan dalam meningkatkan kebugaran fisik, emosional, dan intelektual manusia. Kesejahteraan mental maupun fisik masyarakat masih sangat bergantung pada kontak dengan lingkungan alam. Biophilic adalah cara yang inovatif untuk merancang tempat dimana kita hidup, bekerja dan belajar yang bertujuan untuk menciptakan ruang hidup yang sehat dan berpengaruh baik bagi masyarakat. Objek rancang berupa Mental Health Center yang terintegrasi dengan ruang publik, menyatukan program yang bersifat privat yaitu sebuah area konsultasi informal dan program yang bersifat publik seperti roof garden dan area bermain dalam satu kesatuan objek rancang sebagai wadah untuk mencegah dan mengurangi tingkat gangguan kesehatan mental ringan sehingga memberikan manfaat bagi kondisi kesehatan mental masyarakat dan berpengaruh pada kualitas hidup masyarakat perkotaan.