JURNAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN MISSIO
Aims (Tujuan) Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio bertujuan untuk menjadi wadah ilmiah yang memfasilitasi publikasi hasil penelitian, kajian teoretis, dan praktik terbaik di bidang pendidikan dan kebudayaan. Jurnal ini mendukung pengembangan ilmu pengetahuan multidisiplin yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kontekstualisasi lokal, serta mendorong dialog antarbidang ilmu untuk memperkaya praktik pendidikan dan kehidupan budaya masyarakat. Scope Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio mencakup topik-topik berikut: - Pendidikan: kebijakan pendidikan, inovasi pembelajaran, kurikulum, dan evaluasi - Pengajaran dan Pembelajaran: strategi mengajar, pedagogi, dan teknologi pendidikan - Kebudayaan: studi budaya lokal, tradisi, nilai, dan warisan budaya - Agama dan Filsafat: pemikiran teologis, refleksi filsafat pendidikan, dan spiritualitas - Teologi Kontekstual: relasi iman dan praktik sosial dalam konteks lokal - Ilmu Sosial dan Humaniora: sosiologi pendidikan, psikologi dan sejarah - Bahasa dan Sastra: kajian linguistik, pengajaran bahasa, dan sastra dalam pendidikan
Articles
193 Documents
COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING (CLT) AND CLASSROOM INTERACTION: IMPLICATION TO THE FOREIGN LANGUAGE LEARNING AND TEACHING
Gabriel Fredi Da’ar
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 8 No. 2 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v8i2.699
Communicative Language Teaching (CLT) and Classroom Interaction: Implication to the Foreign Language Learning and Teaching. Language learning aims to gain competence in the language studied both language skills (reading, writing, listening and speaking) and the components of language (sentence patterns, vocabulary and pronunciation). Some ways can be employed to achieve the goals such as independent learning and guided one. In language learning, several approaches are applicable, one of which is Communicative Language Teaching (CLT). Teachers apply this approach with the aim that students have enough time to negotiate and manipulate real situations into the classroom through dialogue, discussion, story-telling, game, roleplay, and debate. Through these activities the learners get a lot of input from the community of learning
MANAJEMEN STRATEGIK PENDIDIKAN BERBASIS PELANGGAN
Yohanes Wendelinus Dasor
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 8 No. 2 (2016): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v8i2.700
Manajemen Strategik Pendidikan Berbasis Pelanggan. Fenomena yang terjadi di Indonesia adalah jumlah lulusan perguruan tinggi dari tahun ke tahun selalu meningkat. Peningkatan lulusan tersebut tidak disertai dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Lebih dari pada itu lembaga pendidikan di Indonesia dinilai tidak mencetak sarjana yang siap pakai. Ada ketidaksesuaian antara output pendidikan dan tuntutan perkembangan ekonomi serta kualitas lulusan tidak cocok dengan kebutuhan dunia usaha/kerja. Berdasarkan fenomena tersebut maka sudah seharusnya lembaga pendidikan saat ini dikelola dengan suatu konsep manajemen yang berbasis pelanggan. Manajemen pendidikan berbasis pelanggan adalah pengelolaan lembaga pendidikan yang pada akhirnya menghasilkan output yang memuaskan pelanggan. Beberapa ciri output pendidikan yang dapat memuaskan pelanggan diantaranya adalah cerdas, terampil dan berkarakter. Dan untuk menghasilkan output pendidikan yang demikian maka lembaga pendidikan harus memperhatikan kualitas manajemen strategik pendidikan yang mencakup manajemen kognitif dan manajemen skill. Dengan memperhatikan pengelolaan pendidikan yang demikian output pendidikan akan sendirinya dapat memuaskan pelanggan.
KOMPETENSI BERBIROKRASI SEORANG GURU
Yohanes Mariano Dangku
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.701
Isu berbirokrasi tidak hanya di bidang pemerintahan. Sudah luas di berbagai bidang, termasuk di bidang pendidikan. Di sekolah, pendidik adalah aparat birokrasi. Dia adalah seorang birokrat. Sebagai seorang birokrat, dia harus mengenali gagasan, prinsip dan cara melaksanakannya di kelas. Seorang guru membutuhkan kompetensi birokratis untuk menage kelasnya.
MINORITY LANGUAGE RIGHTS
Yosefina Helenora Jem
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.702
This article discusses some issues relating to minority language rights in general. This stems from the phenomenon of the language where English is used as the number one language in the world. Furthermore, in this article we explain the nature of minority language rights and their objectives as well as the grouping of minority language rights. Furthermore, there is also a link between language and education specifically in the education system in Indonesia.
LINGKARAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM MASYARAKAT MANGGARAI
Yohanes Servasius Lon;
Fransiska Widyawati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.703
Penelitian ini mengeksplorasi lingkaran kekerasan terhadap anak di dalam masyarakat Manggarai dengan pertanyaan kunci, bagaimana kecenderungan fenomena kekerasan terhadap anak dan apakah akar masalah dari fenomena tersebut? Pertanyaan ini dijawab melalui penelitian mix method, kuantitatif dan kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa: secara kuantitatif angka kejadian kekerasan terhadap anak sangatlah tinggi pada setiap jenis kekerasan yang ada. Pelakunya adalah orang dewasa yang akrab dengan kehidupan anak. Pelaku umumnya pernah mengalami trauma kekerasan di masa kecilnya. Karena itu ada mata rantai dan pewarisan kekerasan dari generasi ke generasi. Hal ini makin diperkuat oleh tradisi Manggarai yang memposisikan anak sebagai objek orang dewasa.
PARENTAL GUIDANCE SERVICE: KIAT MENINGKATKAN KETERLIBATAN ORANG TUA DALAM PAUD
Fransiskus de Gomes
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.704
Salah satu faktor penghambat keberhasilan PAUD adalah rendahnya keterlibatan orang tua siswa. Hal ini disebabkan oleh minimnya pemahaman orang tua akan bentuk dan manfaat keterlibatannya dalam proses dan pengalaman belajar anaknya di PAUD. Mereka tidak terlibat karena tidak mengerti. Solusinya adalah sekolah menyediakan suatu layanan bimbingan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua siswa akan bentukdan manfaat keterlibatannya di PAUD. Pemahaman itulah yang akan memotivasi orang tua untuk terlibat aktif dalam pendidikan anaknya di PAUD.
PROSES BERPIKIR KRITIS SISWA SMA DALAM PENGAJUAN SOAL MATEMATIKA BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIKA
Fulgensius Efrem Men
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.705
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal matematika berdasarkan tingkat kemampuan matematika yang terdiri atas kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Subjek penelitian adalah siswa kelas X dan berjumlah lima orang. Adapun hasil penelitian yang menggambarkan proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal berdasarkan tingkat kemampuan matematika sebagai berikut. Pertama, siswa berkemampuan matematika tinggi kategori baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi, menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya sebagai sumber ide dan memiliki beberapa kriteria untuk membuat soal. Kedua, siswa berkemampuan matematika sedang dengan kategori baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi pada masalah terkait pengajuan soal, mengenali perintah dan mengidentifikasi asumsi-asumsi mendasar berupa apa yang diketahui pada informasi yang diberikan. Ketiga, siswa berkemampuan matematika rendah kategori kurang baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi yang pada masalah terkait pengajuan soal. Siswa menggunakan pengetahuan sebagai sumber ide dan memiliki beberapa kriteria untuk membuat soal. Mengacu pada hasil penelitian terlihat bahwa proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal matematika berdasarkan tingkat kemampuan matematika berbeda-beda.
PENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA DAN SOSIAL ANAK MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN BEYOND CENTER AND CIRCLE TIME (BCCT)
Ferdinandus Arifin Sulaiman
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.706
Proses pembelajaran pada layanan pendidikan anak usia dini (PAUD) secara jelas diupayakan untuk membantu anak dalam mencapai tingkat perkembangan. Layanan bantuan yang diberikan oleh guru sangat penting dalam upaya untuk mencapai tujuan dimaksud. Masalah yang dihadapi selama ini adalah para pendidik di PAUD cenderung melakukan proses pembelajaran secara formal, berpusat pada guru, dan menekankan pada aspek membaca, menulis, menghitung, memberikan lembar kerja, dan pekerjaan rumah juga secara formal. Fenomena tersebut tidak sesuai dengan prinsip pembelajaran di PAUD yang berbasis pada perkembangan terutama pada keenam aspek perkembangan anak. Dua dari keenam aspek perkembangan tersebut adalah aspek perkembangan bahasa dan sosil. Untuk mengembangkan kedua aspek perkembangan tersebut, salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan saat ini adala pendekatan pembelajaran Beyond Center Circle Time (BCCT). Pendekatan pembelajaran ini juga sering disebut dengan pembelajaran sentra yang menekankan pada karakteristik anak melalui kegiatan bermain.
MEMBANGUN BUDAYA MUTU DAN UNGGUL DI SEKOLAH
Hendrikus Midun
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.707
Membangun mutu pendidikan merupakan usaha bersama dan terus-menerus semua komponen pendidikan. Budaya mutu dimulai dengan komitmen mutu dari semua komponen sekolah, kerjasama, dan kepemimpinan yang kuat dalam sekolah. Ketiga hal ini mendorong setiap komponen sekolah untuk merealisasikan standar dan pinsip mutu dalam dinamika pendidikan. Budaya mutu dan unggul nampak pada layanan pendidikan yang bermutu. Indikator utamanya adalah kepuasaan pelanggan, baik pelanggan internal dan eksternal. Kepuasaan yang dimaksudkan adalah kebahagiaan dan keberhasilan, tidak saja setelah periode pendidikan tetapi juga selama proses pendidikan berlangsung. Maka komitmen yang dituntut dari setiap komponen pendidikan terutama dewan sekolah, pendidik, peserta didik adalah berpikir dan betindak menghasilkan yang terbaik, berorientasi ke masa depan, terbuka dan adaptif terhadap perubahan, melakukan penyempurnaan terus menenus, dan merubah cara pandang terhadap sesuatu. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik mutu dan tawaran solutif bagaimana mutu dimiliki dan dijalankan pada aktivitas pendidikan.
NASIB KAUM PEREMPUAN: BERKACA PADA NOVEL “PEREMPUAN DI TITIK NOL”
Ambros Leonangung Edu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Missio
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36928/jpkm.v9i1.708
Sejak awal penciptaaan, laki-laki dan perempuan sudah ada bersama. Bahkan mereka diciptakan untuk hidup berdampingan. Tetapi di mata lelaki, keberadaan perempuan bersifat problematis. Mungkin bukannya tidak dibutuhkan, tetapi kontribusinya dipertanyakan. Aneka kekerasan yang dialami perempuan sudah semestinya terjadi. Cara pandang tersebut menjadi sisi tilik ]untuk menjelaskan praksis aneka kekerasan terhadap perempuan. Tulisan ini ingin membedah kekerasan dengan bertolak dari reflesi atas novel Perempuan di Titik Nol, karya Nawal El-Saadawi. Novel ini akan mengupas secara tajam konteks dan relevansi kekerasan yang dialami para perempuan dewasa ini.