cover
Contact Name
Fadlan Barakah
Contact Email
fadlanbarakah@usk.ac.id
Phone
+6281329411577
Journal Mail Official
sosiologi.fisip@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
JURNAL SOSIOLOGI USK: Media Pemikiran & Aplikasi is an open access, and peer-reviewed journal. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and sociological issues. JSU is published two times a year. This journal has been accredited sinta 3
Articles 159 Documents
Habitus dan Modal Sosial dalam Kesuksesan dan Kegagalan Bisnis Nur, M; Nirzalin, Nirzalin; Fakhrurrazi, Fakhrurrazi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.17494

Abstract

Business is basically a social practice. This makes success or failure in running a business not only determined by financial capital, but also determined by things broader than that. This condition also applies to the furniture business in Lhokseumawe City where UD Bripo managed to dominate while Dek Gam failed to compete. This study tries to uncover the facts of the furniture business with the same type of business, but in the furniture business UD Bripo succeeded in developing its business, on the other hand the Dek Gam furniture business failed to develop its business. Data collection is done by using ethnographic methods. The results of this study are that habitus and social capital have a significant role in supporting the success of the UD Bripo furniture business. Habitus owned by UD Bripo furniture business owners are brave, honest, focused, frugal, caring and leader-minded, and always thinks systems. While UD Bripo's successfully utilized social capital consists of norms, trust and network dimensions. The failure of the Dek Gam furniture business is due to the inaccurate application of habitus and social capital in the business arena.AbstrakBisnis pada dasarnya adalah sebuah praktik sosial. Hal ini membuat kesuksesan atau kegagalan dalam menjalankan sebuah bisnis tidak hanya ditentukan oleh faktor kekuatan modal finansial, melainkan juga ditentukan oleh hal-hal yang lebih luas daripada itu. Kondisi ini berlaku juga pada bisnis meubel di Kota Lhokseumawe dimana UD Bripo berhasil mendominasi sementara Dek Gam gagal berkompetisi. Studi ini mencoba menggambarkan mengapa usaha meubel dengan jenis usaha yang sama, namun pada usaha meubel UD Bripo berhasil mengembangkan usahanya secara signifikan, sebaliknya usaha meubel Dek Gam gagal mengembangkan usahanya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunaan metode etnografi. Hasil penelitian ini yaitu habitus dan modal sosial memiliki peran signifikan dalam mendukung kesuksesan bisnis meubel UD Bripo. Habitus yang dimiliki oleh pemilik usaha meubel UD Bripo diantaranya berani, jujur, fokus, hemat, peduli dan berjiwa pemimpin, serta selalu berpikir sistem. Sementara modal sosial UD Bripo yang berhasil didayagunakan terdiri atas dimensi norma, kepercayaan, dan jaringan. Adapun terjadinya kegagalan bisnis meubel Dek Gam disebabkan penerapan habitus dan modal sosial yang kurang tepat di dalam arena bisnis
Relasi Agama dan Masyarakat dalam Perspektif Emile Durkheim dan Karl Marx Maulidia, Hanifa
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.17506

Abstract

This article talks about the relation of religion and society according to the views of two sociologists, are Emile Durkheim and Karl Marx. This paper begins with the definition of religion, how religion can emerge and develop, followed by the definition of religion according to Durkheim and Marx. Relation of religion and society according to Durkheim is very intimate because religion is formed from social current, that is from the existence of collective effervescence towards collective consciousness, when traditional societies perform worship rituals by purifying something called totem. In contrast to Marx's opinion which explains that religion can reduce pain due to pressure from all life problems experienced by society. Writer used study of literature and the results of this article are forms of cumulative theoretical descriptions.Abstrak Artikel ini berbicara mengenai relasi agama dan masyarakat menurut pandangan kedua tokoh sosiologi yaitu Emile Durkheim dan Karl Marx. Tulisan ini diawali dengan definisi agama, bagaimana agama dapat muncul dan berkembang yang dilanjutkan oleh definisi agama menurut Durkheim dan Marx. Relasi agama dan masyarakat menurut Durkheim sangatlah intim karena agama terbentuk dari social current (arus sosial) yaitu dari adanya collective effervescence (kesadaran kolektif) menuju collective consciousness, ketika masyarakat tradisional melakukan ritual-ritual peribadatan dengan mensucikan sesuatu yang disebut dengan totem. Berbeda dengan pendapat Marx yang menjelaskan bahwa agama dapat mengurangi rasa sakit akibat tekanan dari segala permasalahan hidup yang dialami oleh masyarakat. Penulis menggunakan kajian kepustakaan yang hasil tulisan ini adalah berupa deskripsi-deskripsi teoritis yang sifatnya kumulatif.
Evaluasi Program Pemberdayaan Masyarakat Kelompok Ternak Lancar Rejeki Hayati, Beti Nur
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.16901

Abstract

One effort to reduce poverty is to develop communities with a cross-empowerment model stakeholder. One of them is community empowerment of group "Lancar Rejeki" which is one of the corporate social responsibility programs of PT. Semen Gresik. The purpose of this study is to evaluate the community empowerment program of the "Lancar Rejeki" group in the 2015-2018 program period using the Beneficiary Assessment. This research method uses descriptive qualitative research methods. The results of this study are that from the very beginning the appearance of this program had various impacts on group members. The first is increasing the capacity of group members regarding animal fattening programs. Second, members have the capacity to process livestock waste into organic fertilizer so that from these activities it can provide economic improvement to its members. But in this period, also experienced some obstacles in the group "Lancar Rejeki." First, fluctuations in goat prices that are uncertain make fattening activities difficult to develop. In addition, the lack of social capital among group members caused some group members to stop in the middle of pioneering activitiesAbstrakSalah satu upaya untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan melakukan pengembangan masyarakat dengan model pemberdayaan lintas stakeholder. Salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat kelompok ternak Lancar Rejeki yang merupakan salah satu program tanggung jawab sosial perusahaan PT. Semen Gresik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat kelompok ternak Lancar Rejekipada periode program 2015-2018 dengan menggunakan Beneficiary Assesment. Metode penelitian ini menggunkan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa sejak awal kemunculan program ini telah membawa berbagai dampak pada anggota kelompok. Pertama adalah meningkatnya kapasitas anggota kelompok mengenai program fattening ternak. Kedua, anggota memiliki kapasitas untuk melakukan pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organic sehingga dari kegiatan tersebut dapat memberikan peningkatan ekonomi pada anggotanya. Namun dalam periode ini, juga mengalami beberapa hambatan dalam kelompok Lancar Rejeki. Pertama fluktuasi harga kambing yang tidak menentu membuat kegiatan fattening menjadi sulit dikembangkan. Selain itu, lemahnya modal sosial antar anggota kelompok membuat beberapa anggota kelompok berhenti di tengah merintis kegiatan
Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Pemanfaatan Teknologi sebagai Media Pendukung Pembelajaran di MAN 1 Pidie Wardinur, Wardinur; Mutawally, Fuadi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.16422

Abstract

In this era, teachers required to have more capabilities to use technology as a learning resource. Because learning strategies and approaches not only base on a teacher but oriented towards students as subjects (student-centered). The teacher is not the only source for the student. This means that teachers in Madrasah expected to use appropriate learning resources. Therefore, this article aims to describe the utilization of technology as a learning media in MAN 1 Pidie and how the competence of teachers in utilizing technology in the learning process. The author uses a qualitative approach with a descriptive model in which the data and exposure presented in this paper sourced from the training conducted by the authors to Guru in MAN 1 Pidie and sourced from relevant literature studiesAbstrakPada era sekarang ini Guru dituntut untuk memiliki kemampuan lebih terkait pemanfaatan teknologi sebagai sumber pembelajaran. Karena Strategi dan pendekatan pembelajaran tidak lagi bertumpu pada guru tetapi berorientasi pada siswa sebagai subyek (student centered). Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi peserta didik. Hal ini berarti guru di madrasah diharapkan mampu menggunakan sumber belajar secara tepat. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mendeskripsikan tentang pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran di MAN 1 Pidie serta bagaimana kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan model deskriptif dimana data dan paparan yang disampaikan dalam tulisan ini bersumber dari hasil pelatihan yang dilakukan oleh penulis kepada Guru di MAN 1 Pidie serta bersumber dari kajian literatur yang relevan.Kata kunci: Kompetensi guru, pelatihan, MAN 1 Pidie
Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard Bakti, Indra Setia; Nirzalin, Nirzalin; Alwi, Alwi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.15925

Abstract

Consumerism has revealed its form. The existence of the ideology has caused ridicule and even opposition from some groups of society, while some other groups support and make it a way of life. But times seem to influence more and more people to choose the consumerist path. Indications that support this argument can be seen from the phenomenon of society making material ownership a measure of success. This article explores consumerism in Jean Baudrillard's perspective using the literature study method. Several references such as books and journals and both written directly by Baudrillard and the works of other authors on the same theme. Baudrillard's three early works brought this study to the discussion of the concept of sign-values and simulation which had made a major contribution to the development of the sociology of consumption studies.AbstrakKonsumerisme sudah menampakkan wujudnya. Keberadaan paham ini memunculkan cemoohan bahkan penentangan dari sebagian pihak, sementara sebagian pihak yang lain justru mendukung dan menjadikannya sebagai cara hidup. Namun perjalanan waktu tampaknya menggoda semakin banyak orang untuk memilih jalan konsumeris. Indikasinya dapat dibaca dari kepemilikan komoditas tertentu sebagai ukuran kesuksesan hidup. Artikel ini mengupas tentang konsumerisme dalam perpektif Jean Baudrillard dengan menggunakan metode studi pustaka. Sejumlah referensi seperti buku dan jurnal dijadikan rujukan, baik karya yang ditulis langsung oleh Baudrillard maupun karya-karya penulis lain dalam tema yang sama. Tiga karya awal Baudrillard membawa studi ini mengerucut pada konsep nilai-tanda dan dunia simulasi yang telah memberi kontribusi besar dalam pengembangan ranah studi sosiologi konsumsi.
Pengembangan Wisata Trekking Di Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Danau Buyan, Kabupaten Buleleng Prasiasa, Dewa Putu Oka; Sri Widari, Dewa Ayu Diyah; Menuh, Nyoman
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.15423

Abstract

The purpose of this research is to know the potency owned by the tourist forest area of Buyans lake for supporting tourism tracking activities. Collecting data techniques used to achieve this research purpose is direct observation, structured interview to the tourist and deep interview with the Chief Tourism Office of Buleleng Regency, The head of natural resources conservation, and the community figure. The methods used in this research descriptive analysis method by using an explanation given by the respondents descriptively and the SWOT analysis to identify internal situation like strength and opportunities factors, and the threats in developing tracking tourism. The result of this research shows that physic potency and nonphysical potency owned in the Danau Buyan Tourists attraction area can be developed as tracking tourism. In its development process the involvement of the local community, the tourist and Conservation Nature Resources Conservation are very important factorsAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi yang dimiliki oleh kawasan hutan wisata danau Buyan untuk mendukung kegiatan pelacakan pariwisata. Data dalam penelitian bersumber dari observasi langsung, wawancara terstruktur kepada wisatawan dan wawancara mendalam dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Kepala konservasi sumber daya alam, dan tokoh masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan menggunakan penjelasan yang diberikan oleh responden secara deskriptif dan analisis SWOT untuk mengidentifikasi situasi internal seperti faktor kekuatan, peluang dan ancaman dalam mengembangkan wisata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa potensi fisik dan potensi nonfisik yang dimiliki kawasan objek wisata Danau Buyan dapat dikembangkan sebagai trekking wisata. Dalam proses pengembangannya keterlibatan masyarakat setempat, para wisatawan dan Konservasi Sumber Daya Alam merupakan faktor yang sangat penting.
Economic Empowerment of the Coastal Society: A Case Study of Ujoeng Pacu Village, Muara Satu District, Lhokseumawe - Aceh Nirzalin, Nirzalin
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.15953

Abstract

The various policies of the Indonesian government in the maritime sector have objectively succeeded in increasing the production and export value of the Indonesian fish trade in the world. The 2017 statistics, for example, show Indonesia's exports in the fisheries sector reached 979,910 tons of fish with a value of 4.09 billion US dollars. However, the amount of income in the fisheries sector only succeeded in making prosperous capital owners (toke) and contractors who obtained various infrastructure development projects. Fishermen and coastal communities actually remain in poverty. In 2017, 34% of fishermen and coastal communities were in poverty. The process of strengthening the welfare of fishermen and coastal communities can actually be done through economic empowerment programs by involving mentoring from academics across scientific disciplines. Based on the case of the empowerment of the coastal community of Ujoeng Pacu village, Lhokseumawe, this article shows the complexity of reality as well as the success of the Ujoeng Pacu community empowerment process that previously lived in the war economy and the drug economy turned into a productive economy through the cultivation of soft shell crabs and tiger shrimp with polyculture techniques.AbstrakPelbagai kebijakan pemerintah Indonesia di sektor kelautan secara objektif telah berhasil meningkatkan nilai produksi dan ekspor perdagangan ikan Indonesia di dunia. Statistik 2017, misalnya, menunjukkan ekspor Indonesia di sektor perikanan mencapai 979.910 ton ikan dengan nilai 4,09 miliar dolar AS. Namun, jumlah pendapatan di sektor perikanan yang melimpah itu secara objektif pula hanya berhasil memakmurkan pemilik modal (toke) dan kontraktor yang memperoleh pelbagai proyek pembangunan infrastruktur disektor maritim. Sementara, nelayan dan petani dikawasan pesisir tetap miskin. Faktanya, pada 2017 pula, 34% masyarakat nelayan dan petani pesisir berada dalam kemiskinan. Proses penguatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir sebenarnya dapat dilakukan melalui program pemberdayaan ekonomi dengan melibatkan pendampingan dari akademisi lintas disiplin ilmu. Berdasarkan kasus pemberdayaan masyarakat pesisir desa Ujoeng Pacu, Lhokseumawe- Aceh, artikel ini menunjukkan bagaimana melalui proses pemberdayaan yang dilakukan secara intensif, masyarakat Ujoeng Pacu yang sebelumnya hidup dalam ekonomi perang dan ekonomi narkoba perlahan berubah menjadi produktif melalui teknik budidaya polikultur kepiting cangkang lunak (Soka) dan udang windu
Kebijakan Pangan dan Tradisi Lokal (Studi tentang Dampak Kebijakan Pengelolaan Pangan Daging terhadap Keberadaan Tradisi Uwer di Kabupaten Gayo Lues) Nasution, Abdullah Akhyar
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i1.14096

Abstract

As a basic necessity, the availability of foodstuffs requires the state to be involved in its fulfillment through regulation. In carrying out of the functions, the state also makes regulations on other aspects. That condition, sometimes, raises contradictory things at the stage of implementation, especially at the local level. Culturally, the system of the food supply of proteins sourced from buffalo practiced by many tribes in Indonesia including by the Gayo community in Gayo Lues District. In Gayo, the system of traditional buffalo farms is called Uwer. It is interesting to see how the food policy has contributed to the local cattle tradition. This is the problem in this study. As a preliminary study result, data on research gathered through work fields and literature studies. Results of the study showed that there are many food policies at the national level that directly or indirectly contribute to the existence of traditional livestock patterns including farms that are practiced by the Gayo community. On its development, the Gayo community has also made modifications to the Uwer system to response the social and cultural changes. If not accompanied by protection and conservation efforts, local buffalo livestock systems that reloaded with local wisdom values will potentially lose or abandoned by the public.AsbtrakSebagai kebutuhan dasar, ketersediaan bahan pangan mengharuskan negara terlibat dalam pemenuhannya yang diwujukan melalui regulasi. Hanya saja dalam menjalankan fungsinya negara juga membuat regulasi tentang aspek lainnya. Kondisi demikian, adakalanya memunculkan hal yang kontradiktif pada tahap implementasi terutama di tingkat lokal. Secara kultural, sistem penyediaan bahan pangan protein hewani bersumber dari kerbau telah dipraktekkan oleh banyak suku di Indonesia termasuk oleh masyarakat Gayo di Kabupaten Gayo Lues. Di Gayo, sistem peternakan kerbau tradisional disebut dengan uwer. Menjadi hal yang menarik melihat bagaimana kebijakan pangan yang ada ikut memengaruhi tradisi beternak di tingkat lokal. Inilah yang menjadi rumusan masalah dalam studi ini. Hasil studi awal memperlihatkan bahwa ada banyak regulasi pangan di tingkat nasional yang secara langsung maupun tidak langsung ikut mempengaruhi eksistensi pola peternakan tradisional termasuk peternakan yang dipraktekkan oleh masyarakat Gayo, yang dikenal dengan uwer. Dalam perkembangannya, masyarakat gayo juga melakukan modifikasi pada sistem uwer guna menyiasati perubahan sosidal dan budaya. Jika tidak dibarengi dengan upaya proteksi dan konservasi, sistem peternakan kerbau lokal yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal akan berpotensi hilang atau ditinggalkan oleh masyarakat.
Kearifan Lokal dan Peran Elit Agama dalam Mitigasi Bencana di Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie Sahlan, Muhammad
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i1.14050

Abstract

Pengetahuan tentang bencana belum menjadi bagian dari local wisdom yang bersemayam dalam kehidupan dan setiap bencana datang, seakan-akan selalu menjadi sesuatu yang baru. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami secara mendalam bagaimana peran elit agama dalam mitigasi bencana di Tangse Kabupaten Pidie, mengingat keterlibatan elit agama dalam konteks kehidupan masyarakat aceh yang masih sangat penting. Penelitian ini merupakan penelitian etnografi yang bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif tentang peran elit agama yang berkorelasi positif terhadap upaya mitigasi bencana alam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gagalnya masyarakat Tangse menjadikan bencana sebagai ujian untuk kemudian melahirkan inisiatif menjaga lingkungan disebabkan oleh minimnya alternatif yang tersedia untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Aktivitas penebangan liar sebagai sumber bencana telah menjadi sumber ekonomi utama bagi mereka, dan aktivitas itu telah menciptakan efek mata rantai ekonomi, membawa berkah bagi geliat perekonomian masyarakat. Eksistensi ulama atau elit agama sebagai agen sosial dalam masyarakat menjadi sangat lemah dan lumpuh ketika berhadapan dengan aktivitas penebangan liar karena berkah ekonomi juga dinikmati oleh mereka. Akhirnya elit agama sebagai kelompok strategis juga ikut terjebak dalam lingkaran ekonomi kayu tesebut. Demikian pula dengan kearifan lokal yang juga ikut lumpuh ketika berhadapan dengan faktor-faktor ekonomi. AbstractKnowledge about the disaster had not been part of local wisdom who sits in the life of and every disaster comes like always being something new. Thus, this research aims to review and in-depth understanding of the role of local elites religion in disaster mitigation in Tangse Pidie District, because of the roles of elite religion in the context of the life of Acehnese that is still very important. This research is ethnographic research that aims to describe comprehensively about the role of religious elites which related to natural disaster mitigation efforts. The result of this research indicates that failure to the community disaster made as experiences collectively and do not deliver the initiative to protecting the environment caused by the lack of alternative available for their economic ability to meet a need. The activity of illegal logging as a source of disaster has become a prime source, and illegal logging had been creating economic chain effects. The existence of a local elite religion as an agent social within the community very weak and become "paralyzed" while dealing with the activity of illegal logging because "economic blessing" is also enjoyed by them. Finally, local elite religion as a strategic group has also stuck in the circle of economic timber proficiency level. Similarly, the local wisdom also paralyzed when faced with economic factors
Desa Wisata Berbasis Pemberdayaan, Kemitraan, dan Penguatan Kelembagaan Di Desa Terunyan, Bali Prasiasa, Dewa Putu Oka; Widari, Dewa Ayu Diyah Sri
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i1.13923

Abstract

This Article aims to formulate empowerment strategies, identify forms of partnership, and develop an institutional reinforcement model to support Terunyan Tourism Village. The result shows that the strategy applied by the manager of Terunyan Tourism Village using Conformity Model that implements the program using the learning process approach. Partnerships conducted four patterns of interaction between the community institution of Terunyan Village, Terunyan Tourism Village, Tourism Stakeholders, and the Management of Terunyan Tourism Village. Institutional Reinforcement Model conducted among the involvement of all Village society and community institution in relation to support the Terunyan Tourism Village, and revitalize groups (sekaha) to strengthen the development of tourism products in Terunyan Tourism Village.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemberdayaan, mengidentifikasi bentuk-bentuk kemitraan, dan menyusun model penguatan kelembagaan dalam rangka mendukung pengembangan Desa Wisata Terunyan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pemberdayaan yang diterapkan oleh pengelola Desa Wisata Terunyan mempergunakan model kesesuaian yang mengimplementasikan program dengan mempergunakan pendekatan proses pembelajaran. Kemitraan yang dilakukan berbentuk empat pola interaksi antara Pranata Kemasyarakatan Desa Terunyan, Desa Wisata Terunyan, Pelaku Pariwisata, dan Pengelola Desa Wisata Terunyan. Model Penguatan Kelembagaan yang dilakukan antara lain pelibatan seluruh lapisan masyarakat desa serta Pranata Kemasyarakatan yang ada di desa dalam kaitan mendukung Desa Wisata Terunyan, dan merevitalisasi kelompok (sekaha) untuk memperkuat pengembangan produk wisata di Desa Wisata Terunyan.

Page 11 of 16 | Total Record : 159