cover
Contact Name
Fadlan Barakah
Contact Email
fadlanbarakah@usk.ac.id
Phone
+6281329411577
Journal Mail Official
sosiologi.fisip@usk.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Jln. Tgk Tanoh Abee, Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi)
ISSN : 22525254     EISSN : 26548143     DOI : https://doi.org/10.24815/jsu
JURNAL SOSIOLOGI USK: Media Pemikiran & Aplikasi is an open access, and peer-reviewed journal. Our main goal is to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and sociological issues. JSU is published two times a year. This journal has been accredited sinta 3
Articles 159 Documents
Pola Rekrutmen Bacaleg Perempuan Partai Keadilan Sejahtera pada Pemilu 2019 di Kota Banda Aceh Aminah, Aminah; Mulyani, Sri; Ubaidullah, Ubaidullah
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.20899

Abstract

Since the reform era, women in Indonesia have begun to be reconsidered in various aspects, including being a part of policymakers and political contestation. It can be seen from implementing affirmative action policies, which obliges every political party to include the national level management and legislative candidates for at least 30% women. The recruitment process for legislative candidates interesting to discuss because the candidates not only from party cadres but including non-cadres. Especially women candidates that sometimes had no basis and experiences in politics also recruited. This study aims to determine the Partai Keadilan Sejahtera (PKS) recruitment patterns in determining women's candidates for the 2019 general election in Banda Aceh City. The research method used is descriptive qualitative. This study concluded that PKS uses a candidate's recruitment pattern with an open and closed system with the Barber model and always pays attention to each candidate's motivation sources and opportunities.AbstrakSejak era reformasi, perempuan di Indonesia mulai dipertimbangkan kembali dalam berbagai aspek, termasuk menjadi pembuat kebijakan dan kontestasi politik. Hal ini terlihat dari penerapan kebijakan affirmative action yang mewajibkan setiap parpol untuk mengikutsertakan pengurus tingkat nasional dan calon legislatif minimal 30% perempuan. Proses rekrutmen calon legislatif menarik untuk dibahas karena calon tidak hanya dari kader partai tapi termasuk non kader. Apalagi calon perempuan yang terkadang tidak punya dasar dan pengalaman di bidang politik pun ikut direkrut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola rekrutmen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam penentuan calon perempuan pada pemilihan umum 2019 di Kota Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PKS menggunakan pola rekrutmen calon dengan sistem terbuka dan tertutup model Barber dan selalu memperhatikan sumber motivasi dan peluang masing-masing calon.
Kajian Sosiologis terhadap Perencanaan Tata Ruang Terbuka Hijau di Kota Banda Aceh Khairulyadi, Khairulyadi; Bukhari, Bukhari; Maulida, Cut Raisa
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.20701

Abstract

This article aims to discuss the process of producing a new social space along the Krueng Aceh Peunayong river and Taman Sari in Banda Aceh. This article uses Lafebvre's social space production perspective with qualitative research methods. Informants are determined through the purposive sampling technique, and data collected through structured interviews. This study found that social space production in green urban space planning in Banda Aceh City follows three dialectical processes as assumed by Lefebvre's theory of social space production. First, middle to lower-class people experiences social eviction. New green urban spaces such as those on the Peunayong and Taman Sari rivers banks do not represent themselves as living spaces for all social levels. Second, policymakers have a dominant role in conceptualizing and representing new green urban spaces. Third, the image is constructed and perceived from views (visuals) and symbols (perceptual space). For the upper class, green urban spaces in Banda Aceh are a symbol of modernity and progress. For the lower class society, green open space is a representation of planned marginalization.AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengetahui proses produksi ruang sosial baru yaitu ruang terbuka hijau di bantaran sungai Krueng Aceh Peunayong dan Taman Sari di Kota Banda Aceh. Tulisan ini menggunakan frame teori produksi ruang sosial Henry Lafebvre. Penelitian ini mengikuti kerangka penelitian kualitatif. Informan ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur. Penelitian ini mendapati bahwa, produksi ruang sosial dalam perencanaan ruang terbuka hijau di Kota Banda Aceh mengikuti tiga proses dialektika, sebagaimana diasumsikan oleh teori produksi ruang sosial Lefebvre. Pertama, masyarakat kelas menengah ke bawah mengalami penggusuran secara social (pembongkaran urban). Ruang terbuka hijau baru seperti di bantaran sungai Peunayong dan Taman sari tidak merepresentasikan diri sebagai ruang yang hidup bagi semua lapisan masyarakat. Kedua, pemangku kebijakan memiliki peran yang dominan dalam mengonsepsikan dan merepresentasikan ruang terbuka hijau baru. Ketiga, citra dikonstruksikan dan dipersepsikan dari tampilan (visual) dan simbol (percieved spaces). Bagi masyarakat kelas atas, ruang terbuka hijau di kota Banda Aceh dianggap simbol kemodernan dan kemajuan. Bagi masyarakat bawah, ruang terbuka hijau adalah representasi marginalisasi yang terencana.
Proses, Motif, dan Upaya Keluarga dalam Melaksanakan Resepsi Pernikahan di Gampong Teupin Baja Aceh Utara Eviana, Eviana; Alwi, Alwi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.19835

Abstract

This study focuses on the process of implementing a wedding reception, the motives that encourage the culture of a wedding reception, and the efforts made by poor families in holding their children's wedding receptions in Gampong Teupin Banja, Muara Batu District, North Aceh Regency. The research method used in this research is a qualitative method with a descriptive approach. The results of this study conclude that the process of implementing a wedding reception is (1) informing the geuchiek of the wedding reception, (2) carrying out the Duek Pakat event, (3) informing the organizer of the wedding reception equipment, and (4) conducting the wedding reception. The motives that encourage the culture of wedding receptions carried out by the community are (1) signaling that they have married, (2) avoiding social sanctions from the community, (3) strengthening family relations with relatives, and (4) wanting to be seen as the economically capable. Efforts made by poor families to carry out wedding receptions are (1) owing materials for the wedding reception, (2) selling their livestock, (3) setting aside the rice harvest, and (4) pawning the fields.AbstrakPenelitian ini mengfokuskan pada proses pelaksanaan resepsi pernikahan, motif yang mendorong budaya resepsi pernikahan, dan upaya yang dilakukan oleh keluarga miskin dalam mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Gampong Teupin Banja Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menyimpulkan proses pelaksanaan resepsi pernikahan adalah (1) memberitahukan pelaksanaan resepsi pernikahan kepada geuchiek, (2) melaksanakan acara Duek Pakat, (3) memberitahukan pihak pengelola perlengkapan resepsi pernikahan, dan (4) melaksanakan acara resepsi pernikahan. Motif yang mendorong budaya resepsi pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat adalah (1) menandakan telah melangsungkan pernikahan, (2) menghindari sanksi sosial masyarakat, (3) mempererat hubungan kekeluargaan dengan kerabat, dan (4) ingin dipandang sebagai orang mampu dalam melaksanakan resepsi pernikahan. Upaya yang dilakukan oleh keluarga miskin untuk melaksanakan resepsi pernikahan adalah (1) mengutang bahan keperluan pelaksanaan resepsi pernikahan, (2) menjual hewan ternak yang dimilikinya, (3) menyisihkan hasil panen padi, dan (4) menggadai sawah.
Modal Sosial dan Kearifan Lokan dalam Pengelolaan Hutan: Studi Kasus di Kawasan Hutan Gampong Kunci Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Utara Rangkuti, Rakhmadsyah Putra; Ketaren, Amiruddin; Ridwan, Darmadi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.18894

Abstract

The natural environment becomes the primary source for humans' lives to fulfill their daily needs. Life necessities encourage humans to adapt in various ways according to their abilities. The diversity of local cultures contains norms, ethics, and moral values that emphasize to preservation environment. These values integrated and becoming a guide in behaving and interacting with nature. Forest is a part of the customary community unit in Aceh, and there are customary laws to regulate the lives of the people related to the forest. Forest management in customary law in Aceh is a manifestation of local wisdom that is still guarded by the community. It has become social capital for the Acehnese people who have been passed to maintain environmental equilibrium. The utilization of social capital in forest management base on customary law has encouraged the village social institutions to make the community prosperous.AbstrakLingkungan alam menjadi sumber utama kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan hidup mendorong manusia untuk beradaptasi dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuannya. Keragaman budaya lokal mengandung norma, etika, dan nilai moral yang mengedepankan kelestarian lingkungan. Nilai-nilai tersebut terintegrasi dan menjadi pedoman dalam berperilaku dan berinteraksi dengan alam. Hutan merupakan bagian dari kesatuan masyarakat adat di Aceh, dan terdapat hukum adat yang mengatur kehidupan masyarakat terkait dengan hutan. Pengelolaan hutan dalam hukum adat di Aceh merupakan perwujudan kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat. Hal tersebut menjadi modal sosial bagi masyarakat Aceh yang telah dilalui untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Pemanfaatan modal sosial dalam pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat telah mendorong kelembagaan sosial desa untuk ikut menyejahterakan masyarakat.
Fenomena Pungli dan Patologi Birokrasi Hasyem, Muhammad; Ferizaldi, Ferizaldi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i2.19521

Abstract

Extortion is an illegal levy or request for payment of an amount of money that is not appropriate or is not based on the prevailing laws. The root of and the widespread phenomenon of extortion in Indonesia is a form of legacy of the past, from the era of feudalism to the present modern era. The various forms, types, patterns, and colors of the extortion phenomenon have been entrenched as if they are normal, legal, lawful, permissible, and customary. The impact is that free extortion is carried out in society because the community views it as something normal, what it is, it has always been so, and even someone becomes alienated if they do not give tips/rewards for receiving a service. Sometimes someone also feels ashamed for not giving tips as a result of offering something or offering bribes or rewards so that it is facilitated, prioritized, privileged and other things to be served quickly. History records that the long phenomenon of corruption is increasingly rampant and increasingly difficult to detect in various cases in different time and space.AbstrakPungli atau pungutan liar adalah permintaan pembayaran sejumlah uang yang tidak sah berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Berakarnya dan merebaknya fenomena pungli di Indonesia adalah salah satu bentuk warisan atau peninggalan masa silam, dari masa feodalisme hingga masa modern sekarang ini. Berbagai bentuk, ragam, corak, dan warna fenomena pungli telah membudaya dimana seakan-akan hal tersebut adalah hal biasa, sah, resmi, halal, legal, diperbolehkan, dan dibiasakan. Dampaknya pungli bebas dilakukan dalam masyarakat dikarenakan masyarakat memandang sebagai sesuatu yang wajar, apa adanya, memang demikian dari dahulu, bahkan seseorang menjadi terasing bila tidak memberikan tip/imbalan setiap menerima suatu pelayanan. Terkadang seseorang juga timbul rasa malu karena tidak memberikan uang tip (uang pelicin, uang rokok, atau uang minum) akibat menyodorkan sesuatu atau menawarkan sogokan atau imbalan agar dipermudah, didahulukan, diistimewakan dan hal-hal lain agar dilayani dengan cepat. Sejarah mencatat bahwa fenomena panjang korupsi semakin merajalela dan semakin sulit terdeteksi di berbagai kasus dalam ruang dan waktu yang berbeda pula.
Gender and Family in Modern Acehnese Society Kiram, Muhammad Zawil
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.16794

Abstract

Since it was declared as one of the crucial issues in the Sustainable Development Goals agenda by the United Nations, gender equality has entered every country including in the Acehnese family. As a province that implements Islamic law and rich in local wisdom, Aceh has its own perspective in responding to the issue of gender equality. Although in the past (in terms of religion and culture) Aceh recognized the existence of the same position between men and women in the family, in its implementation gender equality has not achieved completely. The cultural shift and understanding of Acehnese society towards gender, which is considered as an ideology from the West, has become one of the big walls in the realization of gender equality in the family. The culture of the society that stigmatizes men as weak people if they are involved in domestic affairs also plays a major role. In addition, the most influential thing is the absence of gender-based education both in families and social institutions in Acehnese society, therefore the generation that grows continues to develop with the same understanding as their predecessors which resulted in the discourse of gender equality in modern Aceh society being a mere delusion.
Ulama: Roh Kebudayaan untuk Rekonsiliasi di Aceh Sahlan, Muhammad; Amin, Khairul; Kamil, Ade Ikhsan; Ilham, Iromi
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v13i2.18460

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang posisi Ulama Aceh sebagai roh kebudayaan untuk proses rekonsiliasi pasca konflik Aceh. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan deskriptif, artikel ini menunjukkan bahwa dalam konteks sosio kultural masyarakat aceh, posisi ulama masih menempati strata yang tinggi. Kontribusi dan peran ulama dalam lintas sejarah hingga saat ini telah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dimensi kultural ulama sebagai ruh kebudayaan masyarakat Aceh dapat menjadi solusi dari rekonsiliasi Aceh untuk perdamaian yang berkelanjutan. Hal ini berarti bahwa pelibatan ulama aceh secara praktis dalam kerja rekonsiliasi dapat menjadi salah satu faktor pendukung perdamaian berkelanjutan di Aceh.
Modal Sosial pada Industri Kecil Menengah di Kelurahan Purbalingga Lor Pusparini, Dea Ayu; Nurhadi, Nurhadi; Pranawa, Sigit
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.18167

Abstract

This research aims at explaining and understanding how Small and Medium Enterprises (SMEs) of vehicle exhaust in Purbalingga Lor utilize social capital in improving their companys performance. This research used Qualitative Method and Case-Study Approach. Data of this research was collected through a series of in-depth interviews, observations, and documentation. The intake of informants was done through a snowball sampling technique. Data validated by source and technique triangulation. Data were analyzed by using the Interactive Analysis Model. The result of this research shows that the actors involved in SMEs of vehicle exhaust in Purbalingga Lor consist of raw material suppliers, craftsmen, resellers, consumers, associations, and related government agencies. The actors maintain good relations with each other, build mutual trust and networks, and create regulating norms. The social capital has been able to improve the enterprises performance and support the business development and expansion of vehicle exhaust in PurbalinggaAbstrakTujuan penelitian ini untuk menjelaskan dan mengetahui modal sosial pada Industri Kecil Menengah knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor mampu meningkatkan kelangsungan perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian ini diperoleh melalui wawancara, dokumentasi dan observasi. Pengambilan informan dilakukan dengan teknik snowball sampling. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan model analisis interaktif. Hasil dari peneltian ini dapat diketahui aktor yang terlibat di dalam Industri Kecil Menengah Knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor terdiri dari pemasok bahan baku, pengrajin, reseller, konsumen, pihak asosiasi dan pemerintah dinas terkait. Para aktor saling menjaga hubungan baik satu sama lain, di antara mereka saling menjaga kepercayaan, membangun jaringan dan terdapat norma yang mengatur. Modal sosial mampu meningkatkan kinerja usaha knalpot dan bisa mendukung serta mengembangkan Industri Kecil Menengah Knalpot di Purbalingga.
Pamer Kemewahan: Kajian Teori Konsumsi Thorstein Veblen Bakti, Indra Setia; Anismar, Anismar; Amin, Khairul
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.18109

Abstract

This article aims to discuss Thorstein Veblen's perspective about the behavior of waste or excessive consumption by the leisure class. This article uses the library researchto understanding the perspective of Veblen's theory of consumption. We review Veblen's work, The Theory of the Leisure Class, as the main note complemented by relevant books and journals to support this study. The leisure class in this regard act deliberately to display their wealth. The newly rich group flaunted the luxury of their life with a motive to accommodate their desire for social respect and social status. The leisure class realizes their social actions through conspicuous leisure time consumption and conspicuous consumption of goods characterized by imitative and emulative behavior among the actors involved in it. The conspicuous consumption behavior produces lite taste which in turn has a social impact that affects the class behavior of the lower strata.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mendiskusikan sudut pandang Thorstein Veblen dalam melihat perilaku konsumsi berlebihan yang dilakukan oleh kelas sosial tertentu dalam masyarakat. Studi ini menggunakan metode kajian pustaka dalam memahami perspektif teori konsumsi Veblen. Data dalam artikel ini bersumber dari karya-larya Veblen sendiri, The Theory of the Leisure Class, serta buku-buku dan jurnal-jurnal yang relevan dalam mendukung artikel ini. Perilaku ini rupanya lahir dari sebuah konteks sosial dimana kelompok orang kaya baru mencoba mengakomodasi hasrat mereka akan penghargaan sosial dan status sosial. Hal ini diwujudkan melalui konsumsi waktu luang mencolok dan konsumsi barang mencolok yang ditandai dengan perilaku imitatif dan emulatif diantara aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Perilaku konsumsi mencolok menghasilkan selera elite yang selanjutnya meluas dan berdampak secara sosial dimana mempengaruhi perilaku kelas dari strata yang lebih rendah
Kejahatan Sunyi: Potret Pelecehan Seksual Buruh Perempuan Aslamiah, Rufaidah; Pinem, Milda Longgeita
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 14, No 1 (2020)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jsu.v14i1.17759

Abstract

The number of female workers has begun to show equality between men and women. However, the workforce sector is very prone to gender injustice, one of which is sexual harassment of women workers. A study in 2017 conducted by Perempuan Mahardhika shows that 56.5% of 773 workers had experienced some forms of sexual harassment in the workplace, especially at KBN Cakung. Based on this, questions arise to be able to find out how the portrait of sexual harassment of women workers at KBN Cakung. This study aims to reveal the voices of women workers against silent crime in the workplace. This study uses a feminist standpoints method to acknowledge women's voices. In this study, a purposive technique accompanied by a gatekeeper determined the informants. The results of this study indicate a portrait of sexual harassment experienced by female workers, both verbally, psychologically, as well as physically. There are four forms of harassment found outside the 16 established forms, namely voyeurism, online-based sexual harassment, forced dating with a marriage mode and also intimidation. The existence of reduction carried out by the structure makes silent crime unable to be categorized as the dominant discourse about crime, a new model of crime that cannot be framed by a conventional paradigm.AbstrakSemakin banyaknya keterlibatan perempuan di sektor publik seperti bidang ketenagakerjaan, maka dipercaya hadir pula kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Namun, keyakinan seperti itu ternyata tidak cukup karena pada kenyataannya masih banyak buruh perempuan mengalami sexual harassment. Salah satu kasus pelecehan seksual tersebut dikaji oleh organisasi Perempuan Mahardhika pada tahun 2017 yang menunjukkan bahwa sekitar 56,5% dari 773 buruh perempuan di KBN Cakung pernah mengalami bentuk pelecehan seksual. Berdasarkan data tersebut, muncul pertanyaan terkait potret pelecehan seksual buruh perempuan di KBN Cakung. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap suara para buruh perempuan dalam melawan kejahatan sunyi atau kejahatan yang tidak teridentifikasi di tempat kerja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian feminist standpoint yang berfungsi untuk mengangkat suara buruh perempuan. Teknik penentuan informan adalah purposive, dengan didampingi oleh gate keeper atau mereka yang bisa memberi akses bagi para buruh perempuan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan potret pelecehan seksual yang dialami oleh buruh perempuan baik secara verbal, psikis, maupun fisik. Ditemukan empat bentuk pelecehan di luar 16 bentuk yang sudah diidentifikasi yakni voyeurisme, pelecehan seksual berbasis online, kencan paksa dengan modus dinikahi, dan juga adanya intimidasi. Adanya kecenderungan reduksi defenisi kriminalitas oleh perspektif formal atau konvensional, membuat kejahatan sunyi yang dialami buruh perempuan seringkali tidak dilihat sebagai praktek kriminalitas.

Page 10 of 16 | Total Record : 159