cover
Contact Name
Abdul Rahman Ramadhan
Contact Email
abdulrahmanramadhan95@gmail.com
Phone
+6285162544800
Journal Mail Official
zaujiyyahjurnal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Basuki Rahmat, Perum. Griya Permata Buana B-03 Kec. Kaliwates, Kab. Jember, Jawa Timur 68132
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Published by Syamilah Publishing
ISSN : -     EISSN : 31091547     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam bertujuan menjadi media publikasi dan sumber rujukan ilmiah yang berfokus pada artikel ilmiah berbagai jenis penelitian seperti Penelitian Murni (Original Research), Studi Kasus Klinis (Clinical Case Study), Tinjauan Pustaka (Literature Review), Ulasan Artikel (Articles Review), Resensi Buku (Book Review), maupun Perspektif, Opini, dan Komentar (Perspective, Opinion, and Commentary), tentang isu kontemporer maupun fenomena sosial di masyarakat yang berkaitan dengan hukum keluarga Islam. Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam menerima manuskrip dengan ruang lingkup penelitian yang tidak terbatas pada topik berikut: Pernikahan Perceraian (Gugat, Talak dan Rujuk) Poligami Psikologi Keluarga Manajemen Konflik Keluarga Wasiat dan Waris Perlindungan Perempuan Perjanjian Perkawinan Adopsi, Nasab dan Status Anak Hak Asuh Anak Mahar dalam Perkawinan Sanksi Adat Pernikahan Isu gender dan seksualitas Fikih Munakahat
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 15 Documents
The Role of Teaching Fiqh Munakahat in Realizing Muslim Family Resilience: Peran Pengajaran Fikih Munakahat dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga Muslim Az-Zahra, Salsabila; Yusdi Haq
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2024): Juni
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga adalah unit terdasar dalam masyarakat yang memiliki peran penting dalam pembentukan individu dan kesejahteraan sosial. Dalam konteks Islam, pembentukan keluarga yang harmonis diatur oleh konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah. Artikel ini membahas pentingnya pendidikan Fikih Munakahat dalam membentuk ketahanan keluarga di Pondok Pesantren Imam Bukhari, Karanganyar, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara tidak terstruktur, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Fikih Munakahat di pesantren dilakukan secara sistematis dan berperan signifikan dalam memberikan panduan terkait pernikahan, menyelesaikan konflik, serta menghadapi tantangan ekonomi dan sosial dalam keluarga. Pendidikan ini juga membantu santri dalam memilih pasangan yang sesuai dengan kriteria Islam dan mengatur hak serta kewajiban suami istri. Efektivitas pendidikan ini terlihat dari kemampuan alumni pesantren dalam menerapkan ilmu yang diperoleh untuk menjaga ketahanan keluarganya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Fikih Munakahat berperan penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis dan tangguh sesuai ajaran Islam.
Curative Efforts of Islamic Perspectives in Addressing the Impact of Parental Neglect on Fulfilling Their Obligations: Upaya Kuratif Perspektif Islam dalam Menanggulangi Dampak Pengabaian Orang Tua dalam Pemenuhan Kewajibannya Afifah Meiwin Berlian; Winning Son Ashari
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2024): Juni
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kewajiban orang tua terhadap anak merupakan amanah mulia yang Allah berikan kepada hamba-Nya, namun banyak orang tua yang belum memahami dengan baik kewajibannya dari perspektif fikih sehingga tidak dapat menjalankannya secara maksimal. Akibat dari itu, anak mengalami berbagai dampak negatif, dan sering kali orang tua belum mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi dampak negatif tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan menjelaskan upaya kuratif perspektif Islam dalam menanggulangi dampak pengabaian orang tua dalam pemenuhan kewajibannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban orang tua terhadap anak dalam perspektif fikih adalah: memberi nafkah yang halal serta mendidik dan mengasuh anak dengan pola asuh yang baik. Dampak kelalaian orang tua dalam menjalankan kewajibannya adalah: anak tidak mendapatkan pendidikan yang layak, anak cenderung bersifat egois, menjadi pembangkang, serta sulit bersosialisasi dengan teman sebaya, dan anak akan mencari kasih sayang dari orang lain yang justru dapat membahayakannya. Upaya kuratif perspektif Islam untuk menanggulangi dampak-dampak buruk tersebut adalah: menanamkan nilai tauhid pada anak, mengedukasi orang tua mengenai urgensi pemberian nafkah kepada anak, dan menjadikan orang tua sebagai teladan bagi anak dalam kebaikan.
Legal Certainty Against the Annulment of Ultra Petita Divorce Decisions (Case Study of Decision Number 132/Pdt. G/2019/PN Bpp Jo Decision Number 125/Pdt/2019/PT.SMR): Kepastian Hukum terhadap Pembatalan Putusan Perceraian yang Bersifat Ultra Petita (Studi Kasus Putusan Nomor 132/Pdt. G/2019/PN Bpp Jo Putusan Nomor 125/Pdt/2019/PT.SMR) Andi Nadyafatin Wadianita; Mustakim
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2024): Juni
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Article 24 of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia in conjunction with Article 1 paragraph 1 of Law Number 48 of 2009 concerning Judicial Power regulates the authority of court judges who have the freedom to make decisions to the extent regulated by law. However, civil court judges are prohibited from committing ultra petita which can result in the annulment of the decision at the appeal level as happened in Decision Number 125/Pdt/2019/PT.SMR. The problem in this study is how are the criteria for ultra petita court decisions? How are the decisions and legal considerations of the judges of the East Kalimantan High Court Decision Number 125/Pdt/2019/PT.SMR which annulled the Balikpapan District Court Decision Number 132/Pdt.G/2019/PN.Bpp on divorce considered as ultra petita? This research method is normative juridical using secondary data. The results of the research state that the criteria for ultra petita court decisions are first the judge's decision that exceeds the petitum; Second is that the Court Judge who grants part of the prima facie petitum and part of the subsidiary petitum; Third is that the Court Judge is active. The decision and legal reasoning of the Judge of the East Kalimantan High Court Number 125/Pdt/2019/PT.SMR which annulled the decision of the Balikpapan District Court Number 132/Pdt.G/2019/PN.Bpp on divorce is considered as ultra petita is not appropriate. This is because the Judge of Balikpapan District Court gave a clear and detailed reason in his consideration, namely in the context of orderly administration. Other than that, there is a request for ex aequo et bono from the plaintiff. Another thing is the freedom of judges in deciding cases as mandated by the Constitution.
The Rejection of the Prophetic Message and Its Relevance to the Community's Refusal (Muslims) of Islamic Family Law Reforms: Penolakan Umat terhadap Risalah Kenabian dan Relevansinya dengan Alasan Penolakan Masyarakat (Muslim) terhadap Pembaruan Hukum Keluarga Islam di Indonesia Rahma Pramudya Nawang Sari
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2024): Juni
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena penolakan umat terhadap risalah kenabian dan penolakan masyarakat terhadap pembaruan hukum keluarga Islam memiliki kesamaan dalam alasan yang mendasari penolakannya. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji alasan di balik penolakan tersebut dengan memberikan penjelasan tentang sejarah risalah nabi-nabi terdahulu dan dinamika pembaruan hukum keluarga Islam. Metode yang diterapkan adalah penelitian kepustakaan, yang melibatkan eksposisi data dari berbagai sumber literatur yang relevan dengan tema penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif-analitis, yang melibatkan deskripsi mengenai alasan penolakan umat terhadap risalah kenabian yang terdapat dalam al-Qur'an dan hadis Nabi, diikuti dengan analisis terhadap alasan-alasan tersebut serta penerapannya terhadap penolakan terhadap pembaruan Hukum keluarga Islam di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa baik penolakan terhadap risalah kenabian maupun penolakan terhadap pembaruan hukum keluarga Islam menunjukkan resistensi terhadap adopsi terobosan hukum baru dan lebih efektif. Masyarakat cenderung merasa nyaman dengan stagnasi budaya hukum yang sudah ada sebelumnya, meskipun mungkin tidak lagi relevan, dan oleh karena itu menolak transformasi hukum yang ditawarkan dengan sikap yang tendensius.
Quid Juris and Quid Facti: A Study of Child Protection Post-Divorce: Quid Juris dan Quid Facti: Studi Perlindungan Anak Pasca Perceraian Citra Widyasari S; Mukarramah
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 1 (2024): Juni
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Polemik seputar hak anak pasca perceraian adalah topik yang kompleks dan sering kali menjadi fokus perdebatan dalam konteks hukum keluarga dan perlindungan anak. Beberapa isu yang sering muncul dalam polemik ini antara lain: Hak asuh, Pendidikan, kesehatan, keamanan, keuangan, dan peran orang tua. Artikel ini berupaya mengkaji bagaimana pemenuhan hak-hak anak pasca perceraian dalam perspektif quid juris dan quid facti. Konsep quid juris dan quid facti tetap relevan, terutama dalam menentukan keputusan hukum yang terbaik untuk kesejahteraan anak. Quid Juris: Ini mencakup pertanyaan tentang apa yang seharusnya menjadi keputusan hukum yang paling sesuai dengan kepentingan terbaik anak, sesuai dengan hukum yang berlaku. Quid Facti: Ini mencakup pertanyaan tentang fakta-fakta yang mendasari keputusan hukum, terutama fakta-fakta yang berkaitan dengan kesejahteraan dan kepentingan anak. Ini melibatkan penilaian terhadap faktor-faktor seperti hubungan antara anak dan orang tua, kesehatan dan kebutuhan anak, lingkungan rumah, dan potensi risiko atau bahaya bagi anak. yang ditawarkan oleh salah satu orang tua lebih stabil dan mendukung perkembangan anak.
Reproductive Rights and Childfree Decisions in Islamic Law and Their Social Implications in Muslim Societies: Hak Reproduksi dan Keputusan Childfree dalam Perspektif Hukum Islam dan Implikasinya di Masyarakat Muslim Abdul Rahman Ramadhan
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2024): Desember
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan konsep hak-hak reproduksi dalam hukum Islam, menganalisis pandangan hukum Islam tentang keputusan untuk tidak memiliki anak, dan memeriksa implikasi sosial dari keputusan untuk tidak memiliki anak. Hak-hak reproduksi merupakan bagian penting dari hak asasi manusia yang mencakup hak untuk membuat keputusan yang bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah, jarak, dan waktu memiliki anak. Namun, dalam konteks hukum Islam, keputusan untuk tidak memiliki anak dapat menimbulkan berbagai interpretasi hukum dan sosial yang kompleks. Tren untuk tidak memiliki anak semakin meningkat di banyak negara, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim. Keputusan ini sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ekonomi, kesehatan, dan preferensi pribadi. Namun, dalam masyarakat Muslim, keputusan ini dapat bertentangan dengan norma-norma tradisional yang mendorong pernikahan dan memiliki anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data studi literatur tinjauan pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hak-hak reproduksi diakui dalam hukum Islam, meskipun terdapat variasi penafsiran mengenai batasan dan penerapannya. Keputusan untuk tidak memiliki anak dapat diterima dalam kerangka hukum Islam jika didasarkan pada alasan yang sah dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Namun, persepsi sosial dan stigmatisasi atas keputusan ini masih menjadi tantangan di banyak komunitas Muslim. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting bagi pemahaman tentang hak-hak reproduksi dan keputusan untuk tidak memiliki anak dalam konteks hukum Islam. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mengurangi stigma sosial terhadap individu yang memilih untuk tidak memiliki anak dan mendorong pengembangan kebijakan yang lebih inklusif dan berbasis bukti di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, khususnya Indonesia.
Early Marriage Experience (A Phenomenological Study of Gambiran Jember Society): Pengalaman Nikah Dini (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Gambiran Jember) Rachmat Riyanto; Yahya Abdul Azies; Ahmad Fauzan Azhima; Juvan Pabuka Almadjid; Bagas Alfansyah
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2024): Desember
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An important experience to learn and understand is the experience of getting married. Marriage is an inner and outer bond between a man and a woman as husband and wife with the aim of forming a happy and eternal family (household) based on the belief in the Almighty God. Marriage can be carried out if the marriage conditions are met, among the marriage conditions that must be met is meeting the minimum age limit, namely 19 years for men and women. Marriages that take place under this age are called early-age marriages. Gambiran Village is one of the villages in Kalisat District, Jember Regency, East Java. The aim of this research is to determine the experience of early-age marriage in the Gambiran Jember community, the impact of early-age marriage, as well as positive legal, health and Islamic law perspectives on early-age marriage. This research uses a qualitative approach with a phenomenological type of research. The results of this research show that: (1) There are various experiences experienced by perpetrators of early-age marriage in the Gambiran Jember community, which are divided into experiences before and after marriage. (2) Early-age marriage in Gambiran has positive and negative impacts. (3) From the perspective of positive Indonesian law, marriages between minors must apply for marriage dispensation. According to a health science perspective, women are considered to be physically mature when they are 20 years old, so marriages carried out under this age will cause risks to the health of the mother and baby which can lead to death. According to an Islamic legal perspective, there is no age limit as long as the marriage conditions are met.
Analysis of Marriage Postponement Among STDI Imam Syafi’i Jember Students: Analisis Fenomena Penundaan Pernikahan Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember Nur Adli Zal Farizi; Musthofa; Muhammad Salman Fikri Ramadhan; Gati Rianto; Muhammad Amrullah
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2024): Desember
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The phenomenon of postponing marriage is when individuals or couples choose to postpone their marriage from an age that is considered a common time for marriage. Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember High School is a tertiary institution located in Sumbersari District, Jember Regency, East Java Province. The purpose of this research is to determine the phenomenon of postponing marriage for Imam Syafi'i Jember High School Dirasat Islamiyah (STDI) students, the impact of postponing marriage, as well as the opinions of mazhab ulama regarding postponing marriage. This research uses a qualitative approach with a case study type of research. The results of this research show that: (1) The phenomenon of postponing marriage for STDI Imam Syafi'i Jember students who have reached the common age for marriage is caused by several factors, namely: a) economic factors, b) educational factors, c) cultural factors and values. family values, and d) mental readiness factors. (2) The impact of postponing marriage on STDI Imam Syafi'i Jember students, namely: a) positive impacts, including: it is easier to focus on studying, has more free time, has less freedom and expenses. b) negative impacts, including: difficulty controlling desires, loneliness and confusion, and difficulty managing finances. (3) The opinion of mazhab scholars regarding the law of postponing marriage is divided into two: a) it is makruh and even haram if there is no excuse, and b) it is permissible if there is a syar'i excuse.
The Dynamics of Economic Status Differences in Marriage (A Case Study in Sumbersari, Jember): Dinamika Perbedaan Status Ekonomi dalam Pernikahan (Studi Kasus di Kecamatan Sumbersari Jember) Kemal Luthfi; Ibnu Zaid Al Atsari; Ardi Arman Syahada; Muhammad Farhan Hadi K.
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2024): Desember
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage is a very meaningful moment for every human life in the form of an inner birth relationship between husband and wife. Nikah linguistically is gathering and in terms of sharia is the term of a famous contract consisting of pillars and conditions. In running a marriage, there are many hustles and bustle in it, one of which is the difference in economic status. Differences in economic status are differences in one's position or position in the sector of property income obtained by a person in meeting his living needs. Sumbersari is a sub-district in Jember Regency, East Java Province. The purpose of this study is to determine the phenomenon, the impact of differences in economic status in marriages of the Sumbersari community as well as the opinions of mahzhab and contemporary scholars about the difference in economic status in marriage. This research uses a qualitative approach with case study research types. The results of this study show that: (1) the phenomenon of differences in economic status in marriage is divided into 2 parts; The upper middle class and the lower middle society. (2) Differences in economic status have both positive and negative impacts on marriage. (3) The opinions of madhhab and contemporary scholars are divided into 2 parts; encourage, and allow.
Parental Intervention in the Marital Lives: A Case Study of STDI Imam Syafi’i Jember Students: Intervensi Orang Tua dalam Rumah Tangga: Studi Kasus Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember Muhammad Naufal Rizqi; Anjas Saputra; Muhammad Zakih; Muhammad Teguh Junaidi; Adi Akid Daulima
Al-Zaujiyyah: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2024): Desember
Publisher : Syamilah Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marriage is a very important thing in human life. Nikah in language means to combine. In the Compilation of Islamic Law, it is stated that marriage is a very strong contract or mitssaqan ghalidzan to obey the commands of Allah Subhanahu Wata'ala and carrying it out is an act of worship. One of the things that happens a lot in marriage is parental intervention in children's households. Intervention can be defined as the act of implementing a parenting plan by caring for the child in the family or in a child social welfare institution. Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah (STDI) Imam Syafi'i Jember is one of the universities located in Sumbersari sub-district, Jember district, province. East Java Province. The purpose of this study is to determine the phenomenon of Parental Intervention in the Household of Students of STDI Imam Syafi'i Jember, the impact of intervention, as well as the opinion of classical and contemporary scholars about parental intervention in the household of children. This research uses a qualitative approach with the type of case study research. The results of this study indicate that: (1) The phenomenon of parental intervention is divided into 2 parts; the form of intervention and the reasons why parents intervene. (2) Parental intervention has positive and negative impacts in children's households. (3) The opinions of classical and contemporary scholars are divided into 2 parts; allowed and not allowed if it leads to something bad.

Page 1 of 2 | Total Record : 15