cover
Contact Name
Jurnal Budaya
Contact Email
jurnalbudayaub@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbudayaub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Budaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 27455726     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal Budaya adalah jurnal akses terbuka dengan penilaian sejawat yang diterbitkan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun pada bulan Agustus dan November, dan menerima pengajuan artikel bahasa, sastra, budaya, dan pengajaran bahasa. Artikel-artikel tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Articles 58 Documents
Budaya Sida Masyarakat Manggarai Sebagai Relasi Intersubjektif: Sebuah Telaah Filosofis Perspektif Armada Riyanto Firmanto, Antonius Deni; Anggur, Evander Betran
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fokus dari karya tulis adalah tentang budaya sida yang berasal dari kebudayaan Masyarakat Manggarai di Flores. Budaya ini adalah suatu bentuk kerjasama antara saudara laki-laki dan saudara perempuan yang sudah bersuami, dalam bentuk bantuan materi. Tujuannya adalah untuk meringankan beban saudara yang sedang mengadakan suatu upacara adat. Walaupun terlihat seperti sebuah mekanisme ekonomi, namun didalam budaya ini terdapat multi makna. Salah satu makna dari tradisi ini adalah berkaitan dengan relasionalitas manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah menggali makna dari budaya Sida Masyarakat Manggarai dalam kaitannya dengan Filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Terlebih khusus tentang relasi intersubjektiv. Dengan menggunakan metode kualitatif, yakni studi Pustaka, tulisan ini menggali Budaya Sida Masyarakat Manggarai, dalam kaitannya dengan konsep relasionalitas intersubjektif dari Armada Riyanto. Dari analisis atas sumber yang ada, didapatkan bahwa, budaya sida sangat mencerminkan relasi intersubjektif manusia. Di dalam buudaya Sida setiap orang yang terlibat dalam mekanisme budaya tersebut, tidak pernah dipandang sebagai objek. Semua orang dihargai keberadaanya, kehadirannya diindahkan secara sema dengan semua orang. Meskipun tumbuh dalam budaya yang menganut sistem patrilineal, budaya sida tidak mengesampingkan atau mengobjekan kehadiran perempuan. Dan justru kehadiran meraka sangat dihargai, dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan konsep relasi intersubjektif Armada Riyanto, yang menekankan penolakan terhadap ojektivikasi terhadap orang lain. Relasi intersubjektif Armada Riyanto menekankan pada kesetaraan setiap manusia.
Ketahanan Budaya Lokal Di Tengah Serbuan Budaya Populer Asing Rofi'i, Ahmad Rofi'i; Halid, Ahmad Halid
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas ketahanan budaya lokal Indonesia di tengah derasnya pengaruh budaya populer asing yang semakin masif akibat globalisasi dan kemajuan teknologi digital. Budaya lokal sebagai identitas bangsa kini menghadapi tantangan serius berupa pergeseran nilai, gaya hidup, dan cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda, yang cenderung lebih mengidolakan budaya luar. Namun demikian, budaya populer asing tidak selalu membawa dampak negatif; sebaliknya, dapat menjadi peluang untuk memperkaya kreativitas dan inovasi dalam pengembangan budaya lokal. Penelitian ini menyoroti pentingnya strategi pelestarian dan adaptasi budaya melalui edukasi, digitalisasi, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, serta peran aktif generasi muda dalam menjaga eksistensi budaya daerah. Dengan demikian, ketahanan budaya lokal dapat tetap terjaga tanpa kehilangan nilai-nilai luhur bangsa di tengah arus modernisasi global.
Pelanggaran Pelanggaran Prinsip Kesantunan Leech pada Kolom Komentar TikTok di Akun @aadaehoon: Kajian Pragmatik: Kajian Pragmatik Asfaus Zulaihah, Inna Shabrina Faza; Asfaus Zulaihah
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji pelanggaran prinsip kesantunan Leech yang terjadi pada kolom komentar akun TikTok @aadaehoon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui wujud pelanggaran dan faktor yang melatarbelakangi adanya komentar yang melanggaran prinsip kesantunan di akun @aadaehoon. Dalam kajian ini, peneliti menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan bahan untuk melakukan penelitian ini berasal dari kumpulan komentar pada akun @aadaehoon di bulan Oktober 2025 yang mengandung pelanggaran terhadap prinsip kesantunan berbahasa. Selain itu, studi pustaka yang didapatkan dari jurnal, e-journal, dan e-book yang relevan dengan pelanggaran prinsip kesantunan menurut teori Leech juga menjadi sumber data untuk menyempurnakan sumber data sebelumnya. Hasil penelitian ditemukan adanya pelanggaran maksim kesimpatian, kebijaksanaan, dan penghargaan yang dituliskan oleh warganet pada akun TikTok @aadaehoon.
Nilai-Nilai Sosial Dalam Tradisi Mandi Tiga Malam Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat Irfan, Muhammad Rifai; Tsani, Daffa Rafiqi; Hasdianty, Zafitiya Anisha; Jumiarti; Saputra, Ade
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi Mandi Tiga Malam merupakan salah satu rangkaian adat pernikahan Melayu yang masih ditemukan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Tradisi ini dilaksanakan setelah prosesi pernikahan dan mengandung berbagai nilai sosial, religius, serta spiritual yang mencerminkan identitas budaya masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi Mandi Tiga Malam serta upaya pelestariannya di tengah perubahan sosial akibat modernisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan pelaku adat, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Mandi Tiga Malam mengandung nilai religius, kebersamaan, kekeluargaan, rasa syukur, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan sosial antaranggota masyarakat. Namun, perkembangan zaman menyebabkan pelaksanaannya semakin berkurang. Oleh karena itu, diperlukan upaya pelestarian melalui peran aktif masyarakat dan pemerintah agar tradisi ini tetap lestari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Register Proses Jual Beli Merch Komunitas Penggemar Army Indonesia pada Media Sosial X : Kajian Sosiolinguistik Fairuzi, R.A.; Citra, Tabinda Putri
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi register yang muncul dalam proses jual beli merchandise (merch) komunitas penggemar BTS Army Indonesia media sosial X. Popularitas dari Korean wave telah menciptakan komunitas penggemar idol grup terkenal, BTS, di Indonesia. Hal ini kemudian mengembangkan kode dan register khas dalam interaksi antar penggemar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik penyajian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak, catat, dan tangkapan layar. Data yang dikumpulkan adalah register yang terdapat pada unggahan jual-beli merch Army di sosial media X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk register yang dominan adalah melalui proses abreviasi atau singkatan, seperti WTS, WTB, WTT, WTO, PC, POB, dan WH. Register-register ini memiliki tiga fungsi utama. Fungsi pertama adalah fungsi instrumental yang menyatakan permintaan jual/beli/tukar. Fungsi kedua adalah fungsi regulatori yang mengatur perilaku sosial melalui larangan/peraturan. Misalnya HnR dan Bundle. Fungsi representasional juga ditemukan dan bertujuan untuk menyampaikan fakta atau kondisi barang, seperti good condi. Register-register ini berfungsi sebagai alat komunikasi ringkas yang dipahami secara ekslusif oleh komunitas Army. Register ini kemudian menjadi alat atau kode dalam proses jual beli yang dilakukan dalam lingkup sosial mereka.
INTERAKSI ISLAM DENGAN DENGAN KESENIAN DAN KEBUDAYAAN JAWA Safa, Safa Salsabila Alfiah Putri
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines the interaction between Islam and Javanese culture as a significant phenomenon in the history of Indonesian civilization. Islamization in Java did not occur in a confrontational manner, but rather through a peaceful and adaptive process of acculturation with local culture. This research employed a literature review with a qualitative approach, analyzing various written sources and field interviews. The results indicate that the spread of Islam in Java occurred through trade, marriage, education, and the cultural preaching of the Wali Songo (Nahdlatul Ulama). Arts and culture—such as wayang (wayang), gamelan (gamelan), macapat (traditional Javanese music), and the tradition of selamatan (celebrating ceremonies)—were the primary means of disseminating Islamic values without erasing old traditions. This interaction not only produced religious art forms but also gave birth to a new social and philosophical value system that emphasized balance, tolerance, and harmony between humans, nature, and God. Thus, the integration of Islam and Javanese culture created a distinctive model of Islam in the archipelago that was moderate, polite, and deeply rooted in local wisdom.
Perkawinan Semanda PERKAWINAN SEMANDA SEBAGAI BENTUK SISTEM PERKAWINAN ADAT LAMPUNG DI SUKADANA: Asyfa Putri Tarina Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Metro Lampung, Indonesia Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial e-mail: asyifaputrita@gmail.com Putri Tarina, Asyfa
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A. ABSTRAK: Tradisi perkawinan semanda merupakan salah satu bentuk praktik adat yang mencerminkan kekhasan sistem kekerabatan masyarakat Lampung, khususnya yang berkembang di wilayah Sukadana, Lampung Timur. Tradisi ini bercorak matrilokal, ditandai dengan menetapnya pihak laki-laki di lingkungan keluarga perempuan setelah pernikahan. Pola tersebut sejak lama berfungsi untuk menjaga kesinambungan garis keturunan, mempertahankan struktur kepemilikan keluarga, serta memperkuat relasi kekerabatan. Dalam konteks budaya Lampung, semanda tidak hanya dipahami sebagai mekanisme sosial semata, tetapi juga mengandung dimensi simbolik yang merepresentasikan relasi kekuasaan, pembagian peran gender, serta penghormatan terhadap kedudukan perempuan dalam sistem adat Pepadun. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri latar historis tradisi semanda, menguraikan tahapan-tahapan pelaksanaannya, mengkaji makna simbolik yang menyertainya, serta menganalisis berbagai perubahan yang terjadi sebagai dampak dari modernisasi dan dinamika sosial kontemporer. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan etnografis yang meliputi observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan para pelaku dan tokoh adat, penelitian ini berupaya memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai posisi semanda dalam tatanan budaya masyarakat Lampung. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi semanda tidak sekadar merupakan bentuk perkawinan adat, melainkan juga menjadi representasi nilai-nilai keharmonisan, tanggung jawab antarkeluarga, serta kesinambungan identitas budaya. Namun demikian, keberlangsungan tradisi ini saat ini menghadapi berbagai tantangan. Proses modernisasi, urbanisasi, serta perubahan orientasi generasi muda yang cenderung mengarah pada kemandirian dan pola hidup individualistik telah menyebabkan terjadinya penyempitan ruang praktik sekaligus pergeseran makna semanda. Dalam perspektif kajian budaya dan sastra, kondisi tersebut memperlihatkan adanya proses negosiasi identitas yang terus berlangsung dalam masyarakat adat Lampung. Kata kunci: semanda, perkawinan adat, budaya Lampung, tradisi matrilokal, Sukadana
Praktik Spiritualitas Masyarakat Jawa Di Situs Candi Jawi, Kabupaten Pasuruan Lailiyah, Safinatul
Jurnal Budaya Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan kultural dari ritual spiritual yang dilakukan di Candi Jawi, sebuah situs warisan budaya di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan teori representasi budaya Stuart Hall, simbol dalam ritual dipahami bukan sekadar ornamen visual, melainkan sebagai medium pembawa makna yang dikonstruksi, dinegosiasikan, dan disebarkan dalam komunitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol seperti dupa, bunga, tumpeng, keris, serta tindakan seperti nyuguh, ubul dungo, dan mocopatan berfungsi sebagai perangkat spiritual sekaligus kultural. Simbol-simbol ini mengandung makna penyucian, penghormatan kepada leluhur, penyampaian hajat, serta perwujudan keselarasan antara manusia dan alam. Ritual-ritual ini memiliki keterkaitan erat dengan ajaran Kejawen, namun keduanya tidak bersifat identik. Ajaran Kejawen lebih menekankan pada kearifan lokal, keselarasan hidup, dan spiritualitas sehari-hari, sementara ritual lebih bersifat performatif dan mistikal. Dalam konteks ini, konsep hibriditas budaya dari Homi Bhabha memperlihatkan bagaimana praktik spiritual di Candi Jawi merupakan hasil percampuran antara nilai lokal dan agama formal seperti Islam, Hindu, dan Buddha. Praktik tersebut sekaligus menjadi ruang ekspresi identitas budaya masyarakat Jawa dalam menghadapi perubahan zaman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritual di Candi Jawi bukan hanya praktik tradisi, tetapi juga arena negosiasi makna dan identitas kultural yang terus hidup dan relevan dalam realitas masyarakat kontemporer. Keywords: Candi Jawi, Kejawen, spiritualitas Jawa