cover
Contact Name
Jurnal Budaya
Contact Email
jurnalbudayaub@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbudayaub@gmail.com
Editorial Address
Jalan Veteran Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Budaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : 27455726     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal Budaya adalah jurnal akses terbuka dengan penilaian sejawat yang diterbitkan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun pada bulan Agustus dan November, dan menerima pengajuan artikel bahasa, sastra, budaya, dan pengajaran bahasa. Artikel-artikel tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
Articles 51 Documents
NILAI DAN FUNGSI BATIK CENDRAWASIH PAPUA: The Value and Function of Papuan Cenderawasih Batik Harmadhan, Riyan
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batik Cendrawasih Papua merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang kaya akan nilai estetika, budaya, dan ekonomi. Batik ini dikenal dengan motif khas burung Cendrawasih yang tidak hanya memperindah kain tetapi juga menyampaikan cerita dan filosofi kehidupan masyarakat Papua. Dalam beberapa tahun terakhir, Batik Cendrawasih Papua telah mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat luas, baik di dalam negeri maupun internasional. Namun, popularitas ini diiringi dengan tantangan pelestarian, pengembangan pasar, dan pemberdayaan ekonomi pengrajin lokal. Artikel ini mengeksplorasi nilai dan fungsi Batik Cendrawasih Papua serta peluang dan tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestariannya. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap warisan budaya ini serta mendorong upaya pelestariannya.
Objectification of Women in Waifu Depictions: An Analysis from the Male Gaze Perspective Saraswati, Lidya; Paramita, Ni Made Savitri; Ambarastuti, Retno Dewi
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Popular culture is a form of culture that various groups can easily enjoy. The spread of a culture from one region to another is also influenced by globalization. One example of this is the introduction of Japanese culture into Indonesia, which has familiarized Indonesian society with Japanese popular culture, such as anime. Anime enthusiasts, known as otaku, often develop an interest in fictional female characters in anime, commonly referred to as waifu. This study employs Laura Mulvey's theory of the male gaze, Martha Nussbaum's theory of objectification, and Jean Baudrillard's concept of hyperreality. The research utilizes qualitative methods, including distributing questionnaires to all members of the Otaku Sidoarjo community and conducting interviews with five members who are interested in anime, to examine the depiction and attraction that anime otaku have towards fictional female characters in anime. The findings indicate that the objectification of women occurs in the depiction of waifu according to anime otaku, relating to the male gaze perspective and hyperreality. This is evidenced by respondents having specific criteria for viewing the fictional female characters they favor. This phenomenon is also connected to hyperreality, as respondents are caught in a false reality created by their attraction to fictional female characters designated as waifu.
The Max Scheler's Hierarchy of Values in the Gandrung Sewu Festival of Banyuwangi: Hierarki Nilai Max Scheler dalam Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi Sudarman, Mei Ariani; Maharani, Septiana Dwiputri
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Festival Gandrung Sewu merupakan salah satu kegiatan tahunan yang dilaksanakan di Banyuwangi. Tari Gandrung yang ada pada festival ini bertujuan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Banyuwangi atas hasil panen melimpah yang mereka peroleh dari Dewi Sri atau Dewi pembawa rejeki. Seiring perkembangan jaman, nilai yang terkandung dalam kegiatan festival ini bukan hanya sekedar sebagai peringatan atas rasa syukur saja dan bukan lagi persoalan spiritualitas saja, melainkan terdapat nilai-nilai filosofis lain yang masih dijaga oleh para pelaku budaya di Banyuwangi. Lantas, bagaimana hierarki nilai yang terdapat pada festival ini? Penelitian ini disusun untuk mengetahui bagaimana hierarki nilai yang ada pada kegiatan tahunan di Banyuwangi tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis, yang mana penulis mengumpulkan data akademik, kemudian kumpulan data ini di analisis menggunakan teori hierarki nilai Max Scheler. Hasil dari penelitian ini adalah festival Gandrung Sewu di Banyuwangi merupakan kegiatan yang menekankan pengalaman spiritual sebagai wujud rasa syukur. Menurut perspektif Max Scheler, festival Gandrung Sewu ini memiliki makna simbol dalam setiap kegiatannya dan mengandung empat hierarki nilai: nilai kenikmatan, nilai vitalitas, nilai spiritual, dan nilai kesucian.
Analisis Tingkat Kepercayaan Mahasiswa Terhadap Perhitungan Weton Jawa Agustina, Siti Rodliyah Eka; Alvina Rahmayanti; Dewi Ayu Istiqomah; Iin Nur Zulaili
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap perhitungan weton Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian ini berjumlah 100 orang yang merupakan mahasiswa di Kota Surabaya. Teknik pengumpulan data menggunakan google formulir yang disebarkan secara online. Sedangkan teknik analisis data yaitu statistik deskriptif. Berdasarkan hasil perhitungan data dari 100 responden, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepercayaan mahasiswa di Kota Surabaya terhadap perhitungan weton Jawa tergolong tinggi. Indikator integritas mendapatkan rata-rata 3,56 dengan kategori tinggi, indikator kompetensi mendapatkan rata-rata 2,96 dengan kategori netral. Indikator konsistensi mendapatkan rata-rata 3,11 dengan kategori netral. Indikator loyalitas mendapatkan rata-rata 3,57 dengan kategori tinggi. Indikator keterbukaan mendapatkan rata-rata 3,77 dengan kategori tinggi.
Membangun Relasi Ketuhanan Berbasis Tradisi Wiwitan Panen Padi: Studi Etnografi Di Desa Kedungasri Lamongan : Membangun Relasi Ketuhanan Berbasis Tradisi Wiwitan Panen Padi: Studi Etnografi Di Desa Kedungasri Lamongan Pramudisastra, Abelia; Halim, Abdul
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the wiwitan rice harvest tradition in Kedungasri Village, Lamongan, as a form of divine relationship manifested through agrarian cultural practices. The wiwitan tradition is not merely a ritual to welcome the harvest, but also serves as a spiritual medium through which the community expresses gratitude, prayers, and hopes to God for the bounty of the earth. The research employs a qualitative method with an ethnographic approach, involving field observations, interviews, and documentation. The findings reveal that the wiwitan tradition represents harmony between humans, nature, and God, and contains religious, social, and cultural values that are still preserved today, along with rich meanings and symbols. Thus, wiwitan functions not only as a local cultural heritage, but also as a medium to strengthen the village community’s spiritual awareness in building a divine relationship. Keywords: Wiwitan, Divine Relations, Meaning and Symbols, Local Traditions, Ethnography
Implikasi Metafisika Intersubjektif Armada Riyanto dalam Tradisi Belis Budaya Manggarai Dial, Martina
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the relationship between Armada Riyanto's intersubjective metaphysics and the belis tradition in Manggarai culture. The belis tradition, which has been understood as a social and economic practice in marriage customs, is reexamined philosophically as a relational event that reveals the essence of human existence as beings who “are-with” (being-with). Using a qualitative-philosophical approach through literature study and hermeneutic analysis, this study interprets the symbolic, social, and existential meanings of belis within the framework of Riyanto's intersubjective metaphysics. Riyanto's thinking, which is based on a synthesis of phenomenology (Husserl, Heidegger), the ethics of alterity (Levinas), and personalist dialogue (Buber), asserts that intersubjective relations are not merely a social aspect, but the ontological basis of human existence. The results of the study show that the practice of belis in Manggarai society reflects the principles of relationality, recognition, and responsibility between subjects. The symbolic gift-giving between the male and female families not only strengthens social relationships but also affirms the dignity and existence of both parties. This tradition reflects metaphysical praxis in which humans affirm each other through love and solidarity. Furthermore, the ecological and spiritual dimensions of belis reveal the interconnectedness of humans with nature and the Transcendent, as emphasized in Riyanto's concept of cosmic relations.
PANDALUNGAN SEBAGAI TITIK TEMU: INTERAKSI EKONOMI DAN DAKWAH ISLAM DALAM SEJARAH LOKAL rosidah, 21_mahfufatur; Halid, Ahmad
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study aims to examine the role of the Pandalungan region as a center of interaction between economic activities and the spread of Islamic da’wah from a local historical perspective. Using a qualitative approach through historical study, the research draws on sources from literature, interviews with community leaders, and observations of historical sites. The findings reveal that trade routes served as effective channels in the process of Islamization, where Muslim traders acted as da’wah agents through ethical business practices and social interactions. Da’wah within this community occurred in a cultural, adaptive, and non-confrontational manner. The Pandalungan people integrated Islam into their local traditions, resulting in a distinctive and contextual expression of Islam. This study highlights the importance of culturally and economically based da’wah strategies in the success of past Islamization efforts, which remain relevant in the present context. Keywords: Pandalungan, Islamic Da’wah, Trade Routes Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran wilayah Pandalungan sebagai pusat interaksi antara kegiatan ekonomi dan penyebaran dakwah Islam dalam perspektif sejarah lokal. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi historis, penelitian ini memanfaatkan sumber dari literatur, wawancara dengan tokoh masyarakat, serta observasi terhadap situs bersejarah. Temuan penelitian mengungkap bahwa jalur perdagangan berfungsi sebagai sarana efektif dalam proses Islamisasi, di mana para pedagang Muslim berperan sebagai penyebar dakwah melalui prinsip bisnis yang etis serta interaksi sosial. Dakwah dalam komunitas ini berlangsung secara budaya, adaptif, dan tanpa konfrontasi. Masyarakat Pandalungan mengintegrasikan Islam ke dalam tradisi lokal mereka, menghasilkan bentuk keislaman yang khas dan kontekstual. Studi ini menekankan pentingnya strategi dakwah berbasis budaya dan ekonomi dalam keberhasilan Islamisasi masa lampau, yang tetap relevan dalam situasi saat ini. Kata Kunci: : Pandalungan, Dakwah Islam, Jalur Perdagangan
Penguatan Karakter dan Nilai Budaya melalui Pendidikan Dasar di Nusantara: Kajian Literatur Maftukhah, Mailatul
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter dan pelestarian nilai?kebudayaan Nusantara menjadi dua aspek esensial dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia. Artikel ini mengkaji secara sistematis literatur terkini yang membahas integrasi nilai budaya dan penguatan karakter pada peserta didik sekolah dasar, dengan fokus pada bagaimana nilai kebudayaan lokal dan nasional dimanfaatkan dalam pembelajaran untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berbudaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat beberapa pendekatan utama: integrasi kearifan lokal dalam kurikulum, kultivasi budaya sekolah yang mendukung karakter, serta pembiasaan nilai melalui cerita rakyat, tembang, dan kegiatan budaya. Meski demikian, terdapat tantangan seperti kurangnya pemahaman guru terhadap konteks budaya, keterbatasan sumber daya, dan implementasi yang belum merata. Artikel ini merekomendasikan strategi pengembangan pembelajaran berbasis budaya dan karakter pada sekolah dasar, serta perlunya kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Ketahanan Budaya Lokal Di Tengah Serbuan Budaya Populer Asing: Budaya Lokal dan Budaya Populer Asing Rofi'i, Ahmad Rofi'i; Halid, Ahmad Halid
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas ketahanan budaya lokal Indonesia di tengah derasnya pengaruh budaya populer asing yang semakin masif akibat globalisasi dan kemajuan teknologi digital. Budaya lokal sebagai identitas bangsa kini menghadapi tantangan serius berupa pergeseran nilai, gaya hidup, dan cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda, yang cenderung lebih mengidolakan budaya luar. Namun demikian, budaya populer asing tidak selalu membawa dampak negatif; sebaliknya, dapat menjadi peluang untuk memperkaya kreativitas dan inovasi dalam pengembangan budaya lokal. Penelitian ini menyoroti pentingnya strategi pelestarian dan adaptasi budaya melalui edukasi, digitalisasi, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, serta peran aktif generasi muda dalam menjaga eksistensi budaya daerah. Dengan demikian, ketahanan budaya lokal dapat tetap terjaga tanpa kehilangan nilai-nilai luhur bangsa di tengah arus modernisasi global.
MAKNA TRADISI SEDEKAH BUMI DAN LAUT PADA RITUAL RUAT LAUT CARITA, PANDEGLANG, BANTEN Rian, Hilda
Jurnal Budaya Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Budaya
Publisher : Department of Language and Literature, Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to uncover the philosophical meaning and socio-cultural values ??inherent in the Earth and Sea Alms (Ruwat Laut) tradition at Carita Beach, Pandeglang, Banten, while also examining how this tradition adapts to modernization and tourism development. Ruwat Laut is an annual ceremony for fishing communities, serving as a means of expressing gratitude for the abundance of marine resources and praying for safety. A qualitative approach with a descriptive ethnographic design and a single case study was used in this study. Data were collected through participant observation during the ritual during the month of Muharram, in-depth interviews with traditional leaders, fishing elders, and tourism practitioners, and field documentation. The research findings show that Ruwat Laut Carita is a harmonious form of cultural syncretism, combining Islamic teachings with local traditions. Its philosophical meaning includes respect for the sea as a source of livelihood, strengthening social solidarity through the practice of mutual cooperation, and instilling environmental conservation values. However, this tradition is currently at a point of tension between its sacred function maintained by fishermen and traditional leaders, and the orientation of tourism that tends towards commercialization. Despite this, Ruwat Laut continues to demonstrate its ability to adapt and thrive as a tourist attraction that supports the local economy without abandoning its core traditional values. This study recommends the need for policies that balance the conservation of sacred values ??with the development of sustainable cultural tourism.