cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025" : 7 Documents clear
LAPORAN KASUS: RAMSAY HUNT SYNDROME Septian, Ivan; Handoko, Edi; Wahyudiono, Ahmad Dian
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Ramsay Hunt merupakan komplikasi reaktivasi virus Varicella Zoster pada ganglion genikulatum yang ditandai dengan kelumpuhan saraf fasialis perifer, nyeri telinga, dan ruam vesikular. Diagnosis dini dan tata laksana cepat penting untuk mencegah komplikasi permanen. Tujuan: Melaporkan satu kasus Ramsay Hunt Syndrome yang mendapat penatalaksanaan medikamentosa setelah >72 jam serta perjalanan klinisnya. Laporan Kasus: Seorang pasien laki-laki 29 tahun datang dengan keluhan kelemahan otot wajah sisi kiri, nyeri telinga, disertai tinnitus dan vertigo. Pasien mendapat terapi antivirus dan kortikosteroid namun keterlambatan penanganan menyebabkan perbaikan saraf fasialis tidak optimal. Kesimpulan: Penegakan diagnosis dan pemberian terapi kombinasi antivirus dan kortikosteroid dalam <72 jam sangat krusial untuk memperbaiki prognosis pasien Ramsay Hunt Syndrome.
HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN OTITIS MEDIA EFUSI Ghutama, Bio Swadi; Maharani, Iriana; Wirattami, Ayunita Tri
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Rinitis alergi (RA) adalah masalah kesehatan global yang memengaruhi 10-25% populasi dunia, menyebabkan morbiditas signifikan. Gejala umum meliputi bersin, hidung tersumbat, dan rinorea. RA sering dikaitkan dengan otitis media efusi (OME), kondisi cairan di telinga tengah tanpa infeksi akut, yang merupakan penyebab umum gangguan pendengaran pada anak. Deteksi dini gangguan telinga tengah terkait RA penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang. Tujuan: Makalah ini bertujuan memahami hubungan kausal antara rinitis alergi dan otitis media efusi, serta meninjau strategi penatalaksanaan kedua kondisi tersebut. Diskusi: RA adalah penyakit inflamasi yang dimediasi IgE, dengan prevalensi meningkat secara global. Patofisiologinya melibatkan reaksi alergi fase cepat dan lambat. Penatalaksanaan RA meliputi penghindaran alergen, farmakoterapi (antihistamin, kortikosteroid intranasal), dan imunoterapi. OME bersifat multifaktorial, dengan faktor risiko seperti disfungsi tuba Eustachius, rinitis kronis, dan alergi. Reaksi alergi dapat memicu OME melalui edema tuba Eustachius dan peningkatan sekresi mukosa telinga tengah. Penanganan RA yang efektif krusial untuk mencegah OME. Kesimpulan: RA dan OME adalah kondisi umum dengan hubungan kompleks. Pemahaman lebih lanjut tentang hubungan kausal dan strategi pengobatan optimal sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien, terutama pada populasi anak.
OTITIS EKSTERNA MALIGNA: TINJAUAN KASUS DAN TATALAKSANA Afianti, Rizky; Handoko, Edi; Putri, Meyrna Heryaning; Handoko, Rizki Ekaputra
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Otitis eksterna maligna (OEM) adalah infeksi progresif pada saluran pendengaran eksternal dan dasar tengkorak yang sering disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa. Kondisi ini umumnya menyerang penderita diabetes melitus, lansia, dan individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Meskipun jarang, OEM merupakan kondisi fatal yang memerlukan diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat untuk mencegah komplikasi serius, termasuk parese nervus fasialis. Referat ini membahas definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penegakan diagnosis, dan tatalaksana OEM, serta melaporkan satu kasus Otitis Eksterna Maligna. Penegakan diagnosis melibatkan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium (LED, CRP), mikrobiologi (kultur), dan pencitraan radiografi (CT-scan, MRI, PET-CT). Tatalaksana meliputi medikamentosa (antibiotik, antijamur), pembedahan (debridemen, mastoidektomi), dan terapi komplementer (oksigen hiperbarik). Pemahaman komprehensif tentang OEM sangat penting bagi ahli THT-BKL untuk memberikan penanganan yang akurat dan efektif.
PERBANDINGAN TONSILEKTOMI COBLATION DENGAN DISEKSI DINGIN DAN PANAS: SYSTEMATIC REVIEW DARI STUDI COHORT Ramadhani, Rakhmat; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tonsilektomi dapat dilakukan dengan berbagai teknik, termasuk diseksi dingin, diseksi panas, dan coblation. Perbedaan luaran dan efek samping antar metode masih menjadi perdebatan. Tujuan: Membandingkan luaran primer (perdarahan intraoperatif, reactionary hemorrhage, secondary hemorrhage, nyeri pasca operasi) dan luaran sekunder (durasi operasi, waktu pemulihan) antara teknik tonsilektomi coblation dengan diseksi dingin dan panas. Metode: Systematic review studi kohort yang mencari literatur pada PubMed, Cochrane, Science Direct, dan Google Scholar dengan kata kunci terkait tonsilektomi coblation, diseksi dingin, dan diseksi panas. Inklusi: studi kohort prospektif tahun 2016–2025, populasi anak dan dewasa, membandingkan coblation dengan diseksi dingin/panas. Hasil: Dari 1064 publikasi, 13 studi masuk analisis. Coblation umumnya menunjukkan perdarahan dan nyeri pasca operasi lebih sedikit, durasi operasi lebih singkat, serta waktu pemulihan lebih cepat dibandingkan diseksi dingin/panas. Kesimpulan: Coblation memiliki keunggulan dibandingkan diseksi dingin dan panas dalam hal perdarahan, nyeri pasca operasi, dan efisiensi operasi, dengan waktu pemulihan yang sebanding.
USG-GUIDED DRAINAGE VS SURGICAL DRAINAGE PADA ABSES LEHER DALAM: SYSTEMATIC REVIEW TENTANG LAMA RAWAT INAP Djatioetomo, Yudha Adi Pradana; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Abses leher dalam (ALD) merupakan infeksi piogenik pada ruang potensial leher yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti obstruksi jalan napas, mediastinitis, dan sepsis. Tata laksana utama ALD adalah evakuasi pus melalui drainase, baik secara pembedahan (surgical drainage) maupun minimal invasif dengan panduan ultrasonografi (USG-guided drainage). Tujuan: Mengevaluasi efektivitas USG-guided drainage dibandingkan surgical drainage dalam memperpendek lama rawat inap pasien dengan ALD. Metode: Systematic review ini mengikuti pedoman PRISMA-P, melibatkan pencarian literatur pada Google Scholar (Februari–Maret 2025) menggunakan kata kunci “Deep neck abscess”, “Ultrasound-guided drainage”, dan “Surgical drainage”. Inklusi: studi RCT, kohort, atau kasus-kontrol yang membandingkan kedua metode dengan luaran lama rawat inap. Eksklusi: laporan kasus, tinjauan naratif, editorial, dan populasi khusus dengan komorbid berat. Hasil: Enam studi memenuhi kriteria. Rata-rata lama rawat inap pasien USG-guided drainage berkisar 3–8 hari, sedangkan surgical drainage 5–10 hari. Beberapa studi menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p<0,05) mendukung keunggulan USG-guided drainage, namun terdapat studi yang hasilnya tidak signifikan. Kesimpulan: USG-guided drainage menawarkan lama rawat inap yang lebih singkat, hasil kosmetik yang lebih baik, dan risiko komplikasi yang minimal pada kasus ALD terlokalisir. Surgical drainage lebih sesuai untuk abses besar, multilokus, atau dengan komplikasi. Penelitian lebih lanjut dengan sampel besar diperlukan untuk memperkuat rekomendasi klinis.
Komplikasi Pneumotoraks pada Prosedur Trakeostomi Nilamsari, Dwi Ayu; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Trakeostomi adalah prosedur bedah untuk membuka jalan napas melalui dinding anterior trakea. Prosedur ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik akut seperti perdarahan dan pneumotoraks, maupun kronis seperti infeksi luka dan fistula. Pneumotoraks merupakan komplikasi serius yang dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat. Abstrak pada bagian ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan harus terstruktur. Tujuan: untuk melaporkan dan mendiskusikan kasus komplikasi pneumotoraks pasca trakeostomi, sebagai upaya pencegahan morbiditas dan mortalitas akibat prosedur ini.  Laporan kasus: Diketahui seorang pria 51 tahun dengan obstruksi jalan napas menjalani trakeostomi emergensi. Pasca prosedur muncul gejala emfisema subkutan dan pneumotoraks bilateral. Dilakukan pemasangan selang dada dengan hasil perbaikan dalam tiga hari. Telaah pustaka dilakukan pada Januari–Februari 2023 menggunakan kata kunci "Trakeostomi" DAN "Komplikasi Trakeostomi" DAN "Pneumotoraks". " melalui basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar. Dipilih 11 literatur yang relevan dari 10 tahun terakhir. Hasil: Pneumotoraks sebagai komplikasi trakeostomi emergensi memiliki insiden lebih tinggi dibandingkan trakeostomi elektif. Keadaan darurat dan kondisi pasien yang cemas meningkatkan risiko komplikasi. Penanganan meliputi deteksi dini melalui pemeriksaan radiologi dan penanganan dengan selang dada. Kesimpulan: Pneumotoraks merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi pasca trakeostomi, terutama pada prosedur emergensi. Deteksi dini dan penanganan cepat sangat penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas lebih lanjut. Pemahaman terhadap risiko ini penting dalam merencanakan dan melakukan trakeostomi dengan aman.
MUKOPIOKEL SINUS PARANASAL Fatimatuzzahra, Fitri; Maharani, Iriana
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 4 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Mukokel merupakan lesi pseudocystic, ekspansif yang tumbuh lambat. Mukokel  berisi kista dengan epitel pseudokolumnar. Gejala umum mukokel meliputi obstruksi hidung, gangguan pada pergerakan bola mata, proptosis, gangguan visus, diplopia dan nyeri kepala. Tujuan: Laporan ini menyajikan satu kasus mukopiokel sinus paranasal dengan perluasan orbita. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada Desember 2023-Februari 2024 dengan kata kunci "Mucocele in Paranasal Sinus"DAN"Mucopyocele" DAN "FESS". Dalam database Pubmed Medline, Science Direct dan Google Scholar, diperoleh 15 literatur yang kemudian disaring dalam bentuk publikasi dari 10 tahun terakhir, relevansi dengan topik, serta naskah lengkap yang tersedia. Hasil: Kasus ini merupakan kasus mukopiokel sinus paranasal perluasan orbita. Tatalaksana dengan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional. Didapatkan kantong berisi nanah yang mendesak sinus etmoid anterior dan posterior, dilakukan marsupialisasi parsial. Setelah operasi, tidak ditemukan adanya keluhan hidung dan mata pada pasien. Kesimpulan: Mukokel merupakan lesi non neoplasma yang tumbuh berisi kista dengan epitel kolumnar dan bersifat jinak. Tatalaksana mukopiokel pada kasus ini dilakukan dengan pendekatan bedah sinus endoskopik fungsional dengan keuntungan minimal invasive, perdarahan minimal, tidak ada bekas luka dan penyembuhan lebih cepat.

Page 1 of 1 | Total Record : 7