cover
Contact Name
Sastrawan
Contact Email
lppm.uniqhba@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lppm.uniqhba@gmail.com
Editorial Address
Jln. H. Badaruddin – Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Indonesia 83562
Location
Kab. lombok tengah,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda
ISSN : 23549777     EISSN : 26148420     DOI : https://doi.org/10.37824/jkqh
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health, including health administration, public health, nursing, obstetrics, pharmacy, medicine, and other related field. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such as researchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter.
Articles 206 Documents
Perspektif Pengobatan Tradisional Islam dan Kedokteran Modern terhadap Terapi Bekam : Literatur Review Ericko Purwo Wibowo
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1207

Abstract

Bekam atau hijamah merupakan salah satu metode pengobatan tradisional yang telah dikenal sejak ribuan tahun silam dan direkomendasikan oleh Rasulullah SAW sebagai bagian dari pengobatan dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif pengobatan bekam berdasarkan sejarah, praktik tradisional Islam, dan relevansinya dalam kedokteran modern. penelitiaan ini memakai metode tinjauan pustaka dengan mengkaji tujuh artikel ilmiah yang diperoleh melalui Google Scholar dan PubMed, sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa bekam memiliki manfaat fisiologis, antara lain membantu proses detoksifikasi, meningkatkan sirkulasi darah, menstimulasi sistem imun, serta memberikan efek analgesik. Secara historis, bekam telah dipraktikkan oleh bangsa Mesir Kuno, Cina, dan Arab, serta mengalami perkembangan pesat di masa kejayaan Islam. Secara medis, bekam terbukti memberikan efek terapeutik terhadap berbagai kondisi seperti nyeri, hipertensi, kolesterol tinggi, hiperurisemia (asam urat), dan hiperglikemia (diabetes). Meskipun efektivitasnya telah diakui dalam sejumlah studi, terapi bekam tetap perlu dilakukan dengan hati-hati dan sesuai prosedur medis untuk menjamin keamanannya. Penelitian ini memperlihatkan bahwa bekam dapat menjadi terapi komplementer yang bermanfaat jika diterapkan secara tepat dan berbasis bukti ilmiah.
Efektivitas Ekstrak Daun Seledri (Apium graveolens L.) sebagai Alternatif Antikoagulan Alami terhadap Parameter Hitung Jumlah Leukosit Yessy Monica Ambar Yani; Ragil Saptaningtyas; Gela Setya Ayu Putri
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1212

Abstract

Penggunaan EDTA sebagai antikoagulan standar di laboratorium memiliki beberapa keterbatasan, sehingga diperlukan alternatif bahan alami yang lebih aman dan ekonomis, salah satunya adalah ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) yang mengandung flavonoid sebagai agen pengelat kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimal ekstrak daun seledri sebagai antikoagulan alternatif berdasarkan nilai pH dan akurasi jumlah leukosit. Jenis penelitian ini adalah eksperimen laboratorium dengan rancangan post-test only control group design. Sampel darah vena dibagi menjadi empat kelompok perlakuan: kontrol (EDTA 10%) serta ekstrak seledri konsentrasi 40% (P1), 50% (P2), dan 60% (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak berbanding lurus dengan kenaikan nilai pH, di mana konsentrasi 60% (P3) menghasilkan pH netral (7,0) yang paling mendekati pH fisiologis darah. Rerata jumlah leukosit pada P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 7.267 sel/mm³, 7.683 sel/mm³, dan 8.200 sel/mm³, dibandingkan kontrol sebesar 8.400 sel/mm³. Hasil uji Post Hoc LSD menunjukkan variasi konsentrasi berpengaruh nyata terhadap jumlah leukosit (p < 0,05), dengan hasil pada konsentrasi 60% (P3) tidak berbeda signifikan dibandingkan kontrol EDTA (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah ekstrak daun seledri konsentrasi 60% merupakan konsentrasi paling optimal yang memiliki efektivitas setara dengan EDTA dalam mempertahankan jumlah leukosit.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Susilia Idyawati; Baiq Ricca Afrida; Sri Hawari Jannati; Nina Zalfa Khairunnisa; Raudatul Jannah; Ni Putu Aryani
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1213

Abstract

Anemia pada masa kehamilan dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan ibu maupun janin. Pemerintah Indonesia telah melaksanakan program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) sebagai upaya menurunkan angka anemia pada ibu hamil, namun keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh kepatuhan ibu dalam mengonsumsi TTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross sectional dan dilaksanakan di Puskesmas Jembatan Kembar pada bulan Juli 2025. Jumlah sampel sebanyak 57 responden yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil univariat didapatkan kepatuhan ibu dalam mengkonsumsi tablet tambah darah sebesa 375, pendidikan tinggi 88%, tidak bekerja 84%, tidak anemia 68% dan dukungan baik 68%. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status anemia dengan kepatuhan konsumsi TTD (p-value = 0,000). Dukungan keluarga juga memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan konsumsi TTD (p-value = 0,710). Sementara itu, pendidikan (p-value = 0,700) dan pekerjaan (p-value = 0,161) tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan konsumsi TTD.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa status anemia berhubungan dengan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil sedangkan status pendikan, pekerjaan dan dukungan keluarga tidak memiliki hubungan yang signifikan.
Literasi Kesehatan Reproduksi sebagai Determinan Kesiapan Menarche pada Siswi Sekolah Dasar Suburban Nanda Berliana Tania Fidzikri; Imam Syahputra Yamin; Julham Effendi; Firda Ro’in; Viska Nurul Hidayah
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1218

Abstract

Menarche merupakan tahapan penting dalam perkembangan biologis remaja putri yang sering menimbulkan kecemasan jika tidak diimbangi dengan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan mengenai menstruasi dengan kesiapan menghadapi Menarche pada siswi kelas 4, 5, dan 6 di SDN Mandalawangi, Kabupaten Bandung. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 41 siswi yang direkrut menggunakan teknik total sampling. Instrumen berupa kuesioner pengetahuan dan kesiapan yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki tingkat pengetahuan kurang (58,5%), dan mayoritas teridentifikasi tidak siap menghadapi Menarche (78,0%). Uji statistik Chi-Square diperoleh nilai p-value = 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kesiapan menghadapi Menarche. Minimnya informasi reproduksi berdampak langsung pada ketidaksiapan siswi saat pubertas. Edukasi kesehatan reproduksi sangat krusial diintegrasikan sejak dini di sekolah dasar.
Efektivitas Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Motivasi Ibu Muda terhadap Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi Usia 0–12 Bulan di Klinik Pratama Yulie Tondano Kartini Estelina Tungka; Jolie Febri Ponamon; Maulin Halimatunnisa&#039;; Jetty Mongdong
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1222

Abstract

Imunisasi dasar merupakan salah satu intervensi kesehatan yang berperan dalam melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi yang berpotensi menimbulkan kesakitan, kecacatan, hingga kematian. Keberhasilan program imunisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan kesehatan, tetapi juga oleh motivasi ibu dalam memastikan bayi memperoleh imunisasi sesuai jadwal. Kondisi ini menjadi lebih penting pada ibu muda yang tinggal di daerah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh edukasi kesehatan terhadap motivasi ibu muda dalam memberikan imunisasi dasar kepada bayi usia 0–12 bulan di klinik pratama Yulie Tondano. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan pra-eksperimental melalui pendekatan one-group pretest-posttest. Sebanyak 33 ibu muda yang memiliki bayi usia 0–12 bulan dipilih sebagai responden menggunakan teknik simple random sampling. Intervensi yang diberikan berupa edukasi kesehatan dengan media leaflet. Tingkat motivasi ibu diukur menggunakan kuesioner yang telah dinyatakan valid dan reliabel. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi ibu setelah memperoleh edukasi kesehatan. Analisis statistik menghasilkan nilai Z = -5,224 dan p-value = 0,000 (p<0,05), yang mengindikasikan adanya pengaruh yang bermakna antara edukasi kesehatan dan motivasi ibu muda dalam pemberian imunisasi dasar pada bayi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi promotif untuk meningkatkan motivasi ibu dalam memenuhi kebutuhan imunisasi dasar bayi.
Praktik Pemberian Makan Sebagai Bottleneck Kejadian Stunting Pada Baduta: Analisis Epidemiologi Cross-Sectional Di Lombok Timur Imam Syahputra Yamin; Nanda Berliana Tania Fidzikri; Julham Effendi; Firda Ro’in
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1225

Abstract

Stunting merupakan indikator masalah gizi kronis yang menggambarkan penyimpangan pertumbuhan linier pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Meskipun berbagai upaya perbaikan gizi telah digalakkan, disparitas prevalensi antarwilayah, terutama di daerah perdesaan, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan makan dan komponen pola asuh terhadap kejadian stunting pada anak bawah dua tahun (baduta). Desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional diterapkan berdasarkan panduan pelaporan STROBE. Sampel penelitian berjumlah 76 pasangan pengasuh utama dan baduta di Desa Setungkep Lingsar, Kecamatan Keruak, yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square serta uji alternatif Fisher's Exact (alpha = 0,05). Hasil penelitian mendeteksi 27% baduta mengalami stunting. Ditemukan hubungan yang bermakna antara ketepatan asupan makan (p=0,001) dan praktik pemberian makan (p=0,001) dengan kejadian stunting. Sebaliknya, indikator stimulasi psikososial (p=0,872), praktik kebersihan (p=0,201), dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (p=0,931) tidak menunjukkan korelasi statistik yang bermakna pada populasi ini. Kualitas asupan gizi dan perilaku interaksi dalam pemberian makan merupakan faktor penyumbat utama atau bottleneck terhadap risiko gagal tumbuh. Program intervensi gizi di tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer perlu difokuskan pada peningkatan literasi ibu terkait manajemen Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang adaptif.