cover
Contact Name
Muhammad Nurdin
Contact Email
muh.nurdin.sp@gmail.com
Phone
+62816-330-029
Journal Mail Official
pharmaceutical.journal@stikessambas.ac.id
Editorial Address
Jl. Suka Ramai, Komplek Adenia Residence, Dalam Kaum, Kabupaten Sambas, Indonesia
Location
Kab. sambas,
Kalimantan barat
INDONESIA
Pharmaceutical Journal
ISSN : -     EISSN : 31097278     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Pharmaceutical Journal is an open access journal established in 2024, dedicated to the dissemination of knowledge in the field of Clinical Pharmacy and Rational Therapy. Our focus encompasses a wide range of topics, including Management and Monitoring of Drug Therapy (PTO), Drug Interactions and Adverse Drug Reactions, Clinical Pharmacokinetics and Pharmacodynamics, Patient Counseling and Education, the Role of Pharmacists in Healthcare Teams, Community and Hospital Pharmacy, Evidence-Based Medicine, Drug Management and Formularies, Information Technology in Clinical Pharmacy, Ethics and Law in Pharmacy Practice, Drug Policies and Regulations, and Qualitative Studies in Pharmaceutical Services. The journal publishes 2 issues per year, and all submissions undergo a single-blind peer review process conducted by a distinguished editorial board and expert reviewers who are professionals in the fields of pharmacy and health sciences, ensuring high academic standards.
Articles 16 Documents
Efektivitas Edukasi Gaya Hidup Sehat terhadap Pengelolaan Kadar Kolesterol pada Penderita Hiperkolesterolemia: Studi Literatur Agata, Cornelia; MEILINASARY, KHAIRUNNISA AZANI
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular (CVD), yang memerlukan pengelolaan efektif untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan. Studi ini bertujuan untuk meninjau efektivitas edukasi gaya hidup sehat dalam pengelolaan kadar kolesterol melalui pendekatan studi literatur sistematis. Data diambil dari database ilmiah seperti PubMed dan ScienceDirect dalam rentang publikasi 10 tahun terakhir. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa intervensi non-farmakologis, termasuk wawancara motivasional, diet, dan aktivitas fisik, secara signifikan berdampak positif pada penurunan kadar kolesterol lipoprotein densitas rendah (LDL-C) dan peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan. Program edukasi yang terstruktur, baik oleh perawat maupun ahli diet, terbukti meningkatkan kebiasaan hidup sehat dan mengurangi faktor risiko kardiovaskular tanpa efek samping yang merugikan. Selain itu, modifikasi gaya hidup seperti penyesuaian diet, peningkatan aktivitas fisik, dan penghentian merokok direkomendasikan sebagai langkah lini pertama dalam manajemen hiperkolesterolemia. Temuan ini mendukung pentingnya pendekatan preventif dan pengelolaan jangka panjang melalui intervensi edukasi dan gaya hidup yang dipersonalisasi.
Penetapan Kadar Fenolik Ekstrak Batang Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) Elena; Melati, Sae Ayu; Fitri, Maghfiroti
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis Hassk.) diketahui mengandung senyawa bioaktif, termasuk fenolik, flavonoid, dan tannin, yang menunjukkan potensi tinggi sebagai agen antioksidan, antikanker, antimikroba, dan penyembuh luka. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak tanaman ini efektif dalam menetralkan radikal bebas, menghambat proliferasi sel kanker payudara, serta mempercepat proses penyembuhan luka. Kandungan dan stabilitas senyawa fenolik dalam tanaman ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti fase pertumbuhan, kondisi lingkungan, metode budidaya, serta teknik pengolahan pasca panen. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa Bajakah Tampala memiliki potensi yang signifikan untuk dikembangkan sebagai bahan dasar dalam formulasi produk kesehatan dan terapi modern.
Peran Pelayanan Informasi Obat dalam Menurunkan Medication Error pada Pasien Rawat Jalan: Systematic Review Nisa, Wanda Aulia; Yunita, Eva; Nurfiani, Suharti
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran pelayanan informasi obat dalam menurunkan insiden medication error pada pasien rawat jalan. Melalui kajian literatur sistematis, penelitian ini mengidentifikasi berbagai intervensi yang efektif, seperti penyampaian informasi obat yang jelas, edukasi pasien langsung, dan penggunaan alat bantu komunikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi pelayanan informasi obat yang komprehensif berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kepatuhan pasien serta pengurangan risiko kesalahan dalam penggunaan obat. Temuan ini memiliki implikasi penting dalam praktik klinis, mengingat dampak serius dari medication error terhadap kesehatan pasien, yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu, penerapan pelayanan informasi obat yang terstruktur di institusi kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan efisiensi pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Penetapan Kadar Saponin Ekstrak Daun Kesum (Polygonum minus Huds) Dinasari, Indri; Syafika; Fajri, Mathlail
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun Kesum (Polygonum minus) merupakan tanaman khas Kalimantan Barat yang memiliki aroma yang tajam dan khas. Kesum merupakan tanaman merambat yang tumbuh di semak-semak kecil, memiliki ketinggian rata-rata 1 m di dataran rendah, dan cocok tumbuh subur dalam kondisi lembab. Review ini bertujuan untuk menyajikan data ilmiah mengenai senyawa saponin yang terdapat dalam ekstrak daun kesum (Polygonum minus Huds.). Artikel ilmiah dan jurnal yang diambil melalui database elektronik seperti pada Google Scholar, Publish or Perish, researchgate, dan Media Neliti. Pencarian dan penelusuran pustaka dilakukan dengan menggunakan kata kunci terkait seperti: Daun Kesum, Saponin, Poligonum Minus Huds. Hasil dari review ini adalah daun kesum (Polygonum minus huds.)  mempuyai potensi yang dapat dijadikan sebagai bahan obat dari kandungan saponin digunakan untuk mencegah inflamasi, antioksidan dengan menggunakan pelarut methanol, etanol 50%, etanol 70%, dan etanol 96%. Pereaksi yang digunakan  pereaksi semprot vanillin-asam sulfat, akuades panas dan uji kocok. Dan menggunakan metode analisis Maserasi dan Kromatografi lapis tipis serta kandungan yang dimiliki oleh daun kesum dipengaruhi oleh reagen dan pelarut yang digunakan.
Identifikasi Kadar Vitamin C pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutuscens L.) Lestari, Uray Nurul Dwi; Amalia; Purnamasari, Septi
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kadar vitamin C pada tanaman cabai rawit (Capsicum frutuscens L.) dengan menggunakan berbagai metode analisis. Vitamin C memiliki peran penting sebagai antioksidan dan nutrisi esensial bagi kesehatan. Dalam penelitian ini, sampel cabai rawit yang telah disiapkan dan disimpan dalam kondisi yang berbeda dianalisis menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis, titrasi iodimetri, dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Hasil analisis menunjukkan bahwa kadar vitamin C bervariasi tergantung pada metode pengawetan dan kondisi penyimpanan. Penyimpanan pada suhu rendah terbukti lebih efektif dalam mempertahankan kadar vitamin C dibandingkan dengan penyimpanan pada suhu kamar. Selain itu, metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 265 nm menunjukkan hasil yang akurat dan konsisten dalam pengukuran kadar vitamin C. Temuan ini memberikan wawasan penting mengenai pengelolaan dan pengawetan cabai rawit untuk menjaga kualitas nutrisi, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian lebih lanjut dalam bidang gizi dan pertanian.  
Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Daun Kesum (Polygonum minus Huds.) Aminudin; Nekhoda; Yuda
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 1 (2025): February Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu keanekaragaman hayati yang berasal dari Kalimantan Barat adalah tanaman Kesum (Polygonum minus Huds). Daun kesum merupakan salah satu tumbuhan alami yang mengandung metabolit sekunder berupa flavonoid, aldehid, terpenoid, gerniol dan senyawa fenolik. Daun dari famili Polygonaceae ini populer di Asia Tenggara sebagai bumbu masak. Selain meningkatkan citarasa masakan, daun kesum banyak dimanfaatkan untuk kesehatan seperti menyuburkan, menghitamkan rambut dan menghilangkan ketombe. Flavonoid adalah senyawa metabolit sekunder yang termasuk dalam kelompok senyawa fenol yang struktur benzenanya tersubstitusi dengan gugus OH. Dalam penulisan artikel review ini, penulis melakukan pencarian literatur menggunakan database elektronik seperti Google Scholar, Science Direct, PubMed, Researchgate, dan sumber elektronik lainnya.
Peran Strategis Industri Farmasi dan Apoteker dalam Menghadapi Pandemi di Masa Depan: Kesiapsiagaan Pandemi Global Pelajaran dari Covid-19 Dewi, Rusmina Iswanti Kumala; U, Retry Atika; H, Daffa Islami; P, Veronika Deggi
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 2 (2025): August Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The COVID-19 pandemic has revealed significant weaknesses in the global health system,  including the lack of preparedness in the pharmaceutical sector to handle large-scale crises.  The pharmaceutical industry and pharmacists play a strategic role in ensuring drug  availability, vaccine production, distribution of medical supplies, and public education. This  article aims to systematically review the critical roles of the pharmacy sector during  pandemic responses and to evaluate necessary preparedness strategies for future health  emergencies. A literature review approach was used, focusing on international publications from the last decade. The findings highlight that cross-sector collaboration, digitalization of  pharmacy services, strengthening of supply chains, and emergency preparedness training for  pharmacists are key strategies in building global pandemic resilience. Additionally, inclusive  and evidence-based policies are essential to optimize the contribution of pharmacists and the  pharmaceutical industry in sustaining global health security. These insights form a strong  foundation for developing more resilient pharmacy systems in the future.
Analisis Komparatif Kebijakan dan Strategi Penanggulangan Resistensi Antimikroba (AMR): Studi Kasus Negara Maju dan Berkembang Fitri, Maghiroti; Farezni, Rian Hagi; Wiguna, Dwiky Setia; Jelli; Fortuna, Yuna
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 2 (2025): August Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In many developing countries, antimicrobial resistance (AMR) is clearly not just a medical issue; it is a complex issue that intersects social, cultural, and economic factors. Practices in the field show that doctors often face pressure to prescribe antibiotics based solely on assumptions, because the availability of adequate diagnostic tools is very limited. On the other hand, patients often come with requests for antibiotics for minor complaints, assuming that it is the most effective and quickest solution. Another phenomenon that is no less concerning is the free circulation of antibiotics in the market, even without a prescription. Regulations do exist, but without consistent law enforcement, these policies often only become formalities on paper and have no real impact. In addition, the use of antibiotics in the agricultural and livestock sectors also exacerbates the cycle of resistance at the ecosystem level. Therefore, efforts to combat AMR in developing countries cannot simply adopt models from developed countries. Every intervention must consider local conditions, including lifestyles, norms, and specific challenges of local communities. Without a deep understanding of the root of the problem, the interventions carried out will only be superficial and unable to significantly change the direction of the resistance rate.
Dampak Harmonisasi Regulasi Farmasi terhadap Akses Obat dan Keamanan Pasien Aminudin; Azzahra, Naila; Putri, Tiara Ananda; Aprianto, Yakobus
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 2 (2025): August Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is a literature review that aims to comprehensively examine health and drug regulation from three perspectives: the implementation of Real-World Evidence (RWE), the application of Good Regulatory Practices for Medicines (CROB), and a comparison of health regulations across countries. Using a literature review method, the findings indicate that Indonesia faces significant challenges in integrating RWE into its drug approval system, particularly due to limited data infrastructure, regulatory gaps, and data ethics issues. On the other hand, the CROB guidelines issued by the National Agency of Drug and Food Control (BPOM) represent a crucial effort to build a regulatory system that is transparent, accountable, and evidence-based. Furthermore, cross-country comparisons affirm that strict regulations positively impact the quality of healthcare services, enhancing patient safety and the competence of medical personnel. This study concludes that adaptive, integrated, and consistent regulation is essential to ensure the quality of medicines and healthcare services, and that harmonizing policies across sectors and countries is necessary to address global health challenges.
Peran Lembaga Internasional dalam Menjamin Akses Obat Esensial:  Peluang dan Tantangan di Negara Berkembang Sari, Septi Purnama; Hidayatullah, Yusuf; Febrianti, Siska; Mery
Pharmaceutical Journal Vol. 1 No. 2 (2025): August Editions
Publisher : Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Access to essential medicines is a critical component in ensuring the right to  health, yet it remains a major challenge in developing countries. Economic disparities,  patent monopolies, fragile supply chains, and inadequate distribution infrastructure have left large populations without access to safe, effective, and affordable treatment. This  study aims to analyze the strategic roles of international organizations such as WHO,  UNICEF, and Gavi, in expanding access to essential medicines, while also identifying  associated opportunities and challenges. A systematic literature review was conducted  using peer-reviewed journals, official reports, and current policy documents. The findings  indicate that WHO contributes through global standard setting and drug prequalification;  UNICEF focuses on vaccine procurement and distribution; and Gavi drives innovative  financing and global partnerships. Nevertheless, significant challenges persist, including  intellectual property constraints, dependence on imported raw materials, circulation of  falsified drugs, and sustainability issues in post-donor settings. Strategic opportunities  include cross-agency collaboration, digital technology adoption, and strengthening of  local production capacity. This study underscores the importance of aligning national  policies with international support to develop an equitable and sustainable pharmaceutical  system. Access to essential medicines must be recognized as a shared global  responsibility within the framework of human rights and global solidarity.

Page 1 of 2 | Total Record : 16