cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Pengaruh Desain dan Pola Roster terhadap Simulasi Penghawaan Alami pada Fasad Bangunan Muhsin, Ardhiana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.7998

Abstract

Abstrak Roster atau kerawang telah lama dikenal dan digunakan oleh masyarakat sebagai elemen bangunan. Karakternya yang tampak seperti tertutup namun masih memiliki kesinambungan visual menjadikan roster tidak hanya difungsikan sebagai ventilasi namun dapat juga difungsikan sebagai pembatas untuk menutup daerah atau bagian yang tidak ingin terlihat secara langsung. Akhir-akhir ini roster kembali menjadi alternatif material untuk fasad bangunan agar terlihat unik dan berbeda karakternya. Desain atau pola roster pun banyak berkembang dan tidak tampil monoton seperti dulu lagi. Beberapa pola roster dapat dikombinasikan dengan pola lainnya agar desain fasad tampil lebih menarik lagi. Banyak arsitek yang mengklaim bahwa pemilihan roster agar dapat menyalurkan angin ke dalam bangunan yang menggunakan ventilasi alami. Permasalahannya adalah seberapa jauh sebenarnya roster dapat berfungsi sebagai penerus angin agar dapat tetap mengalir ke dalam ruangan dengan pola serta penempatan yang berbeda dengan dahulu. Penelitian ini mencoba mengungkap permasalahan tersebut lewat simulasi perangkat lunak berbasis Building Information Modelling (BIM). Desain roster yang ada disusun dan dibuatkan beberapa pola alternatif untuk dilihat sejauh mana elemen bangunan tersebut dapat bekerja secara optimal dalam menyalurkan angin ke dalam sebuah ruangan.Kata kunci: arsitektur, roster, simulasi, ventilasi, visualAbstract Ventilation block has been known and used as a building element. Its character which looks like it is an enclosed but still has visual continuity makes its function not only as ventilation but also as a barrier to cover areas or parts of the building that do not want to be seen directly. Recently, ventilation block has become an alternative material for building facades to make it look unique and have a different character. Ventilation block designs or patterns have also developed a lot and don't appear monotonous like they used to. Several ventilation block patterns can be combined with other patterns to make the facade design even more attractive. Many architects claim that the selection of , ventilation block is so that it can channel wind into buildings that use natural ventilation. The problem is how far the rooster can actually function as a successor to the wind so that it can continue to flow into the room with a different pattern and placement than before. This study tries to uncover these problems through software simulations based on Building Information Modeling (BIM). The existing roster design is compiled and several alternative patterns are made to see how far these building elements can work optimally in channeling wind into a room. Keywords: architecture, simulation, ventilation block, visual
Identifikasi Desain Jalur Pedestrian Jalan Dago Sebagai Infrastruktur Yang Mendukung Konsep Walkability Noveryna Dwika Reztrie; Annisa Rahma Fauzia; Kylie Dwi Andreas
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.8159

Abstract

AbstrakDalam mendukung pengembangan Kota Bandung menjadi ‘walkable city’, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan renovasi jalur pedestrian di beberapa titik. Salah satunya adalah Jalan Dago. Sebagai ikon dan pusat orientasi warga kota, uniknya kehadiran para pejalan kaki masih terlihat jarang di Jalan Dago. Karya tulis ini akan mengidentifikasi pengaruh fitur fisik dan streetscape di Jalan Dago dengan kehadiran pejalan kaki. Identifikasi dilakukan melalui analisis berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Reid Ewing. Data didapat melalui observasi langsung ke lapangan. Sebagai praktisi yang bergerak pada bidang perencanaan dan perancangan, sangatlah penting untuk mengetahui aspek apa saja yang mempengaruhi minat masyarakat untuk berjalan kaki di ruang publik. Isu terkait hubungan antara pengaruh lingkungan binaan dengan walkability ini masih terus dikembangkan bahkan oleh berbagai bidang seperti transportasi, perencanaan kota dan kesehatan masyarakat. Hasil dari identifikasi ini merekomendasikan beberapa hal untuk perencanaan pembangunan pedestrian termasuk pemahaman terhadap konteks terutama terkait kepadatan penduduk dan rencana tata ruang daerah. Hal ini akan berdampak pada penentuan zonasi kawasan. Sehingga, ketika dilakukan penentuan zonasi dapat direncanakan cara terbaik untuk mencapai value dari masing-masing kriteria jalur pedestrian yang memengaruhi walkability. Selain itu, penyediaan aksesibilitas untuk transit transportasi publik pun dapat memiliki dampak positif pada ‘kehidupan’ jalanan. Hal ini sejalan dengan teori “Great Street” yang dikemukakan oleh Allan Jacobs, dimana jalan yang baik harus mendukung konektivitas antar lokasi di dalam kota, juga dapat dengan mudah diakses. Selain itu, menurut Reid Ewing Koefisien Lantai Bangunan (KLB) di sepanjang jalan sebaiknya bernilai tinggi dan fasad bangunan lebih baik didominasi oleh retail.Kata kunci: walkability, jalur pedestrian, Jalan DagoAbstractIn order to support the development of Bandung City to become a walkable city, the goverment had renovated pedestrian in several streets. Among them is the one on Dago Street. As the icon of the city and the orientation center of citizen, it is odd that pedestrians are rarely seen on Dago Street. This journal will identify the influence of physical fiture and streetscape on Dago Street within the presence of the pedestrians. The identification is carried out by analizing a theory brought out by Reid Ewing. While the data is taken from direct observation. As a practitioner in design and planning, it is important to know the aspects that encourage citizen’s desire to have a walk in public facility.The issue of  relation between built environment’s impact and walkability is been continously developed by various fields like trsasportation, urban planning and public health. The outcome of this identification would recommend some points for pedestrian development planning, such as understanding the context especially those that are related to population density and regional layout planning, as they would intervene area zoning. So, in zoning, it is possible to plan the best way to reach the value of every pedestrian path criteria that affect walkability. Moreover, providing accessibility for public transportation transit would give positive impact for pedestrian’s life. These are in line with “Great Street” theory by Allan Jacobs, where good street should support connectivity within location in the city and have an easy access.On the other hand, according to Reid Ewing, Floor Area Ratio (FAR) along the streets should be valuable and the façades should be dominated by retail.Keywords: walkability, pedestrians, Dago Street
Identifikasi Gaya Arsitektur Indische Empire Style pada Bangunan Rumah Tinggal Wangsadikrama Kota Cimahi Muhsin, Ardhiana; Febrian, M. Raka; Rizq, Lulu Naufaly; Kuncoro, Erwin; Rasyifa, Kinanti
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i3.11124

Abstract

AbstrakBangunan cagar budaya adalah salah satu warisan peninggalan zaman dahulu beruwujud benda yang harus dilestarikan, dijaga, dan dirawat karena keberadaannya memiliki nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, dan sosial budaya di masa lampau yang dapat menjadi pembelajaran di masa kini. Gaya arsitektur kolonial merupakan salah satu warisan peninggalan zaman kolonial yang menjadi bukti atas penjajahan Belanda di Indonesia. Gaya Arsitektur Indische Empire Style pertama kali dikenalkan oleh seorang Gubernur Jendral Hindia Belanda pada sekitar tahun 1808 hingga 1811 yaitu Herman Willen Daendels. Gaya Indische Empire Style atau disebut juga Gaya Indis Imperial merupakan gaya arsitektur yang berkembang di Indonesia sekitar abad ke-18 hingga abad ke-19. Bangunan Wangsadikrama merupakan salah satu peninggalan penjajahan Belanda di Kota Cimahi. Tak banyak artikel yang menjelaskan secara rinci bangunan tersebut. Namun, pada Penelitian ini lebih difokuskan pada analisis gaya arsitektur Indische Empire Style. Penelitian ini menggunakan metode penenelitian kualitatif dengan teknik deskriptif. Teknik deskriptif ini adalah dengan mencari sumber jurnal yang membahas karakteristik arsitektur Indische Empire Style. Kemudian jurnal tersebut dikorelasikan dengan data survey lapangan yang selanjutkan dianalisis untuk mencari kesamaan gaya arsitektur antara bangunan Wangsadikrama dengan karakteristik / ciri – ciri gaya arsitektur Indische Empire Style. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengidentifikasikan bagaimana penerapan gaya bangunan Indische Empire Style pada bangunan Wangsadikrama. Hasil yang didapat menunjukan bangunan ini memang termasuk pada kategori bangunan kolonial era Indische Empire Style dikarenakan temuan pada elemen utama bangunan seperti denah, fasad, kolom, dan atap yang menyerupai gaya bangunan tersebut.Kata kunci: Bangunan Cagar Budaya, Identifikasi, Indische Empire Style, Wangsadikrama AbstractThe cultural reserve building is one of the ancient heritage of objects that must be preserved, guarded, and cared for because its existence has an important value for the science, history, education, and social culture of the past that can be learned in the present. The colonial architectural style is one of the colonial heritage that is evidence of the Dutch colonization of Indonesia. The Indische Empire Style was first introduced by the Governor-General of the Dutch Indian Empire between 1808 and 1811, Herman Willen Daendels. The Wangsadikrama building is one of the remains of Dutch colonization in the city of Cimahi. Not many articles describe the building in detail. However, the study focuses more on the analysis of the Indische Empire Style architectural style. The study uses qualitative research methods with descriptive techniques. This descripative technique is by searching for sources of journals that deal with characteristics of the Empire style architecture. Then the journal is correlated with field survey data that is further analyzed to find similarities of architectonic style between Wangsadikrama buildings with characteristics of the Indische Empire Stijl architecture style. The results obtained show that this building is indeed included in the category of colonial buildings of the Indische Empire Style era due to the findings on the main elements of the building such as the plan, facade, columns, and roof that resemble the building style.Keywords : Heritage Building, Identification, Indische Empire Style, Wangsadikrama
Potensi dan Kendala Penerapan Teknologi 3D printing dalam Penyediaan Hunian Layak dan Terjangkau di Indonesia Haerdy, Ratu Sonya Mentari; Nurzannah, Indah Fazrin
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i3.9982

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi dan metode membangun dalam arsitektur terus berkembang hingga saat ini. Hal tersebut merupakan tantangan bagi seorang perancang untuk selalu berinovasi dengan memanfaatkan teknologi tersebut. Teknologi fabrikasi digital secara 3D printing sudah dimanfaatkan oleh beberapa negara di dunia dalam memproduksi hunian dalam waktu singkat dengan biaya yang efisien. Pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat hingga saat ini masih menjadi prioritas pemerintah, sehingga diharapkan dengan adanya inovasi dan metode membagun cepat yang lebih mutakhir dapat dijadikan sebagai alternatif solusi atas permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, kajian mengenai teknologi fabrikasi menjadi urgensi saat ini untuk menggali berbagai potensi jika diterapkan di Indonesia, khususnya dalam lingkup penyediaan rumah layak dan terjangkau berbasis pada teknologi fabrikasi digital. Hasil dari berbagai kajian literatur menunjukkan bahwa teknologi 3D printing dalam produksi hunian di Indonesia masih memiliki sejumlah kendala diantaranya adalah kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan material dan alat, dan keterbatasan penelitian mengenai aplikasi nyata teknologi 3D printing di Indonesia dan dunia.Kata kunci: 3D printing, fabrikasi digital, hunian terjangkau  AbstractThe development of technology and construction methods in the field of architecture is still growing today. Always innovating by using technology is a challenge for a designer. 3D printing digital fabrication technology has been used by several countries in the world to produce housing in a short time at an efficient cost. The fulfillment of the housing needs of the community has been a priority. The existence of digital fabrication methods can be used as an alternative solution in order to face the problems. Therefore, the study of fabrication technology is urgent at this time to explore the various potentials when applied in Indonesia, especially in the scope of the provision of decent and affordable housing on the basis of digital fabrication technology. The results of various literature reviews show that the 3D printing technology in housing production in Indonesia still has a number of obstacles, including the capacity of human resources, the availability of materials and tools, and the limited research on the real application of 3D printing technology in Indonesia and the world.Keywords: 3D printing, digital fabrication, housing affordability
Adaptasi Perumahan terhadap Kebutuhan Generasi Milenial Pasca Pandemi COVID-19 di Indonesia Sari, Ana Ramdani; Dwidayati, Kunthi Herma; Yosita, Lucy
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i3.11497

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan adaptasi perumahan dalam menghadapi Pandemi COVID-19. Penelitian ini berfokus pada persepsi generasi milenial terhadap ruang di tempat tinggal yang kemudian dievaluasi kualitas ruang berdasarkan persepsi responden. Subyek ini dipilih karena kelompok usia ini mendominasi demografi, sehingga generasi millenial adalah target pasar utama perumahan. Penting bagi penyedia perumahan, baik lembaga perumahan swasta maupun negara, untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan ini, terutama setelah Pandemi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini melibatkan total 113 responden yang sebagian besar berdomisili di Pulau Jawa. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dan pertanyaan terbuka dalam survei. Data kuantitatif diperoleh melalui dua kali survei dan kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif-kuantitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun tingkat kepuasan penghuni cukup memuaskan (71%), namun kualitas ruang di rumah tinggal belum mencukupi kebutuhannya yang semakin meningkat. Banyak dari generasi milenial yang sebagian besar bekerja di rumah, tidak memiliki ruangan yang layak, furnitur yang ergonomis, pencahayaan yang memadai, dan ventilasi udara untuk bekerja. Sebagian besar rumah mereka juga kekurangan ruang yang dibutuhkan setelah Pandemi, seperti beranda, musala, dan sensor tanpa sentuhan. Masukan ini akan membantu penyedia perumahan membangun rumah yang beradaptasi dengan meningkatnya kebutuhan generasi milenial setelah Pandemi.Kata kunci: Adaptasi Perumahan, Milenial, Pandemi, Persepsi RuangABSTRACTThe study aims to discover housing adaptability in the face of the COVID-19 Pandemic. It focuses on Millennials' perception of the spaces at their home, then evaluating the quality of space based on their perception. The subject was chosen as the people in this age bracket dominate the demography, meaning millennials are the primary target market for housing. It is essential for housing providers, both private and state housing agencies, to adapt to these changes, especially after the Pandemic. The study uses both qualitative and quantitative approaches. The study included a total of 113 respondents who reside mainly in Java Island. The qualitative data is obtained through in-depth interviews and open questions in a survey. The quantitative data is obtained through two surveys and then analyzed using the descriptive-quantitative method. The result shows that even though the residents' satisfaction level is quite satisfactory (71%), the quality of space in their home is not sufficient for their growing needs. Many of these millennials, which work primarily at home, do not have a proper space, ergonomic furniture, adequate lighting, and air ventilation for working. Most of their homes also lack few spaces needed after the Pandemic, such as porch, prayer room, and no-touch censor. This input would help the housing providers build houses that adapt to the growing needs of millennials after the Pandemic.Keywords: Housing Adaptability, Millennials, Pandemic, Perception of Space
Penerapan Arsitektur Modern Tropis Pada Perancangan Al-Bahru Islamic Boarding School di Ciburial Bandung Ardyananda, Muhammad Haris; Wahadamaputera, Shirley
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13455

Abstract

ABSTRAK Pendidikan di Jawa Barat masih menghadapi tantangan, seperti kualitas yang tidak merata dan tuntutan pembentukan karakter di era globalisasi. Boarding school yang menggabungkan pembelajaran dan pemondokan dapat menjadi solusi dalam membentuk karakter kuat sebagai bagian dari standar pendidikan modern. Konsep arsitektur modern yang menekankan fungsi, kesederhanaan, dan penggunaan material baru dapat diterapkan tanpa mengabaikan kebutuhan desain di kawasan tropis. Kajian ini membahas bagaimana rancangan Al-Bahru Islamic Boarding School di Ciburial, Bandung, memadukan arsitektur modern dan tropis untuk merespons tantangan iklim. Metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan holistik digunakan untuk memahami kebutuhan ruang. Rancangan ini berdasarkan analisis data tapak, literatur, dan studi banding yang diwujudkan dalam bentuk visual. Konsep modern tampak pada fasilitas pembelajaran berbasis teknologi, ruang kelas fleksibel, laboratorium mutakhir, dan ramp untuk aksesibilitas difabel dan orang tua. Sementara itu, konsep tropis diterapkan melalui tata ruang, atap overstek lebar, bukaan besar untuk pencahayaan alami, dan secondary skin sebagai penghalang sinar matahari langsung.Hasil kajian menunjukkan bahwa perpaduan desain modern dan tropis menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan inspiratif. Boarding school ini diharapkan menjadi model bagi sekolah lain dalam menciptakan lingkungan pendidikan berkualitas di Jawa Barat. Kata Kunci: Pendidikan, Arsitektur, Modern Tropis, PendidikanABSTRACT Education in West Java still faces challenges, such as unequal quality and the need for strong character development in the era of globalization. Boarding schools that integrate learning and dormitory life offer a solution for fostering strong character as part of modern education standards. A modern architectural concept that prioritizes functionality, simplicity, and innovative materials can be applied while still meeting tropical design needs. This study explores how the design of Al-Bahru Islamic Boarding School in Ciburial, Bandung, combines modern and tropical architecture to address climate challenges. A qualitative descriptive method with a holistic approach is used to analyze spatial needs. The design is based on site analysis, literature reviews, and comparative studies, presented in visual illustrations. The modern concept is reflected in technology-based learning facilities, flexible classrooms, advanced laboratories, and ramps for accessibility for people with disabilities and parents. Meanwhile, the tropical concept is applied through spatial planning, wide overhanging roofs, large openings for natural lighting, and secondary skin facades to reduce direct sunlight exposure. Findings show that integrating modern and tropical designs creates a healthy, comfortable, and inspiring learning environment. This boarding school is expected to serve as a model for other institutions in West Java in creating a high-quality educational environment. Keywords: Education, Architecture, Education, Tropical Modernism
Penerapan Tema Arsitektur Biofilik Melalui Lanskap Pada Bangunan Rumah Susun Natura Harmoni Residences Kota Bandung Rachman, Tegar Fadillah; Muhsin, Ardhiana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13481

Abstract

ABSTRAK Perencanaan rumah susun di Kota Bandung terkadang mengabaikan aspek keselarasan dengan alam yang berdampak pada kualitas hidup penghuninya, terutama di tengah pertumbuhan penduduk yang pesat dan keterbatasan lahan yang tersedia. Arsitektur biofilik hadir sebagai solusi untuk menghubungkan manusia dengan lingkungan alami dalam menciptakan ruang hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi konsep arsitektur biofilik pada lanskap bangunan Natura Harmoni Residences, serta mengevaluasi pengaruhnya terhadap pendekatan kualitatif dengan lima tahap penelitian, yaitu identifikasi masalah dan persoalan, pengumpulan data primer dan sekunder terkait keadaan tapak, studi literatur, studi banding, studi kelayakan, dan perancangan skematik objek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip arsitektur biofilik melalui integrasi elemen ruang hijau, sirkulasi udara, dan pencahayaan alami berhasil menciptakan keharmonisan antara manusia dan alam. Pemanfaatan elemen seperti penanaman pohon, vegetasi, kehadiran air, taman veltikultur dan taman vertikal tidak hanya berfungsi sebagai pengontrol, tetapi juga membantu menyerap polusi dan menciptakan ruang interaksi sosial yang mendukung kesehatan serta kesejahteraan penghuni secara holistik.Kata kunci: arsitektur, biofilik, rumah susun, lanskap  ABSTRACT The planning of flats in Bandung City sometimes ignores aspects of harmony with nature that have an impact on the quality of life of its residents, especially in the midst of rapid population growth and limited available land. Biophilic architecture comes as a solution to connect humans with the natural environment in creating a healthier and more sustainable living space. This research aims to examine the implementation of the biophilic architecture concept in the Natura Harmoni Residences building landscape, and evaluate its effect on a qualitative approach with five research stages, namely problem and issue identification, primary and secondary data collection related to site conditions, literature studies, comparative studies, feasibility studies, and object schematic design. The results showed that the application of biophilic architecture principles through the integration of green space elements, air circulation, and natural lighting succeeded in creating harmony between humans and nature. The utilization of elements such as tree planting, vegetation, the presence of water, velticulture gardens and vertical gardens not only functions as a controller, but also helps absorb pollution and create social interaction spaces that support the health and well-being of residents holistically. Keywords: architecture, biophilic, apartment building, landscape
Penerapan Tema Festive Pada Kosambi Chic Avenue Di Segitiga Emas Kosambi Bandung Kaivalya, Locita Prajna
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13457

Abstract

ABSTRAK Segitiga Emas Kosambi di Bandung merupakan kawasan strategis dengan berbagai tantangan, seperti kepadatan penduduk, minimnya ruang hijau, dan kemacetan lalu lintas yang cukup parah. Selain itu, nilai properti di kawasan ini belum meningkat secara optimal, meskipun memiliki potensi besar sebagai pusat aktivitas ekonomi dan gaya hidup. Sebagai solusi, kawasan ini akan dirancang proyek bangunan komersial dengan tema arsitektur festive yang mengusung konsep "Kosambi Chic Avenue Sebagai Destinasi Urban Stylish dan Inovatif" yang berfokus pada bangunan komersial mall fashion. Bangunan ini didesain secara vertikal untuk menghemat lahan, sekaligus mengintegrasikan ruang publik hijau, area retail, dan kafe guna menciptakan suasana yang lebih hidup. Elemen arsitektur yang diterapkan mencakup warna cerah, pencahayaan interaktif, serta desain atraktif yang dinamis dan inklusif. Dengan adanya proyek ini, Kosambi Chic Avenue diharapkan menjadi pusat perbelanjaan yang memenuhi kebutuhan gaya hidup modern yang inovatif, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, serta menyediakan ruang kota yang lebih nyaman dan ramah bagi masyarakat, baik untuk berbelanja, bersantai, maupun berinteraksi sosial. Kata kunci: arsitektur festive , bandung, bangunan komersial, chic avenue, segitiga emas kosambi.  ABSTRACT The Kosambi Golden Triangle in Bandung is a strategic area facing several challenges, such as high population density, a lack of green spaces, and severe traffic congestion. Additionally, property values in this area have not yet increased optimally, despite its great potential as a hub for economic and lifestyle activities. As a solution, a commercial building project will be developed with a festive architecture theme, embracing the concept of "Kosambi Chic Avenue as a Stylish and Innovative Urban Destination." This project will focus on a fashion mall, designed vertically to optimize land use while integrating green public spaces, retail areas, and cafes to create a more vibrant atmosphere. The architectural elements will feature bright colors, interactive lighting, and dynamic, inclusive designs. With this project, Kosambi Chic Avenue is expected to become a shopping center that meets the needs of a modern and innovative lifestyle, stimulates local economic growth, and provides a more comfortable and welcoming urban space for the community—whether for shopping, relaxing, or social interaction. Keywords: festive architecture, bandung, commercial building, chic avenue, segitiga emas kosambi
Penerapan Tema Arsitektur High Tech Pada Rancangan Sentra Pemuda Bojongsoang, Kabupaten Bandung Prakoso, Dito Dwi Nasar; Subekti, Bambang; Haerdy, Ratu Sonya Mentari
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.14358

Abstract

ABSTRAK Kajian ini membahas perancangan Sentra Pemuda Bojongsoang di Kabupaten Bandung, yang bertujuan mewadahi aktivitas generasi muda yang produktif serta menjadi wadah ekspresi yang kontemporer, efektif, dan ramah lingkungan dengan tampilan ikonik. Populasi usia produktif di Kabupaten Bandung semakin meningkat dan kebutuhan mendesak akan wadah pengembangan potensi serta relasi bagi komunitas muda, terutama di bidang seni, olahraga, dan sosial sangat dibutuhkan. Dengan adanya bangunan Sentra Pemuda diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan dengan baik. Kajian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, mengintegrasikan konsep Arsitektur High Tech—yang menonjolkan struktur dan estetika futuristik—dengan prinsip Sustainable Design, yang fokus pada efisiensi energi, pemanfaatan material daur ulang seperti peti kemas, dan sumber daya terbarukan. Kebaruan yang dihasilkan adalah integrasi kedua konsep ini pada tipologi Sentra Pemuda, menciptakan efisiensi konstruksi, hemat biaya, minim limbah, serta ruang inspiratif. Hasilnya, bangunan Sentra Pemuda ini menjadi contoh desain yang kontemporer, efektif, ramah lingkungan, dan ikonik, berkontribusi pada pelestarian lingkungan.Kata kunci: bojongsoang, high tech, sentra pemuda, sustainable design  ABSTRACT This study discusses the design of the Bojongsoang Youth Center in Bandung Regency, which aims to accommodate the activities of the productive young generation and become a contemporary, effective, and environmentally friendly place of expression with an iconic appearance. The productive age population in Bandung Regency is increasing and the urgent need for a place to develop potential and relationships for the young community, especially in the fields of art, sports, and social is urgently needed. The existence of the Youth Center building is expected to be able to facilitate these needs well. This study uses a qualitative descriptive analysis method, integrating the concept of High Tech Architecture—which emphasizes futuristic structures and aesthetics—with the principles of Sustainable Design, which focus on energy efficiency, the use of recycled materials such as containers, and renewable resources. The resulting novelty is the integration of these two concepts in the Youth Center typology, creating construction efficiency, cost savings, minimal waste, and an inspiring space. As a result, the Youth Center building is an example of contemporary, effective, environmentally friendly, and iconic design, contributing to environmental conservation.Keywords: bojongsoang, high tech, sustainable design, youth center
Pendekatan Rasionalisme Dalam Perancangan SMA Islam Terpadu Al Fitria Boarding School, Ciburial Kab Bandung Utami, Utami; Jungjunan, Muhamad Taufik
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i2.13461

Abstract

ABSTRAK Rahmatan lil alamin, artinya memberikan rahmat, berkah, dan maslahat. Maka dari itu konsep Rasinoalisme sangat cocok pada proyek kali ini karena berdasarkan dari prinsip tersebut memiliki kecocokan dalam implementasi desain, dan juga arsitektur rasionalisme mampu menerjemahkan prinsip rahmatan lil alamin tersebut. Kemudian prinsip tersebut juga sangat relevan dengan proyek kali ini yaitu pembangunan sebuah sekolah berasrama (boarding school), yang perlu menjadi poin utamanya adalah fungsi berupa fasilitas yang memadai, modern, dan efektif. Penelitian ini melalui pendekatan metode deskripsi normatif dengan menggunakan azas rasionalisme dalam melakukan proses perancangan. Penerapan tema ini digunakan dalam penentuan zoning dan juga pengolahan massa bangunan serta tata letaknya yang harus memprioritaskan aspek fungsional yang efektif. Oleh karena itu konsep ini juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Vitruvius yang menyatakan bahwa tujuan arsitektur adalah untuk menyusun, mengatur, dan menyelaraskan dalam pergerakan, simetri, kesesuaian, dan ekonomi. Maka dari itu dalam merancang seorang arsitek  seharusnya selalu berusaha untuk membuat rancangan yang bermakna dan memberikan manfaat bagi lingkungan atau kawasan  tempat bangunan itu dibangun, dan hasil dari desain juga bangunan yang sudah dibangun terus mengalir kebaikan serta manfaatnya bagi orang banyak. Penerapan rasionalisme dalam desain rancang bangun sebuah kawasan boarding school dapat dihasilkan desain yang fungsional dan efektif. Kata kunci: boarding school, efektif, fungsional, modern, rasionalisme.  ABSTRACT Rahmatan lil alamin, means giving grace, blessings, and benefits. Therefore, the concept of Rationalism is very suitable for this project because based on this principle it has a match in the implementation of the design, and also rationalism architecture is able to translate the principle of rahmatan lil alamin. Then the principle is also very relevant to the project this time, namely the construction of a boarding school, which needs to be the main point is a function in the form of adequate, modern and effective facilities. This research is through a normative description method approach by using the principle of rationalism in carrying out the design process. The application of this theme is used in determining zoning and also the processing of building masses and their layout which must prioritize effective functional aspects. Therefore, this concept is also in line with what was said by Vitruvius who stated that the purpose of architecture is to arrange, organize, and harmonize in movement, symmetry, suitability, and economy. Therefore, in designing an architect should always strive to make designs that are meaningful and provide benefits to the environment or area where the building is built, and the results of the design as well as the buildings that have been built continue to flow goodness and benefits for many people. The application of rationalism in the design of a boarding school area can produce a functional and effective design.Keywords: boarding school, effective , fungctional, modern, rationalism