cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 549 Documents
Studi Analisis Batasan Persentase Prategang Parsial pada Struktur Balok Prategang Devy Yolanda; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 3: September 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i3.48

Abstract

ABSTRAKPengurangan gaya prategang yang diperlukan pada suatu penampang beton prategang penuh (full prestressed) menyebabkan diperlukannya baja tulangan, dan beton prategang berperilaku menjadi beton prategang parsial. Pengurangan gaya prategang akan menimbulkan tegangan tarik yang bilamana tegangan tarik yang terjadi melampaui kuat tarik lentur beton maka akan terjadi retak. SNI 03-2847-2002 membolehkan penggunaan beton prategang parsial namun belum mensyaratkan batasan persentase prategang yang harus digunakan. Oleh karena itu dilakukan studi analisis untuk mengetahui persentase prategang minimal yang dapat digunakan. Studi kasus dilakukan pada persentase prategang 50, 60, 70, 80, dan 90. Dari hasil studi kasus didapatkan bahwa persentase prategang yang semakin kecil akan berakibat tegangan tarik dan lebar retak yang terjadi semakin besar. Persentase prategang harus dipilih sedemikian rupa sehingga lebar retak yang terjadi tidak melampaui lebar retak yang diizinkan. Pada kelima variabel penelitian, batasan minimal persentase prategang yang lebar retaknya tidak melebihi lebar retak yang diizinkan adalah 60%.Kata kunci:  beton prategang parsial, persentase prategang, tegangan tarik, lebar retak ABSTRACTReducing the required prestressing force on a full prestressed concrete section requires the need for reinforcing steel, and prestressing concrete behaves to partial prestressed concrete. Reduction of the prestressing force will cause tensile stress when the tensile stress that goes beyond the tensile strength of the concrete will result in cracking. SNI 03-2847-2002 allows the use of partial prestressed concrete but does not require the limitation of the prestress percentage to be used. Therefore, an analytical study was conducted to determine the minimum prestressed percentage that can be used. The case study was carried out at 50, 60, 70, 80, and 90 prestressed percentages. From the case study it was found that the smaller the prestress percentage would result in greater tensile stress and crack width. The percentage of prestress shall be chosen so that the crack width does not exceed the allowable crack width. In the five research variables, the minimum limit of prestressing percentage whose crack width does not exceed the allowable crack width is 60%.Keywords: partial prestressed concrete, prestress percentage, tensile stress, crack width
Pelanggaran Kecepatan Kendaraan pada Ruas Jalan Tol Cipularang Rizki Intan Mauliza; Tania Bonita Sabrina; Wahyu Maulana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 1: Maret 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i1.39

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor penyebab kecelakaan yang signifikan adalah tidak sesuainya kecepatan kendaraan dengan kondisi jalan, lingkungan dan kegiatan, dalam hal ini adalah kecepatan yang terlalu tinggi. Jalan tol/jalan bebas hambatan merupakan salah satu jalan yang berpotensi memiliki banyak pelanggaran dalam kecepatan kendaraan. Batasan kecepatan jalan tol telah di atur dalam PM Hub 111/2015 yaitu 40 km/jam untuk tol dalam kota dan 60 km/jam - 100 km/jam untuk tol luar kota. Untuk memastikan kecepatan rata-rata kendaraan dan menentukan tingkat pelanggaran kendaraan yang melintasi ruas jalan tol Cipularang maka penelitian menggunakan metode pengumpulan data primer/pengamatan secara langsung. Hasil analisis secara keseluruhan didapatkan bahwa rata-rata kecepatan kendaraan mobil penumpang sebesar 88 km/jam, truk 62 km/jam dan bus 72 km/jam dengan persentasi kecepatan rata-rata untuk mobil penumpang, truk dan bus berturut-turut sebesar 43%, 5% dan 22%. Hal ini menunjukan terdapat pelanggaran batas kecepatan maksimum untuk kendaraan mobil penumpang dengan prosentase yang tinggi (lebih dari 30%) atau kecepatan rata-rata lebih dari 80 km/jam.Kata kunci: kecelakaan, batas kecepatan, jalan tol ABSTRACTOne factors of a significant accident is not according to the speed of the vehicle with the environment, environment and activities, in this case the speed is too high. Toll road / freeway is one of the roads that has many roads in the vehicle. The toll road speed limit has been set in PM Hub 111/2015, which is 40 km/hour  for city tolls and 60 km/hour  100 km/hour for out-of-city toll roads. To determine the average speed of a vehicle and determine the level of the vehicle passing through the Cipularang toll road, the study uses the primary data / direct search method. The overall analysis results are obtained that the average speed of passenger car vehicles is 88 km/hour, trucks 62 km/hour and buses 72 km/hour with the percentage of average speed for passenger cars, trucks and buses being helped-along by 43%, 5% and 22%. This shows the maximum speed limit for passenger car vehicles with a higher percentage (more than 30%) or an average speed of more than 80 km/hour.Keywords: accidents, speed limits, toll roads
Analisis Rembesan dan Stabilitas Bendungan Bajulmati dengan Metode Elemen Hingga Model 2D dan 3D Teuku Nabilla Nanda; Indra Noer Hamdhan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.148

Abstract

ABSTRAK Bendungan Bajulmati merupakan bendungan tipe urugan dengan inti terletak tegak pada tubuh bendungan. Bendungan urugan berpotensi runtuh akibat berubahnya tegangan dalam tanah akibat aliran air. Untuk menghindari keruntuhan, maka diperlukan analisis rembesan dan stabilitas yang dihitung secara bersamaan menggunakan metode elemen hingga dengan model 2D dan 3D pada program PLAXIS AE. Analisis akan menggunakan variasi pembebanan, yaitu saat selesai konstruksi, muka air minimum, muka air maksimum dan surut cepat yang keseluruhan kondisi akan di kombinasikan dengan pembebanan gempa pseudostatik. Hasil analisis 2D berupa faktor keamanan terkritis terjadi pada kondisi surut cepat, yaitu 1,750 sebelum ada gempa dan 1,452 setelah dibebani gempa pseudostatik. Hasil SF terkritis pada model 3D adalah 1,890 pada kondisi surut cepat.Kata kunci: bendungan bajulmati, bendungan urugan, stabilitas lereng, pseudostatik, analisis ganda, aliran air tanah, metode elemen hingga, faktor keamanan. ABSTRACTThe Bajulmati dam is types of embankment with center core rock fill dam. Embankment dam is risky to collapse due changes of stress while ground water flow. To avoid collapse, it is necessary to seepage and stability analyzes were calculated silmustaneously using the finite element method with 2D and 3D models in PLAXIS AE program. The analysis will use variation of loading, those are after construction, minimum water level, high water level, and rapid drawdown with the overall conditions is combine to pseudostatics analysis. The most critical safety factor of 2D analysis is happen at rapid drawdown condition, those are 1.750, 1.452 before and after pseudostatic/earthquake analysis. The critical safety factor result  of 3D analysis is 1.890 at rapid drawdown loading condition.Keywords: the bajulmati dam, embankment dam, slope stability, pseudostatic, coupled analysis, ground water flow, finite elemen method, safety factor.
Tinjauan Kembali Mengenai Batasan Gradasi Agregat Kasar dalam Campuran Beton Prilly Putri Prasanti; Priyanto Saelan
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.118

Abstract

ABSTRAKPersyaratan gradasi agregat kasar pada SNI dinyatakan dalam modulus kehalusan. Modulus kehalusan yang disyaratkan untuk agregat kasar adalah 6,0–7,1. Batasan gradasi agregat kasar yang ditetapkan dalam SNI seringkali tidak dipenuhi dalam pelaksanaan pekerjaan beton, terutama jika menggunakan agregat kasar berukuran 40 mm, yang mengakibatkan modulus kehalusan agregat kasar lebih besar dari 7,1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai batasan gradasi agregat kasar untuk mengetahui pengaruh yang diakibatkan bila agregat kasar melampaui batasan rentang modulus kehalusan yang telah ditetapkan. Penelitian dilakukan dengan membuat campuran beton menggunakan cara Dreux untuk kuat tekan rencana 30 MPa, nilai slump rencana 30–60 mm dan 60–180 mm, serta modulus kehalusan agregat kasar 6,0; 6,5; 7,0; 7,5; dan 8,0. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa campuran beton dengan modulus kehalusan agregat kasar di atas 7,0 tidak berpengaruh terhadap kuat tekan beton, maka batasan gradasi agregat kasar dapat dikembangkan dari 7,1 hingga 8,0.Kata kunci: batasan gradasi, modulus kehalusan, agregat kasar, kuat tekan beton ABSTRACT The requirements of coarse aggregate gradation in SNI stated with the fineness modulus. The fineness modulus required for coarse aggregates is 6.0–7.1. The limitations set in SNI are often not met in the implementation of concrete work, especially if using 40 mm aggregates, resulting in fineness modulus greater than 7.1. Further research on the coarse aggregate gradation limits is needed to determine the effects when it exceeded. The research is done by making concrete mixtures using Dreux's method with concrete compressive strength design  30 MPa, slump design 30–60 mm and 60–180 mm, as well as the coarse aggregate fineness modulus 6.0, 6.5, 7.0, 7.5, and 8.0. The results reveal that concrete mixtures with coarse aggregate fineness modulus above 7.0 do not affect concrete compressive strength, so the coarse aggregate gradation limitation can be extended from 7.1 to 8.0.Keywords: gradation limits, fineness modulus, coarse aggregate, concrete compressive strength
Studi Kinerja Simpang Jalan Jakarta - Ibrahim Adjie Setelah Adanya Overpass Pelangi Antapani Kota Bandung Dhi'fan Hanifan; Silvia Sukirman
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 3, No 4: Desember 2017
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v3i4.46

Abstract

ABSTRAKPermasalahan di bidang transportasi terutama di kota besar diakibatkan oleh pertumbuhan kendaraan yang tinggi, sehingga terjadi kemacetan khususnya di persimpangan dalam mengatasi hal ini Kota Bandung telah melakukan inovasi dengan membangun overpass berteknologi urugan ringan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja persimpangan APILL Jl. Jakarta-Jl. Ibrahim Adjie Kota Bandung setelah Overpass beroperasi. Pedoman yang digunakan dalam melakukan analisis adalah (PKJI 2014). Hasil analisis kinerja simpang didapatkan tertinggi untuk kondisi eksisting 3 fase pagi 0,76 tundaan rerata 25,66 det/skr dan sore hari 1,54 tundaan rerata 154,07 det/skr. Untuk kondisi sore hari waktu isyarat diatur ulang dan mendapatkan nilai  terbesar yaitu 0,80 tundaan rerata 39,51 det/skr.  untuk kondisi 3 fase akhir umur rencana pagi hari 0,80 tundaan rerata 35,85 det/skr dan sore hari 0,93 tundaan rerata 62,59 det/skr. Dari hasil analisis sebaiknya digunakan pengaturan isyarat waktu baru untuk kondisi eksisting sore hari dengan nilai tundaan lebih kecil.Kata kunci: overpass, derajat kejenuhan, PKJI 2014. ABSTRACTTransportation problems especially in big cities caused by high vehicle growth, causing congestion especially at the intersection to overcoming this problems, Bandung city has made an innovation by building a technology overpass lightweight. The purpose of this research is to analyze the performance of APILL junction at Jl. Jakarta -Jl. Ibrahim Adjie Bandung after Overpass have been operated. The guidelines used is PKJI 2014. The results of the analysis of intersection performance obtained by the highest  for the existing 3-phase morning condition 0,76 the average delay is 25,66 sec/pcu and in the afternoon 1,54 the average delay is 154,07 sec/pcu. For the afternoon conditions when cues are reset get the highest  value is 0,80 average delay is 39,51 sec/pcu.  for the 3-phase end-of-life of the morning plan of 0,80 average delay is 35,85 sec/pcu and in the afternoon 0,93 average delay is 62,59 sec/pcu. The results of the analysis should be used cue setting a new time for the existing condition which produce smaller delay.Keywords: overpass, the degree of saturation,  PKJI 2014.
Pengaruh Kapasitas Daya Dukung terhadap Letak Fondasi Dangkal Tipe Menerus di Sepanjang Lereng dengan Menggunakan Metode Analitik dan Numerik Mohamad Badrudin; Ikhya Ikhya
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 2: Juni 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i2.113

Abstract

ABSTRAKKapasitas daya dukung adalah kemampuan fondasi dalam menahan beban struktur yang berada diatasnya. Analisis fondasi dangkal sepanjang lereng dengan metode numerik menggunakan program PLAXIS 2D menghasilkan bahwa semakin besar nilai kedalaman fondasi  maka akan menaikan kapasitas daya dukungnya. Nilai kapasitas daya dukung terbesar terdapat pada = 2 m yaitu sebesar 1.117  kN/m2 pada lokasi dibawah lereng dengan kondisi tanpa muka air tanah. Lokasi fondasi dangkal sepanjang lereng sangat mempengaruhi nilai kapasitas daya dukung fondasi tersebut. Jika fondasi ditempatkan dekat dengan lereng ataupun pada permukaan lereng, maka nilai kapasitas daya dukungnya akan berkurang. Nilai kapasitas daya dukung pada atas lereng dengan jarak   = 0 m dari tepi lereng sebesar 527 kN/m2 dan untuk = 8 m memiliki nilai kapasitas daya dukung sebesar 959,5 kN/m2, maka kapasitas daya dukungnya mengalami peningkatan sebesar 82,06%. Kesimpulannya fondasi akan aman ketika ditempatkan sejauh 4  dari tepi lereng.Kata kunci: kapasitas daya dukung, fondasi dangkal, lereng.ABSTRACTBearing capacity is the ability of the foundation to hold the load of structures. The analysis of the shallow foundation along the slope by numerical method using the PLAXIS 2D program resulted that the greater depth of the foundation , the greater bearing capacity will occur. Biggest value bearing capacity is 1,117 kN/m2 found at = 2 m located on bottom of the slope with no ground water table. The location of a shallow foundation along the slope greatly affects the bearing capacity value of the foundation. If the foundation is placed close from the slope or on the slope surface, the bearing capacity will decrease. Bearing capacity on the top of slope with = 0 m from the edge of the slope has been value  527 kN/m2 and for   = 8 m bearing capacity value is 959.5 kN/m2, so bearing capacity value has increased by 82.06%. As a result the foundation will be safe if it’s placed at 4  from the edge of the slope.Keywords: bearing capacity, shallow foundation, slope.
Kinerja Persimpangan Jl. Ibrahim Adjie – Jl. Jakarta Dengan Beroperasinya Flyover Jl. Jakarta, Kota Bandung Aan Wijaya; Sofyan Triana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 2: Juni 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i2.117

Abstract

ABSTRAKPermasalahan transportasi di daerah persimpangan banyak terjadi di berbagai kota. Pergerakan transportasi memerlukan sarana dan prasarana yang memadai. Tujuan penelitian adalah menganalisa kinerja simpang APILL persimpangan Jl Jakarta - Jl Ibrahim Adjie Bandung sebelum dan setelah Flyover beroperasi. Digunakan PKJI 2014 sebagai pedoman analisa. Analisa dilakukan pada 7 kondisi yaitu Kondisi 1: Dj antara 0,762-1,357, tundaan rerata 249 det/smp. Kondisi 2: Dj antara 0,772-1,422, tundaan rerata 343,96 det/smp. Kondisi 3: Dj 0,666, tundaan rerata 50,99 det/smp.  Kondisi 4: Dj = 0,88, tundaan rerata 117,12 det/smp. Kondisi 5: Dj 0,564, tundaan rerata 28,46 det/smp. Kondisi 6: Dj 0,829, tundaan rerata 95,23 det/smp. Kondisi 7: Dj 0,745, tundaan rerata 69,79 det/smp. Kondisi 5 yaitu Simpang APILL Setelah Beroperasinya Flyover (2 Fase Pagi) menghasilkan kinerja lebih baik untuk pagi hari. Kondisi 7 yaitu Simpang APILL Setelah Beroperasinya Flyover (2 Fase Sore) menghasilkan kinerja lebih baik untuk sore hari.Kata kunci: waktu siklus, derajat kejenuhan, kinerja persimpangan, PKJI 2014. ABSTRACTThe problems in the transportation sector is a problem in many cities. This transportation movement requires the adequated facilities and transportation infrastructures. The purpose of this study was to analyze the performance of signaled intersection at the junction of the Jakarta Rd – Ibrahim Adjie Rd, Bandung at condition before and after Flyover operates. The guidelines used is PKJI 2014. The performance calculation based on 7 conditions. The 1st condition: DS varied 0.762 to 1.357, the average delay is 249 sec/pcu. The 2nd condition: DS varied between 0.772 to 1.422, the average delay 343.96 sec/pcu. The 3rd condition: DS 0.666, the average delay is the intersection of 50.99 sec/pcu. The 4th condition: DS = 0.88, the average delay 117.12 sec/pcu. The 5th condition: DS 0.564, the average delay of 28.46 sec/pcu. The 6th condition: DS 0,829, an average delay of 95.23 sec/pcu. The 7th condition: DS 0.745, the average delay of 69.79 sec/pcu. The 5th condition is APILL intersection (2 phase in morning) produce better performance for the morning. The 7th condition is APILL intersection (2 phase in afternoon) produce better performance for the afternoon.Keywords: cycle time, the degree of saturation, the performance of intersection, PKJI 2014.
Kajian Eksperimental Sifat Mekanik Panel Cross Laminated Timber Kayu Sengon dan Kayu Jabon Irfan Naufal Abdurrahman; Heru Juhdi Gultom; Erma Desmaliana
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 4, No 4: Desember 2018
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v4i4.78

Abstract

ABSTRAKPanel Cross Laminated Timber (CLT) merupakan rekayasa kayu dengan penyusunan kayu dengan arah bersilangan 90  Material kayu yang digunakan yaitu kayu Sengon dan kayu Jabon. Pembuatan panel CLT menggunakan perekat Polyvinyl Acetate, Cross-linker, dan Lateks Karet Alam dengan perbandingan 1:1 untuk base dan 15% untuk katalisator. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui kinerja panel CLT kayu Sengon dan kayu Jabon terhadap beban tekan dan geser. Pembuatan panel CLT dilakukan dengan menggunakan kempa dingin dan dimensi panel CLT yang digunakan yaitu 950mm 950mm 120mm. Hasil pengujian eksperimental pada benda uji small clear, didapatkan bahwa kayu jabon dan kayu sengon masuk kedalam kelas kuat V. Kapasitas tekan panel CLT kayu Sengon lebih kuat dibandingkan CLT Jabon yaitu 12,196 MPa dengan defleksi 10,51 mm dan kapasitas tekan panel CLT Kayu Jabon 9,572 MPa dengan defleksi 2,67. Pada pengujian kuat geser Panel CLT kayu Sengon menghasilkan nilai kuat geser lebih baik dari pada CLT kayu Jabon sebesar 0,09 MPa, dan kuat geser CLT kayu Jabon 0,089 MPa.Kata kunci: cross laminated timber, perekat, kuat tekan, kuat geser, defleksi. ABSTRACTCross Laminated Timber (CLT) Panel Is wood engineering with wood’s arrangement cross direction 90°. Wood materials used Sengon and Jabon. Making CLT panels using Polyvinyl Acetate, Cross-linker, and Natural Rubber Latex adhesives with a ratio of 1:1 for base and 15% for catalyst. The purpose of this research is to know the performance of Sengon and Jabon wood CLT panels against press and shear load. CLT panel is made by used cold press processed and the CLT panel dimensions used is 950mm 950mm 120mm. The results of small clear test object, found that Jabon wood and sengon wood were included in the strong V class.The compressive capacity of Sengon wood CLT panel is stronger than Jabon CLT which is 12.196 MPa with 10.51 mm deflection and the compressive capacity of Jabon CLT panel is 9.572 MPa with a deflection of 2.67. The shear strength testing of Sengon wood CLT Panel produces better shear strength than Jabon wood. Shear strength Sengon’s CLT is 0.089 MPa and Jabon’s CLT is 0.128 MPa.Keywords: cross laminated timber, glue, compression strength, shear strength, deflection.
Karakterisasi Sifat Fisis dan Mekanis Tanah Lunak di Gedebage Heldys Nurul Siska; Yuki Achmad Yakin
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 2, No 4: Desember 2016
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v2i4.44

Abstract

ABSTRAKAcuan data mengenai karakterisasi tanah lunak diperlukan, sehubungan dengan peningkatan pembangunan yang pesat di daerah tanah lunak. Karakterisasi tanah lunak di Gedebage yang meliputi data fisis dan mekanis. Berdasarkan grafik hubungan batas cair dan indeks plastisitas, maka tanah ini tergolong tanah lempung tak organik dengan plastisitas tinggi dan tanah lanau tak organik. Indeks properties tanah lunak Gedebage terdiri atas kadar air (105,4% - 315,5%), angka pori (1,23 - 7,26) dan berat jenis (2,1 - 2,67). Adapun parameter kuat gesernya meliputi cu (0,01 - 0,25 kg/cm2) dan Øu (0,2° - 5,5°). Parameter deformasinya menunjukkan nilai sedang sampai tinggi dan kompresibilitas yang besar. Uji triaksial unconsolidated undrained dan uji oedometer pada program PLAXIS 2D AE menghasilkan tegangan deviator dan regangan yang hampir sama dengan pengujian di laboratorium. Model hardening soil paling tepat digunakan sebagai modelisasi untuk jenis tanah lunak di Gedebage.Kata kunci: index properties, kuat geser, kompresibilitas, uji triaksial unconsolidated undrained, uji oedometer. ABSTRACTIt is necessary that a data base on soft soil is characterization, in relation with a fast development in this area. Characterized of soft soil in Gedebage consisted of physical and engineering data. Based on plasticity chart, liquid limit and index plasticity, this soil belongs to anorganic clay with high plasticity and anorganic silt. Index properties of Gedebage soft soil consist of water content (105.4% - 315.5%), void ratio (1.23 – 7.26) and specific gravity (2.1 – 2.67). The shear strength parameters consist of cu (0.01 – 0.25 kg/cm2) and Øu (0.2° - 5.5°). Deformation parameter indicates medium to high compressibility. Triaxial unconsolidated undrained test and oedometer test in the PLAXIS 2D AE program produces deviator strength and strain of soft soil which was similar to the test in the laboratory. The hardening soil model was appropriate to be used as the model in the PLAXIS 2D AE program for the type of soft soil at Gedebage.Keywords: index properties, shear strength, compressibility, triaxial unconsolidated undrained test, oedometer test.
Kajian Perbandingan Kinerja Struktur Dinding Geser Komposit Berdasarkan Tingkatan Gedung Dimas EL Islamy; Erma Desmaliana; Nessa Valiantine Diredja
RekaRacana: Jurnal Teknil Sipil Vol 5, No 3: September 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v5i3.20

Abstract

ABSTRAKSalah satu metode untuk meminimalisir simpangan horizontal yang terjadi akibat gaya gempa pada struktur adalah dengan pemasangan dinding geser. Dinding geser mampu memberikan kekuatan dan kekakuan pada struktur gedung. Pada teknologi terkini, dinding geser komposit pelat baja mampu menggabungkan kelebihan dan mengkompensasi kekurangan dinding geser beton dan pelat baja.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan dinding geser komposit terhadap tingkatan struktur gedung. Penelitian ini dilakukan pada tiga pemodelan struktur gedung dengan jumlah lantai yaitu 10 lantai, 20 lantai, dan 30 lantai dengan menggunakan metode respon spektrum dan analisis beban dorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simpangan atap yang terjadi pada struktur dengan dinding geser lebih kecil dibandingkan struktur tanpa dinding geser. Berdasarkan analisis beban dorong, penggunaan dinding geser komposit pelat baja dengan tebal 110 mm untuk tiga pemodelan berada pada tingkatan yang sama yaitu IO (immediate Occupancy) yangmana kekuatan dan kekakuan pada gedung hampir sama dengan kondisi sebelum terjadi gempa.Kata kunci: dinding geser komposit pelat baja, respon spektrum, analisis beban dorong, simpangan horizontal ABSTRACTOne of the method to minimize the displacement of structure affected by earthquake is by using shear wall. Shear wall can influence the ductility and stiffness to the structure. On the most recent technology, composite steel plate shear wall can combining the advantages and compensate the disadvantages  of concrete and steel shear wall. This study was conducted by using three models buildings with 10 story, 20 story, and 30 story with spectrum response methods and pushover analysis. The result of this study shows that  drift’s roof on structure using shear wall is smaller than the structure without one. Based on pushover analysis, when structure using shear wall with thickness 110 mm for three models are the same level in immediate occupancy which strength and stiffness in buildings is almost the same as the condition before earthquake.Keywords: composite steel plate shear wall, respons spectrum, pushover analysis, displacement