cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kampung Rawajati Jakarta Selatan Puspawati, Catur; Besral, Besral
Kesmas Vol. 3, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Rawajati di Jakarta yang menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan alternatif upaya mengatasi sampah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh sistem tersebut terhadap penurunan berat sampah rumah tangga. Dengan desain studi potong lintang, penelitian ini dilakukan pada sampel 175 ibu rumah tangga yang dipilih secara acak. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat menurunkan berat sampah sebesar 28,3%. Analisis regresi linier ganda memperlihatkan bahwa kegiatan pengelolaan yang berpengaruh terhadap penurunan berat sampah adalah kegiatan reuse, daur ulang, dan pembuatan kompos (nilai-p < 0,05). Pembuatan kompos merupakan variabel yang berkontribusi terhadap penurunan berat sampah 657,3 gram setelah dikontrol variabel perancu. Penurunan berat sampah ditemukan lebih besar pada rumah tangga yang mendapat pelatihan. Tidak ada perbedaan penurunan berat sampah menurut jumlah anggota keluarga, penghasilan rumah tangga, dan pengetahuan ibu. Disarankan agar Pemerintah DKI Jakarta dapat melakukan replikasi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat kepada wilayah lainnya, dengan memberikan pelatihan pengelolaan sampah kepada masyarakat. Kampung Rawajati in Jakarta applies community-based solid waste management system as an alternative way to overcome household waste problem. The objective of the research is to assess the effect of community-based solid waste management on reduction of household waste weight. This study has crosssectional study design and was conducted on 175 housewife as respondent who were selected randomly. The data was collected by interview using structured questionnaire and weighing of household waste. The result shows that the community-based solid waste management can reduce 28.3% of household waste weight (weight before: 1.845 gram/house/day and after: 1.324 gram/house/day). Multiple linear regression analysis shows that variables affecting the reduction of solid waste including re-using activity, recycling, and composting (p-value <0.05). Composting represents the biggest effect to reduction (657.26 gram) after controlled by potential confounders. The reduction was higher among household with waste training and number of trained household member. It was found that number of family member, family income, and mother knowledge are not significant. It was recommended to the Government of DKI Jakarta to replicate this community-based waste management system to other regions by providing training facilities on solid waste management.
Kinerja Sanitarian Puskesmas Ardinal, Ardinal
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program penyehatan air bersih dilaksanakan untuk pemenuhan akses masyarakat terhadap air bersih yang mencakup aspek jumlah dan kualitas. Untuk itu, perlu kerja keras pemegang program penyehatan air, khususnya sanitarian puskesmas yang merupakan ujung tombak pelaksanaan program di puskesmas. Tujuan penelitian ini mendapatkan gambaran kinerja petugas sanitasi Puskesmas dan faktor-faktor yang berperan di Kabupaten Solok Tahun 2007. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam, Diskusi Kelompok Terarah dan observasi, dengan informan sanitarian puskesmas dilanjutkan triangulasi sumber dengan Kepala Puskesmas dan Kepala Bidang PL & PKM Dinas Kesehatan Kabupaten Solok. Kinerja sanitarian puskesmas dalam pelaksanaan program penyehatan air bersih yang rendah terlihat pada cakupan rendah, penyuluhan kurang, pembinaan pokmair kurang, pengawasan air kurang, sistem informasi program tidak jalan. Faktor yang berperan dalam kinerja sanitarian meliputi; kemampuan dan keterampilan kurang, supervisi dari Kabupaten dan Puskesmas kurang; pelatihan sanitarian yg kurang dan tidak sesuai kebutuhan, motivasi sanitarian rendah, imbalan dan dana operasional kurang, beban kerja tambahan, sarana dan prasarana tidak memadai, prioritas program kurang, akses wilayah kecamatan terisolir tidak lancar, serta program air bersih yang belum prioritas. Healthy and hygienic water program is implemented to fulfill public access to hygienic water, not only in quantity but also the quality of hygienic water consumed by public. This study aim is to describe performance of sanitation officer in community health center and factors related in Solok District in 2007. This study used qualitative method by in-depth interview, focus group discussion and observation; informant is sanitation officer in community health center, which was source triangulated with the head of community health center and head of PL and PKM of District Health Office. Low performance of sanitation officer was reflected in low coverage, low frequency of counseling, low frequency of community training, low frequency of water monitoring, information system program was not functioned well. Factors which are important on sanitation officer performance include: less ability and skill of sanitation officer, less supervision of district and community health center head, less training frequency of sanitation officer and the need is not matched, low motivation of sanitation officer, less reward and operational fund, many extra jobs, facility and basic facility are not adequate, less program priority by head of community health center, access to several working areas is not good especially in the isolated subdistrict, and budget policy of District Health Office which is not prioritizing sufficient budget for health and hygienic water program.
Partisipasi Masyarakat Menanggulangi Lingkungan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Rappocini Kota Makasar Syatriani, Sri; Puji, Esse; Susilowati, Andi
Kesmas Vol. 3, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi wabah nasional pada tahun 2006, termasuk Makassar dan beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Jumlah kasus DBD di kecamatan Rappocini tahun 2006 adalah 160 kasus tanpa kematian. Penelitian bertujuan untuk mengetahui berbagai bentuk partisipasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan sehat dalam upaya penanggulangan DBD. Penelitian dilaksanakan di kecamatan Rappocini yang merupakan daerah endemis DBD. Jenis penelitian adalah penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif. Sampel adalah kepala keluarga yang ada di Kelurahan Bonto Makkio dan Kelurahan Gunung Sari sebesar 300 KK. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dari setiap variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat terhadap upaya penanggulangan DBD rendah sebesar 68%. Bentuk partisipasi berupa kebiasaan membersihkan lingkungan, kebiasaan menguras tempat penampungan air, kebiasaan menutup tempat penampungan air, dan kebiasaan menggantung pakaian. Berdasarkan hasil penelitian maka direkomendasikan kebijakan penanggulangan DBD perlu mendapat payung hukum berupa peraturan daerah yang memberikan denda administrasi bagi masyarakat serta membentuk kader pemantau jentik yang berbasis keluarga yang diperankan oleh ibu rumah tangga. Dengue haemorrhagic fever (DHF) has become a national epidemic in 2006, including Makassar and several municipalities in South Sulawesi. DHF patients in 2006 counted 877 patients and 17 people were death (CFR=1.93%). The Prevalence of DHF in Rappocini district at the same year was 160 cases with no mortality case or CFR=0. The objective of this study is to know the forms of community participation in creating healthy environment to combat DHF. This study is conducted in Rappocini district which is a DHF endemic area. This study is observational and descriptive. Sample is family head of population in sub-district of Bonto Makkio and sub-district of Gunung Sari which counted 300 family head. Sample is withdrawn by purposive sampling. Data is analyzed by des-criptive analysis from each variable. The result of the study indicates that the community participation is still low towards the effort of combating DHF (68%). The types of participation include habit to clean environment, habit to drain water container, habit to cover water container, and habit to hang the clothes. This study recommends policy to combat DHF which provide administrative penalty and also forming family-based larva controller group which empowers housewives.
Indonesia Diagnosis Related Groups Rivany, Ronnie
Kesmas Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Amerika dan Australia, Kelompok Diagnosis Terkait (Diagnosis Related Group’s ) (DRGs) adalah suatu cara mengidentifikasi dan mengelompokkan pasien yang mempunyai kebutuhan dan sumber yang sama dirumah sakit berdasarkan alur perjalanan klinis (Clinical Pathway ). Penyakit yang mempunyai co morbidity atau co mortality, disebut Casemixdan mempunyai kode yang memperlihatkan derajat keparahan kelompok penyakit sehingga secara linear akan mempengaruhi besaran biaya perawatan. Dengan demikian, pembayaran perawatan di rumah sakit akan dilakukan berdasarkan “kesembuhan“ (cost of treatment per diagnosis), dan bukan berdasarkan penggunaan pelayanan medis dan non medis (fee for services). Di Indonesia sampai kini belum ada model perhitungan biaya untuk pembayaran perawatan mulai pasien masuk sampai sembuh dan keluar rumah sakit berdasarkan diagnosis (cost of treatment per diagnosis). Pola pembiayaan yang digunakan di rumah sakit masih didasarkan pada fee for services. Dalam bentuk tesis, konsep Indonesia – DRG/ INA –DRG kami kembangkan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengacu pada Australian DRG. In America, and Australian, Diagnosis Related Groups, known as DRGs is a method to identify and classify inpatients that have the same resources within hospitals based on Clinical Pathway. It has numbering/coding system used like a menu for determining the cost. The co morbidity and/or co mortality of a di-sease is called the Casemix, where it has numbering/coding that shows the degree of severity, which the cost linearly increased. Therefore the financing is based on the in-patients’ ”recovery” (cost of treatment per diagnosis), and not based on the utility of the medical and non medical treatments (fee for services). One of the issues arise in Indonesia’s health financing system is that it does not have the costing model for health care financing, for inpatients from ad-mission to discharge (cost of treatment per diagnosis). Therefore the financing system used is based on fee for services. Using Australian DRG as reference, the concept of Indonesia–DRG / INA–DRG is developed by the researcher with Graduate Students in the Public Health and Hospital Administration Program, Postgraduate Studies Faculty of Public Health University of Indonesia, in Thesis.
Kunjungan Rumah Pasca Persalinan, Sebuah Strategi Meningkatkan Kelangsungan Hidup Neonatal Ronoatmodjo, Sudarto
Kesmas Vol. 4, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam beberapa dekade terakhir telah terlihat penurunan angka kematian anak di bawah umur lima tahun. Tetapi, penurunan pada angka kematian neonatal tidak menunjukkan penurunan yang bermakna. Kematian neonatal merupakan komponen penting jika ingin menurunkan angka kematian anak di bawah umur lima tahun. Kematian anak di bawah umur lima tahun merupakan tujuan ke-4 dari Pembangunan Milenium. Pada tahun 2000 sebanyak 130 juta kelahiran, sebanyak 4 juta mati pada masa neonatal, yang ini merupakan 2/3 dari kematian bayi. Dua pertiga kematian neonatal terjadi pada minggu pertama setelah kelahirannya. Dan 99%-nya terjadi di negara berkembang. Konsentrasi waktu terjadinya kematian neonatal mirip dengan waktu terjadinya kematian maternal. Kematian maternal terbesar terjadi saat trimester ke-3 masa kehamilan, masa persalinan dan seminggu setelah persalinan. Maka, intervensi untuk kematian maternal dan kematian neonatal harus dilakukan secara bersama. Bukti telah menunjukkan dengan upaya yang sederhana dengan berbasis masyarakat dapat menurunkan angka kematian maternal dan neonatal secara bermakna. WHO dan UNICEF pada tahun 2009 telah membuat pernyataan bersama, dengan judul: kunjungan rumah pada bayi baru lahir, sebuah strategi untuk meningkatkan kelangsungan hidup neonatal. Ada 7 butir rekomendasi yang perlu diperhatikan oleh negara yang ingin menurunkan angka kematian neonatal. Setiap negara harus mengevaluasi program yang sedang berjalan dan melakukan penyesuaian. The declining of children under five of age mortality has been seen over several decades. But the rate of neonatal death remains stagnant. Neonatal death is crucial if one want to decrease the under five mortality as it has been stated as the fourth goal of the Millennium Development Goals. At year 2000 there were 130 million births, among whom 4 million was died during neonatal period, which was 2/3 from the infant death. Two third of the neonatal death occurred at the first week of life and 99% happen in developing countries. The timing of maternal death mostly occurred at the end of pregnancy, at birth and within one week after delivery. Intervention of maternal and neonatal death should be done simultaneously. Evidence have showed that simple measures on community based approach are able to reduce neonatal and maternal mortality significantly. WHO and UNICEF in 2009 have made joint statement: “Home visits for the newborn child: a strategy to improve survival”. There were 7 points of recommendation that need to be addressed by countries who want to reduce neonatal mortality. Each country should look at the existing program and make necessary changes accordingly.
Potret Kebijakan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Indramayu Peranginangin, Henri; Hasim, Hasim; Pramudya, Bambang; Budiarti, Sri
Kesmas Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah di Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi elemen-elemen prioritas kebijakan pengendalian penyakit DBD di Kabupaten Indramayu menurut pakar berdasarkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan “strategi utama” pengendalian penyakit DBD di Kabupaten Indramayu adalah peningkatan kesehatan lingkungan permukiman; “aktor utama pengendalian” ialah Pemerintah Kabupaten Indramayu; “faktor utama pengendalian” adalah lingkungan; “tujuan utama pengendalian” ialah Kabupaten Indramayu bebas penyakit DBD; dan “kriteria utama pengendalian” adalah jumlah dan mutu sumber daya manusia. Agar implementasi strategi pengendalian itu efektif maka Pemerintah Kabupaten Indramayu perlu meningkatkan kerja sama lintas program dan sektoral; dukungan teknologi, dana dan sarana pendidikan kesehatan lingkungan; mutu layanan Puskesmas; dan pengembangan tim pengendalian penyakit DBD dari tingkat Kabupaten sampai Desa/Kelurahan. Dengue haemorrhagic fever (DHF) still becomes health problem in Indramayu district. The objective of this research is to identify the priority elements of DHF controlling policy in Indramayu district according to 35 experts using analytical hierarchy process (AHP). The result of the research provides information that the “main strategy” of DHF controlling is the improvement of healthy living environment; the “main actor” is the Government of Indramayu district; the “main factor” is the environment; the “main objective” is zero DHF in Indramayu district; and the “main criteria” is the quantity and quality of human resources. Based on this data, in order to implement the main strategy effectively, the Government of Indramayu district should increase the interprogram and inter-institutional cooperation; provide technological, funding, and facilities of environment health education supports; increase the quality of Puskesmas services and develop the DHF controlling team in all administrative level.
Mengenal Rancang Bangun Program Keluarga Harapan Kesehatan Hidayat, Budi
Kesmas Vol. 4, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Indonesia sedang melakukan uji coba program bantuan tunai bersyarat (BTB), yakni Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini memberikan bantuan tunai kepada rumah tangga miskin dengan mensyaratkan mereka melakukan investasi sumber daya manusia. Pelaksanaan BTB di berbagai negara selalu diikuti upaya sistematis untuk mengukur efektivitas dan memahami dampak yang lebih luas dari program pada perilaku rumah tangga. Artikel ini menyajikan bukti nyata bahwa BTB telah meningkatkan kehidupan penduduk miskin. BTB dipuji sebagai cara untuk mengurangi kesenjangan terutama di sejumlah negara Amerika Latin; membantu rumah tangga keluar dari lingkaran setan kemiskinan yang ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya; meningkatkan status kesehatan dan gizi anak, serta membantu negara memenuhi tujuan-tujuan pembangunan millenium. Artikel ini juga mengupas lebih dalam mengenai rancang bangun PKH, termasuk alasan-alasan pengembangan PKH kesehatan serta proses penetapan persyaratan kesehatan. The Government of Indonesia is testing a conditional cash transfer (CCT) program, e.g., Family Hope Program. This program provides money to poor households conditional on investments in human capital. CCTs implementation in various countries has been followed by systematic efforts to measure their effectiveness and understand their broader impact on households’ behavior. The article shows empirical evidence that CCTs have improved the lives of poor people. CCTs have been hailed as a way of reducing inequality, especially in Latin America countries; helping households break out of a vicious cycle whereby poverty is transmitted from one generation to another; promoting child health and nutrition; and helping countries meet the Millennium Development Goals. This article explores more deeply on the design of the Indonesian CCT program, including the reasons for the development of CCT health and health conditionalities determination process.
Efektivitas Program Fortifikasi Minyak Goreng dengan Vitamin A terhadap Status Gizi Anak Sekolah di Kota Makasar Achadi, Endang; Arifah, Siti; Muslimatun, Siti; Anggondowati, Trisari; Setiarini, Asih
Kesmas Vol. 4, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, kekurangan Vitamin A masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting seperti terlihat pada balita penderita vitamin A defisiensi subklinis yang tinggi (50%). Hal tersebut akan berpengaruh terhadap berbagai fungsi tubuh yang antara lain meliputi sistem imun, penglihatan, sistem reproduksi dan diferensiasi sel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi konsumsi minyak yang diperkaya vitamin A dalam memperbaiki status vitamin A dan hemoglobin balita. Penelitian dengan disain studi intervensi Before-After ini dilaksanakan pada anak sehat berusia 7-10 tahun yang diberi obat cacing sebelum intervensi dilakukan. Pengukuran serum retinol dan hemoglobin dilakukan sebelum dan 3 bulan setelah intervensi . Minyak yang difortifikasi vitamin A telah disediakan di warung/ toko di sekitar tempat tinggal responden. Untuk meningkatkan demand, penelitian ini dilengkapi dengan pendekatan pemasaran sosial yang dilakukan pihak lain. Secara umum tidak terlihat perubahan status gizi, tetapi prevalensi anemia turun dari 21,8% menjadi 11,6%. Sementara, prevalens vitamin A defisiensi ditemukan lebih rendah pada anak yang mengkonsumsi ³12 minggu (26,6%) daripada yang mengkonsumsi < 12 minggu (42%) . Hasil tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk merekomendasikan agar minyak difortifikasi vitamin A. Vitamin A deficiency (VAD) remains as one of significant public health problems in Indonesia. Around 50% of under five children are suffering from subclinical VAD. Deficiency of vitamin A will affect several important role in the body, such as immune system, vision, reproductive system and cell differentiation. Therefore, guarding Indonesian children to be free from VAD is crucial for their quality as Human Resources. We assessed the impact of the consumption of vitamin A fortified cooking oil on the improvement of vitamin A and hemoglobin status among school children in urban slum area in Makassar City. The study was an intervention design Before-After. Healthy school children 7-10 years were selected from schools and de-wormed before the intervention. Serum retinol and hemoglobin was measured at baseline and at 3 months after. Fortified oil was made available through distribution at shops and accompanied with social marketing. Eventhough overall there was no change in VAD prevalence, the VAD prevalence is lower among children who consumed fortified oil ³12 weeks (26.6%) compared to those who consumed <12 weeks (42%). Prevalence of anemia decreased from 21.8% to 11.6%. We recommended that fortified oil is made mandatory.
Kampanye dan Penggunaan Garam Beryodium di Desa Leuwiliang, Jawa Barat Anggorodi, Rina
Kesmas Vol. 5, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2002, sekitar 71,8% masyarakat Kabupaten Bogor mengonsumsi garam beryodium dengan kategori cukup yang jauh di bawah target Universal Salt Iodization (USI) > 90%. Penelitian dilakukan terhadap 39 informan para ibu bekerja dan tidak bekerja yang tinggal dan tidak tinggal dengan orang tua, petugas kesehatan, kader, ibu PKK, pedagang sembako yang ada di pasar dan warung di wilayah Kecamatan Leuwiliang. Informan yang tinggal dengan orang tua cenderung memilih garam curah karena orang tua menyukai garam tersebut. Sebaliknya, informan yang tinggal sendiri memilih garam beryodium tanpa dipengaruhi orang tua. Sementara, informan dengan tingkat pendidikan SMA dan D3 segera mengubah perilaku menggunakan garam beryodium. Ketersediaan garam dan daya beli masyarakat sudah baik. Peran kampanye garam beryodium bagi informan yang tinggal dengan orang tua cenderung memilih garam curah karena orang tua menyukai penggunaan garam tersebut. Sebaiknya informan yang tinggal sendiri memilih garam beryodium tanpa dipengaruhi orang tua. Pesan dalam kampanye mudah dimengerti, sehingga sampai kini masih diingat oleh para informan. Dalam penggunaan garam beryodium, informan tidak dipengaruhi umur dan pekerjaan, tetapi oleh pendidikan. Ketersediaan garam dan daya beli masyarakat sudah baik. In 2002, about 71.8% of community at District of Bogor consumed iodized salt at adequate category. This figure is far beyond the target of Universal Salt Iodization (USI), i.e.>90% of households consume high concentrate iodized salt. If the salt consumed fulfills the requirement it will minimize the problem of swollen goitre glands in the community. The study used qualitative method. Data were obtained through in-depth interview, focus group discussion, and iodized salt to test. There were 39 informers that consisted of mothers either having an occupation or not who lived or did not live with their parents, providers, cadres, family welfare and empowerment, sellers of daily living necessities in the market or stalls at Subdistrict of Leuwiliang. In general there was a difference between informers living with their parents and those living separately, either in those who worked or did not work. Informers living with their parents tended to choose salt in bricket because the parents liked it. Meanwhile informers living away from parents chose iodized salt without the influence of their parents. All informers said that the message was communicative and clearly delivered. There was no difference in behavioral changes based on age and occupation. There were informers with elementary or junior high school education found it difficult to change their behavior. Whereas informers with senior high school or diploma 3 education soon changed their behavior by consuming iodized salt after watching the campaign. Availability of salt and purchasing power of the community were relatively good. There was no special socialization about iodized salt conducted by providers. Informers living with their parents tended to choose salt in bricket because their parents liked it; on the other hand, informers living away from their parents preferred iodized salt without the influence of their parents. The message in the short campaign was memorable so that informers still remembered it. Behavioral changes of the informers in using iodized salt were not affected by age and occupation but by education. Availability of iodized salt and purchasing power of the community were relatively good.
Pengetahuan Gizi dan Kadar Hemoglobin Anak Sekolah Dasar Penderita Anemia setelah Mendapatkan Suplementasi Besi dan Pendidikan Gizi Zulaekah, Siti; Widajanti, Laksmi
Kesmas Vol. 5, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan utama yang diderita 26,5% anak usia sekolah dan remaja di Indonesia. Dengan pendidikan gizi pada anak anemia di Sekolah Dasar diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan gizi dan pola makan sehingga akan meningkatkan asupan besi dan kadar hemoglobin. Penelitian ini bertujuan mempelajari efek suplementasi besi dan pendidikan gizi terhadap pengetahuan gizi dan kadar hemoglobin anak SD yang anemia. Desain penelitian ini Quasy experiment with pretest post test control group. Penelitian dilakukan pada 107 sampel yang dibagi menjadi tiga kelompok. Pengolahan data dilakukan dengan One Way Anova dan Kruskal Wallis Test untuk uji beda. Hasil penelitian menunjukkan kadar hemoglobin dan pengetahuan gizi pada ketiga kelompok mengalami peningkatan. Peningkatan kadar hemoglobin terbesar pada kelompok suplementasi besi, vitamin C dan pendidikan gizi (2,89 poin), sedangkan peningkatan pengetahuan gizi terbesar pada kelompok suplementasi vitamin C dan pendidikan gizi (17,44 poin). Ada perbedaan bermakna perubahan pengetahuan gizi dan kadar hemoglobin anak SD yang anemia sebelum dan sesudah intervensi pada ketiga kelompok intervensi. Disimpulkan Pendidikan gizi dipadukan dengan pemberian suplementasi besi dan vitamin C pada anak anemia akan memberikan hasil kenaikan kadar hemoglobin yang paling signifikan daripada pendidikan gizi atau suplementasi saja. Anemia is the major health problem for 26,5 % of the school children and teenagers in Indonesia. It is expected that by giving nutrition education to the anemic school age children, their nutritional knowledge and their diet pattern improve. Their better food intake especially higher iron intake will then increase their hemoglobin levels. The study was conducted to investigate the effect of iron supplementation and nutrition education on hemoglobin levels of the anemic school age children. This study was a quasy experimental research with a pretest post test control group design. The research was conducted on 107 subjects who were divided into three groups. Result shows level of hemoglobin and the nutrition knowledge of the three groups were all increased. The group who received iron, vitamin C and nutrition education had the highest increase in their hemoglobin level (2.89 point). The group who received vitamin C and nutrition education had the highest improvement in the score of nutrition knowledge (17.4 point). All of the groups had significantly higher hemoglobin level after the intervention. The combination of nutrition education with iron and vitamin C supplementation improved the hemoglobin levels of the anemic school children better than nutrition education or supplementation in isolated provision.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue