cover
Contact Name
Sayono
Contact Email
say.epid@gmail.com
Phone
+628122545186
Journal Mail Official
say.epid@gmail.com
Editorial Address
Ruang 408 Lantai 4 Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmudu Raya No.18 Semarang, 50273
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : 16933443     EISSN : 26139219     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia publishes scientific articles of research results in the field of public health in scope: Health policy and administration Public health nutrition Environmental health Occupational health and safety Health promotion Reproductive health Maternal and child health Other related articles in public health
Articles 259 Documents
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI DESA PESUCEN, BANYUWANGI Ikhya’ Ulumuddin; Yogi Yhuwono
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 13. No. 1. Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.049 KB)

Abstract

Latar belakang: Usia lansia merupakan usia yang dianggap paling banyak menderita hipertensi yang disertai dengan obesitas. Berdasarkan data dari Puskesmas Kelir yang mencakup Desa Pesucen sebagai wilayah kerjanya, penyakit tekanan darah tinggi merupakan penyakit terbesar pada tahun 2016. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan indeks massa tubuh dengan tekanan darah pada lansia di Desa Pesucen, Banyuwangi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan 202 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji statistik korelasi spearman dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil: Indeks massa tubuh dengan kategori obesitas memiliki proporsi tertinggi dengan persentase sebesar 37,6%. Pada pengukuran tekanan darah sistol dan diastol didapatkan hasil yang fluktuatif pada setiap kategori. Nilai hubungan antara indeks massa tubuh pada lansia di Desa Pesucen dengan tekanan darah sistol (p = 0,029 ; r = 0,154), (p < α = 0,05) dan tekanan darah diastol (p = 0,009 ; r = 0,183), (p < α =0,01).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan tekanan darah sistol maupun diastolik, namun dengan kekuatan hubungan yang lemah. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, Tekanan Darah, Lansia
EVALUASI IMPLEMENTASI KARTU OBSERVASI BAHAYA Suryatno S
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 2. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.025 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i2.2385

Abstract

Hazard Observation Cardis tool to assist of inspection process of potensial hazard to employee. Causes of accidents are 88% due to unsafe behavior, 10% due to unsafe condition and 2% unknown cause. Implementation hazard observation card program is behavior shape of safety culture to effort prevention and controlling accident risk.Porpose :to evaluate implementation quality of hazard observation cardat MontDOr Oil Tungkal Ltd. Method :this quantitative of research is apply with survey method and cross-sectional design. Independent variable are education, work period and position. The dependent variable is implementation quality of hazard observation card. Sample research are staff and non-staff employees of MontD'Or Oil Tungkal Ltd with 67 respondents. Analysis data using Kruskal-Wallis and Mann whiteney test.Result : The most study of respondents are Senior High School (52.2%), the most work period of respondents are ? 5 years (64,2%), the most position of respondents are non staff (70.1%). Relationship test between education and implementation quality of hazard observation card obtained p-value 0.008, relationship testbetween work period and implementation quality of hazard observation card p-value0.507 and relationship test between position and implementation quality of hazard observation card p-value 0,001. Conclusion : implementation quality of hazard observation cardrelated with study and position.
HUBUNGAN HIGIENE PERORANGAN, SANITASI LINGKUNGAN DANRIWAYAT KONTAK DENGAN KEJADIAN SKABIES ; Toto Suyoto Ismail
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 1. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.324 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i1.2376

Abstract

Background:. Scabies is a skin disease caused by mitesSarcotes scabieivariantHominis.Transmission occurs due to personal hygiene habits consisting of bath, ablution habits, usage habits and customs dressed toiletries, sanitary environment and contact history. these conditions are found within the traditional boarding school.Methods: This case-control study carried out at mukim sntri in Pondok Pesantren Al Itqon, apopulation of as many as 66 cases of scabies and control santriyang experience sebnyak 66 healthy students. Dileti risk factors are personal hygiene habits consisting of bath, ablution habits, usage habits and customs dressed toiletries, sanitary environment and history of contact Results: personal hygiene comprising, bath appliance usage habits and customs of dressassociated with the incidence of scabies (respectively p 0.005, 0.000, 0.008) bathing habits, customs and history ablution berhubungna not contact with the incidence of scabies (respectively p 0.222, 0.379, 0.080).Conclusion: personal hygiene, which consists of the use of a custom shower and dress habitsare risk factors for the incidence of scabies with OR (2.934. 6,500. 2,734).
Faktor determinan keberadaan larva nyamuk Aedes di daerah endemis demam berdarah dengue Sri Wahyuni
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 13. No. 2. Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.49 KB)

Abstract

Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis, belum ada obat antivirus, dan pengendalian nyamuk Aedes aegypti menjadi tindakan andalan dalam pencegahan transmisi. Keberadaan larva Aedes di pemukiman menjadi indikator keberhasilan pencegahan. Tujuan: Untukmengetahui faktor penentu keberadaan larva Aedes aegypti di pemukiman daerah endemis DBD di Kota Semarang. Metode: Penelitian cross sectional kuantitatif ini mengamati 200 rumah di lima kelurahan endemis DBD di Wilayah Puskesmas Kedungmundu, yaitu Sendangguwo, Tandang, Kedungmundu, Mangunharjo, dan Sendangmulyo. Keberadaan larva Aedes pada tendon air bersih di lingkungan rumah diamati pada 20 rumah dalam radius 50meter dari kasus DBD terakhir. Data karakteristik (jenis, jumlah, warna, keberadaan penutup, letak) tandon air, jenis sumber air, pH air, dan kondisi air diobservasi, sedangkan praktik pemberantasan sarang nyamuk (PSN) diperoleh melalui wawancara dengan pemilik rumah. Data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil:Larva Aedes ditemukan pada 65 dari 200 rumah dan 86 dari 563 tandon air sehingga House index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI), dan angka bebas jentik (ABJ) masing-masing sebesar 32,5%, 15,3%, 43,0%, dan 67,6%. Dua spesies nyamuk teridentifikasi, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Keberadaan jentik pada tandon air terkait dengan jumlah tandon tiap rumah, keberadaan penutup, kondisi air, dan praktik PSN keluarga. Secara multivariat, kondisi air (p=0,000; OR=7,153), keberadaan penutup (p=0,005; OR=2.513), dan praktik PSN (p=0,000; OR=17,036) berhubungan signifikan dengan keberadaan jentik pada tendon air. Kesimpulan:Potensi penularan DBD di Kota Semarang masih tinggi. Partisipasi masyarakat dalam PSN 3M plus diperlukan untuk mereduksi kepadatan larva Aedes di lingkungan pemukiman. 
TEKNIK SELOTIF-ENTELLAN DAPAT MENGAWETKAN TELUR Enterobius vermicularis (E. vermicularis) DALAM PREPARAT PERMANEN SELAMA 8 TAHUN Didik Sumanto; Sayono Sayono; Puji Lestari Mudawamah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.619 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4788

Abstract

Latar belakang: Pengolahan parasit menjadi awetan permanen merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan morfologi parasit agar memudahkan pembelajaran identifikasi parasit. Enterobiasis sudah menjadi penyakit yang diabaikan, namun kasusnya masih sering ditemukan. Stadium telur menjadi penting dalam penegakan diagnosis enterobiasis. E. vermicularis memiliki telur berdinding dua lapis dari bahan protein yang mudah rusak. Pengolahan spesimen telur cacing yang kurang tepat menyebabkan kerusakan morfologinya dan awetan tidak akan bertahan lama. Tujuan: mengetahui daya tahan telur E. vermicularis dalam awetan permanen selotif-entellan. Metode: Spesimen telur cacing diambil dari daerah perianal penderita menggunakan periplaswab dengan metode Graham scotch tape. Selotif berisi telur cacing dipotong dan ditempelkan pada kaca obyek. Proses mounting dilakukan dengan entellan di atas selotif dengan kaca penutup. Pengamatan dilakukan setiap tahun selama 8 tahun dengan melihat morfologi dan jumlah telur yang masih utuh dalam awetan. Hasil: morfologi telur E. vermicularis masih utuh dan bertahan selama 8 tahun dalam awetan selotif entellan. Dari tahun ke tahun tidak ada satupun telur yang mengalami kerusakan ataupun pecah. Jumlah telur sejak tahun pertama pengamatan hingga tahun ke 8 masih tetap sama. Perubahan warna terjadi pada bagian dalam telur. Saat awal pengambilan spesimen apus perianal, bagian dalam telur berwarna agak kehijauan. Paparan entellan dalam awetan mengubah warna sel telur yang semula kehijauan menjadi pucat transparan sejak tahun pertama pada bulan kedua pengamatan.
PENGARUH KEDALAMAN MENYELAM, LAMA MENYELAM, ANEMIA TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT DEKOMPRESI PADA PENYELAM TRADISIONAL Halena Isrumanti Duke; Sri Rahayu Widyastuti; Suharyo Hadisaputro; Shofa Chasani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 12. No. 2. Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.847 KB)

Abstract

Latar Belakang:Penyakit dekompresi adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan akibat penurunan tekanan dengan cepat di sekitarnya. Faktor-faktor yang diduga meningkatkan dekompresi adalah kedalaman menyelam, lama menyelam, dan anemia.Tujuan :Untuk menjelaskan besarnya pengaruh kedalaman menyelam, lama menyelam, anemia terhadap kejadian penyakit dekompresi pada penyelam tradisional. Metode :Penelitian mix methode desain studi kasus kontrol yang diperkuat dengan  indepth interview ini dilakukan terhadap 46 responden, meliputi 23 kasus (penyelam tradisional penderita penyakit dekompresi) dan 23 kontrol (penyelam tradisional bukan penderita penyakit dekompresi) yang diambil secara purposive sampling. Instrument penelitian adalah  kuesioner wawancara. Analisis data secara univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (logistic regression).Hasil :Kedalaman  menyelam  ≥ 30 meter (OR = 6,62; 95% CI = 1,059 – 41,390, p<0.043), lama menyelam ≥ 2 jam (OR = 61,680; 95% CI = 3,687 – 1031,93, p<0.004) dan anemia (OR = 14,453, 95% CI = 2,146-97,346, p<0.006) berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi.Kesimpulan :Kedalaman  menyelam ≥ 30 meter, lama menyelam  ≥ 2 jam, dan anemia berpengaruh terhadap kejadian penyakit dekompresi dengan probabilitas 94,45%.
KEBERADAAN TELUR CACING USUS PADA KUKU DAN TINJA SISWA SEKOLAH ALAM DAN NON ALAM Divin Rowardho; Toto Suyoto Ismail
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 2. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.755 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i2.2381

Abstract

Background: In Indonesia, helminthiasis prevalens especially of soil transmitted helminths (STH) is still high. Natural based school takes natural environment as classroom dan laboratory, and uses outbond as character building method. In contrast to non-natural school, that spends 60% of their learning time in classroom. Objective: This research determines any risks of the intestinal helminth eggs exposure in nails and feces of natural and non-natural of elementary school students. Method: This research is explanatory research with Cross Sectional design and survey method. Data obtained by interview and intestinal helminth eggs check in nails and feces. Samples were taken from two schools is as many as 47 student. Independent variables are activity, condition of nails, and habits of helmintic medicine. Then, dependent variable is existence of the intestinal helminth eggs. This research used Chi-Square in data analysis. Results: As many as 29,8% of total samples were found the intestinal helminth eggs in feces. Whereas in nail check, was found the intestinal helminth eggs as many as 12,8%. There were correlation between the nails condition and the intestinal helminth eggs in nails (p = 0,006 OR: 17,778) and (p = 0,000 OR: 18,125) in feces and helminitic medicine and the intestinal helminth eggs (p = 0,043 OR: 1,560), while sex is not associated with the intestinal helminth eggs in nails (p = 0,221 OR: 0,232) and in feces (p = 0,347 OR: 0,425). Conclusion: Existence of the intestinal helminth eggs in nails and feces is more determined by nail conditions that are not particularly clean.
Determinan Keberadaan Jentik di Wilayah Pedesaan Endemis Demam Berdarah Dengue Vivi Akhiriyanti; Wahyu Handoyo
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 2. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.264 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.14.2.2019.24-28

Abstract

Latar belakang: Keberadaan jentik di lngkungan rumah dipengaruhi oleh faktor fisik, biologi, kimia dan perilaku. Tujuan: Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik dan spesies nyamuk yang ditemukan di wilayah endemis DBD. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cros sectional. Metode: sampel sebanyak 90 rumah yang diambil dari 15 rumah disekitar 6 kasus DBD dan karakteristik tempat perindukan dan perilaku PSN. Dilakukan identifikasi spesies dengan metode single larva. Hasil: berdasarkan uji statistik, tidak terdapat hubungan antara letak tempat perindukan (p=0,71) dan keberadaan penutup (p=0,245) dengan keberadaan jentik. Terdapat hubungan antara jenis tempat perindukan (p=0,008), keberadaan predator (p=0,009), warna dinding (p=0,030), kadar pH (p=0,000), kadar TDS (p=0,044) dan perilaku PSN (p=0,000) dengan keberadaan jentik. Spesies yang ditemukan yaitu aedes aegypti (77,8%), aedes albopitus (13,3%), dan culex gellidus (8,9%). Kesimpulan: faktor yang mempengaruhi keberadaan jentik meliputi jenis tempat perindukan, keberadaan predator dan perilaku PSN.
RISIKO RIWAYAT PAJANAN PESTISIDA TERHADAP UKURAN TUBUH BAYI BARU LAHIR Dayu Yunita Putri; Ratih Sari Wardani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 1. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.446 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i1.2371

Abstract

Background : Brebes Regency in the highest of utilizing pesticides in Indonesia. But theoverwhelming utilizing pesticides have potentially for causing many adverse effects which can make damage for the human health and the environment, especially for the pregnant women who work and live in that area. Pesticides exposure potentially make some adverse effect for fetal growth during the pregnancy and causing the abnormal of pregnant outcome such as head circumference, birth length and birth weight are less than the normal standard.Method: This type of research was explanatory and used cohort retrospective apporoach.The samples of this research consist of 60 gave birth mothers from three different villages in Tanjung District there were Tanjung, Lemahabang and Sengon. The independent variables were risk of pesticides exposure, times of work and periods of work. The dependent variables were the new born baby body size consist of head circumference, birth length and birth weight. Data analyzed by Chi Square, independent sample t test and Mann Whitney.Result: There was no correlation between the risk of pesticides exposure history and headcircumference p=0,068 but there was significant difference of head circumferences average in exposure and not exposure group p=0,016. There was no correlation between risk of pesticides exposure history and birth length p=0,103, but there was significant difference of birth length average in exposure and not exposure group. There was significant difference of birth weight average in exposure and not exposure group p=0,019. There was no correlation between times of work and head circumference p=0,288. There was no correlation between times of work and birth length p=0,088 and also there was no significant difference of birth weight in exposure and not exposure group p=0,278. This research also reveal there was no correlation between period of work and head circumference p=0,288. There was no correlation between period of work and birth length p=0,088 and also there was no significant difference of birth weight in exposure and not exposure groups p=0,278.Conclusion: There were no correlation between risk of pesticides exposure history and headcircumference, birth length and birth weight. There were no correlation between times of work and head circumference, birth length and birth weight. There were no correlation between period of work and head circumference, birth length and birth weight, but this research reveal there were significant difference of head circumference and birth weight in exposure and not exposure groups.
Penderita Hipertensi Dewasa Lebih Patuh daripada Lansia dalam Minum Obat Penurun Tekanan Darah Istianna Nurhidayati; Afri Yuli Aniswari; Arlina Dhian Sulistyowati; Sutaryono S
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 13. No. 2. Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.568 KB)

Abstract

Latar Belakang: Perilaku penderita hipertensi dalam program pengobatan secara rutin dan teratur dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan dan kurang patuh yang dapat disebabkan oleh. Penderita hipertensi belum megikuti program pengobatan hipertensi, disebabkan oleh budaya responden itu sendiri yang sudah melekat sejak lahir sehingga sangat sulit sekali untuk dihilangkan. Tujuan: Untuk mengetahui komparasi kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa dan lansia dalam pengendalian tekanan darah di UPT Puskesmas Patuk I Kabupaten Gunungkidul. Metode: Desain penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional Jumlah sampel yang diambil sejumlah 85 orang dengan cara pengambilan accidental sampling. Hasil: Responden dewasa (56,6%), jenis kelamin perempuan (61,2%), pendidikan SD (56,5%), pekerjaan buruh (48,2%), lama menderita  1-2 tahun (60%) dan keanggotaan BPJS (100%). Kepatuhan berobat penderita dewasa (41,2%) lebih tinggi dari kelompok lansia (29,4%). Ada hubungan antara kepatuhan berobat penderita hipertensi dengan kelompok usia responden (p =0,027). Kesimpulan: Kepatuhan berobat kelompok umur dewasa lebih tinggi dari usia lansia, dengan rasio prevalensi 81,4%:59,5%.

Page 2 of 26 | Total Record : 259