cover
Contact Name
Sayono
Contact Email
say.epid@gmail.com
Phone
+628122545186
Journal Mail Official
say.epid@gmail.com
Editorial Address
Ruang 408 Lantai 4 Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang Jl. Kedungmudu Raya No.18 Semarang, 50273
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia
ISSN : 16933443     EISSN : 26139219     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia publishes scientific articles of research results in the field of public health in scope: Health policy and administration Public health nutrition Environmental health Occupational health and safety Health promotion Reproductive health Maternal and child health Other related articles in public health
Articles 259 Documents
PERKEMBANGAN KASUS HIV DI KOTA SEMARANG : TINJAUAN KARAKTERISTIK DAN ASPEK LINGKUNGAN Lenci Aryani; Ratih Pramitasari
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 13. No. 1. Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.687 KB)

Abstract

Latar belakang: Kasus HIV saat ini menjadi masalah kesehatan terbesar di dunia. Penularan HIV dapat ditularkan berbagai cara. HIV Global UNAIDS 2012 mengemukakan bahwa kasus penderita HIV di dunia mencapai 34 juta orang. Metode: Jenis penelitian diskriptif dengan tujuan untuk mencatat, mendeskripsikan, menganalisis dan menginterprestasikan kondisi yang terjadi pada saat ini. Sampel penelitian ini menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Semarang Tahun 2018.  Hasil: Kasus HIV terbanyak pada tahun 2017 mengalami peningkatan kasus HIV yaitu sebesar 523 penyakit dan tahun 2018 mengalami penurunan kasus sebesar 149 penyakit. Karakteristik responden pada jenis kelamin lebih tinggi penderita laki-laki sebesar 92 kasus pada laki-laki dan 57 kasus pada perempuan sedangkan  pada kelompok risiko paling tinggi terdapat pada pelanggan pekerja seksual sebesar 31% dan paling sedikit terdapat pada kelompok pria pekerja seksual yaitu sebesar 1%. Tingkat penyebaran kasus di pelayanan kesehatan mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya sebesar 0,1% yaitu sebesar 1,8% dan pada kelompok lingkungan berisiko rerata paling tinggi pada kelompok pelanggan perilaku seksual yaitu sebesar 90 kasus sedangkan rerata paling rendah pada kelompok pria pelaku seksual sebesar 1 kasusHIV positif.Kesimpulan: Penyebaran kasus HIV terbanyak terdapat pada kelompok pelanggan perilaku seksual yaitu rerata kasus sebesar 90 kasus.  Kata kunci: HIV, Lingkungan, Semarang
PENGARUH SENAM ASMA TERHADAP FUNGSI PARU (KVP & FEV1) PADA WANITA ASMA DI BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT (BKPM) SEMARANG Vironica Dwi Permatasari
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 2. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.579 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i2.2386

Abstract

Background: The number of people with asthma in the Community Lung Health Center (BKPM) Semarang there are as many as 851 people in 2010, then in 2011 increased to 1,537 patients. This study aims to determine the effect of gymnastic exercises on pulmonary function (FEV1 & KVP) in women with asthma. Methods: The study was a quasi experiment. The study design was a pretest-posttest reapeted.Population in this study were women with asthma were 35. Samples of this study were women with asthma as much as 33 people. The sampling technique used was purposive sampling. Results: KVP before gymnastics asthma in asthmatic women mostly normal by 48.5%. KVP 4x asthma after exercise in women with asthma are mostly normal by 51.5%. KVP 8x asthma after exercise in women with asthma are mostly normal total of 57.6%. FEV1 before exercise asthma asthma in women mostly normal by 45.5%. FEV1 after exercise in women with asthma asthma 4x mostly normal by 60.6%. FEV1 after exercise in women with asthma asthma 8x mostly normal by 60.6%. There is a difference KVP before and after exercise in women with asthma asthma 4x in Community Lung Health Center (BKPM), Semarang (p value = 0.000). There is a difference KVP beforeand after exercise in women with asthma asthma 8x in Community Lung Health Center (BKPM) Semarang (p value = 0.000). There is a difference in FEV1 before and after exercise in women with asthma asthma 4x in Community Lung Health Center (BKPM), Semarang (p value = 0.000). There is a difference in FEV1 before and after exercise in women with asthma asthma 8x in Hall Lung Health Society (BKPM), Semarang (p value = 0.000). Conclusion: Gymnastics asthma affect the increase in KVP and FEV1
PENGARUH KETERATURAN KONSUMSI TEH MANIS TERHADAPKELELAHAN PEKERJA (STUDI DI PABRIK TAHU ECO KELURAHAN JOMBLANG KECAMATAN CANDISARI KOTA SEMARANG) Nur Zaini Rohman; Rahayu Astuti; Ulfa Nurullita
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 1. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.821 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i1.2389

Abstract

Background. The temperature of the working environment in the industry know very high ECObetween 36-500C such conditions can cause the appearance of sweat, the perspiration contained salt sodium chloride coming out along with the sweat that inhibits the transport of glucose in the body and cause the onset of muscle contraction. In the event of muscle contraction, the glycogen is converted into lactic acid that may hamper the work of muscles causing fatigue. With the granting of an additional drink regularly with carbohydrates very well to prevent the occurrence of fatigue caused by lack of fluids. Sweet tea is a drink containing carbohydrates are produced from the sugar content can be useful as an additional source of energy.. Purpose: To knowing the influence of granting sweet tea on a regular basis to the level of exhaustion factory worker knew ECO Village of Jomblang Sub-district Candisari Semarang. Methods: Type this research is specious experiment ( quasi experiment ) with delightful research before and after one group (one group before and after design). The variable independent granting tea sweetened and dependent variable the rate of fatigue work. Results: The rate of fatigue before work on the control group of 265.071 milli/sec and on the groups treatmen of 267.714 milli/sec. The rate of fatigue after work on control group of 407.062 milli/sec and on the groups treatmen of 220.062 milli/sec. The average rate of change fatigue in the control group of 2.643 milli/sec and average rate of change fatigue on the Group's treatment of -187.000 milli/sec to the value of p = 0.000 (p<0.05). Conclusion: There is a any influence granting tea sweetened the fatigue rate change.
Kecacingan sebagai Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Anak Estianingsih Eka Pratiwi; Liena Sofiana
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 2. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.857 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.14.2.2019.1-6

Abstract

Latar belakang. Anemia adalah kondisi dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal (<12gr%). Anemia tidak hanya disebabkan oleh defisiensi zat besi tetapi juga infeksi seperti malaria, kecacingan dan lain-lain. Cacing yang menempel pada dinding mukosa usus akan meyerap darah dan zat-zat gizi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan pada anak. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan infeksi kecacingan dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar. Metode. Jenis penelitian ini adalah Cross sectional, teknik pengambilan sampel adalah totality sampling dengan jumlah sampel 81 siswa. Pengambilan sampel dilakukan di SD Muhammadiyah Gendol IV, Sleman dan pemeriksaan feses dilakukan di Laboratorium Parasitologi Universitas Gadjah Mada menggunakan metode Kato-Katz serta pemeriksaan kadar Hb menggunakan metode Hb meter. Hasil. Dari 81 siswa yang diperiksa 5 siswa (6.17%) yang mengalami anemia dan positif kecacingan, siswa yang mengalami anemia dan negatif kecacingan sebanyak 22 siswa (27.16%), 4 siswa (4.94%) tidak mengalami anemia tetapi terinfeksi kecacingan, dan sisanya 50 siswa (61.73%) tidak mengalami anemia dan negatif kecacingan. Hasil uji Fisher exact menunjukkan nilai rasio prevalensi (RP) = 1.818. Kesimpulan.  Infeksi kecacingan berisiko 1.8 kali lebih besar terhadap kejadian anemia.
POLIMORFISME GEN CYP1A1 SEBAGAI FAKTOR RISIKO KANKER PARU PADA PEKERJA PELAPIS LOGAM Yuliani Setyaningsih; Mutmainnah Mutmainnah
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 1. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.692 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v14i1.4789

Abstract

Latar Belakang:  Pekerja  pelapisan kromium memiliki risiko 2-80 kali lipat terkena kanker paru. Patogenesis kanker paru tidak lepas dari peranan gen yang berperan dalam metabolisme karsinogen Gen yang berperan dalam metabolisme karsinogen adalah CYP1A1. Polimorfisme gen CYP1A1 dapat menyebabkan kanker paru karena enzim tersebut merupakan enzim kunci dalam aktivasi prokarsinogen tembakau dan bahan-bahan kimia lain. Metode: Jenis penelitian explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposif sebanyak 66 orang pada pekerja pelapis logam di kecamatan Talang kabupaten Tegal. Variabel independen yang diamati meliputi jenis pekerjaan, kebiasaan merokok dan umur sedangkan variabel dependennya adalah polimorfisme gen CYP1A1. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 2 genotip polimorfisme m1 gen CYP1A1 pada tiap kelompok yaitu genotip homozigot varian (m1/m1) dan homozigot wild type (w1/w1). Selain itu juga ditemukan 2 genotip polimorfisme m2 gen CYP1A1 pada tiap kelompok  yaitu genotip homozygot varian (m2/m2) dan homo zygot wild type (w2/w2). Uji beda polimorfisme gen CYP1A1 m1 dan m2 ini menunjukkan hasil yang berbeda bermakna antara kelompok paparan kromium tanpa merokok dan kelompok paparan kromium dengan merokok. Kelompok dengan paparan kromium dan merokok lebih berisiko membawa alel varian dibandingkan alel wild tipe. Kesimpulan: Terdapat polimorfisme gen CYP1A1 pada pekerja pelapis logam yang terpapar kromium dan merokok. Individu dengan paparan kromium dan merokok berisiko memiliki genotip varian gen CYP1A1.
INDIKATOR PENCEMARAN UDARA BERDASARKAN JUMLAH KENDARAAN DAN KONDISI IKLIM (Studi di Wilayah Terminal Mangkang dan Terminal Penggaron Semarang) Irma Dita Kurniawati; Ulfa Nurullita; M Mifbakhuddin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 12. No. 2. Tahun 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.941 KB)

Abstract

Latar Belakang : Salah satu penyebab pencemaran udara adalah meningkatnya jumlah kendaraan di Indonesia. Jumlah kendaraan di Indonesia tahun 2016 mencapai 124.215 juta unit, naik 10-15 %. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pencemaran udara merupakan faktor risiko gangguan kesehatan terbesar di dunia, diperkirakan data  tahun 2016 sekitar 6,5 juta orang meninggal tiap tahun akibat paparan polusi udara. Faktor yang berhubungan dengan konsentrasi pencemar udara adalah jumlah kendaraan, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, hujan, dan topografi.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan jumlah kendaraan dan kondisi iklim dengan konsentrasi CO, mengukur konsentrasi SO2 dan NO2 di Terminal Mnagkang dan Terminal Penggaron Semarang. Metode:Jenis penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Obyek dan sampel penelitian yaitu udara di lokasi penelitian diukur dalam kurun waktu 1 jam. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jumlah kendaraan, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin, sedangkan variabel terikat adalah konsentrasi karbon monoksida. Analisis data menggunakan korelasi person dan rank spearman. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar kendaraan tidak padat(65,0%) dengan nilai p 0,000, sebagian besar suhu udara rendah(55,0%) dengan nilai p 0,221, kelembaban udara tinggi(100%) dengan nilai p 0,006, dan kecepatan angin tenang(100%) dengan nilai p 0,597. Hasil ukur di Terminal Mangkang SO2 <27,8 g/Nm3 dan NO2 28,9 g/Nm3, di Terminal Penggaron SO2 <27,3 g/Nm3 dan NO2 16,0 g/Nm3. Kesimpulan: Ada hubungan jumlah kendaraan dan kelembaban udara dengan konsentrasi karbon monoksida (p<0,05), tidak ada hubungan antara suhu udara dan kecepatan angin dengan konsentrasi karbon monoksida (p>0,05).
KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) HUBUNGANNYA DENGAN KECELAKAAN KERJA Linda NurAini; Ratih Sari Wardani
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 2. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.927 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i2.2382

Abstract

Background: work accident still being happened in industrial affairs Including in PT.Coca cola amatil indonesia central java, altough it was OHS management. Submissive was the one of work accident causes. Report of the work accidents and occupational diseases of The Coca Cola Amatil Indonesia Company in Central showed 18 accidents happened in 2013, consist of 4 light accidents and 14 medium accident and also 362 occupational diseases. The causes of accidents work influenced by three factors them are factor workers, factor work and environmental factors. Objective: To know is there any correlation between submissive to occupational health and safety regulation with work accident. Method: This type of research was analytical with cross sectional approach. Population were 40 workers of production part. Independent variable was submissive to OHS and dependentvariable was work accident. Data analyzed by Chi Square.Result : Submissive to OHS of the workers is very good (60%), accident work experienced (17,5%), but there was no correlation between between submissive to occupational health and safety regulation with work accident p=0,407. Result: Submissive to OHS of the workers is very good (60%), accident work experienced (17,5%), but there was no correlation between betweensubmissive to occupational health and safety regulation with work accident p=0,407. Conclusion: There was no correlation between submissive to occupational health and safety regulation with work accident
Kepatuhan Pekerja Ketinggian dalam Melaksanakan Standard Operasional Procedure Devy Indra Prabawati; Mifbakhuddin Mifbakhuddin; Diki Bima Prasetio
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 14. No. 2. Tahun 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.917 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.14.2.2019.29-34

Abstract

Latar belakang: Penerapan Standard Operasional Procedure (SOP) yang baik sangat diperlukan guna melindungi pekerja dari kecelakaan kerja, terutama pada pekerjaan yang meiliki risiko tinggi seperti pekerjaan di ketinggian. Tujuan: Mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, pengawasan dan masa kerja dengan kepatuhan pekerja ketinggian dalam melaksanakan SOP di PT. X Surabaya. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan studi cross setional. Sampel dari penelitian ini yaitu pekerja ketinggian di PT. X Surabaya sebanyak 40 orang. Data yang tersedia disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan tabulasi silang kemudian dianalisis secara statistik dengan uji chi square. Hasil: Sebagian besar pekerja patuh dalam melaksanakan SOP yaitu sebesar 62,5%. Pekerja dengan tingkat pengetahuan baik 32,5%, cukup 35,0%, dan pengetahuan kurang 32,5%. Pekerja dengan sikap positif sebanyak 37 orang (92,5%) dan negatif 3 orang (7,5%). Pengawasan baik 75,0%, pengawasan kurang baik 25,0%. Masa kerja ≥ 5 tahun sebanyak 21 orang (52,2%) dan masa kerja < 5 tahun sebanyak 19 orang (47,5%). Hasil uji Chi Square variabel yang berhubungan dengan kepatuhan adalah variabel pengetahuan (p value = 0,005), pengawasan (p value = 0,000), masa kerja (p value = 0,004) sedangkan variabel sikap tidak terdapat hubungan dengan kepatuhan pekerja ketinggian dalam melaksanakan SOP (p value = 1,000). Kesimpulan: Kepatuhan pekerja ketinggian dalam melaksanakan SOP dipengaruhi oleh pengetahuan, pengawasan dan masa kerja.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INVOLUSI UTERUS (STUDI KASUS DI BPM IDAROYANI DAN BPM SRI PILIH RETNO TAHUN 2014) Ferdina Fitriana Mayasari; Wulandari Meikawati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 10. No. 1. Tahun 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.94 KB) | DOI: 10.26714/jkmi.v10i1.2373

Abstract

Background:The maternal mortality rate because bleeding post partum have the highest rankwhere one causes postpartum hemorrhage is uteri atonia. If the uterus on the post partum failing in involution will cause something called subinvolusio often caused by infection and remain of the placenta in the uterus so that the uterus involution not gone normal or obstructed. If subinvolusio cannot will cause bleeding who continues or post partum haemorrhage until death. Methods: This type of analytical research with cross sectional approach. 32 The study population sample of mothers post partum and post partum mothers 30 studies with purposive random sampling technique. Analysis of these data using the Chi-square test with ? value of 0.05. Independent variable is the early mobilization, nutritional status, age, parity, while uteri involution is the dependent variable. Results: The results showed the majority (53.3%) of respondence aged <20 and > 35 years. Respondence who did early mobilization of (63.3%). Nutritional status of the respondence (76.7%) including normal nutritional status / LILA not KEK. The majority (66.7%) of respondence primi and multipara. There is a correlation between early mobilization, age, parity with uteri involution (p-value 0.023, p-value 0.000, p-value 0.000). There is no correlation between the nutritional status of uterus involution (p-value 0.666). Conclusion: postpartum hemorrhage caused by infection and remain of the placenta, this will lead to uterus involution process is hampered.
Pemakaian Kacamata Las Menurunkan Visus Mata Pekerja Las Azizatul Astna; Ratna Muliawati; Baju Widjasena
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia Volume 13. No. 2. Tahun 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.263 KB)

Abstract

Latar Belakang: Kondisi lingkungan kerja di bengkel las berpotensi menimbulkan dampak terhadap pekerja karena adanya sinar  tampak, sinar  infra  merah  dan  sinar  ultra  violet yang dapat mempengaruhi penglihatan. Oleh karena itu, pekerja las perlu memakai kacamata las. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemakaian kacamata las dengan penurunan visus mata pada pekerja las di Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja bengkel las di Kecamatan Patebon sejumlah 32 responden. Sampel diambil secara total populasi. Data pemakaian kacamata las diperoleh melalui observasi, dan data visus mata diukur menggunakan alat opototype Snellen. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa 34,4% pekerja las di Kecamatan Patebon mengalami penurunan visus mata. Hasil analisis statistik diperoleh nilai p value sebesar < 0,001, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pemakaian kacamata las dengan penurunan visus mata pada pekerja las di Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Kesimpulan: Pekerja las yang tidak menggunakan kacamata las lebih berisiko mengalami penurunan visus mata daripada yang menggunakan kacamata las saat bekerja.

Page 3 of 26 | Total Record : 259