ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab
Below is a concise, publication ready Aims & Scope for ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab in fluent American English. It centers the journal’s mission on epistemology and the integration of knowledge while reflecting your recent article profile. ________________________________________ About the Journal ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab is a biannual scholarly journal published by the Directorate of Islamic Boarding Schools (Direktorat Pondok Pesantren), Universitas Islam Indonesia. The journal advances innovative and creative studies in Islamic epistemology and the integration of knowledge (integrasi ilmu pengetahuan) across the revealed, rational, and empirical sciences. Aims & Readership Aims. ABHATS seeks to: 1. develop rigorous frameworks of Islamic epistemology and methodology; 2. model integrative thinking between classical Islamic scholarship and contemporary disciplines; 3. enrich scholarly culture and improve the quality of understanding in knowledge production; 4. strengthen methodological development for research and teaching; and 5. contribute solutions to contemporary social, legal, educational, and ethical questions—especially in Indonesian and broader Muslim contexts. Readership. Scholars and students of Islamic studies, philosophy of science, Qur’anic and Hadith studies, Islamic law, social sciences and humanities, education and da‘wa, public policy, and civil society. Scope ABHATS welcomes original research articles, conceptual/theoretical essays, critical literature reviews, and text based analytical studies that make explicit their epistemic and methodological contributions. Areas include, but are not limited to: 1. Epistemology & Philosophy of Knowledge Islamic theories of knowledge; integration of naqli–‘aqli–tajribi (revealed, rational, empirical) sciences; methodology building and theory of interpretation. 2. Qur’an, Hadith & Hermeneutics Exegesis and thematic studies, interpretive debates (e.g., anthropomorphism), intertextual and comparative approaches (e.g., Qur’an–Bible), and method critique. 3. Islamic Thought, Theology & Ethics Classical and contemporary kalām, Sufism, moral philosophy, and applied ethics for modern life. 4. Islamic Law & Legal Reform Uṣūl al fiqh, maqāṣid al sharī‘ah, siyāsah shar‘iyyah, sadd/fath al dhari‘ah, family and child welfare, waqf and philanthropy, human rights and constitutional questions, and Indonesian legal developments. 5. Society, Culture & Civilization Islam and urbanization, civil society and Pancasila, communal welfare (ḥifẓ al ummah), media and digital culture, gender and family roles, and contemporary social change. 6. Education, Da‘wa & Pesantren Studies Character education, pedagogy rooted in classical texts, youth and digital religiosity, and the intellectual heritage of pesantren. 7. Comparative, Interdisciplinary & Policy Relevant Studies Dialogue between Islamic scholarship and social sciences/humanities; analyses that connect normative theory with empirical evidence and policy implications. Topics of Particular Interest Submissions that exemplify the journal’s mission include: • Islamic work philosophy and modern urbanization (e.g., Ibn Khaldun’s insights); • renewal of waqf law and governance; • hermeneutical readings of prophetic traditions; • civil society, Pancasila, and public ethics; • gender, family, and child welfare in Islamic and comparative perspectives; • intertextual Qur’an–Bible studies; • da‘wa for youth in a gadget society; • character education from classical manuscripts. Contribution Criteria. Accepted papers clearly articulate their epistemological stance, demonstrate methodological rigor, and show how Islamic intellectual resources can integrate with, critique, or enrich contemporary knowledge and practice.
Articles
84 Documents
Menggali Akar Ideologis Integrasi Keilmuan dan Keislaman di Universitas Islam Indonesia
Thohari, Suyanto
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Integrasi keilmuan dan keislaman menjadi isu terus menguat dari waktu ke waktu dalam perjalanan Universitas Islam Indonesia (UII). Tema ini terus menjadi perbincangan, pada level konseptual filosofis maupun manajemen praktis. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan di UII terwarnai oleh konsep integrasi keilmuan dan keislaman ini. Bahkan, isu ini bukan hanya milik UII, tetapi tampaknya juga perguruan tinggi Islam lain, baik yang berupa sekolah tinggi, institute, maupun universitas Islam. Ambil contoh misalnya, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dikenal public mencoba menerapkan konsep integrasi-interkoneksi antar keilmuan. Bahkan konsep integrasi-interkoneksi yang ide dasarnya dari Amin Abdullah, secara simbolik diujudkan dalam konsep artisitektural bangunan kampus yang saling terhubung dan tersambung antara bangunan fakultas satu dengan fakultas yang lain. Konsep integrasi keilmuan dan keislaman menjadi ide klasik yang terus mencari momen penguatan setiap waktu bahkan tampaknya sampai seterusnya. Di UII, ide dasar integrasi keilmuan seringkali merujuk pada pernyataan Muhammad Hatta, salah satu founding fathers UII, yang menyatakan bahwa di STI (cikal bakal UII) akan “bertemu agama dan ilmu dalam suatu kerja bersama”. Pernyataan ini terus menjadi narasi yang diulang, sehingga tertanam kuat pada setiap stakaholders UII. Pertanyaan yang muncul, bagaimana sesungguhnya akar ideologis integrasi keilmuan dan keislaman di UII? Tulisan ini mencoba melacak secara historis akar ideologis integrasi keilmuan dan keislaman di UII. Dengan pendekatan historis ditemukan bahwa, watak integratif dan eklektif dari UII sudah sejak awal ditemukan, jauh sebelum STI berdiri. Berdirinya UII juga merupakan kelanjutan dari proyek modernisasi Islam di Indonesia, termasuk di dalamnya pembaharuan Islam dan kelanjutan system pendidikan madrasah. Dalam bahasa lain, akar ideologis integrasi keilmuan dan keislaman ditemukan sejak munculnya konsep pendidikan madrasah, sebagai model integrasi system pendidikan Islam dan barat. Pada level perguruan tinggi, lahirnya UII dapat dikatakan sebagai kelanjutan dari system pendidikan madrasah.
Kiai Kampung, Reformasi Islam, dan Perubahan Sosial di Pegunungan Jawa Masa Orde Baru
Krismono
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kiai umumnya diartikan sebagai predikat yang disematkan oleh masyarakat karena kompetensinya di bidang ilmu agama melampaui manusia biasa, memiliki pesantren, dan mengajarkan ilmunya kepada para murid-muridnya. Namun, konvergensi sosial-politik pada masa Orde Baru di Indonesia, untuk beberapa kasus, telah mengeser makna dan peran kiai lebih kepada seorang agen perubahan sosial. Artikel ini dimaksudkan untuk mencoba menginvestigasi otoritas peran yang dimainkan seorang kiai di sebuah perdesaan pegunungan Jawa dalam merubah kampungnya yang miskin dan dikenal kuat religiusitas abangannya kini menjadi kampung santri yang makmur secara ekonomi. Menariknya, ia melakukannya dengan dalih purifikasi Islam mengkombinasikannya dengan peran otonominya dalam konteks politik lokal untuk menampilkan wacana-wacana keislamannya bekerja secara sinergi dengan agenda pembangunan negara. Artikel ini merupakan hasil penelitian etnografi yang dilakukan melalui dua tahap, yakni awal hingga pertengahan bulan pada 2014 dan 2018 di sebuah perdesaan di Dataran Tinggi Dieng. Observasi lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data melalui pengamatan terlibat, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya, keberhasilan transformasi sosial-keagamaan sangat tergantung dari peran agensi dalam memainkan otoritasnya. Otoritas karisma dan rasional yang dimiliki sang kiai sebagai tokoh utama dalam konteks penelitian ini mampu dimanfaatkan dengan melibatkan diri sebagai bagian dari pemerintah Orde Baru untuk turut serta menyukseskan agenda pembangunan negara melalui keberhasilannya menghubungkan idiom-idiom Islam dengan tema yang berlaku di masyarakat seperti kaitannya dengan wacana Islam yang terus menunjukkan tantangannya terhadap kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan krisis moral-keimanan.
Contemporary Islamic Discourse between Rationality and Sanctification
Naffati, Abdel Kadder;
Hasanudin, Fuat
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 3 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The discourse on contemporary Islam is divided into two modes of thought, one aims to read texts based on reason, insight, criticism and reality, and the second aims to sanctify the text through traditional understanding, ijtihad and minimizing the addition of new methods in the context of interpretation. Researchers in this paper will discuss contemporary Islamic discourse from both perspectives and offer a two-pronged approach to the development of contemporary Islamic discourse. The paper argues that it is necessary in contemporary Islamic discourse to combine the two approaches so that they can be used together without negating the other. A sanctifying approach is necessary for certain contexts to preserve the sacred and not eliminate the symbol of sacredness. The rationalization approach does not mean excessive interpretation so that it falls into the category of blameworthy ta'wil, rather its purpose is to objectively generate knowledge.
Manajemen Integrasi Keilmuan dan Keislaman UII Yogyakarta:Pondasi Filosofis, Orientasi Futuristik dan StrategiMenuju World Class University
Muhammad Thoyib
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Eskalasi kompetisi pendidikan tinggi saat ini begitu pesat dan kompleks, baik di level nasional, maupun internasional. Disisi lain, disrupsi teknologi dan moralitas menjadi pemicu kehidupan sosial manusia semakin terdegradasi. Sementara, eksistensi universitas secara historis diplatform sebagai solusi atas problem global tersebut. Artikel dengan pendekatan kualitatif reflektif ini berupaya menyuguhkan ‘potret’ orientatif UII Yogyakarta menuju world class university sekaligus perannya sebagai ‘problem solver’ dilema peradaban tersebut melalui pengembangan integrasi keilmuan dan keislamannya. Pondasi filosofis pengembangan integrasikeilmuan dan keislaman di UII Yogyakarta menitiktekankan pada peneguhan spirit founding father melalui komitmen ‘berilmu amaliyah-beramal ilmiah’, sehingga eksistensi universitas mampu menjadi platform ragam keilmuan, serta penguatan universalisme nilai ‘Rahmatan lil ‘Alamiin’, yang diharapkan menjadi ‘oase institusional’ yang selalu menawarkan kebermanfaatan global. Orientasi futuristik UII berfokus pada pewujudan SDM unggul secara kompetitif-komparatif, sekaligus tata kelola kelembagaan yang humanis akandiversifikasi keberagamaan dan keilmuan global, sehingga diharapkan mampu ‘mengharmonikan’ dinamika kajian ‘Timur dan Barat’. Disisi lain, strategi pengembangannya dapat dikatakan cukup komprehensif, karena berupaya mengintegrasikan pengembangan kurikulumberwawasan ulul albab dengan institusi berbasis academic global partnership. Namun begitu, masih menyisahkan perlunya penyempurnaan strategi, yaitu pengembangan university knowledge berbasis konektivitas multi keilmuan serta intensifikasi program researchuniversity berbasis kolaborasi secara akseleratif dan masif. Mengingat, hal itu yang saat ini menjadi ‘big assignment’ banyak universitas di dunia.
Gusjigang, Nilai Spritual- Sosial-Kewirausahaan dalam Kurikulum Pendidikan Pondok Pesantren al-Mawaddah Kudus
M. Luthfi;
Fahrurrozi
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana nilai dan falsafah Gusjigang diintenalisasikan kedalam kurikulum pendidikan pesantren al-Mawaddah Kudus. Penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya minat remaja terhadap kearifan lokal (local wisdom) dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Pondok pesantrean al Mawaddah Kudus merupakan salah satu pesantren yang mengapresiasi local wisdom Gusjigang, bahkan mengimpelentasikannya dalam bentuk internilasisasi nilai Gusjigang kedalam kurikulum pendidikannya. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, peneliti melakukan pengamatan, wawancara, dan melakukan studi dokumen. Selanjutnya menganalisisnya dengan teknik kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren al-Mawaddah melakukan internalisasi falsafah Gusjigang peninggalan Sunan Kudus kedalam kurikulumnya. Implementasi nilai dan falsafah Gusjigang kedalam kurikulum bertujuan agar alumni pesantren al-Mawaddah memiliki kecerdasan spiritual, sosial, dan kemandirian dalam berwirausaha. Adapun bentuk internalisasi nilai Gusjigang adalah: Nilai Gus “Bagus” diinternalisasikan kedalam kurikulum pendidikan akhlak, nilai Ji ”Ngaji” diinternalisasikan kedalam kurikulum pendidikan pengetahuan spiritual. dan nilai Gang “Dagang” diinternalisasikan kedalam kurikulum pendidikan kewirausahaan.
Proyek Menggapai “Islamic Intellectualism”: Ikhtiar Mencari Alternatif
Yusdani
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The following aritcle tries to trace the way out of the problem dichotomic regarding religion and science relation. The moslem scholars’ response and the solution toward the problem can be classified into islamization and integration. But in the context of islamization still emerges the debates and pros and conts among moslem scholars. As the best solution of this problem according to critical moslem scholars and also that of the founding fathers of Islamic University of Indonesia - UII - between reiligion ang science is the integration. The basic aspect of the integration based on the philosophy of science including of ontology, epistemology and axiology. As the consequent, Islam as revelation can contribute to three pilars of philosophy of science and the building theory of Islamic science must accomodate empirical data and science must consider revelation. Departing from the integration, the direction of Islamic sciences reconstruction based on culture strategy. This strategy needs comprehensive and systematics Islamic horizon that does not only in accordance with circumstance but also denotes the demand of Islamic teaching to express Islam itself as charity that in harmony with time, functional and humantarian Islam. Only by this, it is possible to produce Islamic Intellectualism in Islamic universities.
Customer Relationship Management (CRM) dalam Perspektif Islam: Studi Kasus pada KS BMT Al-Ikhwan Suralaga
Wardani, Sri Rita;
Sanusi, Muhammad;
Fahrianti, Nurmala
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 3 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Implementasi Customer Relatioanship Management (CRM) dalam perspektif Islam untuk mempertahankan Loyalitas Anggota pada KS BMT Al-Ikhwan Amanah Sejahtera Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disimpulkan bahwa mewujudkan pelayanan dengan prinsip Islam yaitu kejujuran (Shiddiq), dapat dipercaya (Amanah), argumentatif dan komunikatif (Tabligh), serta Cerdas dan Bijaksana (Fathonah) dengan menerapkan prinsip dasar yang telah ditetapkan Islam mengenai pelayanan atau berbisnis yaitu tolok ukur dari kejujuran, tanggung jawab, kepercayaan, dan ketulusan. Manfaat pelayanan yang mengedepankan prinsip-prinsip Islami bagi para manajer dan staf di KS BMT Al-Ikhwan Suralaga yaitu, anggota akan tertarik untuk terus setia menggunakan produk yang ditawarkan oleh KS BMT Al-Ikhwan Suralaga, menjalin silaturahmi yang baik antara manajer dan shareholder, antara manajer dengan staf, dan antara manajer serta staf dengan anggota. Selain itu, para antara manajer dan staf di KS BMT Al-Ikhwan Suralaga juga bisa mendapatkan keuntungan baik duniawi maupun akhirat.
Refitalisasi Peran Keluarga Sebagai Basis Perlindungan Anak Perspektif Fikih Munakahat
Asyrof, Muhammad Najib
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Almost two decades of socialization on Child Protection have been socialized in Indonesia, but there are still many violations of the fundamental rights of children. The family should be the first place for children to be safe and comfortable; instead, it becomes a worrying place. This research is expected to offer a concept of Child Protection by tracing back the meaning of child protection so that it can be translated by the wider community and especially families in Indonesia comprehensively so that it becomes a child-friendly society.This qualitative study focuses on a literature review using a normative approach to rehabilitate and make a positive contribution to the child protection movement that is not yet optimal, especially during the Covid-19 pandemic with a more specific and thoughtful approach, namely fiqh munakahat (marriage). This study resulted in an alternative definition of Child Protection, namely a continuous effort to create a conducive atmosphere for children to carry out their fundamental rights and obligations rationally, responsibly, and beneficially, starting from the moment parents choose a life partner and avoid violence and discrimination. The first step in protecting children from the fiqh munakahat perspective that can be done is selective in choosing a life partner, starting with paying attention to aspects of commitment to carrying out religious orders, morals, and the environment for growth and development of prospective partners, building a family on a valid marriage, and avoiding marriages that have close kinship.
Kesadaran Mekanis versus Kesadaran Ketuhanan
M. Husni Muadz
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kekurangmampuan membangun perhatian atau atensi untuk melaksakan tugas, apalagi untuk durasi yang agak panjang, adalah sebenarnya problem umum manusia (human conditions). Agaknya hambatan yang masih sisa dan akan sering dipertanyakan adalah bersifat psikologis. Karena siklus nafas singkat, dan berlansung secara rekursif, berulang ulang tanpa henti, maka secara kumulatif durasinya adalah seumur hidup Karena kita memiliki waktu kumulatif antara 6 - 8 jam sehari dan kita memiliki durasi waktu yang sama setiap hari sampai akhir hayat.
DISCUSSION OF SCIENCE ETHICS IN ISLAM: Reflections on Harun Nasution's Controversial Ethical Thought
Fattah, Abdul
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 1 No. 2 (2020): September 2020
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This article intends to examine the concept of scientific ethics in Islamwith a focus on the thoughts of Harun Nasution.Harun Nasution is a controversial Islamic reformer. His idea was born as a response toand against the traditional ideas that developed at that time, evenHarun Nasution dared to go against the flow of traditional thoughtethics that had long been rusty and difficult to remove. The emphasisof this paper is on the presentation of Harun Nasution's progressivethinking in various main issues in the study of Islamic ethical thought,such as the idea of progress, coexistence between the Absolute-Textual (qath'i) and relative-contextual (zhanni) regions as afoundation the development of science in Islam, rational andtraditional categorization, inclusive attitudes: accepting culture orknowledge from outside, freedom and development mentality: freedomof thought and action, cosmology: belief in causality as a source ofsuccess, moral problems and Harun Nasution's criticism ofmaterialistic / hedonistic culture. This paper is presented consideringthat in a dynamic society, scientific ethics and community educationplay a role in determining the existence and development of society.Likewise with the role of scientific and educational ethics which is oneform of manifestation of the ideals of Islamic life to preserve, transferand instill (internalization) and transform Islamic values to thepersonal of the next generation, so that cultural-religious values areaspirated in society over time.