cover
Contact Name
Tika Hairani
Contact Email
jurnal@rmpi.brin.go.id
Phone
+6287770346919
Journal Mail Official
beritabiologi@brin.go.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No.18, RT.04/RW.08, Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16122
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Berita Biologi
ISSN : 23378751     EISSN : 23378751     DOI : https://doi.org/10.55981/berita_biologi
Berita Biologi is the journal features articles showcasing advancements in biological research and related sciences in Indonesia. Berita Biologi comprises original scientific papers presenting research findings, short communications, and reviews that are unpublished or not under consideration elsewhere. Covered topics are expected to introduce novel aspects or information.
Articles 149 Documents
IDENTIFIKASI TUMBUHAN BERDASARKAN STRUKTUR POLEN SEBAGAI SUMBER PAKAN LEBAH MADU (Apis cerana Fabricius, 1793) DI MARIBAYA, LEMBANG, KAWASAN TEPI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA, KABUPATEN BANDUNG BARAT Azzahra, Hanani Rosy; Cika Asti Amalia; Ati, Aurel Satyaning; Aldila Diani Ramadan; Pribadi, Teguh; Shanida, Sya Sya; Kusmoro, Joko; Husodo, Teguh
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.10211

Abstract

Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang membentang dari Dago Pakar hingga Maribaya. Maribaya merupakan salah satu kawasan di sekitar tepi kawasan Tahura, dimana terdapat potensi pemanfaatan lebah madu. Lebah madu Asia (Apis cerana) merupakan salah satu serangga yang berada di Tahura dan memiliki potensi sebagai penyerbuk bagi vegetasi di sekitarnya. Polen yang dikumpulkan oleh lebah dapat merefleksikan komposisi vegetasi berbunga di sekitarnya. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui keragaman polen yang mendominasi sumber pakan lebah madu A. cerana di Peternakan Lebah ‘Madu Maribaya Sari Alam Legend Bee’ pada Kawasan Maribaya. Penelitian ini dilakukan di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dari bulan Mei - Agustus 2024. Identifikasi tumbuhan dilakukan berdasarkan analisis polen yang diperoleh melalui jebakan polen dan diidentifikasi menggunakan metode asetolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kawasan Maribaya ditemukan 17 famili polen yang terdiri atas 24 spesies. Spesies polen yang paling dominan adalah kipait (Tithonia diversifolia) dengan persentase sebesar 68,21%. Temuan ini menunjukkan bahwa T. diversifolia berperan sebagai sumber polen utama bagi A. cerana, meskipun termasuk tumbuhan semak invasif.
INDUCTION OF SHOOT FORMATION IN STRAWBERRY (Fragaria × Ananassa DUCH.) CLONE BAT 1 IN VITRO USING VARIOUS TYPES AND CONCENTRATIONS OF CYTOKININS Elisabeth, Pauline; Anne Nuraini; Murgayanti; Muhammadiyah
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.11373

Abstract

Strawberry (Fragaria × ananassa Duch.) is a high-value subtropical horticultural crop. One promising local variety under development is clone BAT 1. To accelerate propagation, tissue culture techniques are needed, especially during bud initiation, which is influenced by cytokinin type and concentration. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments and 4 replications, using Murashige and Skoog (MS) medium supplemented with Thidiazuron (TDZ) and 2-Isopentyl adenine (2-iP) at concentrations of 0; 0.50; 0.75; 1 ppm TDZ and 1; 2; 3 ppm 2-iP. The procedures included explant preparation, sterilization of equipment and area, stock solution preparation, media formulation and sterilization, explant sterilization, and planting into treatment media. Results showed that cytokinins at 0.50–1 ppm significantly enhanced bud number, leaf number, culture height, and fresh weight.  The most effective treatments were 1 ppm 2-iP (5.24 buds; 5.90 leaves; 2.23 cm height) and 0.50 ppm TDZ (1.36 g fresh weight), indicating their potential for improving in-vitro propagation of clone BAT 1.
MORPHOLOGICAL VARIATION AMONG ROBUSTA COFFEE (Coffea canephora) ACCESSIONS IN TEMANGGUNG AS A BASIS FOR SELECTION Atmoko, Aswin Hendry; Aradea, Bagus; Ramadhani, Brahmadha Alif Fayza; Oktavia, Annisa Nanda; Indrawati, Eviolita
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.11412

Abstract

Robusta coffee (Coffea canephora) is a strategic commodity that contributes significantly to farmers' livelihoods in Temanggung Regency, Central Java. This study aimed to evaluate the morphological variation among 56 robusta coffee accessions collected from 17 districts to support selection. A total of 30 morphological characters from leaves, stems, flowers, and fruits were recorded following IPGRI (1996) and Coffee Industry Corporation (2016) descriptors. Morphological data were analyzed using the UPGMA method to construct a dendrogram and calculate similarity coefficients. The results revealed high morphological variation, particularly in apical stem color (reddish yellow to dark green), internode distance (2–10 cm), and ripe fruit color (yellowish green to dark red). Agronomically, short to medium internodes (2–5 cm) and monopodial stem growth were identified as desirable traits due to their association with higher productivity, compact canopy structure, and ease of management. Accessions PRK_2 and PRK_3 showed identical morphology (similarity coefficient 1.00), while TBR_1 and GMW_1 exhibited low similarity (<0.50), indicating significant genetic differentiation. The clustering pattern was not fully aligned with geographic origin, suggesting variations in planting material or local selection. In conclusion, morphological variation based on 34 characters demonstrates substantial genetic diversity, with apical stem color, internode distance, fruit color, and stem growth type identified as key traits for production-oriented selection.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI SELULOLITIK DALAM SALURAN PENCERNAAN RAYAP Macrotermes gilvus Hagen DI WILAYAH PESISIR BENGKULU Oktiarni, Dwita; Lusiana, Lusiana; Regina, Wina Shasha; Supardin, Elva Maidani
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.11511

Abstract

Rayap, khususnya spesies Macrotermes gilvus Hagen, memainkan peran krusial dalam ekosistem berkat kemampuannya menguraikan selulosa, yang didukung oleh bakteri selulolitik yang terdapat dalam saluran pencernaannya. M. gilvus juga menunjukkan kelimpahan yang tinggi di wilayah pesisir Bengkulu, yang menarik perhatian untuk memperoleh bakteri selulolitik yang dapat dimanfaatkan dalam proses hidrolisis biomassa selulosa menjadi glukosa. Glukosa merupakan bahan baku utama dalam proses fermentasi sehingga dihasilkan produk berupa bioetanol. Bakteri selulolitik diisolasi dari saluran pencernaan rayap yang diambil dari wilayah pesisir Bengkulu. Tahapan penelitian ini meliputi proses isolasi, karakterisasi, serta analisis secara biomolekular. Hasil skrining menunjukkan bahwa enam isolat bakteri berhasil diperoleh dari media agar Carboxymethyl cellulose (CMC). Isolat bakteri diidentifikasi menggunakan pendekatan biomolekular, yang menghasilkan identifikasi empat spesies bakteri. Kemampuan selulolitiknya RYP 1 yaitu 1,34 dengan kategori sedang, sementara itu aktivitas selulolitik terendah RYP 9 yaitu 0,73. Amplifikasi melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) dilakukan untuk menganalisis segmen gen 16S rRNA. Hasil analisis menunjukkan isolat  bakteri memiliki kekerabatan yang dekat dengan Bacillus paramycoides, Staphylococcus hominis, Cellulomonas denverensis, dan Acinetobacter nosocomialis.
ECOLOGY, DISTRIBUTION, AND CONSERVATION CHALLENGES OF THE JAVAN SURILI (Presbytis comata) IN JAVA, INDONESIA Adnan, Bahana Aditya; Hadisusanto, Suwarno
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13415

Abstract

The Javan surili (Presbytis comata), a keystone species in the tropical rainforest ecosystem of Java Island, is facing serious threats from deforestation, hunting, and habitat fragmentation. As an endemic species with a highly restricted, particularly on the island of Java, research on the Javan surili remains considerably limited. Hence, its geographical location and distribution patterns are still not clearly understood. Our literature review aims to determine the current status of the Javan surili and the factors influencing its population decline, as well as to evaluate the effectiveness of various conservation strategies that have been implemented. These findings highlight the importance of a multidisciplinary approach in Javan surili conservation efforts and provide policy recommendations to improve the success of species conservation, especially in its native habitat. Immediate conservation efforts and attention from the primatologist, relevant authorities, and stakeholders are needed to prevent the localized extinction of Javan surili.
EFEKTIVITAS ANTI JERAWAT EKSTRAK BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) TERHADAP Staphylococcus epidermidis SECARA IN SILICO DAN IN VITRO Meliana, Sekar; Kusumaningrum, Hermin Pancasakti; Marissa Angelina
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13447

Abstract

Keanekaragaman hayati di Indonesia yang melimpah menjadikan tanaman obat sebagai sumber potensial penemuan obat baru di tengah meningkatnya resistensi antibiotik. Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) adalah salah satu tanaman yang kaya akan senyawa bioaktif, termasuk flavonoid, dan telah terbukti memiliki beragam aktivitas terapeutik, termasuk antibakteri. Jerawat, masalah kulit umum yang disebabkan oleh bakteri seperti Staphylococcus epidermidis, sering menunjukkan resistensi terhadap antibiotik konvensional. Penelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi buah mahkota dewa terhadap S. epidermidis secara in silico dan in vitro melalui identifikasi kandungan kimia. Metode yang digunakan untuk uji in silico yaitu penambatan molekuler terhadap reseptor Filamenting temperature-sensitive mutant Z (FtsZ) yang merupakan salah satu protein utama pada Staphylococcus epidermidis. Metode pengujian in vitro dilakukan melalui penentuan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM). Hasil LC-HRMS pada ekstrak dan dua fraksi menunjukkan beberapa senyawa aktif seperti quercetin dan naringenin yang berpotensi sebagai agen antijerawat. Hasil in silico menunjukkan bahwa semua ligan uji berpotensi sebagai inhibitor protein FtsZ Staphylococcus epidermidis dengan nilai energi afinitas yang lebih tinggi dari tetrasiklin sebagai ligan pembanding. Nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) dan konsentrasi bunuh minimum (KBM) menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan fraksi butanol buah mahkota dewa memiliki nilai KHM yang berkisar pada konsentrasi 0,25-1% dan KBM pada konsentrasi 0,25-1%. Berdasarkan hasil pengujian in silico dan in vitro dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi buah mahkota dewa memiliki potensi sebagai agen antijerawat.
PENGARUH JENIS DAN DOSIS PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG DAUN (Allium fistulosum L.) Sari, Linda Nurvita; Wahidah, Baiq Farhatul; Akmalia, Hafidha Asni
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13473

Abstract

Allium fistulosum L. dikenal sebagai bawang daun yang merupakan tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi dan berpotensi dibudidayakan secara intensif maupun komersial, namun produktivitasnya kerap terhambat oleh kenaikan harga dan kelangkaan pupuk subsidi, sehingga pemanfaatan pupuk kandang dari berbagai jenis ternak menjadi alternatif solusi yang dapat diterapkan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh beberapa jenis pupuk kandang terhadap pertumbuhan tanaman bawang daun serta mendeskripsikan jenis dan dosis pupuk kandang yang paling optimal. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalianget, Wonosobo, Jawa Tengah mulai dari Januari-April 2025. Penelitian ini menerapkan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yang terdiri dari pupuk kandang sapi (P1), pupuk kandang kambing (P2), pupuk kandang ayam (P3), dan pupuk kandang kelinci (P4). Faktor kedua yang diuji yaitu dosis pupuk kandang terdiri dari: 50 g/polibag (K1), 100 g/polibag (K2), dan 150 g/polibag (K3), setiap perlakuan diulang 3 kali. Berdasarkan hasil penelitian, aplikasi pupuk kandang menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang kelinci dosis 100 g/polibag (P4K2) pada tanaman bawang daun menunjukkan hasil optimal pada sebagian besar peubah pertumbuhan, yaitu diameter batang, berat segar dan berat kering tanaman (baik total maupun tanpa akar). Dengan demikian, pupuk kandang kelinci berpotensi besar sebagai alternatif pupuk organik dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman bawang daun secara optimal.
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN JENIS LICHEN DI KOTA PEKANBARU SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS UDARA Suzanti, Fitra; Nursal, Nursal; Apriliani, Salsabila Rika
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13479

Abstract

Lichen memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap perubahan kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi keanekaragaman jenisnya. Kota Pekanbaru yang mengalami peningkatan jumlah kendaraan bermotor setiap tahunnya menyebabkan meningkatnya emisi gas yang dilepaskan ke udara. Hal tersebut berpotensi menurunkan keanekaragaman jenis lichen yang terdapat di Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kualitas udara di Kota Pekanbaru dengan memanfaatkan lichen sebagai bioindikator. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri dari 4 stasiun pengamatan berdasarkan tingkat volume kendaraan. Stasiun pengamatan dengan volume kendaraan bermotor tertinggi berada di Jalan Sudirman, volume kendaraan sedang di Jalan Arifin Ahmad, volume kendaraan rendah di Jalan Labersa, dan volume kendaraan sangat rendah di Hutan Kota Pekanbaru. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil sampel lichen pada 10 pohon di setiap stasiun yang terdapat di Kota Pekanbaru dengan menggunakan metode plot. Analisis data secara kuantitatif dilakukan dengan metode menghitung indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan indeks kemurnian atmosfer (IAP). Nilai H’ dan IAP terendah terdapat di Jalan Sudiman dengan volume kendaraan tertinggi. Sedangkan, Nilai H’ dan IAP tertinggi terdapat di Hutan Kota Pekanbaru dengan volume kendaraan terendah. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara keanekaragaman lichen dengan tingkat kualitas udara.
EXPLORING MEDICINAL PLANT DIVERSITY: AN ETHNOBOTANICAL STUDY OF THE SIDANG MAS MALAY COMMUNITY IN BANYUASIN REGENCY Syarifah, Syarifah; Yusfarani, Delia
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13510

Abstract

South Sumatra Province is one of the provinces with a diverse range of plants that can be used as traditional medicine. Research was conducted to explore medicinal plants in Sidang Emas Village, Banyuasin III District, Banyuasin Regency, South Sumatra Province. The people of Sidang Emas Village are part of the Malay community in South Sumatra. This study aims to analyze the ethnobotany of medicinal plants used by the Sidang Emas community, which has not been previously studied. Ethnobotanical exploration can reveal the use of traditional medicinal plants and their processing in curing diseases in Sidang Emas Village. The findings of the study showed 34 plant species from 25 different families that have been utilized as medicines. The phytochemical screening revealed that 33% of these plants contained alkaloids, 32% contained flavonoids, and 31% contained tannins; 4% contained phenols, and none contained saponins. It is correlated with the health benefits of plants, including the treatment of digestive problems, external wounds, shortness of breath, and blood sugar levels.
ANTIOXIDANT AND ANTIBACTERIAL ACTIVITIES OF ENDOPHYTIC FUNGI EXTRACTS FROM THE FLOWER OF PURUN TIKUS (Eleocharis dulcis (Burm.f.) Trin. Ex Hensch.) Aini, Kurratul; Syarifah; Balkia, Siti Elisya; Febrianti, Sonia Wiji; Febrianti, Elizah
Berita Biologi Vol 25 No 1 (2026): Berita Biologi
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/berita_biologi.2026.13526

Abstract

Purun Tikus (Eleocharis dulcis (Burm.f.) Trin. Ex Hensch.) is a wetland plant native to Southeast Asia known to contain various bioactive secondary metabolites. However, studies on endophytic fungi associated with the flowers of this plant remain limited, even though endophytes are often capable of producing compounds similar to or even more potent than those of their host plants. This study aimed to identify and evaluate the antioxidant and antibacterial activities of endophytic fungi isolated from the flowers of E. dulcis. Isolation was carried out using surface sterilization and cultivation on Potato Dextrose Agar (PDA), followed by identification based on macroscopic and microscopic characteristics. Three isolates were successfully obtained: EDF1 (Neopestalotiopsis sp.), EDF2 (Lasiodiplodia theobromae), and EDF3 (Rhizopus sp.). Secondary metabolites were extracted using ethyl acetate, while antioxidant and antibacterial activities were evaluated using the DPPH method and agar disc diffusion method, respectively, against Salmonella typhi, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, and Bacillus subtilis. The results showed that each isolate exhibited different levels of bioactivity. Among them, EDF2 (L. theobromae) demonstrated the highest activity, with an IC₅₀ value of 19.149 µg/mL (categorized as very strong) and antibacterial inhibition exceeding 80% against all tested bacteria. These findings indicate that L. theobromae has strong potential as a natural source of bioactive compounds that can be further developed as candidates for phytopharmaceuticals, antimicrobial agents, and natural antioxidants through subsequent in vivo studies.