cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
ISSN : 23026383     EISSN : 25021648     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi & Aplikasi (JPPFA) is interested in comparative studies that lead to new insights and challenge of orthodox theories; that have potential for policy impact; and that apply to broad range of settings, including industrial democracies as well as low and middle income countries, countries in political transition and countries recovering from armed conflict and social unrest. JPPFA also considers papers that look at education and development through the policies and practices of official development assistance and commercial education trade. JPPFA engages these approaches to deepen the understanding of the relationship between education policy and development.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2016): Desember" : 11 Documents clear
Front Matter (Cover, Table of Content) Editorial Team
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4506.501 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12489

Abstract

KEPEMIMPINAN (UNTUK) PEMBELAJARAN: JEMBATAN UNTUK MEMPERKUAT PEMBENTUKAN KARAKTER Udik Budi Wibowo
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.282 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12425

Abstract

Pendidikan dipandang belum dapat melahirkan dalam jumlah banyak manusia pintar, bermoral, dan profesional, yang mampu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan ketaqwaan dalam perilaku keseharian. Sehubungan dengan itu kepemimpinan untuk pembelajaran dapat dijadikan strategi dan solusi guna menjawab keprihatinan bangsa tersebut. Kepemimpinan untuk pembelajaran berkaitan dengan pengelolaan penjaminan kualitas pembelajaran, yang dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif untuk mengembangkan potensi peserta didik seutuhnya sehingga dapat mencapai prestasi akademik dan non-akademik yang maksimal, serta bermanfaat bagi kehidupan sendiri dan lingkungannya. Kepemimpinan pembelajaran mengutamakan praktek-praktek pendidikan yang ideal dengan landasan kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan estetika (keindahan); sehingga dapat melahirkan insan-insan yang berkarakter mulia dan profesional.Kata kunci: kepemimpinan untuk pembelajaran, kualitas pembelajaran, insan berkarakter, dan pengembangan sekolah LEADERSHIP (FOR) LEARNING: BRIDGE TO STRENGTHEN THE CHARACTER BUILDINGAbstractEducation couldn’t have been produced a large number of peoples who smart,  have high moral standards, and professional, yet; who capable to give priority to human values and faithful in daily live. In keeping with the nation concern, leadership for learning could be use as a strategy or an alternative solution. Leadership for learning concerned with learning quality assurance management, which can create condusive learning environment to develop the wholeness student potential, so he/she could reach maximum academic and non-academic achievement, which is worthwhile for him/her-self live, and the environment. Leaderhip for learning consider as most important the ideal of educational practices, based on truth, justice, humanity, and aesthetics; so it could provide a large number of noble and professional peoples.Keywords: leadership for learning, learning quality, noble people, and school improvement
KULTUR PENDIDIKAN PESANTREN DAN RADIKALISME Abdul Malik; Ajat Sudrajat; Farida Hanum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1193.732 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.11279

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk, (a) mendeskripsikan dan mengungkapkan adanya hubungan kultur pendidikan pesantren al-Madinah dengan radikalisme, (b) mengungkapkan kultur pendidikan pesantren radikal. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, partisipasi, interview dan dokumentasi. Sementara teknik analisis datanya adalah teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kultur pendidikan pesantren al-Madinah memiliki kecenderungan pada radikalisme dan ekslusifisme, (b) kultur pendidikan pesantren memiliki kurikulum jihad sebagai bagian dari pemahaman agama yang dikembangkan dalam pendidikan pesantren. Hal tersebut menunjukan adanya perubahan kultur pendidikan pesantren yang mengarah pada heterogenitas pola, model, tujuan dan kultur pendidikan yang dikembangkan.  Kultur pesantren yang cenderung pada radikalisme, sejauh ini tidak hanya dapat diukur dari adanya kurikulum jihad atau lainnya akan tetapi dapat diamati dari muatan hidden curriculum yang cenderung dapat diukur melalui gejala dan ekspresi perilaku santri dan ustad. Misalnya segala perangkat nilai, pemikiran, syimbol, sistem, pola, proses pendidikan dan tradisi yang melekat dalam seluruh kegiatan, baik pada aspek yang dapat di amati (tangible) seperti perilaku fisik, bangunan, sikap fanatik, dan syimbol maupun yang tidak teramati (intangible) seperti aspek motivasi, keyakinan, antusisme, ideologi, niat, keberkahan, dan pemikiran..Kata kunci: pesantren, pendidikan, radikalisme, kultur CULTURE OF PESANTREN EDUCATION AND RADICALISMAbstractThis study aims to, (a) describe and disclose their relationship education culture Pesantren al-Madinah with radicalism, (b) disclose the culture of radical pesantren education. This study was descriptive qualitative research. Data collection techniques using observation, participation, interview and documentation. While data analysis technique is inductive analysis techniques. The results showed that (a) the culture of al-Madinah Islamic boarding schools have a tendency to radicalism and exclusiveness, (b) the culture of jihad education schools have the same curriculum as part of the understanding of religion that developed in pesantren education. It shows the change in the culture of pesantren education leading to heterogeneity in patterns, models, goals and educational culture developed. Pesantren culture that tends to the radicalism, has so far not only be measured from their curriculum or other jihad but can be observed from the charge hidden curriculum which tends to be measured by the expression of symptoms and behavior of students and chaplains. For example all the values, thoughts, symbols, system, pattern, process of education and tradition inherent in all activities, both on aspects that can be observed (tangible) such as physical behavior, building, bigotry, and symbols and unobservable (intangible ) as aspects of motivation, confidence, enthusiasm, ideology, faith, blessings, and thinking.Keywords: School, education, radicalism, culture
MEMBENTUK GURU YANG BERMORAL, HUMANIS DAN PROFESIONAL MELALUI PROSES PSIKO-PEDAGOGIS Muhammad Nur Wangid
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.18 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12426

Abstract

Keinginan mewujudkan guru yang berkarakter sudah lama diinginkan. Setiap periode masa dan lembaga merumuskannya dalam termonologi yang beragam. Universitas Negeri Yogyakarta menginginkan menghasilkan calon guru yang bermoral, humanis, dan profesional pada saat ini. Untuk dapat menghasilkan calon guru yang berkarakter maka hendaknya dipahami terlebih dahulu hakekat guru yang akan dibentuk dan cara menanganinya. Guru pada hekekatnya bukanlah sekedar bertugas menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Guru memiliki tugas yang jauh lebih mulia yaitu mengembangkan aspek mental siswa sehingga menjadi manusia yang berbudipekerti luhur. Agar mencapai tujuan ini maka pelaksanaan pembelajaran diperguruan tinggi harus mempertimbangkan pula aspek pengembangan psikopedagogisnya. Optimalisasi aspek rohaniah mahasiswa dapat dilakukan dengan merujuk pada kemampuan (psikis) yang dimiliki manusia seperti yang dikemukakan oleh Bandura yang selanjutnya dikembangkan melalui proses pendidikan (pedagogis). Setiap jenis karakter yang diinginkan dikembangkan melalui pengintegrasian materi perkuliahan dan dilaksanakan secara berkelanjutan. Di samping itu seluruh civitas sebisa mungkin memberikan contoh, dan secara khusus dosen sendiri harus memberikan teladan bagi mahasiswa dalam keseharian pelaksanaan tugasnya. Ini adalah salah satu perspektif tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap dosen dalam membentuk calon guru yang bermoral, humanis, dan profesional.Kata kunci: membentuk guru, psikopedagogis BUILDING THE TEACHER MORAL, HUMANIST AND PROFESSIONAL THROUGH PSYCHO-PEDAGOGICALAbstractThe desire to realize the teacher’s character had long desired. Each period and institutions formulate in diverse terminology. Nowadays Yogyakarta State University want to produce teacher candidates who characterized moral, humane, and professional. In order to produce the prospective teachers it should be understood  the characteristics of the teachers that will be set up and how to handle it first. The tasks of teachers is not just delivering course material to students. Teachers have a much more noble tasks to develop the spiritual aspects of the student so that they were to be humans noble character. In order to achieve this goal the implementation of learning in college should also considers the development of psycho-paedagogis aspects. Optimizing the spiritual aspects of the student can be done by referring to the ability (psychic) of human beings as proposed by Bandura, it all further developed through the process of education (paedagogical). Each type of character developed by integrated in lecture material and implemented continually. In addition, the entire community of college may give an example, and particularly the lecturers themselves should set the example for the students in the daily execution of their duties. It is one of perspective tasks that must be implemented by each lecturer in shaping future teachers that characterized by moral, humane, and professional.Keywords: shaping teacher, psycho-paedagogis
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SOFT SKILLS TERPADU DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Lilik Indriharta; S. Suharjana; M. Marzuki
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.341 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12413

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengembangkan model pembelajaran soft skills terpadu, (2) menganalisis keberhasilan pelaksanaan pembelajaran soft skills terpadu, dan (3) me-nganalisis dampak penerapan model pembelajaran Soft Skills Terpadu dalam pembelajaran Penjasorkes di Sekolah Menengah Pertama terhadap siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research Development). Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah kelas VII pada 4 SMP Negeri di Kota Yoyakarta. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tahap pengembangan model pembelajaran soft skills terpadu dalam pembelajaran Penjasorkes adalah tahap pendahuluan, pengembangan, dan evaluasi dengam hasil perangkat model berupa buku panduan, perangkat penilaian, dan instrumen pengembangan model pembelajaran. (2) Model pembelajaran soft skills terpadu dalam pembelajaran Penjasorkes menunjukkan tingkat keterlaksanaan yang tergolong sangat baik, memenuhi kriteria valid, sangat efektif, dan sangat praktis. (3) Model pembelajaran Soft Skills Terpadu dalam pembelajaran Penjasorkes di Sekolah Menengah Pertama mampu mengembangkan soft skills siswa.Kata kunci: model pembelajaran soft skills terpadu, pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, sekolah menengah pertama DEVELOPING INTEGRATED SOFT SKILLS LEARNING MODEL IN PHYSICAL EDUCATION, SPORT, HEALTH, AND RECREATION INSTRUCTION IN JUNIOR HIGH SCHOOLAbstractThis research is aimed at: (1) developing integrated soft skills learning model, (2) analyzing the success of integrated soft skills learning model implementation, and (3) analyzing the impact of the implementation of integrated soft skills learning model in physical education, sport, health, and recreation instruction on the students of junior high school. The research was a research adn development (R D). The subject of the research was students of grade VII in four junior high schools in Yogyakarta Municipality. Data analysis was conducted using qualitative and quantitative descriptive method. The result of the research shows that: (1) The stages of developing integrated soft skills learning model in physical education, sport, health, and recreation instruction include the stages of introduction, development, and evaluation which results model set in the form of handbook, assessment set, and instrument of learning model development. (2) Integrated soft skills learning model in physical education, sport, health, and recreation instruction reveals a very good level of implementation, fulfills the ‘valid’ citerion, is very effective and also practical. (3) Integrated soft skills learning model in physical education, sport, health, and recreation instruction in junior high school is capable to develop students’ soft skills.Keywords: integrated soft skills learning model; physical education, sport, health, and recreation instruction; junior high school
Back Matter (index, author guidelines) Team, Editorial
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.227 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12496

Abstract

MENCIPTAKAN BELAJAR YANG HUMANIS TANTANGAN PENDIDIK YANG PROFESIONAL DAN BERKARAKTER Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.516 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12420

Abstract

Dehumanisasi pendidikan merupakan fenomena sosial dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Perilaku kekerasan di sekolah oleh guru kepada siswa, pelecehan seksual, tindakan  bullying  antar siswa, tawuran antar pelajar, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol oleh pendidikan, dan praktik aborsi di kalangan pelajar merupakan ragam gejala dehumanisasi pendidikan yang sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan cenderung memaksa peserta didik mengembangkan kekuatan kognitif, dan kurang mengembangkan moralitas dan karakter peserta didik. Sistem belajar kurang mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai dengan eksistensi sebagai manusia yang ingin belajar digambarkan sebagai whole-person-learning, dengan pribadi yang utuh menghasilkan perasaan memiliki (feeling of belonging ) pada diri peserta didik. Sekolah harus dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan humanis. Belajar yang humanis dapat diwujudkan oleh guru-guru yang mempunyai kemampuan untuk menerapkan prinsip-prinsip pendidikan humanis dalam mengajar di kelas dan mampu untuk  menjalankan multiperannya sebagai pendidik profesional. Akuntabilitas profesional diperlukan bagi guru untuk mencerminkan kompetensi dan integritas pendidik yang profesional dan  berkarakter. CREATING HUMANISTIC LEARNING A CHALLENGE TO PROFESSIONAL TEACHERS WITH HIGH CHARACTERAbstractDehumanization in education is an example of social phenomena existing in the process of character education in schools. Violation done by the teacher to the students, sexual abuse, bullying among students, students’ riot, social media misuse, and abortion cases are examples of worrying phenomena related to dehumanization in education. The educational system tends to force the students to maximize their cognitive potentials by neglecting the importance of their  moral and character education. The system is not, merely, helping the students to optimize their potentials which may be described as whole-person learning, having the sense of belonging. The schools should have been built by considering the values of humanity. Humanistic learning can be realized by the teachers having credentials to apply the values of humanity in the classroom. The professional accountability is also required to create teachers who are capable of showing their professional competence and integrity.Keywords:
MATAHARI YANG TERLUPAKAN: PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH Sudaryanto, S.
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.445 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12422

Abstract

Penumbuhan sikap-sikap atau karakter-karakter positif dan nilai-nilai luhur pada diri siswa dapat melalui proses pembelajaran di kelas, salah satunya ialah melalui pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Selain dididik untuk memiliki karakter membaca dan kreatif, siswa dapat pula dididik untuk memiliki karakter jujur, sopan santun, empati pada sesama atau teman sebaya, dan menghormati orang tua dan gurunya. Para siswa di sekolah akan senang membaca dan mengarang karya sastra apabila para gurunya telah senang membaca dan mengarang karya sastra pula. Dalam hal ini, forum para guru (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dapat dimanfaatkan untuk forum diskusi antarguru dalam mengapresiasi dan berkreasi karya sastra, serta dukungan dari pihak sekolah terhadap ketersediaan bahan bacaan karya sastra yang lengkap di perpustakaan sekolah. FORGOTTEN SUN: CHARACTER EDUCATION IN INDONESIAN LANGUAGE AND LITERATURE INSTRUCTION AT SCHOOLAbstractInculcating positive attitudes or positive characters and high values in students can be through teaching processes in the classroom, one of which is through teaching Indonesian language and literature. In addition to being taught to have reading and creative character, students can also be taught to have character of honesty, good manner, empathy for others or peers, and respect to parents and teachers. The students at the school will be happy to read and compose literary works when their teachers have enjoyed reading and composing literary works as well. In this case, the teachers' forum (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/MGMP) can be used as teachers’ discussion forum in appreciating and creating literary work, as well as support from the school to the availability of a complete reading of literary work in the school library.
KEBIJAKAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENDAYAGUNAAN MODAL SOSIAL UNTUK PENINGKATAN VITALITAS SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SWASTA Suwadi Suwadi; Suyata Suyata; Sumarno Sumarno
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.408 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.7172

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menjelaskan pola pendayagunaan modal sosial untuk peningkatan vitalitas sekolah swasta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif naturalistik. Lokasinya di Kabupaten Sleman. Subjek terdiri dari tiga kasus yang dipilih secara purposive. Prosedur penelitian ditempuh dengan empat langkah, dengan metode penggalian data: observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model induktif sedangkan tingkat kepercayaan hasil-hasil penelitian ditempuh dengan cara terpenuhinya kriteria kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konformabilitas. Temuan penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, terdapat variasi dalam pemanfaatan modal sosial sekolah. Kedua, pendayagunaan modal sosial menunjukkan pola menjembatani dan mempererat melalui komponen jejaring, relasi saling menguntungkan dan membantu, dan kepercayaan. Ketiga, kebijakan kepada sekolah dalam memanfaatkan modal sosial ditunjukkan oleh integritas sekolah dalam program pengembangan akademik, sumber daya manusia, sistem pendanaan dan budaya lokal. Keempat, kebijakan pemanfaatan modal sosial didasarkan pada nilai militansi dan loyalitas (kasus pertama),nilai silaturahim dan syafaat (kasus kedua), dan universalisme Islam (kasus ketiga).
REKAYASA SOSIAL KOLABORASI PENDIDIKAN KARAKTER DAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: PRAKSIS DI YAYASAN PERGURUAN SULTAN ISKANDAR MUDA Taat Wulandari
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 4, No 2 (2016): Desember
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jppfa.v4i2.12424

Abstract

Banyak variabel kompleks untuk menilai kondisi satu masyarakat (Indonesia), apakah masyarakat dalam keadaan ideal sesuai dengan cita-cita seluruh anggotanya atau tidak. Dua di antara variabel tersebut yakni tampak dari adanya kecenderungan karakter sebagian masyarakat yang mengalami kemunduran dan rentannya permasalahan yang muncul akibat heterogenitas masyarakatnya. Dua persoalan tersebut, alangkah baiknya tidak hanya berhenti sebatas wacana, komoditas pers, atau bahkan komoditas politik. Harus ada praksis yang dikerjakan apabila ingin mengatasinya melalui tindakan-tindakan yang visible dan terukur dalam bentuk aksi nyata. Medium pendidikan (pendidikan karakter) dapat menjadi satu alternatif  terhadap upaya memerangi mundurnya karakter masyarakat dan pendidikan multikultural menjadi medium untuk mengatasi permasalahan karena heterogenitas anggota masyarakatnya. Meskipun di satu pihak, kebhinnekaan masyarakat Indonesia tidak boleh dipersalahkan ketika banyak terjadi konflik, di pihak lain kebhinnekaan harus menjadi potensi agar efektif mempersatukan rakyat yang beranekaragam dan terpencar. Nafas ‘pendidikan karakter’ dan ‘pendidikan multikultural’ selaku conditio sine qua non ini tampak dalam praksis pendidikan di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda atau ‘Sekolah Pembauran’ di Medan, Sumatera Utara.Kata kunci: pendidikan karakter, pendidikan multikultural, sekolah pembauran SOCIAL ENGINEERING COLLABORATION OF EDUCATION CHARACTER AND MULTICULTURAL EDUCATION: PRAXIS EDUCATIONAL FOUNDATION IN SULTAN ISKANDAR YOUNGAbstractThere are many complex variables to assess the condition of the society (Indonesia), whether a society has the ideal condition based on the visions of its members or not. Two of the variables include the tendency of some people whose character has experienced a setback and the vulnerability of problems that arise due to the heterogeneity of the community. These two issues should not become a plan, a news commodity, or even a political commodity only. There must be a praxis that is performed to solve the problems through visible and measurable actions in the form of real action. A medium of education (character education) can be an alternative to fight against the decadence of the character of the community and multicultural education can be a medium to overcome the problems due to the heterogeneity of the community members. The diversity of the Indonesian society should not be blamed when a conflict occurs but it should be able to effectively unite the diverse society. The core of 'character education' and 'multicultural education' as the conditio sine qua non can be seen from the praxis of education at Sultan Iskandar Muda foundation or 'Sekolah Pembauran' in Medan, North Sumatra.Keywords: character education, multicultural education, sekolah pembauran

Page 1 of 2 | Total Record : 11