cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Efektifitas Aktivitas Peer Group terhadap Penurunan Berat Badan dan Persen Lemak Tubuh pada Remaja Overweight Jaelani, Mohammad; Larasati, Meirina Dwi; Rahmawati, Ana Yuliah; Ambarwati, Ria
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.721 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.9

Abstract

Diet rendah energi dan peningkatan aktivitas secara individual belum efektif dalam penurunan berat badan. Oleh karena itu, perlu dicari metode lain atau memodifikasi metode dengan membentuk kelompok peer group aktivitas. Tujuan penelitian ini menganalisis efektifitas aktivitas peer group terhadap kepatuhan aktivitas fisik, kepatuhan diet, penurunan berat badan dan persen lemak tubuh pada remaja overweight. Desain penelitian menggunakan Randomized Controlled Trial dengan rancangan eksperimental ulang pre-posttest control group design. Subjek penelitian adalah remaja putri overweight sebanyak 13 orang kelompok kontrol dan 13 orang kelompok perlakuan. Subjek dilakukan intervensi berupa jogging minimal 30 menit dan naik turun tangga sebanyak 10 kali per hari selama empat minggu. Ukuran kepatuhan diet diambil setiap minggu berdasarkan hasil recall 2x24 jam selama 4 minggu. Perbedaan kepatuhan aktivitas fisik dan kepatuhan diet diuji menggunakan Chi Square Test sedangkan perubahan berat badan dan persen lemak tubuh menggunakan ANOVA Repeated Measure Test. Ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan aktivitas fisik (p=0,000) dan penurunan berat badan (p=0,004) antara kelompok perlakuan dan kontrol namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan diet (p>0,05) dan penurunan persen lemak tubuh (p=0,382) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Peer group efektif dalam meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan pada remaja overweight.
Pengaruh Paparan Akut Asam Sulfat (H SO ) dan Asam Nitrat (HNO ) terhadap Penebalan 2 4 3 Septum Interalveolaris Tikus Darmawan, Arief; Makyah, SN Nurul
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.49 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.3

Abstract

Udara merupakan faktor penting dalam kehidupan. Pencemaran udara berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.Asam sulfat (H SO ) dan asam nitrat (HNO ) dalam hujan asam dapat terinhalasi ke dalam sistem pernapasan. Alveoli 2 4 3adalah komponen fisiologik penting dari sistem pernapasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhpaparan akut material hujan asam berupa H SO dan HNO terhadap gambaran histologi alveoli tikus. Desain penelitian ini 2 4 3adalah quasi experiment dengan subjek penelitian tikus putih (Rattus norvegicus) sebanyak 20 ekor jantan galur Spraque-Dawley berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata 200-300 gram, terbagi dalam 4 kelompok: kelompok I (kontrol),kelompok II (paparan H SO 8,4 mg/L), kelompok III (paparan HNO 30 mg/L) dan kelompok IV (paparan H SO 8,4 mg/L dan 2 4 3 2 4HNO 30 mg/L). Paparan diberikan akut selama 4 jam. Pengamatan histologi dilakukan melalui pengukuran ketebalan 3septum interalveolaris. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan septuminteralveolaris kelompok paparan H SO 8,4 mg/L paling tebal, disusul kelompok paparan HNO 30 mg/L, kelompok 2 4 3paparan H SO 8,4 mg/L dan HNO 30 mg/L dan terakhir kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa paparan akut material 2 4 3hujan asam berupa H SO (182,7%) dan HNO (129,9%) menyebabkan penebalan septum interalveolaris tikus.Kata Kunci: Alveoli, H SO , HNO , hujan asam, ketebalan septum interalveolaris 2 4 3Air
PENGARUH KADAR TROMBOSIT, HEMATOKRIT, HEMOGLOBIN DARAH DAN PROTEIN URIN PADA IBU PREEKLAMSI /EKLAMSI TERHADAP NILAI APGAR BAYI YANG DILAHIRKAN Kawuryan, Siti Lintang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 2 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.214 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.02.6

Abstract

ABSTRACT Preclapmsi or eclampsia is one of the risk factor for asfiksia on newborn that can predicted by lower Apgar score. The aim of this research  is  to  know  the  influence  of  the  trombocyte,  hematokrit,  hemoglobin,  and  urinary  protein  examination  of  preclampsi  or eclampsi mother to baby’s Apgar score. This research was a diskriptive-cross sectional retrospective study with Chi- square test, Fisher test x2 for trend statistic analysis. Total sample was 100 which choosen by simple random sampling. The parameter of this study was trombocyte, hematokrit, hemoglobin, and urinary protein examination of preclampsi or eclampsi mother and baby’s Apgar score. There was a significant influence relationship between the raise of blood hematocrit (p=0,0243), the decrease of the blood trombocyte (p= 0,0175) and the high level of proteinuria (p=0,0154) of preclampsi or eclampsi mother  to baby’s Apgar score. In the other hand, hemoglobin (p =0,3589), SGOT (p=0,5447),SGPT (p= 0,4850), Ureum (p = 0,1964), kreatinin (p= 0,3415) level was not significantly influence. The conclusion of this reseach is hematokrit ≥ 38 % and urinary protein ≥ 4+ on preclampsi or eclampsi mother are usefull for predicting lower Apgar score of the neonate with relative risk 7,609. Keyword: preclampsi or eclampsi, trombocyte, hematokrit, hemoglobin, and urinary protein examination, Agar score
EFEK HAMBATAN EKSTRAK DAUN CEPLUKAN (Physalis minima L)TERHADAP KONTRAKTILITAS OTOT POLOS USUS HALUS TERPISAH MARMUT DENGAN STIMULASI METAKOLIN EKSOGEN Tarannita, Citra; Permatasari, Nur; Sudiarto, Sudiarto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 1 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.951 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.01.4

Abstract

Physalis sp. has lots of merits as a kind of traditional medicine and one of them is its function as an alternatif treatment for diarrhea. Physalis minima leaf contains alkoloid atropine which is assumed can inhibit the contractionof guinea pig’s isolated ileum smooth muscle. This research was to know the effect of Physalis minima leaf extract toward the contraction of small intestine smooth muscle. This research was  an experimental study using “The Post Control GroupDesign”, and guinea pig’s isolated ileum as samples. The samples  consisted of five guinea pigs, each sample was given four kinds of treatment. The control was given metacholine at the  dose of 10 -5 without Physalis minima leaf extract. Before givingmetacholine at the dose of 10 -5 , the samples were given the first dosage of Physalis minima leaf extract (0.15%), the second dose (0.30%) and the third dose (0.45%) so getting four graphs for each sample. The level of contraction was recorded by using kymograph. The result showed that  the ileum contraction of the third group was inhibited (One Way ANOVA, p=0.041), and there was a relation between the increasing dosage of Physalis minima leaf extract and the decreasing ileum contraction (simple linear regression, with R=-0.608 p=0.04 and regression equation y=52.150 – 7.660x).
Faktor Risiko Non Genetik dan Polimorfisme Promoter RegionGen CYP11B2Varian T(-344)C Aldosterone Synthasepada Pasien Hipertensi Esensial di Wilayah Pantai dan Pegunungan Sundari, Sundari; Aulani'am, Aulani'am; Wahono S, Djoko; Widodo, M Aris
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.059 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.03.8

Abstract

Hipertensi  esensial  disebabkan  oleh  multifaktorial  dan  merupakan  penyakit  yang  kompleks  karena  melibatkan  faktor genetik  dan  lingkungan  atau  interaksi  antara  keduanya.  Polimorfisme  kandidat  gen   secara  genetik  menentukan  terjadinya hipertensi esensial. Salah satu polimorfisme yang berhubungan dengan hipertensi adalah gen  CYP11B2    varian  T(–344)C sebagai gen penyandi aldosterone synthase.    Penelitian ini  bertujuan untuk menganalisis interaksi    antara faktor risiko non  genetik  dengan  polimorfisme  promoter  region  gen  CYP11B2  varian  T(-344)C  pada  pasien    hipertensi  esensial    di wilayah pantai dan pegunungan, dengan desain case control study. Jumlah sampel   masing-masing kelompok kasus dan kontrol sebanyak 50 orang, sehingga keseluruhan sampel penelitian   sejumlah 100 orang.   Penentuan polimorfisme gen CYP11B2  varian  T(-344)C  menggunakan  isolasi  DNA,  polymerase  chain  reaction  (PCR)  dan  analisis  hasil  restrictrictionfragment lenght polymorphism (RFLP). Penelitian ini telah mengidentifikasi adanya polimorfisme   promoter region   gen CYP11B2  sebesar  8,3%  pada  pasien  hipertensi  esensial  di  wilayah  pantai.  Polimorfisme  berupa  adanya  mutasi  basa thymine (T) menjadi cytosine (C) pada kodon -344 pada 2 (dua) pasien hipertensi esensial di wilayah pantai. Kerentanan genetik  ditemukan  pada  individu  dengan  genotip  homozigot  TT  3  (tiga)  kali   lebih  banyak   daripada  genotip  heterozigot  TC yang  mengalami  hipertensi  esensial  baik  di  wilayah  pantai  maupun pegunungan   dan    genotip  homozigot  TT  ditemukan  8 (delapan) kali lebih banyak dari pada genotip homozigot CC di wilayah pantai. Penelitian ini memperkuat bahwa genotip TT  dan  alel  -344T  berkaitan  dengan  kecenderungan  genetik  terjadinya  hipertensi  esensial.
Analisis Variasi Pengelolaan Appendicitis Acuta di Rumah Sakit Wava Husada Malang Muzzamil, Muzzamil; Mansur, Muhammad; Suryadi, Muhammad Arif
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.34

Abstract

Pelayanan appendicitis tidak menerapkan sistim paket dan mengalami  banyak variasi, termasuk variasi biaya. Peneliti telah melakukan penelitian data catatan rekam medis terhadap pasien appendicitis acuta bulan Juni, Juli dan Agustus 2013 dengan jumlah sampel 21 pasien. Data dianalisa menggunakan regresi linier untuk mengetahui hubungan antara berbagai variabel. Analisa hubungan antara biaya obat dan biaya tindakan terhadap biaya total perawatan menunjukkan bahwa biaya obat dan biaya tindakan sangat berpengaruh terhadap biaya total perawatan (r2=0,731, p<0,001). Analisa hubungan antara biaya total perawatan dengan lama perawatan menunjukkan bahwa pasien yang membayar lebih mahal dirawat lebih lama dan pengaruh biaya terhadap lama perawatan sebesar 29,8% (r2=0,296, p=0,011). Variasi pelayanan pasien menyebabkan variasi pada total biaya perawatan. Salah satu cara untuk mengurangi variasi, terdapatnya kendali mutu dan biaya adalah penerapan clinical pathway.Kata Kunci: Appendicitis akut, clinical pathway, kendali biaya, kendali mutu, variasi pelayanan
Pentagamavunon‒0 menurunkan Ekspresi Cyclooxygenase 2 dan Jumlah Sel Epitel Luminal Endometrium Tikus yang Diinduksi dengan Luteinizing Hormone Rahmanisa, Soraya -; Kasban, Muhartono Sudarmo
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.2

Abstract

Pentagamavunon‒0 (PGV‒0) atau 2,5‒bis‒(4'‒hidroksi‒3'‒metoksi‒benzilidin siklopentanon merupakan senyawa analog kurkumin dengan perubahan struktur pada gugus β diketon menjadi gugus monoketon. Aktivitas dan mekanisme PGV‒0 pada sistem reproduksi khususnya terhadap ekspresi Cyclooxygenase 2(COX‒2) dan ketebalan endometrium belum dapat dijelaskan. Serbuk PGV‒0 dilaporkan mempunyai aktivitas biologis lebih baik daripada senyawa asalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh PGV‒0 terhadap ekspresi COX‒2, ketebalan endometrium, dan jumlah sel epitel luminal endometrium Rattus norvegicus yang diinduksi dengan Luteinizing Hormone (LH). Subjek penelitian ini adalah 30 ekor tikus putih betina Sprague dawley umur 28 hari setelah diinduksi dengan pregnant mare's serum gonadotropin. Setelah semua tikus ovulasi, tikus kemudian diberikan PGV‒0 dosis 55,2mg/kgBB selama 4 hari setelah diinduksi dengan LH pada hari pertama perlakuan. Pada kelompok kontrol diberikan senyawa pelarut PGV‒0 yaitu Carboxyl Metil Cellulose (CMC). Pada umur 34 hari hewan coba dikorbankan untuk diambil uterusnya dan dibuat sediaan histologi dan imunohistopatologik. Hasil penelitian menunjukkan pemberian PGV‒0 dosis 55,2mg/kgBB berpengaruh nyata menurunkan ekspresi COX‒2 (p<0,05) dan jumlah sel epitel luminal endometrium (p<0,05) tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap penebalan endometrium tikus yang diinduksi dengan LH (p<0,05).Kata Kunci: COX‒2, ketebalan endometrium, LH, PGV‒0
Manajemen Ruptur Septum Ventrikel Pasca Infark Miokard Akut di Rumah Sakit tanpa Fasilitas Bedah Wahjono, Andi; Anjarwani, Setyasih
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.16

Abstract

Ruptur septum ventrikel merupakan komplikasi mekanik yang sangat jarang terjadi pada pasien infark miokard akut (IMA) namun memiliki mortalitas yang tinggi. Sejak dimulainya era reperfusi modern, insiden ruptur septum ventrikel semakin menurun sampai dengan 0,2% kasus IMA. Dalam laporan kasus ini kami laporkan 2 pasien ruptur septum ventrikel pasca IMA. Pasien mendapatkan perawatan intensif dan terapi medikamentosa, selama dalam masa perawatan hemodinamik cenderung tidak stabil dan meninggal beberapa hari kemudian tanpa tindakan invasif karena keterbatasan fasilitas. Intra aortic counterpulsation balloon pump (IABP) dapat dipertimbangkan sebelum operasi sebagai bridging therapy. Operasi merupakan standar baku emas terapi dan bersama dengan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) tanpa melihat status hemodinamik. Hasil yang optimal dapat dicapai pada 2-6 minggu pasca serangan akut namun demikian penutupan defek dengan transcatheter septal occluder dalam keadaan tertentu dapat dipertimbangkan. Kata Kunci: Infark miokard akut, operasi, ruptur septum ventrikel, transcatheter septal occluder
Penyulit Pasca Bedah Ikterus Obstruktif Laanjut (Studi Kasus Penderita di RSSA dan Studi Eksperimental pada Tikus Soemarko, M.
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 1 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1809.944 KB)

Abstract

Penderita ikterus obstruktif ekstrahepatik lanjut yang dilakukan pembedahan dengan drenase billier interna mempunyai potensi terjadinya peningkatan morbiditas dan mortalita, dibanding dengan penderita ikterus obstruktif dini atau tanpa ikterus dengan pembedahan yang serupa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan morbiditas dan mortalitas pada pembedahan penderita dengan ikterus obstruktif lanjut. Digunakan metode observasi retrospektif pada penderita ikterus obstruktif lanjut dan dini yang dibedah, serta penderita tanpa ikterus dengan operasi kolesistektomi sebagai kontrol. Hasil yang didapat adalah adanya peningkatan mortalitas yang bermakna pada penderita dengan ikterus obstruktif lanjut. Hasil ini didukung oleh hasil percobaan pada tikus. Kesimpulan dari penelitian ini, melalui observasi pasien dan tikus coba adalah mendukung pendapat bahwa penyebab peningkatan mortalitas disebabkan oleh adanya gagal organ multipel yang dipicu oleh gagal ginjal akut.
Identifikasi Forensik Berdasarkan Pemeriksaan Primer dan Sekunder Sebagai Penentu Identitas Korban pada Dua Kasus Bencana Massal Prawestiningtyas, Eriko; Algozi, Agus Mochammad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.071 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.02.3

Abstract

ABSTRACTThe main purposes of identification process in mass disaster is to find the corpses identity in order to give itback to their family by doing some identification methods such as primer identification which must do at thefirst time because they have highly and accurate result as the identifiers. There are many differencesbetween the burned corpses on the the tragedy of the burning of Garuda Airlines and the drowned corpses onthe tragedy of the sinking of Senopati Nusantara ship , many difference characteristic that influence theprocess of forensic identification. In the burned corpses, teeths are still intact and relatives still could beexamined than another primery identifiers. It makes difference priority between one to another cases. So,from the two different cases, we can choose the different primer identifiers as the priority depend on thecondition of the dead bodies related to the accident in order to make the right identity for giving back to therelatives.