cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
PERAN LEPTIN TERHADAP AKTIVITAS MATURATION-PROMOTING FACTOR(MPF) PADA MATURASI OOSIT Kakisina, Pieter; Indra, Rasyad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.213 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.01.5

Abstract

Oocyte maturation is mediated by active Maturation  Promoting Factor (MPF) in ooplasma. Maturation Promoting Factor (MPF) is heterodimer protein consists of sub catalytic unit p34cdc2 and sub regulatorunit of cyclin-B. The regulation of maturation promoting factor (MPF) occures throught phosphorylation and dephosphorilation Cdc2 while its activities are controlled by the accumulation and periodical degradation from Cyclin-B during cell cycles development. Leptin inknown has role on oocyte maturation that works at mitogen activated protein kinase (MAPK). MAPK belongs to protein kinase family Ser/Thr that interact with MPF in arranging the progresivennes of oocyte meiosis through the help of c-mos. This interaction is initiated phosphorilation of Ser-369 and Thr-577 in p90rsk. Key words:leptin, MPF, and oocyte maturation.
Efek Pemberian Ekstrak Kulit Jeruk Keprok (Citrus Reticulata) terhadap Cell-Cycle G1 Arrest dan Apoptosis pada Sel Kultur Retinoblastoma Rohaya, Syarifah; Hariwati, Hariwati; W, Lely Retno; Sujuti, Hidayat
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.198 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.2

Abstract

Retinoblastoma adalah kanker intraokular yang terjadi pada anak usia dini, disebabkan oleh terganggunya supresor tumor gen RB baik secara herediter maupun nonherediter. Tatalaksananya adalah enukleasi, eksentrasi, kemoterapi, laser fotokoagulasi, cryotherapi, dan radioterapi. Apabila tidak diobati hampir seluruh pasien mengalami proses desak ruang dan penyebaran tumor. Kemoterapi bukan merupakan pilihan terapi selektif karena hal ini semakin merusak sel normal pada jaringan yang normal. Sehingga peneliti mencari alternatif terapi seperti ekstrak kulit jeruk keprok yang memiliki fungsi sebagai anti karsinogenik, anti tumor, anti invasif dan anti metastasis. Penelitian ini merupakan analitik eksperimental pada sel kultur retinoblastoma yang dipapar dengan ekstrak kulit jeruk keprok. Sel kultur retinoblastoma dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol,  kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL, kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 20mg/mL dan kultur+ekstrak kulit jeruk keprok dosis 40mg/mL. Diinkubasi selama 72 jam lalu dilakukan pengecatan dengan propidium iodide untuk diperiksa menggunakan flowcitometry. Hasil pemeriksaan dengan flowcitometry berupa gambaran histogram dari siklus sel dan apoptosis. Sel kultur retinoblastoma pada fase G1/S, kelompok kontrol (15,03±3,03), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (12,47±2,51), 20mg/mL (12,30±1,33) dan 40mg/mL (10,80±1,52) (p=0,027) menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi G1 arrest. Pada data apoptosis, kelompok kontrol (35,0±3,96), kelompok ekstrak kulit jeruk keprok dosis 10mg/mL (33,63±0,88), 20mg/mL (38,48±8,96) dan 40mg/mL (64,42±2,09) (p=0,000) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit jeruk keprok menginduksi apoptosis pada sel kultur retinoblastoma. Kulit buah jeruk keprok (Citrus reticulata) mengandung berbagai macam senyawa flavonoid, yang bertindak sebagai anti-karsinogenik, anti-tumor, anti-invasif dan anti-metastasis. Pemberian ekstrak kulit jeruk keprok tidak menginduksi cell-cycle G1 arrest tetapi menginduksi proses apoptosis.Kata Kunci: Apoptosis, cell-cycle G1 arrest, ekstrak kulit jeruk keprok (Citrus reticulata), sel kultur retinoblastoma
Analisis Rendahnya Laporan Insiden Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Gunawan, Gunawan; Harijanto, Harijanto; Harijanto, Tatong
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.986 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.02.16

Abstract

Data laporan IKP yang akurat sangat bermanfaat untuk pemetaan risiko keselamatan pasien dan dasar perbaikan sistem pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa rendahnya laporan IKP dan  faktor  yang berpengaruh pada sistem pelaporan IKP di salah satu Rumah Sakit (RS) Malang. Metode yang digunakan adalah diskripsi analitik. Penggalian data dilakukan dengan telusur data laporan IKP, observasi lapangan, wawancara terstruktur dan survei dengan menggunakan kuesioner. Responden pada penelitian ini adalah 20 petugas kesehatan dan keluarga pasien sebanyak 6 orang. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi menggunakan microsoft excel. Hasil menunjukkan angka IKP lebih tinggi dari angka laporan IKP. Faktor penyebabnya adalah rendahnya laporan IKP yang disebabkan oleh rasa takut pada kepala unit kerja.Kesimpulan dari penelitian ini adalah data laporan IKP belum menggambarkan kondisi sebenarnya dari kejadian insiden keselamatan pasienyang terjadi di RS X. Faktor penyebab utama kondisi tersebut adalah kurangnya pemahaman tentang konsep pelaporan IKP. Kata Kunci: Budaya keselamatan pasien, insiden keselamatan pasien
Pengaruh Ekstrak Propolis terhadap Apoptosis melalui Ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) pada Sel Otak Tikus Model Cedera Otak Traumatik Pramesti, Fathia Annis; Purnomo, Hari; Balafif, Farhad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.5

Abstract

Cedera otak merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada semua kelompok umur. Selama cedera kepala terjadi reaksi kaskade inflamasi yang nantinya akan menyebabkan apoptosis dan nekrosis. Propolis memiliki aktivitas antiinflamasi yang kuat melalui peningkatan ekspresi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang akan berikatan dengan tyrosine kinase-B (trkB) yang akan menghambat apoptosis, sehingga propolis memiliki potensi sebagai alternatif terapi dalam menurunkan apoptosis melalui peningkatan ekspresi BDNF pada cedera otak traumatik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian propolis dalam berbagai dosis pada ekspresi BDNF dan apoptosis di sel otak tikus Rattus norvegicus model traumatik. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu: kelompok model trauma dan diberi perlakuan propolis masing-masing dosis 50mg, 100mg, dan 200mg, kontrol positif dan kontrol negatif. Pada akhir penelitian, tikus dikorbankan dan dibuat preparat otak untuk menilai ekspresi BDNF dan apoptosis. Berdasarkan hasil analisa statistik, didapatkan hubungan yang signifikan antara ekspresi BDNF dan apoptosis sel otak tikus model traumatik dengan berbagai dosis propolis (p=0,001, r=0,955; p=0,000, r=0,904, korelasi Pearson). Penelitian ini membuktikan bahwa propolis berpengaruh dalam peningkatan ekspresi BDNF dan penurunan apoptosis di sel otak tikus model traumatik.Kata Kunci: Apoptosis, BDNF, cedera otak traumatik, propolis
Bobot Molekul Resptor Salmonella Typhosa pada Kultur Sel Endotel Vena Umbilicalis Manusia Soemarno, Soemarno; Yanuhar, Uun; MA, Widodo; BS, Sumitro
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2056.198 KB)

Abstract

Penyakit demam tifoid yang disebabkan oleh bakteri Salmonella (S) Typhosa masih merupakan problema kesehatan terutama di negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Pada patogenesis terjadinya bakteriemi dan mengenai pelekatan bakteri tersebut terhadap sel endotel masih belum ada kejelasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan pelekatan S.typhosa dan bobot molekul reseptornya pada sel endotel. Penelitian ini dikerjakan dengan memakai Human Umbilical Vein Endothelial Culture (HUVEC), sedangkan sebagai model sel pelekat bakteri yang digunakan adalah model indeks adhesi. Untuk mengetahui indeks adhesi dilakukan pemaparan S.typhosa terhadap HUVEC. Matriks ekstraseluler  diekstrasi dengan cara solubiliasi HUVEC dengan larutan N-Octyl-β-D Glucopyranoside (NOG) 0,05%. Penentuan bobot molekul matriks sektraseluler yang dikerjakan dengan SDS-PAGE ternyata memiliki bobot 66kDa. Pemurnian protein matriks ekstrak seluler dipakai cara elektroelusi. Ketentuan bobot molekul reseptor ditentukan dengan evaluasi korelasi anatara indeks adhesi bakteri dengan dosis protein molekul reseptor yag diencerkan setengahnya secara seri yang dilekatkan pada HUVEC. Kesimpulan dari evaluasi tersebut dengan menggunakan tes korelasi menunjukkan bobot molekul matriks ekstrak seluler 66kDa HUVEC merupakan molekul reseptornya S.typhosa M223 (p<0,05).
Karboksimetil Kitosan Menurunkan Degranulasi Mast Cell yang Diinduksi Oleh Ovalbumin Ibrahim, Mohamad Nur; Widjajanto, Edi; Permatasari, Nur; Sabarudin, Akhmad
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.792 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.01.2

Abstract

ABSTRACTOvalbumin is known as mast cell degranulating agent through the FCεRI aggregation. Carboxymethylchitosan (CMCs), a biocompatible cationic polymer was evaluated to reduces mast cell degranulation inducedby ovalbumin. In this experiment, wistar rats were darboxymethyl chitosanivided into 5 groups which consist of 1 control group and 4allergen groups. Among the allergen groups, 3 groups were treated with carboxymethyl chitosan/CMCs(doses : 0,25 mg, 0,50 mg and 1,00 mg) for 22 days. The result showed a significant (P<0,01) reduction inmast cell degranulation in allergen groups. This finding indicate that CMCs possesses antiinflammationactivity mediated by reducing of mast cell degranulation.Keywords : ,c mast cell degranulation
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI JINTEN HITAM (Nigella sativa) TERHADAP KADAR GSH, MDA, JUMLAH SERTA FUNGSI SEL MAKROFAG ALVEOLAR PARU TIKUS WISTAR YANG DIPAPAR ASAP ROKOK KRONIS Marwan, Marwan; Widjajanto, Edi; Karyono, Setyawati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 3 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.463 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.03.2

Abstract

Cigarette smoke is the main risk factor of chronic  obstructive pulmonary disease (COPD). Several studies about COPD has focused on the oxidative stress in lung. Oxidative stress was related to inactivation of antiprotease enzymes, airway epithelial destruction and proinflammatory genes expression. Antioxidant may useful for treatment of COPD. Black seed (Nigela sativa) studies have showed that black seedhas antioxidant activity. The aim of this research  was to prove that black seed crude extract can protect wistar rat lung from oxidative stress which was caused by chroniccigarette smoke exposure. This experimental research used randomizedcomplete design with control group. Thirty wistar strain of Rattus novergicus, 2.5 to 3 months old, 150 – 250 grams ofweight were divided into five groups. First group  was used as negative control group (without any treatment), second group as positive control group (only cigarettesmoke exposure treatment), third group as cigarette smoke exposureand black seed crude extract dose 0.6 gr/kilogram  of body weight/day (group A), cigarette smoke exposure and  black seed crude extract dose 1.2 gr/kilogram of body weight/day (group B) and cigarette smoke exposure and black seed crude extract dose 2.4 gr/kilogram of body weight/day (group C). After 3 months five parameters were measured in this research.
Pengaruh Jenis Insisi pada Operasi Katarak terhadap Terjadinya Sindroma Mata Kering S, Retnaniadi; P, Herwindo Dicky
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.67 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.6

Abstract

Katarak merupakan penyakit dengan insiden  tinggi pada mata dengan penanganan operatif pada kornea yang berisiko menimbulkan sindroma mata kering. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis insisi pada operasi katarak terhadap  terjadinya  sindroma  mata  kering  (SMK).  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  analitik  observasional  pada  36 sampel yang dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan jenis insisi pada operasi katarak, yaitu kelompok Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE), kelompok Small Incision Cataract Surgery (SICS), dan kelompok fakoemulsifikasi. Kuesioner Ocular  Surface  Disease  Index  (OSDI),  T es  Schirmer,  tes  (MGD),  tes  Ferning,  tes  T ear  Break  Up  Time  (TBUT)  dilakukan sebelum operasi dan setelah operasi. Dilakukan analisa statistik untuk mengetahui adanya hubungan antara jenis insisi pada  operasi  katarak  terhadap  terjadinya  sindroma  mata  kering.  Didapatkan  31  sampel  yang  mengalami  SMK  pasca operasi  katarak,  dengan  12  (38,7%)  sampel  pada  kelompok  ECCE  11  (35,5%)  sampel  pada  kelompok  fakoemulsifikasi  yang mengalami  SMK,  dan  sebanyak  8  (25,8%)  sampel  pada  kelompok  SICS  yang  mengalami  SMK.  T erdapat  hubungan  signifikan antara  jenis  insisi  pada  operasi  katarak  dengan  terjadinya  SMK  (p=0,018). Kata  Kunci:  Insisi,  mata  kering,  operasi  katarak
Sarkopenia, Latihan, dan Kejadian Jatuh (Falls) pada Populasi Lanjut Usia Tantri, Niluh; sunarti, Sri; Nurlaila, Gadis; Wahono S, Djoko
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.472 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.8

Abstract

Sarkopenia sangat terkait dengan penurunan fungsi dalam melakukan berbagai aktivitas penting yang pada akhirnya akan menyebabkan kerapuhan, meningkatkan risiko jatuh dan hilangnya kemandirian. Latihan diketahui merupakan salah satu modalitas terapi sarkopenia, yang juga memiliki efek protektif terhadap falls. Penelitian dilakukan untuk menemukan hubungan antara sarkopenia dan latihan dengan kejadian jatuh pada  usia >60 tahun. Penelitian observasional dilakukan dengan pendekatan potong lintang pada populasi lanjut usia mandiri di Kabupaten dan Kota Malang sebanyak 232 subjek. Massa otot diukur mengunakan formula MAMC, kekuatan dan fungsi ekstremitas diukur menggunakan kekuatan genggaman tangan dan jarak tempuh dan kecepatan  berjalan. Latihan didefinisikan sebagai senam ataupun jalan kaki minimal 120 menit perminggu. Riwayat jatuh dikatakan positif bila ada kejadian jatuh dalam 1 tahun terakhir berdasarkan anamnesis. Hasil menunjukkan 106 pasien (45,69%) mengalami sarkopeni berdasarkan algoritme EWSGOP. Dari 106 kelompok sarkopeni, 27 subjek pernah mengalami jatuh (25,5%). Faktor berat badan, tinggi badan, index massa tubuh, lingkar lengan atas, tricep skinfold, genggaman tangan, kecepatan berjalan dan latihan, terbukti memiliki perbedaan yang bermakna antara kelompok sarkopenia dan tidak sarkopenia (p=0,000; p=0,035; p=0,04; p=0,000; p=0,000; p=0,000; p=0,000; p=0,001 dan  p=0,031). Hanya lingkar lengan atas yang didapatkan hubungan yang bermakna dengan adanya riwayat jatuh (p=0,000). Didapatkan hubungan yang bermakna antara latihan dengan sarkopenia (p=0,031) dengan OR 1,73 CI 1,007-2,885, sehingga dapat dihitung probabilitas subjek yang tidak melakukan latihan akan mengalami sarkopenia sebesar 63,37%.Kata Kunci:Kekuatan otot, latihan, massa otot, riwayat jatuh , sarkopenia
Perbedaan Skor ACT, CD4+CD25+Foxp3treg, CD4+IFN-γ pada Pemberian Imunoterapi, Probiotik dan Nigella Sativa Sumantri, Debby Christinne; Sumarno, Sumarno; Barlianto, Wisnu; Olivianto, Ery; Kusuma, HMS Chandra
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.5

Abstract

Probiotik dan Nigella sativa memiliki efek imunomodulator dan telah banyak banyak dikaji penggunaannya dalam kombinasi dengan imunoterapi asma. Imunoterapi dapat merubah perjalanan alamiah asma yang melibatkan perubahan respon imun Th2 menjadi Th1 dengan peningkatan IFN-γ. Proses tersebut juga berhubungan dengan pembentukan Tregulator, tetapi belum jelas mekanisme mana yang lebih dominan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor ACT serta jumlah sel CD4+CD25+FoxP3Treg dan CD4+IFN-γ pada anak asma ringan yang mendapat imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa. Penelitian dilakukan dengan desain randomized clinical trial posttest only with control pada 32 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dalam 4 kelompok yaitu kelompok A (imunoterapi+plasebo), kelompok B (imunoterapi+Nigella sativa), kelompok C (imunoterapi+probiotik), dan kelompok D (imunoterapi+Nigella sativa+probiotik). Perlakuan diberikan selama 56 minggu (imunoterapi fase induksi 14 minggu dan fase rumatan 42 minggu). Imunoterapi berupa ekstrak house dust mite diberikan subkutan, probiotik berupa Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis, dengan penilaian skoring asma menggunakan Asthma Control Test (ACT). Jumlah sel CD4+CD25+FoxP3+Treg dan CD4+IFN-γ diukur menggunakan flowcytometry. Hasil menunjukkan skor ACT kelompok C lebih tinggi bermakna dibandingkan kelompok A (p=0,04). Jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg paling tinggi pada kelompok D (15,966±9,720) , sedangkan jumlah CD4+IFN-γ paling tinggi pada kelompok C (17,506±11,576), tetapi tidak didapatkan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3+Treg (p=0,278) dan CD4+IFN-γ (p=0,367) antar semua kelompok. Dapat disimpulkan bahwa Imunoterapi+probiotik dapat meningkatkan skor ACT lebih baik dibandingkan imunoterapi saja. Imunoterapi, Nigella sativa, dan probiotik tidak memberikan perbedaan bermakna pada jumlah CD4+CD25+FoxP3 Treg dan CD4+IFN-γ.Kata Kunci: Asthma Control Test, CD4+CD25+FoxP3+Treg, CD4+IFN-γ, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik