cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Nanosecond Pulsed Electric Fields (nsPEFs) Induce Socs1 and Socs3 but not Socs2 Gene Expressions in Hela S3 Cells Rohmah, Martina Kurnia; Lyrawati, Diana; Yano, Kenichi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.1

Abstract

Nanosecond Pulsed Electric Fields (nsPEFs) is one of bioelectric technologies applied widely in a number of sciences. nsPEFs cause some biological responses and known to play a role as a novel cancer therapy. However, the nsPEFs molecular mechanisms have not been fully elucidated. This study determines the effects of nsPEFs in socs (Suppressor of Cytokine Signaling) genes which are target genes of JAK/STAT signaling pathway. Through a negative feedback mechanism, SOCS proteins can suppress both cytokine signal transduction and overgrowth factor, so the cell growth is controlled. In cervix cancer, the presence of E6 and E7 HPV's oncoprotein is associated with methylation and inactivation of socs1 and socs3 genes. This mechanism is related to the increase of STAT expression and cancer prognostic. In this research, nsPEFs as much as 20 kV/cm for 80 ns was exposed over HeLa S3 cells in 4 mm cuvette. Socs1, socs2 and socs3 gene expressions were analyzed using real time PCR SYBR green and reverse transcription PCR (RT-PCR). This study shows that at 20 and 30 shots, nsPEFs significantly increase socs1 and socs3 but not socs2 gene expression. Effect of nsPEFs on socs1 and socs3 gene expression pattern is influenced by duration of post exposure incubation and each cell activity on internal cell condition. This research provides a new cancer therapy target for nsPEFs.Keywords: Bioelectric, gene expression, nsPEFs, shot, socs gene
Laporan Kasus: Hiperplasia Pseudokarsinomatus Hipofaring oleh karena Sporotrikosis Halim, Andrew; Rahaju, Pudji; Surjotomo, Hendradi; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.18

Abstract

Hiperplasia pseudokarsinomatus merupakan proliferasi epitel reaktif jinak yang secara histopatologi mirip karsinoma sel skuamosa. Salah satu penyebabnya adalah infeksi jamur. Kami melaporkan 1 kasus hiperplasia pseudokarsinomatus hipofaring oleh karena sporotrikosis. Wanita 57 tahun mengeluh tenggorok terasa mengganjal disertai nyeri ulu hati dan sensasi pahit/kecut naik ke tenggorok. Pasien menderita refluks laringofaringeal,alergi seafood, dan riwayat Steven Johnson Syndrome. Pada pemeriksaan laringoskopi, tampak massa berdungkul pada hipofaring dengan kesan jinak. Dari hasil pemeriksaan histopatologi tampak infiltrasi epitel menuju dermis (mirip karsinoma sel skuamosa). Dengan pemeriksaan ulang secara patologi anatomi dan mikrobiologi (baku emas) serta komunikasi antara klinisi, ahli patologi, dan mikrobiologi, massa tersebut diidentifikasi sebagai hiperplasia pseudokarsinomatus oleh karena Sporothrix schenckii. Pasien menjalani eksisi massa dan diberikan ketokonazol dan lanzoprazol selama 6 minggu. Saat evaluasi ulang, pasien merasa rasa mengganjal hilang dan tidak ditemukan massa pada hipofaring. Hiperplasia pseudokarsinomatus hipofaring oleh karena sporotrikosis jarang terjadi. Di indonesia, belum ada laporan kasus mengenai hal ini. Kesalahan diagnosis sebagai karsinoma dapat berakibat fatal. Akan tetapi, dengan diagnosis yang lebih teliti dan tatalaksana yang tepat, prognosis pasien sangat baik.
Hubungan Polimorfisme Gen ACTN3 dengan Kelincahan, Daya Ledak, dan Kecepatan candrawati, susiana; Gumilas, Nur Signa Aini; Kusuma, Muhammad Nanang Himawan; Adiningtyas, Pradani Eva; Sucipto, Muhammad Cahya Riadi; Rahmah, Sarah Shafira Aulia
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.091 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.8

Abstract

Komponen biomotorik kelincahan, daya ledak, dan kecepatan merupakan komponen yang harus dimiliki atlet sepak bola. Penelusuran genetik dapat menjadi salah satu metode talent profiling pada atlet sepak bola. Talent profiling belum pernah dilakukan pada kalangan atlet Indonesia terutama atlet yunior seperti atlet Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sepak Bola di (Universitas Jenderal Soedirman) UNSOED. Salah satu gen yang berhubungan dengan performa adalah gen ACTN3. Gen ACTN3 yang merupakan gen pengkode protein α-aktinin-3 pada serabut otot tipe cepat, diduga berpengaruh terhadap kelincahan, daya ledak dan kecepatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen ACTN3 dengan kelincahan, daya ledak dan kecepatan otot pada atlet sepakbola. Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Metode pengumpulan subjek pada penelitian ini menggunakan consecutive sampling. Subjek pada penelitian ini adalah 82 atlet yang mengikuti UKM sepak bola Universitas Jenderal Soedirman. Metode PCR-RFLP dan elektroforesis digunakan untuk melihat polimorfisme gen ACTN3. Sedangkan pengukuran komponen biomotorik menggunakan tes agilitas Illinois (kelincahan), jump meter digital (daya ledak) dan tes sprint 30 meter (kecepatan). Analisis data menggunakan uji ANOVA satu arah dengan tingkat kemaknaan p=0,05. Terdapat hubungan bermakna antara polimorfisme gen ACTN3 dengan daya ledak otot (p=0,027) dan tidak terdapat hubungan bermakna antara polimorfisme gen ACTN 3 dengan kelincahan (p=0,084) dan kecepatan (p=0,507). Rerata terbaik ketiga komponen biomotorik terdapat pada alel RR gen ACTN 3. Disimpulkan terdapat hubungan antara polimorfisme gen ACTN3 dengan daya ledak otot, tapi tidak terdapat hubungan antara polimorfisme gen ACTN 3 dengan kelincahan dan kecepatan pada atlet sepakbola.
Kombinasi Diskusi Kelompok Kecil dan Pemodelan sebagai Metode Alternatif untuk Menurunkan Kecemasan Primigravida Menghadapi Persalinan Lestaluhu, Viqy; Indrawan, I Wayan Agung; Andarini, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.622 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.13

Abstract

Kehamilan pertama bagi seorang ibu merupakan periode krisis dalam kehidupannya. Kecemasan dapat muncul karena masa panjang menanti kelahiran dan ketidakpercayaan diri Ibu merawat bayinya. Oleh karena itu, primigravida membutuhkan informasi yang memadai tentang persiapan persalinan. Kombinasi diskusi kelompok kecil dan pemodelan merupakan metode pembelajaran yang bermanfaat dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu, salah satunya dengan menurunkan kecemasan dalam menghadapi persalinan. Penelitian ini bertujuan membuktikan pengaruh penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan terhadap kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan. Desain penelitian adalah true eksperimen dengan rancangan randomized subject, pretest-posttest control group design. Penelitian dilakukan di Puskesmas Poka Rumah Tiga Kota Ambon. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 24 responden yang dibagi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Pengukuran kecemasan primigravida menghadapi persalinan menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Data dianalisis dengan uji paired t-test dan independent t-test dengan α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan kecemasan primigravida menghadapi persalinan sebelum dan setelah penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan serta antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa penerapan kombinasi metode diskusi kelompok kecil dan pemodelan dapat menurunkan kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan.
Gambaran Klinis Ketoasidosis Diabetikum Anak Aji C, Haryudi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.4 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.10

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan profil klinis ketoasidosis diabetikum pada anak. Data dikumpulkan dari rekam medik gambaran klinis pasien ketoasidosis diabetikum yang didapatkan di Bagian Anak Rumah Sakit dr . Saiful Anwar Malang pada tahun 2005-2009. Pada masa penelitian ini didapatkan 19 pasien dengan usia 1-14 tahun dengan proporsi 58% perempuan, 53% berusia antara 5-10 tahun dan 63% mengalami gizi kurang. Pada 53% pasien memberikan gambaran konsentrasi bikarbonat pada darah sebesar   5-9,9 mmol/L. osmolaritas darah >295-400 mOsm/l ditemukan pada 84% pasien dan 53% pasien mempunyai level potasium 3,5-5 mmol/L dan 42% pasien mempunyai kadar leukosit 10.000-<20.000/ul.  Keluhan  yang  paling  banyak  ditemukan  pada  pasien  adalah  muntah,  nyeri  perut,  penurunan kesadaran, kejang, diare, penurunan berat badan, polyuria, polydipsia, polyphagi dan demam. Keluhan terbanyak adalah polyuria yang didapatkan pada 16% kasus. Sebagian besar (67%) penderita Ketoasidosis Diabetikum anak mempunyai kadar keton  lebih dari 5 mmol/l dan 61% mengalami ketonuri  (4+) serta 63% pasien mempunyai anion gap 12.0-24.0.Kata Kunci: Anak, gambaran klinis, ketoasidosis diabetikeum
PAKAIAN SEBAGAI PELINDUNG SURYA SHW, Tantari
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 2 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.953 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2003.019.02.7

Abstract

ABSTRACT Although sunlight is of much benefit for live, it has an adverse effects on human skin. The effects of sunlight can be controlled by using protective cream or reducing the exposure to sunlight. Appropiate design clothes and correct protective factorsare part of efforts can prevent all spectrum of UV rays. The clothes’s protective nature depend on it’s fibre’s struvture, colour, waterproof properties, as well as it’s refine processes. Personal protection towards Ultraviolet radiation can be further supported by wearing a big cap, using an umbrella,  being under a shade, using appropriate protective clothes and avoiding the sunlight between 10.00 am until 04.00 pm. The above steps should be initiated at an children. In every country including Indonesia, there should be standarritation and regulation concering protective steps towards sunlight.
PERANAN MAKROFAG PADA PROLIFERASI, DIFERENSIASI DAN APOPTOSIS PADA PROSES HEMATOPOISIS (PENELITIAN PADA LIMPA JANIN TIKUS DAN ASPIRAT SUMSUM TULANG MANUSIA) Widjajanto, Edi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1346.822 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.01.6

Abstract

Macrophage stimulates growth of surrounding cells by various cytokines and growth factors synthesized  and eliminate apoptotic cells by its phagocytes activity. This study was to evaluate the evidence of macrophage as regulator cells during haematopoiesis. Haematopoietic activity assessed microscopically by proportion of various haematopoietic blood cells to total nucleated blood cells on imprint preparation of fetal ratus (Wistar) spleen and human marrow aspirate, after Wright’s stain coloration. Fetal ratus spleen and human marrow aspirate were used to evaluate macrophage as a stimulator cell and suppressor cell respectively. During prenatal period, the proportion of macrophage increased at 14thdays (1.3 ± 0.9%), 16thdays (7.6 ± 1.8 %), 18thdays (12.9 ± 2.8 %) and 20thdays prenatal gestation periods (14.1 ± 3.1%). Thismacrophage increment was associated with the increase of other blood cells, except the proportion of lymphoid cell which decreased. During postnatal period the macrophage proportion decreased (11.0 ± 1.7 %), and other bloodcells proportion continuously increased except lymphoid cells which decreased. Many haematopoietic islands representing active haematopoietic process were found at 14thdays of fetal rat spleen. Macrophage in human hypocellular marrow (n = 9) increased and it exceed other blood cells proportion (29 %, p < 0.001) and contained phagocytosed apoptotic bodies. This study concludes that high macrophage regulates  haematopoiesis when it was proportionally low and regulate haematopoiesis when it was proportionally high. Keywords:Macrophage, Apoptosis, Haematopoiesis
Efek Catechins Teh Hijau terhadap Ekspresi ROR αdan C/EBP-α pada Kultur Primer Preadiposit Khaira H, Faridha; Ratnawati, Retty; Lyrawati, Diana
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.495 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.03.2

Abstract

Obesitas  merupakan  faktor  risiko  terjadinya  berbagai  penyakit  yang  dapat  menyebabkan  kematian.  Pada  tingkat  sel, obesitas dicirikan oleh pertambahan ukuran dan jumlah sel adiposit diantaranya melalui proses adipogenesis. T eh hijau merupakan minuman yang dikonsumsi di seluruh  dunia, yang memiliki banyak manfaat  terhadap kesehatan terutama disebabkan  oleh  konsentrasi  polifenol  catechins  yang  memiliki  efek  anti-obesitas. Penelitian  ini  bertujuan  untuk membuktikan efek isolat  senyawa golongan catechins  teh hijau pada regulator negatif  maupun positif pada adipogenesis yaitu  ROR-α  dan  C/EBP-α.  Penelitian  ini  dilakukan  secara  in  vitro  pada  kultur  primer  preadiposit  dengan  4  kelompok perlakuan:  (1)  kelompok  kontrol,  (2)  dipapar  dengan  catechins  5µM,  (3)  dipapar  dengan  catechins  10  µM  dan  kelompok  (4) dipapar  dengan  catecins  30  µM.  Dua  hari  setelah  sel  mencapai  confluent,  sel  diinduksi  untuk  berdiferensiasi  menjadi adiposit  dengan  IBMX,  DEX  dan  insulin.  Pada  hari  ke  3  diferensiasi,  sel  dipapar  dengan  catechins  selama  24  jam,  setelah  itu sel  dipanen  dan  ekspresi  ROR-α  dan  C/EBP-α  diperiksa  menggunakan  metode  ELISA  dan  immunositokimia.  Isolat  senyawa golongan catechins teh hijau pada dosis 10 dan 30 µM   secara signifikan menurunkan ekspresi C/EBP-α masing-masing sebesar 20,24% dan 26,43%. Pemaparan isolat senyawa golongan catechins teh hijau tidak memiliki efek yang signifikan terhadap  ekspresi  ROR-α  meskipun  ekspresinya  cenderung  meningkat  seiring  dengan  pertambahan  dosis.
Metode Skrining Gizi di Rumah Sakit dengan MST Lebih Efektif dibandingkan SGA Herawati, Herawati; Sarwiyata, Triwahyu; Alamsyah, Arief
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.944 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.26

Abstract

Pelayanan asuhan gizi rawat inap adalah serangkaian kegiatan terorganisir atau terstruktur yang memungkinkan untuk identifikasi kebutuhan dan penyediaan asuhan gizi guna memenuhi kebutuhan pasien. Pelayanan asuhan gizi rawat inap meliputi skrining gizi dan PAGT (Proses Asuhan Gizi Terstandar). Ketepatan pemilihan, kemudahan penggunaan metode skrining gizi dan penerapan PAGT sangat diperlukan guna menunjang pelaksanaan asuhan gizi rawat inap yang lebih berkualitas. Penelitian ini bertujuan memilih metode skrining gizi dan form PAGT yang diterapkan di  RSI Unisma Malang yang lebih efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan gizi yang optimal sesuai dengan Pedoman Gizi Rumah Sakit (PGRS) Tahun 2013. Dilakukan uji coba penerapan metode skrining gizi dan form PAGT di ruang rawat inap RSI Unisma Malang serta dilakukan evaluasi efektifitas, efisiensi dari penerapan metode skrining gizi dan form PAGT tersebut. Hasilnya adalah peningkatan cakupan jumlah pasien yang terskrining menggunakan metode MST sebesar 34,4% dibandingkan dengan penggunaan metode SGA. Peningkatan cakupan jumlah pasien yang dilakukan PAGT sebesar 100% dari pasien yang beresiko tinggi malnutrisi dari yang dilakukan skrining awal. Metode skrining MST dinilai lebih cepat, sederhana, efektif, efisien dan aplikatif. Format PAGT lebih sederhana dan mudah dilakukan di RSI Unisma Malang.Kata Kunci: MST, PAGT, skrining gizi
Kadar Heat Shock Protein 70 pada Persalinan Prematur Wiharjo, Soetrisno Kasan; Respati, Supriyadi Hari; Bawono, Antonius Budi Giri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 4 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.067 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.04.9

Abstract

Persalinan preterm merupakan masalah kesehatan bagi negara maju maupun berkembang, berperan besar peningkatan morbiditas dan mortalitas neonatus, serta sering berdampak kesehatan jangka panjang seperti celebral palsy, kebutaan, dan perkembangan psikomotorik. Menganalisis apakah terdapat perbedaan serta hubungan antara kadar HSP70 persalinan preterm dibandingkan kehamilan normal. Observasional analitik dengan rancangan potong lintang. Jumlah subyek penelitian 60 ibu hamil dibagi dua kelompok, persalinan preterm 30 ibu hamil dan kelompok kehamilan normal 30 ibu hamil. Pemeriksaan HSP70 dilakukan di laboratorium klinik Prodia. Analisa statistik dengan uji Chi-kuadrat. Berdasarkan karakteristik ibu pada kedua kelompok penelitian, pendidikan dan LILA (Lingkar Lengan Atas) berpengaruh terhadap kejadian persalinan preterm (Probability (p)=0,008 dan p=0,002). Ibu berpendidikan SD mengalami persalinan preterm sebanyak 6,6 kali lebih besar (Prevalence Ratio (PR)=6,682 dan p=0,029), sedangkan berpendidikan SMP berisiko mengalami persalinan preterm sebanyak 3 kali lebih besar (PR=3,27 dan p=0,054) dibanding SMA. Ibu berLILA kurang memiliki risiko persalinan preterm sebanyak 5,5 kali lebih besar dibanding ibu berLILA normal (PR=5,5). Ibu berkadar HSP70 yang tinggi berisiko mengalami persalinan preterm sebanyak 5,2 kali lebih besar dibanding kehamilan normal (PR=5,26 dan p=0,122). Ada perbedaan dan hubungan  antara kadar Heat Shock Protein 70 persalinan preterm dibandingkan kehamilan normal, namun didapatkan kesimpulan statistik yang tidak bermakna. LILA dan pendidikan berpengaruh bermakna terhadap kejadian persalinan preterm.Kata Kunci: Distres maternal, heat shock protein 70, persalinan preterm, lingkar lengan atas, pendidikanABSTRACT