cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Pemberian Kombinasi 5FU-Leucovorin dengan Phaleria macrocarpa terhadap Proliferasi Sel dan Diameter Adenokarsinoma Kolon Tikus Sprague dawley Alwi, Luqman; Budijitno, Selamat; Basyar, Edwin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.03.7

Abstract

Insidensi kanker kolon di seluruh dunia masih tinggi dan menjadi penyebab kematian terbanyak kategori penyakit tidak menular. Pembedahan tetap merupakan pilihan utama dengan modalitas lainnya berupa kemoterapi, radiasi dan imunoterapi seperti P. macrocarpa (Mahkota Dewa). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental laboratorik dengan desain post test only menggunakan tikus putih betina strain Sprague dawley dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok K (kontrol), P1 (kelompok kemoterapi), P2 (kelompok P. macrocarpa), dan P3 (Kelompok kombinasi). Tumor kolon diperoleh dengan induksi 1,2-DMH subkutan. Kemoterapi yang diberikan 5FU-Leucovorin sebanyak 6 siklus sesuai Rosswell Park Regiment. P. macrocarpa diberikan dengan dosis 0,495mg/hari (0,99mL/hari) per oral. Proliferasi sel dinilai dengan pengecatan IHC Ki-67 sedangkan diameter massa tumor diukur menggunakan caliper tumor. Proliferasi sel dan diameter massa tumor didapatkan rerata kelompok K, P1, P2, P3 berturut-turut 37,150±8,878, 28,567±12,531, 35,533±8,982, 22,567±3,445 dan 1,403±0,265, 1,135±0,154, 1,339±0,111, 1,074±0,164. Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada proliferasi sel antara kelompok K vs P3 (p=0,011), P2 vs P3 (p=0,022) dan pada diameter massa tumor antara kelompok K vs P1 (p=0,020), K vs P3 (p=0,005), P2 vs P3 (0,021). Analisis korelasi proliferasi sel dengan diameter massa tumor didapatkan korelasi tidak bermakna (p=0,405). P. macrocarpa mempunyai potensi sebagai imunostimulator yang dapat meningkatkan efektivitas kemoterapi 5FU-Leucovorin dalam hal penurunan proliferasi sel dan penurunan diameter adenokarsinoma kolon tikus Sprague dawley.Kata Kunci: Adenokarsinoma kolon, P. macrocarpa, proliferasi sel 
Siderofor: Senyawa Transpor Besi Mikrobial Tandya, Sugiharta; A, Maimun Zulhaidah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 18, No 2 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.232 KB)

Abstract

Besi merupakan salah satu mineral yang penting bagi bakteri patogenik untuk tumbuh di dalam tubuh inang. Karena konsentrasi besi yang terlarut sangat rendah, bakteri mengembangkan mekanisme-mekanisme untuk memperoleh besi dengan konsentrasi yang memadai, salah satu adalah dengan mensintesa siderofor. Siderofor ini mengadakan kompleks dengan besi yang selanjutnya ditranspor ke dalam sel untuk digunakan oleh mikroorganisme tersebut. Senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah ini ditranspor melewati double membrane envelope bakteria melalui gating mechanism yang menghubungkan membran dalam dan luar. Senyawa-senyawa pengkhelat besi ini dibagi menjadi empat kelompok: katekholat, hindroksamat, hindroksipiridonat, dan aminokarboksilat. Potensi patogenik beberapa spesies bakteri dikaitkan dengan kemampuan bakter-bakteri tersebut di dalam mengahasilkan siderofor. Sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan terapi antimikrobial dan pembentukan vaksin.
Performa Rapid Emergency Medicine Score dalam Memprediksi Outcome Pasien Trauma Kepala di Instalasi Gawat Darurat Mulyono, Didik; Nurdiana, Nurdiana; Kapti, Rinik Eko
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.13

Abstract

Rapid Emergency Medicine Score (REMS) merupakan suatu sistem skor yang telah digunakan secara luas di berbagai negara untuk memprediksi mortalitas pasien non bedah maupun trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD), tetapi belum diuji pada populasi yang spesifik pada trauma kepala. Tujuan penelitian ini untuk menilai performa REMS dalam memprediksi outcome pasien trauma kepala di IGD. Penelitian ini menggunakan desain observasi analitik dengan pendekatan retrospektif. Sampel menggunakan data rekam medis pasien dengan trauma kepala sedang-berat disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan digunakan teknik purposive sampling yaitu sebanyak 181 responden. Analisis bivariat yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan uji Somers'd, sedangkan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ordinal. Selanjutnya, kemampuan untuk memprediksi outcome dinilai menggunakan analisis the area under the receiver operating characteristic (AUROC). Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa nilai somers'd REMS sebesar 0,310 dengan p value <0,001 dan arah hubungan positif dengan outcome pasien trauma kepala. Hasil regresi logistik ordinal menunjukkan parameter Glasgow Coma Scale (GCS) memperoleh Odds Ratio sebesar 0,7, artinya skor GCS yang rendah memiliki risiko memperoleh outcome death sebesar 0,7 kali lebih besar dibandingkan memperoleh outcome moderate disability, severe disability, persisten vegetatif state. Nilai Area Under Curve (AUC) REMS pada cut of point >5 dengan sensitivitas 61,4 dan spesifisitas 77,8 adalah 0,753 (95% CI; 0,683-0,814. REMS menunjukkan performa yang baik dalam memprediksi outcome pasien trauma kepala.
ENCEPHALOPATY AKUT PADA ANAK DENGAN KELAINAN METABOLISME BAWAAN (PENDEKATAN PRAKTIS) Puryatni, Anik; de Koning, Tom J.
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 24, No 3 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.983 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2008.024.03.7

Abstract

ABSTRACT Acute  encephalopathy  is  a  not  a  common,  but  a  potential  emergency  situation  in  newborns  and  youngchildren.  If  the  encephalopathy  is  not  caused  by  asphyxia  or  infections  of  the  brain,  rare  inborn  errors  ofmetabolism need to be considered. An acute encephalopathy due to an inborn error can occur in newborns,young  infants,  or  even  in  childhood  and  is  not  always  easily  recognized  because  more  subtle  presentationscan  occur.  In  this  article  we  will  give  a  practical  guideline  to  the  diagnostic  approach  of  metabolic  diseasespresenting with acute neurological symptoms with an emphasis on treatable disorders and the application indeveloping  countries  with  limited  diagnostic  resources.  The  first  step  in  the  evaluation  of  patient  with  apossible  metabolic  disease  is  to  categorise  the  clinical  appearance  of  the  patient  in  one  of  the  followingclinical categories: Hypoglycemia phenotype; Intoxication phenotype; Neurotransmitter defect phenotype; andCellular energy  metabolism defect  phenotype.  Second, combine this clinical classification with your physicaexamination  and  the  result  of  routine  laboratory  investigations  and  this  can  lead  to  suspected  diagnosis  ofmetabolic  disorders.Prompt  recognition  and  treatment  are  important,  because  an  acute  metabolicencephalopathy can irreversible and interruption of normal neural activity in the developing brain can have along-lasting  effect  on  psychomotor  development.  Delay  in  diagnosis  and  treatment  may  thus  result  in  acutemetabolic decompensation, progressive neurologic injury, or even death.  Key words: acute encephalopathy, inborn error metabolisme
SINDROMA TURNER (SINDROMA BONNEVIE-URLICH) Wiyasa, Arsana; Pudjiastuti, Retno
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 3 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.038 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2003.019.03.1

Abstract

It was reported a case of Turner syndrome of fifteen years old girl who complain have not started menses. Physical examination included short stature, shield chest with wide spaced nipples and secondary sex was absent. External genitalia was normally, internal genitalia was found hipoplasia of uterine. Laboratory examination showed low estrogen, high FSH and LHand normothyroid. Karyotype was 45, X, USG examination showed there was no development of uterine. X-ray of extremity showed that epiphiseal line has not closed, bone age used of method of Todd (manus), linear growth (femur, tibia, fibula), quantity of growth (femur, tibia) accordingly 11-12 years. Expectant to increase her  height was low because growth hormon preparation was difficult to find and the price was not attainable by the pasien. Just low dose ethinil estradiol have been given for pasien until bone age more than 12 years when epiphiseal line have been closed and will continue with full dose ethinil estradiol until post menopause. Key words:Turner syndrome, growth hormon, ethinil estradiol,epiphiseal line
Penundaan Makanan Padat Mengurangi Risiko Timbulnya Atopi pada Anak Barlianto, Wisnu; Kusuma, HMS Chandra; HM, Ni Luh Putu
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.407 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.03.3

Abstract

Nutritions  plays  an  important  role  in  the  incidence  of  atopic  both  in  children  and  adults.  Several  recent guidelines  recommend  a  delay  of  solid  foods  to  prevent  atopic  disease.  However,  until  now,  there  is  still  much controversy  about  the  influence  a  delay  of  solid  foods  in  children  to  develop  atopic   disease.  This  study  aimed to  determine  the  impact  of  the  start  time  of  solid  foods  to  atopic  children.  A  case-control  study  was conducted in  outpatient  institutions  Pediatrics RSSA  Malang from  May 2008  until  May 2009.  Respondents were divided into two groups: atopic (cases) and non atopic (control) based on history of atopic disease. The age of first given  solid  food  and  familial  atopic  were retrieved  based  on  history .  Statistical analysis  using  Chi-square test at 95%    level  of confidence,  was conducted  to  determine the  impact  of the  start  time  of solid  food  to  the incidence  of  atopic.  There were 236  patients  divided  equally  into  atopic  and  control  group.  Giving solid  foods at 4-6 months of age will increase  the  risk  of atopic compared  with age> 6 months (OR  2.8 (1.29  to  6.07), p = 0.007).  The  results  of  this  study  support  the  recommendations  given  by  WHO, that  the  postponement  of  solid food  until  age  6  months  would  reduce  the  incidence  of  atopic  risk  in  children.Keywords  :  postponement  ,  solid  food,  atopic  diseases,  sensitization
Paparan Morfin Dosis Letal pada Bangkai Tikus terhadap Pertumbuhan Larva Sarcophaga Sp. I, Dicky Faizal; B, Aswin Djoko; Sidharta, Bambang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.843 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2011.026.04.9

Abstract

Dalam mengidentifikasi jenazah yang tidak terdeteksi, peran post mortem interval (PMI) sangat penting untuk memperkirakan waktu kematian dengan menentukan umur larva lalat yang terdapat pada jenazah. Umur larva lalat sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, makanan, kelembapan, intensitas cahaya, dan kontaminan. Kontaminan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan larva lalat adalah narkotika. Keberadaan bahan narkotika mampu mengacaukan estimasi waktu kematian hingga 29 jam. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan media dua bangkai tikus tanpa paparan morfin dan dengan paparan morfin dosis letal. Kedua media tumbuh ini dimasukkan kandang dengan lalat Sarcophaga Sp. Dilakukan pengamatan setiap 24 jam mulai dari larva lalat stadium satu sampai lalat dewasa. Dari setiap media tumbuh diambil lima larva secara acak setiap hari, direndam dalam air panas sampai mati. Selama penelitian dilakukan penentuan stadium larva berdasarkan panjangnya dan jumlah slit pada posterior spirakelnya. Hasil menunjukkan pada media tumbuh yang dipapar morfin dosis letal menunjukkan hasil pertumbuhan larva baik panjang maupun berat lebih tinggi secara signifikan dibandingkan pertumbuhan larva pada media tumbuh yang tidak dipapar morfin dosis letal dengan durasi pencapaian stadium lebih cepat. Perbedaan panjang larva dan durasi pencapaian stadium mulai tampak setelah larva stadium satu. Kata Kunci: Entomologi forensik, morfin dosis letal, Sarcophaga Sp.
Pengaruh Faktor Instrinsik dan Ekstrinsik terhadap Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh Bidan di Puskesmas Rawat Inap Putri, Rismaina; Indrawan, I Wayan Agung; Andarini, Sri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.989 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.16

Abstract

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses alami dimana bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir kontak kulit dengan kulit ibunya hingga 1 (satu) jam setelah lahir. Meskipun IMD wajib dilakukan bidan dalam proses persalinan namun belum semua bidan melaksanakannya dengan baik. Terdapat beberapa faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi pelaksanaan IMD. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh faktor intrinsik yang meliputi karakteristik bidan (umur, pendidikan, masa kerja), pengetahuan, sikap dan motivasi dan faktor ekstrinsik bidan yang meliputi pelatihan, beban kerja dan imbalan  terhadap pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini di Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik secara case control dan dengan tehnik purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di 3 (tiga) Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Pasuruan yaitu Puskesmas Gondangwetan, Purwodadi dan Winongan pada bulan November – Desember 2013. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang. Setiap subjek diobservasi dengan lembar observasi saat melaksanakan IMD kemudian mengisi kuisioner untuk mengukur faktor intrinsik yaitu karakteristik bidan (umur, pendidikan, masa kerja), pengetahuan, sikap  dan motivasi dan faktor ekstrinsik bidan yaitu pelatihan, beban kerja dan imbalan. Analisis hasil penelitian menggunakan uji analisis jalur. Hasil penelitian menemukan bahwa faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik bidan berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD di Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Pasuruan. Variabel yang berpengaruh langsung terhadap pelaksanaan IMD di Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Pasuruan adalah sikap bidan (2,78%), beban kerja yaitu jumlah persalinan/minggu (0,26%) dan jumlah jam kerja bidan/minggu (1,54%) serta motivasi (0,44%). Umur (14,51%), pendidikan (2%), masa kerja (7,67%), pengetahuan (0,26%), pelatihan (8%), dan imbalan (0,06%) merupakan faktor yang berpengaruh tidak langsung terhadap pelaksanaan IMD di Puskesmas Rawat Inap Kabupaten Pasuruan. Umur merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pelaksanaan IMD di Puskesmas Kabupaten Pasuruan.Kata Kunci: Bidan, faktor ekstrinsik, faktor intrinsik, Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Laporan Kasus: Multisystem Langerhans Cell Histiocytosis pada Anak Perempuan Usia Dua Tahun WL, Eky Indyanty; Arthamin, Maimun Z; Nugroho, Susanto; Budiman, Budiman
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.506 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.17

Abstract

Langerhans Cell Histiocytosis (LCH) merupakan penyakit yang jarang dengan karakteristik proliferasi dan migrasi sel dendritik atau sel histiosit (sel Langerhans). Kelainan ini terutama mengenai tulang (sistem skeletal) namun dapat juga muncul pada kulit, kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan risk organs involvement yaitu hepar, paru, limpa, dan sistem hematopoietik. Kelainan ini relatif langka dan jarang sehingga diagnosis LCH sering kali terlambat atau luput. Diagnosis definit pada LCH yaitu ditemukannya CD1a antigen, S100 protein, atau Langerin (CD207) pada pemeriksaan imunohistokimia atau granula Birbeck pada pemeriksaan mikroskop elektron. Pada kasus ini seorang anak perempuan usia 2 tahun dengan keluhan mata kiri menonjol, terdapat benjolan di belakang kepala, belakang telinga kiri dan leher sebelah kanan. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan proptosis okuli sinistra, massa regio occipital, belakang telinga kiri dan leher, hepatomegali, spenomegali. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia mikrositik hipokrom anisositosis, leukositosis, trombositosis. Pemeriksaan sumsum tulang mengesankan terdapat infiltrasi Langerhans cell histiocytosis. Pemeriksaan FNAB mengesankan Langerhans histiositosis. Pemeriksaan foto Schuller menunjukkan lesi litik geografik tulang fronto-temporo-parietal-occipital sinistra, occipital dextra, lesi litik destruktif pada ramus mandibula dextra. Hasil CT-scan kepala menunjukkan hasil soft tissue mass multiple. Hasil pemeriksaan imunohistokimia didapatkan hasil positif S100 protein. Pada kasus ini, pasien didiagnosis LCH atas dasar gambaran morfologi sel Langerhans (FNAB) dan hasil positif S100 protein (imunohistokimia). Beberapa organ yang terlibat antara lain mata, tulang craniofacial, kulit, hepar, limpa, dan sumsum tulang.
Surveilans Infeksi Nosokomial di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Aplikasi Kriteria McGeer Donosepoetro, Imelda Fitria; Hakim, Lukman; Hariyanto, Tatong
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.12

Abstract

Infeksi nosokomial merupakan salah satu tolok ukur mutu sebuah rumah sakit yang dipengaruhi karakteristik rumah sakit. Fasilitas kesehatan jangka panjang yang termasuk rumah sakit jiwa, berbeda dari rumah sakit pada umumnya dilihat dari karakteristik penghuninya yang membutuhkan supervisi 24 jam oleh tenaga kesehatan. McGeer mengembangkan sebuah kriteria infeksi nosokomial khusus untuk fasilitas kesehatan jangka panjang karena di fasilitas tersebut minim tindakan invasif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran infeksi nosokomial di di Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW) dengan modifikasi kriteria McGeer, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian infeksi nosokomial tersebut. Penelitian ini dilakukan di RSJRW pada bulan Februari-April 2016 dengan pasien rawat inap periode bulan April 2016 sebagai populasi. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan pedoman baru dan lembar observasi suveilan yang menggabungkan kriteria Kemenkes RI dan kriteria McGeer untuk infeksi nosokomial di fasilitas kesehatan jangka panjang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya kejadian infeksi nosokomial dengan menggunakan Kriteria McGeer, dan sebagai studi pendahuluan surveilans infeksi nosokomial di RSJRW dengan menggunakan Kriteria McGeer. Desain penelitian adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan kriteria baru sebagai pedoman surveilans di RSJRWdapat mengidentifikasi 30 insiden infeksi nosokomial tunggal, dengan rate tertinggi infeksi saluran kemih (20,83‰) dan plebitis (11,8‰). Faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh adalah usia, mobilitas terganggu, pemakaian kateter, pemakaian infus, dan ruangan dengan tindakan invasif lebih berisiko daripada ruangan perawatan lainnya.