cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
Faktor yang Mempengaruhi Waktu Tunggu Pelayanan Kesehatan kaitannya dengan Kepuasan Pasien Rawat Jalan Klinik penyakit dalam RSUD Dr. Iskak Tulungagung Torry, Torry; Koeswo, Mulyatim; Sujianto, Sujianto
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.03.3

Abstract

Waktu tunggu pelayanan pasien merupakan salah satu indikator kepuasaan pasien dan mutu pelayanan rumah sakit. Laporan capaian kinerja tahun 2014 pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung menyebutkan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan pasien rawat jalan adalah 70 menit, yang melebihi standar pelayanan minimal (SPM) nasional adalah 60 menit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan kesehatan kaitannya dengan kepuasan pasien rawat jalan dengan menggunakan desain penelitian analisis deskriptif. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan pendekatan cross-sectional, yaitu Time and Motion Study dan Survei. Total sampel pada penelitian ini adalah 101 responden yang terdiri dari 101 pasien rawat jalan di Klinik penyakit dalam RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan kuesioner. Data menunjukkan bahwa total rata-rata waktu tunggu pelayanan rawat jalan penyakit dalam adalah 157,13 menit. Waktu tunggu terpanjang adalah rata-rata rentang waktu tunggu pasien yang telah mendapatkan pelayanan paramedis serta akan dilayani oleh dokter, yaitu 120,07 menit. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa kepuasan pasien dipengaruhi oleh waktu tunggu yang sebenarnya dirasakan pasien, dan kecepatan pelayanan yang diterima pasien (P<0,05). Kesimpulannya, faktor utama yang memperpanjang waktu tunggu pelayanan dan menurunkan kepuasan pasien, adalah kurang optimalnya jadwal dokter bertugas.Kata Kunci: Kepuasan pasien, waktu tunggu pelayanan rawat jalan 
Peningkatan Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Pasca Implementasi Kebijakan Penggunaan Antimikroba di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Rosdiana, Dani; Anggraini, Dewi; Balmas, Mukhyarjon; Effendi, Dasril; Bet, Anwar
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.7

Abstract

Ancaman global permasalahan resistensi antibiotik membutuhkan strategi pencegahan yang mencakup penggunaan antibiotik secara bijak melalui pengawasan penggunaan antimikroba. Penggunaan antibiotik harus memenuhi beberapa kriteria seperti indikasi, dosis, lama pemakaian, jarak pemberian yang tepat, serta aman dan terjangkau bagi masyarakat, dan juga memenuhi pola mikroba dan kultur. Pada penelitian ini dilakukan analisis rasionalitas penggunaan antibiotik di Bangsal Kenanga RSUD Arifin Achmad Pekanbaru setelah implementasi kebijakan penggunaan antimikroba pada periode Maret hingga Agustus 2016. Terdapat 252 penggunaan antibiotik yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pre-implementasi sebanyak 92 dan pasca-implementasi sebanyak 160 penggunaan antibiotik. Rasionalitas penggunaan antibiotik dinilai dengan metode Gyssens yang dilakukan oleh tim pengkaji. Penggunaan antibiotik rasional meningkat sebanyak 15,1%, penggunaan antibiotik tanpa indikasi menurun sebanyak 10,9% dan terdapat peningkatan pemeriksaan kultur sebanyak 57,7%. Berdasarkan uji statistik, terdapat peningkatan bermakna rasionalitas penggunaan antibiotik setelah implementasi pedoman penggunaan antibiotik (33,7% vs 48,8%, p=0,020), dan penurunan penggunaan antibiotik tanpa indikasi (27,2% vs 16,3%, p=0,038). Penerapan kebijakan penggunaan antimikroba efektif meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik. Program ini dapat diperluas di bangsal lain sehingga rasionalitas penggunaan antibiotik merata di seluruh rumah sakit.
Kadar Prokalsitonin dan Interleukin-6 sebagai Penanda Prognostik pada Pasien Pneumonia dengan Sepsis Siahaan, Sylvia Sagita; Putra, Ngakan Putu; Sugiri, Yani Jane; Rasyid, Harun Al
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 4 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.04.6

Abstract

Pneumonia merupakan sepuluh besar kasus rawat inap dengan tingkat kematian 7,6%. Pneumonia dengan sepsis membutuhkan terapi suportif dan perawatan intensif karena tingkat kematian tinggi. Untuk memperbaiki kualitas perawatan dan hasil terapi yang lebih baik, perlu pengkajian dini diagnostik maupun prognostik. Prokalsitonin (PCT) dan Interleukin-6 (IL-6) merupakan penanda infeksi berat dan sepsis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa apakah PCT dan IL-6 dapat digunakan bersama-sama untuk menentukan prognosis pasien pneumonia dengan sepsis dalam hubungannya dengan status mortalitas pada hari ke-30. Penelitian kohort dilakukan pada Oktober 2018 dilakukan di Rumah Sakit Saiful Anwar, Malang, melibatkan 40 pasien pneumonia dengan sepsis tanpa diabetes, kanker, HIV dan kehamilan. Sequential Organ Failure Assesment (SOFA) score dihitung dan sampel darah diambil pada hari ke-0 dan ke-5 perawatan untuk mengukur kadar PCT dan IL-6. Status mortalitas pasien dilihat pada hari ke-30 sejak masuk rumah sakit. Dari 40 pasien, 23 pasien hidup (57,5%) dan 17 pasien meninggal (47,5%). Perbandingan antara kelompok hidup dan meninggal menunjukan perbedaan bermakna dan secara signifikan berhubungan dengan mortalitas pada SOFA score hari ke-5 (p<0,001; OR: 78,75, CI 95% (9,948-623,414)), kadar IL-6 hari ke-5 (p<0,05; OR: 9,208, CI 95% (2,146-39,521)) dan kadar PCT hari ke-5 (p<0,05; OR: 4,190, CI 95% (1,104-15,901)). Hasil uji regresi logistik, didapatkan bahwa IL-6 hari ke-5 dan SOFA score hari ke-5 dapat digunakan sebagai faktor prognostik mortalitas pasien pneumonia dengan sepsis hari ke-30, artinya SOFA score diatas 6 dan kadar IL-6 diatas 332pg/mL pada hari ke-5, merupakan faktor penting dari kematian pasien (AUC: 0,935).
SUSU KUDA SUMBAWA TERFERMENTASI SEBAGAI IMMUNOSTIMULANT UNTUK 37.8 KDA V. CHOLERAE VACCINE Faisal, Faisal; Sumarno, Sumarno; Handono, Kusworini
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (995.374 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.02.2

Abstract

ABSTRAKProtein adhesi subunit pili berat molekul 37,8 kDa V.cholerae 01 merupakan salah satu faktor diare. Protein tersebut mempunyai  potensi  menginduksi  respon  imun  mukosal  sehingga  dapat  menjadi  kandidat  vaksin  yang  poten.  Tujuan penelitian adalah membuktikan bahwa susu kuda Sumbawa terfermentasi dapat meningkatkan potensi protein adhesi subunit pili berat molekul 37,8 kDa V.cholerae 01 yang dikonjugasi dengan   toksin kolera subunit B dalam menginduksi respon  imun  mukosal  s-IgA  dan  mencegah  sekresi  cairan  pada  usus  mencit.  Metode  penelitian  ini  adalah  studi eksperimental dengan menggunakan mencit Balb/c. Isolasi protein adhesi subunit pili berat molekul 37,8 kDa bertingkat dengan menggunakan pili cutter, dilanjutkan SDS-PAGE. Susu kuda Sumbawa terfermentasi diberikan setiap hari dengan dosis  0.4  ml/20gr  BB  mencit.  Imunisasi  dilakukan  dengan  memberikan  protein  adhesi  berat  molekul  37,8  kDa  yang dikonjugasi  dengan  toksin  kolera  sub  unit    B.  Pengukuran  kadar  s-IgA  menggunakan  metode  ELISA.  Uji  protektifitas menggunakan usus imunisasi dengan paparan susu kuda Sumbawa terfermentasi yang diberi bakteri V.cholerae 01. Di hitung  volume  akhir  cairan  sebagai  indikator  berat  usus.  Analisis  data  menggunakan  ANOVA  dan  Tukey's  test.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan   kadar s-IgA pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan yang diberi susu kuda dan protein 37,8 kDa konjugasi CTB (p=0.00). Pada uji protektifitas juga menunjukkan  perbedaan berat usus  pada  kelompok  kontrol  dan  kelompok  perlakuan  yang  diberikan  susu  kuda  dan  protein  37,8  kDa  konjugasi  CTB (p=0.02).
EFEK PEMBERIAN MATRIX METALLOPROTEINASE-9 ( MMP- 9) RNA INTERFERENCE TERHADAP EKSPRESI MMP- 9 PADA KULTUR SEL ENDOTEL VASKULAR Wulandari, Lely Retno; Suyuti, Hidayat; Dewi, Nadia Artha; Refa, Safaruddin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 2 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.743 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.02.1

Abstract

ABSTRACT Retinal neovascularization is the main problem that causes blindness in many types of eye desease. Neovascularization occurs in ischemic retina, and several important mediators that induce neovascularization is secreted by the surrounding cell and endothelial cell vessels. Matrix metalloproteinase-9 is an enzyme secreted by endothelial cell vessels and plays an important role in the pathogenesis of retinal induce neovascularization. Vascular endothelial cells were cultured and transfected with Matrix Metalloproteinase -9 RNA interference in two doses (100nM or 200nM) and the cells were taken at 24,  48  and  72  hours.  The  expression  of  Matrix  Metalloproteinase  -9  protein  levels  were  examined  by immunocytochemistry, and compared with control group. The data were analyzed with factorial anova. Statistical analysis showed that transfection with different doses of MMP-9 RNAi gave a significant different effect on MMP-9 expression (p-value &lt; 0.05), while exposure time did not give significant difference (p-value &lt; 0.05). This in-vitro study indicated that transfection  of  MMP-9  RNAi  with  dose  200nM  reduced the  expression  of  MMP-9  by  50%  compared  to  the  control. Because exposure time was not significant, the lowest expression of MMP-9 can be achieved by transfecting MMP-9 RNAi 200nM for 24 hours. This is the first study that demonstrates the effectiveness of RNA interference mediated targeting  of MMP-9 to reduce the MMP-9 expression in vascular endothelial cell lines Key Words  : Matrix Metalloproteinase -9 - RNA interference - vascular endothelial cell lines.
FAKTOR YANG DIDUGA MENJADI RESIKO PADA ANAK DENGAN RINITIS ALERGI DI RSU DR. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA Harsono, Ganung; Munasir, Zakiudin; Siregar, Sjawitri P; Suyoko, HEM Dadi; Kumiati, Mia; Evalina, Rita; Palupi, Ratih D
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.548 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.03.2

Abstract

This researach was aimed to describe the risk factor profile of pediatric patients with allergic rhinitis. 1792 medical recordsof outpatients pediatric allergy immunology clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital from 1997 to 2005. Fifty patients were diagnosed with allergic rhinitis and 22% of them  were having allergic rhinitis with bronchial asthma.Allergic rhinitis were identified higher in boys (62%) than girls (38%) and ranged from 5 months to 13 years and 8 months old. Atopic history were identified in 24 patients (48) while atopic history in patient family were identified in mother (42%), father (40%), and siblings (24%). Total IgE serum increased in 35 patients (88,57%) while total eosinophil serum increased in 28 patients (80%). The most common aeroallergen by skin prick test was house dust mite (36%) and the most common food allergen was shrimp (40%). There were several factors that contribute to the development of allergic rhinitis such as age, sex, family atopic history and increasing in total IgE serum and total eosinophil serum . House dust mite and shrimp were the most common allergen identified in allergic rhinitis. Keywords: allergic rhinitis, risk factors, pediatric
Terfenadine Meningkatkan Aktifitas Caspase-9 pada Kultur Sel Melanoma Maligna Sjafrida, Sjafrida; Sadono, Elfina G
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.302 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.2

Abstract

Pencarian agen anti kanker baru pada melanoma maligna yang lebih selektif merupakan prioritas utama. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian terfenadine terhadap aktifitas caspase-9 pada kultur melanoma maligna cell line CRL 1872 dan hubungan antara perubahan dosis terfenadin dengan perubahan aktivitas caspase-9. Penelitian ini merupakan analitik eksperimental pada kultur melanoma maligna cell line CRL 1872 yang dipapar dengan terfenadine. Kultur cell line melanoma maligna dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol, kultur+5 μM terfenadine, kultur+10 μM terfenadine, kultur+25 μM terfenadine, kultur+40 μM terfenadine. Spesimen diinkubasi selama 8 jam lalu dilakukan pengecatan imunohistokimia menggunakan antibodi caspase-9. Aktivitas caspase-9 diamati dengan mikroskop okular dengan pembesaran 1000x, sel-sel aktivitas  caspase-9 ditunjukkan dengan warna coklat pada inti sel dengan counter stain warna biru. Data hasil pengamatan dilakukan analisa statistik dengan uji ANOVA, uji Tukey, uji korelasi dan regresi. Terdapat perbedaan efek terfenadine pada setiap perlakuan terhadap aktivitas caspase-9 pada kultur melanoma maligna cell line CRL 1872 (p<0,001). Korelasi pemberian terfenadine dengan aktivitas caspase-9 pada kultur melanoma maligna cell line CRL 1872 (r=0,844; p=0,000) mempunyai korelasi positif yang signifikan. Pemberian terfenadine berpengaruh dalam meningkatkan aktifitas caspase-9 pada kultur melanoma maligna cell line CRL 1872. Kata Kunci: Apoptosis, caspase-9, melanoma maligna, terfenadine
Efek Pemberian Probiotik, Nigella Sativa, Imunoterapi terhadap CD4+IL-4+, CD8+IL-4+ dan Skoring Asma Kartini, Ratna
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.9

Abstract

Sel CD4+IL-4+ berperan dalam inflamasi asma. Peran pro-inflamasi CD8+ dalam asma dikaitkan dengan subset Tc2 yang menghasilkan IL-4+. Imunoterapi merupakan tatalaksana asma yang bermanfaat dan imunomodulator dipertimbangkan untuk meningkatkan efektivitasnya. Sejauh ini belum ada penelitian yang mengkaji pemberian jangka panjang imunoterapi, probiotik dan Nigella sativa terhadap modulasi respon imun, khususnya CD4+IL4+, CD8+IL4+ dan skoring asma. Desain penelitian berupa eksperimental randomized clinical trial (RCT), post test control study untuk CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ dan pre-post control study untuk skoring asma. Subjek dibagi 4 kelompok, imunoterapi+plasebo, imunoterapi+Nigella sativa, imunoterapi+probiotik, imunoterapi+Nigella sativa+probiotik, dengan perlakuan selama 56 minggu. Imunoterapi yang digunakan adalah imunoterapi house dust mite (HDM) subkutan. Probiotik yang diberikan ProBi (Medifarma) berisi 2x109 colony forming unit(cfu)/gram Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium lactis. Skoring asma dinilai dengan skor Asthma Control Test (ACT), bila skor≥19 menunjukkan asma terkontrol. Jumlah CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ diukur dengan flowcytometry. Hasil penelitian menunjukkan jumlah CD4+IL4+ dan CD8+IL4+ tidak berbeda bermakna antar kelompok. Jumlah CD4+IL4+ terendah dan jumlah CD8+IL4+ tertinggi terdapat pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa+probiotik. Skoring asma meningkat bermakna setelah perlakuan pada kelompok imunoterapi+Nigella sativa (p=0,002), imunoterapi+probiotik (p=0,000), dan imunoterapi+Nigella sativa+probiotik (p=0,000). Kelompok imunoterapi+probiotik memiliki skoring asma lebih tinggi dibandingkan imunoterapi (p=0,04). Dapat disimpulkan pemberian imunoterapi+Nigella sativa+probiotik menurunkan jumlah CD4+IL4+ lebih rendah  dan meningkatkan jumlah CD8+IL4+ lebih tinggi meskipun tidak bermakna dibandingkan imunoterapi saja. Pemberian kombinasi imunoterapi+probiotik meningkatkan skoring asma lebih baik dibandingkan imunoterapi saja.Kata Kunci: CD4+IL4+, CD8+IL4+, imunoterapi, Nigella sativa, probiotik, skoring asma
Risiko Herbisida Paraquat Diklorida terhadap Ginjal Tikus Putih Spraque Dawley Kasban, Muhartono Sudarmo; Windarti, Indri -; Liantari, Diah Septia; -, Susianti -
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.9

Abstract

Herbisida merupakan salah satu bahan kimia yang sering digunakan oleh para petani untuk mematikan tanaman pengganggu. Disisi lain penggunaan herbisida sering tidak sesuai prosedur sehingga dapat menimbulkan efek samping terhadap manusia. Paparan herbisida paraquat diklorida berpengaruh ke organ-organ tubuh manusia. Pada organ ginjal dapat merusak glomerulus dan tubulus ginjal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian herbisida golongan paraquat diklorida per-oral terhadap gambaran histopatologi ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unila pada bulan Oktober sampai November 2014 dengan menggunakan 25 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley berumur 8−10 minggu. Tikus dibagi dalam 5 kelompok secara acak dan diberi perlakuan selama 2 hari. K1 diberi aquadest, K2, K3, K4, K5 diberi herbisida paraquat diklorida 25mg/kgBB/hari, 50mg/kgBB/hari, 100mg/kgBB/hari dan 200mg/kgBB/hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa rerata skor kerusakan ginjal pada K1: 0, K2: 1,8, K3: 2,0, K4:3,6, K5; 4,4. Data yang diperoleh diuji dengan Uji Kruskal Wallis didapatkan perbedaan bermakna (p=0,001). Simpulan, pemberian herbisida golongan paraquat diklorida per−oral dapat merusak ginjal tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley.
IgM-RF pada Anak Terinfeksi Virus Dengue Tidak Berkorelasi dengan Jumlah Trombosit dan Hematokrit Jatmiko, Safari Wahyu; Suromo, Lisyani; Dharmana, Edi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.4

Abstract

Banyak teori diajukan untuk menjelaskan patogenesis trombositopenia dan hemokonsentrasi pada Infeksi Virus Dengue (IVD), termasuk teori autoimun. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Rheumatoid Factor (RF) yang biasa ditemukan pada pasien autoimun juga ditemukan dan berhubungan dengan perubahan jumlah trombosit dan nilai hematokrit pada pasien IVD. Tujuan penelitian adalah untuk membuktikan hubungan RF dengan jumlah trombosit dan nilai hematokrit pada anak terinfeksi virus dengue. Desain penelitian menggunakan analisis korelatif dengan pendekatan belah lintang dilakukan terhadap 40 pasien yang mengalami demam minimal 4 hari dan memenuhi kriteria diagnostik IVD menurut WHO 2009, usia di bawah 14 tahun, dan diagnosis dikonfirmasi dengan antibodi antidengue. Pasien dengan riwayat penyakit autoimun dan riwayat immunocompromised dikeluarkan dari penelitian. Sampel diambil secara konsekutif. Darah rutin diperiksa penggunakan hematology analyzer sedangkan RF diperiksa dengan metode aglutinasi lateks. Data diolah dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan RF (+) sebanyak 62,5%. Hasil uji korelasi RF dan jumlah trombosit menunjukkan nilai r=0,151 dengan p=0,354 sedangkan hasil uji korelasi RF dan nilai hematokrit nilai r=0,3 dengan p=0,06. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi antara kadar RF serum dengan jumlah trombosit pada pasien IVD dan antara kadar RF serum dengan nilai hematokrit pada pasien IVD, walaupun ada kecenderungan peningkatan kadar RF serum diiringi dengan kenaikan nilai hematokrit.