cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT OBSTRUKSI SALURAN NAFAS SERANGAN AKUT ASMA DENGAN JUMLAH SEL-SEL INFLAMASI DARAH TEPI Kusuma, HMS. Chandra; Kalim, Kusworini Handono; Muid, Masdar
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 3 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.483 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.03.5

Abstract

There now exists compelling evidence of a role for  cell-mediated immunity in the pathogenesis of asthma, but little information is available as to what extent this process participates in the disease severity. The hypothesized of this reseach that the severity of acute asthma exacerbation in children is associatedwith the activation of T-lymphocytes whose products regulate, at least in part, the mobilization and recruitment of eosinophyls and thereby disease severity. The aims of this research, therefore, were to compare the peripheral blood T-lymphocytes from acute asthmaticand no asthmatic normal control children matched for age and sex, and to attempt to correlate the percentages of T-lymphocytes in the asthmatic with the numbers of peripheral  blood eosinophyls and with disease severity. Fifty one children with acute asthma exacerbation were compared with thirty one no asthmatic, normal children matched for age and sex. Peripheral blood CD4+ and  CD8+ T-lymphocytes was measured using immuno histochemical staining. Peripheral blood eosinophils were measured using anautomated laser cytometer. Asthma exacerbation severity was assessed by a symptom score and spirometri. The absolute numbers  of eosinophils and CD4+ T-lymphocytes of the asthmatic were elevated as compared to the non-asthmatic normal control, whereas the numbers of CD8+ T-lymphocyte decreased significantly.
Mekanisme Kerja Benalu Teh pada Pembuluh Darah AS, Nour Athiroh; Permatasari, Nur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.06 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.01.1

Abstract

Secara garis besar ada dua jenis  penatalaksanaan  terhadap hipertensi yaitu menggunakan obat-obatan dan non obat. Adapun penatalaksanaan secara non obat, salah satunya dengan terapi   herbal dengan memanfaatkan benalu teh dari famili  Loranthaceae  misalnya  (Viscum  album,  Dendrophtoe  pentandra  (L.)  Miq, Scurrula  parasitica,  Scurulla  oortiana,  dan Macrosolen javanus)  yang  berpotensi  sebagai  antihipertensi  (vasodilator). Mekanisme  kerja  dari flavonoid  benalu teh sebagai vasodilator karena peran otot polos dan endotel pembuluh darah. Pada umumnya   pengobatan hipertensi yaitu pada    organ  target  pembuluh  darah  (sistem  vaskular).  Flavonoid  benalu  teh  dalam  hal  ini  quercetin  mampu  bekerja langsung pada otot polos pembuluh arteri dengan menstimulir atau mengaktivasi Endothelium Derived Relaxing Factor(EDRF) sehingga menyebabkan vasodilatasi. Beberapa penelitian tentang pengaruh flavonoid tanaman teh pada fungsi endotel bahwa kandungan dari flavonoid yaitu polifenol dapat meningkatkan aktivitas dari Nitric Oxide Synthase (NOS) pada  sel  endotel  pembuluh  darah.  Quercetin  mempunyai  potensi  meningkatkan  produksi  Nitric Oxide  (NO)  di  sel  endotel. Zat  aktif  tersebut  mampu  mensintesa  NO  dalam  endotel  dan  berdifusi  secara  langsung  ke  otot  polos  selanjutnya merangsang guanylate cyclase untuk membentuk cGMP sehingga terjadi vasodilatasi.
Perbandingan Sensitivitas Kontras Lensa Tanam Asferik dan Sferik Post Fakoemulsifikasi Nguda, Helen; Sulistya, T Budi; Prayitnaningsih, Seskoati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.01.10

Abstract

Lensa tanam asferik dapat mengurangi aberasi sferik yang terjadi pasca operasi katarak, dan meningkatkan sensitivitas kontras dibandingkan lensa tanam sferik. Penelitian ini membandingkan sensitivitas kontras antara pasien yang diberi lensa tanam asferik dan sferik dengan menggunakan lembar kartu Pelli-Robson yang telah dilakukan dengan metode observasi cross sectional. Pemeriksaan dilakukan pada 32 mata yang diambil secara konsekutif dari 23 pasien minimal 1 bulan setelah dilakukan fakoemulsifikasi dan penanaman lensa tanam (asferik dan sferik). Sensitivitas kontras diperiksa pada jarak 1 m di depan lembar kartu dengan tajam penglihatan terbaik pasien setelah koreksi (log MAR) dan keratometri kurang dari 1,5Dioptri (D). Berdasarkan data demografi dan data operasi tidak didapatkan perbedaan yang signifikan, sensitivitas kontras lebih tinggi pada lensa tanam asferik dibandingkan sferik dengan independent t test. Perbedaan yang signifikan ini dapat menjadi pertimbangan untuk pemilihan lensa tanam yang sesuai dengan kebutuhan agar pasien mendapatkan fungsi penglihatan terbaiknya.Kata Kunci: Lensa tanam asferik, lensa tanam sferik, Pelli-Robson contrast sensitivity
Uji Diagnostik Indeks Darah dan Identifikasi Molekuler Karier Talasemia β pada Pendonor Darah di Banyumas Hapsari, Ariadne Tiara; Rujito, Lantip
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 3 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.366 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2015.028.03.13

Abstract

Talasemia menempati kelainan genetik yang paling umum di seluruh dunia dengan prevalensi karier talasemia di Indonesia adalah sekitar 3-10%. Banyumas merupakan salah satu wilayah yang menyumbang angka prevalensi penderita talasemia yang cukup besar. Salah satu perangkat dalam program pencegahan terpadu adalah memastikan diagnosa molekuler pada tahap skrining sesuai dengan mutasi lokal. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui nilai uji diagnostik indeks darah dan karakterisitik mutasi talasemia β pada pendonor darah yang dicurigai karier talasemia. Subjek penelitian adalah 183 pendonor darah rutin pada PMI Banyumas. Skrining awal menggunakan indeks darah MCV, MCH, dan Hemoglobin elektroforesis. Karakteristik molekuler dilakukan dengan teknik PCR-RFLP dan teknik ARMS.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa MCV memiliki nilai sensitivitas 81,3%, dan spesifisitas 95,8% sedangkan MCH menunjukkan sensitivitas sebesar 80% dengan spesifisitas 97,5%. Mutasi IVS-1 nt 5 (G>C) merupakan mutasi tersering disusul dengan HBE (codon 26) dan IVS1 nt 1(G>T).Kata Kunci: Identifikasi molekuler, indeks darah, karier talasemia
Efek Ekstrak Propolis terhadap Ekspresi TNF-α, Apoptosis dan Nekrosis Jaringan Otak Tikus Model Traumatic Brain Injury (TBI) Dewi, Ashalia Chandra; Ali, Mulyohadi; Purnomo, Hari
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.02.4

Abstract

Ekstrak propolis merupakan produk lebah dengan berbagai kandungan aktif yang memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, proteksi DNA, neuroprotektan dan immunomodulator. Propolis mampu menurunkan reaksi inflamasi melalui hambatan terhadap aktivitas TNF-α dan NF-κB, mampu menurunkan Bax dan caspase-3, dan meningkatkan Bcl-2, yang berperan pada jalur apoptosis. Propolis berpotensi sebagai terapi alternatif dalam menurunkan inflamasi, apoptosis dan nekrosis pada traumatic brain injury (TBI) via modulasi ekspresi TNF-α. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian ekstrak propolis dalam berbagai dosis pada ekspresi TNF-α, apoptosis dan nekrosis pada jaringan otak tikus model TBI. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu: kontrol negatif, kontrol positif, kelompok model trauma dan diberi perlakuan propolis masing-masing dosis 50, 100, dan 200mg/kgBB/h. Pada akhir penelitian, tikus dikorbankan dan dibuat preparat otak untuk menilai ekspresi TNF-α, jumlah sel apoptosis dan area nekrosis. Ekspresi TNF-α, apoptosis dan nekrosis lebih rendah pada kelompok TBI yang mendapatkan ekstrak propolis 50, 100, dan 200mg/kgBB/h (p=0,000). Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak propolis berpengaruh dalam penurunan ekspresi TNF-α, apoptosis dan nekrosis jaringan otak tikus model TBI.Kata Kunci: Apoptosis, ekstrak propolis, ekspresi TNF-α, nekrosis, traumatic brain injury
Kadar IL-6 dan IL-10 Serum pada Tahapan Inflamasi di Rattus norvegicus yang terinfeksi Candida albicans Masfufatun, Masfufatun; Tania, Putu Oky Ari; Raharjo, Loo Hariyanto; Baktir, Afaf
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.01.4

Abstract

Insiden kandidiasis sangat tinggi di dunia yang disebabkan Candida albicans. Agen antifungi telah banyak dikembangkan, namun resistensi terhadap antifungi masih menjadi suatu permasalahan. Resistensi antifungi ini diakibatkan oleh kemampuan C. albicans dalam membentuk biofilm. Terbentuknya biofilm dari infeksi C. albicans diawali oleh proses inflamasi. Proses inflamasi oleh Candida albicans terjadi pada beberapa tahap yang salah satu indikatornya adalah dilepaskannya sitokin proinflamasi (IL-6) dan anti inflamasi (IL-10). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar IL-6 dan IL-10 pada tiap tahapan inflamasi C. albicans pada intestinal pada tikus putih. Penelitian ini menggunakan 32 ekor tikus wistar (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok perlakuan diinokulasi dengan C. albicans. Variabel yang diukur adalah kadar IL-6 dan IL-10 pada hari ke-7, 14, 21, 28 dan 35 setelah inokulasi C. albicans. pengambilan data sebanyak 5 kali dilakukan untuk mewakili tahapan pembentukan biofilm candida. Respon imun pada setiap tahap pembentukan biofilm ditunjukkan dengan kadar sitokin IL-6 dan IL-10 serum darah dengan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar IL-6 dan IL-10 pada hari ke-7 dan 14 sebesar 0pg/mL. Pada hari ke 28 telah terjadi proses inflamasi akut  pelepasan IL-6 dan IL-10 dengan kadar tertinggi masing-masing 31,75±9,99pg/mLdan 757,94±576,73pg/mL. Selanjutnya pada hari ke-35, kadar sitokin IL-6 dan IL-10 masing-masing mulai menurun menjadi 28±11,53pg/mL dan 349,5±188,48pg/mL. Respon imun tubuh mulai terjadi pada tahap awal pembentukan biofilm C. albicans intestinal tikus, sehingga kedepannya dapat dikembangkan terapi imunomodulator terhadap kandidiasis sehingga dapat menghambat pembentukan biofilm C. albicans.
Plyometric Training Memperbaiki Kelincahan Otot dan Kecepatan Lari Sprint pada Laki-laki Muda Mustofa, Mustofa; Candrawati, Susiana; Fatchurohmah, Wiwiek
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2019.030.03.8

Abstract

Kelincahan otot dan kecepatan sprint merupakan komponen skill related fitness yang dapat menunjang performa dan teknik dasar seorang atlet. Plyometric training merupakan latihan dengan karakteristik menggunakan kontraksi otot yang sangat kuat dan cepat serta merupakan kombinasi latihan isometrik, isotonik dan isokinetik sekelompok otot. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kelincahan otot dan kecepatan sprint sebelum dan sesudah plyometric training pada laki-laki muda. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental jenis pre and posttest without control. Subjek penelitian berjumlah 25 orang laki-laki muda, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, direkrut dengan metode consecutive sampling. Plyometric training dilaksanakan dengan frekuensi 2 kali seminggu selama 5 minggu. Pengukuran kelincahan otot dilakukan menggunakan metode agility t test dan kecepatan sprint menggunakan metode tes sprint 30 meter. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Rerata kelincahan otot subjek meningkat dari 12,98±1,45 detik menjadi 12,21±1,32 detik. Rerata kecepatan sprint subjek meningkat dari 6,68±0,68 m/detik menjadi 7,07±0,71 m/detik. Uji analisis T berpasangan menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara kelincahan otot dan kecepatan sprint sebelum dan sesudah plyometric training,p=0,0001 (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara kelincahan otot dan kecepatan sprint sebelum dan sesudah plyometric training selama 5 minggu. Plyometric training meningkatkan kelincahan otot dan kecepatan sprint.
Aromaterapi Bunga Lavender Memperbaiki Kualitas Tidur pada Lansia Kurnia, Anggraini Dwi; Wardhani, Viera; Rusca, Kuswantoro Tri
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 25, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.094 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2009.025.02.1

Abstract

Sleep is a basic human need, characterized by minimal physical activity, change in physiological process ofthe body and decrease respon from external stimulus. Most of the elderly have high risk to suffer sleepproblem because of some factors. Aromatherapy is a therapy using essential oil which produces comfortableeffect, more steady emotion and feeling, calmer thought and feeling. This research was aimed to identify theeffectivity of Lavender (Lavendula L) Aromatherapy in improving quality of sleep of the elderly in Panti WerdhaMalang. A quasi experiment study was implemented with randomized control group pretest posttest using 18subjects divided into two groups.and treatment. The sleep quality was measured by interview developedbased on PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). The data were then analyzed using Wilcoxon test and Mann-Whitney test. A significant improvement of sleep quality score was identified in treatment group (3,89, p=0,07) but not in the control group (0,78;p=0,317). These improvement is significantly different between the twogroups (p=.0,001). It can be concluded that Lavender aromatherapy is significantly improve the quality ofsleep in elderly people
VAKSINASI BCG MENINGKATKAN AKTIVITAS FAGOSITOSIS DAN SEKRESI REACTIVE OXYGEN INTERMEDIATE (ROI) PADA MAKROFAG PERITONEUM KUCING YANG DIINFEKSI DENGAN Mycobacterium tuberculosis Tjahajati, Ida
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 2 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.59 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.02.3

Abstract

ABSTRACT The aim of this experiment was to study the effect of BCG vaccination on phagocyte activity and ROI secretion in cat peritoneum macrophages which infected with M.tuberculosis. The experiment used twenty four healthy cats. The animals were divided in 2 groups, 12 cats in each group. Group I were vaccinated with BCG, group II were control group which unvaccinated. BCG vaccination was done twice in two weeks interval. Two days after vaccination each cat was infected by 105 cfu M.tuberculosis intraperitoneally. The activity of macrophages were measured  at 1st, 2nd, 12th, and 24th, after infection using in vitro latex bead phagocyte and NBT reduction assay. Three cats were used to measure the macrophage activity in each period, using triplicate sample for each cat. The results of the experiment showed that the phagocyte activity and ROI secretion increased significantly in vaccination group (P&lt;0.01) compared with the control group, and these activities reached to the plateau level at 2 weeks after infection. Although these enhanced activities were gradually diminished thereafter, higher levels of these activities were consistently observed until the end of experiment compared with control group. BCG vaccination increased the cellular immunity especially phagocyte and ROI secretion activities of peritoneual macrophages in cat infected with M.tuberculosis Key words: BCG, phagocyte, ROI, M.tuberculosis, cat
PENGARUH PROBIOTIK PADA RESPON IMUN Djunaedi, Djoni
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 1 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.214 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.01.4

Abstract

Probiotics (“for life”) is a live microbial feed supplement or defined as mono- or mixed cultures of live microorganisms which when administered in adequate amounts confer  a health benefit to the host by improving its microbial balance. Common descriptives for probiotics include “friendly”, “beneficial” or “healthy” bacteria.  Under natural conditions a protective gut microflora develops and there is no  need for probiotics supplement, but under rather un-natural conditions such like intestinal infections, post antibiotic treatment syndromes, pseudomembranous colitis, the probiotics preparations are needed. The beneficial effects of probiotics inthe host are promotion of the gut maturation and integrity, antagonisms against pathogens and immune modulation. Beyond those, the microflora seems to play a significant rolein diet induced superinflammation, mucosal immune system, neuroendocrine regulation, immunoglobulin production, macrophages factor restoration, apoptosis stimulation, lymphocyte function modulation, cytokine release, mucin production, intestinal immune homeostasis and inflammation prevention. However, many studies proved that probiotics have “upregulation and down-regulation” effects on immune system of the host.