cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 822 Documents
ANALISIS URUTAN NUKLEOTIDA DAN EKSPRESI DARI MUSCLE A-KINASE ANCHORING PROTEIN (mAKAP) MENUNJUKKAN KEMUNGKINAN FUNGSI mAKAP PADA DIFERENSIASI KARDIMIOSIT: PERBANDINGAN EKSPRESI mAKAP PADA JANTUNG MDX DAN KONTROL Rohman, Mohammad Saifur
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 20, No 1 (2004)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.174 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2004.020.01.1

Abstract

Muscle A-Kinase Anchoring Protein (mAKAP) is an A-kinase anchoring protein (AKAP) which targets cAMP-dependent protein kinase(PKA) to the nuclear envelope. mAKAP not only binds to PKA, but also to the ryanodine receptor (RyR2) and the rolipram-inhibitedcAMP-specific phosphodiesterase (PDE4D3). Amino acid sequence analysis revealed that mAKAP possesses LXCXE andFYDYSYL, the consensus-binding domain of pRB and CBP/p300, respectively. pRB and CBP/p300 are known as a key componentsin cardiomyocyte differentiation processes. Northern blot analysis revealed that mAKAP was expressed in a 13 day old rat heart andits expression increased by 15 days of age when cardiomyocytes reveal a terminal differentiation phenotype. In culturedcardiomyocytes mAKAP was expressed in differentiated but not undifferentiated. Accordingly, mAKAP may play a role in the terminaldifferentiation process through pRB-CBP/p300 functions. Furthermore, we observed mAKAP expression in old mdx heart, a mousemodel of Duchenne muscular dystrophy, compared to control mice. In the control heart, mAKAP transcripts were detected at 6-, 20-,64- and 76-weeks of age. However, mAKAP expression significantly appeared only in 64- and 76-week old mdx hearts. DelayedmAKAP expression in mdx may contribute to impaired function of pRB, CBP/p300, cAMP and Ca2+ complex.Key words: mAKAP, domain architecture, terminal differentiation, pRB, CBP/p300, mdx.
JENIS BAKTERI DAN SENSITIVITAS ANTIBIOTIK PADA KASUS INFEKSI NOSOKOMIAL AKIBAT PEMASANGAN KATETER DI RSSA MALANGDALAM PERIODE NOVEMBER 2000 - MARET 2001 Djunaedi, Djoni
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 22, No 3 (2006)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.792 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2006.022.03.2

Abstract

The incidence of Nosocomial Infection (NI) includinginfection of the urinary tract attributable to catheter insertion aggravates the existing conditions. Local symptoms  and septis that occured could prolong hopitalization, and even caused death. So far, prevention of NI has been undertaken only through the adherence to the standard  procedure. The important problem that arises is whether the prevention of NI should rely only on the adherence of thestandard procedure. In order to find the solution, an appropriate investigation is called for. The materials utilized were (a) urine collected from obstetric-gynaecological patients that required catheter insertion – urine sample was taken using antiseptical procedures before and after catheter insertion within the period of 2x24 hours, (b) the end section of catheter canule when the the catheter was taken off. The materials were cultured in blood plates. Bacterial counts were performed on the data with respect to bacterial types and their sensitivity to antibiotics of the families of Cephalosporin (Cefotaxim), Aminoglycoside (Amikacin), Quinolone (Ciprofoxacine), Penicilline (Amoxicilline, Ampicilline), cotrimoxazole and Nitrofurantoin.
Determinan Lama Rawat Inap Pasien Balita dengan Diare Poerwati, Endang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 4 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.681 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2013.027.04.12

Abstract

Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang bayi dan anak. Penyebab utama rawat inap pada anak usia di bawah 5 tahun dengan gastroenteritis akut adalah dehidrasi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien, derajat klinis dan suplementasi diare pada lama rawat inap diare akut pada anak usia di bawah 5 tahun, dilakukan dengan desain observational analitik pada 102 anak-anak berusia antara 1 bulan sampai 5 tahun, yang menderita diare akut dengan atau tanpa dehidrasi yang dirawat di RSUD Pasar Rebo Jakarta pada bulan Oktober 2011 sampai bulan Maret 2012. Hasil menunjukkan kejadian diare lebih banyak pada pada bayi <2 tahun (65,7%), anak laki-laki sebanyak 53 (52%). Pada pemeriksaan awal, sebagian besar berada pada derajat dehidrasi ringan-sedang yaitu  sebanyak  89 orang (87,3%). Lebih dari separuh, pasien dalam studi ini tidak diberikan terapi zink dan/atau probiotik yaitu sebanyak 53 orang (52%). Rerata lama masa rawat  pasien adalah  66,19 jam (SD=16,66 jam) atau 2,8 hari. Usia (p=0,09), jenis kelamin (p=0,165) dan derajat dehidrasi tidak mempunyai hubungan dengan lama perawatan, sedangkan berat badan (p=0,913) dan tinggi badan (p=0,014) mempunyai pengaruh terhadap lama perawatan. Pemberian suplementasi zink saja (mean=56,68) atau zink (mean=56,48) dengan probiotik memberikan masa rawat inap inap yang secara signifikan (p=0,01) lebih pendek dibandingkan tanpa suplemen (mean=75,07). Tidak ada perbedaan signifikan (p=1) lama rawat inap antara suplementasi zink saja atau dengan kombinasi probiotik. Derajat diare tidak mempunyai hubungan signifikan dengan lama perawatan. Dapat disimpulan bahwa suplementasi zink menurunkan lama rawat inap.Kata Kunci:  Gastroenteritis akut, lama perawatan, suplementasi zink
Pengaruh Faktor Sosial Ibu terhadap Keberhasilan Menyusui pada Dua Bulan Pertama Amin, Wirawati; Indrawan, I Wayan Agung; Sriwahyuni, Endang
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 28, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.199 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2014.028.02.16

Abstract

Tingkat keberhasilan pemberian Air Susu Ibu pada dua bulan pertama masih rendah, padahal masa ini merupakan masa percepatan pertumbuhan pada bayi, disaat kebutuhan bayi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor sosial ibu meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), dukungan suami dan teknik menyusui terhadap keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama di RSKDIA Pertiwi Makassar. Metode penelitian ini adalah observasional analitik, dengan purposive sampling sebanyak 131 di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Pertiwi Makassar pada Oktober 2013-Januari 2014. Pengukuran teknik menyusui digunakan lembar observasi/check list yang dinilai oleh peneliti sendiri, sedangkan penilaian keberhasilan menyusui dilakukan melalui kunjungan rumah setelah subjek pulang dari Rumah Sakit, yakni pada satu minggu, dua minggu dan delapan minggu setelah subjek melahirkan, dengan menggunakan kuesioner. Analisis hasil penelitian menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menemukan ada pengaruh positif antara pendidikan (p=0,006; OR=2,826), pekerjaan (p=0,001; OR=0,293), pengetahuan (p=0,000; OR=14,792), IMD (p=0,000; OR=6,771), dukungan suami (p=0,000; OR=10,988) dan teknik menyusui (p=0,001; OR=3,784) terhadap keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama. Hasil penelitian ini menyimpukan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan tinggi, tidak bekerja, mempunyai pengetahuan yang baik, melaksanakan IMD, mempunyai dukungan aktif dari suami, memiliki teknik menyusui yang baik dapat meningkatkan keberhasilan menyusui pada dua bulan pertama.Kata Kunci: Air Susu Ibu, faktor sosial ibu, keberhasilan menyusui dua bulan pertama
Identifikasi Penyebab Retardasi Mental Siswa SLB Melalui Analisis Sitogenetik dan PCR W, Retno Dwi; S, Eva Diah; AT, Putu Oky
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2016.029.01.16

Abstract

Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor genetik yaitu kelainan kromosom atau gen tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kelainan genetik pada anak-anak dengan retardasi mental. Sampel penelitian adalah 18 siswa SLB Pelita Hati diambil 14 yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel diambil dari darah tepi untuk dilakukan analisis kromosom dan PCR untuk melihat pemanjangan pengulangan CGG pada gen FMR1. Dari 14 siswa yang terlibat di dalam penelitian, 10 siswa menjalani analisis kromosom dan dilanjutkan dengan analisis PCR, 2 siswa hanya menjalani analisis kromosom dan 2 siswa hanya menjalani analisis PCR. Hasil analisis kromosom pada 12 siswa, didapatkan satu siswa dengan trisomi 21 (47,XX,+21), satu siswa dengan trisomi X (47,XXX) dan yang lain memiliki karyotip normal (46,XY atau 46,XX). Pada pemeriksaan PCR, tidak ditemukan siswa dengan pemanjangan pengulangan CGG.
Pengetahuan Keluarga Berperan terhadap Keterlambatan Kedatangan Pasien Stroke Iskemik Akut di Instalasi Gawat Darurat Rachmawati, Dewi; Andarini, Sri; Ningsih, Dewi Kartikawati
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 29, No. 4 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2017.029.04.15

Abstract

Keberhasilan tindakan dan peningkatan outcome pada stroke sangat bergantung pada kecepatan pasien dibawa ke instalasi gawat darurat namun sebagian besar pasien stroke iskemik akut datang terlambat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan tentang faktor risiko dan peringatan gejala stroke terhadap keterlambatan kedatangan pasien post serangan stroke iskemik akut di instalasi gawat darurat di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner pada anggota keluarga pasien stroke iskemik akut yang dipilih secara consecutive sejumlah 58 orang dengan pertimbangan  mengetahui dan terlibat langsung membawa pasien ke instalasi gawat darurat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat dan regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap keterlambatan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor pengetahuan responden adalah 8,55±SD 4,551 dan koefisien korelasi -0,303 (p=0,041). Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan tentang faktor risiko dan peringatan gejala stroke menurunkan keterlambatan kedatangan pasien post serangan stroke iskemik akut.
Efektivitas Ekstrak Artemisia vulgaris sebagai Suplementasi terhadap Kemoterapi Adenokarsinoma Mammae dalam Meningkatkan IL-12 dan Indeks Apoptosis Sel Kanker (Studi pada Mencit C3H yang Diberi Regimen Kemoterapi Adriamycin-Cyclophosphamide) Paulus, Antonio; Budijitno, Selamat; Issakh, Benny
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 30, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2018.030.02.1

Abstract

Insiden kanker payudara di seluruh dunia masih tinggi. Pembedahan tetap merupakan pilihan utama dengan modalitas lain berupa kemoterapi, radiasi, dan imunoterapi antara lain Artemisia vulgaris (AV). Penelitian dilakukan untuk membuktikan efek pemberian ekstrak AV terhadap kadar IL-12 dan indeks apoptosis sel kanker pada adenokarsinoma mammae. Penelitian ini menggunakan desain post test only control group design menggunakan 24 ekor mencit C3H betina yang dibagi secara acak menjadi empat kelompok, yaitu: K (kontrol), P1 (kemoterapi), P2 (ekstrak AV), dan P3 (kombinasi kemoterapi dan ekstrak AV). Adriamycin 0,18mg dan Cyclophosphamide 1,8mg diberikan sebanyak 2 siklus. Ekstrak AV diberikan 13mg (0,2ml) perhari. Kadar IL-12 dinilai dengan pengecatan imunohistokimia sedangkan indeks apoptosis dengan hematoxilin eosin. Rerata kadar IL-12 dan indeks apoptosis didapatkan K, P1, P2, P3 berturut-turut 60,28+1,54, 50,40+1,56, 75,40+1,46, 53,48+1,35 dan 2,18+0,80, 18,00+1,58, 3,34+0,51, 20,32+1,39. Analisis statistik menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada kadar IL-12 antara kelompok K vs P1, P2, P3 (p=0,001), P1 vs P2 (p=0,001), P1 vs P3 (p=0,028), P2 vs P3 (p=0,001) dan indeks apoptosis antara kelompok K vs P1, P3 (p=0,001), P1 vs P2 (p=0,001), P1 vs P3 (p=0,035), P2 vs P3 (p=0,001). Terdapat hubungan positif kuat yang signifikan antara kadar IL-12 dengan indeks apoptosis (p=0,041 dan r=0,893). Pemberian ekstrak Artemisia vulgaris dapat meningkatkan kadar IL-12 dan indeks apoptosis sel kanker pada mencit C3H dengan adenokarsinoma mammae yang diberi regimen kemoterapi Adriamycin-Cyclophosphamide.
Ekspresi Hypoxia-Inducible Factor-1α menginduksi Ekspresi Eritropoietin Intraseluler, dan Vascular Endothelial Growth Factor pada Penderita Kanker Payudara dengan Anemia Darwin P, Muhammad; Kalim, Handono; Wahono S, Djoko; W Sudoyo, Aru; Fatchiyah, Fatchiyah
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.499 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.5

Abstract

 Anemia merupakan faktor prognostik independen untuk pertahanan hidup pasien kanker. Penurunan kapasitas oksigen pada darah dapat menyebabkan terjadinya kondisi hipoksia pada jaringan kanker . Hipoksia pada jaringan kanker dapat mengaktivasi faktor transkripsi hypoxia-inducible factor-1α (HIF-1α) yang kemudian akan mentranskripsi banyak gen lain yang terlibat dalam invasi sel, angiogenesis, metabolisme anaerobik dan siklus sel, seperti gen eritropoietin (Epo) dan vascular endothelial growth  factor  (VEGF). Penelitian  ini menggunakan sampel berupa 120 slide peraparat  jaringan kanker payudara (60 anemi dan 60 non anemi) dengan melakukan pewarnaan secara  imunofluoresen double staining untuk protein HIF1α dengan VEGF dan Epo dengan EpoR. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu anemi (Hb 5,5-10,7) dan non anemi (Hb 11-14,9). Hasil imunofluoresen di analisis dengan menggunakan Confocal Laser Scanning Microscope untuk mengetahui ekspresi protein target. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada ekspresi   HIF1α pada jaringan kanker penderita kanker payudara yang   anemi dan   non anemi namun sebaliknya ada perbedaan ekspresi VEGF yang signifikan (p=0,013) antara pasien anemi (754,4±316) dan non anemi (555,1±276,9). Pada kelompok sampel anemi dan non anemi ada hubungan negatif antara Hb dan HIF1α   (p=0,000; r=-0,522) dan hubungan positif  antara HIF1α dengan EPO (p=0,000; r= 0,697), antara HIF1α dengan VEGF (p=0,000; r=0,644), antara Epo dan VEGF (p=0,001; r=0,433). Pada pasien kanker anemi dan non anemi telah terjadi kondisi hipoksia pada lingkungan tumornya sehingga menyebabkan ekspresi HIF1α tidak berbeda signifikan namun hubungan HIF1α dengan EPO dan VEGF sangat kuat.  Kata Kunci: Anemi, epo, HIF1α, hipoksia, VEGF
ENZIM LIPOPROTEIN LIPASE SUATU ALTERNATIF PEMERIKSAAN GANGGUAN METABOLISME LEMAK PADA PENDERITA DM TIPE 2 IN VITRO Handayani, Dian; Am, Aulani’; Soeadmadji, Djoko W.; Widodo, M. Aris
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 19, No 2 (2003)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.256 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2003.019.02.3

Abstract

ABSTRACT The biggest population of Diabetes Mellitus is type 2 diabetes. Dyslipidemia is frequently found in type 2 diabetic patients, which is characterized by increased TG plasma levels and decreased HDL. Increased TG levels may be due to LPL activity disturbance, which then  lead to impaired lipoprotein metabolism, such as decreased hydrolyzing TGs in VLDL and Chylomicron. LPL is an enzyme which activities are influenced by several factors such as temperature, pH, incubation period, and substrate concentration. LPL attached to vascular endothelium, and can be removed from it by giving heparin intravenous. Heparin acts as lipotropic agent which promote plasma lipid transfer to lipid deposit by secreting lipolitic enzyme such as LPL. After giving information  about the objective of this study on the possible site effect of the blood obtaining technique, the patient was asked  to give her voluntary consent. Heparin IV 60 IU/Kg BB was given 15 minute before blood sample was drawn. Obtain from aid type 2 diabetes individual and aid from non diabetic control subject. To determine optimal LPL action pH variations (6, 6.4, 6.8 and 7), temperature  (30, 32, 35 and 37)oC,
KEMAMPUAN SEL LIMPA NORMAL MENCEGAH TERJADINYA PENYAKIT AUTOIMMUNE PADA MENCIT IL-2Rβ ββ β -/- Rifa’i, Muhaimin
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 21, No 1 (2005)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.37 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2005.021.01.2

Abstract

Adoptive transfer is a potentially curative treatment for both inherited and acquired diseases of hematopoietic compartment and organ failure. The aim of this experiment was to know the potency of normal unfractionated spleen cells to prevent pathological autoimmunity in IL-2Rβ-/-mice. Here, we show that the normal unfractionatedspleen cells have a capacity to prevent autoimmune diseases when adoptively transferred to IL-2Rβ-/- mice. Intravenously, and adoptively transferred of normal unfractionated spleen cells (107) to IL-2Rβ-/-mice (3 wks) gave an evidence on preventing the lethal phenotype due to autoimmune disease in IL-2Rβ-/-mice. The donor cells have a capacity to reverse the status of recipient cells from memory to naïve type. In addition, donorcells also have a capacity to regulate the development of granulocyte cells into normal level of homeostasis. These findings suggest that normal unfractionated spleen cells  could in the future be used in clinical settings to cure autoimmune diseases. Keywords :autoimmune, spleen cells, IL-2Rβ-/-, mice