cover
Contact Name
Putu Herdita Sudiantara
Contact Email
herdita.sudiantara@unud.ac.id
Phone
+6282146479543
Journal Mail Official
jatiudayana@unud.ac.id
Editorial Address
Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80234, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif
Published by Universitas Udayana
ISSN : 30903580     EISSN : 30903580     DOI : https://doi.org/10.24843
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif (JATI) is the official publication of the Department of Anesthesiology and Intensive Care, Udayana University, Indonesia. The journal is dedicated to advancing knowledge, research, and clinical practice in the fields of anesthesiology, intensive care, pain medicine, and perioperative medicine. Aims The primary aim of JATI is to serve as a platform for disseminating high-quality, peer-reviewed scientific work that contributes to the improvement of patient care, education, and research in anesthesiology and intensive care. The journal seeks to: - Promote the integration of clinical practice, research, and education in perioperative and critical care medicine. - Encourage the publication of innovative research, case-based learning, and evidence-based reviews. - Provide opportunities for academic exchange among clinicians, researchers, and educators at the national and international levels. - Uphold ethical publishing standards and support the development of early-career researchers and clinicians. Scope JATI publishes original articles, review articles, case reports, study protocols, editorials, and commentaries covering a broad range of topics, including but not limited to: - General anesthesia and regional anesthesia - Perioperative medicine and patient safety - Critical care and intensive care medicine - Pain medicine, pain management, and interventional procedures - Resuscitation, trauma, and emergency medicine - Basic and translational anesthesia sciences - Clinical pharmacology and therapeutics - Ethics, professionalism, and medical law in anesthesiology - Simulation, education, and training in anesthesiology and critical care The journal operates on an open access model under the Creative Commons Attribution (CC BY 4.0) license, ensuring that all published articles are freely available to readers worldwide. Manuscripts are subject to rigorous double-blind peer review to ensure scientific quality and integrity.
Articles 26 Documents
Manajemen Anestesi pada Pasien Pediatri dengan Double Inlet Left Ventricle Yang Menjalani Bidirectional Cavo-Pulmonary Shunt: Laporan Kasus Wangsa, Aditya; Sidemen, IGAE Parasanti; Nada, Ketut Wibawa
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p04

Abstract

Istilah single ventricle (jantung univentrikular) digunakan untuk menggambarkan kelainan jantung dengan satu rongga ventrikel yang efektif. Kelainan jantung ini meliputi ventrikel tunggal, ventrikel umum, double inlet left ventricle (DILV), dan koneksi atrioventrikular univentrikular. Double Inlet Left Ventricle (DILV) merupakan kelainan jantung kongenital langka dengan anatomi ventrikel tunggal, di mana kedua atrium mengalir ke ventrikel kiri. dan merupakan variasi penyakit jantung bawaan fungsional univentrikular yang bersifat sianotik Variasi ini secara keseluruhan mencakup ≤2% dari semua kelainan jantung bawaan (congenital heart defects/CHDs). Harapan kelangsungan hidup pasien dengan kelainan ini tanpa koreksi bedah adalah sekitar 14 tahun. Untuk mengatasi kondisi ini, diperlukan pemisahan total antara sirkulasi pulmonal dan sistemik melalui prosedur Fontan yang berlangsung dalam tiga tahap. Tujuan prosedur Fontan adalah untuk mengalihkan aliran darah balik sistemik langsung ke arteri pulmonal tanpa melewati ruang jantung kanan. Langkah pembedahan awal adalah prosedur Bidirectional Cavopulmonary Shunt (BCPS) sebagai tahap pertama untuk sirkulasi Fontan. Manajemen anestesi pada pasien DILV yang menjalani Bidirectional Cavopulmonary Shunt (BCPS) memerlukan keseimbangan hemodinamik presisi untuk mempertahankan aliran darah sistemik (Qs) dan aliran darah pulmonal (Qp), berbagai pemantauan invasif, dan kesiapan menghadapi komplikasi hemodinamik perioperatif. Komplikasi low cardiac  output syndrome (LCOS) dan gangguan metabolik pasca BCPS menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin pada kasus ini. Optimalisasi ventilasi, penggunaan vasodilator pulmonal, dan inotropik dini menjadi kunci dalam tata laksana. Pada laporan kasus ini dipaparkan manajemen perioperatif pasien anak laki-laki usia 1 tahun dengan kelainan jantung bawaan DILV, VSD, ASD dan PLSVC yang menjalani operasi BCPS. Pasien diketahui memiliki kelainan jantung bawaan sejak lahir, namun tidak pernah menunjukkan gejala sesak nafas maupun kebiruan. Pasien dilakukan tindakan anestesi umum pipa endotrakeal dan pasca operasi dilakukan perawatan di ICU. Pasien meninggal pada hari kedua pasca operasi.
Perkembangan Terkini dalam Painless Labour: Tinjauan Naratif Ganakin, Acuyta; Jonathan, Jeremy; I Made Gede Widnyana
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 1 (2025): JATI April 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i01.p06

Abstract

Pendahuluan: Persalinan merupakan proses fisiologis yang sering kali disertai dengan nyeri hebat, yang dapat menyebabkan stres fisik dan psikologis pada ibu. Manajemen nyeri yang tidak optimal dapat berkontribusi terhadap peningkatan angka morbiditas dan mortalitas ibu serta mempengaruhi kesejahteraan neonatal. Oleh karena itu, pemilihan metode analgesia yang efektif dan aman menjadi perhatian utama dalam praktik obstetri modern.Metode: Tinjauan naratif ini didasarkan pada penelusuran literatur terstruktur dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci seperti "painless labour", "labour analgesia", "obstetric analgesia", "pain management in labour", "epidural analgesia", “non-pharmacological pain relief in labour” dan "neuraxial analgesia". Publikasi dibatasi pada tahun 2018–2022, berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria inklusi meliputi studi primer peer-reviewed (RCT, kohort, observasional) yang mengevaluasi painless labour atau labour analgesia, serta melaporkan skor nyeri pasca melahirkan, dan kepuasan persalinan.Hasil: Kajian ini adalah untuk mengevaluasi berbagai metode manajemen nyeri persalinan, baik melalui pendekatan farmakologis maupun non-farmakologis, serta menyoroti keunggulan dan keterbatasan masing-masing pendekatan. Metode farmakologis seperti anestesi epidural, analgesia intravena, dan blok saraf telah terbukti efektif dalam mengurangi intensitas nyeri, sementara pendekatan non-farmakologis seperti teknik pernapasan, hidroterapi, akupunktur, dan stimulasi listrik saraf transkutan (TENS) juga memberikan manfaat tambahan dalam meningkatkan kenyamanan ibu selama persalinan. Kajian ini menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam manajemen nyeri persalinan guna memastikan pengalaman persalinan yang lebih aman, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan individual pasien. Kesimpulan: Pemilihan metode yang tepat harus mempertimbangkan kondisi medis ibu, preferensi pasien, serta ketersediaan fasilitas kesehatan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang metode analgesia yang tersedia, diharapkan pelayanan obstetri dapat semakin optimal dalam meningkatkan kualitas persalinan bagi ibu dan bayi.
Hubungan MAP dan CVP terhadap PEEP dan Perubahan Stroke Volume pada Pasien Ventilasi Mekanik Invasif: Studi Observasional Analitik Win Muliadi; Sinardja, Cynthia Dewi; I Made Subargiartha
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p02

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan parameter statis seperti mean arterial pressure (MAP) dan central venous pressure (CVP) sering kali tidak cukup akurat untuk memprediksi fluid responsiveness, sehingga diperlukan parameter dinamis yang lebih praktis dan dapat diandalkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi korelasi antara perubahan MAP dan CVP akibat perubahan positive end expiratory pressure (PEEP) dengan perubahan stroke volume (SV) sebagai prediktor kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Pasien dan Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik. Subjek penelitian adalah pasien berusia 18–65 tahun yang menjalani ventilasi mekanik. Setelah mendapatkan persetujuan etik dan informed consent, dilakukan pengukuran MAP dan CVP pada PEEP 5 dan 15 cmH₂O. Selanjutnya, SV diukur menggunakan ekokardiografi transtorakal dan setelah manuver passive leg raising (PLR). Fluid responsiveness didefinisikan sebagai peningkatan SV ≥10% setelah PLR. Analisis korelasi dilakukan untuk menilai hubungan antara perubahan MAP dan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR, serta analisis kurva ROC untuk menentukan nilai ambang diagnostik. Hasil: Sebanyak 28 pasien memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara perubahan MAP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = -0,233; p = 0,232). Sebaliknya, ditemukan korelasi kuat antara perubahan CVP akibat PEEP dengan perubahan SV akibat PLR (r = 0,751; p < 0,001). Analisis kurva ROC memperlihatkan area under curve (AUC) sebesar 0,872 untuk perubahan CVP, dengan nilai ambang optimal 3,25 cmH₂O yang memberikan sensitivitas 71,4% dan spesifisitas 78,6% dalam memprediksi fluid responsiveness. Kesimpulan: Perubahan CVP akibat peningkatan PEEP memiliki korelasi kuat dengan fluid responsiveness dan dapat digunakan sebagai parameter dinamis untuk menilai kecukupan cairan pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik.
Comparison Between Opioid Free Anesthesia and Opioid Based Anesthesia in Laparoscopic Hysterectomy: A Systematic Review Mahesa Putra, Ode; I Ngurah Arya Wicaksana
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p03

Abstract

Introduction: In Gynecology field, laparoscopy surgery is used for many procedures that were traditionally performed via laparotomy. Hysterectomy associated with postoperative pain, which greatly affected postoperative recovery and patient satisfaction. Combinations of opiod base analgesia (OBA) and opioid free analgesia (OFA) agents are combined with local or regional anesthesic techniques whenever possible. Methods: A systematic search of relevant databases was conducted to identify case control studies comparing OBA and OFA post hysterectomy procedure. Inclusion criteria encompassed studies reporting Visual Analog Scale (VAS) and Numeric Rating Scale (NRS) as an outcome measure. Quality assessment and data extraction were performed independently by author. Results: The systematic review identified a total of four case-control studies meeting the inclusion criteria with total of 357 patients undergone hysterectomy procedure. The sample sizes varied across the studies, with the smallest study including 30 patients and the largest study including 157 patients. The outcomes were assessed using VAS and NRS scores. The results consistently showed that either OBA or OFA administration giving similar outcome on pain scale. Conclusion: All studies concluded whether OBA or OFA administration peri or postoperative given similar or not significantly different of pain scoring outcomes. Although OFA would give a better result to maintain post operative nausea and vomitting (PONV) and reducing opiod-related adverse events that happen postoperatively.
Fibrinolytic and Anticoagulant Therapy in COVID-19 Associated Pulmonary Embolism: A Case Report Eka Nantha Kusuma, Putu; I Made Prema Putra; I Gusti Ngurah Mahaalit Aribawa
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p04

Abstract

Pulmonary thromboembolism is a complication that can occur in coronavirus disease-2019 (COVID-19). Efforts to prevent and therapy for thromboembolism have been a challenge to this date. The side effects of fibrinolytic, anticoagulant, and platelet anti-aggregation therapies, such as hemorrhage, are some of the causes of morbidity and mortality that must be addressed immediately. In this case, the patient received prophylaxis with the anticoagulant enoxaparin and platelet anti-aggregation agents with aspirin and clopidogrel. The COVID-19 patient presented a complication of pulmonary thromboembolism that was established using a computed tomography pulmonary angiography (CTPA) performed on his third day of care (day 14 of onset treatment) due to the patient’s clinical aggravation of pulmonary manifestation. After fibrinolytic therapy had been given, the patient’s clinical condition improved. However, on the 7th day after the provision of recombinant tissue plasminogen activator (r-TPA), the patient experienced a side effect of hemorrhage, and management was undertaken to address these issues by transfusions of blood components, such as cryoprecipitates, thrombocyte concentrate, fresh frozen plasma, and packed red cell. Thromboembolism occurring in COVID-19 patients is based on the Virchow triad concept, comprising endothelial injury, static blood flow, and hypercoagulation. The principle of prevention and management of thromboembolism refers to this concept. Currently, further studies are required to treat thromboembolism and the side effects of fibrinolytic and anticoagulant therapies on COVID-19 patients.
Awake Intubation in Patient with Superoanterior Mediastinal Mass and Superior Vena Cava Syndrome (SVCS): A Case Report Ery Oktadiputra; I Putu Fajar Narakusuma; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p05

Abstract

Superior vena cava syndrome (SVCS) with airway compression is challenging in anesthesia management. We report the case of a 69-year-old man with a superoanterior mediastinal mass and grade 3 SVCS who underwent Video-Assisted Thoracoscopic Surgery (VATS) with awake intubation using a double lumen tube (DLT) and videolaryngoscope. Awake intubation was chosen as the safest anesthesia technique where patients still breathe spontaneously without experiencing the effects of deep sedation. The combination of 4% lidocaine nebulization, oropharyngeal lidocaine spray, and dexmedetomidine infusion (0.5 μg/kg bolus over 10 minutes followed by 0.3-0.6 μg/kg/hour during surgery) in this patient, successfully maintained spontaneous ventilation without hemodynamic complications. The use of nebulized lidocaine, lidocaine spray, and dexmedetomidine as intubation facilities showed excellent effectiveness by maintaining the patient's spontaneous breathing, increasing the pain threshold, suppressing the nausea-vomiting reflex, and providing comfort in the form of mild sedation during awake intubation. This approach emphasizes the importance of topical anesthesia and selective sedation in high-risk patients with airway difficulties.
Managemen Anestesi pada Congenital Diapragmatic Hernia dengan Ventrikel Septal Defek dan Atrium Septal Defek pada Pasien Pediatrik : Laporan Kasus Mauritius Septa; Adinda Putra Pradhana; I Putu Kurniyanta; Ketut Wibawa Nada; Novandi Kurniawan; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p06

Abstract

Congenital diaphragmatic hernia (CDH) merupakan kelainan kongenital pada diafragma yang terjadi pada pediatri. Insiden terjadinya hernia tipe Borchdalek lebih sering terjadi pada sisi kiri dari pada sisi kanan. Penyulit lain pada CDH adalah hipoplasia paru, hipertensi paru dan kelainan pada jantung. Pada kasus ini kami mendiskusikan bayi 12 hari dengan kelainan CDH sisi kanan dengan kelainan jantung berupa ventrikel septal defek (VSD) dan atrium septal defek (ASD) yang dilakukan operasi laparotomi hernia. Manajemen anestesi pada pasien ini menggunakan  inhalasi sevoflurane, fentanil, volume tidal rendah, obat inotropik dengan kondisi hemodinamik yang stabil selama pembedahan. Kami melaporkan management anestesi dengan  sevoflurane yang dikombinasi dengan volume tidal rendah dan inotropik dobutamine pada operasi congenital diaphragmatic herdia dengan VSD dan ASD membantu dalam keberhasilan intraoperatif. Setelah operasi, pasien dilakukan perawatan di NICU untuk  perawatan secara ketat.
External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai Tambahan Analgesia Multimodal Pasca Laparoskopi Kolesistektomi: Tinjauan Naratif David Rendra Mahardika; Made Agus Kresna Sucandra; Tjokorda Gde Agung Senapathi
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p07

Abstract

Pendahuluan: Nyeri pascaoperasi, terutama setelah kolesistektomi laparoskopi, adalah masalah signifikan yang meningkatkan morbiditas dan memperpanjang masa rawat inap. Penanganan nyeri sering kali melibatkan opioid sistemik yang memiliki efek samping merugikan. Oleh karena itu, pendekatan analgesia alternatif yang minim opioid sangat dibutuhkan. Tinjauan naratif ini bertujuan mengevaluasi efektivitas External Oblique Intercostal Plane Block (EOIPB) sebagai tambahan analgesia multimodal pasca kolesistektomi laparoskopi, berfokus pada kualitas analgesia, pemulihan pasien, dan respons inflamasi sistemik. Metode: Tinjauan naratif ini didasarkan pada penelusuran literatur terstruktur dari PubMed, Scopus, ScienceDirect, Cochrane Library, dan Google Scholar. Pencarian menggunakan kombinasi kata kunci seperti "external oblique intercostal plane block", "laparoscopic cholecystectomy", "postoperative pain", "quality of recovery", "neutrophil to lymphocyte ratio", dan "platelet to lymphocyte ratio". Publikasi dibatasi pada tahun 2019–2024, berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria inklusi meliputi studi primer peer-reviewed (RCT, kohort, observasional) yang mengevaluasi EOIPB atau blok interfasial sebanding, serta melaporkan skor nyeri pascaoperasi, konsumsi opioid, skor quality of recovery (QoR-15), dan/atau nilai neutrophil to lymphocyte ratio (NLR) / platelet to lymphocyte ratio (PLR). Hasil: EOIPB secara konsisten memperpanjang durasi analgesia, menurunkan intensitas nyeri dengan skor visual analog scale (VAS), dan mengurangi konsumsi opioid pascaoperasi secara signifikan. Studi juga menunjukkan profil keamanan EOIPB yang baik dengan insiden efek samping minimal. Bupivakain, agen anestesi lokal yang umum digunakan, tidak hanya memblok transmisi nyeri tetapi juga menunjukkan sifat anti-inflamasi. Meskipun demikian, terdapat heterogenitas dalam teknik dan jenis anestesi yang digunakan antar studi. Kesimpulan: EOIPB adalah teknik blok interfasial yang efektif dan aman untuk manajemen nyeri pasca kolesistektomi laparoskopi, memberikan analgesia yang lebih baik dan mengurangi kebutuhan opioid. Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan berskala besar, terstandarisasi, dan multicenter untuk memperkuat bukti ilmiah dan mengevaluasi dampak jangka panjangnya.
Albumin Use and Its Association with Nutritional Status in the Intensive Care Unit : A Narrative Review Putu Eka Nantha Kusuma; Jeremy Jonathan; Putu Agus Surya Panji
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p08

Abstract

Introduction: Albumin is the major protein in blood plasma that plays a pivotal role in the regulation of oncotic pressure and nutritional status, particularly in critically ill patients. Hypoalbuminemia is frequently observed in ICU patients and is associated with increased morbidity and mortality. This narrative review aims to assess the role and efficacy of albumin supplementation, administered both orally and intravenously, in supporting the nutritional status and prognosis of critically ill patients. Methods: A literature search was conducted across the PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, and ProQuest databases utilizing the keywords: "albumin", "critical illness", "nutrition", and "ICU". Articles included were those published within the last 10 years, available in English and Indonesian, and comprised review articles, clinical trials, and clinical practice guidelines. The selection process was performed through the screening of titles, abstracts, and subsequent full-text reviews. A total of 23 articles were included in this review. Results: The literature indicates that albumin supplementation contributes to hemodynamic stability, a reduction in nosocomial infections, and improved prognosis in patients with conditions such as sepsis, ARDS, hepatic and renal dysfunction, and in post-operative states. Supplementation with snakehead fish (Channa striata) extract has also been reported to increase albumin levels. Accurate nutritional assessment, using tools like the Nutrition Focused Physical Exam (NFPE), Subjective Global Assessment (SGA), and biomarkers such as Total Lymphocyte Count (TLC) and Neutrophil to Lymphocyte Ratio (NLR) are essential for determining the nutritional status of critically ill patients. Specific recommendations from the ESPEN consensus and various hepatology and nephrology associations exist concerning the application of albumin in specific clinical conditions. Conclusion: Albumin supplementation holds significant potential in supporting the nutritional status and improving the clinical outcomes of critically ill patients. Further studies are required to determine optimal protocols and the cost-effectiveness of albumin therapy in the critically ill patient population.
Transformasi ICU Modern: Teknologi, Humanisasi, dan Perawatan Individual dalam Era Perawatan Kritis I Made Prema Putra
Jurnal Anestesiologi dan Terapi Intensif Vol. 1 No. 2 (2025): JATI Agustus 2025
Publisher : Udayana University and Indonesian Society of Anesthesiologists (PERDATIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JATI.2025.v01.i02.p01

Abstract

Transformasi ICU modern ditandai oleh kemajuan teknologi, pendekatan humanistik, dan perawatan individual yang terintegrasi. Penerapan ICU Liberation Bundle (ABCDEF) terbukti mengurangi durasi rawat, delirium, dan meningkatkan survival jangka panjang. Inovasi seperti kecerdasan buatan, tele-ICU, serta pemantauan hemodinamik lanjutan memperkuat deteksi dini dan intervensi tepat waktu. Strategi manajemen cairan berbasis responsivitas dinamis dan ventilasi protektif semakin diutamakan. Penggunaan ECMO dan imunoterapi untuk sepsis menunjukkan perkembangan signifikan. Meski demikian, tantangan seperti burnout tenaga kesehatan dan rehabilitasi pasca-ICU masih perlu diatasi. Kolaborasi dan inovasi terus menjadi kunci dalam membentuk ICU masa depan yang lebih adaptif dan berpusat pada pasien.

Page 2 of 3 | Total Record : 26