cover
Contact Name
Ni Luh Arpiwi
Contact Email
arpiwi@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiologi@unud.ac.id
Editorial Address
Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana, Jalan Kampus UNUD Bukit Jimbaran, Badung, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Biologi Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14105292     EISSN : 25992856     DOI : DOI 10.24843/JBIOUNUD
This journal is dedicated to advancing the frontiers of biological and environmental sciences through the publication of original research articles, comprehensive review papers, and insightful case studies. We welcome high-quality contributions in the following areas: Botany – covering plant biology, physiology, taxonomy, ethnobotany, and plant-environment interactions. Zoology – including animal biology, behavior, anatomy, physiology, and wildlife studies. Microbiology – exploring microbial diversity, pathogenicity, industrial microbiology, and microbial ecology. Environmental Science and Ecotourism – focusing on ecosystem analysis, sustainability, environmental impact, and the integration of tourism and conservation. Biotechnology and Biomolecular Sciences – embracing molecular biology, genetic engineering, bioinformatics, and applications in health, agriculture, and industry. Ecology and Conservation – emphasizing ecosystem dynamics, biodiversity conservation, species management, and ecological modeling. By fostering interdisciplinary dialogue and innovation, the journal aims to be a platform for scholars, practitioners, and policymakers to address current challenges and contribute to sustainable solutions across biological and environmental systems.
Articles 16 Documents
Eksplorasi dan karakterisasi mikroorganisme tanah andosol sebagai dasar pengembangan agen hayati tanah Ayu Putri Ningsih; Eko Prasetya; Puji Prastowo; Rini Hafzari
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 2 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i02.p03

Abstract

Tanah Andosol yang terbentuk dari pelapukan abu vulkanik kaya mineral merupakan habitat potensial bagi mikroorganisme tanah yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber agen hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengkarakterisasi mikroorganisme tanah Andosol dari lahan pertanian kentang di Desa Situnggaling, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Isolasi dilakukan menggunakan metode pour plate dengan pengenceran bertingkat (10⁻¹–10⁻⁵) pada media selektif SCA, Starch-M Protein Agar, ISP-2, dan ISP-4, yang menghasilkan 34 isolat bakteri Gram positif berdasarkan uji KOH 3% dan pewarnaan Gram. Karakterisasi morfologi koloni menunjukkan variasi bentuk, tepi, elevasi, tekstur, dan warna yang umumnya putih hingga krem dengan tekstur bertepung, sedangkan pengamatan mikroskopis memperlihatkan bentuk filamen bercabang atau batang dengan hifa tidak bersekat. Uji biokimia menunjukkan 22 isolat katalase positif, 4 positif Simmons’ Citrate, 11 bersifat motil, 14 mampu memfermentasi seluruh gula yang diuji, 2 menghasilkan gas, dan 8 positif H₂S, yang mengindikasikan adanya keragaman fisiologis dan metabolik yang tinggi. Analisis molekuler berbasis gen 16S rRNA terhadap dua isolat terpilih, yaitu ISP 4 10-4 O P2 dan ISP 4 10-3 O PS, menunjukkan tingkat kemiripan masing-masing sebesar 84,81% dan 95,69% terhadap anggota genus Bacillus. Tingkat kemiripan yang berada di bawah ambang batas identifikasi spesies (>98%) menunjukkan bahwa kedua isolat tersebut hanya dapat diidentifikasi hingga tingkat genus dan berpotensi memiliki variasi genetik yang berbeda dari isolat yang telah dilaporkan sebelumnya. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tanah Andosol memiliki keanekaragaman mikroorganisme dan berpotensi sebagai sumber kandidat agen hayati yang dapat dikaji lebih lanjut pada penelitian lanjutan.
Etnobotani tumbuhan obat tradisional masyarakat Kutai di Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur Titin Suharti; Medi Hendra; Muhammad Fauzi Arif; Linda Oktavianingsih
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p07

Abstract

Masyarakat di Pulau Kalimantan hingga saat ini masih banyak yang memanfaatkan keanekaragaman hayati tumbuhan sebagai obat tradisional, termasuk masyarakat Suku Kutai yang bermukim di Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemanfaatan tumbuhan obat ini telah berlangsung lama, terutama oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat Suku Kutai, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, cara pengolahan, serta manfaatnya. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan teknik wawancara semi-terstruktur (semi-structured interview) yang dilengkapi dengan keterlibatan aktif peneliti dalam kegiatan masyarakat setempat melalui pendekatan Participatory Ethnobotanical Appraisal (PEA). Pengambilan sampel tumbuhan obat dilakukan dengan metode transect-walk sampling. Hasil penelitian mengidentifikasi 103 spesies tumbuhan dari 48 famili yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun sebesar 51%, diikuti oleh akar sebesar 16%, umbi sebesar 11, batang sebesar 10%, kulit batang sebesar 2%, getah sebesar 2%, buah sebesar 5%, dan biji sebesar 2% serta bunga 1%. Metode pengolahan tumbuhan obat yang umum dilakukan adalah dengan cara direbus sebesar 71%, ditumbuk sebesar 14%, diparut sebesar 9%, tanpa diolah sebesar 3%, dan diremas sebesar 3%. Tumbuhan obat ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk penyakit degeneratif seperti diabetes, penyakit jantung, asam urat, dan hipertensi, serta penyakit tropis seperti sakit kepala, malaria, perawatan pasca-melahirkan, dan pendarahan.
Evaluation of the potential of purple eggplant peel extract (Solanum melongena L.) as a pH indicator for Escherichia coli Wenni Oktraiani Purba; Yuli Yantika Syahputri; Nita Andriani Lubis; Gabriella Septiani Nasution; Dewi Setiawati; Febri Sembiring
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p01

Abstract

Anthocyanins are natural pigments found in various plants and fruits, known for their ability to change color according to the pH of their environment. This property can be utilized as a pH indicator in observing carbohydrate fermentation reactions by bacteria. This study aims to evaluate the potential of purple eggplant peel extract (Solanum melongena L.) as an alternative pH indicator to monitor bacterial growth. Purple eggplant peel was extracted using 80% ethanol containing 1% HCl, stored for 24 hours at 4 °C, centrifuged, and concentrated using a rotary evaporator at 35 °C. The extract obtained was used as a pH indicator in Tryptic Soy Broth (TSB) media for Escherichia coli growth. This test used two treatments; namely purple eggplant peel extract added into TSB media before bacterial inoculation and purple eggplant peel extract added after bacteria grew on TSB media. The results showed that purple eggplant peel extract effectively showed a clear color change according to different pH levels. However, when applied to bacterial growth media, the addition of purple eggplant peel extract showed no significant color change on TSB media, neither before nor after bacteria growth. Thus, to effectively utilize this extract as an indicator in bacterial growth media, further research is needed to explore methods to maintain the stability of the pigments contained in purple eggplant peel extract when added to bacterial growth media.
Eksplorasi metode kultur tiga-dimensi sel punca mesenkim: suatu kajian pustaka Widia Meliawati; Ngurah Intan Wiratmini; Elrade Rofaani
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p02

Abstract

Kultur tiga dimensi sel punca mesenkim mempunyai lingkungan physicochemical yang relevan secara in vivo. Metode ini mampu mengatasi keterbatasan pada kultur sel 2D dalam meniru morfologi dan fisiologi sel. Penelitian kajian pustaka ini mengeksplorasi berbagai metode kultur 3D, seperti scaffolds berbasis biomaterial, scaffolds berbasis polimer sintetis, metode tanpa berbasis scaffolds, dan kultur berbasis hidrogel yang dianalisa untuk mengevaluasi keunggulan, kekurangan, dan potensinya. Hasil kajian menunjukkan bahwa berbagai macam kultur tiga dimensi menghasilkan spheroid dengan potensi yang berbeda, namun mampu mendukung interaksi antar sel dan interaksi sel-matriks ekstraseluler, meningkatkan viabilitas, dan derivat metabolik sel punca mesenkim untuk digunakan dalam metode pengobatan terkini. Kultur tiga dimensi juga memberikan lingkungan yang stabil untuk pemeliharaan sel karena distribusi oksigen dan nutrisi yang tersebar secara merata sehingga tidak menyebabkan manfaat dari sel punca mesenkim hilang. Dapat disimpulkan bahwa metode kultur tiga dimensi pada sel punca mesenkim mampu mengatasi keterbatasan pada kultur secara dua dimensi karena memiliki lingkungan fisiologis yang mirip jaringan asli. Teknik kultur tiga dimensi dapat meningkatkan interaksi antar sel dan sel dengan matriks ekstraseluler untuk meningkatkan viabilitas, proliferasi, diferensiasi, dan derivat metabolik pada sel punca mesenkim.
Preferensi infestasi lalat Calliphoridae pada daging yang mengandung boraks: Mendukung kajian ilmu forensik Mutiara Yuliana Dewi; Ni Luh Watiniasih; Anak Agung Sagung Alit Sukmaningsih
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p03

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui preferensi infestasi lalat Calliphoridae pada daging yang mengandung boraks sebagai pendukung kajian ilmu forensik. Penelitian dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan Program Studi Biologi Universitas Udayana dan berlangsung sekitar lima bulan dimulai dari bulan Januari hingga Mei 2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Sampel pada penelitian ini berupa daging babi dengan berat sebesar 100 g yang diberikan perlakuan pemberian boraks gliserin dengan volume yang berbeda. Perlakuan 0 (P0) sampel tidak dicampur boraks gliserin, perlakuan 1 (P1) sampel dicampur boraks gliserin sebanyak 10 ml, perlakuan 2 (P2) sampel dicampur boraks gliserin sebanyak 20 ml, perlakuan 3 (P3) sampel dicampur boraks gliserin sebanyak 30 ml, perlakuan 4 (P4) sampel dicampur boraks gliserin sebanyak 40 ml, dan perlakuan 5 (P5) sampel dicampur boraks gliserin sebanyak 50 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu perubahan warna dan tekstur sampel hingga menyerupai daging sapi serta preferensi lalat Calliphoridae terhadap sampel berbeda nyata (P<0,05). Nilai rata-rata waktu perubahan warna dan tekstur daging babi menyerupai daging sapi pada P0 adalah 00,00±00,00 (tidak terjadi perubahan warna), pada P1 adalah 52,25±1,70, pada P2 adalah 48,5±1,91, pada P3 adalah 44,0±4,54, pada P4 adalah 38,25±2,36, dan pada P5 adalah 32,5±4,50. Pada preferensi datangnya lalat dalam selang waktu 12 jam, nilai rata-rata yang didapatkan pada P0 adalah 189,5±73,09, pada P1 adalah 203,14±38, pada P2 adalah 55,75±64,37, pada P3 adalah 141,3±47,48, pada P4 adalah 213,55±66,9, dan pada P5 adalah 32,5±65,0. Sampel yang dicampur dengan boraks gliserin tidak menunjukkan adanya siklus hidup lalat Calliphoridae. Spesies yang didapatkan pada penelitian ini termasuk ke dalam genus Lucilia yaitu Lucilia cuprina dan Lucilia caesar, dan genus Chrysomya yaitu Chrysomya megacephala.
Aktivitas antimikroba dan antioksidan ekstrak metanol jamur yang diisolasi dari air laut Pantai Amed dan Tulamben Ni Kadek Dwijayanti; Ni Made Widya Wulandari; Ni Putu Ananda Eka Putri; Ni Putu Eka Leliqia; I Putu Yogi Astara Putra; Joko Tri Wibowo; Ida Bagus Nyoman Putra Dwija; Ni Putu Ariantari
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p04

Abstract

Jamur laut merupakan salah satu sumber penting metabolit sekunder dalam penemuan obat. Isolasi jamur laut dapat dilakukan dari berbagai sumber di ekosistem laut, termasuk air laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi jamur dari air laut di Pantai Amed dan Tulamben, melakukan skrining fitokimia ekstrak metanol, melakukan uji aktivitas antimikroba ekstrak menggunakan metode difusi cakram, dan uji antioksidan menggunakan metode 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Tiga isolat jamur laut berhasil diisolasi dalam penelitian ini dan diidentifikasi sebagai Aspergillus sp. RM-NS-AL-AM(2), Cladosporium sp. AL-TU, dan Penicillium citrinum RM-NS-AL-TU melalui identifikasi molekuler. Jamur tersebut kemudian difermentasi pada media beras yang mengandung garam dan tanpa garam. Pada akhir fermentasi, metabolit sekunder diekstraksi menggunakan pelarut etil asetat, dilanjutkan dengan ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut metanol yang mengandung 10% air dan n-heksana. Hasil skrining fitokimia fraksi metanol yang didapatkan menunjukkan seluruh fraksi mengandung senyawa golongan alkaloid dan polifenol. Diantara ekstrak uji, ekstrak yang diperoleh dari fermentasi jamur Aspergillus sp. RM-NS-AL-AM(2) pada media beras tanpa penambahan garam menunjukkan aktivitas tertinggi terhadap Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 dengan diameter zona hambat 5,77 0,12 mm. Ekstrak dari jamur tersebut yang diperoleh dari fermentasi pada media beras dengan suplementasi garam menunjukkan aktivitas tertinggi terhadap Candida albicans ATCC 10231 dengan diameter zona hambat sebesar 6,66 0,46 mm. Ekstrak ini juga menunjukkan aktivitas antioksidan kuat dengan nilai IC50=21,68 0,92 µg/mL. Hasil tersebut menunjukkan potensi jamur Aspergillus sp. RM-NS-AL-AM(2) untuk dieksplorasi senyawa bioaktifnya, terutama sebagai antimikroba dan antioksidan.
Jamur Aspergillus yang berasosiasi dengan spons sebagai sumber senyawa antimikroba potensial: suatu kajian pustaka Ni Putu Natasha Ernianti Erlina; Ni Made Widya Wulandari; Ni Kadek Dwijayanti; Ni Putu Ariantari
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p05

Abstract

Resistensi antimikroba telah menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan di seluruh dunia, yang mengakibatkan penurunan efektivitas obat-obatan yang digunakan untuk mengobati infeksi. Kondisi ini telah mendorong berbagai upaya penemuan antimikroba baru dari berbagai sumber, termasuk bahan alam. Jamur yang berasosiasi dengan spons laut merupakan salah satu sumber potensial senyawa bioaktif dengan berbagai aktivitas biologis, termasuk sebagai antimikroba. Mikroorganisme ini mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem, dan menghasilkan senyawa kimia yang beragam. Diantara jamur tersebut, Aspergillus merupakan salah satu genus jamur yang sering dilaporkan berasosiasi dengan spons laut. Senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh jamur ini juga diketahui memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai patogen. Review artikel ini bertujuan untuk mengkaji keberagaman senyawa kimia yang dihasilkan jamur Aspergillus yang diisolasi dari spons laut dan aktivitas antimikrobanya berdasarkan data dari literatur ilmiah selama 10 tahun terakhir (2014-2024). Sumber data yang digunakan yakni Pubmed, Science Direct dan Google Scholar. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh 16 spesies jamur Aspergillus dari spons laut dan lebih dari 100 senyawa yang diantaranya termasuk dalam golongan alkaloid, seskuiterpen, isokumarin, terpenoid serta senyawa poliketida. Sekitar 50 senyawa menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap berbagai patogen, termasuk strain yang resisten terhadap antibiotik saat ini.
Kajian etnobotani ramuan minyak tradisional sapah gumi pada Suku Sasak di Desa Pejanggik Lombok Tengah Fatmiwati Fatmiwati; Sukiman Sukiman; Kurniasih Sukenti
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p06

Abstract

Masyarakat Suku Sasak di Desa Pejanggik, Kabupaten Lombok Tengah merupakan masyarakat lokal yang masih mempertahankan pengobatan secara tradisional, karena berdasarkan sejarahnya Desa Pejanggik merupakan peninggalan dari salah satu kerajaan besar di Pulau Lombok yaitu Kerajaan Pejanggik. Salah satu pengobatan tradisional yang masih dilakukan hingga saat ini yaitu pengobatan dengan minyak tradisional sapah gumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek-aspek etnobotani pada tumbuh-tumbuhan yang digunakan dalam pembuatan minyak tradisional sapah gumi. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2023 di lima dusun di Desa Pejanggik yaitu Dusun Serewa, Dusun Toro, Dusun Lingkok Mas, Dusun Batu Bangke, dan Dusun Ular Naga. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif eksploratif. Pengumpulan data di lapangan dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemilihan narasumber menggunakan metode Purposive Sampling dan Snowball Sampling. Seluruh data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif berdasarkan hasil observasi, wawancara, kuantifikasi data-data kualitatif terkait tumbuhan yang dimanfaatkan, dan data-data terkait pemanfaatan tumbuhan dan penggunaan ramuan minyak sapah gumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 7 famili yang digunakan oleh masyarakat Desa Pejanggik Lombok Tengah dalam pembuatan minyak sapah gumi sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai jenis luka, mengobati penyakit dalam seperti muntah darah, dan untuk obat urut. Aspek sosial budaya masyarakat tercermin dari berbagai cara pengolahan tumbuhan dalam pembuatan minyak sapah gumi serta pemeliharaan lingkungan sekitar agar tetap lestari. Upaya konservasi yang dilakukan masyarakat Desa Pejanggik Lombok Tengah yakni dengan membudidayakan tumbuhan obat dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Uji daya hambat ekstrak daun girang-girang (Leea indica (Burm.f) Merr) terhadap bakteri Morganella morganii FNCC 0122 Made Yuni Pratiwi; Ida Bagus Gede Darmayasa; Sang Ketut Sudirga
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 1 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i01.p08

Abstract

Morganella morganii FNCC 0122 merupakan bakteri yang dapat menyebabkan foodborne disease seperti keracunan histamin. Ekstrak tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan biopreservasi alternatif untuk mengendalikan cemaran histamin yang disebabkan oleh M. morganii FNCC 0122. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat dan golongan senyawa fitokimia pada daun girang-girang (Leea indica Burm.F) Merr. terhadap M. morganii FNCC 0122. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sumur difusi untuk memperoleh nilai konsentrasi efektif yang mampu menghambat M. morganii. Konsentrasi perlakuan yang diujikan meliputi 2%, 4%, 6%, 8%, 10% (v/v), kontrol positif (Chloramphenicol), dan kontrol negatif (etanol 96%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun girang-girang menghambat pertumbuhan bakteri Morganella morganii FNCC 0122 dengan konsentrasi efektif 10%. Skrining fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan steroid pada esktrak daun girang-girang.
Pengaruh strata vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung di ruang terbuka hijau Kota Mataram, Lombok Nabila Desta Nirmala; Wayan Suana
Jurnal Biologi Udayana Vol. 29 No. 2 (2025): JURNAL BIOLOGI UDAYANA
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBIOUNUD.2025.v29.i02.p05

Abstract

Keanekaragaman burung menjadi indikator penting dalam menilai kualitas ekosistem, khususnya  di kawasan perkotaan yang mengalami tekanan pembangunan. Penelitian ini dilakukan di dua ruang terbuka hijau Kota Mataram, yaitu Jalan Langko–Pejanggik dan Jalan Panjitilar Negara, untuk mengetahui pengaruh strata vegetasi terhadap keanekaragaman jenis burung. Metode yang digunakan adalah garis transek dengan pendekatan titik hitung.  Hasil penelitian menunjukkan terdapat 14 jenis burung dari 11 famili, dengan keanekaragaman tertinggi pada Jalan Langko–Pejanggik (H’ = 2,146) dibandingkan Jalan Panjitilar Negara (H’ = 1,883). Strata vegetasi yang lebih lengkap (B, C, D, dan E) di Jalan Langko–Pejanggik memberikan sumber daya yang lebih melimpah seperti pakan dan tempat bersarang, sehingga mendukung komunitas burung yang lebih beragam. Analisis regresi menunjukkan bahwa keberagaman strata vegetasi berpengaruh sangat signifikan terhadap keanekaragaman jenis burung (R2 = 0,663; P = 0,000123). Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan vegetasi bertingkat dalam desain lanskap perkotaan guna meningkatkan keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis ruang terbuka hijau.

Page 1 of 2 | Total Record : 16