cover
Contact Name
Anak Agung Ayu Sri Trisnadewi
Contact Email
aaas_trisnadewi@unud.ac.id
Phone
+6281338391967
Journal Mail Official
pastura@unud.ac.id
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak
Published by Universitas Udayana
ISSN : 2088818X     EISSN : 25498444     DOI : -
Pastura adalah jurnal ilmu tumbuhan pakan ternak yang diterbitkan dua kali setahun (Februari dan Agustus) yang diterbitkan oleh Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI). Pastura memuat berbagai artikel dari aspek tumbuhan pakan ternak berupa: hasil penelitian, naskah konseptual/opini, resensi buku, dan informasi tentang tumbuhan pakan ternak lainnya.
Articles 24 Documents
Kadar Nutrien, Mineral dan Anti Nutrien Biji Berbagai Aksesi Arbila (Phaseolus lunatus L.) Berkategori Berat dari Kabupaten Kupang sebagai Pakan Bernadete Barek Koten; Jacobus S. Oematan; Resa L. Talan; Andreas Trilalan Moruk; Redempta Wea; Noldin Abolla; Allan Prima Titong
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to evaluate the nutrient, mineral, and antinutrient levels of seeds of various accessions ofarbila (Phaseolus lunatus L.) in the heavy category from Kupang Regency as feed. This study was conducted in Kupang Regency and the Politani Animal Nutrition and Feed Laboratory for 8 months (April - November 2023). The materials and tools were seeds from 16 arbila accessions and digital scales. The working procedures were seed collection, identification and grouping of seeds in accessions based on seed morphology, sample preparation, and analyzing nutrient, mineral and anti-nutrient levels of arbila seeds in the weight category. The variables measured were dry matter content (DM - %), crude protein content (CP - % DM), crude fiber content (CF - % DM), ether exctract (EE - % DM), and ash (%), mineral content in the form of calcium (Ca), phosphorus (P) and potassium (K), and anti-nutrients in the form of cyanide acid (ppm) and phytic acid (%) of the arbila seeds. The data were then described. The results showed that there were 16 arbila accessions with seeds in the categories of weight, nutrient content, minerals, and anti-nutrients of arbila seeds from various accessions varied and were different for each accession. The nutrient content was 86.63 - 88.48% DM content, 15.75 - 26.88% CP, 1.30 - 2.02% EE, 5.73 - 8.77% CF, 58.87 - 71.20% NFE content, and 3.73 - 5.97% ash content. The mineral content is 0.30-0.57% Ca, 0.41-0.79% P, 1.10-1.41% K. The anti-nutrient content is 125.09 – 318.51 ppm cyanide acid and 0.04-0.52% phytic acid. It was concluded that the nutritional, mineral, and anti-nutrient values of arbila seeds in the heavy category varied and were determined by the arbila accession. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kadar nutrien, mineral, dan anti nutrien biji berbagai aksesi arbila (Phaseolus lunatus L.) berkategori berat dari Kabupaten Kupang sebagai pakan. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kabupaten Kupang dan Laboratorium Nutrisi dan Pakan Ternak Politani selama 8 bulan (April - November 2023). Bahan dan alat yang digunakan adalah biji dari 16 aksesi arbila, dan timbangan digital. Prosedur kerjanya adalah pengumpulan biji, pengidentifikasian dan pengelompokan biji dalam aksesi berdasarkan morfologi biji, preparasi sampel, dan  menganalisis kadar nutrien, mineral dan anti nutrien dari biji arbila berkategori berat. Variabel yang diukur adalah kadar bahan kering (BK - %), kadar protein kasar (PK - % BK), kadar serat kasar (SK - % BK), kadar lemak kasar (LK - % BK), dan abu (%), kadar mineral berupa kalsium (Ca), phosphor (P) dan kalium (K), serta anti nutrien berupa asam sianida (ppm) dan asam fitat (%) dari biji arbila tersebut. Data kemudian dideskriptifkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 16 aksesi arbila dengan biji berkategori berat kadar nutrien, mineral dan anti nutrien biji arbila dari berbagai aksesi bervariasi dan berbeda untuk setiap aksesinya. Kandungan nutriennya yaitu 86,63 – 88,48%kadar BK, 15,75 – 26,88% PK, 1,30 – 2,02% LK, 5,73 – 8,77% SK, 58,87 – 71,20% kadar BETN dan 3,73 – 5,97% kadar abu. Kadar mineralnya adalah 0,30-0,57% Ca, 0,41-0,79% P, 1,10-1,41% K. Kadar anti nutriennya adalah 125,09 – 318,51 ppm asam sianida dan 0,04-0,52% asam fitat. Disimpulkan bahwa nilai nutrien, mineral dan anti nutrien dari biji arbila berkategori berat adalah beragam dan ditentukan oleh aksesi arbila.
Pertumbuhan dan Hasil Hijauan Indigofera zollingeriana yang Diberi Pupuk Kotoran Sapi dengan Dosis dan Frekuensi Berbeda Ni Kadek Nata Afriani; I Ketut Mangku Budiasa; Anak Agung Ayu Sri Trisnadewi
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aimed to determine the interaction between doses and frequency of application of cattle manure fertilizer on the growth and yield of Indigofera zollingeriana. The research was conducted in the greenhouse of the research station Sesetan, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, for 10 weeks. The research used a completely randomized design (CRD) factorial pattern with two factors, the first factor was the dose of cattle manure fertilizer (D) with four levels: D 0 (dose 0 tons ha-1), D10 (10 tons ha-1), D20 (20 tons ha -1) dan D30 (30 tons ha-1). The second factor was the frequency of application of cow manure fertilizer (F) with three levels: F1 (1 time), F2 (2 times), and F3 (3 times). There were 12 treatment combinations and four replications, resulting in were 48 experimental units. The observed variables were growth, yield, and plant growth characteristic variables. The results showed an interaction between the dose and frequency of cattle manure fertilizer on the variables stem dry weight, total forage dry weight, and leaf area per pot. Treatment of 10 tons ha-1 gave the best results to increase the growth and yield of Indigofera zollingeriana. Frequency treatment showed that F1 gave the best growth and yield of Indigofera zollingeriana forage compared to F2 and F3. It can be concluded that there is an interaction between the dose and frequency on the variables stem dry weight, total forage dry weight, and leaf area per pot. Dose of 10 tons ha-1 and a frequency of one time tended to increase the growth and yield of Indigofera zollingeriana. ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi antara dosis dan frekuensi pemberian pupuk kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Indigofera zollingeriana. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, dan berlangsung selama 10 minggu. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dua faktor, yaitu faktor pertama adalah dosis pupuk (D) dengan 4 taraf, yaitu D0 (dosis 0 ton ha-1), D10 (10 ton ha-1), D20 (20 ton ha-1) dan D30 (30 ton ha-1). Faktor kedua adalah frekuensi pemberian pupuk (F) dengan 3 taraf, yaitu F1(1 kali), F2 (2 kali) dan F3 (3 kali). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang empat kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, hasil, dan karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara perlakuan dosis dan frekuensi pemberian pupuk kotoran sapi pada variabel berat kering batang, berat kering total hijauan, dan luas daun per pot. Perlakuan dosis 10 ton ha -1 memberikan hasil terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Indigofera zollingeriana. Perlakuan frekuensi menunjukkan F1 memberikan pertumbuhan dan hasil hijauan Indigofera zollingeriana terbaik dibandingkan F2 dan F3. Simpulan penelitian adalah terjadi interaksi antara perlakuan dosis dan frekuensi pemberian pupuk kotoran sapi pada variabel berat kering batang, berat kering total hijauan, dan luas daun per pot. Dosis 10 ton ha-1 dan frekuensi 1 kali pemberian pupuk kotoran sapi cenderung meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Indigofera zollingeriana.
Pengaruh Dosis Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Akar Bambu terhadap Pertumbuhan dan Hasil Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha pada Jenis Tanah Berbeda Trysia Achriyuni; I Wayan Suarna; M. Anuraga Putra Duarsa
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The implementation of plant growth promoting rhizobacteria technology is an approach to increasing the productivity of feed crops that has a bias towards environmental improvement by reducing the use of anorganic fertilizers. The study aimed to determine the effect of Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dose of bamboo root on the growth and yield of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha on different soils. The research was conducted at Sesetan Research Station, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Jalan Raya Sesetan, Denpasar. The study lasted for two months, using a completely randomized design with split plot pattern consisting of 3 types of soil (mediteran, latosol, and regosol) as the main plot and 3 levels of PGPR dosage (0, 10 and 20 ml/liter of water) as subplots. The variables observed were growth, yield, and growth characteristics. The results showed that the PGPR dose of 10 ml/liter of water tended to provide higher growth and forage yield of Asystasia gangetica. Growth and yield as well as plant growth characteristics, showed better performance in regosol soil compared to mediteran and latosol soil. This study concludes that the addition of PGPR doses to Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha plants can increase plant production in less fertile soils and extend the vegetative period of these plants so that it is good to be used as a biological agent in improving plant growth. ABSTRAK Implementasi teknologi plant growth promoting rhizobacteria merupakan pendekatan peningkatan produktivitas tanaman pakan yang memiliki keberpihakan terhadap perbaikan lingkungan dengan mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) akar bambu terhadap pertumbuhan dan hasil Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha pada tanah berbeda. Penelitian dilakukan di Stasiun Penelitian Sesetan Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Jalan Raya Sesetan, Denpasar. Penelitian berlangsung selama dua bulan, menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola split plot yang terdiri atas 3 jenis tanah (mediteran, latosol dan regosol) sebagai petak utama dan 3 level dosis PGPR (0, 10 dan 20 ml/liter air) sebagai anak petak. Variabel yang diamati adalah variabel pertumbuhan, variabel hasil, dan variabel karakteristik tumbuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis PGPR 10 ml/liter air cenderung memberikan  pertumbuhan dan hasil hijauan tanaman Asystasia gangetica yang lebih tinggi. Pertumbuhan dan hasil serta karakteristik tumbuh tanaman menunjukkan performans yang lebih baik pada tanah regosol dibandingkan dengan tanah mediteran dan latosol. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan dosis PGPR pada tanaman Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha mampu meningkatkan produksi tanaman di tanah yang kurang subur dan memperpanjang masa vegetatif tanaman tersebut sehingga baik dimanfaatkan sebagai agen hayati dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman.
Respon Pertumbuhan Rumput Setaria (Setaria sphacelata) terhadap Aplikasi Pupuk Organik Cair Mikroorganisme Lokal (MOL) dari Akar Bambu Mira Delima; Hulwa Dzakira; Ilham
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the effect of the application of local microorganism liquid organic fertilizer from bamboo roots on the growth of golden timothy (Setaria sphacelata). The research material used was pols (root slips) of golden timothy grass as planting material. The experimental study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments (doses of local microorganism liquid organic fertilizer from bamboo roots) and 4 replications. The treatments given were P0 (control/0 ml local microorganism liquid organic fertilizer (LM_LOF) bamboo roots /l water, , P1 = 20 ml LM_LOF bamboo roots /l water, , P2 = 40 ml LM_LOF bamboo roots /l water, and P3 = 60 ml LM_LOF bamboo roots /l water). The parameters observed included plant height, leaf width, stem diameter, and number of tillers. The results showed that the application of LM_LOF from bamboo roots with the dose of 40 ml/l water (P2), showed a highly significant different effect (P<0.01) on plant height at 3-6 weeks after planting (WAP) and on the number of tillers when the plants are 4-5 WAP. Meanwhile, a significantly different effect (P<0.05) was indicated on stem diameter at 3-7 WAP, and on the number of tillers at 3, 6, and 7 WAP, as 40 ml of bamboo roots LBOF/l water (P2) was applied. However, statistical analysis of leaf width data did not show any significant effect (P>0.05). The research concluded that the application of LM_LBOF from bamboo roots at a dose of 40 ml/l water showed a positive influence on the growth of golden timothy grass. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi pupuk organik cair (POC) mikroorganisme lokal (MOL) akar bambu terhadap pertumbuhan rumput setaria (Setaria sphacelata). Materi penelitian yang digunakan berupa pols (sobekan tanaman) rumput setaria sebagai bahan tanam. Penelitian merupakan penelitian eksperimen yang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dosis POC MOL akar bambu dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah P0 (kontrol/0 ml POC MOL akarbambu /l air), P1 = 20 ml POC MOL akar bambu /l air, P2 = 40 ml POC MOL akar bambu /l air, dan P3 = 60 ml POC MOL akar bambu /l air.. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lebar daun, diameter batang, dan jumlah anakan. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi POC MOL dari akar bambu dengan dosis pemberian 40 ml/l air (P2), memperlihatkan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi tanaman saat berumur 3-6 minggu setelah tanam (MST), berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap diameter batang saat berumur 3-7 MST, dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap jumlah anakan saat umur tanaman 3, 6 dan 7 MST, serta berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah anakan saat tanaman berumur 4-5 MST. Sementara hasil data lebar daun tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P>0,05). Penelitian menyimpulkan bahwa, aplikasi POC MOL akar bambu dengan dosis 40 ml/l air, memberikanpengaruh yang positif terhadap pertumbuhan rumput setaria.
Analisis Kelayakan Usaha Sapi Potong Sistem Integrasi Kelapa Sawit (Studi Kasus: Di PT. Citra Putra Kebun Asri) Sugiarti; Tintin Rostini; Ahmad Sam&#039;ani
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Feasibility analysis of beef cattle business with palm integration system (Case Study: At PT. Citra Putra Kebun Asri). The purpose of this study is to analyze the feasibility of the beef cattle business in farmers who are integrated with palm plantations. The research was carried out on farms in the palm plantations of PT. Citra Putra Kebun Asri (CPKA) Jorong District, Tanah Laut Regency, South Kalimantan. Cattle ow-nership in beef cattle business with integrated palm system at PT. Citra Putra Kebun Asri as many as 47 heads with the number of breeders as many as 15 people who use shock fence cages and 3 breeders without using shock fences with a total of 19 cows and types of cattle at PT. The Citra Putra Kebun Asri are Kisar cattle, Bali cattle, PO cattle, Simental cattle and Limousin cattle. The types of data taken consist of primarydata obtained from farmers and direct observations in the field as well as secondary data obtained from the Department or related agencies as well as publications of related scientific works. Data collection techniques through observation, interviews, questionnaires, and documentation. The variables observed were total costs, total revenues, BEP, R/C ratio, B/C ratio. The results of the study show that farmers with a business scale of 1-3 still get a profit of Rp. 9,719,876 for 1 year, the R/C ratio that can exceed 1, and the B/C Ratio that can exceed 0. So the beef cattle business with the palm integration system uses a shock fence at PT. CPKA deserves to be developed. ABSTRAK Analisis kelayakan usaha sapi potong sistem integrasi kelapa sawit (Studi Kasus: Di PT. Citra Putra Kebun Asri). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kelayakan usaha sapi potong di peternak yang integrasikan dengan lahan perkebunan sawit. Penelitian dilaksanakan di peternakan yang ada di lahan perkebunan kelapa sawit PT. Citra Putra Kebun Asri (CPKA) Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Kepemilikan ternak sapi pada usaha sapi potong dengan sistem integrasi kelapa sawit di PT. Citra Putra Kebun Asri sebanyak 47 ekor dengan jumlah peternak sebanyak 15 orang yang menggunakan kandang pagar kejut dan 3 orang peternak tanpa menggunakan pagar kejut dengan jumlah sapi sebanyak 19 ekor dan jenis sapi yang ada di PT. Citra Putra Kebun Asri yaitu sapi kisar, sapi Bali, sapi PO, sapi Simental dan sapi Limousin. Data yang diambil terdiri dari data primer yang diperoleh dari peternak dan pengamatan langsung di lapangan serta data sekunder yang diperoleh dari Dinas atau instansi terkait serta publikasi karya ilmiah terkait. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Adapun variabel yang diamati yaitu total biaya, total penerimaan, BEP, R/C ratio, B/C ratio. Hasil peneltian menunjukkan bahwa peternak dengan skala usaha 1-3 ekor masih mendapatkan keuntungan sebanyak Rp. 9.719.876 selama 1 tahun, R/C ratio yang didapat melebihi 1, dan B/C ratio yang didapat melebihi 0. Maka usaha sapi potong dengan sistem integrasi sawit menggunakan pagar kejut di PT. Citra Putra Kebun Asri layak untuk dikembangkan.
Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan terhadap Perkecambahan Benih Indigofera zollingeriana Rijanto Hutasoit; Silvia Nova; Amin; Kartika Dwi; Rizki Saprizal; Sheilla Nurhafiza; Dafta Muabadianto; Juniar Sirait; Andi Tarigan
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indigofera zollingeriana is a very popular forage plant, both consumed to increase the productivity of ruminants. Low seed quality becomes an obstacle in its development and generally occurs during post-har-vest handling (drying). This study aimed to evaluate the quality of Indigofera seeds based on temperature and drying time. The design was completely randomized design (CRD) with factorial pattern with four replications. The treatments consisted of four temperature levels: 30°C, 35°C, 40°C, and 45°C and four drying times: 6, 12, 18, and 24 hours. Parameters observed were: seed germination and normal germination growth. The results showed that the average number of sprouts that grew the most at a temperature of 30°C (59,27%) was comparable to a temperature of 35°C (53,95%), but significantly different from other temperature treatments (40°C and 45°C). The highest growth of normal sprouts was found in the 24-hour drying treatment (mean 60,37%). It concluded that the drying temperature of 30°C combined with a drying time of 24 hours is the best phase to obtain germination rate and normal germination of Indigofera zollingeriana during the seed drying process. ABSTRAK Indigofera zollingeriana merupakan tanaman pakan yang sangat populer saat ini, baik dikonsumsi untuk meningkatkan produktivitas ternak ruminansia. Mutu benih yang rendah menjadi kendala dalam pengembangannya, umumnya terjadi pada saat penanganan pasca panen (pengeringan). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas benih Indigofera berdasarkan suhu dan waktu pengeringan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari empat taraf suhu: 30 oC, 35 oC, 40 oC, dan 45 oC dan empat waktu pengeringan: 6, 12, 18, dan 24 jam. Parameter yang diamati adalah: daya kecambah benih dan pertumbuhan kecambah normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah kecambah yang tumbuh paling banyak pada suhu 30 oC (59,27%) sebanding dengan suhu 35 oC (53,95%), namun berbeda nyata dengan perlakuan suhu lainnya (40 dan 45 oC). Pertumbuhan kecambah normal tertinggi terdapat pada perlakuan pengeringan 24 jam (rata-rata 60,37%). Dapat disimpulkan bahwa suhu pengeringan 30 oC yang dikombinasikan dengan waktu pengeringan 24 jam merupakan fase terbaik untuk memperoleh daya kecambah dan kecambah normal Indigofera zollingeriana saat proses pengeringan benih.
Studi Penyerapan Hara Nitrogen dan Produksi Hijauan pada Tanaman Legum Sentro (Centrosema pubescens) Adinda Tri Asrini; Mansyur; Iin Susilawati; Irfan Dwi Aditya
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the study of nitrogen nutrient absorption and forage production in Centrosema pubescens, legume plants was conducted in July-October 2023 located in the Student Activity Unit of the Poultry Profession Group, Forage Crop Laboratory, and Ruminant Animal Nutrition and Forage Chemistry Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University, Sumedang Regency, West Java Province. The purposeof this study was to determine the absorption of nitrogen nutrients and forage production from Centrosema pubescens legumes. The objects used in this study were 40 pots of Centrosema pubescens plants using two types of andosol and ultisol soils. The study was conducted using an experimental research method consisting of mean, standard deviation, and a t-test. The results of the t-test analysis showed that the production of fresh forage in andosol soil (4.893 g) and ultisol soil (5.950 g) as well as the production of dry forage in andosol soil (4.533 g) and ultisol soil (5.610 g) were not significantly different. Likewise, the absorption of nitrogen nutrients planted on andosol soil (0.132%) and ultisol soil (0.178%) with results that were not significantly different. The results of the study can be concluded that Centrosema pubescens legume plants can be planted on both types of soil because there is no significant difference in either forage production or nitrogen absorption. ABSTRAK Penelitian mengenai studi penyerapan hara nitrogen dan produksi hijauan pada tanaman legum sentro(Centrosema pubescens), dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2023 yang berlokasi di Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Profesi Ternak Unggas, Laboratorium Tanaman Makanan Ternak, dan Laboratorium Nutrisi Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui penyerapanhara nitrogen dan produksi hijauan dari legum sentro. Objek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 40 pot tanaman Centrosema pubescens dengan menggunakan dua jenis tanah andosol dan ultisol. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian eksperimental yang terdiri dari mean, standar deviasi, dan uji t. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa pada produksi hijauan segar tanah andosol (4,893 g) dan tanah ultisol (5,950 g) serta produksi hijauan kering tanah andosol (4,533 g) dan tanah ultisol (5,610 g) tidak berbeda nyata. Begitu pula dengan penyerapan hara nitrogen yang ditanam pada tanah andosol (0,132%) dan tanah ultisol (0,178%) dengan hasil yang tidak berbeda nyata. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa tanaman legum sentro dapat ditanam pada kedua jenis tanah karena tidak adanya perbedaan yang nyata baik pada produksi hijauan maupun pada serapan nitrogen.
Pertumbuhan Asystasia gangetica dengan Perlakuan Interval Defoliasi Emma F. Kendy; Diana Sawen; Lamberthus Nuhuyanan; M. Junaidi
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on the classification, forages consist of grasses (Gramineae), legumes (Leguminosae), and other feed products that can be consumed by animals, such as broad leaves and other plants. Ideally, forages that are developed should be based on the potential forage resources that already exist (locally), but have unfortunately already been documented. One of the local potential hazards is Asystasia gangetica. The purpose of this study is to understand how the defoliation interval affects the subject. The study was conducted for three months in a complete random sampling with three defoliation intervals and ten replications. The defoliation interval is composed of three parts: D1 = 30 days, D2 = 45 days, and D3 = 60 days. Every analysis of the data was conducted using the analysis of variance (ANOVA), and any findings that yieldedinsights were concluded using the Duncan Test. The research findings indicate that Asystasia gangetica when defoliated every 60 days, best responds, with a mean plant height is 59.07 cm, the number of leaves is 83.71 pieces, and fresh weight production is 22.39 g is per polybag. ABSTRAK Berdasarkan klasifikasinya hijauan pakan terdiri dari rumput (Graminae), legum (Leguminosa) dan hijauan lainnya yang dapat berupa daun-daunan dan tumbuhan lainnya yang dapat dikonsumsi oleh ternak. Idealnya, hijauan pakan ternak yang dikembangkan seharusnya berdasarkan potensi sumber daya pakan hijauan yang ada (lokal), yang tentunya sudah didokumentasikan. Salah satu potensi hijauan lokal tersebut adalah Asystasia gangetica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dengan perlakuaninterval defoliasi. Penelitian berlangsung selama 3 bulan dan didesain dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan interval defoliasi dan 10 kali ulangan. Interval defoliasi terdiri dari : D1 = 30 hari; D2 = 45 hari dan D3 = 60 hari. Semua data pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (Anova) dan perlakuan yang memberikan pengaruh dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asystasia gangetica dengan interval defoliasi 60 hari memberikan responterbaik berupa tinggi tanaman setinggi 59,07 cm, jumlah daun sebanyak 83,71 helai, dan produksi bahan segar 22,39 g per polibag.
Daya Tumbuh dan Kemurnian Benih Legum Centrosema pubescens Isak S. Sembay; Diana Sawen; John A. Palulungan
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leguminosae provides vegetable protein that, when managed well, offers good production. Leguminosae are commonly utilized and grown as forage for animal feed and used for other things. The hard outer skin or epicarp of the seeds, which is a property of legumes that must be taken into account in cultivation efforts, necessitates specific handling before to sowing or planting. The same is true of the seeds of Centrosema pubescens. The purpose of this study is to determine how pure and how far along legume seeds are in germination. Field observations are part of the descriptive methodology used. According to the observational findings, germination started on the second day, with an average of 1 individual or plant sprouting, and by the second week, the sprouts had grown to a height of 10 cm. Following this, 3–4 strands of leaves were generated. Centrosema pubescens’s germination power is therefore 75% and seed purity is 90%. ABSTRAK Leguminosa merupakan penghasil protein nabati yang memiliki produktivitas baik jika dikelola dengan manajemen yang baik pula. Leguminosa sudah banyak dikenal dan dibudidayakan sebagai hijauan pakan ternak serta digunakan juga untuk tujuan lainnya. Salah satu karakteristik legum yang perlu diperhatikan dalam upaya budidaya adalah bijinya yang memiliki kulit luar atau epicarp yang keras, sehingga memerlukan perlakuan khusus sebelum disemai atau ditanam. Sama halnya dengan biji Centrosema pubescens (sentro). Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana daya tumbuh atau kecambah dan kemurnian benih legumnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan observasi lapangan. Hasil observasi memperlihatkan bahwa waktu berkecambah dimulai pada hari kedua, dengan jumlah kecambah rata-rata sebanyak satu individu atau tanaman, dan tinggi kecambah pada minggu kedua adalah 10 cm. Selanjutnya jumlah daun yang dihasilkan adalah 3-4 helai. Dengan demikian daya kecambah sentro yang dihasilkan adalah 75% dengan kemurnian benih 90%.
Perakitan Varietas Baru Melalui Radiasi Sinar Gamma untuk Perbaikan Standar Mutu Nutrisi Hijauan Leersia hexandra Pritha Kartika Sukmasari; Yenny Nur Anggraeny; Tri Agus Sulistya; Yeni Widyaningrum
Pastura: Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol. 14 No. 1 (2024): Pastura Vol. 14 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Himpunan Ilmuwan dan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) dan Fakultas Peternakan Universitas Udayanad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The quality standards for the nutritional value of forage for livestock can be increased in various ways, one of the efforts to increase the quality standards for the nutritional value of forage for livestock is through plant breeding. Leersia hexandra forage is a plant that grows widely in swamp areas. This plant has been widely used as forage for ruminant livestock. The application of modern technology is needed to improvethe nutritional quality standards of Leersia hexandra plants. Modern technology in plant breeding can be implemented through mutation induction. This research aims to determine the effect of gamma ray irradiation on stolons on the protein and crude fiber content of Leersia hexandra forage. The research material used in this study was a 1-node stolon with a length of 10 cm. The irradiation doses used were 0 Gray(control), 25 Gray, 50 Gray, and 100 Gray. The research results showed that the highest protein content of Leersia hexandra forage was obtained from an irradiation dose of 25 Gray, while the lowest crude fiber content was obtained from an irradiation dose of 75 Gray. ABSTRAK Standar mutu nilai nutrisi hijauan pakan ternak dapat ditingkatkan melalui berbagai cara, salah satu usaha untuk meningkatkan standar mutu nilai nutrisi hijauan pakan ternak yaitu dengan pemuliaan tanaman. Hijauan pakan ternak Leersia hexandra merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah rawa. Tanaman ini telah banyak dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak ruminansia. Penerapan teknologi modern diperlukan untuk memperbaiki standar mutu kualitas nutrisi tanaman Leersia hexandra. Teknologi modern dalam pemuliaan tanaman dapat dilaksanakan melalui induksi mutasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma pada stolon terhadap kandungan nilai protein dan serat kasar hijauan Leersia hexandra. Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah stolon 1 nodus dengan panjang 10 cm. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 0 Gray (kontrol), 25 Gray, 50 Gray, dan 100 Gray. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nilai protein hijauan Leersia hexandra tertinggi didapatkan dari dosis iradiasi 25 Gray, sedangkan kandungan serat kasar terendah dengan pemberian dosis iradiasi 75 Gray.

Page 1 of 3 | Total Record : 24