Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

MAPPING AND PRODUCTION OF LOCAL FORAGE BIOMASS PLANT IN BALI PROVINCE Suarna I W.; M. A. P. Duarsa; A. A. A. S. Trisnadewi; N. N. Candraasih K.; I W. Wirawan
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 22 No 3 (2019): Vol. 22 No.3 (2019)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.839 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2019.v22.i03.p06

Abstract

Tumbuhan pakan ternak (TPT) memiliki peran yang sangat strategis dengan semakin meningkatnya kebutuhanhijauan untuk peningkatan produktivitas ternak ruminansia. Berbagai jenis TPT lokal dan introduksi memilikikualitas yang sangat baik dan berpotensi sebagai konsentrat hijau. Berdasarkan hal tersebut sangat diperlukansebuah penelitian yang bertujuan untuk memetakan dan menghitung produksi biomasa TPT lokal di ProvinsiBali. Penelitian menggunakan metode survei di 190 unit lahan. Unit lahan disusun dengan metode tumpangtindih dari peta jenis tanah, peta tata guna lahan, dan peta iklim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapatperbedaan potensi dan karakteristik tumbuhan pakan pada berbagai kondisi iklim, tataguna lahan dan jenis tanah.Kawasan dengan tipe iklim D, E, dan F banyak didominasi oleh rumput-rumputan jenis Heteropogon contortus,Botriochloa, Themeda, Polytrias, dan rumput Hyparhenia rupa. Produksi hijauan rata-rata dari tumbuhan yangtergolong pastura alami adalah 214,11 kg DM ha-1 dengan kontribusi utama adalah rumput Paspalum conyugatumdan Cynodon dactilon masing-masing sebesar 20,99% dan 8,60%. Rata-rata produksi pada kebun hijauan, semak,pohon, dan tumpang sari berturut-turut adalah: 871,11 kg DM ha-1, 0,88 kg DM pohon-1, 2,10 kg DM pohon-1 151,2kg DM ha-1. Untuk hijauan pohon kontribusi terbesar dan daya adaptasinya paling baik adalah tanaman gamal(Gliricidia sepium). Produksi biomassa hijauan pakan di Bali mencapai 476.057,27 ton dan simpanan karbonnyamencapai 223.746.92 ton. Dapat disimpulkan bahwa TPT lokal memiliki keberagaman dan perbedaan yang spesifikpada berbagai kawasan di Provinsi Bali, serta produksi biomasa yang tinggi berperan penting dalam mitigasiperubahan iklim.
PRODUKSI DAN KUALITAS HIJAUAN PAKAN PADA LAHAN PASCA TAMBANG DI KABUPATEN KARANGASEM I Wayan Suarna; Ni Nyoman Candraasih Kusumawati; Magna Anuraga Putra Duarsa
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 4 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.718 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2015.v04.i02.p05

Abstract

The side-effect of sand mining was disappearing of biomass which caused of land degradation. A study has been carried out to obtain the model legume association with superior grass plants that are adaptive to repair post-mining land on dry land. This research was desgined in association patern between grasses and legumes with manure application, using 8 combination of grasses herbaceous and tree legumse with 3 replications. This research was conducted at Sebudi village, Karangasem district. Panicum maximum var. Trichoglum, Paspalum atratum, Centrocema pubescens, and Clitoria ternatea were used for grasses and legumes respectively. Observed variables were quality and forage production. The results of this research showed that almost all association can be implemented at dryland, and association patern between Panicum and Paspalum with Clitoria gave extra biomass. This association also showed great potential to improve land quality. The quality and production of grasses were greatly influenced by the association of legumes. Panicum and Paspalum associated with both Clitoria or Centrocema gave highest yield. Various of manure showed a non significant difference on quality and production of grass associated with tree legumes, although it tend to increase both of growth and production of grasses.
EFISIENSI PEMANFAATAN AIR BEBERAPA JENIS RUMPUT LOKAL PADA KADAR AIR YANG BERBEDA I Nyoman Bayu Paramartha; Anak Agung Ayu Sri Trisnadewi; Magna Anuraga Putra Duarsa
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 1 (2019): Pastura Vol. 9 No. 1 Tahun 2019
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.608 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2019.v09.i01.p10

Abstract

This study aims to determine the efficiency of water utilization in the local grasses of Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, and Oplismenus burmanni with different water levels. The study was conducted in the Laboratory of Greenhouse, Faculty of Animal Husbandry Udayana University, Denpasar. Completely randomized design of 3 × 3 nested patterns was used in this study with a type of grass treatment: Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, Oplismenus burmanni, and water levels i.e 100% field capacity (KL) (K1), 75% (KL) (K2), and 50% (KL) (K3) thus there are 9 treatment combinations namely PK1, PK2, PK3, OK1, OK2, OK3, AK1, AK2, dan AK3. Each treatment combination was repeated four times so there were 36 research pots. The variables observed were efficiency of water utilization, growth, production and growth characteristics. The results show that Paspalum conjugatum grass has the highest responsiveness on the efficiency of water utilization at giving different water levels compared to grass Axonopus compressus and Oplismenus burmanni. This study concluded that there was an increase in water utilization efficiency at the provision of 75% KL (K2) moisture content on grass Axonopus compressus and Paspalum conjugatum, whereas in grass Oplismenus burmanni the provision of different water content had no effect on improving water utilization efficiency. Key words: Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, Oplismenus burmanii, water content, water utilization efficiency
STRATEGIC IMPLEMENTATION OF ANIMAL WELFARE IN PROVIDING BALI CATTLE FORAGE M. A. P. Duarsa; I W. Suarna; A. A. A. S. Trisnadewi; I M. Saka Wijaya
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 2 (2020): Pastura Vol. 9 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.619 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2020.v09.i02.p11

Abstract

Sesuai amanat sustainable development goals (SDG’s) usaha peternakan wajib mengarusutamakan kaedah-kaedah pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Peningkatan permintaan akan daging sapi harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas sapi untuk memenuhi ketersediaan populasi dan kualitas daging sapi. Kualitas ternak sapi yang dihasilkan sangat tergantung kepada ketersediaan dan kualitas hijauan yang dimakan ternak. Ketersediaan berbagai limbah pertanian dan industri mendorong upaya pengolahan limbah menjadi pakan ternak ruminansia. Limbah yang diolah langsung diberikan kepada ternak ruminansia sebagai pakan alternatif. Limbah biasanya dapat megandung bahan berbahaya, zat anti nutrisi, dan memerlukan biaya yang lebih tinggi untuk mengolahnya. Untuk mengakomodasi kearifan budaya, memelihara harmonisasi spiritualitas bagi petani/peternak, dan menerapkan prinsip-prinsip animal welfare, selayaknya ternak ruminansia seperti sapi bali mendapatkan makanan yang baik yang berasal dari tanaman pakan ternak dengan kualitas yang baik. Dengan demikian limbah harus diolah menjadi pupuk yang berkualitas tinggi sehingga dapat menyediakan hijauan berkualitas bagi ternak sapi bali. Output yang berkualitas menuntut input yang berkualitas juga. Kata kunci: limbah, animal welfare, hijauan berkualitas
GROWTH AND FORAGE YIELD OF KING GRASS AND NAPIER GRASS FERTILIZED WITH VERMICOMPOS D. Ariyati; I W. Suarna; M. A. P. Duarsa
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 9 No 2 (2020): Pastura Vol. 9 No. 2 Tahun 2020
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.672 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2020.v09.i02.p09

Abstract

Percobaan telah dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan 122 Denpasar. Percobaan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis pupuk organik kascing dengan rumput raja dan rumput gajah terhadap pertumbuhan dan produksi hijauan. Percotaan mengunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis rumput yaitu rumput raja (Pennisetum purpurhoides = Pennisetum hybrid) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum). Faktor kedua adalah dosis kascing terdiri atas tujuh taraf yaitu 0 t ha-1, 5 t ha-1, 10 t ha-1, 15 t ha-1, 20 t ha-1, 25 t ha-1, 30 t ha-1. Percobaan menggunakan tiga kali ulangan sehingga terdapat 42 unit percobaan. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan tanaman, karakteristik tumbuh, dan hasil hijauan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik kascing pada rumput gajah dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibanding rumput raja, namun rumput raja produksinya lebih tinggi dibanding rumput gajah. Terdapat interaksi antara jenis rumput dengan dosis pupuk terhadap variabel berat kering daun dan warna daun. Dosis optimal kascing berbeda antara rumput raja dengan rumput gajah terhadap produksi hijauan. Dapat disimpulkan bahwa aplikasi pupuk organik kascing 10 t ha-1 pada rumput gajah mampu meningkatkan kepekatan warna daun, sedangkan aplikasi pupuk organik kascing 15 t ha-1 pada rumput raja mampu meningkatkan produksi berat kering daun. Dosis optimal hijauan rumput raja adalah 18,82 t ha-1 dan rumput gajah 17,84 ton masing-masing dengan hasil hijauan 58,66 g pot-1 dan 61,86 g pot-1. Kata kunci: rumput raja, rumput gajah, kascing, dosis, hasil hijauan
PEMANFAATAN LIMBAH LIDAH BUAYA SEBAGAI FEED SUPPLEMET PAKAN SAPI BALI DALAM UPAYA MENGURANGI EMISI METAN I.G. Mahardika; N.N. Suryani; N.P. Mariani; I.W. Suarna; M.A.P. Duarsa; I.M. Mudita
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 1 No 2
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.812 KB) | DOI: 10.24843/Pastura.2012.v01.i02.p03

Abstract

Waste of Aloevera is one of the agriculture wastes which have highly potential for Bali cattle feed supplement, so that research in order to learn the effect of supplementation of Aloevera as High Quality Feed Supplement (HQFS) is needed. Twenty male Bali cattle were used in this experiment, which weight range between 191 – 232 kg. Feed for cattle consisted of rice straw, concentrate and feed supplement in form of Hight Quality Feed Supplement (HQFS) which mixed from sea grass and waste of aleovera. Randomized Block Design was applied in this experiment with 4 repetitions. Treatment A was ad lib of rice straw + 2 kg of concentrate, Treatment B was ad lib of rice straw + 2 kg of concentrate + 150 g HQFS, Treatment C was ad lib of rice straw + 2.5 kg of concentrate + 150 g HQFS, Treatment D was ad lib of rice straw + 3 kg of concentrate + 150 g HQFS and Treatment E was ad lib of rice straw + 3 kg of concentrate. Results of this experiment showed that supplementation of HQFS tended to decrease feed consumption and methan production, meanwhile supplementation of HQFS could increase diets efficiency and therefore increased the growth of cattle. HQFS supplementation gave more effective response at lower quality diets meanwhile in good quality diets gave no positive effect.
DAYA DUKUNG HIJAUAN PAKAN DALAM KONSERVASI SAPI PUTIH TARO I W. Suarna; M. A.P. Duarsa; N. P. Mariani; L. G. Sumardani; S. A. Lindawati
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 16 No 1 (2016)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/blje.2016.v16.i01.p06

Abstract

White cattle Taro is a Bali native germplasm that must be preserved in accordancewith the mandate of the Millennium Development Goals to reduce the rate of loss ofbiodiversity as a valuable genetic resources.  At this time, the population of White cattleTaro is 34 heads, which the conditions still cause for concern because of the increasingpressure of various factors. When the white cattle graze in their natural habitat (forestTaro) White cattle Taro to reach a population of 150 animals (2001). Pressure againstwhite cow increasingly widespread because the land is narrow and increasing the amountof forage that should be provided in rotation by traditional society village of Taro. Tarovillage located in District Tegallalang, close to Districts Payangan Gianyar regency. Twodistricts are developing leading commodity Bali cattle. While White cattle Taro also requiresthe availability of forage species are the same as Bali cattle. The results showed that carryingcapacity of forage for White cattle Taro started to decline so that the necessary strategicapproach to the conservation of taro white cattle in order to accelerate the achievement ofthe millennium development. Such efforts are: 1) improving the efficiency of forageproduction 2) optimizing the utilization of forage 3) optimization of land use and cultivationof superior feed and 4) technological capacity building of local feed plant.
Adaptive Feed Plant Association Model For Improved Post-mining Land In Karangasem Regency W. Suarna; N.N. Candraasih K; M.A.P. Duarsa
Bumi Lestari Journal of Environment Vol 14 No 1 (2014)
Publisher : Environmental Research Center (PPLH) of Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study has been carried out to obtain the model legume association with superior grassplants that are adaptive to repair post-mining land on dry land. In the early stages, theresearch carried out on non-mining land to observe potential association models thatpredicted very suitable to recover the post-mining land. Experiment using a randomizedblock design with 12 combinations between grasses, legumes, and mycorrhizal and repeatedthree times. Grass used is Panicum maximum cvTrichoglumeand BrachiariaBrizanta, whilelegumes are used Centrocemapubescens and Clitoriaternatea. The results showed thatbased on analysis of growth and forage yield variables, almost all association models canbe developed in dry land, and models the association between panikum, Brachiaria andcentrocema can provide the highest results as much as 11.42 tons per ha of forage fresh or1,37 tons of dry forage per ha .
THE EFFECT OF DECOMPOSITION TIME AND DOSAGES OF CATTLE MANURE FERTILIZERS ON THE GROWTH AND YIELD OF Asystasia gangetica (L.) subsp. MICRANTHA I Gede Angga Bayu Pratama; M. Anuraga Putra Duarsa; I Wayan Wirawan
Pastura : Jurnal Ilmu Tumbuhan Pakan Ternak Vol 11 No 2 (2022): Pastura Vol. 11 No. 2 Tahun 2022
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/Pastura.2022.v11.i02.p10

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu dekomposisi, dosis pupuk terbaik dan interaksi antara waktu dekomposisi dengan dosis pupuk kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca, Stasiun PenelitianSesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana di Jalan Raya Sesetan Gang Markisa Denpasar. Penelitian berlangsung selama 3 bulan, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah waktu dekomposisi yaitu 4 minggu (W4), 2 minggu (W2), tanpa dekomposisi (W0)dan faktor kedua adalah pemberian pupuk kotoran sapi dengan dosis 0 ton ha -1 (D0), 10 ton ha-1 (D10), 20 ton ha D20), 30 ton ha-1 (D30). Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga terdapat 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dan dosis pada variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang tetapi tidak menunjukkan adanya interaksi pada variabel lainnya. Waktu dekomposisi 4 dan 2 minggu nyata memberikan respon lebih baik dibandingkan tanpa dekomposisi. Peningkatan dosis pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi interaksi antara waktu dekomposisi dengan dosis pupuk terhadap variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, dan perlakuan dekomposisi 4 minggu (W4) dan dosis 30 ton ha-1 memberikan respon terbaik pada pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Kata kunci: Asystasia gangetica, dekomposisi, kotoran sapi, pertumbuhan, hasil
PENGARUH PEMBERIAN SILASE RUMPUT GAJAH ODOT (Pennisetum purpureum cv. Mott) TERHADAP KONSUMSI PAKAN KAMBING BOERKA DI DESA SANDA KABUPATEN TABANAN BALI KETAREN M. B.; L. DOLOKSARIBU; M. A. P. DUARSA
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 25 No 3 (2022): Vol. 25 No. 3 (2022)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIP.2022.V25.i03.p07

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian silase rumput gajah odot (Pennisetum purpureum cv. Mott) dengan aras yang berbeda terhadap berat badan konsumsi pakan hijauan dan variasi me- tabolik glukosa darah dari kambing boerka yang dipelihara di Desa Sanda, Kabupaten Tabanan, Bali. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Mei 2021. Total 12 kambing dalam studi ini diberi pakan hijauan sebanyak 10% dari berat tubuhnya. Rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan, yaitu: pakan hijauan tanpa diberikan silase rumput gajah odot (P0), pakan hijauan + 250 g silase rumput gajah odot (P1), pakan hijauan +750 g silase rumput gajah odot (P2) digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing perlakuan memiliki 4 ulangan. Peubah yang diamati: konsumsi silase rumput gajah odot harian, total konsumsi pakan hijauan, total konsumsi pakan hijauan harian, kadar glukosa darah dan berat badan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan (P0, P1, P2) secara urut memiliki berat badan awal 32,58 ± 6,37 kg, 21,95 ± 6,37 kg dan 35,10 ± 6,37 kg dan berat badan akhir 33,69 ± 6,67 kg, 23,15 ± 6,67 kg, 39,45 ± 6,67 kg, total konsumsi pakan hijauan 994 ± 940 kg, 1.000 ± 940 kg, 995 ± 940 kg konsumsi pakan hijauan harian adalah 4.439 ± 3386 g/ekor/hari, 4.465 ± 3386 g/ekor/hari, dan 4.444 ± 3386 g/ekor/hari secara berurutan dan kadar glukosa darah 91,25 ± 4,89 mg/dl, 96,83 ± 4,89 mg/dl, 94,83 ± 4,89 mg/dl. Analisis data membuktikan bahwa pemberian pakan tambahan silase rumput gajah odot berbeda terhadap semua parameter antara perlakuan (P>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian pakan tambahan silase rumput gajah odot memiliki hasil yang lebih tinggi terhadap pertambahan konsumsi pakan hijau- an, berat badan dan kadar glukosa darah pada tiap perlakuan.